P. 1
Sistem Kewarisan Masyarakat Adat Jawa

Sistem Kewarisan Masyarakat Adat Jawa

1.0

|Views: 13,912|Likes:
Published by Muhammad Saifudin
Mengetahui sistem kekerabatan dalam hal kewarisan merupakan sesuatu yang sangat urgen. Karena pembagian warisan dalam masyarakat adat sangat bergantung pada sistem kekerabatan ini.
Mengetahui sistem kekerabatan dalam hal kewarisan merupakan sesuatu yang sangat urgen. Karena pembagian warisan dalam masyarakat adat sangat bergantung pada sistem kekerabatan ini.

More info:

Published by: Muhammad Saifudin on Mar 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/02/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Sebagian besar masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang bertempat tinggal di pedesaan yang masih memegang tradisi lokal yang kuat. Setiap anggota masyarakat di pedesaan pada umumnya sangat menghormati adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun. Bahkan adat istiadat merupakan dasar utama hubungan antar personal atau kelompok.1 Adat-istiadat atau kebiasaan masyarakat tersebut kemudian berkembang menjadi hukum adat dimana harus dipatuhi oleh segenap anggota masyarakat. Hukum adat dalam masyarakat adat, masih dianggap sebagai aturan hidup untuk mencapai kedamaian dalam masyarakat.2 Akan tetapi, sebagai hukum yang hidup (living law), hukum adat tidak selamanya memberi rasa adil kepada masyarakatnya. Hal itu dikarenakan, pemberlakuan hukum adat dipaksakan oleh penguasa adat dan kelompok sosialnya.3 Hukum adat juga tidak bisa dipisahkan dengan agama. Meskipun merupakan hal yang masing-masing berdiri sendiri, hukum adat dan agama yang dalam hal ini adalah hukum Islam, mempunyai hubungan yang sangat erat. Hukum adat berasimilasi dengan hukum Islam atau hukum Islam yang diterapkan dalam masyarakat menjadi hukum adat.
1

Bahreint Sugihen, Sosiologi Pedesaan (Suatu Pengantar). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2007. Hal. 26 2 Beni Ahmad Saebani, Sosiologi Hukum. Bandung: Pustaka Setia. 2007. Hal. 156 3 Ibid. hal. 155

Kepentingan sosial akan hukum dipengaruhi oleh ajaran agama yang dianut oleh masyarakat sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama diterapkan dalam kehidupan masyarakat yang kemudian berproses menjadi norma sosial yang mencitrakan moralitas masyarakatnya.4 Sebagai contohnya, slametan pada adat Jawa banyak dipengaruhi oleh Islam dan didasarkan pada Al Qur’an dan Hadits.5 Hal itu senada dengan teori receptio in complexu yang dicetuskan oleh LWC. Van Den Berg. Menurut teori tersebut, hukum pribumi harus mengikuti agama yang dipeluk oleh masyarakat. Oleh karena itu jika memeluk suatu agama, maka harus mengikuti hukum-hukum agama itu dengan sebenarnya.6 Dengan demikian, apabila masyarakat memeluk agama Islam, maka hukum-hukum lokal juga harus mengikuti agama Islam yang dipeluk oleh masyarakat. Namun pada perkembangan selanjutnya, teori tersebut berhasil dipatahkan oleh teori receptie yang diusung oleh Snouck Hurgronje. Teori ini yang oleh Hazairin disebut sebagai ‘teori iblis’,7 sangat berlawanan dengan teori sebelumnya, dimana menurut teori ini, sebenarnya yang berlaku di Indonesia adalah hukum adat asli meskipun ada pengaruh dari hukum Islam.8 Lebih lanjut teori ini menyebutkan bahwa hukum Islam baru mempunyai kekuatan hukum jika sudah diterima oleh hukum adat dan produk hukum yang keluar berupa hukum adat.9
4 5

Ibid. hal. 153 Mark R. Woodward. Islam Jawa: Kesalehan Normatif Versus Kebatinan. Yogyakarta: LKis. 2004. Hal. 136 6 Soekanto, Meninjau Hukum Adat Indonesia: Suatu Pengantar Untuk Mempelajari Hukum Adat. Cet. 3. Jakarta: Rajawali Pers. 1996. Hal. 53 7 Hazairin, Hukum Kekeluargaan Nasional. cet. 2. Jakarta: Tintamas. 1968. Hal. 28. 8 Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana. 2006. Hal. 297 9 Ibid, hal. 298

2

Isi teori ini sangat menyimpang dari kenyataan yang ada dalam masyarakat. Namun, penyimpangan tersebut memang disengaja dengan tujuan untuk melemahkan pengaruh hukum Islam dan memberlakukan hukum adat secara utuh. Dengan demikian nasionalisme masyarakat Indonesia akan luntur, dan sebaliknya kolonialisme akan semakin berkembang. Sehingga tidak heran jika setelah itu banyak teori-teori lain yang menentang teori receptie ini, diantaranya teori receptie exit, receptie a contrario, dan teori eksistensi. Terlepas dari berbagai teori tersebut, adat istiadat yang kemudian menjadi hukum adat, bukanlah suatu regulasi yang tertulis seperti halnya undang-undang. Akan tetapi, hukum tersebut tidak pernah tertulis, meskipun memang ada beberapa hukum adat yang sudah tertulis10, dan hidup ditengah-tengah masyarakat sebagai kaidah atau norma.11 Sebagai contoh adalah hukum waris adat. Waris yang merupakan sarana untuk melanjutkan suatu kepemilikan harta benda, merupakan salah satu bentuk hukum adat yang sampai sekarang masih dipegang teguh, terutama oleh masyarakat pedesaan. Mereka lebih memilih menyelesaikan perkara waris menggunakan hukum adat daripada hukum konvensional, karena menganggap hukum waris adat lebih bisa memberikan keadilan bagi ahli waris. Di sinilah yang kemudian menjadi akar masalah. Negara telah memberikan aturan baku dalam penyelesaian masalah waris ini. Namun, masyarakat agaknya lebih tertarik kepada hukum adat masing-masing daerah. Memang, hukum adat pada
10

Contohnya adalah hukum Tawan Karang yang diterapkan di Kerajaan Buleleng, Bali. Dalam hukum tersebut dengan jelas disebutkan bahwa kapal asing yang terdampar dan masuk wilayah perairan kerajaan Buleleng akan menjadi hak kerajaan. 11 Soekanto, Meninjau Hukum Adat Indonesia... Hal. 61

3

masing-masing daerah cenderung berbeda meskipun banyak mempunyai kesamaan. Hukum waris adat di Jawa berbeda dengan di Batak, begitu juga berbeda dengan di Minangkabau. Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa undang-undang hanya menjadi pilihan kedua atau bahkan tidak dipilih oleh masyarakat dalam penyelesaian kasus pewarisan. Apakah undang-undang memang belum bisa mengakomodasi seluruh sistem kewarisan adat yang notabene sangat berbeda substansinya antara satu daerah dengan daerah lainya. Dalam makalah ini penulis secara khusus akan memaparkan tentang sistem kewarisan masyarakat adat yang berlaku di Jawa serta relevansinya dengan hukum Islam di Indonesia yang secara khusus menangani masalah kewarisan. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas dan demi memudahkan pembahasannya, maka penulis membatasi masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana proses pewarisan dalam masyarakat adat Jawa? 2. Bagaimana persamaan dan perbedaan proses pewarisan masyarakat adat Jawa dengan hukum Islam di Indonesia? 3. Bagaimana relevansi proses pewarisan masyarakat adat Jawa dengan hukum Islam di Indonesia? C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan ini adalah: 1. Menjelaskan proses pewarisan dalam masyarakat adat Jawa

4

2. Menjelaskan persamaan dan perbedaan proses pewarisan masyarakat adat Jawa dengan hukum Islam di Indonesia 3. Menjelaskan relevansi proses pewarisan masyarakat adat Jawa dengan hukum Islam di Indonesia

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KEWARISAN MASYARAKAT ADAT JAWA A. Pengertian Waris Adat Penggunaan Islam, dan istilah waris adat ini adalah untuk membedakan dengan istilah hukum waris barat, hukum waris hukum waris Indonesia. Karena substansi pembahasan dari ketiga istilah tersebut sangat berbeda meski dalam satu bidang yang sama. Istilah waris sebenarnya berasal dari bahasa Arab yang kemudian diadopsi langsung ke dalam bahasa Indonesia. Hukum waris adat merupakan hukum adat yang memuat garis-garis ketentuan tentang sistem dan asas-asas hukum waris, harta waris, pewaris, dan ahli waris serta prosedur bagaimana harta waris tersebut dialihkan pemilikan dan penguasaannya dari pewaris kepada ahli waris.12 Menurut Ter Haar, hukum waris adat adalah aturan-aturan hukum yang mengatur cara penerusan dan peralihan harta

12

Hilman Hadikusuma, Hukum Waris Adat. Cet. 4. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. 1990. Hal. 7

5

kekayaan baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dari generasi ke generasi.13 Sedangkan menurut Soepomo, hukum adat waris memuat beberapa aturan yang mengatur proses penerusan serta pengoperan barang-barang harta benda dan barang-barang yang tidak berwujud benda dari suatu angkatan manusia kepada turunannya.14 Dari beberapa pengertian tersebut kiranya dapat diambil kesimpulan bahwa hukum waris adat adalah serangkaian kaidah yang mengatur tata cara peralihan dan penerusan harta baik yang berupa benda berwujud maupun benda yang tidak berwujud dari pewaris kepada ahli warisnya. Selain itu, dari berbagai term pengertian diatas, dapat disimpulkan pula bahwa hukum waris adat memuat tiga unsur pokok, yaitu: pertama, mengenai subyek hukum waris, yaitu siapa yang menjadi pewaris dan siapa yang menjadi ahli waris. Kedua, mengenai kapan suatu warisan itu dialihkan dan bagaimana cara yang dilakukan dalam pengalihan harta waris tersebut, serta bagaimana bagian masing-masing ahli waris. Ketiga, mengenai obyek hukum waris itu sendiri, yaitu tentang harta apa saja yang dinamakan harta warisan serta apakah harta-harta tersebut semua dapat diwariskan.15

B. Sistem Kekerabatan Masyarakat adat Jawa Mengetahui sistem kekerabatan dalam hal kewarisan

merupakan sesuatu yang sangat urgen. Karena pembagian warisan dalam masyarakat adat sangat bergantung pada sistem
13 14

Ibid Ibid, hal. 8 15 Soerjono Soekanto, Hukum Adat Indonesia. Cet. 4. Jakarta: Rajawali. 1990. Hal. 287-288

6

kekerabatan ini. Dan agaknya tidak berlebihan jika Hazairin mengatakan bahwa dari seluruh hukum yang ada, maka hukum perkawinan masyarakat.16 Di dalam masyarakat Indonesia secara teoritis sistem kekerabatan dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu sistem patrilineal, matrilineal, dan parental atau bilateral. Sistem patrilineal merupakan sistem kekerabatan yang ditarik menurut garis bapak, maksudnya dalam hal ini setiap orang hanya menarik garis keturunannya kepada ayahnya saja.17 Hal ini mengakibatkan kedudukan pria lebih menonjol pengaruhnya dari pada wanita dalam pewarisan. Sistem ini di anut oleh masyarakat Gayo, Alas, Batak, Nias, Lampung, Buru, Seram, Nusa Tenggara, dan Irian.18 Sistem matrilineal adalah sistem kekerabatan yang ditarik menurut garis ibu, sehingga dalam hal kewarisan kedudukan wanita lebih menonjol pengaruhnya dari pada pria. Sistem kekerabatan ini dianut oleh masyarakat Minangkabau, Enggano, dan Timor.19 Sedangkan masyarakat Jawa, seperti halnya masyarakat Aceh, Sumatra Timur, Sumatra Selatan, Riau, Kalimantan, seluruh Sulawesi, Madura, Ternate, dan Lombok menganut sistem kekerabatan parental atau bilateral. Sistem ini ditarik dari dua garis keturunan yaitu keturunan bapak dan ibu. Sehingga memberikan implikasi bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan dalam hal waris adalah seimbang dan sama.
16

dan

kewarisan

lah

yang

menentukan

dan

mencerminkan sistem kekerabatan yang berlaku dalam suatu

Hazairin, Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al Qur’an dan Hadits. Cet. 5. Jakarta: Tintamas. 1981. Hal 11 17 Sudarsono, Hukum Waris dan Sistem Bilateral. Jakarta: Rineka Cipta. Hal. 175 18 Hilman..., Hukum Waris... hal. 23 19 Ibid

7

Dengan tidak adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan, maka masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang terbuka. Artinya, suami secara otomatis telah menjadi bagian keluarga perempuan dan sebaliknya perempuan menjadi keluarga pihak laki-laki,20 sehingga dengan keadaan tersebut dimungkinkan akan menimbulkan kesatuan-kesatuan keluarga yang besar seperti tribe dan rumpun.21 C. Asas Pewarisan Masyarakat Adat Jawa Secara umum, asas pewarisan yang dipakai dalam masyarakat adat tergantung dari jenis sistem kekerabatan yang dianut. Namun, menurut Hazairin, hal itu bukan suatu hal yang paten. Artinya, asas tersebut tidak pasti menunjukkan bentuk masyarakat dimana hukum warisan itu berlaku. Seperti misalnya, asas individual tidak hanya ditemukan pada masyarakat yang menganut asas bilateral, tetapi juga bisa ditemukan pada masyarakat yang menganut asas patrilineal.22 Seperti misalnya, masyarakat Batak yang notabene menganut sistem kekerabatan patrilineal dalam asas pewarisannya menganut asas individual seperti masyarakat Jawa dan Sulawesi.23 Masyarakat Minangkabau yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, dalam asas pewarisannya menganut asas kolektif, yaitu para ahli waris secara kolektif (bersamasama) mewarisi harta peninggalan yang tidak dapat dibagi-bagi pemilikannya kepada ahli waris masing-masing.24 Setiap ahli waris
20

berhak

untuk

mengusahakan,

menggunakan,

dan

Oemarsalim, Dasar-Dasar Hukum Waris Di Indonesia. Cet 2. Jakarta: PT Rineka Cipta. 1991. Hal.7 21 Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan, Hukum Kewarisan, Hukum Acara Peradilan Agama, dan Zakat Menurut Hukum Islam. Cet 4. Jakarta: Sinar Grafika. 2006. Hal.81 22 Soerjono..., Hukum Adat... hal. 286 23 Ibid, hal. 285 24 Ibid

8

mendapatkan hasil dari harta peninggalan tersebut berdasarkan musyawarah mufakat di antara para ahli warisnya.25 Selain itu, masih ada lagi asas mayorat yang dibagi menjadi mayorat laki-laki dan perempuan. Asas mayorat ini sebenarnya sama dengan asas kolektif. Bedanya adalah bahwa penerusan harta waris diserahkan kepada anak laki-laki atau perempuan yang paling tua. Hal ini mengandung konsekuensi bahwa anak tertua tersebut harus menggantikan ayah yang meninggal dalam memelihara, memberi nafkah, menyekolahkan, mendidik saudara-saudaranya dan dalam segala hal bertindak atas nama ayahnya.26 Sedangkan pada masyarakat adat Jawa, seperti yang sedikit telah dijelaskan di muka, menganut asas individual karena pada sistem kekerabatannya menganut sistem parental atau bilateral. Sistem ini mengharuskan setiap ahli waris mendapatkan pembagian untuk dapat menguasai dan memiliki haknya masing-masing. Faktor yang menyebabkan perlu dilaksanakan pembagian warisan secara individual adalah dikarenakan tidak ada lagi keinginan untuk memiliki harta waris tersebut secara kolektif. Hal itu disebabkan para ahli waris tidak lagi pada satu rumah kerabat atau rumah orang tuanya serta telah tersebar sendirisendiri mengikuti para istri atau suaminya (mencar).27 Kebaikan dari sistem individual ini adalah bahwa para ahli waris yang telah memiliki secara pribadi dapat dengan leluasa untuk menguasai dan mengembangkan harta tersebut sebagai bekal kehidupannya yang selanjutnya tanpa dipengaruhi oleh saudara yang lain.
25 26

Hilman..., Hukum Waris... hal. 26 Bushar Muhammad, Pokok-Pokok Hukum Adat. Cet 4. Jakarta: Pradnya Paramita. 1988. Hal.43 27 Hilman..., Hukum Waris... hal. 25

9

Namun, sistem ini juga meninggalkan celah yang negatif. Kelemahan dari sistem ini adalah bahwa pecahnya harta warisan dan merenggangnya tali kekerabatan dapat mengakibatkan timbulnya hasrat untuk menguasai harta secara pribadi dan mementingkan diri sendiri. Pada perkembangan selanjutnya, hal ini bisa mengakibatkan perselisihan-perselisihan antara ahli waris itu sendiri.28 D. Harta Waris dalam Masyarakat Adat Jawa Berbicara mengenai harta waris berarti membahas tentang obyek dari hukum waris itu sendiri, yaitu harta-harta yang bisa diwariskan. Secara umum, harta warisan tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:29 1. Harta pusaka, yaitu suatu benda yang tergolong kekayaan di mana benda tersebut mempunyai kekuatan magis. 2. Harta bawaan, yaitu sejumlah harta kekayaan yang dibawa oleh (calon) istri atau suami pada saat pelaksanaan perkawinan. 3. Harta pencaharian, yaitu harta yang diperoleh oleh suamiistri dalam ikatan perkawinan, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri. 4. Harta yang berasal dari pemberian seseorang kepada suami atau istri maupun kedua-duanya. Pada masyarakat adat Jawa harta waris diklasifikan menjadi dua macam, yang mana kedua macam harta warisan yang akan dijelaskan kemudian dirasa telah merepresentasikan keempat klasifikasi harta waris di atas. Adapun harta-harta yang menjadi harta waris pada masyarakat adat Jawa adalah:
a. Gawan (Harta Bawaan)
28 29

Ibid, hal. 25-26 Soerjono..., Hukum Adat... hal. 305

10

Harta ini merupakan harta asal yang dibawa oleh suami atau istri pada saat akan melaksanakan perkawinan. Termasuk ke dalam pengertian harta bawaan, harta bawaan lain yang berasal dari hasil usaha sendiri (harta penghasilan), harta pemberian atau hibah wasiat, baik yang diterima dari kerabat atau orang lain sebelum atau selama perkawinan.30 Apabila dalam perjalanan perkawinan seseorang terjadi perceraian, maka harta bawaan tersebut kembali kepada masing-masing pihak suami dan istri. Seperti yang dinyatakan oleh orang Jawa, “tetep dadi duwekke dewe-dewe, bali menyang asale.”31 Kecuali dalam perkawinan antara istri rendah (miskin) dengan suami tinggi (kaya) atau yang disebut dengan manggih koyo, maka semua harta menjadi milik suami dan dikuasai oleh suami.32
b. Gono-gini (Harta Bersama)

Harta ini merupakan harta yang diperoleh selama dalam ikatan perkawinan, yang diperoleh dalam usaha bersama-sama. Di Jawa, harta gono-gini itu adalah “sraya ne wong loro lan duwekke wong loro”.33 Namun, hal itu agak berbeda dengan putusan Mahkamah Agung tanggal 7 September 1956 No. 51/K/Sip/1956 yang menyatakan bahwa, menurut hukum adat semua harta yang diperoleh selama berlangsungnya perkawinan, termasuk dalam gono-gini, meskipun hasil kegiatan suami sendiri.34 Kedua jenis harta diatas, pada dasarnya belum menjadi harta waris. Akan tetapi, harta tersebut masih bersifat harta
30 31

Hilman... Hukum Waris... hal. 46 Ungkapan Jawa yang berarti “tetap menjadi kepunyaan masing-masing dan kembali pada asalnya.” 32 Ibid, hal. 48 33 Ungkapan Jawa yang berarti ”hasil kerja dua orang (suami dan istri) sahingga menjadi hartanya dua orang (harta bersama) 34 Ibid, hal. 60

11

peninggalan. Oleh karena itu harus dikurangi terlebih dahulu dengan hutang si pewaris. Sisa setelah dikurangi hutang itulah yang kemudian menjadi harta waris dan dibagi-bagi.35 E. Ahli Waris dan Bagiannya Pada dasarnya yang menjadi ahli waris adalah para warga pada generasi berikutnya yang paling karib dengan pewaris atau disebut dengan ahli waris utama, yaitu anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga/brayat si pewaris dan yang pertama mewaris adalah anak kandung.36 Menurut adat tradisional Jawa, semua anak baik laki-laki maupun perempuan, lahir lebih dahulu atau belakangan, mempunyai hak sama atas harta peninggalan orang tuanya.37 Namun, di beberapa daerah terutama di Jawa Tengah, berlaku sistem sepikul segendong38 di mana anak laki-laki mendapat bagian dua kali lipat lebih banyak dari pada bagian anak perempuan.39 Jika pewaris tidak mempunyai anak sama sekali, tidak pula mempunyai anak pupon atau anak angkat dari anak saudara atau dari anak orang lain, maka harta akan diwarisi berturutturut oleh, pertama, orang tua, bapak atau ibu pewaris, dan apabila tidak ada baru saudara-saudara kandung pewaris atau keturunannya, dan jika ini tidak ada pula barulah kakek atau nenek pewaris. Dan apabila kakek/nenek pewaris juga tidak ada maka diberikan kepada paman atau bibi baik dari garis ayah

35 36

Soerjono... hukum Adat... hal. 306 Imam Sudiyat, Hukum Adat: Sketsa Asas. Cet 2. Yogyakarta: Liberty. 1981. Hal. 162 37 Soepomo, Bab-Bab Tentang Hukum Adat. Cet 14. Jakarta: Pradnya Paramita. 1996. Hal. 80 38 Ungkapan Jawa yang berarti “laki-laki memikul dan wanita menjunjung”. 39 Hilman..., Hukum Waris... hal. 72

12

maupun dari garis ibu pewaris. Jika sampai tingkat ini tidak ada, maka akan diwarisi oleh anggota keluarga lainnya.40 Mengenai anak angkat, dia mendapatkan waris dengan sistem ngangsu sumur loro, artinya mempunyai dua sumber warisan, yaitu dari orang tua angkat dan dari orang tua kandungnya sendiri.41 Meskipun begitu, seorang anak angkat dalam memperoleh wasiat tidak boleh melebihi dari anak kandung jika masih ada.42 Sedangkan mengenai kedudukan janda atau duda43 dalam sistem kekerabatan bilateral atau parental masih sedikit menimbulkan masalah. Hal itu berkisar tentang apakah ia dapat mewarisi suami yang wafat ataukah hanya berhak menikmati warisan itu saja. Pada asasnya menurut hukum adat Jawa, janda atau duda bukan ahli waris dari suami atau istri yang meninggal. Akan tetapi, mereka berhak mendapatkan bagian dari harta peninggalan suami atau istri bersama-sama dengan ahli waris lain atau menahan pembagian harta peninggalan itu bagi biaya hidup seterusnya.44 Namun, hukum yang menyatakan janda bukan ahli waris suaminya, hanya ada sebelum kemerdekaan. Sedangkan setelah kemerdekaan, janda merupakan ahli waris dari suaminya.45 Ada banyak yurisprudensi yang menyatakan bahwa janda adalah ahli waris suaminya. Diantaranya adalah keputusan Mahkamah Agung tanggal 25 Februari 1959 No. 387 K/Sip/1958 yang menyatakan bahwa menurut hukum adat yang berlaku di
40 41

Ibid Ibid 42 Ibid, hal. 81 43 Janda atau duda yang dimaksud disini adalah janda atau duda yang diakibatkan oleh putusnya perkawinan karena kematian bukan karena cerai talak, disebut juga dengan istilah balu. 44 Ibid, hal. 87-88 45 Ibid

13

Jawa Tengah seorang janda mendapat separoh dari harta gonogini. Selain itu juga keputusan MA tanggal 29 Oktober 1958 No. 298 K/Sip/1958 menyatakan bahwa menurut hukum adat yang berlaku di pulau Jawa apabila dalam suatu perkawinan tidak dilahirkan seorang anak pun, maka janda dapat tetap menguasai barang-barang gono-gini sampai ia meninggal atau kawin lagi.46 Selain itu menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Wirjono di Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur pada tahun 1937 (T. 149-148) berkesimpulan bahwa janda perempuan mendapat bagian yang sama dengan bagian anak keturunan pewaris.47 F. Kewarisan dalam Hukum Islam di Indonesia Sebelum melangkah lebih jauh, perlu dijelaskan terlebih dahulu, yang dimaksud oleh penulis tentang hukum Islam di Indonesia adalah Kompilasi Hukum Islam (KHI). Hukum kewarisan yang terdapat dalam kompilasi ini bersumber dari kitab-kitab fiqh, BW yang sampai sekarang masih berlaku, serta kenyataan yang berlaku dalam masyarakat yang tertuang dalam jurisprudensi Pengadilan Agama.48 Kewarisan dalam Kompilasi Hukum Islam ini diatur dalam buku II tentang hukum kewarisan sebanyak 23 pasal, yaitu pasal 171 sampai dengan pasal 193. Dalam kompilasi ini, yang dimaksud dengan kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapasiapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.49 Pewaris adalah orang yang pada saat meninggalnya atau dinyatakan
46 47 48 49

meninggal

berdasarkan

putusan

Pengadilan

Ibid, hal 89 Ibid Amir Syarifudin, Hukum Kewarisan Islam. Jakarta: Kencana. 2004. Hal. 327 Pasal 171 poin a Kompilasi Hukum Islam

14

beragama

Islam,

meninggalkan

ahli

waris

dan

harta

peninggalan.50 Sedangkan ahli waris adalah orang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.51 Kompilasi Hukum Islam ini membedakan antara harta peninggalan dan harta warisan. Adapun yang dimaksud dengan harta peninggalan adalah harta yang ditinggalkan oleh pewaris baik yang berupa harta benda yang menjadi miliknya maupun hak-haknya.52 Sedangkan harta warisan adalah harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah (tajhiz), pembayaran hutang dan pemberian untuk kerabat.53 Mengenai para ahli waris, KHI mengklasifikasikan menjadi dua klasifikasi, yaitu menurut hubungan darah dan menurut hubungan perkawinan. Menurut hubungan darah golongan lakilaki adalah ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek. Sedangkan dari golongan perempuan terdiri dari ibu, anak perempuan, dan nenek. Sedangkan yang menurut hubungan perkawinan adalah duda atau janda. Apabila semua ahli waris tersebut ada, maka yang mendapatkan bagian warisan adalah anak, ayah, ibu, dan janda atau duda.54 Selanjutnya mengenai bagian masing-masing ahli waris, KHI juga telah menjelaskan secara panjang lebar. Secara ringkas adalah sebagai berikut: 1. Anak Perempuan
50 51 52 53 54

Pasal Pasal Pasal Pasal Pasal

171 171 171 171 174

poin b Kompilasi Hukum Islam poin c Kompilasi Hukum Islam poin d Kompilasi Hukum Islam poin e Kompilasi Hukum Islam ayat (1) dan (2) KHI

15

Anak perempuan apabila dia mewaris sendirian, maka bagiannya adalah separoh dan apabila dua orang atau lebih bersama-sama mendapat dua pertiga bagian. Sedangkan bila bersama anak laki-laki mendapatkan ashabah (bagian sisa) dengan formulasi pembagian dua dibanding satu. 2. Ayah Ayah mendapatkan ashabah jika pewaris tidak meninggalkan anak. Sedangkan apabila pewaris meninggalkan anak, ayah mendapatkan bagian seperenam. 3. Ibu Ibu mendapatkan sepertiga apabila tidak ada anak atau dua saudara atau lebih. Sedangkan apabila ada anak atau dua saudara atau lebih, maka ibu mendapat bagian seperenam. Selain itu apabila ibu mewaris hanya bersama dengan ayah, dan istri (janda) atau suami (duda), maka bagiannya adalah sepertiga bagian dari sisa setelah diambil oleh janda atau duda. Kewarisan seperti ini lebih dikenal dengan istilah gharawain, umariyatain, atau gharibatain.55 4. Duda (suami) Duda (suami) mendapat separoh bagian apabila pewaris tidak meninggalkan anak. Sedangkan apabila ada anak maka mendapat seperempat bagian. 5. Janda (istri) Bagian janda (istri) adalah seperempat apabila pewaris tidak meninggalkan anak. Dan apabila pewaris meninggalkan anak, maka bagiannya adalah seperdelapan. 6. Saudara laki-laki atau saudara perempuan seibu Apabila pewaris tidak memiliki anak dan ayah, maka saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu masing-masing
55

Hasbiyallah, Belajar Mudah Ilmu Waris. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hal. 107

16

mendapat seperenam bagian. Dan jika mereka itu dua orang atau lebih, maka mendapat sepertiga bagian. 7. Saudara perempuan kandung atau seayah Apabila pewaris tidak memiliki anak dan ayah, sedangkan ia mempunyai seorang saudara perempuan sekandung atau seayah, maka ia mendapat separoh bagian. Apabila dua orang atau lebih, maka bersama-sama mereka mendapatkan dua pertiga bagian. Dan jika saudara perempuan tersebut bersama saudara laki-laki maka pembagiannya dengan formulasi dua dibanding satu. Pada pasal 184 juga dijelaskan bahwa jika ada ahli waris yang belum dewasa atau tidak mampu melaksanakan hak dan kewajibannya, maka akan diangkat wali berdasarkan keputusan hakim atas usul anggota keluarga. Apabila ada ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pada si pewaris maka dapat digantikan oleh anaknya dengan catatan tidak ada penghalang untuk mewarisi,56 bagiannya pun tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yang digantikan.57 Kewarisan semacam ini lebih dikenal dengan istilah munasakhah.58

56

Menurut pasal 173 KHI, seseorang teerhalang menjadi ahli waris apabila dia dihukum karena: a) dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat pada pewaris, b) dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat. 57 Pasal 185 ayat (1) dan (2) 58 Munasakhat terjadi apabila ada ahli waris yang mati sebelum harta warisan dari pewaris terdahulu dibagikan.

17

BAB III PROSES PEWARISAN DALAM MASYARAKAT ADAT JAWA Proses pewarisan yang dimaksud pada bab ini merupakan suatu cara bagaimana seorang pewaris berbuat untuk meneruskan atau mengalihkan harta kekayaan yang akan ditinggalkannya kepada para ahli waris ketika pewaris masih hidup serta bagaimana dan cara warisan Selain tersebut itu diteruskan tentang penguasaan pemakaiannya. juga

bagimana pelaksanaan pembagian warisan kepada para ahli waris setelah pewaris wafat. Dan memang, dalam masyarakat adat, tak terkecuali masyarakat Jawa, proses pewarisan terbagi dua, yaitu proses pewarisan sebelum pewaris meninggal dan setelah pewaris meninggal. Proses pewarisan pada saat pewaris masih hidup pada masyarakat Jawa dapat dilaksanakan dengan cara lintiran (penerusan atau pengalihan), cungan (penunjukan), atau dengan cara weling atau wekas (berpesan, berwasiat).59 Pada bab ini yang akan lebih banyak dibahas adalah mengenai proses pewarisan ketika pewaris masih hidup, sedangkan pewarisan setelah pewaris wafat tidak akan banyak dibahas karena banyak kesamaan dengan hukum konvensional. A. Pewarisan Sebelum Pewaris Meninggal Seperti telah disinggung di muka, proses pewarisan sebelum pewaris meninggal ada berbagai jenis yang masingmasing berbeda namun secara substansi tetap sama. Adapun lebih rinci akan dijelaskan sebagai berikut.
59

Hilman… Hukum Waris… hal. 95

18

1. Penerusan atau Pengalihan (Lintiran)

Ketika pewaris masih hidup, adakalanya telah melakukan penerusan atau pengalihan kedudukan atau jabatan adat, hak dan kewajiban dan harta kekayaan kepada ahli waris. Akibat dari penerusan atau pengalihan ini adalah harta pewaris berpindah pemilikan dan penguasaannya kepada ahli waris sejak penerusan atu pengalihan diucapkan. Termasuk dalam arti penerusan atau pengalihan harta kekayaan pada saat pewaris masih hidup adalah diberikannya harta kekayaan tertentu sebagai dasar kebendaan sebagai bekal untuk melanjutkan hidup bagi anak-anak yang akan kawin mendirikan rumah tangga baru, atau dalam istilah Jawa disebut mencar atau mentas.60 Biasanya anak laki-laki atau perempuan yang akan kawin dibekali tanah pertanian, pekarangan dengan rumahnya atau ternak. Benda-benda tersebut merupakan bagiannya dalam harta keluarga yang akan diperhitungkan pada pembagian harta waris sesudah orang tuanya meninggal.61 Selain untuk anak kandung, penerusan atau pengalihan ini juga biasa diberikan kepada anak angkat, karena telah banyak mengabdi, memberikan jasa-jasa baiknya untuk kehidupan rumah tangga. Pewarisan secara penerusan ini dilakukan karena adanya kekhawatiran dari pewaris kalau anak angkat tersebut tersingkir oleh anak kandungnya apabila pembagiannya dilakukan setelah wafatnya.62 Sebagai contoh pewarisan dengan cara penerusan adalah keluarga yang terdiri dari dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Karena anak laki-laki tertua telah dewasa dan dan kuat gawe, maka ayahnya memberikan sebidang
60 61 62

tanah. Anak

Ibid, hal. 96 Sudiyat, Hukum Adat: Sketsa… hal. 158 Oemar… Dasar-Dasar Hukum… hal. 80

19

kedua, perempuan, pada saat dinikahkan ia diberi sebuah rumah.63
2. Penunjukan (Cungan)

Berbeda dengan penerusan atau pengalihan, pewarisan secara penunjukan oleh pewaris kepada ahli warisnya membawa akibat hukum, yaitu berpindahnya hak pemilikan dan pengusaan harta baru berlaku sepenuhnya kepada ahli waris setelah pewaris meninggal. Adapun sebelum pewaris meninggal, pewaris masih berhak dan berwenang menguasai harta yang ditunjukkan itu, tetapi pengurusan dan pemanfaatan, serta penikmatan hasilnya sudah ada pada ahli waris yang ditunjuk.64 Kemudian disebabkan apabila dalam keadaan yang mendesak harus adanya kebutuhan mendadak yang

diselesaikan, pewaris masih bisa merubah maksudnya tersebut. Atau dengan kata lain, pewaris masih bisa menarik kembali atau mentransaksikan sudah ditunjuk. Penunjukan tersebut bukan hanya berlaku untuk barangbarang bergerak saja, tetapi juga berlaku pada barang-barang yang tidak bergerak seperti tanah lading, sawah, atau kebun. Pada masyarakat Jawa hal itu lebih dikenal dengan istilah garisan, karena pewaris menunjuk garis batas tanah yang diberikan kepada ahli waris.66 Sebagai contoh, misalnya pewaris menyatakan, tanah dari pohon aren sampai pohon nangka itu adalah untuk si A, sedangkan dari pohon nangka sampai tepi sungai adalah untuk si B.
63 64 65 66

harta

tersebut

kepada

orang

lain.65

Dan

tentunya hal itu harus ada musyawarah dengan ahli waris yang

Soepomo, Bab-Bab Tentang… hal. 82 Hilman… Hukum Waris… hal. 97 Ibid Ibid, hal. 98

20

Dikalangan orang Jawa, adakalanya setelah bidang-bidang tanah pertanian ditunjukkan atau diteruskan pengusaannya kepada anak lelaki atau perempuan yang telah mencar (berpisah) dan hidup mandiri diharuskan memberi punjungan.67 Cara itu berlaku juga meskipun telah diteruskan atau dioperkan. Sebagian dari tanah itu masih ada yang dikuasai dan dikerjakan oleh orang tua untuk kepentingan orang tua. Baru setelah orang tua wafat, akan sepenuhnya menjadi milik ahli waris.68
3. Pesan atau Wasiat (Welingan, Wekasan)

Pesan (welingan) ini biasanya dilakukan pada saat pewaris sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, atau ketika akan bepergian jauh seperti naik haji. Cara ini baru berlaku setelah pewaris tidak pulang atau benar-benar meninggal. Jika pewaris masih pulang atau belum meninggal, pesan ini bisa dicabut kembali.69 Tujuan dilakukan pewarisan secara welingan ini pada dasarnya adalah untuk mewajibkan kepada para ahli waris untuk membagi-bagi harta warisan dengan cara yang layak menurut anggapan pewaris. Selain itu juga supaya tidak terjadi perselisihan. Dan tujuan ketiga, pewaris menyatakan secara mengikat sifat-sifat barang/harta yang ditingggalkannya.70 B. Pewarisan Setelah Pewaris Meninggal Secara umum pewarisan setelah pewaris meninggal dunia sama
67

dengan

pewarisan

pada

hukum

konvensional.

Pada

Yaitu kewajiban bagi seiap anak yang telah diberi tanah itu untuk tetap member bagian hasil tertentu kepada orang tuanya selama ia masih hidup. 68 Ibid. Hal ini juga bisa dikatakan sebagai tanah gantungan, yang mana kepemilikan baru beralih sepenuhnya kepada ahli waris setelah orang tua meninggal. 69 Ibid, hal. 99 70 Soejono… Hukum Adat… hal. 297

21

masyarakat adat Jawa yang sistem kekerabatannnya parental atau bilateral dan menganut asas pewarisan individual, maka harta warisan tidak dikuasai oleh anggota keluarga tertentu atau tetua adat, tetapi dibagi kepada para ahli waris yang ada. Adapun yang lebih menonjol pada pewarisan setelah pewaris meninggal adalah mengenai bagaimana cara pembagian warisan tersebut kepada ahli warisnya, dan kapan waktu pembagiannya. C. Pembagian Warisan Pada sub bab ini akan banyak diterangkan mengenai waktu pembagian harta warisan setelah pewaris meninggal dan juga bagaimana cara pembagiannya. 1. Waktu Pembagian dan Juru Bagi Pada umumnya hukum adat tidak mengatur secara baku kapan waktu pembagian warisan harus dilakukan. Begitu juga mengenai juru bagi juga tidak ada ketentuan. Pada masyarakat Jawa pembagian warisan tersebut dapat dilaksanakan setelah slametan (selamatan). Selamatan itu sendiri ada berbagai macam dan dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu setelah meninggalnya seseorang. Misalnya, mitung dino (setelah tujuh hari pasca meninggalnya seseorang), matang puluh (setelah 40 hari), nyatus (setelah seratus hari), dan nyewu (setelah seribu hari).71 Namun, kebanyakan pembagian warisan dilaksanakan pada waktu nyewu atau dengan istilah lain nemu tahun wafat, yaitu pada hari ulang tahun meninggalnya pewaris. Karena pada hari itu diharapkan semua anggota keluarga dan ahli waris
71

Himan… Hukum Waris… hal. 104

22

berkumpul di tempat pewaris almarhum.72 Dengan demikian, ketika semua pewaris telah berkumpul akan lebih memudahkan pembagian harta waris dan sosialisainya kepada seluruh anggota keluarga. Adapun mengenai juru bagi juga tidak ada ketentuan pasti. Akan tetapi, yang dapat menjadi juru bagi adalah sebagai berikut:73 a. Orang tua yang masih hidup (janda atau duda pewaris), b. Anak tertua lelaki atau perempuan, c. Anggota keluarga tertua yang dipandang jujur, adil, dan bijaksana,
d. Anggota kerabat tetangga, pemuka masyarakat adat atau

pemuka agama yang diminta, ditunjuk atau dipilih oleh para ahli waris.74 2. Cara Pembagian Hukum adat dalam tata cara pembagian warisan tidak lah mengenal pembagian secara matematis. Tetapi pembagian pada masyarakat adat selalu didasarkan atas pertimbangan wujud benda dan kebutuhan ahli waris yang bersangkutan. Jadi meskipun dikenal adanya persamaan hak dan keseimbangan, tidak berarti setiap ahli waris mendapatkan bagian yang sama, dengan nilai harga yang sama atau menurut banyaknya bagian tertentu. Pada masyarakat adat Jawa mengenal dua cara pembagian harta warisan, yaitu dengan cara segendong sepikul, dimana pada cara pembagian ini bagian anak laki-laki dua kali lipat anak
72 73

Ibid Ibid, hal. 105 74 Sebenarnya tetua adat atau pemuka agama tidak terlalu dipentingkan. Mereka dipanggil untuk menengahi para ahli waris pada saat pembagian warisan hanya ketika jalannya musyawarah pembagian ada masalah atau perselisihan.

23

perempuan. Kedua, dengan cara dundum kupat,75 dimana bagian anak laki-laki dan perempuan sama dan seimbang.76 Sebagai contoh pembagian waris secara berimbang antara laki-laki dan perempuan adalah sebagai berikut: ”Setroidjojo bertempat tinggal di kelurahan Tandjunghardjo, Kapanewon Nanggulan, Kabupaten KulonProgo, meninggal dunia dengan meninggalkan seorang anak lelaki dan dua orang anak perempuan. Ketiga anak tersebut telah kawin. Setahun kemudian anak lelaki yaitu Setrowagijo meninggal dunia dengan meninggalkan seorang istri dan seorang anak perempuan. Warisan yang berwujud tanah pekarangan seluas 1000 m2 dan 2000 m2 dari Setrodidjojo dibagi tiga. Harta lain sudah tidak ada karena telah dipakai untuk membiayai penguburan dan selamatan. Pemabagian itu adalah seperti berikut: 1) Anak perempuan tertua tanah pekarangan tabon (pekarangan tempat rumah orang tua berdiri 1000 m2 seharga Rp 1000,-), 2) Anak perempuan kedua tanah pekarangan 1000 m2 seharga Rp 1000,- dan 3) Tjutju, anak dari anak laki-laki tanah pekarangan 1000 m2 berharga Rp 800,-“77

75 76

Istilah Jawa, secara bahasa berarti membagi ketupat Sama seimbang tersebut tidak diukur secara matematis, tetapi dengan perkiraan dan iktikad baik. 77 Soedarso, Hukum Adat Waris. 1961 dalam Hilman… Hukum Adat… hal. 106

24

BAB IV ANALISA PROSES PEWARISAN DALAM MASYARAKAT ADAT JAWA Secara umum, sistem kewarisan yang biasa digunakan di dalam masyarakat adat Jawa banyak mempunyai kesamaan dengan sistem kewarisan dalam hukum Islam di Indonesia yang dalam hal ini adalah Kompilasi Hukum Islam. Persamaan tersebut terutama terletak pada sistem kekerabatan dan asas kewarisan yang digunakan dan melekat pada keduanya. Kewarisan adat Jawa maupun kewarisan dalam Kompilasi Hukum Islam sama-sama menggunakan sistem kekerabatan bilateral atau parental, dimana pada sistem kekerabatan ini tidak berlaku penarikan garis keturunan dari jalur ayah atau jalur ibu. Akan tetapi, penarikan garis keturunan pada sistem bilateral atau parental diambil dari kedua orang tua (bapak dan ibu). Hal ini berakibat dalam masalah kewarisan, dimana ahli waris tidak didominasi oleh anggota keluarga garis keturunan bapak atau ibu, tetapi oleh kedua-duanya, perempuan mempunyai kesempatan yang sama dengan laki-laki. Mengenai asas kewarisannya pun, mempunyai kesamaan, yaitu sama-sama menggunakan asas kewarisan individual. Artinya, harta warisan tidak dikuasi hanya oleh anggota keluarga tertentu dan tidak pula digunakan secara bersama-sama dengan hanya mengambil manfaatnya. Akan tetapi, harta warisan tersebut dibagi-bagi kepada masing-masing ahli waris menurut bagiannya masing-masing dan setiap ahli waris berhak memiliki dan menguasainya, karena harta pada asas kewarisan individual bersifat ‘bisa dibagi-bagi’.

25

Sistem kewarisan adat Jawa dengan Kompilasi Hukum Islam juga mempunyai perbedaan-perbedaan yang cukup signifikan. Perbedaan tersebut terutama terletak pada proses pewarisanya, ahli waris, dan cara pembagian hartanya. Adapun secara singkat akan dijelaskan pada sub bab berikut. A. Mengenai Proses Pewarisan Proses pewarisan dalam sistem adat Jawa dan Kompilasi Hukum Islam sangat berbeda. Perbedaan ini akibat adanya perbedaan salah satu asas kewarisannya. Selain asas individual, dalam waris sistem KHI juga menganut asas kematian semata, sehingga ahli waris baru bisa mendapatkan harta warisan ketika pewaris meninggal. Demikian juga pewaris, baru bisa mewariskan hartanya kepada para ahli warisnya ketika ia sudah meninggal. Berbeda dengan sistem kewarisan adat Jawa yang tidak menganut asas kematian semata. Sehingga hal ini mengakibatkan harta warisan bisa diwariskan ketika pewaris masih hidup. Dengan kata lain, pada kewarisan adat Jawa, harta warisan selain diwaris setelah pewaris meninggal, juga bisa diwariskan pada saat pewaris masih hidup. Cara yang biasa ditempuh ada tiga macam, yaitu dengan cara penerusan atau pengalihan, penunjukan, dan weling atau wekas (berpesan, berwasiat).
B. Mengenai Ahli Waris dan Cara Pembagian

Dalam

hal

ahli

waris

kedua

sistem

tersebut

juga

mempunyai perbedaan yang sangat mencolok. Yang pertama, mengenai ahli waris anak angkat. Dalam Kompilasi Hukum Islam, yang menjadi ahli waris adalah orang-orang yang mempunyai

26

hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris. Dengan demikian, anak angkat bukan merupakan ahli waris dari pewaris karena tidak mempunyai hubungan darah dengan pewaris. Sedangkan dalam sistem kewarisan adat Jawa, anak angkat merupakan ahli waris dari pewaris. Bahkan, kedudukannya sangat isimewa dan bisa saja mengalahkan anak kandung. Biasanya, anak angkat akan mendapatkan warisan sebelum orang atau tua angkatnya Hal meninggal itu dengan cara pengalihan penerusan. dikarenakan adanya

kekhawatiran orang tua angkat, apabila warisan diberikan setelah wafatnya, anak angkat tersebut akan kalah dengan anak kandung. Yang kedua mengenai ahli waris utama. Di dalam sistem kewarisan adat Jawa, dikenal dengan adanya ahli waris utama, yaitu orang-orang yang dibesarkan dalam keluarga pewaris (anak kandung atau anak angkat). Hal ini mengakibatkan yang akan mendapatkan harta waris utama. Karena adat Jawa pertama kali adalah ahli waris menganut sistem pembagian

bertingkat, yaitu apabila ahli waris utama tidak ada maka warisan akan diberikan kepada orang tua pewaris, dan jika tidak ada kepada saudara kandung pewaris dan begitu seterusnya. Namun warisan. Berbeda dengan KHI yang tidak menganut adanya ahli waris utama. Harta warisan dibagikan kepada para ahli waris yang memang tidak terhalang untuk mewaris (karena mahjub atau sebab lain). Sehingga setiap ahli waris mempunyai apabila ada ahli waris utama, maka gugurlah kesempatan anggota keluarga yang lain untuk mendapatkan

27

kesempatan yang sama untuk mendapatkan harta warisan sesuai dengan bagiannya masing-masing. Selanjutnya dalam hal pembagian, sistem kewarisan adat Jawa tidak berdasarkan perhitungan matematis seperti dalam sistem KHI. Perhitungannya dilakukan secara dundum kupat, yaitu harta warisan dibagi sama antara para ahli waris baik lakilaki dan perempuan. Hal ini didasarkan pada suatu perkiraan dan iktikad baik bahwa dengan pembagian yang seperti itu keadilan dan keseimbangan antara para ahli waris dapat tercapai. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Demikian pembahasan tentang sistem kewarisan pada masyarakat adat Jawa. Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Antara sistem kewarisan adat Jawa dan hukum Islam di

Indonesia (KHI) terdapat suatu kesamaan, yaitu dalam hal sistem kekerabatan dan asas kewarisannya. Keduanya menganut sistem kekerabatan bilateral atau parental dan menggunakan asas kewarisan individual.
2. Antara sistem kewarisan adat Jawa dan KHI terdapat

perbedaan yang sangat kontras, diantaranya: a. Pada adat Jawa proses pewarisan dapat dilakukan sebelum dan sesudah kematian, sedangkan dalam KHI hanya dapat dilakukan setelah adanya kematian.
b. Pada adat Jawa anak angkat diakui sebagai ahli waris,

sedangkan dalam KHI tidak diakui, karena anak angkat tidak mempunyai hubungan darah dengan pewaris.

28

c. Dalam

adat Jawa terdapat ahli waris utama dan

menggunakan sistem pembagian bertingkat, sehingga apabila ahli waris utama ada, maka ahli waris lain akan terhalang. Sedangan dalam KHI tidak menganut adanya ahli waris utama. Semua ahli waris yang memang tidak berhalangan mewaris mendapat kesempatan yang sama sesuai dengan bagiannya. d. Cara pembagian dalam kewarisan adat Jawa dilakukan dengan cara pembagian yang sama besar, sehingga ahli waris perempuan mendapatkan bagian yang sama dengan ahli waris laki-laki. Sedangkan dalam KHI, pembagiannya sesuai dengan bagian masing-masing ahli waris yang telah ditentukan dengan formulasi dua banding satu, sehingga laki-laki mendapatkan dua kali lipat dari pada perempuan.
3. Sistem kewarisan adat Jawa tidak relevan dengan hukum

Islam

di

Indonesia

(KHI).

Karena

antara

keduanya sangat

mempunyai

perbedaan

dalam

hal-hal

yang

mendasar dan prinsipil.
B. Saran

Masalah kewarisan adalah masalah yang sangat urgen. Kesalahan sedikit saja dalam pembagiannya akan menimbulkan suatu perselisihan yang besar diantara para ahli waris karena dianggap tidak memenuhi aspek keadilan. Oleh karena itu, pembagian warisan harus dilakukan dengan tepat dan cermat sehingga hak-hak masing-masing ahli waris dapat terpenuhi.

29

DAFTAR PUSTAKA Hadikusuma, Hilman. Hukum Waris Adat. Cet. 4. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. 1990. Hasbiyallah. Hazairin. Belajar Mudah Ilmu Waris. Nasional. Bandung: cet. 2. Remaja Jakarta: Rosdakarya. Hukum Kekeluargaan Tintamas. 1968. ________. Hukum Kewarisan Bilateral Menurut Al Qur’an dan Hadits. Cet. 5. Jakarta: Tintamas. 1981. Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 1 Tahun 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam Manan, Abdul. Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana. 2006. Muhammad, Bushar. Pokok-Pokok Hukum Adat. Cet 4. Jakarta: Pradnya Paramita. 1988. Oemarsalim. Dasar-Dasar Hukum Waris Di Indonesia. Cet 2. Jakarta: PT Rineka Cipta. 1991. Ramulyo, Idris. Hukum Perkawinan, Hukum Kewarisan, Hukum Acara Peradilan Agama, dan Zakat Menurut Hukum Islam. Cet 4. Jakarta: Sinar Grafika. 2006. Saebani, Beni Ahmad. Sosiologi Hukum. Bandung: Pustaka Setia. 2007. Soekanto, Soerjono. Hukum Adat Indonesia. Cet. 4. Jakarta: Rajawali. 1990. Soekanto. Meninjau Hukum Adat Indonesia: Suatu Pengantar Untuk Mempelajari Hukum Adat. Cet. 3. Jakarta: Rajawali Pers. 1996. Soepomo. Bab-Bab Tentang Hukum Adat. Cet 14. Jakarta: Pradnya Paramita. 1996.

30

Sudarsono. Hukum Waris dan Sistem Bilateral. Jakarta: Rineka Cipta. Sudiyat, Imam. Hukum Adat: Sketsa Asas. Cet 2. Yogyakarta: Liberty. 1981. Sugihen, Bahreint. Sosiologi Pedesaan (Suatu Pengantar). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2007. Syarifudin, Amir. Hukum Kewarisan Islam. Jakarta: Kencana. 2004. Woodward, Mark R. Islam Jawa: Kesalehan Normatif Versus Kebatinan. Yogyakarta: LKis. 2004.

31

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->