Sei sulla pagina 1di 26

Biokimia

Analisa Urin
Uswatun Chasanah


Antidiuretic hormone stimulates water reabsorbtion by stimulating insertion of "water
channels" or aquaporins into the membranes of kidney tubules. These channels
transport solute-free water through tubular cells and back into blood, leading to a
decrease in plasma osmolarity and an increase osmolarity of urine.
Disease States
The most common disease of man and
animals related to antidiuretic hormone is
diabetes insipidus. This condition can arise
from either of two situations:
Hypothalamic ("central") diabetes insipidus
results from a deficiency in secretion of
antidiuretic hormone from the posterior
pituitary. Causes of this disease include head
trauma, and infections or tumors involving the
hypothalamus.

Nephrogenic diabetes insipidus occurs when the kidney
is unable to respond to antidiuretic hormone. Most
commonly, this results from some type of renal
disease, but mutations in the ADH receptor gene or in
the gene encoding aquaporin-2 have also been
demonstrated in affected humans.
The major sign of either type of diabetes insipidus is
excessive urine production. Some human patients
produce as much as 16 liters of urine per day! If
adequate water is available for consumption, the
disease is rarely life-threatening, but withholding water
can be very dangerous. Hypothalamic diabetes
insipidus can be treated with exogenous antidiuretic
hormone




Urine adalah filtrat yang dibentuk oleh ginjal dengan
membawa sampah dan racun dari darah.
Analisa urin meliputi:
Uji fisik : volume, warna, penampilan, bau, reaksi (pH)
dan spesifik gravity.
Uji fisikokimia : untuk identifikasi bahan normal dan
abnormal
Uji mikroskopis : untuk memeriksa deposit seluler ( sel
pus, leukosit, sel darah merah, sel epitel atau
mikroorganisme, dsb). Pada umumnya dilakukan pada
subyek yang patologik.


Analisa Kandungan Normal dalam Urin

Karakteristik Fisik:
Volume: Subyek normal : 1000 ml sampai 2000ml/ hari. Volume
dipengaruhi oleh jumlah cairan yang masuk, asupan protein (diet tinggi
protein menyebabkan poliuria yang dikaitkan dengan efek diuretic urea)
dan suhu lingkungan. Banyak berkeringat dan olahraga mengurangi
ekskresi urin.

Warna: urin segar yang diperoleh dari subyek normal berwarna kuning
pucat. Warna ini disebabkan oleh pigmen urokrom, yang merupakan
senyawa dari urobilinogen dan urobilin. Ketika pengeluaran urin lambat,
terlihat lebih kuning.

Kejernihan: urin segar yang normal adalah jernih dan transparan. Jika
dibiarkan, akan menjadi keruh dan terbentuk endapan fosfat.

Bau: urin segar yang normal mempunyai bau yang khas. Jika dibiarkan
beberapa waktu, akan mengalami dekomposisi oleh bakteri sehingga
dihasilkan bau amonia yang tidak menyenangkan (pesing).
pH: Urin normal mempunyai pH bervariasi dari 4,8 sampai
7,5 dengan rata-rata 6.0. jika dibiarkan, akan berubah
menjadi alkaline/basa sebagai akibat adanya pembentukan
ammonia hasil dari dekomposisi bakteri. Diet protein yang
tinggi (daging, ikan, gandum, roti, dll) menyebabkan urin
menjadi lebih asam karena lebih banyak sulfat dan fosfat
yang dieliminasi dari katabolisme protein. Urin menjadi
lebih basa(alkaline) ketika makan banyak sayur dan buah.

Spesifik gravity: Spesifik gravity urin normal bervariasi dari
1.012 sampai 1.024. Nilai ini dapat serendah 1.001 jika
volume urin banyak dan dapat mencapai setinggi 1.04 jika
volume urin sedikit. Spesifik gravity berbanding langsung
dengan konsentrasi solut yang diekskresi.


Penentuan specific gravity

Penentuan ini dikerjakan dengan
sebuah urinometer (Gambar10.1).
Urinometer juga disebut dengan
hydrometer terdiri dari batang tipis
yang berskala mulai dari 1000 sampai
1060 sebanding dengan specific gravity
1,0 sampai 1,06. Urinometer dikalirasi
pada 15
0
C. masukkan urin dalam
wadah secukupnya. Biarkan
urinometer mengambang dalam urin
tanpa menyentuh sisi dari wadah.
Amati bacaan pada meniscus. Catat
suhu urin.

Perhitungan :
Anggap pembacaan meniscus urin tepat 1012
pada suhu 37
0
C. Karena ada perbedaan kalibrasi
temperature dan suhu urin, koreksi suhu harus
diaplikasikan. Setiap kenaikan 3
0
C melebihi suhu
kalibrasi, mempunyai factor koreksi 1.0
ditambahkan pada hasil pembacaan.
Perbedaan antara 37
0
C dan 15
0
C adalah 22
0
C.
22 jika dibagi 3 hasilnya adalah 7.
Koreksi spesifik gravity = 1012 + 7 = 1019.

Jumlah zat padat total
Kalikan kedua angka terakhir dari BJ urin tersebut dengan
angka 2,6. hasilnya menyatakan secara kasar jumlah zat
padat total (gram) dalam 1 liter urin/24 jam.
Pengamatan :
b.j urin x 2,6 = 58 x 2.6 = 150.8 dalam 1 liter urin

Koeffisien Long: Jumlah total bahan padat yang
diekskresikan dalam urin dapat dihitung dengan
menggunakan koefisien Long.
Koefisien Long adalah 2.66
Isi bahan padat dalam 1000 ml urin dihitung dengan
mengalikan dua angka terakhir dari BJ dengan 2,66.
Hasilnya dinyatakan dengan gm/liter urin.

Total bahan padat dalam gms/liter urin = dua digit terakhir
BJ x 2,66

Kandungan kimia
Urin yang normal mengandung baik bahan organik
maupun anorganik. Yang termasuk bahan anorganik
adalah Na
+
, K
+
, Ca
2+
, Mg
2+
, NH
4
+, Cl
-
, H
2
PO
4
-
, HPO
4
2-
,
dan pengotor ion HCO
3
-. Bahan organik normal adalah
urea, asam urat, keratin, hasil detoksifikasi seperti
indikan dan sulfat ether. Pada kondisi abnormal
tertentu, beberapa konstituen normal urin
diekskresikan dalam jumlah abnormal.
Analisa rutin urin meliputi (1) klorida, (2) sulfat, (3)
kalsium, (4) fosfat, (5) ammonia, (6) urea, (7) asam
urat, (8) kreatinin, (9) sulfat ether dan (10)
urobilinogen.
Tampung sampel urin yang masih segar dan lakukan uji
fisik (warna, kejernihan, pH, specific gravity)
dilanjutkan dengan uji kimia.

UJI BAHAN ANORGANIK

Test
Pengamatan Kesimpulan
1. Tes klorida
Pada 2 ml urine,
tambahkan beberapa
tetes HNO
3
pekat dan 2
ml larutan AgNO
3
3%
Terbentuk endapan dadih
putih
Klorida diendapkan sebagai
AgCl
menggunakan AgNO
3
dengan
adanya HNO
3
.

Pada kondisi diet rata-rata, 8 sampai 15 gm klorida diekskresikan sebagai NaCL setiap hari.
Ekskresi setiap hari berbeda menurut makanan yang dikonsumsi.

1. Tes Sulfat anorganik
Pada 2 ml urine,
tambahkan 2 tetes HCl
pekat dan 2 ml BaCl
2
10%
Terbentuk endapan putih Sulfat diendapkan sebagai
BaSO
4
dengan BaCl
2


Sulfat yang terdapat dalam urin merupakan hasil dari katabolisme sulfur yang mengandung
asam amino. Pada diet rata-rata, 1 gm sulfat diekskresikan setiap hari. Ekskresi sulfat
berbeda sesuai dengan pasokan protein dalam makanan dan kecepatan kerusakan jaringan.

1. Tes Kalsium
Ke dalam 5 ml urine,
tambahkan 5 tetes asam
asetat 1% dan 5 ml
larutan Potasium oksalat
Terbentuk sedikit endapan berwarna putih Kalsium diendapkan sebagai kalsium oksalat
Ekskresi kalsium adalah sekitar 100 mg sampai 300 mg. Test Sulkovitchs, dipakai dalam evaluasi
abnormalitas parathyroid dan kasus batu ginjal. Tingkat kalsium dalam urin dihubungkan dengan
konsentrasi kalsium dalam serum. Ketika kadar kalsium kurang dari 7,5 mg/hari maka kalsium
tidak terdeteksi dalam urin. Ketika kadar kalsium 7.5 10 mg/ hari, urin menunjukkan sedikit
kabut pada uji ini. Endapan yang nyata/berat menunjukkan adanya kadar kalsium ynag tinggi ( di
atas 12 mg/dL).

1. Uji Phosphate anorganik
Pada 5 ml urine,
tambahkan HNO
3
pekat
dan sedikit sekali
Terbentuk endapan berwarna kuning kenari (
warna hijau menunjukkan bahwa HNO
3
tidak
mencukupi.
Phosphat anorganik diendapkan sebagai
ammonium phsphomolybdat yang berwarna
kuning kenari.
1. Uji ammonia
Masukkan 1 ml urin
dalam tabung reaksi,
panaskan di atas api
spiritus
Timbul bau amonia
1. Urea
1. Uji kreatinin
Jaffs test
2 tabung beri table test dan control.
Tabung uji
Siapkan 5 ml urine, tambahkan
larutan asam pikrat jenuh dan
beberapa tetes larutan NaOH 10%
Tabung control.
Siapkan 5 ml air, tambahkan larutan
asam pikrat jenuh dan beberapa
tetes larutan NaOH 10%.
Kreatin positif ditunjukkan oleh warna orange
Dengan air berwarna kuning
Kreatinin bereaksi dengan alkalin pikrat untuk
membentuk pikrat kreatinin.
Tidak ada reaksi
Kreatinin dalam urin didapatkan dari keratin otot. Ekskresi harianindividu secara wajar
tetap dan tidak dipengaruhi oleh makanan. Ekskresi ini tergantung pada massa otot.
Ekskresi pada pria dewasa per hari sekitar 1 sampai 2 gm dan pada wanita adalah 0.8
sampai 1.5 gr perhari.
Uji sulfat organic
Pada 5 ml urine, tambahkan 2 ml
BaCl
2
10% dan 2 ml HCl pekat.
Campur dan saring. Bagi filtrate
menjadi 2 bagian masing-masing
sebagai control dan uji. Didihkan
larutan tes dan bandingkan dengan
larutan control.
Terbentuk cairan keruh ( dapat timbul warna
merah)
Sulfat anorganik terlebih dahulu
membentuk endapan BaSO
4
dan dipisahkan.
Pada filtrate yang dipanaskan HCl
menghidrolisa
Sulfat eter menjadi sulfat anorganik yang
kemudian mengendap sebagai BaSO
4
.
Setiap hari 100 mg sulfat organic diekskresikan melalui urin. Sulfat ether adalah produk detoksifikasi yang terbentuk di liver, contoh
Indican (indoxyl sulfat).
Test untuk urobilirubin
Pada 5 ml urin yang masih segar,
tambahkan 1 ml reagent Ehrlich,
campur dan biarkan selama 5 menit.
Tampak warna merah jika dilihat dari mulut
tabung
Urobilirubin bereaksi dengan
paradimetilaminobenzaldehid yang terdapat
dalam reagen sehingga timbul warna merah.
Catatan :
1. Jika dibiarkan, urobilinogen dalam urin dioksidasi menjadi urobilin, yang tidak dapat menjawab hasil tes tersebut.
2. Urin normal mengandung urobilinogen. Ini merupakan hasil dari bilirubin oleh reaksi bakteri intestinal. Urobilinogen diabsorpsi dan
diekskresikan melalui urin. Pada obstructive jaundice, urin tidak mengandung urobilinogen. Pada hemolytic jaundice, terjadi peningkatan
ekskresi urobilinogen.
Uji urine abnormal
Test Pengamatan Kesimpulan
1. Test untuk albumin
a. Uji pemanasan dan asam asetat
Masukkan 10 ml urine (jika urin
keruh, saring sebelum dilakukan test)
Pegang tube tersebut di atas nyala
api dengan posisi miring dan didihkan
bagian urin. Urine yang bagian
bawah (1/2 nya) digunakan sebagai
control. Tambahkan beberapa tetes
larutan asam asetat 1%.
Keadaan keruh dengan adanya endapan akan
teramati pada saat dipanaskan
Terdapat albumin dalam urin
a. Uji asam sulfosalisilat
Pada 3 ml urine (saring jika tidak
jernih) tambahkan 1 m 20% asam
sulfosalisilik
Terbentuk endapan berwarna putih Terdapat protein
a. Hellers test
Masukkan 3 ml HNO
3
pekat
dalam tube dan tambahkan
2 ml urine melalui dinding
tube
Terbentuk cincin berwarna putih
antara dua lapisan
Terdapat protein. NHO
3
mengendapkan protein
Adanya sejumlah protein yang terdeteksi dalam urin diketahui sebagai proteiuria. Pada umumnya protein yang
terdapat dalam urine (albuminuria) muncul pada penyakit ginjal seperti glomerulonephritis, nephroslerosis,
tuberculosis dan kanker ginjal, sindrom nefrotik. Bence-Jones protein (sebagai immunoglobulin) tampak pada
urin daam kasus multiple myeloma, protein ini akan mengendap pada shu 40
0
60
0
, endapan ini akan larut
pada pemanasan dan terbentuk kembali jika didinginkan.
1. Test gula pereduksi
Benedicts test
Pada 5 ml reagent Benedicts
tambahkan 8 tetes urin. Campur
dan didihkan selama 2 menit di
atas nyala api kecil dan
kemudian dinginkan
Terbentuk endapan berwarna
hijau/kuning/orange/merah bata
Terdapat gula pereduksi. Pada
umumnya glukosa. Warna
menunjukkan banyaknya glukosa
dalam urine. Hijau 0,5%,
Kunin -1%, Orange 1,5%, Merah
bata-2%.
Benedict test positif biasanya diberikan oleh glukosa. Glycosuria terjadi terutama selama diabetes mellitus dan
diabetes ginjal. Reaksi positif juga terkait pada laktosuria pada ibu hamil dan menyusui, berkaitan dengan
galaktosuria pada galaktosemia, pentose pada pentosuria dan fruktosa pada fruktosuria.
1. Tes darah dalam urin
Campurlah 2 atau 3 teets
larutan benzidin dan 2
tetes larutan hydrogen
peroksida. Tambahkan 2
tetes larutan ini pada 2
ml urine pada tabung
kedua.
Segera terbentuk warna biru
atau hijau dan hilang dalam
segera beberapa detik
Adanya darah dalam urin.
Heme dari hemoglobin
menguraikan H
2
O
2
menjadi O
2.
Terbentuknya oksigen ini akan
mengoksidasi benzidine
menjadi produk yang
berwarna biru atau hijau, yang
sangat tidak stabil
Hematuria (adanya darah dalam urin) terjadi pada kasus pendarahan saluran perkemihan. Ketika
darah yang terhemolisis ditemukan dalam urin, kondisi ini dikenal sebagai hemoglobinuria.
Peristiwa ini terjadi pada malaria, tipus, serangan panas, keracunan bahan kimia dan transfuse
darah yang tidak sesuai.
Test ini juga positif, ketika cairan sel ada dalam urin. Sel ini (leukosit) mengandung peroksidase,
yang bertanggungjawab terhadap reaksi positif. Akan tetapi, jika urin mengalami perlakukan
pemanasan maka enzim akan inaktif dan test menunjukkan hasil negative. Heme, walaupun
demikian stabil pada pemanasan.