Sei sulla pagina 1di 206

384

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

L Lampung 69 Langsa 68 Leh, Ayahwa Lhok Sukon Lhokseumawe

68 68 68

M Makmur, Wahab 68 mudharat 202 Mujahid, Teungku Amir Husin Al 197 muslimin 70 N Nabi Muhammad SAW 119, 367 Nasir, Muhammad 68 Nasution, A.H. 202 Natsir, Mohammad 201 negara Islam 120, 195, 202, 368 Negara Islam Aceh 65, 67 Negara Islam Indonesia 195 P Pancasila 120, 191, 368 Peristiwa Cumbok 71 POESA 68 Prang Sabi 69, 74 Prawirane gara, Syafruddin 201 produk Belanda 195 proklamasi Negara Islam Ace h 194 R Raman, Teuku Cut 68 Republik 191 Republik Indone sia 194 Republik Islam Aceh (RIA)

S Sab, Hasan 68 Saleh, Muhammad 68 Sekutu 69 Shu Chokan 67 Sidik, Teungku Jafar 68 Soekarno 65, 69, 72, 73, 192 Sultan Ace h 69 Sulung, Te uku Raja 68 Sumatera Barat 69 Sumatera Selatan 69 Sumatera Timur 69 Syafie, Muhammad 69 Syaqaf, Dr. A. 69 syariat Islam 66, 74, 202 syariat Islam 202 Syarif, Muhammad A. 69 T takbir 65 Tanah Re ncong 120, 368 Tanour, Sofyan 68 Tapanuli 69 Tiro, Hasan 68, 272 Tiro, Teungku Umar 68 Tjahya, Ir. Idra 69 Tobing, Dr. Ferdiman L unbau 69 Tualang Cut 68 U uleebalang umara 74 ummat Islam W Wahidi, Hasbi

DARUL ISLAM DI ACEH:


ANALISIS SOSIAL-POLITIK PEMBERONTAKAN REGIONAL DI INDONESIA, 1953-1964

69, 70 120, 368

68

65, 72, 201 Y Yogyakarta 73 Yusuf, Kolonel Husin Yusuf, Mr. M uhammad 197 69

INDEKS

A Abbas, Mr. 69 Aceh 69 air tuba 73 Akbar, M uhammad Ali 68 Ali, Hasan 272 Ali, Teuku Panglima Polem Muhammad 65, 71 Allahu Akbar 65 Amin, S. Muhammad 266 Amuntai 192 Arief, Teuku Nyak 66 Arif, Abdullah 266 Atjehmoorden 70 B Bangka Belitung 69 Barisan Pemuda Indonesia Lamlo 68 basmallah 65 beleid 197 bendera Merah Putih 67, 68 Bengkulu 69 Beureueh, Teungku Muhammad Daud 67, 68, 74, 119, 202, 266, 366 Blang Padang 72 C Commis, Usman 67 Cumbok, Teuku M uhammad Daud 71 D daerah modal perjuangan Dahlan, Te uku 67 Daud, Hasballah 266 dayah 68

G Gani, Dr. A.K.

69

H hadist 120, 367 Hamid, Teuku Abd ul Hanafiah, Teuku Nyak Hanafiah, Teuku Teungoh Hasballah, Teungku Ahmad Hatta 65

66 66 65 68

I Ibrahim, Te uku Panglima Agung 68 ideologi Islam 72 ideologi perjuangan rakyat 72 imagined communities 65 J Jakarta 65 Jambi 69 Jamil, H. Burhan 68 Jasin, Kolonel Muhammad Jawa Barat 202 Jeunib, Teuku Ahmad jihad 190

202 66

72

K Kale, Teungku Hasan Krue ng 68 keluarga Tiro 68 kemerdekaan Indonesia 66 Kuala Simpang 68 Kutaraja 66

382

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Ti Aisyah Subhani Al Chaidar

ANALISIS SOSIAL-POLITIK PEMBERONTAKAN REGIONAL DI INDONESIA, 1953-1964

DARUL ISLAM DI ACEH:

Daftar Pustaka

381

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)


Aisyah, Ti, Subhani, Chaidar, Al Dar ul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia, 1953-1964/penulis Ti Aisyah, Subhani, dan Al Chaidar Unimal Press Lhokseumawe NAD xvi, 384 hlm; 21 cm

D. Wawancara
Wawancara dengan Abdul Fatah Wirananggapati, Sumedang, 1 November 1991. Wawancara dengan Abdul Fatah Wirananggapati, Sumedang, 9 Oktober 1987. Wawancara dengan Gaos Taufik, Jakarta, 7 Agustus 2001. Wawancara dengan Ishak Ibrahim, Banda Aceh, 24 Juli 2006. Wawancara dengan Sayed Mudhahar Ahmad, Jakarta, 14 Maret 1998. Wawancara dengan Teungku Ibrahim A. Rahman, Banda Aceh, 28 Juni 2006. Wawancara dengan Teungku Shaleh, Leupung, Cot Jeumpa, 14 Juni 2006. Wawancara dengan Tgk. Ibrahim A. Rahman, Banda Aceh, 28 Juni 2006. Wawancara dengan Tgk. Saleh, Pulot, Leupung, Aceh Besar, 27 Juni 2006.

ISBN 978-979-1372-29-9
1. Dar ul Islam 2. Aceh 3. Aisyah, Ti 4. Subhani 5. Chaidar, Al I. Judul

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia, 1953-1964


(DRAFT VERSION) Hak Penerbitan pada Unimal Press Lhokseumawe NAD Disain Sampul: Madani Press Cetakan Pertama, Juli 2008. Dicetak oleh: Madani Press Alamat Penerbit: Unimal Press Jl. Tgk. Chik Ditiro No. 26, Lhokseumawe Nanggroe Aceh Darussalam INDONESIA P.O. Box 141, +62-0645-41373-40915  +62-0645-44450 Jakarta Office; Jl. Garuda Blok CC No. 2 Perum Bojong Depok Baru II SukahatiCibinong, Bogor-INDONESIA +62-021-87914649  +62-021-87914649 Hak Cipta 2008 All rights reserved No parts of this book may be reproduced by any means, electronicor mechanical,including photocopy, recording, or information storage and retrieval system, without permission in writing from the publisher. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apa pun, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotokopi, tanpa izin sah dari penerbit

380

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Peraturan Wakil Menteri Pengganti Peraturan Pemerintah no. 8 1949. Persetujuan Bersama Kutaraja, 1 Oktober 1959 A.n. Dewan Revolusi (Gerakan Revolusioner Islam Aceh), Kodam Aceh Iskandar Muda dan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh. Persoalan-Persoalan Politik di Atjeh, Laporan Ms. Mohd. Suhud kepada Gunernur Sumatera Utara, (Medan, 1953). Sekitar Peristiwa Daud Beureueh, Jilid I (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan (t.t.). Soekarno, Djangan Tinggalkan Toleransi, Pidato P.M.J. Presiden Republik Indonesia dalam malam resepsi penutupan Muktamar ke 7, Partai Masjumi tgl. 27 Desember 1954 di Surabaja: Djawatan Penerangan RI, Provinsi Djawa Timur, t.t. Statement Pemerintah Negara Islam Indonesia, 5 Oktober 1953. Sumatera Utara, Republik Indonesia: Provinsi Sumatera Utara, (Jakarta: Kementerian Penerangan, 1953). Undang-undang No.2/1949.

Persembahan untuk mengenang

Teungku Muhammad Daud Beureueh


Geutany ka trh keun, hana rt le ta surt

C. Media Massa [Surat Kabar dan Majalah]


Asia Newsletter Vol.VIII.n.37,10 Oktober 1953, Sekitar t.t. I:493) Duta Masyarakat, tanggal 20-11-1962, tanggal 28-12-1962, tanggal 2912-1962, tanggal 31-12-1962. Duta Masyarakat, 20-5-1959, 21-5-1959. Kiblat XVIII, No. 24, 1981. Merdeka, 26.5.1950. Pikiran Rakyat, 14 Februari 1956. Pikiran Rakyat, 15 Februari 1956. Pikiran Rakyat, 4 Februari 1956. Pikiran Rakyat, tanggal 4-11-1953. Time, 16 Februari 1953. Time, 5 Februari 1953.

Daftar Pustaka

379

The, Anna Marie, Darah Tersimbah di Djawa Barat: Gerakan Operasi Militer V, (Jakarta: Lembaga Sedjarah Hankam, l968). Tiro, Hasan Mohammad, The Political Future of the Indonesian Archipelago, (Medan: Sumatera Berdaulat, 1965). Tiro, Hasan Muhammad, Neo-Colonialism in Indonesia (How a New Colonialism has been established under the cover of the cry of anticolonialism, Naskah Pidato pada Sidang Umum XVI PBB Oleh Wakil Republik Federasi Indonesia di PBB, (New York: 1961). Tiro, Mohammad Hasan, The Political Future of The Indonesian Archipelago: A Manifest by Dr. Teungku Hasam Muhammad di Tiro, (Medan: Sumatera Berdaulat, 1965). Wertheim, W.F., Indonesian Society in Transition, (The Hague: W. van Hoeve, 1969).

B. Dokumentasi dan Peraturan Perundangan


Album Peristiwa Pemberontakan DI-TII di Indonesia, (Jakarta: Dinas Sejarah TNI-AD, 1981), hlm. 242-243. Bagian Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureueh, Jilid I (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan (t.t.). Dekrit Presiden, 5 Juli 1959. Bahan Penataran P-4 bagi mahasiswa, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988). Disjarah TNI, Album Peristiwa DI-TII, (Jakarta: Dinas Sejarah TNI, 1981). Keputusan KSAD No. 264/4/1960 Tanggal 15 April 1959 Tentang Penampungan eks DI/TII. Keputusan Pemerintah Darurat Republik Indonesia no. 22. Keputusan Pemerintah Darurat Republik Irldonesia no. 21. Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia no. 1/Miss8-1959. Komando Daerah Militer VI Siliwangi, Team pemeriksa Berita Atjara Interogasi I, 16 Juni 1962. Pengumuman Pemerintah 20 November 1955.

378

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Polem, T.M. Ali Panglima, Sumbangsih Aceh bagi Republik, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), hlm. 72-73. Puar, Yusuf Abdullah, dkk., Muhammad Natsir 70 Tahun: KenangKenangan Kehidupan dan Perjuangan, (Jakarta: Pustaka Antara, 1978. Reid, Anthony, The Birth of Republic in Sumatra dalam Indonesia, 12, (Oktober 1971). Reid, Anthony dan Shiraishi Saya, Rural Unrest in Sumatra, 1942: A Japanese Report, dalam Indonesia 21 (April 1976), hlm. 115-133. Ricklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern (terj.), (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1993). Saifuddin, Achmad Fedyani, Antropologi Kontemporer: Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma, (Jakarta: Kencana, 2005), hlm. 89. Sajoeti, M.I., Ummat Islam Menghadapi Pemilihan Umum, (Bandung: Jajasan Djaja, 1953). Saleh, Hasan, Mengapa Aceh Bergolak, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1992). Siegel, James T., The Rope of God, (Los Angeles: California University Press, 1969). Sjamsuddin, Nazaruddin, The Republican Revolt, The Case of Achehnese Darul Islam, (Singapore: ISEAS), 1985. Sjamsuddin, Nazaruddin, Pemberontakan Kaum Republik, Kasus Darul Islam Aceh, (terj.), (Jakarta: Grafiti Pers, 1990) Soebagio I.N., K.H. Masjkur: Sebuah Biografi, (Jakarta: Gunung Agung, 1982). Soekarno, Negara Nasional dan Cita-cita Islam, naskah ceramah di hadapan civitas acamedemika Universitas Indonesia, 1953. Sulaiman, M. Isa, Sejarah Aceh, Sebuah Gugatan Terhadap Tradisi, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1997). Syamsuddin, Nazaruddin. 1990. Pemberontakan Kaum Republik: Kasus Darul Islam Aceh. Jakarta: Pustaka utama Grafiti.

DAFTAR ISI
D AFTAR ISI ............................................................................ VII P ENGANTAR P ENULIS ................................................................ IX K RONOLOGI DARUL I SLAM A CEH ............................................... XIII B AB I P ENDAHULUAN................................................................. 1

A. Hipotesa Meminjam Tenaga Luar ...................................... 4 B. Darul Islam SM Kartosoewirjo di Jawa Barat...........................15 A. Struktur Masyarakat Aceh ................................................53 B. Persatuan Ulama Seluruh Aceh...........................................60 C. Respon Aceh terhadap Proklamasi Berdirinya Republik Indonesia .65 D. Bangkitnya Kekuasaan Ulama ............................................74

B AB II ACEH DI A WAL K EMERDEKAAN ......................................... 51

B AB III K ONGGRES U LAMA S ELURUH I NDONESIA DI MEDAN : P ERSIAPAN - PERSIAPAN UNTUK P EMBERONTAKAN............... 81
A. Sebelum Konggres ..........................................................82 B. Teungku M. Daud Beureu`eh: Singa Aceh ..............................86 C. Kongres Alim Ulama Se-Indonesia di Medan.......................... 104 D. Berakhirnya Kongres, Dimulainya Persiapan Melawan ............. 108 E. Persiapan Pemberontakan............................................... 112

B AB IV P ENGHAPUSAN PRO V INSI ACEH : K EGAGALAN P OLITIK S OEKARNO DAN K EBERHASILAN P ROPAGANDA K ARTOSOEWIRJO ........................................................ 121
A. Penghapusan Status Provinsi Aceh dan Reaksi Masyarakat Aceh . 123 B. Dampak terhadap Kesatuan Militer ................................... 131 C. Dampak terhadap Birokrasi Pemerintahan Sipil..................... 133 D. Dampak terhadap Ekonomi Daerah.................................... 136 E. Dampak terhadap Penerapan Hukum Syariat Islam ................. 139 F. Razia Agustus 1951 ....................................................... 140 G. Majelis Penimbang dan Harta Uleebalang............................ 142 H. Provinsi Aceh sebagai Kebanggaan .................................... 145 I. Persiapan-Persiapan Intelektual untuk Pemberontakan ............ 154 J. Menggumpalnya Kekecewaan ........................................... 160

viii

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Daftar Pustaka

377

B AB V M ELETUSNYA P EMBERONTAKAN DARUL I SLAM DI A CEH ..... 171

A. Bantuan Militer atau Operasi Militer? ................................ 185 B. Proklamasi Negara Islam Aceh ......................................... 190 C. Susunan Kabinet .......................................................... 192 D. Sistem dan Struktur Pemerintahan Negara Islam Aceh ............ 196

Kosasih, A., Teguh Tenang Menempuh Gelombang, (Bandung: Sumur Bandung, 1962). Mattaliu, Bahar, Kahar Muzakkar dengan Petualangannja, (Jakarta: Delegasi 1965). Meuraxa, Dada, Peristiwa Berdarah di Atjeh, (Medan: Pustaka Sedar, 1956). Mossman, J., Rebel in Paradise: Indonesias Civil war, (London: Jonathan Cape, 1961), hlm. 228. Mugni, S.A., Hasan Bandung, Pemikiran Islam Radikal, (Surabaya: Bina Ilmu, 1980). Mujahidain, Daamurasysyi, Menelusuri Langkah-langkah Jihad SM Kartosoewirjo, (Yogyakarta: Wihdah Press, 1998). Nasution, A.H., Tjatatan-tjatatan Sekitar Politik Militer Indonesia, Jakarta Pembimbing, 1955, hlm. 91. Nasution, Adnan Buyung, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia: Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1956-1959, (terj. Sylvia Tiwon), Jakarta: Grafiti Press, 1995. Natsir, Mohammad, Capita Selecta, Jilid II, (Bandung & The Hague: W. Van Hoeve, 1945). Nieuwenhuijze, Van, The Dar-ul-lslam Movement in Western Java till 1949, dalam Aspects Penumpasan Pemberontakan DI-TII/SMK di Jawa Barat, (Bandung: Dinas Sejarah TNI-Angkatan Darat, 1974). Pinardi, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, (Jakarta: Aryaguna, 1964. Pluvier, J.M., (1953:84), sebagaimana dikutip oleh C. van Dijk, Darul Islam: Sebuah Pemberontakan, (terj.), (Jakarta: Grafiti Pers, 1993). Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 1993. Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta: Depdikbud dan Balai Pustaka. Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia IV, (Jakarta: Depdikbud dan Balai Pustaka, 1993).

B AB VI DITABUHNYA G ENDERANG P ERANG SABIL DAN M ILITAIRE B IJSTAND .................................................................. 203

A. Gerilya: Dari Desa Menyerang Kota ................................... 210 B. Nasionalisme Bukan Alasan untuk Bersatu ........................... 221

B AB VII O PERASI M ILITER : P EMBANTAIAN R AKYAT ACEH DI C OT J EUMPA , P ULOT , G UNUNG K ULU , DAN KRUENG K ALA ..... 233
A. Respon Anggota Parlemen .............................................. 254 B. Respon Hasan Tiro........................................................ 255 C. Hasan Mohammad Tiro .................................................. 259

B AB VIII K ONFERENSI B ATEE K URENG DAN K ONSEPSI P RINSIPIL B IDJAKSANA ............................................................ 265

A. Konferensi Dinas NBA-NII di Batee Kureng ........................... 265 B. Konsepsi Prinsipil-Bidjaksana........................................... 275

B AB IX D EWAN R EVOLUSI : P ERPECAHAN I NTERNAL DARUL ISLAM A CEH ........................................................................ 291 B AB X I KRAR L AMTEH ............................................................ 311 B AB XI A MNESTI DAN A BOLISI U MUM : C ARA H ALUS S ESUDAH G AGALNYA C ARA K ASAR .............................................. 329

A. Kekuatan Darul Islam Aceh ............................................. 331 B. Teungku Daud Beureu`eh Menolak Turun ......................... 333 C. Menguatnya Lobby di Parlemen........................................ 335 D. Membujuk Tgk. Daud Beureu`eh Secara Halus ...................... 338

B AB XII MISI HARDI : A KOMODASI P OLITIK PUSAT UNTUK P EMBERLAKUAN SYARIAT ISLAM DI A CEH ...................... 343 B AB XIII MUSYAWARAH K ERUKUNAN R AKYAT ACEH DI B LANGPADANG : R EINTEGRASI DAN R EKONSIALIASI PASCA K ONFLIK ................................................................. 353 B AB XIV K ESIMPULAN ........................................................... 357 D AFTAR P USTAKA ................................................................. 373 I NDEKS ................................................................................ 383

376

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Harahap, Zainabun, Operasi-Operasi Militer Menumpas Kahar Muzakkar, (Jakarta, 1965) Hardi, Aceh: Latar Belakang Politik dan Masa Depannya, (Jakarta: Cita Panca Serangkai, 1993). Hardi, Api Nasiolisme: Cuplikan Pengalaman, (Jakarta: Gunung Agung, 1983) Hardi, Daerah Istimewa Aceh: Latarbelakang Politik dan Masa Depannya, (Jakarta: Citra Panca Serangkai, 1993). Hasan Saleh, Mengapa Aceh Bergolak, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1992). Hasjmy, Ali, Almanak Umum 1959, (Banda Aceh: Atjeh Press Service, 1959). Ibrahimy, M. Nur. 2001. Peranan Tgk. M. Daud Beureu`eh dalam Pergolakan Aceh. Jakarta: Media Dawah. Insider (S.M. Amin), Atjeh Sepintas Lalu, (Jakarta: Fa Archapada, 1950). Jakoeb, Tgk. Ismail, Soesoenan Indonesia Merdeka, (Koetaradja: Semangat Merdeka, 1945). Jan, Abdul Murat Mat, Pemberontakan Darul Islam Aceh 1953-1959, dalam Akademika No. 9, 1976. JarahDam-I, Dua Windhu Kodam I/Iskandar Muda, (Banda Aceh: Sejarah Militer Kodam I/Iskandar Muda, 1972). Kartosoewirjo, S.M. (nama pena: Karma Yoga), Pedoman Dharma Bakti, jilid I. Kartosoewirjo, S.M. (nama pena: Karma Yoga), Salinan Pedoman Dharma Bakti, Jilid II, Nota Rahasia 22.10.1950. Kartosoewirjo, SM, Manifesto Politik Negara Islam Indonesia, (Garut: naskah tak diterbitkan, 1950). Kartosoewirjo, SM, Sikap Hidjrah PSII, (Malangbong, Batavia-C: Madjlis Tahkim Partai Sjarikat Islam Indonesia, 1936). Keterangan Thaib Adamy, Sekretaris Comite PKI Daerah Atjeh, 30 Januari 1957. eristiwa berdarah yang meletus di Aceh pada 21 September 1953 sering dikenal dengan beberapa istilah, yaitu Peristiwa Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Aceh, Peristiwa Daud Beureu`eh atau Pemberontakan Daud Beureu`eh, dan Peristiwa Berdarah di Aceh. Disebut Peristiwa DI/TII Aceh karena peristiwa ini terjadi dalam upaya membentuk Negara Islam Aceh yang merupakan bagian dari Negara Islam Indonesia pimpinan Kartosoewirjo di Jawa Barat. Disebut Peristiwa Daud Beureu`eh atau Pemberontakan Daud Beureu`eh, sebagaimana yang dinamakan oleh Perdana Menteri saat itu Ali Sastroamidjojo, karena peristiwa pemberontakan ini dipimpin oleh Teungku Muhammad Daud Beureu`eh. Untuk selanjutnya dalam buku ini hanya dipakai istilah Peristiwa DI/TII Aceh. Peristiwa DI/TII Aceh merupakan satu episode penting dan merupakan ironi dalam sejarah Aceh pasca kemerdekaan. Peristiwa yang meletus hanya tiga tahun setelah berakhirnya Revolusi Kemerdekaan ini dipimpin oleh tokoh-tokoh yang sangat berjasa dalam masa revolusi dan didukung oleh sebagian besar rakyat Aceh. Hal ini merupakan suatu ironi mengingat dalam masa Revolusi Kemerdekaan rakyat Aceh dengan dikomandoi oleh sebagian besar tokoh yang terlibat dalam peristiwa DI/TII merupakan pendukung utama Revolusi baik secara fisik maupun ekonomi. Sebagai satu-satunya daerah yang

PENGANTAR PENULIS

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Daftar Pustaka

375

tidak berhasil diduduki kembali oleh Belanda pasca kemerdekaan, kecuali Sabang, peranan daerah dan rakyat Aceh sangat penting bagi Indonesia untuk menjaga Revolusi tetap berjalan, dan rakyat Aceh selalu berada di belakang Republik Indonesia yang masih muda. Dengan dukungan tersebut daerah Aceh dianggap sebagai modal bagi Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Setelah Revolusi berakhir, dengan memperoleh pengakuan kedaulatan dari Belanda dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag tahun 1950, rakyat Aceh merasa ditinggalkan oleh Pemerintah Pusat Indonesia. Otonomi yang pernah dirasakan rakyat Aceh hanya beberapa tahun pun akhirnya dicabut oleh Pemerintah Pusat. Pencabutan otonomi ini berpengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan rakyat Aceh. Pencabutan otonomi ini dan beberapa kebijakan lain dari Pemerintah Pusat terhadap Aceh telah membuat rakyat Aceh merasa kecewa dan puncaknya diwujudkan melalui Pemberontakan yang meletus pada tanggal 21 September 1953 yang dipimpin oleh Tgk. M. Daud Beureu`eh. Pemberontakan ini cukup menarik untuk dianalisis karena meskipun peristiwa ini terjadi di daerah Aceh dan dipicu oleh kekecewaan rakyat Aceh terhadap Pemerintah Pusat, namun peristiwa DI/TII Aceh tersebut tidak berusaha mendirikan negara sendiri, tetapi masih dalam koridor Indonesia di bawah Gerakan DI/TII Kartosoewirjo di Jawa Barat. Oleh karenanya peristiwa yang dipimpin oleh Tgk. Muhammad Daud Beureu`eh ini tidak dapat digolongkan ke dalam gerakan separatis, karena masih dalam lingkup Indonesia namun dengan landasan ideologis yang berbeda. Peristiwa yang meletus tahun 1953 ini lebih merupakan sebagai protes rakyat Aceh terhadap Pemerintah Pusat yang dianggap tidak bisa dipercaya dan sudah tidak sesuai dengan yang diharapkan. Buku ini berusaha untuk mengkonstruksikan kembali peristiwa yang telah menelan banyak korban jiwa dan harta rakyat Aceh, baik latar belakang penyebab, jalannya peristiwa dari waktu ke waktu dengan mengambil momen-momen penting, dan proses penyele-

Dalimunthe, A. Hakim, Gerak-Gerik Partai Politik, (Langsa: Gelora, 1951). Dengel, Holk H., Darul Islam dan Kartosoewirjo: Angan-Angan yang gagal, (Jakarta: Penerbit Sinar Harapan), 1996. Dengel, Holk Harald, Darul Islam: Kartosoewirjos Kampf um Einen Islamichen Staat in Indonesia, Heidelberg: Heidelberg Universiaet, 1990. Dijk, C. van, Darul Islam: Sebuah Pemberontakan, (terj.), (Jakarta: Grafiti Pers, 1993). Dijk, C. van, Revolution Under the Banner of Islam: The Darul Islam in Indonesia; B.J. Boland, The Struggle of Islam in Indonesia: 1945-1970 el-Ibrahimy, M. Noer, Teungku Muhammad Daud Beureu`eh dan Peranannya dalam Pergolakan di Aceh, (Jakarta: Bulan-Bintang, 1981). Feith, Herbert dan Daniel Lev, The End of Indonesian rebellion, dalam Pacific Affairs, 36, No. 1, 1963. Feith, Herbert, The Decline and Fall the Constitutional Democracy in Indonesia, (Ithaca, New York: Cornell University Press, 1973). Feith, Herbert, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, (Massachusett: University of California Press, 1983). Feith, Herbert, The Indonesia Election of 1955, (Ithaca, New York: Modern Indonesian Project, Southeast Asia Program, Cornell University, Interim Report Series, 1971). Geertz, Clifford, The Integrative Revolution: Primordial Sentiments and Civil Politics in the New States, dalam buku Claire Holt (ed.), The Interpretation of Culture, (New York: Basic Books, Inc., 1973). Geertz, Clifford, Involusi Pertanian, (terj.), (Jakarta: Bhratara, 1974). Gelanggang, A.H., Rahasia Pemberontakan Aceh dan Kegagalan Politik Mr. SM Amin, (Banda Aceh: Pustaka Murni Hati, 1956). Haidar, M. Ali, Nahdatul Ulama dan Islam di Indonesia: Pendekatan Fikih dalam Politik, (Jakarta: Gramedia, 1994).

374

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pengantar Penulis

xi

Amin, SM, Sekitar Peristiwa Berdarah di Atjeh, (Jakarta: Soeroengan, 1956). Anderson, Benedict RO. Gorman, Imagined Communities, (London: Verso, 1983). Anwar, Dewi Fortuna, Indonesias Relations with China and Japan: Images, Perceptions, and Realities, dalam Contemporary Southeast Asia (Singapore), 12, No. 3, December 1990. Athailah, Abdullah Faridan, A Murad Em Djies, Budiman Sulaiman, Sulaiman Sanusi, A Wahab Ismail, Ungkapan Tradisional sebagai Sumber Informasi Kebuadayaan Daerah Istimewa Aceh, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1984). Atjeh, Tgk. Abdullah Arif, Sjair Kerukunan Rajat Atjeh, (Kutaradja: Penerbit dan Pustaka Darussalam, 1962). Beureu`eh, Teungku M. Daud, Dakwah, naskah ketik tak diterbitkan, 1961. Beureu`eh, Teungku M. Daud, Sang Saka: Kenangan Berlangsungnya Konferensi Daerah jang Kedoea, (Koetaradja: Badan Penerangan Markas Daerah Pesindo Atjeh, 1946 Boland, BJ., The Struggle of Islam in Modern Indonesia, (The Hague: Martinus Nijhoff, Verhandelingen KITLV, 1971). Boland, BJ., Pergumulan Islam dalam Indonesia Modern, (terj.), (Jakarta: Grafiti, 1981). Burham, J., Dispatch from a forgotten front, National Review 25 Maret 1961. Chaidar, Al, Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia SM Kartosoewirjo, (Jakarta: Darul Falah, 2000) Compton, Boyd R., Kemelut Demokrasi Liberal, (terj.), (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2001). Compton, Boyd R., Surat-Surat Rahasia Boyd R. Compton, (Jakarta: LP3ES, 1995)

saiannya. Konstruksi ini sama sekali tidak bertujuan untuk membangkitkan luka lama dan tidak juga untuk menghakimi salah satu pihak dan melakukan justifikasi terhadap pihak lain. Dengan menyandarkan diri pada sumber dari berbagai pihak, diharapkan buku ini akan lebih berimbang dan lebih objektif. Buku ini juga diharapkan menjadi refleksi bagi rakyat Aceh khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya dalam menyelesaikan koflik yang seolah tidak pernah berhenti di Tanah Rencong.*** Lhokseumawe/Jakarta, Juli 2008 Ti Aisyah Subhani Al Chaidar

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku
Alers, Henri J. . Om een Rode of Groene Merdeka, Eindhoven: EJ Brill, 1956. Alfian, T. Ibrahim, (et.al), Perang Kolonial Belanda di Aceh (Colonial War in Aceh), (Banda Aceh: PDIA, 1995). Alfian, T. Ibrahim, Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah, (Banda Aceh: PDIA, 1999). Ali, Fachry, Daud Beureu`eh dan Hipotesa Meminjam Tenaga Luar, Panjimas, 1 April 1986. Ali, Fachry, The Revolt of Nation-State Builders: A Study of Achenese Darul Islam and West Sumatran PRRI, Unpublished thesis, (Melbourne: Monash University, 1985). Ali, Fachry, Golongan agama dan Etika Kekuasaan: Keharusan Demokratisasi Islam di Indonesia, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996). Ali, Fachry, Paham Kekuasaan Jawa dalm Indonesia Modern, (Jakarta: Gramedia, 1986). Amelz, Riwajat Singkat Atjeh Bangoen dari Tidoernja jang Njenjak Beberapa Poeloeh Tahoen jang Laloe, (Pidie, naskah ketikan, t.t.). Amin, SM. 1978. Kenang-Kenangan dari Masa Lampau. Jakarta: Pradnya Paramita. Amin, SM., Kenang-Kenangan dari Masa Lampau, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1978), hlm. 301.

372

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

melawan ideologi komunisme dan paham Pancasila. Meskipun gerakan ini bisa dijinakkan di kemudian hari, bukan berarti hati kecil rakyat Aceh telah menguburkan keinginan tersebut. Dalam bahasa SM Kartosoewirjo, Revolusi Islam djuga di Atjeh dan sekitarnja akan berkobar teroes-meneroes ta kundjung padam, selama Negara Kurnia Allah, Negara Islam Indonesia belum berdiri dengan tegak-teguhnja, di permukaan bumi Allah Indonesia.30 Hal ini dibuktikan bahwa rangkaian gerakan-gerakan perlawanan ideologis rakyat Aceh selanjutnya (Republik Islam Aceh atau RIA) disambung oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan sedikit modifikasi ke arah separatis merupakan benang merah metamorfosis dari pemberontakan Darul Islam. ***

KRONOLOGI DARUL ISLAM ACEH

September 1953

30 S.M. Kartosoewirjo, Statement Pemerintah NII Tanggal 5 Oktober 1953, bagian VII, dalam Al Chaidar, Pemikiran Proklamator Negara Islam Indonesia, SM Kartosoewirjo, (Jakarta: Darul Falah, 1999), bagian lampiran.

Kegiatan DI di Aceh mulai kelihatan kegiatannya di bawah pimpinan Teungku Muhammad Daud Beureu`eh, seorang ulama kharismatik di Aceh, bekas Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo. 20 September 1953 DI-TII menyerang secara serentak ke Lhoong, Indrapuri, Keumang, Garot, Matang Glumpang Dua dan Bireuen. Kemudian melancarkan serangan ke Banda Aceh, Sigli, Lhokseumawe, Bireuen, Langsa dan Takengon. 23 September 1955 Diadakan rapat di Batee Kureng dihadiri oleh 87 orang tokoh dan menghasilkan Program Batee Kureng yang antara lain menyatakan bahwa Aceh merupakan bagian dari N.I.I/SM. Kartosoewirjo. Sebagai Wali Negaranya ialah Teungku Muhammad Daud Beureu`eh. 15-19 September 1956 Kongres mahasiswa, pemuda dan tokohtokoh masyarakat Aceh yang berlangsung di Medan yang antara lain menyatakan penyelesaian keamanan di Aceh. 8 April 1957 Pertemuan antara KDMA/Pemerintah Daerah dengan pimpnan DI di Aceh di Lamteh yang melahirkan Ikrar Lamteh.

xiv

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Kesimpu lan

371

9 April 1957 19 Oktober 1957 15 Maret 1959

15 Agustus 1959

23 November 1959 24 November 1959 29 September 1961

4 Oktober 1961 9 Oktober 1961 2 November 1961

21 November 1961

Komandan KDM Aceh mengeluarkan perintah penghentian pertempuran dengan DI di Aceh. PM merangkap Menteri Pertahanan, Ir. H. Juanda, dan beberapa menteri lainnya berkunjung ke Aceh. Hasan Saleh selaku Kepala Staf Angkatan Darat DI/TII di Aceh mengambil alih pimpinan DI/TII Aceh, kemudian membubarkan Kabinet Hasan Ali dan membentuk Dewan Revolusi yang di ketuai oleh A. Gani Usman. Presiden RI mengeluarkan surat keputusan No. 180 yang isinya memberikan amnesti dan abolisi kepada anggota DI/ TII di Aceh yang kembali dengan sadar. KASAD Letnan Jenderal A.H. Nasution melantik WAMIL yang berasal dari DI/TII Aceh di Leupung. Pelantikan WAMIL di Metareuem. Resolusi pimpinan DPR-GR Aceh mendukung sepenuhnya kebijaksanaan penyelesaian keamanan yang di jalankan oleh Panglima. Tokoh masyarakat Aceh menemui Teungku Muhammad Daud Beureu`eh. Hasan Ali sebagai Perdana Menteri Republik Islam Aceh kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Panglima KODAM I/ISKANDAR MUDA Kolonel M. Jasin melakukan pertemuan langsung dengan Teungku Muhammad Daud Beureu`eh di Langkahan, Aceh Timur. Panglima KODAM I/ISKANDAR MUDA mengutus KAS Nyak Adam Kamil membawa surat di bawah Teungku Muhammad

yang memiliki motivasi yang berbeda satu dengan yang lainnya, namun berangkat dari semangat dan cita-cita yang satu: menegakkan sistem syariah dalam kehidupan kenegaraan. Banyak studi yang membahas tentang resistensi politik mengalami stagnasi dalam melihat persoalan. Stagnasi itu umumnya hanya melihat persoalan resistensi politik dari sudut pandang "struktur agraria" atau patron-client atau "restrukturisasi lembaga negara" atau "kekecewaan orang-orang bawah". Padahal, jauh di dalamnya, sebuah perjuangan suci sebenamya juga merupakan suatu ekspresi nilai-nilai, suatu pengungkapan idealisme, pemikiran dan keinginan mengadakan perubahan berdasarkan orientasi nilai tersebut yang dianggap berlawanan secara norma umum dari sudut pandang natives viewpoint di Aceh, di Priangan, di Jawa, di Makasar, di Kalimantan atau di Palembang, sehingga ia disebut pemberontakan. Di dalam buku ini, akan dicoba terapkan hipotesa meminjam kekuatan luar yang pernah dilontarkan oleh Fachry Ali29 menjadi hipotesis dasar bagi buku ini bahwa Darul Islam dari SM Kartosoewirjo adalah kekuatan luar yang dipinjam oleh Daud Beureu`eh untuk mengusir ideologi Pancasila di Aceh, bukan mengusir (bangsa) Indonesia dan tidak bersifat separatis. Pemberontakan kalaulah istilah ini layak digunakan DI/TII Negara Bagian Aceh (NBA-NII) yang dipimpin oleh seorang ulama kharismatik Teungku Muhammad Daud Beureueh adalah bukti nyata pertama tentang keinginan melepaskan diri rakyat Aceh dari pengaruh komunisme dan Pancasila. Komunisme dan Pancasila adalah paham yang dalam persepsi rakyat Aceh bersifat non-Islami, inilah yang dilawan oleh Darul Islam di Aceh. Jadi, peemberontakan ini sendiri bukanlah pemberontakan melawan negara an sich, melainkan hanya
dan perintah ulama) dalam menjalankan tugas pemberontakan ini. Bagi para pelakunya, mereka adalah para political plotters yang memang berangkat dari sebuah keyakinan akan terciptakan sebuah sistem kekuasaan Islam. Wawancara dengan Tgk Ibrahim, Banda Aceh, 28 Juni 2006.
29 Fachry Ali, Daud Beureu`eh dan Hipotesa Meminjam Tenaga Luar, Panjimas, 1 April 1986.

370

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Kronologi Daru l Islam Aceh

xv

yang memeras rakyat, baik dari sudut lalu lintas, dari sudut perdagangan di berbagai jawatan. Memperhatikan juga betapa besarnya sudah berjangkit penyakit korupsi yang dimainkan pegawai negeri Tinggi, menengah dan bawahan yang membuat Negara bangkrut karenanya. Dengan dasar pertimbangan inilah para ulama telah muak dengan sistem pemerintahan. Pancasila, yang sesungguhnya telah menjadi pengetahuan umum, dan memerlukan adanya perubahan-perubahan yang sesuai dengan jiwa dari ummat yang 90% memeluk agama Islam. Para ulama dengan tegas telah berjanji bahwa untuk menyempurnakan maksud merobah dasar Pancasila kepada dasar ke Islaman, tidak ada daya upaya yang lain selain sekembalinya ke daerah masingmasing mengajak rakyat memperjuangkan Negara Islam dalam pemilihan umum dan konstituante nanti, bahkan jika dengan itu tidak dicapai kemenangan, secara ilegal pun harus ditempuh. Mungkin dengan tekad yang bulat itulah para ulama sekembalinya ke daerahnya masing-masing lalu mengadakan rapat umum di manamana menyampaikan segenap keputusan Kongresnya yang baru itu. Oleh karena itulah maka terdengarlah adanya rapat-rapat umum di mana-mana terutama di daerah Aceh, di mana ketua umumnya sendiri Teungku Muhammad Daud Beureu`eh menjelajah seluruh daratan Tanah Rencong memaparkan keputusan Kongres Alim Ulama, di mana antara lain diajaknya agar dalam pemilihan umum nanti ummat Islam harus memilih blok Islam, jika benar-benar menghendaki adanya negara Islam. Darul Islam adalah perjuangan umat Islam yang bersifat nasional yang juga meletus di Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan; tidak hanya di Aceh saja. Perjuangan yang bermuara dari Jawa Barat ini telah mengubah banyak persepsi bangsa Indonesia tentang peran ideologi yang ada dalam sebuah perjuangan selama ini. Perjuangan suci28 Darul Islam di daerah-daerah dipimpin oleh tokoh lokal
Disebut dengan perjuangan suci dalam buku ini bukanlah untuk exaggerating melainkan karena motivasi para pelakunya yang berniat suci (berdasarkan nilai-nilai agama
28

12 Desember 1961 8 Mei 1962

Daud Beureu`eh untuk menghadap Menteri Keamanan Nasional/KASAD Jenderal A.H. Nasution. Berlangsung rapat Staf KODAM I/ISKANDAR MUDA dengan dihadiri pula oleh Polisi dan Brimob. Pimpinan Tertinggi DI/TII Aceh Teungku Muhammad Daud Beureu`eh kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

xvi

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Kesimpu lan

369

pandai yang hadir dalam Kongres di waktu itu telah berjanji dengan dirinya sendiri dan dengan Allah secara baiah (bersumpah) betapa pun susah dan sukarnya pasti segenap keputusan yang telah diambilnya itu akan dilaksanakannya. Sebagai langkah pertama para peserta kongres sekembalinya ke daerahnya masing-masing akan menyarankan dan menyampaikan segenap putusan kongres kepada umum, laki-laki dan perempuan, supaya segenap ummat Islam dapat mengetahui isi kongres tersebut untuk dijadikan pedoman manakala nanti sampai dawah kepada mereka. Begitu juga supaya tiap kaum muslimin dalam pemilihan umum yang akan datang akan memilih Islam sebagai dasar negaranya.25 Para ulama yang insaf dan sadar akan ketinggian Agama Islam, agama yang menjamin hidup berbahagia dunia dan akhirat, agama yang tinggi, tidak ada yang lebih wajib ditaati oleh segenap muslim yang beriman penuh kepada Allah dan Sunnah Rasul, harus dihormati, dipelihara diperjuangkan dan dipertahankan menjadi Undang-undang dasar hidup dan harus pula menjadi Undang-undang Dasar Negara. Sebab mereka telah muak menonton, melihat, betapa kakafirankekafiran ummat manusia, yang telah mencemoohkan dan menghina terus menerus Nabi Muhammad SAW, Al Quran dirobek-robek, diinjakinjak, dijadikan bungkusan pisang goreng, dipalsukan, dibakar, dihinakan sebagaimana perlakuan Kartawinata dan sebagainya.26 Malahan Pemerintah Indonesia sendiripun telah berani bertindak dengan tegas, melarang beberapa ayat Allah itu dibaca di Radio RI Jakarta, dengan mencoret ayat dan hadist yang menjadi keimanan umat Islam sedunia, dengan dikatakan mengganggu ketentraman umum, dan sebagainya.27 Memperhatikan juga betapa kecurangan-kecurangan alat Negara

Hanya saja, dakwah tentang perlunya negara Islam bagi Aceh telah terhenti semenjak ditangkapnya Teungku Muhammad Daud Beureu`eh.
26 27

25

Nazaruddin Sjamsuddin, op.cit., hlm. 225. Ibid.

368

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Kartosoewirjo sudah memberitahukan kepada Teungku Daud Beureu`eh melalui utusannya bahwa dalam keadaan darurat para pemimpin DI Aceh dapat bertindak dengan mengatasnamakan pimpinan pusat di Jawa Barat, terutama dalam bidang hubungan internasional.22 Kondisi negara yang sedang berjuang memang membutuhkan banyak improvisasi dari para pelaku (pemberontakan) untuk bisa tetap survive. Perang gerilya sendiri merupakan taktik improvisasi dalam peperangan. Bagi kalangan Darul Islam, agama Islam memberikan cukup room for improvement dalam pelaksanaan ajaran-ajarannya. Jika tidak ada improvisasi, maka ajaran-ajaran agama akan hanya tinggal praktek ubudiyah23 yang statis. Kongres Alim Ulama se-Indonesia, yang telah berlangsung di Medan pada bulan April 1953, di mana Teungku Muhammad Daud Beureu`eh memegang pucuk pimpinan selaku Ketua Umumnya, di antara lain dengan suara bulat dan sepakat, telah mengambil keputusan: Memperjuangkan dalam pemilihan umum yang akan datang supaya negara RI ini menjadi Negara Islam Indonesia.24 Sebenarnya, amanat memperjuangkan Islam secara demokratis (melalui parlementer dan pemilu) sudah ditempuh dengan banyak kesalahan dan kekalahan yang fatal, sehingga mengharuskan para pembuat keputusan dalam kongres tersebut untuk melaksanakannya di lapangan perang. Demikianlah salah satu keputusan, keputusan yang harus diperjuangkan dengan segenap pikiran dan dengan segenap tenaga dan harta benda dan jika perlu dengan berkuah darah, seluruh ummat Islam di bawah pimpinan ulama-ulamanya harus dapat bersatu dan berjuang untuk meng-Islamkan RI ini. Sekalian Alim Ulama dan cerdik
Surat Teungku Daud Beureu`eh kepada SM Kartosoewirjo, bertanggal Aceh Darussalam, 4 Oktober 1956, sebagaimana dikutip dalam Nazaruddin Sjamsuddin, Ibid., hlm. 251.
23 24 22

Bab I

PENDAHULUAN

arul Islam (DI) di Aceh, jika dilihat dari sisi para pelakunya, adalah sebuah ekspresi pernyataan sikap yang tegas terhadap Pemerintah Pusat di Jakarta yang tidak memberlakukan syariat Islam. Jika dilihat dari sudut pandang Pemerintah Pusat, Darul Islam di Aceh adalah sebuah pemberontakan, pembangkangan atau perlawanan terhadap kekuasaan yang sah dan alat-alat negara sehingga para pengikut gerakan ini secara sederhana dianggap sebagai pemberontak. Dalam buku ini, Darul Islam dipandang secara lebih emik1, bukan pemberontakan dan pelakunya tidak disebut sebagai pemberontak, melainkan ekspresi ideologis dan pernyataan sikap para pelakunya untuk dapat lebih memahami alasan-alasan dan situasi yang melatarbelakangi tindakan pemberontakan paling berdarah sepanjang seja-rah Aceh. Untuk lebih netral, kasus Darul Islam di Aceh akan dilihat se-bagai peristiwa, bukan semata-mata kegiatan pembangkangan rakyat, apalagi sebuah pemberontakan. Maka, untuk dapat memahami alasan-alasan tersebut, terlebih dahulu haruslah kita pahami sebab-sebab mengapa daerah-daerah bergolak pada awal
1 Emik (emic) adalah konsep antropologi yang dikonstruksikan oleh Kenneth L. Pike, artinya adalah: berkaitan dengan sistem kebudayaan spesifik dari pemikiran berdasarkan warga masyarakat yang diteliti (natives viewpoint). Kebalikannya adalah etik (etic), yaitu berkaitan dengan kategori-kategori yang dianggap universal atau didasarkan pada pemahaman objektif pengamat dari luar. Achmad Fedyani Saifuddin, Antropologi Kontemporer: Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma, (Jakarta: Kencana, 2005), hlm. 89.

Ubudiyah (Bhs. Arab) artinya ibadah-ibadah ritual.

Lihat hasil-hasil kongres di dalam Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan kaum Republik, hlm. 209.

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Kesimpu lan

367

kemerdekaan yang penggalan-penggalannya haruslah dicari dari alasan-alasan para pencetus dan pengikut pemberontakan tersebut serta dokumen sekunder. Peristiwa DI di Aceh terjadi pada 21 September 1953, mencakup hampir keseluruhan wilayah geografis Aceh yang getarannya masih terasa hingga sekarang. Nazaruddin Sjamsuddin menyebutkan bahwa meskipun peristiwa berdarah Darul Islam di Indonesia (dan Aceh khususnya) sudah lama terjadi, namun getaran-getarannya cukup terasa dalam kepolitikan bangsa kita hingga hari ini.2 Peristiwa yang kemudian secara awam disebut sebagai pemberontakan ini dan para pelakunya dilabel dengan julukan gerombolan terjadi dalam ren-tang waktu yang sangat lama, dari tahun 1953 hingga tahun 1962.3 DI Aceh sendiri bukanlah ide orisinal para pelakunya di Aceh, melainkan sebuah gerakan dari luar Aceh, tepatnya dari S.M. Kartosoewirjo di Jawa Barat.4 Ide negara Islam sudah hidup lama di Aceh, namun Kartosoewirjo-lah yang memproklamasikannya paling awal; tidak hanya sebagai proklamasi negara Islam paling pertama di Indonesia, melainkan pertama di awal abad ke-20. SM Kartosoewirjo memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) pada 7 Agustus 1949 di Malangbong, Garut, Jawa Barat. Dalam penjelasan proklamasinya tersebut, terdapat penjelasan bahwa nama lain dari NII adalah Darul Islam5 dan tentaranya disebut dengan

Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo untuk jangka waktu yang sangat panjang dan terbiasa dengan manajemen organisasi negara, state-craft serta administrasi pemerintahan. Daud Beureu`eh lama mempertimbangkan kesediaannya untuk ikut bergabung dengan barisan jihad mati-matian a la Darul Islam. Namun, dengan segala kerendahan hati, ia kemudian mengakui akan keberanian Abdul Fatah Wirananggapati atas kesabarannya melakukan diskusi tilawah yang sangat a lot. Pada akhirnya, Teungku Daud Beureu`eh pun setuju bergabung dan siap berjihad fi sabilillah menegakkan negara kurnia Alllah, Negara Islam Indonesia. Pada awal tahun 1953, Teungku Daud Beureu`eh ber-baiat untuk jihad menegakkan Negara Islam Indonesia di Aceh. Abdul Fatah Wirananggapati sendiri yang melakukan baiat tersebut. Teungku Beureu`eh tidak meminta untuk dibaiat oleh SM Kartosoewirjo, karena bergabungnya dia ke dalam barisan Darul Islam bukanlah karena kultus individu terhadap SM Kartosoewirjo. Dalam kapasitas dan keseniorannya, ia lebih sedikit dibanding SM Kartosoewirjo dan ia sendiri tidak membangga-banggakan kharisma yang dimilikinya tersebut. Bagi Teungku Daud Beureu`eh, kemuliaan manusia ditentukan oleh derajat ketakwaannya, bukan oleh ilmu, harta, tahta dan wanita yang dimilikinya. Ketika Daud Beureu`eh setuju mendukung Darul Islam dan membawahkan Aceh pada NII, maka Abdul Fatah Wira nanggapati pun pulang ke Jawa Barat membawa berita gembira ini kepada SM Kartosoewirjo nun jauh di sana, di pegunungan yang sunyi tempat ia bersembunyi dan melawan negara RI di suatu tempat yang disebut Madinah Indonesia.21 Dalam surat Teungku Daud Beureu`eh kepada SM Kartosoewirjo bertanggal Aceh Darussalam, 4 Oktober 1956, disebutkan bahwa sebelum meletusnya peristiwa pemberontakan DI Aceh, S.M.
21 Madinah Indonesia adalah tempat di mana SM Kartosoewirjo bermarkas, Dipercaiyai oleh sebagian orang bahwa Madinah Indonesia adalah desa Leuwisari, Cigalontang, sebelah selatan Tasikmalaya. Lihat Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan Kaum Republik, hlm. 250.

Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan Kaum Republik: Kasus Darul islam Aceh,(terj.), (Jakarta: Grafiti, 1990), hlm. xv. Buku Sjamsuddin ini merupakan buku yang sangat bagus jika tidak merupakan satu-satunya sebagai referensi utama membahas Darul Islam di Aceh. Dalam kalimat Teungku Daud Beureu`eh sendiri, rentang waktu ini adalah 8 tahun 10 bulan 27 hari. Lihat JarahDam-I, Dua Windhu Kodam I/Iskandar Muda, (Banda Aceh: Sejarah Militer Kodam I/Iskandar Muda, 1972), hlm. 250. Anna Marie The, Darah Tersimbah di Djawa Barat: Gerakan Operasi Militer V, (Jakarta: Lembaga Sedjarah Hankam, l968).
5 4 3

Darul Islam (bhs. Arab), rumah Islam atau wilayah Islam atau negara Islam.

366

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

yang didukung oleh rakyat banyak. Teungku Daud Beureu`eh pun mengirimkan utusan ke Jawa Barat bersama dengan Abdul Fatah Wirananggapati untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan komprehensif tentang Darul Islam sebagai sebuah negara. Oleh sebab itulah utusan Aceh tersebut diberi wewenang untuk membahas secara mendalam susunan pemerintahan dan militer NII dengan Kartosoewirjo. Daud Beureu`eh mengirimkan surat kepada Kartosoewirjo, bertanggal Aceh Darussalam, 4 Oktober 1956. Dalam suratnya, Daud Beureu`eh juga membicarakan hubungan awal di antara kedua pemimpin itu. 20 Akan tetapi utusan tersebut tidak pernah bertemu muka dengan Kartosoewirjo melainkan dengan sejumlah pemimpin Darul Islam lainnya. la juga tidak memperoleh informasi yang dikehendaki oleh para pemimpin Aceh, malah disuruh kembali ke Aceh bersama Abdul Fatah Wirananggapati. Kali ini Abdul Fatah diangkat sebagai kuasa usaha NII di Sumatera dengan tugas membina gerakan Darul Islam di pulau itu. Abdul Fatah tampak tidak sabar melihat pemimpin-pemimpin Aceh yang bergerak sangat lambat walaupun ia diyakinkan bahwa mereka sedang menuju ke arah pemberontakan. Dia tidak meninggalkan Aceh sampai awal tahun 1953. Saban hari dan malam Abdul Fatah Wirananggapati menjelaskan konsep-konsep kenegaraan dari NII dan seperti melakukan tentir kepada Teungku Daud Beureu`eh. Ia sedikit sekali bersosialisasi dengan masyarakat Aceh sehingga menikah dengan seorang puteri Aceh pun ia tak sempat karena saking padatnya acara tilawah (proses transmisi ideologi a la Darul Islam) kepada Teungku Muhammad Daud Beureu`eh dan para anggota PUSA. Tilawah ini dilakukan dengan sangat pelan, hati-hati dan penuh dengan perdebatan. Daud Beureu`eh sangat serius mendengarkannya dan mempertanyakan setiap konsep, tahapan dan cara-cara serta mekanisme kenegaraan secara mendetail kalau sudah bergabung dengan Darul Islam. Teungku Daud Beureu`eh adalah seorang ulama yang tidak menyombongkan diri, ia adalah ulama besar dengan kharisma besar dan pernah menjabat sebagai
20

TII (Tentara Islam Indonesia).6 Proklamasi berdirinya negara Islam ini segera mendapatkan sambutan yang ramai dari berbagai kalangan dan dari berbagai daerah. Di Jawa Tengah, Amir Fatah Wijayakusuma mendeklarasikan bergabung dengan Negara Islam Indonesia pada tahun 1950. Pada tahun 1951, Ibnu Hajar di Kalimantan Selatan juga mendeklarasikan penggabungan kekuatan perlawannya ke NII. Di Sulawesi Selatan, Kahar Muzakkar pada tahun 1952 juga menyatakan mendukung dan ikut bergabung dengan gerakan perlawanan yang dikumandangkan oleh SM Kartosoewirjo. Dan terakhir, pada tahun 1953, di Aceh, Teungku Muhammad Daud Beureu`eh mendeklarasikan bahwa Aceh bergabung dengan NII. Melihat luasnya cakupan dan dukungan perlawanan ini, pemberontakan ini bukanlah sebuah pemberontakan kecil. Untuk memahami bagaimana pemberontakan ini menjalar hingga ke Aceh, maka perlu diuraikan bagaimana awal mula Darul Islam di pusaran mata airnya di Jawa Barat.7 Pada tahun 1949 Indonesia mengalami suatu perubahan politik besar-besaran di tengah-tengah berkembangnya gerakan komunis dan sosialis dan gerakan kiri lainnya. Ketika itu terjadinya sebuah proklamasi Negara Islam di Nusantara, sebuah negeri Jumhuriyah8 Indonesia yang kelak kemudian dikenal sebagai Darul Islam atau Negara Islam Indonesia yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai DI/TII, Islam muncul dalam wajah yang tegang. Islam muncul sebagai pengimbang atas maraknya sihir paham komunisme dan ideologi kiri lainnya. Namun, peristiwa ini dimanipulasi sebagai sebuah pemberontakan. Kalaupun peristiwa ini disebut sebagai sebuah
Dalam sebutan umum, NII sering disebut dengan singkatan notorious DI/TII atau DITII. Kalangan NII sendiri cukup menyebut diri sebagai Darul Islam saja, atau DI. Tentang SM Kartosoewirjo, lihat Al Chaidar, Pemikiran Politik Proklamator Nagara Islam Indonesia SM Kartosoewirjo, (Jakarta: Darul Falah, 2000).
8 Jumhuriyah (Bhs. Arab), artinya: republik. Sistem politik Islam di masa Rasulullah SAW (Abad ke-7M) memakai sistem ini, yang dalam istilah agama disebut dengan terminologi khilafah. 7 6

Nazaruddin Sjamsuddin, Ibid., hlm. 89.

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Kesimpu lan

365

pemberontakan, maka ia bukanlah sebuah pemberontakan biasa. Darul Islam setidaknya dalam pandangan para pejuangnya merupakan sebuah perjuangan suci (divine struggle) anti-kezaliman yang terbesar di dunia di awal abad ke-20 ini. Pemberontakan bersenjata yang sempat menguras habis logistik angkatan perang Republik Indonesia ini bukanlah pemberontakan kecil, bukan pula pemberontakan yang bersifat regional, bukan pemberontakan yang muncul karena sakit hati atau kekecewaan politik lainnya, melainkan karena sebuah cita-cita, sebuah mimpi yang diilhami oleh ajaranajaran agama (Islam). Darul Islam adalah perjuangan umat Islam yang bersifat nasional yang juga meletus di Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan (Palembang), Kalimantan Selatan; tidak hanya di Aceh saja. Perjuangan yang bermuara dari Jawa Barat ini telah mengubah banyak persepsi bangsa Indonesia tentang peran ideologi yang ada dalam sebuah perjuangan selama ini. Perjuangan suci9 Darul Islam di daerah-daerah dipimpin oleh tokoh-tokoh lokal yang memiliki motivasi berbeda satu dengan yang lainnya, namun berangkat dari semangat dan cita-cita yang satu: menegakkan sistem syariah dalam kehidupan kenegaraan. Pergolakan Darul Islam di berbagai tempat dalam setting politik politik yang semakin plural di Indonesia adalah juga merupakan respon atas membanjirnya ideologi-ideologi non-Islam yang terus-menerus menggempur bangsa Indonesia dari berbagai arah, dengan berbagai cara yang mungkin, dengan berbagai saluran yang ada pada waktu itu.

nuansa Islami yang dulu dicita-citakan banyak rakyat Aceh ketika merebut kemerdekaan dan mempertahankan Republik dan Agresi Belanda Pertama dan Aksi Polisionil Belanda Kedua. Merasa bahwa hanya SM Kartosoewirjo dengan jajaran Darul Islam dan bala tentara TII-nya yang bisa menghalau gurita komunisme dan Pancasila, maka Teungku Daud Beureu`eh serius melakukan kontak rahasia dengan Jawa Barat. Kekecewaan rakyat Aceh ini ditangkap dengan sangat cerdas oleh Imam NII, S.M. Kartosoewirjo, yang segera mengirim seorang utusan, Abdul Fatah Wirananggapati,15 alias Mustafa, 16 untuk mendekati para pemimpin Aceh pada awal tahun 1952. Melalui Abdul Fatah Wirananggapati17, Kartosoewirjo mengirimkan beberapa tulisan18 dan maklumat NII tentang gerakan Darul Islam, dan mengajak para pemimpin Aceh untuk bergabung. Ajakan ini mendapat sambutan baik di Aceh. Pendekatan lebih lanjut terjadi ketika Daud Beureu`eh mengirim seorang utusan, Jahja Sulaiman, seorang pemimpin Pemuda PUSA dari Meureudu, kepada SM Kartosoewirjo di Jawa Barat, bersama Abdul Fatah yang kembali ke sana. Daud Beureu`eh dan pemimpin PUSA lainnya merasa kecewa terhadap penjelasan yang tidak jelas dari SM Kartosoewirjo yang hanya berisi konsep-konsep ideologis gerakan Darul Islam tanpa memberikan informasi mengenai struktur gerakan itu. 19 Struktur adalah hal terpenting untuk memahami manajemen dan pengelolaan gerakan, apalagi untuk sebuah gerakan menentang kekuasaan sebuah negara
15 16

A. Hipotesa Meminjam Tenaga Luar


Banyak studi yang membahas tentang resistensi politik mengalami
9 Disebut dengan perjuangan suci dalam buku ini bukanlah untuk exaggerating melainkan karena motivasi para pelakunya yang berniat suci (berdasarkan nilai-nilai agama dan perintah ulama) dalam menjalankan tugas pemberontakan ini. Bagi para pelakunya, mereka adalah para political plotters yang memang berangkat dari sebuah keyakinan akan terciptakan sebuah sistem kekuasaan Islam. Wawancara dengan Tgk Ibrahim, Banda Aceh, 28 Juni 2006.

Wawancara dengan Abdul Fatah Wirananggapati, Sumedang, 1 November 1991.

Memakai nama alias atau nama tsani adalah tradisi politik dan strategi taktik yang sudah mentradisi dalam gerakan Darul Islam dan mereka memiliki alasan pembenaran yang kuat akan taktik nama alias ini, misalnya untuk keamanan dan siasat dengan pihak musuh.
17 18

Wawancara dengan Abdul Fatah Wirananggapati, Sumedang, 9 Oktober 1987.

Dia antara tulisan-tulisan tersebut adalah Pedoman Dharma Bhakti, jilid 1 dan 2, juga Manifesto Politik NII.
19

Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan Kaum Republik, hlm.90

364

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

ketika ia bersama para ulama menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia yang diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta), terpilih sebagai Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo. Akan tetapi juga jelas, bahwa dengan meminjam tenaga luar (dalam hal ini Darul Islam Jawa Barat), kaum ulama reformis semakin meneguhkan kekuatan dan kekuasaannya di atas golongan sosial-politik lainnya.14 Namun, dalam kontes perebutan pengaruh dan kekuasaan apakah sehingga ia harus mengusir pengaruh Pancasila dan komunisme dengan tanpa memakai cara-cara separatis. Darul Islam bukan anti Indonesia, melainkan antiPancasila, anti-Marhaenisme, anti-Komunisme dan demokrasi. Untuk melihat bagaimana ideologi Darul Islam bisa compatible dengan worldview orang-orang Aceh, kita terlebih dahulu harus memahami sejarah peran kaum ulama, organisasinya (PUSA) dan perjuangan politiknya dalam mengusir Belanda, memasukkan Jepang untuk kemudian diusir kembali dari Aceh. Perseteruannya dengan kaum uleebalang dan strategi politiknya dalam menolak pengaruh Muhammadiyah di Aceh. Sebelum PUSA menyelenggarakan sebuah perhelatan besar kaum ulama di Medan dalam bentuk Kongres Ulama Seluruh Indonesia, Teungku Daud Beureu`eh dan beberapa anggota PUSA, khususnya Pemuda PUSA, ternyata sudah menjalin hubungan diplomatik rahasia dengan S.M. Kartosoewirjo di Jawa Barat. Hubungan rahasia ini dijalin dengan modus yang sama dengan plot memasukkan Jepang ke Aceh. Teungku Daud Beureu`eh dan kaum ulama di dalam PUSA merasa perlu meminjam tenaga luar untuk membasmi komunisme dan ideologi Pancasila yang dirasakannya semakin hari semakin jauh dari
14 Tulisan Fachry Ali, meskipun diakuinya sendiri sebagai sebuah responsi teoritikal, namun sudah menjadi sebuah teori yang bisa menjelaskan mengapa Darul Islam muncul di Aceh. Kekurangan yang menyolok dalam tulisannya sangat mungkin terletak pada ketiadaan data. Karena itu, asumsi dan interpretasinya harus dibuktikan melalui buku ini. Meskipun Fachry Ali lebih cenderung menyebutnya sebagai hipotesa-hipotesa tentatif untuk namun sangat berguna untuk studi tentang perubahan, atau juga kelanjutan dinamika dan pergolakan politik masyarakat Aceh masa DI atau GAM sekarang ini. Fachry Ali, Ibid.

stagnasi dalam melihat persoalan. Stagnasi itu umumnya hanya melihat persoalan resistensi politik dari sudut pandang "struktur agraria" atau patron-client atau "restrukturisasi lembaga negara" atau "kekecewaan orang-orang bawah". Padahal, jauh di dalamnya, sebuah perjuangan suci sebenamya juga merupakan suatu ekspresi nilai-nilai, suatu pengungkapan idealisme, pemikiran dan keinginan mengadakan perubahan berdasarkan orientasi nilai tersebut yang dianggap berlawanan secara norma umum dari sudut pandang natives viewpoint di Aceh, di Priangan, di Jawa, di Makasar, di Kalimantan atau di Palembang, sehingga ia disebut pemberontakan. Di dalam buku ini, akan dicoba terapkan hipotesa meminjam kekuatan luar yang pernah di-lontarkan oleh Fachry Ali10 menjadi hipotesis dasar bagi buku ini bahwa Darul Islam dari SM Kartosoewirjo adalah kekuatan luar yang dipinjam oleh Daud Beureu`eh untuk mengusir ideologi Pancasila di Aceh, bukan mengusir (bangsa) Indonesia dan tidak bersifat separatis. Pemberontakan DI sendiri, melihat dari cara Holk Harald Dengel11 mengungkapkan, lebih banyak bersumber dari nilai-nilai keyakinan yang dipegang oleh para pelakunya.12 Pemberontakan Darul Islam
Fachry Ali, Daud Beureu`eh dan Hipotesa Meminjam Tenaga Luar, Panjimas, 1 April 1986.
11 Holk Harald Dengel, Darul Islam: Angan-angan yang gagal, (terj.), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1991). 10

Buku Dengel telah melengkapi satu lagi khazanah sejarah bangsa yang selama ini berada dalam kabut gelap. Penulisan tentang Darul Islam, bukan hanya langka tapi juga usaha ke arah itu bukan suatu kerja yang mudah. Dia memerlukan melihat ke sejarah di masa lampau Indonesia dengan banyak perbandingan dan penelusuran data sekunder, baru kemudian menyusun daftar pertanyaan tak berstruktur dan wawancara serta memahami istilah-istilah lokal serta terma-terma Islam yang rumit. Banyak kesan bagus pada organisasi dan struktur Darul Islam. Namun juga ini yang sulit orang lain melakukannya, adalah cara Dengel menukik ke persoalan-persoalan esensial yang memperlihatkan kehebatan perjuangan Darul Islam ini berdasarkan referensi primer! Sungguh menarik membaca buku karya Holk Harald Dengel yang judul aslinya adalah Darul Islam: Kartosuwirjos Kamf um einen Islamichen Staat Indonesien ini. Buku ini memiliki dua keunggulan sekaligus, pertama, bahwa buku ini adalah sebuah tulisan mendalam tentang biografi seseorang (Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo} dan kedua membahas harakah Darul

12

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Kesimpu lan

363

sekaligus menunjukkan betapa konflik ideologis para pendiri republik ini berkisar sekitar dasar negara dan haluan politik negara. Dari semenjak ketika organisasi-organisasi nasionalisme pertama-tama berdiri di Nusantara ini, pemikiran bahwa Indonesia akan merdeka menyelimuti sebagian besar keyakinan para nasionalis ketika itu. Maka jauh-jauh hari mereka sudah memperdebatkan tentang jika bangsa ini sudah merdeka maka bagaimanakah bentuk kekuasaan dan tata cara kenegaraannya akan diatur, juga hukum dan pelaksanaan birokrasi negara. Perdebatan ini begitu alotnya sehingga melibatkan banyak nasionalis tersebut mengajukan berbagai nilai sebagai dasar negara ini. Ada yang mengusulkan nilai nativisme budaya daerah sebagai dasar, juga ada yang mengusulkan demokrasi a la Barat, ada yang menginginkan ideologi komunisme, juga ada Islam. Masing-masing punya alasan kuat kenapa nilai-nilai tersebut diajukan dan masing-masing mengklahll bahwa usulnya sudah merepresentasi mayoritas; keinginan rakyat Indonesia. Sudah sejak semula para nasionalis Islam mencitacitakan suatu negara Islam. Cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan itu berbeda-beda, ada yang dengan jalur konstitusi seperti Muhammad Natsir dan tokoh-tokoh Partai Masjumi lainnya, juga ada dengan jalan perjuangan seperti yang dilakukan oleh Kartosoewirjo. Ia sangat konsisten dengan konsep politik hijrah-nya yang berarti memisahkan diri secara pemikiran dan menarik garis demarkasi pembeda antara Negara Islam dan Negara Bukan Islam (Negara Pancasila). Wajar jika kemudian dia tidak aktif lagi dalam diskusi atau rapat atau sidang partai maupun organisasi. Dia bersikap non-kooperatif dalam semua hal dan membangun sendiri kekuatannya tanpa bantuan pihak lain. Bagaimana rumitnya perdebatan itu, ternyata tidak hanya berhenti sebagai perdebatan semata, namun lebih dari itu berusaha
Islam secara lebih bersifat ideologis. Sebagai sebuah karya disertasi pada jurusan sejarah Universitas Heidelberg buku ini sangat padat berisi berhagai data dan informasi baru yang dikorek langsung dari sumber-sumber utama (primary sources) seperti wawancara dan tulisan-tulisan asli dari subjek target penelitian.

seperti Teuku Nya' Arif dan Teuku Panglima Polem Muhammad Ali. 10 Pada masa pasca-kolonial, struktur masyarakat Aceh mengalami perubahan dengan banyaknya unsur-unsur luar yang semakin merumitkan suasana sosial Aceh. Dalam konteks struktur sosial masyarakat Aceh pasca-kolonial yang masih belum mantap, dan dalam komposisi serta afiliasi sosial-politik yang penuh dengan benih konflik dan dalam suasana yang selalu rnenimbulkan kebutuhan untuk meminjam tenaga luar itulah kita lebih bisa memahami secara lebih kongkret dan rill kejutan munculnya pemberontakan DI yang sebenarnya berasal dari Jawa Barat. Dalam masa pemerintahan Jepang, jelas sekali kaum ulama reformis menggunakan kekuatan luar inilah yang memberikan peluang meletusnya peristiwa Cumbok, di mana sisa-sisa kaum uleebalang dihancurkan.11 Kaum uleebalang ini, dengan merosotnya kekuatan Jepang dalam bulan Agustus 1945, mengharapkan kembalinya kekuasaan Belanda sebagai sumber dari tenaga luar mereka, berhadapan dengan ulama reformis. Dan justru karena kekhawatiran akan kembalinya kekuasaan Belandalah setidak-tidaknya, inilah yang terbaca dalam introduction tesis Nazaruddin Syamsudin 12 kaum ulama reformis secara cepat menerima kehadiran Republik Indonesia. Tentu saja, kesimpulan ini tidak bisa diterima secara mutlak. Sebab, seperti Anthony Reid 13 menyatakan, sudah sejak tahun 1920, semangat nasionalisme telah tersebar di daerah Aceh. Ini terbukti dari pidato Abdoel Manap pada tahun itu di pedesaan Aceh, tentang perlunya kesatuan dan kesepakatan nasional. Daud Beureu`eh sendiri, lewat kekuatan luar juga (dalam hal ini Pemerintah Republik
10 11

Loc.cit.

Anthony Reid dan Shiraishi Saya, Rural Unrest in Sumatra, 1942: A Japanese Report, dalam Indonesia 21 (April 1976), hlm. 115-133. Nazaruddin Sjamsuddin, The Republican Revolt, The Case of Achehnese Darul Islam, (Singapore: ISEAS), 1985, hlm. vi.
13 12

Anthony Reid, The Birth of Republic in Sumatra dalam Indonesia, 12, (Oktober

1971).

362

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

berhaluan modernis dalam menandingi Muhammadiyah.7 Dalam komposisi struktur sosial yang semacam ini, Daud Beureu`eh berada dalam kalangan ulama reformis. Dialah salah seorang tokoh utama yang mendirikan PUSA. Dan dia pula yang menjadi ketua organisasi itu. Dengan demikian, jelas sekali terlihat bahwa dalam struktur sosial masyarakat Aceh di masa kolonial yang penuh dengan benih konflik itu Daud Beureu`eh memimpin golongan yang semakin lama semakin terdesak. Suatu golongan sosial-politik Aceh yang menjadi kuda hitam dan paling artikulatif dalam gerakan dan menyuarakan sikap anti Belandanya. Dukungan massa yang besarlah yang menyebabkan kaum ulama reformis ini menjadi kuda hitam dalam percaturan politik Aceh.8 Dan itu pula salah satu yang menjadi sebab, mengapa, walaupun semakin terdesak oleh berbagai pihak, kaum ulama reformis Aceh di bawah pimpinannya, tetap bisa bertahan. Sementara, balk kekuatan uleebalang maupun ulama tradisional tidak bisa mengunggulinya. Dalam kondisi status quo kekuatan-kekuatan sosial-politikAceh inilah pula kita bisa memahami akan selalu timbulnya kebutuhan untuk meminjam tenaga luar guna memperkuat kedudukan golongan masing-masing. Uleebalang dalam hal ini relatif lebih beruntung. Sebab dalarn posisinya yang berhadapan dengan kelompok Daud Beureu`eh, ia bisa meminjam kekuatan Belanda. Mungkin hal ini pula yang mendorong kaum ulama reformis untuk menghubungkan dirinya dengan kekuatan Jepang sebagai tandingan kekuatan Belanda. Dari sinilah muncul organisasi F atau Fujiwara - salah satu nama keluarga Jepang yang mengorganisasikan pemberontakan terhadap Belanda dengan bantuan Jepang. Tentu saja, seperti yang dituturkan Van Dijk,9 organisasi F ini, tidak hanya melulu terdiri dari ulama reformis. Sebab di samping itu terdapat pula unsur-unsur uleebalang nasionalis,
7 8

mcngajukan pemikiran tentang ideologi tersebut secara fisik yakni dengan cara memberontak. Pada awal pergerakan kebangkitan nasional Indonesia, kekuatan logika Islam dalam lapangan politik adalah sangat besar pengaruhnya dan sangat beragam. Ada yang hanya sebatas memihak, ada yang juga sebatas setuju belaka bahkan ada yang sangat menentang. Kartosoewirjo adalah tokoh yang sangat militan dalam intensitas perjuangan untuk mendirikan negara yang berdasarkan ideologi Islam. Meski ke-tika itu perdebatan tentang ideologi Islam belum final, ia telah menerjemahkan nilai-nilai Al-Quran ke dalam bentuk-bentuk praktek biro-krasi dan hukum negara. Mungkin, jika ada yang mempraktekkan nilai-nilai keislaman, dia itu adalah Kartosoewirjo dan pejuang mujahidin sejati dalam Darul Islam, sementara umumnya masyarakat hanya mem-praktekkan nilai-nilai ritual ibadah dan secara terbatas (bersifat indi-vidu) mempraktekkan syariah Islam.13 Untuk memberi gambaran lebih jauh mengenai posisi politik kelompok Islam yang semakin kuat pada masa pasca revolusi ini, beberapa catatan historis berikut relevan dikemukakan di sini. Pertama, pada Agustus 1950, aktivitas partai-partai politik di Indonesia telah mengalami penyegaran kembali dan giat setelah masa adem-ayem pada 1949. Dalam Parlemen yang baru dibentuk dengan jumlah keseluruhan anggota 236 orang, Masjumi tampil sebagai partai terbesar dengan menduduki 49 kursi. Namun demikian, karena adanya banyak partai, organisasi, dan asosiasi yang diwakili dalam parlemen (tidak kurang
Dibandingkan dengan buku-buku yang mengupas tentang Darul Islam (seperti buku Karl D. Jackson, Kewibawaan Tradisional, Islam dari Pemberontakan: Kasus Darul Islam Jawa Barat), buku karya Dengel ini secara tuntas mengupas habis perjuangan DI ini. Kesimpulan-kesimpulan yang diambilnya juga sangat menarik. Artinya ia tidak terpaku pada eksplanasi yang dipakai Jackson yang mengandalkan penjelasan bahwa masyarakat Jawa Barat sangat terikat pada, pemimpin hubungan patron-client), lebih dari itu ia adalah suatu perjuangan yang bangkit dari kesadaran penuh pengamatan suatu ideologi. Juga bukan karena kekecewaan reorganisasi tentara pasca kemerdekaan seperti yang dijelaskan C. Van Dijk, Darul Islam: Sebuah Pemberontakan, (Jakarta: Grafiti Pers,1985). Buku ini juga menentang beberapa asumsi yang salah dari penulis Hirokoshi dan Subardi, dan dengan logika Jermannya yang rijik. Dengel menerangkan secara objektif perjuangan Darul Islam sehingga kesimpulannya tidak akan berat sebelah atau memihak.
13

Fachry Ali, Ibid.

Tentang hal ini, lihat misalnya C. van Dijk, Darul Islam, Sebuah Pemberontakan, (terj.), (Jakarta: Grafiti Pers, 1993).
9

Ibid., hlm. 45.

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Kesimpu lan

361

dari 22), bersama PSII, kelompok Islam hanya memperoleh 54 kursi (23%). Kenyataan ini meruntuhkan mitos mayoritas Islam dalam politik. Kedua, dalam beberapa kesempatan, Masjumi diminta untuk membentuk dan memimpin kabinet. Dari tujuh kabinet yang berjalan di bawah sistem demokrasi konstitusional (1950-1957), tiga kabinet dipercayakan kepemimpinannya kepada Masjumi (Kabinet Natsir pada 19501951; Kabinet Sukiman pada 1951-1952; dan Kabinet Burhanuddin Harahap pada 1955-1956). Selain itu, ketika Partai Nasionalis Indonesia (PNI) diberi mandat untuk membentuk pemerintahan, baik Masjumi maupun NU, berperan sebagai pasangan koalisi yang utama. Terakhir, hasil pemilihan umum pertama yang diselenggarakan pada September 1955 menunjukan, kelompok Islam (kali ini terdiri dari Masjumi, NU, PSII, dan Perti) menguasai 114 dari 257 kursi (43,5%) dalam parlemen. Walaupun hasil akhir tersebut jelas jauh di bawah perkiraan Sjahrir, namun itu telah menggandakan wakil kelompok Islam dalam parlemen.14 Kenyataan ini, ditambah dengan tidak adanya kontroversi-kontroversi ideologis yang terbuka, boleh jadi turut menyebabkan berlangsungnya hubungan politik yang relatif harmonis antara kedua payung religio-politik besar ini selama tahun-tahun pertama politik Indonesia pasca revolusi (1950-1953). Kritik terang-terangan terhadap Pancasila oleh para pemimpin dan aktivis politik Islam jarang terjadi. Bahkan Mohammad Natsir menyatakan bahwa karena dimasukkannya prinsip Percaya kepada Tuhan ke dalam Pancasila Indonesia tidak menyingkirkan agama dari masalah-masalah kenegaraan. Namun bukan karena itu negara Indonesia dilanda krisis politik, terutama krisis yang direaksikan oleh Islam. Indonesia saat itu tengah jatuh ke dalam titik terendah dalam hal kemampuannya memperoleh kontrol sosial dan efektivitasnya dalam mendistribusikan sumbersumber. Ketidakmampuan negara untuk melakukan penetrasi ke dalam masyarakat, untuk mengatur hubungan-hubungan dengan berbagai pengelompokan sosial-politik, dan untuk menggali serta
14 Lihat Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia: Studi Sosio-Legal atas Konstituante 1956-1959, (terj. Sylvia Tiwon), Jakarta: Grafiti Press, 1995.

perkembangan baru: munculnya Muhammadiyah. Organisasi pembaharu Islam ini menjadikan afiliasi-afiliasi politik dan sosial masyarakat Aceh semakin rumit. Di satu pihak, karena organisasi itu bersifat apolitis, maka la cenderung mempergunakan kaum uleebalang, clan dengan sendirinya pula, memperkuat posisi kelompok ini. Tentu saja, golongan ulama menjadi semakin terdesak. Hal inilah yang mendorong mereka berpacu untuk menandingi gerakan Muhammadiyah.6 Modernisasi pemikiran dan sistem pendidikan Islam pun dilancarkan oleh kaum ulama. Akan tetapi, reaksi ini menimbulkan bentuk konflik yang lain, dan justru terjadi di dalam tubuh kaum ulama. Modernisasi yang dilancarkan ini telah menimbulkan perpecahan antara ulama reformis dan ulama tradisionalis. Sebagai akibatnya, ulama tradisionalis cenderung berafiliasi dengan golongan uleebalang. sampai dengan menjelang runtuhnya kekuasaan kolonial Belanda, struktur sosial masyarakat Aceh tegak pada dasar yang goyah. Dalam pengertian bahwa struktur sosial itu mengandung benihbenih konflik. Kelompok-kelompok pendukung struktur sosial itu telah terperangkap ke dalam suasana prasangkayangmendalam. Dalam kondisi yang semacam itulah kita menyaksikan afiliasi-afiliasi sosialpolitik yang relatif "aneh". Belanda melancarkan "modernisasi" masyarakat Aceh untuk menetralisasikan pengaruh atau kekuatan ulama. Untuk tujuai1 itu, la berafiliasi dengan kaum uleebalang. Sejalan dengan sifat Muhammadiyah yang apolitis, uleebalang bisa bekerja sama dengan organisasi itu. Akan tetapi, karena terjadi perpecahan di dalam tubuh kalangan ulama, ulama-ulama tradisionalis - jadi agak bertentangan dengan modernisasi Belanda-berafiliasi dengan uleebalang. Dan untuk menghadapi pengaruh kaum ulama, kaum uleebalang cenderung membangun citranya sebagai kalangan yang mempertahankan "adat Aceh". Sementara, j ustru untuk membendung pengaruh Muhammadiyah, sebagian dari kalangan ulama melancarkan gerakan reformasi. Berdirinya organisasi Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA), adalah refleksi dari usaha ulama-ulama
6

Fachry Ali, Ibid.

360

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

ini sangat jelas terlihat pada pergeseran afiliasi politik di antara tiga golongan utama masyarakat Aceh. Sebagian besar golongan uleebalang, sesuai dengan politik pecah-belah Belanda, lebih berafiliasi pada pemerintah kolonial. Sementara, golongan ulama cenderung tetap bersatu dengan sultan. Bahkan dalam beberapa hal fungsi kepemimpinan sultan cenderung berpindah ke tangan para ulama. Terutama gejala ini terlihat dalam gerakan-gerakan perlawanan melawan pemerintah kolonial. Meskipun demikian, harus pula diingat bahwa tidak semua golongan uleabalang cenderung berafiliasi dengan pemerintah kolonial. Sebab, seperti ter-catat dalam sejarah, banyak pula terdapat kaum uleebalang menjadi pemimpin perlawanan yang gigih terhadap Belanda. Bahkan, dalam hal ini, Belanda punya kecenderungan untuk memainkan peranannya sebagai penguasa tunggal. Dalam saatsaat tertentu, terutama ketika hubungan uleebalang menjadi dekat, mereka bisa mempromosikan golongan sultan untuk lebih dekat dengan pemerintah kolonial. Akan tetapi jelas pula, bahwa dengan munculnya pemerintah kolonial, dina-mika dan pergolakan politik di Aceh lebih ditentukan oleh ketidakman-tapan struktur sosial masyarakat Aceh. Ini terutama ditandai oleh persaingan yang tajam antara golongan ulama clan uleebalang. Golongan ulama, pada dasarnya merupakan golongan mayoritas di dalam masyarakat, terutama karena la lebih dekat dengan rakyat banyak. Sementara golongan uleebalang, merupakan kalangan minoritas. Akan tetapi justru karena itu pula, konflik di antara mereka menjadi semakin tajam. Sadar akan kekuatan perlawanan yang potensial di pihak ulama, pemerintah kolonial berusaha menetralisasikan kekuatan itu lewat kemudahan-kemudahan pendidikan bagi kaum uleebalang. Sebagai akibatnya, kaum ulama semakin merasa terancam. Mereka menyaksikan dan juga mengkhawatirkan bahwa sebagian dari anakanak muda Aceh sudah mulai tersosialisasikan ke dalam sistem pendidikan Barat. Kenyataan ini dilihat semakin memperkuat kedudukan uleebalang dan dengan demikian sekaligus akan semakin memperlemah kedudukan mereka. Suasana yang penuh dengan benih-benih konflik ini semakin dipanaskan oleh munculnya

mendistribusikan baik sumber daya alam maupun sumber daya ekonomi dalam cara-cara yang tegas, turut menyebabkan munculnya beberapa gejolak sosial-politik yang amat merepotkan kepemimpinan nasional. Beberapa contoh yang terkenal dari gejolak-gejolak itu adalah "pemberontakan" Darul Islam (DI), Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), dan Perjuangan Semesta Alam (Permesta). Salah satu di antara butir-butir agenda terpenting dari kabinet-kabinet Indonesia pasca kemerdekaan adalah penyelenggaraan pemilihan umum untuk Parlemen dan Majelis Konstituante. Kabinet Sjahrir berjanji akan menyelenggarakan pemilihan umum pertama pada awal Januari 1946. Sayangnya, situasi revolusi fisik (1945-1949) tidak memungkinkan dilaksanakannya pemilihan umum itu. Ketika kedaulatan negara diserahkan Belanda ke Republik Indonesia, sebagaimana dicatat Feith, Setiap kabinet menjadikan pemilihan umum untuk menyusun Majelis Konstituante sebagai bagian penting dari program-programnya. Meskipun demikian, baru pada kabinet Burhanuddin Harahap sajalah pemilihan umum pertama berhasil diselenggarakan (1955).15 Ada beberapa faktor yang menyebabkan tertundanya penyelenggaraan pemilihan umum itu. Yang paling penting adalah ketakutan para elite negara dan partai, khususnya mereka yang berasal dari ke-lompok nasionalis sekuler, bahwa pesta-pora demokrasi itu dapat me-ngancam hubungan politik antara agama (Islam) dan negara yang su-dah di-dekonfessionalisasi seperti yang berlangsung saat itu. Mereka percaya bahwa peristiwa-peristiwa politik seperti pemilihan umum da-pat digunakan oleh kalangan Islam untuk menyusun dukungan rakyat guna merealisasikan gagasan negara Islam. Mengingat potensi mereka untuk memenangkan suara mayoritas, sukses kelompok Islam dalam pemilihan umum akan melempangkan jalan bagi mereka untuk men-jadikan Islam sebagai dasar negara di Majelis Konstituante yang artinya akan menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam.
15 Herbert Feith, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, (Ithaca, New York: Cornell University Press, 1969).

10 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia Sejak 1950 hingga sekitar 1959, dekade yang dikenal sebagai periode Demokrasi Konstitusional atau Demokrasi Parlementer, Indonesia berada di bawah UUD Semenetara 1950. Terlepas dari kenyataan bahwa negara telah mengalami beberapa kali perubahan konstitusi, UUD 1950 itu masih dianggap sementara. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa tugas utama Majelis Konstituante adalah menyusun sebuah rancangan konstitusi yang permanen. Dalam kerangka legal-konsti-tusional inilah para anggota Majelis Konstituante terlibat dalam perde-batan-perdebatan ideologis-politis yang sengit dan panas. Meski bu-kan tanpa kesulitan, Majelis Konstituante akhirnya dapat menyelesaikan 90% tugas-tugasnya, termasuk membuat berbagai ketetapan se-putar masalah unsur-unsur substansif konstitusi seperti hak-hak asasi manusia, prinsip-prinsip kebijakan negara, dan bentuk pemerintahan. Dalam diskursus ini, kelompok Islam pada intinya menyatakan kembali aspirasi-aspirasi ideologi-politik yang sudah mereka kemukakan pada masa pra-kemerdekaan, yakni mendirikan negara yang jelas-jelas berdasarkan Islam. Mereka mengusulkan agar Islam dijadikan ideologi negara berdasarkan argumen-argumen mengenai (1) watak holistik Islam, (2) keunggulan Islam atas semua ideologi dunia lain, dan (3) kenyataan bahwa Islam dipeluk oleh mayoritas warga negara Indonesia. Dipimpin Mohammad Natsir, Kasman Singodimedjo, Zaenal Abidin Ahmad, Isa Anshari, dan K.H. Masjkur, mereka kukuh mempertahankan watak Islam yang holistik. Mereka percaya bahwa Islam mengatur setiap aspek kehidupan. Menurut mereka, negara yang pada dasarnya merupakan sebuah organisasi yang meliputi seluruh masyarakat dan lembaga, yang memiliki kekuasaan untuk membuat dan menerapkan aturan-aturan yang mengikat tidak bisa lain kecuali mendasarkan diri kepada prinsipprinsip Ilahiyah. Dalam konteks Pancasila sebagai ideologi negara, mengingat bahwa Indonesia adalah sebuah negara yang heterogen secara keagamaan, beberapa tokoh kelompok nasionalis memandang

Kesimpu lan

359

Agustus 1949 dengan nama resmi Negara Islam Indonesia (NII) dengan dukungan bala tentaranya yang disebut sebagai Tentara Islam Indonesia (TII). Masa pasca 1945 hingga 1960 adalah masa booming deprivatisasi agama pada awal 1945 hingga 1960-an, tidak hanya di Aceh mengilhami munculnya peran-peran agama yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat. Demikian halnya wilayah politik yang secara tradisional masih tabu dengan nilai-nilai profetis yang menjadi trade mark pesan agama. Setelah agama menjadi masalah publik, masalah politik (harus) selalu bersinggungan dengan agama, baik pada tataran etiknormatif maupun praktik. Mengungkapkan sejarah perjuangan Darul Islam di Indonesia, sama pentingnya dengan mengungkapkan kebenaran. Sebab perjalanan sejarah gerakan ini telah banyak terdistorsi oleh kepentingan penguasa yang memiliki haluan ideologis yang nonIslam. Pada masa kolonial, struktur dan komposisi kekuasaan di atas mengalami perubahan setelah masuknya kolonial Belanda dengan cara fisik yang menyebabkan jatuhnya kekuasaan sultan secara definitif. Kekuasaan kolonial muncul dan menggeser kekuasaan sultan menjadi kurang lebih sama atau di bawah kekuasaan ulama dan uleebalang. Kekuasaan sultan selanjutnya melebur atau mengalami amalgamasi dengan kelompok uleebalang atau kelompok ulama. Sultan Aceh terakhir ditangkap dan diasingkan, sehingga pengaruh dan kuasanya sirna di masyarakat. Perjuangan repatriasi kekuasaan kesultanan Aceh dilanjutkan oleh kalangan ulama. Bahkan setelah penetrasi sistem kolonial begitu mendalam ke masyarakat Aceh, kekuasaan kolonial hampir hilang sama sekali. Sehingga yang tinggal hanyalah komposisi 3 struktur kekuasaan saja: (1) uleebalang, (2) ulama, dan (3) rakyat biasa. Mulai saat itulah kohesi sosial politik golongangolongan masyarakat yang mendukung struktur sosial Aceh menjadi retak.5 Kere-takan ini kemudian terus-menerus berimplikasi terhadap dinamika dan pergolakan politik di Aceh. Retakan kohesi sosial-politik
5 Fachry Ali, Golongan agama dan Etika Kekusaan: Keharusan Demokratisasi Islam di Indonesia, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), hlm. 106.

358

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

11

memanen setang-kup getah karet, se-gunca padi, seikat tebu, sekarung teh dan sekaleng kopi. Selain itu, yang diketahui umum adalah bahwa Indonesia menyimpan bara api berbahaya di satu sudut kehidupan subsistennya yang sama berbahayanya dengan gugusan gunung berapi di setiap pulaunya yaitu Islam. Islam telah memberikan kekuatan dan spirit untuk menghadapi kolonial Belanda dan pemerintahan Republik. Bagi Barat yang awam, Darul Islam adalah a fanatic guerilla organization yang mengganggu Republik Indonesia yang baru berdiri dengan kekacauan dan perang sipil.3 Padahal, jauh dari sekedar sebuah penjelasan tentang fanatisme, banyak alasan yang perlu di-ungkapkan untuk memberikan gambaran yang lebih distingtif tentang Darul Islam, khususnya di Aceh. Sebuah bangsa mengalami konflik atau konsensus karena alasanalasan tertentu. Bangsa bersepakat bersatu atau bersepakat untuk berpisah karena alasan-alasan yang kesemuanya sesungguhnya merupakan pilihan dengan label price harga mati. Dengan memperhatikan alasan-alasan dari semua daerah yang bergolak, dari dulu hingga sekarang, sesungguhnya terdapat sebab-sebab yang menjadi pemicu rapuhnya alasan-alasan persatuan lama. This nation, tulis Fachry Ali, stood on the fragile foundation.4 Oleh karenanya, fondasi di mana ditanam alasan-alasan yang beyond imagination tersebutlah yang harus dilihat pertama kali untuk menilai realitas terkikisnya alasan-alasan untuk bersatu di dalam ikatan sebuah bangsa dan negara. Misalnya, untuk kasus pemberontakan Darul Islam atau Negara Islam Indonesia di paruh kedua tahun 1953 adalah sebuah luapan ekspresi cita-cita yang hidup dalam benak dan semangat kalangan nasionalis Islam, tidak hanya di Aceh, melainkan juga di Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi. Islam adalah ideologi dan cara hidup yang dianut mayoritas rakyat. Bermula dari Jawa Barat, Darul Islam diproklamasikan pada 7
3 4

Pancasila sebagai suatu kesepakatan bersama. Bagi para politisi PNI dan aktivis Kristen seperti Arnold Mononutu, Pancasila merupakan sebuah sintesis yang memadai bagi berbagai kelompok agama yang berbeda. Jika Islam harus dijadikan dasar negara, yang terutama ia khawatirkan adalah tempat kelompok-kelompok agama lain di Nusantara. Bagaimana pun, hal itu mengandung citra diskriminasi konstitusional. Untuk kasus Aceh, sangat jelas terlihat bahwa Pancasila menjadi sumber dari segala sumber masalah dan perjuangan melawannya telah menyebabkan munculnya banyak gerakan dissident dan seccesionist movements. Diterimanya Pancasila sebagai ideologi negara serta dihapusnya tujuh kata dari Piagam Jakarta dapat ditafsirkan sebagai kekalahan politik Islam. Untuk Aceh, diterimanya Pancasila setelah kekalahan tempur Darul Islam, merupakan suatu jamu pahit yang harus ditelan, meskipun orang-orang Aceh percaya bahwa jamu Jawa yang pahit itu tidak bisa menyembuhkan penyakit; hanya Tuhan yang menyembuhkan penyakit.16 Kendatipun demikian, para pendukung gagasan negara Islam tersebut, untuk sebagian besar, tidak menyerah begitu saja. Perjuangan Darul Islam sewaktu perang frontal (19491964) dan diproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) yang dipimpin oleh Sekarmadji Marijan Kartosoewirjo dan perjuangan wakil-wakil Islam di dalam sidang Konstituante hasil pemilu 1955 untuk menggolkan kembali gagasan negara Islam, merupakan indikasi konsistensi perjuangan mereka.17 Pergulatan Islam dan negara telah menghasilkan banyak pemberontakan, yang secara ekologi kultural dapat dijelaskan sebagai berikut: secara ekonomi, Sumatra (Aceh dan Palembang), Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, adalah wilayah pengek-spor hasil alam utama, sedangkan Jawa dengan tingkat perkembangan penduduk dan urbanisasi yang tinggi menjadi
16 17

Ibid. Wawancara dengan Tgk. Saleh, Pulot, Leupung, Aceh Besar, 27 Juni 2006.

Fachry Ali, The Revolt of Nation-state Builders: The Case of Acehnese Darul Islam and West Sumatran PRRI, tesis master yang tidak diterbitkan, (Melbourne: Monash University, 1986).

Lihat B.J. Boland, Pergumulan Islam di Indonesia: 1945-1970, (terj. Safroedin Bahar), (Jakarta: Grafiti Pers, 1985).

12 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia pengimpor; wila-yah-wilayah perjuangan Islam yang utama di tahun 1957 -1958 adalah wilayah-wilayah yang surplus ekspornya lebih sejahtera yang mencari jalan untuk memotong garis kekuasaan Jawa dan Pemerintah Pusat dan dengan cara mengambil perdagangan di tangan mereka sendiri dan mencegahnya mengalir ke Jawa.18 Sebuah perlawanan subsisten untuk menghadang mengalirnya sumber daya yang hampir tak ter-batas ke luar wilayah mereka. Hanya Darul Islamlah yang tersedia pada waktu itu, hanya inilah satu-satunya gerakan yang berani melawan kekuasaan populis Soekarno dengan segala ideologinya (Marhaenis-me, Pantjasila, Nasakom, Manipol Usdek) yang semakin melanglang ke sana ke mari memiriskan kepala orang-orang Aceh pada waktu itu. Bagi orang-orang Aceh waktu itu, semua pemikiran Soekarno dan Komunisme yang masuk ke Aceh, adalah bui.19 Meskipun tidak terekspresikan secara eksplisit, Darul Islam adalah satu-satunya kekuatan yang tetap standing in motion menghadang, menggempur dan menerjang semua ideologi non-Islam ini termasuk semua jajaran tentaranya yang mereka sebut sebagai Tentara Republik Indonesia Komunis (TRIK), sedangkan Republik Indonesia disebut dengan RIK (Republik Indonesia Komunis). Disebabkan perkembangan politik dan kecondongan haluan politik negara ke dalam suatu arah yang semakin aneh dan tidak menentu di mana kalangan merah dan merah jambu (PKI dan PNI) semakin menguasai situasi dan masuk ke setiap lapisan dan sebaran geografis masyarakat, maka bagi orang-orang Aceh, Pemerintah ini adalah sebuah elit namiet (budak) yang semenjak dahulu bergerak bersisian seiring
18 Secara sosiologis, kualitas kolektif yang berkembang pesat dari cara hidup orang-orang yang berbudaya sawah di Jawa sangat berbeda dengan yang luar Jawa (Outer Islands) yang tipikal individualisme pertanian (kaum tani komersil). Secara agama, Sumatra Utara, Sulawesi Utara dan beberapa kepulauan di timur telah dikristenisasikan; Islam ortodoks sangat kuat di bagian-bagian tertentu Sumatra, Kalimantan dan Jawa Barat, dan sisanya di Jawa adalah Muslim nominal (atau dengan istilah Clifford Geertz sebagai Muslim abangan) yang sangat kuat memegang tradisi Hindu-Buddha sinkretis. Lihat Clifford Geertz, Involusi Pertanian, (terj.), (Jakarta: Bhratara, 1974). 19 Bui, (bhs. Aceh), berarti babi. Dalam alam pikir rakyat Aceh ketika itu, bui (babi) adalah haram, seharam-haramnya binatang yang ada di atas bumi Tuhan ini.

Bab XIV

KESIMPULAN

idak banyak yang tahu bahwa Darul Islam di Aceh adalah bagian dari gerakan Darul Islam yang diproklamasikan oleh S.M. Kartosoewirjo di Jawa Barat.1 Bahkan dunia Barat, melalui media dan persnya, menyebut sejumlah pemberontakan Darul Islam di awal kemerdekaan yang dialami Indonesia dari tahun 1949 hingga 1953 sebagai the unknown war (perang yang tak diketahui).2 Dalam pandangan Barat, populasi Islam di Indonesia yang berjumlah 68 juta jiwa ketika itu adalah populasi Muslim terbanyak di dunia yang terdiri dari kaum petani sub-sistem yang lemah yang hanya berpuas diri dengan

1 Untuk kasus Darul Islam, lihat beberapa referensi lain, di antaranya adalah: Van Nieuwenhuijze, The Dar-ul-lslam Movement in Western Java till 1949, dalam Aspects, hal.161-179; George McTurnan Kahin, Nationalism, hal.326-33l; Herbert Feith, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, (Massachusett: University of California Press, 1983); Henri J. Alers. Om een Rode of Groene Merdeka, Eindhoven: EJ Brill, 1956, hal. 240-274; C. van Dijk, Revolution Under the Banner of Islam: The Darul Islam in Indonesia; B.J. Boland, The Struggle of Islam in Indonesia: 1945-1970; Holk Harald Dengel, Darul Islam: Kartosuwirjos Kampf um Einen Islamichen Staat in Indonesia, Heidelberg: Heidelberg Universiaet, 1990. Sumber-sumber Indonesia adalah: Al Chaidar, Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia SM Kartosoewirjo, (Jakarta: Darul Falah, 2000); lebih lanjut ada buku-buku kecil yang dimaksudkan sebagai bacaan anggota militer, seperti Zainabun Harahap, OperasiOperasi Militer Menumpas Kahar Muzakkar, (Jakarta, 1965), dan Anna Marie The, Darah Tersimbah di Djawa Barat, (Jakarta, l968). Bahan selanjutnya diperoleh dari arsip militer dan wawancara di daerah tempat kejadian di berbagai wilayah di Aceh. 2 Time, 16 Februari 1953.

356

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

13

harus dilalui dengan segala kepayahan. Di sini, kaum pemberontak DI diharapkan secara sangat diplomatis untuk bersedia berintegrasi kembali ke dalam masyarakat dan mengingatkan mereka, para pejuang DI, yang sudah bersepakat dalam berbagai ikrar dan musyawarah. Musyawarah adalah norma politik penting masyarakat Aceh, dan panitia MKRA kembali mengingatkan bahwa buet mupakat beu tadjundjong, bek meukong-kong ngon sjeedara4 (hasil mufakat harus kita junjung dan jangan berkelahi dengan sesama saudara). Sesudah itu Aceh tetap tenang selama kira-kira lima belas tahun. Pada awal 1976, ketika diberitakan lagi tentang kegiatan-kegiatan Darul Islam di Jawa dan juga bagian-bagian lain di Sumatera, Hasan Muhammad Tiro memproklamasikan Aceh sebagai negara merdeka. Proklamasi ini, dengan mengambil cara pandang Nazaruddin Sjamsuddin,5 adalah getar-getaran dari gerakan pemberontakan Darul Islam yang secara ideologis belum terakomodasi secara penuh. Dengan menamakan dirinya Ketua Front Pembebasan Nasional dan Wali Negara, Hasan Tiro kembali ke Aceh pada tahun 1976 untuk memimpin sendiri perjuangan Gerakan Aceh Merdeka, tetapi gerakan ini tidak banyak memperoleh momentum hingga tahun 1985.***

sejalan dan dalam lembaga-lembaga politik ciptaan kolonial Belanda. Maka, melihat ulah Soekarno dan para anggota parlemen yang sudah demikian memuakkan, mereka tidak mungkin lagi menggunakan isyarat untuk memukul pemerintahan yang sudah tak tahu diri lagi, pemerintah yang tak tahu bertema kasih ini. Tercetuslah dalam bahasa ekspresif Aceh yang agak sedikit kasar, meunyoe namiet geupoh ngon tungkat, ngon isyarat han meumada (Jika budak dipukul dengan tongkat, dengan isyarat tidak mencukupi (memadai).20 Dalam suatu ungkapan tradisional Aceh, bagi orang-orang Aceh, meskipun DI bukanlah dan tidaklah terlalu sesuai untuk disebut sebagai sebuah tungkat (tongkat) karena gerakan Islam ini sangat dihargai dan dihormati; dalam namanya saja sudah mengandung nilai dan marwah agama yang sangat dihormati masyarakat Aceh. Namun, hanya tungkat DI inilah yang ada untuk memukul namiet Pemerintah RI yang semakin condong ke komunisme dan Pancasila yang sudah demikian jauh meninggalkan nilai-nilai luhur agama Islam. Indonesia, termasuk Aceh, ketika baru saja lepas dari penjajahan Kolonial Jepang dan Sekutu dan Belanda dengan perjuangan fisik yang revolusioner, di telinga mereka masih terngiang pekik Allahu Akbar, tapi yang terdengar sekarang adalah istilah-istilah asing yang membingungkan dan merusak semangat mereka yang masih hangat dengan semangat revolusioner ini. Pancasila, Manipol Usdek, Komunisme, Marhaenisme, Demokrasi Terpimpin, dan lain-lain sebagainya, dalam pandangan orang-orang Aceh telah merebut status provinsi kebanggaan mereka sebagai daerah modal dalam menggempur Belanda di Medan Area. Pancasila, Kejawenisme, Manipol Usdek, Komunisme, Marhaenisme, Demokrasi Terpimpin, dan semua pidato Soekarno adalah yang telah mencabut harkat dan martabat dan mempermalukan dan tidak menghargai Teungku Daud Beureu`eh sebagai Gubernur Militer Aceh, Langkat dan

Ibid., hlm. 11.

5 Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan Kaum republik, Kasus Darul Islam Aceh (19531962), (terj.), (Jakarta: Pustaka Grafiti Pers, 1995), bagian pengantar.

20 Tentang hal ini, lihat Athailah, Abdullah Faridan, A Murad Em Djies, Budiman Sulaiman, Sulaiman Sanusi, A Wahab Ismail, Ungkapan Tradisional Sebagai Sumber Informasi Kebuadayaan Daerah Istimewa Aceh, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1984), hlm. 48.

14 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia Tanah Karo sebagai pahlawan. Bagi masyarakat Aceh, Indonesia ketika itu adalah namiet yang tidak cocok dipukul dengan isyarat, harus dengan benda sekeras tungkat, maka jatuhlah pilihannya kepada Darul Islam. Sementara di kalangan rakyat kecil, mereka cukup mengekspresikan bahwa Pemerintah RI Soekarno adalah bui dan dalam kesadaran kultural Aceh, Geupeulet bui ngon asee (mengejar babi dengan memakai anjing) dan memang dalam kebiasaan masyarakat pedalaman Aceh babi biasanya dikejar dengan anjing.21 Meskipun mungkin tidaklah terlalu tepat mengasosiasikan DI dengan asee atau bui dengan RI, namun inilah gambaran yang paling mungkin bisa dilukiskan oleh orang-orang Aceh pada waktu, dengan segala keguyuban, kesederhanaan dan keterbatasannya.22 Kesabaran dan sikap pasrah serta ikhlas yang sudah ditunjukkan oleh Teungku Daud Beureu`eh ini tidaklah dipahami sebagai isyarat oleh kalangan Republik di Pusat. Tidak tersedianya perlengkapan kognitif yang memadai di kalangan pemerintah Pusat saat itu telah menyebabkan isyarat ini tak terbaca sebagai sebuah pukulan. Mereka terlalu jauh untuk dapat mendengar sayup kepedihan Aceh. Kalangan Republik terlalu jauh untuk bisa melihat apa yang sedang terjadi dengan singa Aceh yang sedang duduk diam di kampungnya yang terik di Beureueneun, Pidie. Isyarat ini hanya ditangkap oleh Boyd R. Compton23 dan SM Kartosoewirjo, tapi tidak oleh Soekarno, Aidit, Njoto, dan kalangan merah pemerintahan Republik. Mereka terlalu silau dengan gemerlap pesta di istana Bogor dan riuhnya perdebatan liberal di parlemen. Sementara di Jawa Barat, ideologi Darul Islam terus menjalar, merambat ke setiap jengkal tanah Jawa dan kurir-kurir gerakan radikal ini bertebaran ke berbagai tempat menjangkau wilayahwilayah jihad, menyebar ajakan untuk memerangi Pancasila. Bagi orang-orang Aceh, kesamaan pandangan akan Pancasila sebagau
21 22

Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh di Blang padang: Reintegrasi dan Rekonsiliasi

355

berikan daerah itu status Provinsi Istimewa, dengan otonomi di bidang agama, hukum adat, dan pendidikan. Di samping itu, Daud Beureu`eh, pemimpin perjuangan yang benar-benar terpenting ini, yang merupakan salah seorang pejuang mujahidin terakhir yang kembali dari hutan pada tahun 1962, tidak tewas dalam pertempuran atau dihukum mati, tetapi diberi ampun. Untuk merayakan perubahan Aceh dari Dar al harb, wilayah perang, ke Dar al-salam, daerah damai (untuk menggunakan ungkapan yang berlaku ketika itu), dan selanjutnya guna mengungkapkan pernyataan resmi akan persatuan Aceh yang telah pulih, diselenggarakan suatu upacara akbar pada akhir tahun itu, yaitu Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh (MKRA), yang berlangsung di Blangpadang dari 18 sampai 22 Desember 1962. Puncak hasilnya adalah Ikrar Blangpadang, yang ditandatangani tujuh ratus orang Aceh terkemuka yang hadir. Mereka berjanji akan memelihara dan membina kerukunan serta memancarkan persatuan dan persahabatan.2 Musyawarah kerukunan Rakyat Aceh ini merupakan sebuah upaya Pemerintah Daerah Provinsi Daerah Istimewa Aceh yang menyerukan nibak tje-bre, get meusaboh, tameudjroh-droh ngon sjeedara (daripada berpecah belah, lebih baik kita berbaik-baikan sesama saudara).3 Bagi banyak orang Aceh, MKRA ini merupakan suatu rekonsialiasi rakyat Aceh yang menghasilkan Ikrar Blangpadang yang meskipun tidak tepat benar akomodasi politik yang diberikan oleh Pemerintah Pusat (Jakarta) ini, harus diterima dengan hati yang lapang. Beuthat tameh surang sureng, asaj puteng roh lam bara (bagaimanapun bengkoknya tiang asalkan ujung pahatan masuk ke dalam lubang kayu), sebuah ungkapan kultural yang sangat teknis tentang membangun Aceh, sebuah rumah bersama yang dihuni oleh semua komponen yang selama ini kurang puas dengan proses pembuatannya yang mungkin
Lihat Harian Duta Masyarakat, 20 Nopember 1962; 28-29 Desember 1962; dan 31 Desember 1962.
3 Tgk. Abdullah Arif Atjeh, Sjair Kerukunan Rajat Atjeh, (Kutaradja: Penerbit dan Pustaka Darussalam, 1962), hlm. 2. 2

Wawancara dengan Ishak Ibrahim, Banda Aceh, 24 Juli 2006. Ibid.

23 Lihat Boyd R. Compton, Kemelut Demokrasi Liberal, (terj.), (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2001). Lihat khususnya kata pengantar dari Fachry Ali.

354

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

15

ketika Daud Beureu`eh perlawanannya.

pun

tertangkap

dan

menghentikan

Untuk merayakan perubahan Aceh dari Dar al harb, wilayah perang, ke Dar al-salam, daerah damai (untuk menggunakan ungkapan yang berlaku ketika itu), dan selanjutnya guna mengungkapkan pernyataan resmi akan persatuan Aceh yang telah pulih, diselenggarakan suatu upacara akbar pada akhir tahun itu, yaitu Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh (MKRA), yang berlangsung di Blangpadang dari 18 sampai 22 Desember 1962. Puncak hasilnya adalah Ikrar Blangpadang, yang ditandatangani tujuh ratus orang Aceh terkemuka yang hadir. Mereka berjanji akan memelihara dan membina kerukunan serta memancarkan persatuan dan persahabatan.1 Sesudah itu Aceh tetap tenang selama kira-kira lima belas tahun. Pada awal 1977, ketika diberitakan lagi tentang kegiatan-kegiatan Darul Islam juga di Jawa dan bagian-bagian lain di Sumatera, Hasan Muhammad Tiro memproklamasikan Aceh sebagai negara merdeka. Dengan menamakan dirinya Ketua Front Pembebasan Nasional dan Kepala Negara, ia kembali ke Aceh untuk secara pribadi memimpin perjuangan Gerakan Aceh Merdeka, tetapi gerakan ini tidak banyak memperoleh momentum. Pemberontakan Darul Islam di Aceh adalah satu-satunya pemberontakan Darul Islam (dari 5 pemberontakan dengan motif serupa di Indonesia) yang bisa diselesaikan dengan cara kompromi politik. Hal ini dimungkinkan oleh adanya Dewan Revolusi di dalam tubuh Darul Islam Aceh di bawah pimpinan Amir Hoesin Al-Moedjahid yang telah diprakarsai oleh Hasan Saleh. Berbeda dengan perjuangan politik Negara Islam lain yang diilhami Darul Islam, perjuangan yang khusus ini berakhir secara damai melalui permusyawarahan ketimbang kekalahan militer. Peristiwa ini terjadi sesudah Pemerintah Pusat pada 1959 akhirnya memenuhi tuntutan yang gigih dari rakyat Aceh dan mem-

musuh yang mengakibatkan Teungku Daud Beureu`eh melirik dan menghubungi SM Kartosoewirjo, pihak Darul Islam yang akan mampu meminjamkan tenaga untuk mengusir Komunisme, Marhaenisme dan Pancasila.

B. Darul Islam SM Kartosoewirjo di Jawa Barat


Pada awalnya, setelah tiga tahun setengah berada dalam kekejaman kolonial Jepang, muncul banyak perlawanan Islam di Jawa Barat, selain yang terbanyak di Aceh. Di Aceh, belum ada sebuah rencana strategis untuk memproklamasikan berdirinya sebuah negara Islam. Namun di Jawa, SM kartosoewirjo sudah memulai menggarap rencana mendirikan negara Islam ini sejak lama. Setelah gagal mensosialisasikan proklamasinya yang pertama pada tanggal 14 Agustus 1945, maka baru pada tahun 1949, di Jawa Barat 7 Agustus, diproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo telah dikumandangkan di desa Malangbong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.24 Proklamasi ini selain sebagai tanggapan terhadap kecenderungan Republik Indonesia ke arah sekuler dan komunis, juga merupakan upaya mewujudkan cita-cita teologis umat Islam yang telah demikian lama tertunda. Perjuangan yang dikenal dengan nama lain Darul Islam ini berpusat di Jawa Barat dengan meluaskan pengaruhnya hingga ke Jawa Tengah, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Aceh. Pemimpin Darul Islam ini, S.M. Kartosoewirjo, adalah seorang pemimpin pergerakan umat Islam yang semenjak zaman Hindia Belanda telah lama (mulai 1934-1942) mencita-citakan berdirinya suatu negara Islam di Indonesia. Ia telah dari sejak awal mengumpulkan para pengikutnya untuk melawan Belanda dan berjuang secara non-cooperatif dan tidak mau melalui parlemen (volksraad) atau partai politik yang pernah dimasukinya yaitu PSII (Partai Sjarikat Islam Indonesia) maupun

1 Lihat Harian Duta Masyarakat, tanggal 20-11-1962, tanggal 28-12-1962, tanggal 2912-1962, tanggal 31-12-1962.

24

Lihat C. van Dijk, Darul Islam, Sebuah Pemberontakan, (terj.), (Jakarta: Grafiti Pers,

1993).

16 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia Masjumi (Madjlis Sjoero Moeslimin Indonesia). Perjuangan Darul Islam ini pada awalnya berkesempatan mengkonsolidasikan diri ketika Divisi Siliwangi TNI dipindah ke Jawa Tengah sebagai pelaksanaan Perjanjian Renville, pasukan-pasukan Lasjkar Hizbullah dan Lasjkar Sabilillah yang berada di bawah kepemimpinan Kartosoewirjo tetap tinggal di Jawa Barat karena memang tidak setuju dengan Perjanjian Renville. Pasukan Hizbullah dan Sabilillah secepatnya mengambil sikap dalam menanggapi kekosongan kekuasaan di wilayah tak bertuan Jawa Barat dengan segera menyusun struktur per-tahanan yang merupakan cikal-bakal sebuah negara. Ketika pasukan TNI Divisi Siliwangi kembali dari Jawa Tengah untuk melakukan perang gerilya, setelah Belanda melancarkan Agresi Militer II, mereka menjumpai kesatuan-kesatuan Hisbullah dan Sabilillah dan kesatuan-kesatuan bersenjata lainnya yang kemudian bernama Tentara Islam Indonesia (TII). TII mencoba untuk menghalang-halangi kembalinya TNI ke Jawa Barat dan berusaha untuk menarik anggota-anggota TNI ke pihaknya.25 Pertempuran antara pasukan TII dan TNI Divisi Siliwangi pun tidak dapat dihindarkan. Pertempuran pertama terjadi pada tanggal 25 Januari 1949 di desa Antralina, Malangbong, antara Batalyon M. Rivai yang baru tiba dari Jawa Tengah dengan pasukan TII. Jika di zaman kolonial Belanda, perjuangan Islam lebih menyangkut tarik-menarik dan perdebatan strategi perjuangan antara per-juangan politik dan pembangunan moral, maka ketika meletusnya perjuangan TII ini pembeda utamanya adalah soal keabsahan Republik Indonesia.26 Sementara partai-partai politik Islam bertolak dari sikap da-sar bahwa RI adalah negara sah, maka Darul Islam (DI) mengingkari ke-absahannya. Betapa pun masalah DI kemudian berhasil "diturunkan" menjadi masalah keamanan, tidak lagi
25 26

Bab XIII

MUSYAWARAH KERUKUNAN RAKYAT ACEH DI BLANGPADANG: REINTEGRASI DAN REKONSIALIASI PASCA KONFLIK

Disjarah TNI, Album Peristiwa DI-TII, (Jakarta: Dinas Sejarah TNI, 1981), hlm. 67.

Lihat Holk H. Dengel, Darul Islam dan Kartosuwirjo: Angan-Angan yang gagal, (Jakarta: Penerbit Sinar Harapan), 1996.

emberontakan ini diakhiri dengan sebuah musyawarah besar, sebuah perhelatan diskursus keacehan dalam keindonesiaan. Jika pada awalnya pemberontakan dimulai dengan Kongres Ulama di Medan, maka kisahnya ini pun diakhiri dengan sebuah kongres dalam bentuknya yang lain, yaitu: MKRA (Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh). Ini berarti akhir yang sesungguhnya dari jihad suci menegakkan Darul Islam Negara Islam, termasuk jihad menegakkan Negara Islam di Aceh, meskipun tertunda namun sudah mendapatkan akomodasi politik yang sangat besar, sebuah pengakuan akan jati-diri Aceh dan peneguhan sikap dan keinginan menjalankan syariat Islam. Di sini pada bulan-bulan sebelumnya banyak orang-orang DI yang telah melaporkan diri atau turun gunung atau menyerah. Kondisi ini memberikan peluang bagi Pemerintah Daerah Provinsi Aceh untuk mengadakan perhelatan musyawarah: sebuah upaya untuk mengkonvergensi Aceh dari energi pemberontakan ke energi pembangunan. Keamanan sepenuhnya pulih di Aceh, pada 8 Mei 1962,

352

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

17

mendapat perlakuan yang sedikit banyaknya sama.13 Usaha yang menyatakan bahwa di mana mungkin mereka akan diintegrasikan ke dalam Pemerintahan Republik dikukuhkan para penguasa militer pusat pada akhir Oktober. Ini berarti memberikan kuasa kepada Pemerintah Daerah Aceh untuk mengangkat bekas pemberontak yang telah menyatakan sumpah setia kepada Republik Indonsia pada jabatanjabatan dalam pemerintahan sipil.14 Persetujuan Mei secara resmi diterima para pendukung Dewan Revolusi pada suatu konferensi besar yang diadakan dalam minggu pertama November. Pada akhir bulan itu Nasution bertolak ke Pidie. Di sini ia menerima pemberian hormat lima ribu pendukung Dewan Revolusi.15 Suasana ini benar-benar memperlihatkan betapa sebuah sistem pemerintahan yang baik (good governance) mestilah akomodatif terhadap semua tuntutan rakyat. Karena rakyatlah pemilik saham terbesar negara ini. ***

soal ideologis, corak pendekatan yang diajukannya di samping bisa menunjukkan lubang-lubang dalam argumen politik Islam, juga memberi kesempatan kepada faktor luar untuk mengambil inisiatif politik yang pasti, tanpa ambivalensi moral. Sementara itu faktor luar telah makin mendesak dan masalah konstitusional pun makin mengabur, maka terjadilah kegagalan Kon-stituante, PRRI/Permesta meletus yang melibatkan orang-orang Mas-jumi dan PSI dan Demokrasi Terpimpin di bawah Soekarno pun makin kuat. Perbedaan yang paling mendasar antara Masjumi dengan Darul Islam yaitu bahwa Masjumi menyetujui rumusan-rumusan Pancasila sekaligus berbicara tentang suatu masyarakat yang Islami, tetapi tidak berbicara tentang "Negara Islam" sebagaimana Darul Islam. Perkembangan perjuangan Islam selanjutnya pasca-Darul Islam hingga masa Orde Baru adalah gerakan yang terpecah dalam dua arus aktivisme sosial yaitu tradisionalis dan modernis. Yang Tradisionalis adalah gerakan-gerakan yang diwakili oleh NU (Nahdlatul Ulama) dan Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah), sementara yang modernis adalah yang diwakili oleh Muhammadiyah, Persis (Persatuan Islam), Al-Irsjad dan lain-lain. Aktivisme dan idealisme politik tidak lagi berani mengemuka setelah kegagalan politik ini. Semenjak itu Islam terus menjadi sasaran kecurigaan Negara, seberapa pun positifnya sumbangan Islam yang bisa diberikan kepada negara. Sejak itu, posisi politik Islam pun mengalami kelumpuhan total. Kelumpuhan politik ini selanjutnya diperparah oleh perpecahan politik umat Islam masa kemerdekaan yang dimulai dari terpecahnya kekuatan politik Islam Masjumi yang selama tujuh tahun menjadi wakil tunggal politik Islam. Tidak lagi bergabungnya PSII dan NU dalam Masjumi tampaknya memang harus dijelaskan melalui pendekatan sebagaimana telah disebutkan tadi, terutama yang menyangkut persoalan alokasi peran politik antar berbagai faksi kekuatan yang terfusikan dalam Masjumi. Untuk kasus PSII, Soemarso Soemarsono melihat bahwa hal itu disebabkan oleh tak kunjung datangnya kesempatan bagi PSII untuk duduk dalam kabinet. Namun demikian,

B.J. Boland, The Struggle of Islam in Modern Indonesia, (The Hague: Martinus Nijhoff, 1971), hlm. 90-100. Ini berdasarkan Keputusan Penguasa Perang Pusat No. 010541959 31 Oktober 1959. Indonesia berada dalam keadaan perang dari Maret 1957 sampai Maret 1962. Selama masa ini terdapat Penguasa Perang Pusat (Peperpups dan di provinsi-provinsi Penguasa Perang Daerah (Peperda). Di Aceh yang menjadi ketua Peperda adalah panglima militer, Sjammaun Gaharu, dan wakil ketua gubernur Ali Hasjmy. Lihat Hardi, Aceh: Latar Belakang Politik dan Masa Depannya, (Jakarta: Cita Panca Serangkai, 1993), hlm. 149-172.
15 Abdul Murat Mat Jan, Gerakan Darul Islam di Aceh1953-1959, dalam Akademika 8, 1976 hlm. 43. 14

13

18 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia persoalan ini tidak begitu mempengaruhi perjalanan Masjumi, karena kecilnya kekuatan PSII itu sendiri. Akan tetapi, di sisi lain, hal ini merupakan awal melemahnya kekuatan Islam dalam diri partai Masjumi. Melemahnya Masjumi sebagai kekuatan politik Islam lebih terasakan lagi setelah NU mengikrarkan diri keluar dari partai tersebut. Hal ini disebabkan NU mempunyai massa sangat besar, terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Kalimantan Selatan. Sejak itu (1952) NU mengubah dirinya dari jam'iyyah, organisasi sosial keagamaan, menjadi partai politik (hizbul siyasi). Kebesaran massa NU ini dibuktikan pada Pemilu 1955, di mana NU muncul sebagai partai terbesar nomor tiga sesudah PNI dan Masjumi dengan meraih 18,4 persen suara dari seluruh jumlah peserta Pemilu. Karena itu, NU mendapatkan 45 kursi dalam Parlemen. Orang boleh melihat bahwa keluarnya NU dari Masjumi sebagai tindakan oportunistik. Tetapi, bagi NU sendiri hal itu merupakan cara terbaik untuk membebaskan diri dan jamaahnya dari rasa tidak puas, baik politik maupun religius, dalam tubuh Masjumi.27 Perpecahan-perpecahan politik Islam, tetap tidak mengubah orientasi perjuangan sebagian umat Islam untuk terus memperjuangkan gagasan negara Islam. Di dalam berbagai sidang Dewan Konstituante, khususnya Masjumi, tetap menyuarakan ide-ide negara Islam. Sementara itu masa Demokrasi Liberal atau Demokrasi Konstitusional yang ditandai dengan jatuh bangunnya kabinetkabinet, baik oleh alasan-alasan politis-sekuler maupun politis keagamaan, telah mendorong Presiden Soekarno untuk membubarkan Konstituante. Sejak Soekarno memberlakukan sistem Demokrasi Terpimpin (1957-1965), Indonesia memasuki masa di mana peranan demokrasi telah termanipulasikan oleh prinsip-prinsip kediktatoran, merupakan sebentuk pemerintahan otokratis yang menumpas tanpa setiap oposisi atau pandangan yang tidak menyetujuinya. Soekarno
27 Tentang NU, lihat M. Ali Haidar, Nahdatul Ulama dan Islam di Indonesia: Pendekatan Fikih dalam Politik, (Jakarta: Gramedia, 1994).

Misi Hardi: Akomodasi Politik Pusat u ntuk Pemberlakuan Syari'at Islam di Aceh

351

atau tidak, merupakan persoalan yang akan diputuskan Konstituante, yang ketika itu sedang membicarakan kembalinya ke Undang-Undang Dasar 1945. Ia menghubungkan hal ini dengan Piagam Jakarta, yang kini kembali menjadi masalah yang hangat diperdebatkan dalam Konstituante di Jakarta. Seperti ternyata, kaum politisi Islam tidak cukup kuat untuk meluluskannya kali ini. Satu-satunya hasil yang mereka peroleh ialah diakuinya oleh Soekarno dalam Dekrit yang menyatakan kembali ke Undang-Undang Dasar 1945 bahwa Piagam Jakarta telah mengilhami Undang-Undang Dasar ini dan merupakan kesatuan dengannya.12 Kekaburan kompromi ini menimbulkan beberapa masalah pada 1962. Pada akhir tahun itu tersiar berita, Angkatan Darat Pusat menentang (diberlakukannya hukum Islam di Aceh. Berita ini dibantah juru bicara Tentara. Ia membacakan sebuah pernyataan yang pokoknya berisi (1) hukum Islam tidaklah a priori ditolak, karena itu juga tidak di Aceh; (2) dapat dibuat hukum bagi masyarakat Islam yang mungkin disesuaikan dengan hukum Islam; dan (3) Pemerintah Daerah Aceh, sesuai dengan keterangan Misi Hardi, boleh mengeluarkan peraturan-peraturan daerah yang sesuai dengan hukum Islam, asal saja ini tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip umum kebijaksanaan negara, kepentingan umum, atau peraturan hukum tingkat yang lebih tinggi. Dalam pembicaraan tentang kompromi politik ini, turut serta Menteri Agama, yang menyatakan dirinya yakin Angkatan Darat Pusat mengakui dan karena itu tidak menolak prinsip hukum Islam di Aceh. Selanjutnya disetujui secara prinsip, sebagian prajurit Tentara Islam, setelah melalui screening wajib, akan dijadikan wajib militer darurat. Kemudian, pada 1 Oktober disetujui akan dibentuk Divisi Tengku Chik di Tiro sebagai bagian khusus dari Divisi Tentara di Aceh. Pegawai-pegawai negeri Darul Islam yang mengikuti Dewan Revolusi

12 C. van Dijk, Darul Islam, Sebuah Pemberontakan, (terj.), (Jakarta: Grafiti Pers, 1993), hlm. 264.

350

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

19

14. K.H. Mustaim: Kementerian Agama 15. Ruhadji Wirjohardjo: Kementerian Dalam Negeri 16. Sukiat: Kementerian Dalam Negeri 17. Sukedjo: Kementerian Pertanian 18. R Sudjati: Kementerian Keuangan 19. M. Selamet: Kementerian Keuangan 20. Tatang Asmawinata: Kementerian Pelayaran 21. M. Sarewo: Kementerian Pelayaran 22. Sutingkir: Kementerian PP&K 23. Zulkifli: Kementerian P.U. & Tenaga 24. Ir. Urip: Kementerian P.U. & Tenaga 25. M. Sudji: Kementerian Perhubungan 26. Sumekto: Kementerian Perhubungan / Penerbangan Sipil 27. M. Nahar: P.I.A. 28. Waluyo: Antara 29. Rusli Jacob: Perusahaan Film Negara 30. Hasan Gayo: Wartawan Sulindo

diangkat menjadi presiden seumur hidup (1962) pada periode Demokrasi Terpimpin ini. Ironisnya, dukungan besar untuk itu justru diberikan oleh kaum nasionalis dari kalangan NU. Posisi Presiden pada masa ini sangat dominan dalam hampir semua bidang kehidupan dan diharapkan sebagai pemeberi kata putus terhadap segala persoalan. Masa ini juga ditandai oleh keengganan kelompok militer karena keberhasilan PKI (Partai Komunis Indonesia) mendekati Soekarno. Meski pernah digunting tahun 1948 oleh pemberontakan Komunis di Madiun, Presiden Soekarno justru memberikan keleluasan lebih besar kepada PKI untuk bergerak dan menguasai panggung politik nasional. Hal ini mendatangkan implikasi cukup serius terhadap seluruh aspek kebijaksanaan pemerintah yang mempunyai relevansi dengan kehidupan keagamaan umat Islam. Kebijaksanaan Soekarno itu, menurut W.F. Wertheim,28 telah "menjinakkan kekuatan Islam. Kebijaksanaan lain Soekarno yang dinilai sangat merugikan Islam adalah keputusannya untuk membubarkan Masjumi yang pernah bekerjasama dengan Partai Sosialis Indonesia (PSI) untuk membuat demokrasi tandingan yang diberi nama Liga Demokrasi, karena keterlibatan sebagian pemimpin dalam pemberontakan PRRI/Permesta. Dengan dibubarkannya Masjumi pada bulan Agustus 1960 itu, NU yang telah menjadi partai politik dan keluar dari keanggotaannya sebagai salah satu partai pendukung Masjumi, tampil sebagai wakil politik Islam. Namun juga memperbesar potensi PKI untuk menguasai massa. PKI tidak hanya berhasil dalam meningkatkan peranannya dalam pemerintahan dan masyarakat, juga lambat laut bekerja sama dengan Presiden lebih erat apalagi karena Presiden tambah lama tambah bergantung pada negara-negara komunis, terutama Cina. Hubungan dengan Cina semakin membuat ekonomi Indonesia terwarnai oleh sistem negara tersebut dan pengaruh orang-

Usaha pemerintah daerah di Aceh mengalami jalan buntu. Dua hari kemudian, 26 Mei 1959, sesudah kebuntuan ini mencapai klimaksnya, Ali Hasjmy dan Letnan Kolonel T. Hamzah dengan sangat cerdik mengambil inisiatif yang akhirnya sampai pada sebuah persetujuan sementara dengan pemimpin-pemimpin Dewan Revolusi NBA-NII yang menerima usul-usul Pemerintah Pusat. Secara tertulis mereka sendiri berjanji kembali ke haribaan Republik dan mengucapkan sumpah setia kepada Undang-Undang Dasar 1945. Realisasi dan aplikasi dari kompromi ini sesungguhnya masih samar-samar. Seperti telah ditetapkan PM Djuanda sebelumnya, otonomi janganlah ditafsirkan sedemikian rupa hingga setiap ketentuan baru yang diadakan akan bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku. Hardi menambahkan di Banda Aceh, masalah apakah masyarakat Islam di Aceh dapat dipaksakan melaksanakan syariat Islam

28

Lihat W.F. Wertheim, Indonesian Society in Transition, (The Hague: W. van Hoeve,

1969).

20 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia orang Cina yang menguasai perekonomian Indonesia.29 Data perjuangan umat Islam yang terentang di atas ini sesungguhnya menggambarkan pergolakan pemikiran dan perjuangan politik umat Islam. pada periode itu, terutama periode menjelang kemerdekaan dan pada masa Demokrasi Liberal, perhatian sebagian besar pemimpin Islam terpusatkan pada persoalan-persoalan Islam dalam hubungannya dengan pembangunan politik-ideologi. Yang berkembang ketika itu, misalnya, konsepsi bahwa Islam itu adalah dinun wa daulah (agama sekaligus terlibat dalam persoalanpersoalan kenegaraan); Islam itu meliputi kehidupan dunya wa alakhirah (dunia dan akhirat) dan lain sebagainya. Apa yang dimaksud sebagai perjuangan politik-ideologi itu adalah Islam sebagai dasar dan ideologi Negara, yang pada awalnya diperjuangkan oleh para pemimpin Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo, KH A. Sanusi, KH Mas Mansyur, Abdul Khahar Muzakir, KH A. Wahid Hasyim, KH Masykur, Sukiman Wirjosandjojo, Abikusno Tjokrosujoso, Agus Salim dan lain sebagainya. Di dalam periode Konstituante (19561959), perjuangan itu dilanjutkan oleh Mohammad Natsir, Masykur, Hamka, Isa Anshary, dan Osman Raliby. Tentang Islam sebagai dasar negara, misalnya, Mohammad Natsir menegaskan pendiriannya bahwa Islam harus dijadikan sebagai dasar negara Indonesia, mengingat mayoritas penduduknya beragama Islam. Menurutnya, Indonesia hanya mempunyai dua pilihan, yaitu sekularisme (la-dieniyah) atau paham keagamaan (dien). Dan menurut pendapatnya, Pancasila bercorak ladieniyah, karena itu ia sekuler, sebab tidak mengakui wahyu sebagai sumbernya. Artinya, Pancasila hanyalah semacam produk non-Tuhan, atau produk setan. Adapun sepanjang menyangkut persoalan pemberian gelar Kepala Negara, Natsir tidak mengikuti tradisi pemberian gelar sebagaimana diwajibkan oleh teori politik Islam klasik, yaitu Khalifah. Baginya, sebutan apa saja boleh. Yang penting, seorang
Lihat lebih lanjut tentang hal ini dalam Dewi Fortuna Anwar, "Indonesia's Relations with China and Japan: Images, Perceptions, and Realities," dalam Contemporary Southeast Asia (Singapore), 12, No. 3, December 1990, hal 225-246.
29

Misi Hardi: Akomodasi Politik Pusat u ntuk Pemberlakuan Syari'at Islam di Aceh

349

rumah kediaman untuk Tgk. M. Daud Beureu`eh di Kutaraja. Akan tetapi Tgk. M. Daud Beureu`eh menolaknya dengan alasan lebih suka berbaur kembali dengan rakyat di Beureuneun, Pidie untuk menghabiskan masa tuanya.10 Dengan turunnya Tgk. Daud Beureu`eh dan pengikutnya maka tuntaslah persoalan keamanan di Aceh berkaitan dengan Pemberontakan DI/TII. Pada waktu yang sama Pemerintah Pusat mengirimkan sebuah misi ke Aceh untuk berunding dengan Dewan Revolusi NBA-NII. Misi ini dipimpin Wakil Perdana Menteri Pertama Hardi, yang di dalamnya termasuk juga Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, Mayor Jenderal Gatot Subroto dan Menteri Kestabilan Ekonomi tanpa Portofolio, Kolonel Suprajogi.
Susunan Missi Pemerintah RI Untuk Penyelesaian Pemberontakan DI/TII A ceh Tanggal 23-26 Mei 195911 1. Mr. Hardi: Wakil Perdana Menteri I 2. Mr. Sugianto: Pembantu Wakil Pedana Menteri I 3. Kol. Suprajogi: Menteri Negara Urusan Stabilitas Ekonomi 4. Jend. Mayor Gatot Subroto: Wakil KASAD 5. Ahmad: Biro Keamanan 6. Mayor Kaswadi: Pembantu (MBAD) 7. Kapten Suhut Alimuddin: Pembantu (Musek) 8. Sutedjo: Pengawal 9. Mayor Arjono: Geni Angkatan Darat 10. S.K. Bonar: Kementerian Penerangan 11. Overste Wilujo: MBAD 12. Lts. P.M. Sudibjo: Pembantu Pribadi Wakil KASAD 13. Abubakar Adami: Kementerlan Agama
10 11

M. Isa Sulaiman, op.cit., hlm. 440-456.

Hardi, Daerah Istimewa Aceh: Latarbelakang Politik dan Masa Depannya, (Jakarta: Citra Panca Serangkai, 1993), bagian lampiran.

348

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

21

Gubernur Ali Hasjmy dan Pangdam M. Yasin, yang menggantikan Syamaun Gaharu, juga melanjutkan pendekatan-pendekatan untuk membujuk mereka supaya turun. Usaha mereka memperoleh hasil dengan kembalinya satu per satu pimpinan pemberontak ke pangkuan Ibu Pertiwi. Pada tanggal 27 Maret 1961 pimpinan pemberontak di Aceh Besar, A. Wahab Ibrahim dan Sulaiman Ahmad menyerahkan naskah penyerahan diri mereka melalui Bupati Aceh Besar Zaini Bakri. Di Aceh Barat pimpinan pemberontak, M. Yunus Ali, Tgk. Main Idris dan Tgk. Hasan Hanafiah secara berturut-turut pada bulan Maret, Juni dan Juli 1961 dengan para pengikutnya kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Di Aceh Utara M. Thaher Mahmud, Komandan Resimen II Samudra beserta Kepala Stafnya dan 2.477 personelnya kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi tanggal 9 Mei 1961. Demikian juga pimpinan pemberontak Aceh Timur seperti Gazali Idris dan O. K. Husen tanpa menunggu persetujuan Wali Negara telah melapor untuk menyerahkan diri. Hal serupa juga diikuti nantinya oleh PM Hasan Ali dan Sulaiman Daud beserta seluruh pengikutnya juga menyerahkan diri. Setelah para pengikutnya beramai-ramai menyerahkan diri maka posisi Tgk. Daud Beureu`eh semakin terpojok. Surat menyurat maupun negosiasi melalui utusan antara Kolonel M. Yasin Ali Hasjmy dengan Tgk. Daud Beureu`eh terus dilakukan untuk membujuk Tgk. Daud Beureu`eh turun. Proses yang cukup panjang ini akhirnya berhasil setelah Tgk. M. Daud Beureu`eh yang akhirnya bersedia turun. Proses penjemputan Tgk. Daud Beureu`eh dilakukan tanggal 9 Mei 1962 yang dipimpin oleh Kepala Staf Kodam Iskandar Muda Letkol Nyak Adam Kamil. Turut meyerahkan diri bersama Tgk. Daud Beureu`eh adalah pengikut setianya Ilyas Leube dan Hasballah Daud beserta sekelompok kecil pengiktnya. Rombongan Tgk. Daud Beureu`eh memasuki Kutaraja persis pada Hari Raya Idul Adha di Mesjid Raya Kutaraja. Pada tanggal 21 Mei 1962 diselenggarakan sebuah upacara selamatan di pendopo gubernuran untuk memperingati secara khidmad berakhirnya pemberontakan yang sudah berlangsung hampir sembilan tahun itu. Sebagai penghormatan terhadap dirinya, Pemerintah menyedikan

ke-pala negara memiliki sifat, hak dan kewajiban yang sesuai dengan ajar-an agama Islam, di antaranya adalah dengan memberlakukan prinsip-prinsip syura (musyawarah) yang dikembangkan dan disesuaikan menurut hasil ijtihad umat. Demikian, corak pemikiran politik Islam Indonesia yang tidak terikat oleh tradisi politik Islam klasik, melainkan bersiteguh pada esensi ajaran Islam yang menyangkut masalah kene-garaan dan kepemerintahan. Tidak satu pun keinginan para pemimpin Islam, dalam hal ini Islam sebagai dasar dan ideologi negara, terwujud. Kendatipun demikian, hal ini tidak menjadikan proses Islamisasi terhenti sama sekali. Pada masa Soekarno, kendatipun banyak menggariskan kebijaksanaan politik yang kurang menguntungkan perkembangan politik Islam, sebagian langkahnya cukup berarti untuk dinilai sebagai gerak Islamisasi birokrasi. Gagasan-gagasannya untuk menyelenggarakan peringatan hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi, Israj Mi'raj, Nuzul Qur'an dan lain sebagainya di lingkungan Istana Merdeka, serta upaya membangun mesjid Istana Baiturrahim dan Masjid Istiqlal yang megah itu, merupakan kegiatan yang secara tidak langsung mengarah pada adanya proses 'ofisialisasi Islam'. Jika boleh disimpulkan, sementara pemimimpin Islam berusaha keras agar gagasan tentang Islam sebagai dasar dan ideologi negara diterima, Soekarno, untuk maksud perimbangan kekuasaan, melakukan gerak ofisialisasi Islam. Karenanya, da-pat dikatakan bahwa perkembangan Islam pada masa Soekarno hanya menampilkan dimensi eksoterismenya saja. Yang menarik dari penjelasan tentang pola-pola pemikiran politik umat Islam pasca kemerdekaan ini adalah munculnya beberapa asumsi tentang persatuan dan perpecahan umat Islam dalam hubungannya dengan persoalan politik-pemerintahan, kekuasaan, dan pemahaman keagamaan itu sendiri. Di bidang politik, sepanjang hal itu menyangkut perjuangan untuk mendirikan negara Islam, terutama pada masa pasca kemerdekaan dan Demokrasi Liberal, karena sifat liberalisasi politik Indonesia ketika itu, umat Islam bersatu untuk membuat gagasan

22 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia tersebut berhasil. Sementara itu, perkembangan partai politik Islam Masjumi yang berjalan dengan sistem alokasi peran dan kekuasaan yang tidak memuaskan sementara pihak, dalam sejarah telah dianggap sebagai faktor perpecahan. Hal ini nampak benar pada kasus keluarnya PSII dan NU dari Masjumi. Kenyataan demikian, menimbulkan asumsi lain, bahwa sepanjang menyangkut kekuasaan, umat Islam cenderung melupakan prinsip ukhuwwah Islamiyah (persatuan), cita-cita bersama dan lain sebagainya. Kenyataan ini tampak pada upaya Masjumi untuk membuat PSII dan NU merasa tidak puas dengan alokasi peran dan kekuasaan yang dirancang. Maka beberapa pentolannya kemudian merancang sistem politik sendiri yang dirasa memuaskan, yaitu sistem politik Islam. Langkah-langkah ke arah itu dilakukan dengan sangat seksama oleh SM Kartosoewirjo dengan tulisan-tulisannya30 dan Teungku M. Daud Beureu`eh dengan orasi-orasinya di berbagai tempat sepanjang pesisir timur, utara hingga ke barat dan selatan Aceh. Sementara itu, NU yang telah mengubah dirinya menjadi partai politik menyadari kegagalan demi kegagalan perjuangan politik Islam yang bersifat oposan terhadap kekuasaan pemerintahan, tampil dengan manuver-manuver politik yang sama sekali baru. Dalam perjalanannya sebagai partai politik pada periode Demokrasi Terpimpin, NU tampil sebagai partner pemerintah dalam pembangunan politik nasional, dengan harapan mendapatkan kedudukan politik tertentu seperti pos Departemen Agama. Untuk mempertahankan alokasi itu,
30 Lihat misalnya SM Kartosoewirjo, Sikap Hidjrah PSII, (Malangbong, Batavia-C: Madjlis Tahkim Partai Sjarikat islam Indonesia, 1936); juga SM Kartosoewirjo (Karma Yoga), Pedoman Dharma Bhakti, Jilid I dan II, (Malangbong: Penerbit Dewan Penerangan Masjoemi Daerah Priangan, 1951); dan SM Kartosoewirjo, Haloean Politik Islam, (Malangbong: Penerbit Dewan Penerangan Masjoemi Daerah Priangan, 1946). Untuk Aceh, lihat Teungku M. Daud Beureu`eh, Dakwah, naskah ketik tak diterbitkan, 1961; Teungku M. Daud Beureu`eh, Merdekakanlah Bathinmoe! Katakanlah jang benar walau pahit sekalipoen, dalam Sang Saka: Kenangan Berlangsungnya Konferensi Daerah jg Kedoea, (Koetaradja: Badan Penerangan Markas Daerah Pesindo Atjeh, 1946; Teungku M. Daud Beureu`eh, Muqaddimah Pelaksanaan Unsur-Unsur Sjariat Islam, naskah ketik tak diterbitkan, 1962.

Misi Hardi: Akomodasi Politik Pusat u ntuk Pemberlakuan Syari'at Islam di Aceh

347

pihak. Meskipun proses realisasi persetujuan sedang berjalan, namun Pemerintah berpendirian bahwa tugas Dewan Revolusi telah selesai. Pada tanggal 8 Juni 1960 Menteri Keamanan Nasional/KSAD A. H. Nasution mengirimkan instruksi kepada Kodam I Iskandar Muda yang berisi petunjuk lanjutan pemulihan keamanan di Aceh. Dalam instruksi itu dia perintahkan supaya Dewan Revolusi dibubarkan terhitung 1 Juli 1960 dan tugasnya dialihkan kepada Peperda/Panglima Kodam I Iskandar Muda. Selanjutnya pemberontak yang belum menggabungkan diri hingga tanggal tersebut masih diberikan kesempatan untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dan Penampungan mereka tetap didasarkan kepada keputusan KSAD No. Kpts 264/4/1960 tanggal 15 April 1959.

Pembubaran Dewan Revolusi baru terlaksana pada tanggal 28 Juli 1960. Berdasarkan petunjuk dari KSAD, lima personalianya diberi tugas baru. A. Gani Usman diangkat menjadi angota DPRD I Aceh. Husin Yusuf dikembalikan statusnya kenjadi Kolonel TNI pensiun sebagai anggota MPRS, Tgk. A. Husin Al Mujahid diangkat menjadi penasehat PPN di Idi, T. M. Amin diangkat kembali pada kantor Gubernur, dan Hasan Saleh sambil menunggu proses lanjutan diangkat sebagai Perwira Staf Pribadi Kodam I Iskandar Muda.8 Menurut M. Nur El Ibrahimy, setelah direhabilitasi kembali ke dalam TNI dengan pangkat Kolonel, tidak lama kemudian dipensiunkan, dan kepada dia dan kawankawannya diberi sebuah kebun teh bekas milik Inggris di Sukabumi sebagai tempat penampungan.9 Dengan demikian pulihlah keamanan sebagian wilayah Aceh terutama wilayahwilayah yang dikuasai oleh Dewan Revolusi.
Usaha selanjutnya untuk memulihkan keamanan di Aceh dengan menekan posisi sisa-sisa pemberontak pimpinan Tgk. Daud Beureu`eh yang belum mau menyerahkan diri. Di samping operasi militer,
8 9

Ibid. hlm. 435.

Lihat M. Nur el-Ibrahimy, Peranan Teungku Muhammad Daud Beureu`eh dalam Pergolakan di Aceh, (Jakarta: Media Dakwah, 1992), hlm. 203.

346

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

23

Daerah. Unsur militernya diterima dalam pasukan Tgk. Chik Ditiro dan mereka yang dahulu berasal dari pegawai negeri akan direhabilitasi status kepegawaiannya sesuai dengan ketenuan yang berlaku. Di samping itu WKPM Hardi menyerahkan bantuan dana pembangunan sebesar Rp. 88.400.000,Keesokan hari Kastaf Kodam A Letkol. T. Hamzah dan Gubernur Ali Hasjmy mengeluarkan pernyataan bersama yang mengandung 11 butir menguraikan kronologis perundingan dan keputusan yang diambil, yang disebarluaskan kepada masyarakat. Untuk merealisasikan keputusan tersebut mereka menghimbau agar semua pemberontak turun ke pangkuan Ibu Pertiwi dan semua aparat Pemerintah baik sipil maupun militer agar menyesuaikan diri dengan perkembangan baru.6 Pihak Dewan Revolusi dan Kol. Syamaun Gaharu Ali Hasjmy terus mengusahakan tundak lanjut dari keputusan Misi Hardi yang berjalan lamban. Dalam pertemuan tanggal 29 September dan 1 Oktober 1959 di Aula Peperda Aceh telah menghasilkan suatu Persetujuan Bersama yang ditandatangani oleh keempat mereka. Adapun butir-butir penting persetujuan itu adalah penegasan kembali komitmen mereka untuk memperjuangkan legalitas perundang-undangan terhadap status Daerah Istimewa, merealisasi pembentukan batalyon pasukan Tgk. Chik Ditiro di bawah Komandan Hasan Saleh yang tunduk langsung di bawah Kodam A Iskandar Muda dengan masa peralihan selama 2 tahun, berusaha secepatnya merealisasi kan rehabilitasi dan penampungan pegawai/polisi eks NBA-NII ke tubuh Pemerintah, dan berusaha untuk menampung mereka yang tidak tertampung pada perusahaan-perusahaan.7 Walaupun tidak semulus seperti yang dibayangkan sebelumnya, namun proses realisasi persetujuan terus dilakukan oleh kedua belah

tak jarang NU melangkah terlalu jauh, meninggalkan prinsip-prinsip yang ada pada partai-partai Islam lainnya. Kesediaan NU untuk menyuarakan perjuangan Darul Islam sebagai bughat (pemberontakan) dan menerima Nasakom, merupakan indikasi betapa organisasi ini berusaha keras untuk dapat tetap menjadi partner pemerintah, karenanya tetap mendapatkan alokasi kekuasaan dalam struktur pemerintahan. Perebutan demi alokasi kekuasaan yang sempit ini harus dibayar dengan kekalahan demi kekalahan politik Islam secara keseluruhan. Sekali lagi, kelompok Islam secara simbolik berhasil dikalahkan. Dan di balik kekalahan simbolik itu, selama masa Demokrasi Terpimpin di bawah Soekarno, artikulasi legalistik/formalistik gagasan dan praktik politik Islam, terutama gagasan Islam sebagai dasar ideologi negara, mulai menunjukkan implikasi-implikasi bawaannya yang lebih negatif. Kecuali NU, yang segera mengarahkan kembali orientasi politiknya dan menerima Manipol Usdek-nya soekarno, kekuatan politik Islam menurun drastis. Para pemimpin Masjumi khususnya, yang sejak awal dis-kursus ideologi di indonesia dipandang sebagai pendukungpendu-kung sejati gagasan negara Islam, dijebloskan ke dalam penjara karena oposisi mereka terhadap rezim yang terus berkelanjutan. Dan akhirnya, Soekarno membubarkan Masjumi pada tahun 1960 dengan alasan bahwa beberapa pemimpin utamanya (seperti Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara) terlibat dalam pemberontakan PRRI. Seba-gaimana dikatakan oleh Natsir, selama masih ada kebebasan partai, selama itu demokrasi ditegakkan. Kalau partai dikubur, demokrasi pun otomatis akan terkubur, dan di atas kuburan ini hanya diktatur yang akan memerintah. Kedekatan nilai-nilai Islam dengan demokrasi, bagi kalangan politisi parlementer Islam ketika itu, dapat kita lihat seperti zat dengan sifat Tuhan. Sepeninggal Masjumi, politik Islam yang ber-langsung adalah politik penyesuaian diri. Di antara partai-partai Islam di Indonesia, tiga partai yaitu NU, PSII dan Perti berhasil bertahan hidup selama periode Demokrasi Terpimpin. Keberhasilan partai-partai ini bertahan karena mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan Demokrasi Terpimpin seperti yang dikehendak Presiden Soekarno.

6 7

M. Isa Sulaiman, op. cit. hlm. 418.

Lihat Persetujuan Bersama Kutaraja, 1 Oktober 1959 A.n. Dewan Revolusi (Gerakan Revolusioner Islam Aceh), Kodam Aceh Iskandar Muda dan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh.

24 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia Melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Dewan Konstituante dibubarkan, dan Presiden mendekritkan berlakunya kembali UUD 1945.31 Dengan dekrit itu, otomatis persoalan Piagam Jakarta terungkit kembali. Untuk itu, Presiden memutuskan bahwa Piagam Jakarta mempunyai hubungan kesejarahan khusus dengan Undang-Undang Dasar (UUD), karenanya dianggap sebagai suatu bagian integral dari UUD itu sendiri. Pengakuan semacam ini terhadap Piagam Jakarta dapat di-artikan sebagai indikasi adanya posisi khusus yang dimiliki umat Islam. Dan tampaknya umat Islam, baik dikarenakan oleh problematika intern yang mereka hadapi, seperti konflik-konflik keagamaan, konsep politik yang tidak begitu jelas dan lain sebagainya, membuat mereka tidak begitu tanggap dalam mempergunakan kemunculan pengakuan terhadap Piagam Jakarta yang kedua kalinya itu. Di sinilah politik ketakutan akan mayoritas dari kalangan minoritas yang ademokratis ikut memainkan peran. Keprihatinan terhadap kemungkinan bahwa kelompok Islam akan memenangkan pemilihan umum menyebabkan para pemimpin dan aktivis politik kelompok na-sionalis meninjau kembali strategi mereka berkenaan dengan penye-lenggaraan pemilihan umum. Dalam hal ini, salah satu pilihan yang paling memadai adalah menunda waktu penyelenggaraan pemilihan umum.32 Seperti dinyatakan A.R. Djokoprawiro dari Partai Indonesia Raya (PIR), strategi partainya adalah menunda pemilihan umum sam-pai posisi para pendukung Pancasila lebih kuat. Pemimpin-pemimpin lain seperti Soekarno, yang saat itu kepala negara, berusaha keras mempengaruhi diskursus politik negara untuk mendukung politik yang sudah di-dekonfessionalisasi. Pada 27 Januari 1953, dalam safari politiknya di Amuntai (terletak di sebelah selatan Kalimantan yang komunitas Muslimnya sangat kuat), ia mengingatkan para pendengar-nya akan pentingnya upaya
Dekrit Presiden, 5 Juli 1959. Bahan Penataran P-4 bagi mahasiswa, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1988), hlm. 503.
32 31

Misi Hardi: Akomodasi Politik Pusat u ntuk Pemberlakuan Syari'at Islam di Aceh

345

Pemerintah sebesar Rp. 1000,- per orang per-bulan dalam masa peralihan selama 1 tahun, tun-tutan pemberian amnesti, abolisi dan rehabilitasi dari presiden, tun-tutan pembubaran badan legislatif daerah yang telah dibentuk tahun 1957 untuk disusun anggota baru dan tuntutan pembangunan ge-dung perdamaian dan kampus Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry dan upacara perdamaian yang dihadiri oleh berbagai tokoh ma-syarakat Aceh selama 3 hari yang disaksikan oleh Pemerintah Pusat.4 Semua ini tak akan diberikan tanpa pemberontakan lebih dahulu. Se-harusnya, secara etis, sebuah pemerintahan pusat yang baik dan kuat mesti membangun semua yang menjadi aspirasi rakyat tanpa harus dituntut melalui jalan-jalan non-damai. Setelah melalui perdebatan yang cukup alot akhirnya tercapai juga beberapa kesepakatan dasar tanggal 26 Mei 1959 dalam bentuk pernyataan tertulis yang ditandatangani oleh A. Gani Usman, A. Gani Mutiara, dan Kol. Hasan Saleh yang diserahkan kepada WKPM Hardi5. Isi pernyataan tersebut adalah pernyataan setia kepada UUD 45, peleburan NBA sipil/militer ke dalam tubuh Republik dan harapan bahwa sesuatu yang belum dapat disepakati dalam pertemuan itu akan dilan-jutkan pembicaraannya. Setelah itu WKPM Hardi pun mengeluarkan keputusan Perdana Menteri RI No. 1/Misi/1959 Tanggal 26 Mei 1959 tentang perubahan Daerah Swatantra Tk. I Aceh menjadi Daerah Istimewa Aceh dengan catatan bahwa daerah ini tetap berlaku ketentuan-ketentuan mengenai Daerah Swatantra Tk. I seperti termuat dalam UU No. 1 Tahun 1957 Tentang Pokok-Pokok Pemerintahan

Lihat Naskah Perdamaian Darussalam Tentang Penyelesaian Persengketaan Bersenjata antara Pihak NBA dengan RI di Aceh, Dewan Revolusi NBA-NII, Aceh Darussalam 10 Mei 1959. Lihat juga M. Isa Sulaiman, Ibid., hlm. 416.
5 Menurut Hasan Saleh, persoalan yang hampir menggagalkan perundingan tersebut adalah masalah penyerahan pernyataan tertulis mereka kepada Hardi. Hardi menginginkan naskah itu diserahkan dulu untuk dibawa ke Jakarta kemudian baru diproses, sebaliknya Hasan Saleh tidak mau sampai tuntutan mereka dipenuhi. Hasan Saleh, Mengapa Aceh Bergolak, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1992), hlm. 364.

A. Hakim Dalimunthe, Gerak-gerik Partai Politik, (Langsa: Gelora, 1951).

344

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

25

Proses akomodasi politik terhadap gerakan Darul Islam Aceh bermula dari keputusan berunding yang diambil oleh Dewan Revolusi. Sesuai dengan Komunike No. 2 Dewan Revolusi, kelompok Hasan Saleh melanjutkan musyawarah dengan Pemerintah Republik Indonesia. Demikian juga Pemerintah Pusat menyambut baik kebijakan tersebut. KSAD A. H. Nasution melalui suratnya tanggal 15 April 1959 kepada Kolonel Syamaun Gaharu menyatakan persetujuannya untuk menampung maksimum 10.000 mantan pemberontak ke dalam tubuh militer Republik dengan catatan harus melalui proses peralihan Wajib Militer Darurat (WMD) selama 1 tahun dan kemudian baru diseleksi persyaratannya untuk diproses menjadi tentara sukarela.2 Selanjutnya pada tanggal 23 Mei 1959 Pemerintah Pusat mengirim sebuah Misi ke Kutaraja di bawah pimpinan WKPM Hardi yang terdiri atas beberapa Menteri dan Pejabat dari berbagai Instansi. Misi ini lebih dikenal dengan sebutan Misi Hardi.3 Pertemuan Misi Hardi dengan Dewan Revolusi NBA-NII berlangsung di Aula Peperda Aceh tanggal 25-26 Mei 1959. Setelah pembukaan oleh Gubernur Ali Hasjmy perundingan dilanjutkan dengan mem-bahas isu pokok perundingan yang telah disiapkan oleh Dewan Revo-lusi tanggal 10 Mei 1959. Naskah setebal 20 halaman ditambah 3 ha-laman lampiran itu dengan butir-butir isi pentingnya adalah perubah-an status Provinsi Aceh menjadi Daerah Istimewa Aceh Darussalam, tuntutan penyusunan kembali aparatur Pemerintah Daerah, otonomi dalam bidang agama berupa pelaksanaan syariah, pengesahan peradilan agama dan pengajaran pelajaran agama di sekolah umum, tuntutan penampungan mantan TII ke dalam Legiun Aceh Tgk. Chik Ditiro sebanyak 7 batalyon, mantan pegawai dan polisi pemberontak direhabilitasi dan diterima ke dalam pegawai/polisi RI dan sisanya disalurkan dalam perusahaan, tuntutan biaya hidup dari

mempertahankan Indonesia sebagai negara kesatuan nasional. Negara yang kita inginkan, katanya, ada-lah sebuah negara nasional yang mencakup seluruh Indonesia. Jika kita mendirikan negara yang di dasarkan atas Islam, beberapa wilayah yang penduduknya bukan Muslim, seperti Maluku, Bali, Flores, Timor, Kepu-lauan Kai, dan Sulawesi, akan melepaskan diri. Dan Irian Barat, yang belum menjadi bagian dari wilayah Indonesia, Akan tidak mau menjadi bagian dari Republik. Ketika pesta demokrasi yang pertama berlangsung (1955) kelompok Islam hanya menguasai 43,5% kursi di Parlemen membuat mereka sulit untuk segera memutuskan apakah mereka akan terus mendesakkan gagasan Islam sebagai dasar ideologi negara atau tidak. Para poli-tisi Islam menghadapi dilema berat antara agama dan politik. Secara keagamaan, seperti ditunjukkan oleh salah seorang pemimpin mereka, mereka digerakkan oleh kewajiban transendental untuk menghadirkan watak holistik Islam ke dalam realitas. Secara politis, bagaimanapun mereka tetap harus menunjukkan bahwa mereka adalah politisi-politisi yang tidak mengingkari janji mereka dalam kampanye. Setidak-tidak-nya, sementara pada akhirnya akan menerima Pancasila sebagai ideologi negara, upaya mendesak dijadikannya Islam sebagai dasar ideologi negara berfungsi sebagai alat tawar-menawar politik untuk memenangkan tujuan-tujuan politik yang lebih kecil (yakni dilegalisasikannya kembali Piagam Jakarta dan Islam sebagai agama negara). Pada tanggal 4 Agustus 1949 disusun Delegasi Indonesia yang akan mengikuti perundingan-perundingan dengan Belanda di Den Haag selama Konferensi Meja Bundar. Bertepatan dengan itu Moh. Hatta menyarankan kepada Muhammad Natsir untuk mengadakan hubungan dengan Kartosoewirjo, agar Kartosoewirjo menghentikan semua permusuhan terhadap angkatan Bersenjata Republik. Kemudian

Lihat Keputusan KSAD No. 264/4/1960 Tanggal 15 April 1959 Tentang Penampungan eks DI/TII. 3 M. Isa Sulaiman, Sejarah Aceh: Sebuah Gugatan Terhadap Tradisi, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1997), hlm. 415.

26 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia Muhammad Natsir menugaskan A. Hassan33 seorang pemimpin Persis (Persatuan Islam) yang juga mengenal Kartosoewirjo untuk menyampaikan surat yang dibuat oleh M. Natsir dengan menggunakan kertas surat hotel, surat tersebut tidak dianggap sebagai surat resmi, dan ditahan selama tiga hari sebelum diteruskan kepada Kartosoewirjo.34 Sementara itu, Islam modern mencapai puncak-puncak baru. Pada tahun 1923 sekelompok pedagang mendirikan Persatuan Islam di Bandung. Pada tahun 1924 seorang Tamil kelahiran Singapura bernama A. Hassan (lahir tahun 1887) yang beribukan orang Jawa bergabung dengan organisasi tersebut. Pembelaannya yang gigih terhadap doktrin-doktrin Islam Modern, kecamannya terhadap segala sesuatu yang berbau takhyul (yaitu banyak dari apa yang diterima sebagai Islam yang sebenarnya oleh kaum muslim lokal), perlawanannya yang berapi-api terhadap nasionalisme dengan alasan bahwa nasionalisme telah memecah belah kaum muslim daerah yang satu dengan daerah lainnya, kesemuanya itu membenarkan julukan organisasi tersebut, yaitu 'Persis' (berdasarkan atas kata Belanda precies, yaitu tepat). Hal ini mengakibatkan keluarnya banyak anggota kelompok ini yang lebih moderat; pada tahun 1926 mereka mendirikan organisasi tersendiri yang bernama Permufakatan Islam.35 Pada tanggal 6 Agustus 1949 Mohammad Hatta berangkat ke Den Haag untuk mengikuti Konferensi Meja Bundar yang dimulai 12 hari kemudian. Kejadian ini bagi Kartosoewirjo merupakan pertanda untuk bertindak, karena dengan keberangkatan Hatta ke Holland baginya kini

Bab XII

MISI HARDI: AKOMODASI POLITIK PUSAT UNTUK PEMBERLAKUAN SYARIAT ISLAM DI ACEH

emberontakan, melihat dari cara dan latar-belakang ideologis yang memicu terjadinya, sangat sedikit yang dapat memberikan manfaat bagi rakyat. Tetapi, tidak demikian halnya dengan Aceh, pembe-rontakanlah yang telah banyak mengubah status dan akomodasi po-litik, sosial dan ekonomi bagi daerah, khususnya bagi rakyat Aceh.1 Bagi Angkatan Darat sendiri, pemberontakan DI sangat dipahami karena kekecewaan terhadap unsur sipil dalam negara [RI] yang se-dang dalam masa pembinaan ketika itu. Surat-menyurat antara DI Aceh dengan TNI-AD jauh lebih lancar ketimbang dengan para pejabat setingkat menteri atau Perdana Menteri atau Presiden dan Wakil Presiden. Bagaimana pun akan diakui bahwa ini adalah kekecewaan yang bersumber dari kalangan internal militer Republik sendiri, terutama yang berada di daerah.
1 Pihak Angkatan Darat, AH Nasution pernah menjanjikan kepada Hasballah Daud ketika membawa surat Teungku M. Daud Beureu`eh ke TNI-AD di Jakarta bahwa Untuk Aceh akan di beri status Daerah Istimewa, sungguh daerah-daerah lain tak di berikan. Ini akan saya bawa kepada pemerintah pusat dan kepada presiden. Lihat Amelz, Riwayat Atjeh Bangoen dari Tidoernja jang Njenjak Sesoedah Beberapa Tahoen Lamanja, (Pidie, naskah ketikan, t.t.), hlm. 128.

Tentang A. Hasan Bandung, lihat S.A. Mugni, Hasan Bandung, Pemikiran Islam Radikal, (Surabaya: Bina Ilmu, 1980). Lihat Yusuf Abdullah Puar, dkk., Muhammad Natsir 70 tahun: Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan, (Jakarta: Pustaka Antara, 1978, hal. 185).
35 34

33

M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern (terj.), (Yogyakarta: Gadjah Mada University

Press, 1993), hal. 268-269.

342

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

27

terdapat vakuum kekuasaan36 Tetapi tentunya Kartosoewirjo juga bermaksud untuk menghadapkan Hatta pada suatu fait accompli sebelum Konferensi Meja Bundar di Den Haag dimulai. Kemudian Kartosoewirjo sekali lagi menandaskan perlunya berdiri Negara Islam Indonesia dalam masa vacuum of power dengan mengeluarkan Maklumat Pemerintah NII No.II/7 yang berbunyi:
Bismillahirachmannirrachim MAKLOEMAT PEMERINTAH Negara Islam Indonesia No. II/7 Sjahdan, maka perdjoeangan kemerdekaan nasional, jang dimoelaikan dengan Proklamasi berdirinja Repoeblik Indonesia, 17 Agoestoes 1945, soedahlah mengachiri riwajatnja. Orang boleh memberi tafsir jang moeloek2, jang memboeboeng tinggi menemboes angkasa; orang boleh tjari lagi alasan2 jang lebih litjin, lebih juridis, lebih staatsrechtelijk, lehin volkenrechtelijk; tetapi meski dipoetar balik betapa poela, dengan lakoe jang serong dan alasan jang tjurang sekalipoen, orang tak koeasa membalik hitam mendjadi poetih, bathil mendjadi haq, haram mendjadi halal sepandai-pandai manoesia bersilat, tidaklah ia koeasa membalik Timoer mendjadi Barat! Setinggi-tinggi bangau terbang, kembali kekoebangan djoega. Maka Repoeblik djatoeh poela kepada tingkatan sebeloem proklamasi; kembali kepada pokok-pangkal pertama, di tangan moesoeh, di tangan Belanda pendjadjah. Alhamdoelillah, pada saat kosong (vacuum), saat di mana tiada kekoeasaan, dan pemerintahan jang bertanggoeng jawab (gezags en regringsvacuum), maka pada saat jang kritis (membahajakan) dan psychologisch lemah itoelah Oemmat Islam Bangsa Indonesia memberanikan dirinja menjatakan sikap dan pendiriannja jang djelastegas, kepada seloeroeh doenia: Proklamasi berdirinja Negara Islam Indonesia, 7 Agoestoes 1949. Pada saat itoe, maka automatis (dengan
36 Komando Daerah Militer VI Siliwangi, Team pemeriksa Berita Atjara Interogasi I, 16 Juni 1962, hal. 2.

28 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia


sendirinja) perdjoeangan kemerdekaan Indonesia beralih arah, bentoek, sifat, tjorak dan toedjoeannja, mendjadilah: perdjoeangan Islam Indonesia.37

Amnesti dan Abolisi Umum: Cara Halus Sesudah Gagalnya Cara Kasar

341

Setelah bermusyawarah dengan petinggi-petinggi Dewan Imamah dan semua unsur-unsur yang terkait dalam wadah T.I.I., maka dengan kebulatan tekad bersama untuk segera memproklamasikan berdirinya negara Islam di Indonesia, maka pada tanggal 12 Sjawal 1368/7 Agustus 1949 di desa Cidugaleun, kecamatan Cilugalar, kawedanan Cisayong, Garut diproklamasikannya Negara Islam Indonesia yang ditandatangani oleh S.M. Kartosoewirjo sendiri atas nama Umat Islam Bangsa Indonesia. Selengkapnya teks proklamasi NII adalah sebagai berikut:
PROKLAMASI Berdirinja NEGARA Islam INDONESIA Bismillahirrahmanirrahim Asjhadoe anla ilaha illallah wa asjhadoe anna Moehammadar Rasoeloellah Kami, Oemmat Islam Bangsa Indonesia MENJATAKAN: Berdirinja ,,NEGARA Islam INDONESIA Maka hoekoem jang berlakoe atas Negara Islam Indonesia itoe, ialah: HOEKOEM Islam Allahoe Akbar! Allahoe Akbar! Allahoe Akbar! Atas nama Oemmat Islam Bangsa Indonesia Imam NEGARA Islam INDONESIA
37

pun akan habis dalam waktu sebentar. Teungku Daud Beureu`eh adalah tokoh Aceh yang kharismatik, sangat konsisten dan tegas, bahkan ketika senjata banyak pun tidak turun gunung, pun ketika senjata sudah tidak ada dan amunisi sebutir pun tiada, ia masih bersiteguh jalan terus. Sementara itu pasukan-pasukan DI, baik perorangan maupun berkelompok terus juga kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Akhirnya pada tanggal 8 Mei 1962 Tgk. Muhammad Daud Beureu`eh tertangkap karena kehabisan logistik dan amunisi. Namun, beberapa kalangan petinggi militer daerah ketika itu mengubah situasi ini untuk menunjukkan penghormatan kepada tokoh kharismatik Aceh yang sangat disegani ini. Nyak Adam Kamil kemudian menjemputnya untuk menunjukkan situasi damai yang bermartabat bagi rakyat Aceh. Namun sesungguhnya Teungku Daud Beureu`eh sendiri tak pernah turun gunung atau menyerah.25 Sehabis shalat jumat di mesjid Raya Baiturrahman Kutaraja, antara lain beliau mengatakan:
Saya kembali kemasyarakat atas kehendak rakyat, maka saya penuhi dengan baik. Kami tinggalkan perbuatan yang tidak layak lagi setelah 8 tahun 10 bulan dan 27 hari. Bahwa saya Muhammad Daud Beureu`eh, dengan keinginan dan hasrat serta memenuhi kebijaksanaan Panglima KODAM-I Kolonel Mohd. Yasin dan Wakil Menteri pertama bidang Pertahana/Keamanan/Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Abdul Haris Nasution khususnya dan Pemerintah Republik Indonesia pada umumnya serta hasrat masyarakat, kini benar-benar saya telah berada ditengahtengah masyarakat. Dengan ini berarti pula perkelahian antara sesama kita, sesama bangsa selama 8 tahun 10 bulan 27 hari tidak ada lagi.26

Dengan demikian penyelesaian keamanan diseluruh Aceh selesai sama sekali sehingga Panglima Kolonel M. Yasin mencanangkan bahwa Aceh telah berobah dari Darul Harb Ke Darussalam, yang diucapkan pada upacara 17 Agustus 1961 di Langsa, Aceh Timur. ***

Wawancara-wawancara dengan Masnur, Banda Aceh, dari tanggal 14 Juni hingga 7 Agustus 2006.
26

25

Pinardi, Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo, (Jakarta: Aryaguna, 1964), hlm. 72-73.

Ibid.

340

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

29

juga perwira tinggi yang menyerah mengakibatkan DI hanya dipertahankan oleh sangat sedikit orang: Pada tanggal 2 November 1961 Panglima Kolonel M. Yasin melakukan pertemuan langsung dengan Tgk. Muhammad Beureu`eh di Langkahan Aceh Timur. Panglima disertai oleh As-I Kakosdam-I Kapten A. Manan S, As-3 Kakosdam-I Kapten Maito Mukmin, Dan Dim 0103 Letkol H.M. Syarif, Dan Yonif 136 Mayor Usman Nyak Gade, Pa. Pendam-I Kapten Mohd. Syah Asyik dan 5 orang wartawan dari Medan. Tanggal 21 November 1961 Koda mengutus Kepala Staf Letkol Nyak Adam Kamil, As-I Kakosdam-I Kapten A. Manan S, serta Hasballah Daud (salah seorang putra dari Tgk. Muhammad Daud Beureu`eh) membawa surat dakwah Tgk. Muhammad Daud Beureu`eh untuk menghadap Menteri Keamanan Nasional/Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal A.H. Nasution. Utusan diterima MKN/KASAD di STAF KEAMANAN NASIONAL pada jam 11.15 11.45 didampingi oleh Letkol Barkah. Keputusan Teungku Daud Beureu`eh masih tetap, tidak akan turun gunung meskipun banyak prajurit, tamtama dan perwira DI yang menyerah dengan ikut membawa serta senjata. Pertahanan Teungku Daud Beureu`eh pun hanya tinggal beberapa pucuk senjata dan satu bren gun saja. Persediaan amunisi pun sudah tinggal sedikit, logistik makanan pun tinggal 20 are (bambu).23 Pada tanggal 12 Desember 1961 di langsungkan rapat Staf KODAM yang juga dihadiri oleh Polisi dan Brimob. Kemudian untuk lingkungan ABRI di bentuk suatu tim penertib yang diketuai oleh Mayor Ahmad Amins, Dan Dim 0108.24 yang beranggotakan: Mayor Idrus Abbas, dan Dim 0101; Mayor Subiakto Pa. Pomdam-I; Kapten T. Sabi Ubit, Kejaksaan Tentara; Kompol Drs. Suwardi, Kepolisian; AKP. M. Dhaim, Dan Yon Brimob 515; dan, Kompol II Burhanuddin, Kepolisian. TNI menggiring para mujahidin DI/TII ke gunung yang semakin terisolir dan tidak ada kontak dengan masyarakat sehingga supply makanan
Amelz, Riwajat Singkat Atjeh Bangoen dari Tidoernja Jang Njenjak Sesoedh Beberapa Poeloeh Tahoen, (Pidie, naskah ketikan, t.t.), hlm. 106.
24 23

ttd. (S.M. Kartosoewirjo) MADINAH-INDONESIA, 12 Sjawal 1368 / 7 Agoestoes 1949

Naskah proklamasi ini sebenarnya sudah pernah disosialisasikan oleh SM Kartosoewirjo pada awal bulan Agustus untuk direncanakan dikumandangkan pada tanggal 13 dan 14 Agustus 1945. Namun, karena problem sosialisasi dan popularitas personal Kartosoewirjo yang tidak seagung Soekarno, maka naskah ini kemudian diproklamasikan di suatu tempat terpencil, di Gunung Cupu, jauh dari hiruk-pikuk pergerakan, sunyi dari debat popularitas. Proklamasi itu, berbeda dengan proklamasi yang dilakukan oleh Soekarno dan Hatta, pada bagian bawahnya diberi penjelasan yang terdiri atas 10 pasal sebagai berikut:38
Pendjelasan singkat: Alhamdoelillah, maka Allah telah berkenan menganoegerahkan Koernianja jang Maha Besar atas Oemmat Islam Bangsa Indonesia, ialah: Negara Koernia Allah, jang melipoeti seloeroeh Indonesia. Negara Koernia Allah itoe, adalah,,Negara Islam Indonesia. Atau dengan kata lain,,Ad-daoelat-oel-Islamijah atau,,Daroel Islam atau dengan singkatan jang sering dipakai orang,,D.I. selandjoetnja hanja dipakai satoe istilah jang resmi, jani,,NEGARA Islam INDONESIA. Sedjak boelan September 1945, pada ketika toeroennja Belanda di Indonesia choesoes di Poelau Djawa, atau seboelan kemoedian daripada Proklamasi berdirinja,,Negara Repoeblik Indonesia maka revoloesi Nasional jang dimoelai menjala pada tanggal 17 Agoestoes 1945 itoe, meroepakan,,perang sehingga sedjak masa itoe seloeroeh Indonesia di dalam Keadaan Perang. Negara Islam Indonesia toemboeh di masa perang, di tengah-tengah revoloesi Nasional, jang pada achir kemoediannja, setelah Naskah Renville dan Oemmat Islam bangoen serta berbangkit melawan keganasan
38 Lihat S.M. Kartosoewirjo, Pedoman Dharman Bhakti, jilid 1, (Batavia-C: Bagian Penerangan Masjumi Daerah Priangan, 1951).

Dua Windhu Kodam I., hlm. 156.

30 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia


pendjadjahan dan perboedakan jang dilakoekan oleh Belanda, beralih sifat dan woedjoednja mendjadilah Revoloesi Islam atau Perang Soetji. Insja Allah, perang soetji atau revoloesi Islam itoe akan berdjalan teroes hingga: N.I.I. berdiri dengan sentaoesa dan tegak tegoehnja, keloear dan ke dalam 100% de-facto dan de jure di seloeroeh Indonesia. Lenjapnja segala matjam pendjadjahan dan perboedakan. Teroesirnja segala moesoeh Allah, moesoeh Agama dan moesoeh N.I.I. d. Hoekoem2 Islam berlakoe dengan sempoerna di seloeroeh N.I.I. Selama itoe,,N.I.I. meroepakan: Negara Islam di masa Perang, atau Daroel Islam Fi Waqtil-Harbi. Maka segala Hoekoem jang berlakoe dalam masa itoe, di dalam lingkoengan N.I.I. ialah Hoekoem Islam di masa Perang. Proklamasi ini disiarkan ke seloeroeh doenia, karena Oemmat Islam Bangsa Indonesia berpendapat dan berkejakinan bahwa kini adalah tiba saatnja melakoekan wadjib soetji, jang seroepa itoe bagi mendjaga keselamatan N.I.I. dan segenap Raiatnja, serta bagi memelihara kesoetjian Agama, teroetama sekali bagi,,Mendhohirkan Keadilan Allah di Doenia. Pada dewasa ini Perdjoeangan Kemerdekaan Nasional jang dioesahakan selama hampir boelat 4 (empat) tahoen itoe kandaslah soedah. Semoga Allah membenarkan Proklamasi Berdirinja Negara Islam Indonesia itoe, djoea adanja. Insja Allah Amin. Bismillahi . Allahoe Akbar.39

Amnesti dan Abolisi Umum: Cara Halus Sesudah Gagalnya Cara Kasar

339

dari: H. Ibnu Saadan, residen dp. Gubernur Aceh; Mayor M. Daud Hasan, WAKASDAM-I/Iskandarmuda; Dr. T. Iskandar, Universitas Syiah Kuala; Gani Usman, Wakil Ketua DPH Aceh; T. Ali Keurukon, anggota BPH Aceh; T. Usman Yakub, Wali Kota Kutaraja; Zaini Bakri, Bupati Aceh Besar; Ibrahim Abduh, Bupati Pidie; Usman Azis, Bupati Aceh Utara; Wahab, Bupati Aceh Tengah; Tgk. M. Daud, Patih dp. Bupati Aceh Timur; T. Cut Mamat, Bupati Aceh Selatan; Komisaris Muda M. Yusuf, Kepala Kepolisian Aceh Barat ; Tgk. H. Abdullah Ujung Rimba, Ulama; H. Abubakar Ibrahim, Ulama; Pawang Leman21; Nyak Abbas, Patih dp. Bupati Pidie; Tgk. Mahyiddin Yusuf, Ulama; Muzakir Walad, Veteran/angkat 45; Nyak-Na Hamzah, Saudagar; Ismail Usman, Saudagar; A.R. Ahmadi, Pemuda; M. Thahir Mahmud, Pemuda; Hasanuddin, Pemuda; Gazali Idris, Pemuda; Usman, Palang Merah Indonesia; Insya, Buruh; A.R. Chemeng, Wartawan Foto.22 Namun sikap tegas Teungku Daud Beureu`eh masih tetap, tak bergeming untuk menyerah. Pada tanggal 9 Oktober 1961, apa yang menamakan dirinya Perdana Menteri republik Islam Aceh, Hasan Aly, kembali kepangkuan Ibu Pertiwi di Lhok Nibong Aceh Timur, diterima oleh Kepala staf KODAM-I/Iskandarmuda Komando Operasi Mobil Aceh Timur Letkol Nyak Adam Kamil. Laporan ini disaksikan oleh Asisten-1 Kakosdam-I Kapten A. Manan S, Asisten -3 Kakosdam-I Kapten Maito Mukmin, Dan Dim 0104 Letkol Mohd. Nurdin dan Kasdim 0103 Kapten M. Rasyid. Antara tanggal 17 Februari 1961 sampai dengan 10 Desember 1961 jumlah personil DI yang kembali kepangkuan Ibu Pertiwi adalah 12.362 orang dengan 1075 pucuk senjata terdiri dari 28 bren, 24 LMG, 9 bazoka dan 8 mortir. Tanggal 17 Oktober 1961 Pangdam-I selaku penguasa perang daerah mengeluarkan keputusan No. KPTS/Peperda/122/10/1961 ten-tang tuntutan hukuman mati bagi oknum-oknum yang mengganggu keamanan di dalam rangka pemantapan situasi. Banyaknya prajurit dan perwira menengah dan
21

Kumandang proklamasi ini tersiar ke berbagai negara melalui siaran radio dan selebaran naskah proklamasi. Banyak kalangan menyatakan bahwa dengan kumandang proklamasi NII ini, maka arasy40 Allah di langit pun bergetar. Bagi mereka, lahirnya Negara
39 Naskah ini, yang aslinya terdapat di Museum Waspada Purwawisesa, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, juga dapat dilihat di dalam buku Pinardi, Sekarmadji, op.cit., hlm. 74-76.

Arasy (bhs. Arab), artinya kursi atau tahta (throne). Arasy Allah kira-kira sepadan dengan terjemahan Igrris dari The Gods Throne.

40

(Tokoh DI Leupung) Ibid.

22

338

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

31

pembagian kembali provinsi di Indonesia dan dalam hubungan ini sedang mempertimbangkan memberikan Aceh status provinsi.20 Pada akhirnya usul itu ditangguhkan, ternyata untuk jangka waktu yang tiada terbatas, me-nantikan hasil perdebatan mengenai suatu rancangan tentang peme-rintahan daerah yang diajukan Pemerintah yang baru saja mulai. Terus juga terdapat banyak ketidakpuasan mengenai kebijaksanaan Pemerintah dan ketidaksanggupannya menundukkan berbagai jihad suci menegakkan Negara Islam. Politik keamanan Pemerintah jadinya tetap mendapat serangan, dan menyebabkan Jusuf Wibisono dari partai Masyumi umpamanya mengajukan mosi tidak percaya terhadap Peme-rintah. Mosi iniyang dikalahkan dengan mayoritas tipis 115 lawan 92 pada akhir 1954 terus menghidupkan pertentangan tentang Aceh. Ini disebabkan sifat khusus daerah, dan lebih khusus ialah sifatsifat khusus Aceh dan kekuatan Islam di daerah ini, seperti dijelaskan Ali Sastroamidjojo dalam DPR pada 1955. Tidak ada pengumuman keadaan perang, yang membuat militer mengambil alih pimpinan. Di samping itu, sejak mula pemberontakan Pemerintah berjanji menyelidiki masalah otonomi untuk Aceh dan memberikan lebih banyak per-hatian terhadap perkembangan ekonomi daerah. Dalam menyusun ke-bijaksanaannya, Pemerintah harus mempertimbangkan di satu pihak tuntutan PNI dan PKI untuk mengambil tindakan militer yang lebih keras, membatalkan keputusan rehabilitasi yang pernah diberikan oleh Kabinet Burhanuddin Harahap dari Masjumi kepada pamongpraja dan pegawai sipil militer yang pro-gerombolan dan di pihak lain tekanan untuk melakukan perundingan dan memenuhi beberapa tuntutan kaum pemberontak.

Islam Indo-nesia sesungguhnya bukanlah hasil rekayasa manusia, bukan ke-inginan pribadi atau apa pun yang berkaitan dengan kekecewaan per-sonal Kartosoewirjo, melainkan afalullah,41 sesuatu yang sudah dike-hendaki Allah. Bagi kalangan DI, berdirinya Negara Islam Indonesia adalah perbuatan serta program langsung dari Allah SWT. Manakala kita mau mengamati dengan arif dan bijaksana perjalanannya sejarah Indonesia, di situ terlihat jelas bahwa manusia hanyalah sebagai fail (pelaksana program dari keinginan Allah tersebut). Pada saat proklamasi ini diikrarkan, sejak saat itulah Umat Islam di seluruh Indonesia khususnya, telah memperoleh kemerdekaannya secara hakiki, termasuk Aceh.42 Mereka telah memiliki negara dan pemerintahan yang akan melaksanakan syariat Islam. Karena sesungguhnya Islam datang untuk memerdekakan seluruh umat manusia. Jika kaum muslimin berada di suatu negara, di mana pun di seluruh muka bumi ini, baik mereka menjadi penduduk mayoritas ataukah minoritas. Sementara mereka tidak bebas melaksanakan syariat Islam dan tidak pula diperintah oleh aturan serta undang-undang Islam. Kenyataan menyesakkan ini juga dirasakan di Aceh di mana mereka telah mengidam-idamkan sebentuk negara yang Islami di mana hukum syariat Islam bisa ber-jalan.43 Hakekatnya mereka belum merdeka, tidak akan pernah ada kebebasan. Apalagi kemerdekaan dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam di sebuah negara yang menolak berlakunya hukum Allah berdasarkan Al-Quran dan Hadits shahih. Maka menjadi kewajiban setiap muslim un-tuk memperjuangkan kemerdekaannya bebas dari
41 42

Wawancara dengan Gaos Taufik, Jakarta, 7 Agustus 2001.

D. Membujuk Tgk. Daud Beureu`eh Secara Halus


Tanggal 4 Oktober 1961 dikirimkan tokoh-tokoh masyarakat untuk menemui Tgk. M. Daud Beureu`eh di gunung. Tokoh-tokoh itu terdiri
20

Statement Pemerintah Negara Islam Indonesia, 5 Oktober 1953. Di dalam bagian II, disebutkan bahwa (sejak) Proklamasi NII (7 Agustus 1949) diumumkan, sehingga karenanja, maka sedjak saat itu Atjeh dan sekitarnja masuk dalam lingkungan NII, tegasnja: Wilayah 5. Statemen Pemerintah NII ini dikelaurakan di Garut, Jawa Barat, 5 Oktober 1953 sebulan setelah kumandang Proklamasi NBA-NII di Kutradja oleh Teungku M. Daud Beureu`eh.
43

Ibid., hlm. 14-54.

Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan Kaum Republik, hlm. 40-44.

32 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia segala bentuk be-lenggu jahiliyah demi kemanusiaan, keadilan, serta kebebasan melak-sanakan syariat Islam. Sebesar apa pun aktivitas yang dilakukan oleh organisasi-organisasi Islam di negara yang bukan negara Islam. Dan be-tapa pun barangkali menguntungkannya, segala itu tidak akan dapat menghapus kewajiban mereka untuk berjuang menegakkan Negara Islam, yang menjamin terlaksananya hukum Allah dan Rasul-Nya di muka bumi ini.44 Sekarang timbul satu pertanyaan, apakah setiap pri-badi muslim menginginkan agar Darul Islam (Negara Islam) itu tegak? Pertanyaan ini patut disertakan, karena masalah Negara Islam ini men-jadi polemik yang berkepanjangan di sekitar pandangan kaum mus-limin bahwa di dalam Al-Quran tidak ada istilah yang memuat tentang Negara Islam tersebut, terlebih lagi bahwa Rasulullah Muhammad saw itu tidak pernah mendirikan Negara Islam atau Daulah Islam atau Darul Islam. Kartosoewirjo sebelumnya telah sangat serius merealisasikan gambaran tentang sebuah Negara Islam, ketika pada bulan Mei 1948 membentuk Dewan Imamah, begitu pula Undang-undang Dasar Negara Islam Indonesia (Qanun Asasi) disertakan penjelasan singkat yang terdiri atas 10 pokok yang konsepnya telah disusun pada bulan Agustus 1948. Maka dengan demikian secara formal telah mendirikan Negara Islam. Susunan organisasi kenegaraan dari Negara Islam Indonesia pada hakekatnya hanyalah sederhana saja, namun cukup praktis. Bahkan dalam kesederhanaan tersebut tampak adanya originalitas pemikiran Kartosoewirjo dalam mengatur administrasi pemerintahan dan kenegaraan dan ketentaraan yang sedang tumbuh. Ketika Negara Islam Indonesia masih dalam prototype, yaitu pengaturan kekuasaan sebelum proklamasi, maka pada tanggal 25 Agustus 1948 dikeluarkan apa yang disebut Maklumat Imam No 1, di mana disebutkan peraturan-peraturan yang menyangkut bidang pemerintahan baik pemerintahan sipil maupun militer. Dalam maklumat No 1 itu
Lihat Daamurasysyi Mujahidain, Menelusuri Langkah-langkah Jihad SM Kartosoewirjo, (Yogyakarta: Wihdah Press, 1998), hlm. 52-53.
44

Amnesti dan Abolisi Umum: Cara Halus Sesudah Gagalnya Cara Kasar

337

sekelompok anggota parlemen yang diketuai oleh Djuir Muhammad dari PSI.14 Dikemukakannya Aceh sebagai contoh yang paling baik dari suatu cara yang dibuat-buat bagaimana provinsi-provinsi dibentuk pada masa lalu, dan dikemukakannya bahwa jalan satu-satunya menyelesaikan permasalahan di Aceh adalah dengan memberikannya otonomi.15 Di daerah Aceh sendiri, kalangan parlemen dan kalangan partai politik nasionalis (sekuler) seperti PKI memberikan tanggapan yang keras dan aneh. Tanggapan paling keras, dari semua partai-partai politik adalah dari PKI. PKI bahkan berkesan marah dengan pemberian rehabilitasi dan abolisi bagi para pejabat daerah Aceh yang pernah menjadi anggota DI dan kemudian direhabilitir oleh Pemerintahan Kabinet Burhanuddin Harahap dari Masjumi.16 Bukan hanya PKI, ormas onderbouwnya juga memberikan pernyataan keras serupa. Gerwani menuntut untuk menambah operasi dan personil militer dengan alasan wanita adalah yang paling menderita dari konflik DI/TII ini.17 Gerwani juga berharap agar DI bisa kembali kedjalan jang benar.18 Bagi Gerwani, wanita-wanita DI adalah mereka jang telah tersesat.19 Dalam perdebatan berikutnya, wakil-wakil PNI dan PKI, yang keduanya mempunyai pengikutnya yang terbanyak di Jawa, menolak usul itu. Mereka mengemukakan, rakyak biasa di Aceh tidak menyatakan dirinya menyetujui otonomi, dan bukanlah masalah otonomi tetapi cita-cita Negara Islamlah yang berada di belakang jihad suci menegakkan Negara Islam. Di pihaknya Pemerintah menjawab, usul itu mubazir karena Pemerintah sudah mempersiapkan suatu
14 Usul ini turut ditandatangani Amelz, A.M. Djohan (A.M. Johan) (PIR), Ibrahim Sedar (tak berpartai), Mayor Polak (PSI), dan A.C. Manoppo (Demokrat). 15 Bagian Dokumentasi Deppen, Sekitar Peristiwa Berdarah Daud Beureueh, vol. III, (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan, 1953) hlm. 12. 16 Keterangan Thaib Adamy, Sekretaris Comite PKI Daerah Atjeh, 30 Januari 1957.

Usul2 Jg Dimadjukan Dalam Pertemuan Antara Dewan Tjabang Gerwani Kutaradja dgn Gubernur Atjeh, 6 Februari 1957.
18 19

17

Ibid. Ibid.

336

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

33

bagi laporan itu me-ngutip para alim ulama yang berpendapat, Pemerintah Pusat harus mengirimkan misi ke Aceh untuk menemui Daud Beureu`eh, dan se-harusnya memperhatikan tuntutan-tuntutan banyak orang Aceh me-ngenai otonomi.12 Komisi ini tetap sepenuhnya tidak memihak dalam laporannya, cukup dengan hanya mengutip pendapat-pendapat yang dikemukakan rakyat di Aceh. Tetapi, para anggotanya, dalam perjalanan pulang ke Jakarta, telah merumuskan usul mereka sendiri dengan mendesak Pemerintah mengubah pembagian administratif Indonesia dan menjadikan Aceh salah satu dari sembilan belas provinsi (baru) Indonesia.13 Karena Pemerintah memerlukan lebih banyak waktu dan sudah mulai membuat persiapan untuk pembagian provinsi yang baru, usul ini tidak dikemukakan. Kalangan kiri, seperti Partai Sosialis Indonesia (PSI) lebih menekankan pemberian otonomi bagi Aceh. Namun, selama pembicaraan laporan ini suatu usul lain disampaikan kali ini oleh
Anjuran-anjuran lain yang dilakukan para ulama kepada Pemerintah yang dikemukakan komisi parlemen dalam laporannya adalah, seyogyanya Pemerintah mendorong kerja sama antara golongan tengku dan teuku, memberikan prioritas kepada orang Aceh dalam politik pengangkatannya, berusaha memperlakukan Aceh bagaikan seorang bapak memperlakukan anaknya (mengingat keteguhan hati diperlihatkan orang Aceh), dan berusaha mencapai kewajaran dalam segala bidang untuk memenuhi rasa keadilan yang kuat dari rakyat Aceh. Komisi ini sendiri menganjurkan agar Pemerintah Repubhk dan aparatnya menjauhkan segala sesuatu dalam tindakannya yang dapat menyinggung perasaan orang Aceh atau menimbulkan perpecahan, menghindarkan timbulnya kesan dalam pengangkatan pegawainya bahwa suatu golongan tertentu diutamakan dan karena itu memastikan bahwa setiap orang yang diangkat dalam jabatannya di Aceh memenuhi syarat: dapat diterima, mampu, dan jujur; dan memberikan prioritas kepada Aceh dalam penjatahan dana dan materi untuk alat pemerintahan agar memberikan penghargaan kepada rakyat Aceh yang begitu hebat mempertahankan bangsa. Lihat C. van Dijk, Darul Islam, Sebuah Pemberontakan, (terj.), (Jakarta: Grafiti Pers, 1993). 13 Kesembilan belas provinsi ini adalah: Aceh, Sumatera Timur (termasuk Riau) Minangkabau (Sumatera Barat), Sumatera Selatan (Jambi, Palembang, Bengkulu, Lampung, Bangka, dan Belitung), Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Bali-Lombok, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Irian Barat, Mataram (Yogyakarta dan Surakarta), dan Jakarta Bagian Dokumentasi Deppen, Sekitar Peristiwa Berdarah Daud Beureueh, vol. III, (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan, 1953), hlm.15.
12

disebutkan juga antara lain bahwa seluruh pimpinan pemerintahan sipil diberi tugas sebagai Komandan pertahanan di daerahnya masing-masing, sedang pemimpin ketentaraan diberi tugas sebagai komadan pertem-puran.45 Dalam mengatur kekuasaan yang sedang tumbuh ini Karto-soewirjo mengerahkan potensi yang berada di bawah kekuasaannya. Adapun pembagian administrasi pemerintahan Negara Islam Indonesia sebelum proklamasi adalah sebagai berikut:
1. Divisi dan Wilayah. (Wilayah = Provinsi).

Divisi adalah pemerintahan militer yang dipimpin oleh panglima Divisi dan Gubernur bertindak selaku Komandan Pertahanan bagian Politik. Divisi adalah untuk kesatuan prajurit dalam jajaran militer. Sementara wilayah adalah kesatuan administratif sipil setingkat provinsi. Penggabungan keduanya sipil dan militer ini menunjukkan bahwa kondisi perang mengharuskan sipil dipermiliterkan dan militer mengerti dan menjalankan tugas-tugas adab secakap para pegawai dan manager sipil.
2. Resimen dan Residensi. (Keresidenan).

Pemerintahan militer dipimpin oleh Komandan Resimen dan Residen bertindak selaku komandan Pertahanan Daerah dan bagian politik.
3. Batalyon dan Kabupaten.

Pemerintahan militer dipimpin Komandan Batalyon dan Komandan Pertahanan Kabupaten I dan II dipimpin oleh Bupati I dan II.
4. Kecamatan.

Dipimpin oleh Camat/Wakil Camat dan Komandan pertahanan kecamatan I dan II. Berhubung tidak ada parlemen, semua peraturan Negara Islam Indonesia dikeluarkan oleh Komandemen Tertinggi sebagai lembaga
45 Lihat Makloemat Komandemen Tertinggi NII, No. 1, dalam lampiran Al Chaidar, Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia SM Kartosoewirjo, (Jakarta: Darul Falah, 1999).

34 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia eksekutif tertinggi, yaitu Dewan Imamah yang dulu, dalam bentuk Maklumat yang ditandatangani oleh Imam dan kemudian dibagibagikan.46 Adapun anggota Dewan Imamah yang pertama kali terbentuk setelah proklamasi Negara Islam Indonesia adalah:
Imam dan Panglima Tertinggi47: S.M. Kartosoewirjo. Wakil Imam dan Komandan Divisi: Kamran. Menteri Dalam Negeri: Sanusi Partawidjaja. Menteri Penerangan: Toha Arsyad. Menteri Keuangan: Udin Kartasasmita. Menteri Pertahanan: R. Oni . Menteri Kehakiman: Godjali Tusi.

Amnesti dan Abolisi Umum: Cara Halus Sesudah Gagalnya Cara Kasar

335

C. Menguatnya Lobby di Parlemen


Di Jakarta terdapat lobby pro-pejuang mujahidin yang kuat, yang berpusat sekitar anggota-anggota DPR, Amelz, bekas anggota PSII tetapi kini bertindak bebas, dan Nur el Ibrahimy, anggota Masyumi dan bekas sekretaris PUSA, yang membela kasus mereka. Pada umumnya mereka didukung para politisi Masyumi, yang juga mendesak Pemerintah tidak berusaha mengatasi keadaan hanya dengan tindakan-tin-dakan militer, melainkan mencari penyelesaian politik dan melenyap-kan beberapa penyebab yang mendorong kaum pejuang mujahidin mengangkat senjata. Jadi Pemerintah dianjurkan secara teliti menye-lidiki alasan yang pro dan kontra untuk memberikan Aceh suatu ben-tuk otonomi daerah dan bahkan memberikannya status daerah is-timewa. Karena yang akhir ini merupakan masalah yang ada sangkut pautnya dengan salah satu masalah konstitusional utama Republik Indonesia, yaitu apakah struktur negara Indonesia harus kesatuan atau federal, masalah ini sangat luas pengaruhnya. Mereka yang menyetujui memberikan Aceh otonomi yang lebih luas adalah partai-partai dan kelompok-kelompok yang sama, yang membela struktur negara federal atau desentralisasi yang lebih besar. Di dalamnya tidak hanya termasuk Partai Sosialis Indonesia, tetapi juga sebuah partai dengan dasar kedaerahan seperti Serikat Kerakyatan Indonesia (SKI), dari Kalimantan Selatan. Secara bersama-sama mereka menjadi kelompok yang mampu menghimpun dukungan yang banyak. Ini menjadi jelas pada Februari 1954, ketika sebuah komisi parlemen yang telah mengunjungi Aceh sebulan sebelumnya menyampaikan laporan hasilnya. Laporan ini secara luas mengutip para alim ulama Islam Aceh, yang telah berbicara dengan anggota-anggota komisi. Di antara anjuran yang diusulkan para alim ulama ini laporan menganjurkan agar Pemerintah menerima, mengingat cita-cita Negara Islam di Aceh, sebagian dari hukum Islam, umpamanya hukum sipil, dan dengan demikian melarang segala sesuatu yang bertentangan dengan hukum ini, seperti berjudi, berdansa, dan menjual minuman keras. Tambahan

Pada saat situasi perang, lembaga legislatif, parlemen yang mereview dan mensupervisi jalannya pemerintahan oleh lembaga eksekutif belum saatnya diperlukan. Negara sedang berjuang, maka unsur-unsur yang efektif berguna untuk keperluan perjuangan (bersenjata) itulah yang diperlukan. Namun, bukan berarti bahwa hukum tidak berjalan. Meskipun dalam keadaan perang, hukum tetap dijunjung tinggi. Darul Islam adalah perjuangan meninggikan kalimat Tuhan, dan menjalankan hukum-hukum Tuhan.48 Pada tanggal 3 Oktober 1949 keluarlah Maklumat Komandemen Tertinggi No. 1 tentang penyesuaian susunan pemerintahan (Administrasi Pemerintahan NII) dengan situasi dan kondisi yang sedang berlangsung saat itu.49 Dalam penjelasan Maklumat Komandemen Tertinggi No. 1 tersebut antara lain dikatakan sebagai berikut:
Segala model organisasi dibentoek dengan tjara jang amat praktis jang sekiranja dapat menoenaikan wadjibnja dengan tjepat dan tepat sesoeai

46 47

Holk H. Dengel, Darul Islam, hlm. 113.

SM Kartosoewirjo, dalam segala keterbatasan harus merangkap sebagai Kuasa Usaha (Menteri Luar Negeri).
48 49

Statement Pemerintah Negara Islam Indonesia, 5 Oktober 1953. S.M. Kartosoewirjo (nama pena: Karma Yoga), Pedoman Dharma Bakti, jilid I, hlm. 24.

334

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

35

Aceh, mengingat bahwa seratus persen rakyat di Aceh adalah Muslim. Dalam keadaan seperti itu sama sekali tidak mungkin Jaksa Agung melarang khotbah yang mengandung politik, katanya, karena politik dan agama tak dapat dibedakan. Hal lain yang dijadikan Daud Beureu`eh serangan bagi Pemerintah Pusat adalah bahwa Pemerintah ini tidak pernah mengabulkan suatu permintaan Aceh apa pun dan bahwa ia sekarang menganggap Aceh yang selama revolusi merupakan daerah "modal" Republik sebagai daerah yang tidak patuh.11 Tidak pula diberikan suatu konsesi apa pun terhadap permohonan otonomi Aceh yang ketika itu masih diba-yangkan dalam kerangka Republik Indonesia. Daud Beureu`eh mem-pertanyakan mengapa perdebatan tentang ini harus menunggu ter-bentuknya Konstituante, dan apakah ini barangkali karena Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Pusat hanya ingin menyisihkan persoal-an ini. Padahal, bahwa lembaga yang akhir ini mampu bertindak cepat telah diperlihatkan pada waktu pengubahan Republik Indonesia Serikat menjadi Republik Indonesia kesatuan. Daud Beureu`eh menggarisbawahi kenyataan, rakyat Aceh dengan sabar telah menanti ter-bentuknya Konstituante selama bertahun-tahun, tetapi Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyadari ini dan bahkan memutuskan menunda pemilihan umum. Ia menduga, barangkali pemerintah lebih mengutamakan kepentingannya sendiri daripada kepentingan rakyat. Selanjutnya dipertanyakannya, apakah pemerintah mungkin lebih memberikan bantuan dan dorongan kepada kelompok kecil mereka yang mempercayai Ketuhanan yang Maha Esa suatu keyakinan lain, atau kepada orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan sama sekali, dengan secara menyolok bertentangan dengan cita-cita dan hasrat mayoritas.
11 Aceh memperoleh nama Daerah Modal Republik Indonesia, karena peranan yang dimainkannya selama revolusi. Di satu pihak nama ini mengemukakan kenyataan bahwa Acehberbeda dengan bagian Republik Indonesia lainnyatidak pernah diduduki Pasukan Belanda. Di pihak lain ini menunjukkan sokongan keuangan dan materi yang diberikannya kepada Pemerintah Republik.. Lihat Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan Kaum Republik, Kasus Darul Islam Aceh, (Jakarta: Grafiti Pers, 1990), terutama bagian kesimpulan.

dengan toentoetan pergolakan revoloesi. Dan segala sesoeatoe jang menghambat, memperlambat, menghalangi dan menentang kepada hoekoem revoloesi itoe haroes dan wadjiblah diloempoehkan, dipatahkan dan dimoesnahkan.50

Inilah beberapa sebab, maka


Komandemen Tertinggi merasa wadjib, dengan selekas moengkin mengoebah Soesoenan Pemerintahan Negara Islam Indonesia dengan woedjoed,,Komandemen Tertinggi Angkatan Perang NII. Dengan bentoek sekarang, maka oeroesan politik dan militer dipersatoekan. Bahkan segala oesaha dan tjabang2nja,,Pemerintahan Negara Islam Indonesia disesoeaikan dengan beleid politik dan gerakan militer. Ahli politik haroes di-permiliterkan (gemilitairieseerde politici). Sebaliknja ahli militer haroes diperpolitikkan (verpolitiseerde militaren). Spesiliasasi antara sipil dan militer akhirnya lebur, jika harus berjuang kira-kira mungkin demikianlah yang ingin disampaikan oleh Darul Islam maka siap-siap angkat kaki, ke gunung, bergerilya di mana pun, angkat senjata dan musuh djahanam sudah menunggu di depan yang tiap2 tetes darah pantjasila halal-lah hukumnja.51 Tidak ada waktu lagi untuk berdiskusi, berdebat dan berkontemplasi tentang dunia dan segala persoalannya.

Maklumat Komandemen Tertinggi No. 1 tersebut dalam batasbatas tertentu juga dapat memberikan gambaran sampai di mana dinamika cara berpikir Kartosoewirjo dalam usahanya untuk mengemudikan dan menguasai NII yang sedang tumbuh dalam masa pancaroba itu. Pemisahan kekuasaan politik dan militer sebagaimana dipraktekkan oleh RI dan yang ternyata banyak merugikan perjuangan itu telah memberikan pelajaran bagi Kartosoewirjo untuk mengeluarkan MKT No.1 tersebut.52 Dengan demikian maka pimpinan pemerintahan dan kenegaraan dapat dipersatukan dan tidak akan terjadi dualisme dalam pimpinan. Sementara di Aceh, di mana setelah masa-masa yang sulit dalam konflik yang berkepanjangan dan ketidakpuasan yang menggumpal dalam dada, kekecewaan yang
50 51 52

Ibid., hlm. 33-34. Ibid.

Tentang Maklumat Komandemen Tertinggi No. 1 (MKT No.1), lihat Al Chaidar, Pemikiran Politik, bagian lampiran.

36 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia terus-menerus menyesakkan dada, para intelektual, ulama, pedagang, petani subsisten, nelayan dan pawang laot dan para pemuda-pemudi telah lebur dalam suatu gairah jihad berjuang hingga syahid atau menang. Ketika struktur ini sampai di tangan Teungku Daud Beureu`eh, maka tidak ada kata lain selain langsung mengisi jabatanjabatan tersebut, ibarat mengisi sebuah formulir kosong yang diminta untuk diisi. Tidak ada cing-cong dalam masa memberontak.53 Terutama untuk mencegah dualisme dan pertentangan yang mungkin disebabkan oleh perasaan superior antara satu golongan dengan golongan lainnya. Misalnya golongan militer yang merasa lebih tinggi daripada golongan sipil atau sebaliknya. Program yang telah dirancang oleh Kartosoewirjo tersebut pada hakekatnya memang baik untuk dipraktekkan dalam negara yang sedang masa bergolak atau dalam keadaan perang. Kepentingannya terutama terletak pada penyatuan pimpinan dan potensi yang ada dalam negara tersebut. Masing-masing pemimpin dari suatu daerah, baik ia militer maupun sipil dapat dengan mudah dan lancar menggerakkan alat-alat kekuasaan yang ada pada mereka. Seorang komandan sipil yang telah dimiliterisir kalau perlu dapat memberikan perintah kepada anggotaanggota pasukan bersenjata untuk menghadapi suatu keadaan yang timbulnya secara tiba-tiba. Demikian pula seorang Komandan militer yang telah diverpolitisir dapat memerintahkan alat-alat kekuasaan sipil, sekiranya memang diperlukan. Jika di suatu daerah yang dikuasi DI antara pimpinan militer dan sipil tidak ada persesuaian paham dalam menghadapi sesuatu persoalan, maka pimpinan yang lebih tinggi akan mengambil kebijaksanaan untuk menyelesaikan persoalan tersebut dan mendamaikan perselisihan yang terjadi antara kedua pimpinan daerah tersebut. Dan apabila usaha dari pimpinan yang lebih tinggi tersebut tidak berhasil maka diadakanlah mutasi atau pemindahan dari salah seorang pimpinan daerah tersebut sampai kedua pimpinan dalam

Amnesti dan Abolisi Umum: Cara Halus Sesudah Gagalnya Cara Kasar

333

B. Teungku Daud Beureu`eh Menolak Turun


Ketika pemberontakan meletus, Daud Beureu`eh mengumumkan proklamasi: atas nama masyarakat Islam Aceh, ia menyatakan Aceh dan daerah-daerah sekitarnya menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia. Untuk membenarkan proklamasi ini dan tidak lagi mengakui Republik Indonesia ia mengemukakan alasan, pemimpin-pemimpin Republik di Jakarta telah menyimpang dari jalan yang benar. Republik Indonesia tidak berkembang menjadi suatu negara yang berdasarkan Islam, yang menurut pandangannya adalah satu-satunya kemungkinan yang terkandung dalam prinsip Ketuhanan yang Maha Esa, sila pertama Pancasila. Sebaliknya, makin menjadi jelas baginya, para politisi Republik kian lama kian jauh juga beralih dari cita-cita ini. Maka disinggungnya usaha-usaha yang menempatkan tekanan yang lebih besar pada sila Pancasila yang lain: nasionalisme Indonesia, yang dengan tajam dibedakannya. Demikianlah, ia mengemukakan beberapa unsur pokok pidato Soekarno yang malang di Amuntai. Dengan mengemukakan keterangan Soekarno bahwa dia memilih negara nasional karena takut kalau-kalau jika terbentuk negara Islam beberapa daerah akan memisahkan diri, Daud Beureu`eh menyatakan memelopori dalam memisahkan diri dari suatu negara yang hanya didasarkan atas nasionalisme. Kata-kata Daud Beureu`eh membuktikan, setidak-tidaknya untuk sementara orang, perbedaan antara negara agama atau Islam dan negara nasional tidak lagi merupakan masalah peristilahan, tetapi telah berkembang menjadi suatu penentangan sesungguhnya yang penting. Daud Beureu`eh menyatakan, rakyat Aceh memahami arti sebenarnya kata-kata "agama" dan "nasionalisme" dan setiap orang yang percaya bahwa orang yang beragama tidak mencintai negerinya barangkali tidak memahami Islam. Selanjutnya ia menegaskan, Republik Indonesia sebenarnya tidak menjamin kebebasan beragama dalam arti kata itu sesungguhnya. Dia tidak menerima kenyataan bahwa Islam tidak membedakan bidang keagamaan dengan bidang sekuler atau pandangan Muslim bahwa prinsip-prinsip Islam harus diterapkan dalam semua lapangan kehidupan. Jika memang terdapat kebebasan beragama yang sesungguhnya, maka syariat Islam haruslah berlaku di

53

Wawancara dengan Komandak Ishak Ibrahim, Banda Aceh, 24 Juli 2006.

332

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

37

3. Resimen-2/Aceh Utara, dengan 700 personil serta 250 pucuk senjata terdiri dari 7 bren, 3 bazoka, 4 LMG, markas berada disekitar Langkahan. 4. Resimen-3/Aceh Timur, dengan 900 personil serta 494 pucuk senjata terdiri dari 14 bren, 9 LMG, 5 bazoka dan 2 mortir. 5. Resimen-4/Aceh Barat, dengan 130 personl 63 pucuk senjata terdiri dari 4 bren, 1 LMG, dan 1 mortir. 6. Resimen-5/Aceh Tengah, dengan 550 personil serta 171 pucuk senjata terdiri dari 3 bren, 1 LMG, dan 1 mortir. 7. Resimen-6/Aceh Besar, dengan 316 personil serta 250 pucuk senjata terdiri dari 1 bren, 1 LMG, 1 bazoka dan mortir. 8. Resimen-7/Aceh Timur, Sumatera Timur, dengan 150 personil serta 150 pucuk senjata terdiri dari 1 bren, 1 LMG, 1 bazoka dan 1 mortir. 9. Resimen-5/SBU/OSM/Aceh Timur, dengan 150 personil serta 100 pucuk senjata terdiri dari 1 bren, 2 LMG, 1 bazoka dan 1 mortir.9 Panglima KODAM-I Kolonel M. Yasin melancarkan seruan kembali kepangkuan Ibu Pertiwi. Operasi ini dilakukan baik melalui semua mass media yang ada di Aceh maupun Medan. Bahkan dengan surat-surat pribadi kepada semua DAN DIM, panglima juga telah menyampaikan ketentuan-ketentuan pokok tentang operasi seruan kembali itu.10 Resolusi Pimpinan DPRD-GR Aceh NO. B-7/1/DPRD-GR/1961 tanggal 29 September 1961 mendukung sepenuhnya kebijaksanaan penyelesaian keamanan panglima beserta follow upnya. Walaupun dalam sidangsidang terdengar suara ragu-ragu dan anti dari PNI dan PKI.

suatu daerah tersebut benar-benar merupakan dwi-tunggal. Demikianlah salah satu dari segi kebaikan dari sistim penyatuan pimpinan yang pernah dipraktekkan oleh Kartosoewirjo untuk mengatur kekuasaan dalam Negara Islam Indonesia. Selanjutnya mari kita lihat bagaimana susunan bagian dari sistem pemerintahan Negara Islam Indonesia dalam keadaan perang berdasarkan maklumat Komandemen Tertingi Negara Islam Indonesia No.154 tersebut:

ORGANISASI PEMERINTAHAN NEGARA Islam INDONESIA Menurut Maklumat Komandemen Tertinggi No. 1 1. Komandemen Tertinggi (K.T). Pimpinan Umum, politis dan militer dipegang oleh Imam sebagai Panglima Tertinggi. Pimpinan Harian, dilakukan oleh Kepala Staf Umum (K.S.U.) atau Generale-Staf. 2. Komandemen Wilayah (K.W). Pimpinan Umum, politis dan militer dilakukan oleh Panglima Komandemen Wilayah (Plm. K.W.), selanjutnya bila berhalangan, maka kewajiban itu dilakukan oleh Kmd. II dan Kmd. III (wkl. I dan wkl. II Plm. K.W.). Selainnya, jika dilakukan pembagian pekerjaan yang merupakan pembagian tugas. Pimpinan Harian, oleh Kepala Staf Komandemen Wilayah (K.S. K.W.). 3. Komandemen Daerah (K.D). Pimpinan Umum, oleh Kmd. K.D. (Kmd. I). Jika berhalangan, pindah tugas itu kepada Kmd. II dan Kmd. III (wkl. 1 Kmd. K.D dan wkl. Kmd. K.D.). Selainnya, jika dilakukan pembagian pekerjaan yang merupakan pembagian tugas. Pimpinan Harian, dilakukan oleh Kepala Staf (K.D) (K.S.K.D.) 4. Komandemen Kabupaten (K.K.). Pimpinan Umum, oleh Kmd. K.K. (Kmd.I.) Jika berhalangan, maka kewajiban itu beralih kepada Kmd. II dan Kmd. III (wkl. I dan wkl. II Kmd. Kmd. K.K.). Selainnya, jika dilakukan pembagian pekerjaan yang merupakan pembagian tugas. Pimpinan Harian, dipegang oleh Kepala Staf K.K. (K.S.K.K.).

Ibid. Ibid.
54

10

Dengel, Darul Islam dan Kartosoewirjo., hlm. 65.

38 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia


5. Komandemen Kecamatan (K. Kt). Pimpinan Umum, oleh K. Kt. (Kmd. I), atau Kmd. II, (wkl. I Kmd. K. Kt.). Pimpinan Harian, oleh Kepala Staf K. Kt. (K.S.K.Kt.).

Amnesti dan Abolisi Umum: Cara Halus Sesudah Gagalnya Cara Kasar

331

akhirnya masuk selokan, dan menganggapnya sebagai penghinaan terhadap Islam.7 Panglima Kolonel M. Yasin melanjutkan kegiatan Kolonel Sjamaun Gaharu dengan lebih intensif. Terhadap yang membangkang di lakukan operasi tempur, sebaliknya secara pribadi melakukan kontak informil dengan pimpina DI. Operasi Ketam dipimpin oleh staf Letkol Nyak Adam Kamil dengan menggunakan 4 kompi infantri dan 1 kompi Raiders. Komnado Operasi Mobil di Aceh timur juga dipimpin oleh Kepala staf Letkol Nyak Adam Kamil. Di samping itu operasi seruan kembali kepangkuan Ibu Pertiwi tetap dijalankan sehingga terciptalah penyelesaian keamanan yang wajar.

Untuk melengkapi administrasi kenegaraan, maka Negara Islam Indonesia menetapkan Administrasi Keuangan Negara guna menstabilkan roda pemerintahan negara yang serasi dengan tuntutan negara di masa perang, hingga sanggup dan siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan (war minded).55 Dalam manifesto politiknya yang dikeluarkan tak lama setelah proklamasi NII, Kartosoewirjo menentang Konferensi Meja Bundar (KMB) dan pembentukan Republik Indonesia Serikat. Pernyataan dia dalam manifesto tersebut adalah sebagai berikut:
Telah tiba saat jang menentoekan nasib bangsa Indonesia, teroetama nasib Oemat Islam Indonesia. Perdjoeangan kini haroes diteroeskan dengan Islam sampai Mardlotillah tertjapai, itoe adalah satoe-satoenja djalan oentoek membebaskan Oemmat Islam dari segala penderitaan di doenia dan di achirat.56 Moesoeh-moesoeh Allah, moesoeh-moesoeh agama Islam dan moesoeh Negara Islam Indonesia haroes dihantjoerkan agar hoekoem Islam jang sesoeai dengan adjaran Al-Qoeran dan Soennah Nabi setjara menjeloeroeh dan oetoeh dapat dilaksanakan di seloeroeh Indonesia.

A. Kekuatan Darul Islam Aceh


Cara penyelesaian kasus DI Aceh yang halus agaknya menjadi pertimbangan kuat Soekarno dalam mengeluarkan peraturan tentang amnesti dan abolisi umum bagi para pelaku pemberontakan. Cara halus yang ditawarkan ini lebih efektif dalam melemahkan dan menjinakkan gelora dan semangat para pejuang DI Aceh. Namun, caracara halum berupa tawaran amnesti dan abolisi menjadi simpanan bagi pejuang DI Aceh. Berhubung kekuatan mereka masih sangat besar, maka, untuk sementara kebaikan hati ini belum bisa diterima. Kekuatan DI pada akhir tahun 1960 berdasarkan SBM yang dapat kita kumpulkan adalah sebagai berikut:8 1. Staf Divisi, dengan 200 personil serta 43 pucuk senjata, berada di sekitar Langkahan, perbatasan Aceh Timur dengan Aceh Utara. 2. Resimen-1/Aceh Pidie dengan 700 personil serta 100 senjata terdiri dari 4 bren, 1 bazoka dan 1 LMG, bermarkas di pintu satu.
Bagian Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureu`eh, (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan, t.t., Jilid III), hlm. 193-200.
8 JarahDam-I, Dua Windhu Kodam I/Iskandar Muda, (Banda Aceh: Sejarah DAM Iskandar Muda, 1972), hlm. 189. 7

Menurut Manifesto Politik-nya Kartosoewirjo menjelaskan bahwa:


Negara Islam Indonesia dapat mendjalin hoeboengan dengan setiap negara lain, tetapi dengan sjarat, negara terseboet haroes mengakoei Negara Islam Indonesia, bahkan djoega dengan Belanda Negara Islam Indonesia dapat mengadakan hoeboengan berdasarkan sjarat terseboet. Karena Islam mentjakoep semoea aspek kehidoepan manoesia, boekan hanja jang berhoeboengan dengan keachiratan, melainkan djoega jang berhoeboengan dengan kehidoepan bermasjarkat dan bernegara, maka setjara teoritis di dalam seboeh negara Islam tidak terdapat pemisahan antara negara dan pemerintah, antara politik dan agama.Ada doea anasir
55

S.M. Kartosoewirjo (nama pena: Karma Yoga), Pedoman Dharma Bakti, Jilid I, hlm. Siliwangi dari Masa ke Masa (1979), hlm. 319.

229.
56

330

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

39

H. Masjkur (Menteri Agama dari NU), Simbolon (Panglima Tentara Territorium I), A. Hakim (Gubernur Sumatera Utara) dan Masjumi.3 Pendukung-pendukung kedua pandangan terdapat di Jakarta maupun di Aceh. Beberapa partai politik dan organisasi di Aceh mendesak Pemerintah tidak membicarakan suatu tuntutan kaum pejuang mujahidin apa pun sebelum keamanan pulih. Di samping itu sejumlah alim ulama menyesalkan terjadinya jihad suci menegakkan Negara Islam dan mencapnya sebagai dilarang Islam dan bertentangan de-ngan hukum Islam.4 Kutukan alim ulama Islam ini mencapai puncaknya pada awal 1955, ketika dua orang dari mereka itu, Tengku Haji Sani dan Tengku Haji Ismail, membentuk Gerakan Keamanan Rakyat Muslimin Daerah Aceh.5 Dalam selebaran yang dijatuhkan pesawat di atas Banda Aceh dan Lhokseumawe secara tegas mereka menyangkal, Islam me-nganjurkan perlawanan terhadap pemerintah yang sah, bagaimana pun juga lalimnya pemerintah itu. Dan berpegang pada terjemahan bahasa Indonesia pengertian-pengertian Dasar Negara Islam oleh pe-nulis Pakistan Khalif Abdul Hakim, mereka mengemukakan, bila orang tidak berhasil mempertahankan hak-hak asasi manusianya dengan cara-cara damai, maka satu-satunya jalan yang tinggal terbuka baginya adalah hijrah. Selanjutnya mereka berusaha meyakinkan rakyat, Peme-rintah Republik menjamin bagi semua warga negaranya kebebasan beragama dan mereka menyerang Hasan Mohammad Tiro mengenai kegiatan-kegiatannya di Perserikatan Bangsa-Bangsa.6 Tetapi tindakan gerakan ini berbalik jadi bumerang. Besar kecurigaan bahwa gerakan ini secara aktif disokong Pemerintah Pusat, sementara umat Muslim yang saleh merasa tersinggung karena selebaran dengan tulisan ayat-ayat Quran itu
3 4

jang haroes disatoekan, pertama: Satoe negara jang berdaoelat penoeh 100 % keloear dan ke dalam, "de facto dan de jure. Kedoea: Haroes ada peratoeran Allah, jang meroepakan agama Allah, atau agama Islam. Kedoea anasir ini haroes bersatoe atau dipersatoekan. Boekan sebagai minjak dan air jang ada di seboeah perioek.57

Sementara itu sejak tanggal 23 Agustus-2 November 1949 dalam Konferensi Meja Bundar Di Den Haag dibahas masa depan Indonesia, salah satu hasilnya adalah perjanjian tentang penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada Republik Indonesia Serikat.58 Di samping itu dari perjanjian-perjanjian tersebut banyak dikaitkan dengan persetujuan lain yang mengarah ke suatu ketergantungan langsung RIS kepada Belanda dan memungkinkan Belanda mengontrol politik dalam dan luar negeri RIS. Masalah berikutnya adalah peleburan anggota-anggota KNIL ke dalam APRIS dan pembentukan misi militer Belanda yang akan ditugaskan untuk melatih anggota-anggota APRIS.59 Dan yang terpenting dari masalah itu adalah bagaimana upaya pemerintah RIS yang dipimpin oleh Soekarno menyelesaikan kasus Darul Islam sampai tuntas. Pada akhir bulan Oktober 1949 rancangan Undang-Undang Dasar RIS selesai disusun, dan pada tanggal 27 Desember 1949 dilaksanakan penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada RIS. Sehari kemudian Soekarno diangkat kembali menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat. Dalam sebuah keterangan pemerintah NII pada awal Oktober 1949, Kartosoewirjo mengumumkan pendapatnya tentang Konferensi Meja Bundar:

Ibid. S.M. Amin, Sekitar Peristiwa Berdarah di Atjeh, (Jakarta: Soeroengan, 1956), hlm. 106-

Holk H. Dengel, Darul Islam, op.cit., hlm. 120. Lihat juga SM Kartosoewirjo, Manifesto Politik Negara Islam Indonesia, dalam Al Chaidar, Pemikiran Politik Praklamator Negara Islam Indonesia, (Jakarta: Darul Falah, 1999), bagian lampiran. Staf Keamanan Nasional, Instruksi Menteri Keamanan Nasional No. III/B0048/1961, Tentang Pelaksanaan Kebidjaksanaan Terhadap Pemberontak dan Gerombolah jang Menjerah, 8-9-1961, oleh A.H. Nasution.
59 Komando Daerah Militer VI Siliwangi, Team Pemeriksa, Berita Atjara Interogasi VI, op.cit., hlm. 8. 58

57

l07. Bagian Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureu`eh, (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan, t.t., Jilid III), hlm.177.
6 5

Gerakan Keamanan Rakyat Muslimin Daerah Aceh, Siaran Kilat no. 1, 2, 3 dan 4)

40 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia


Konferensi terseboet boekanlah seboeah konferensi antara doea negara jang berdaoelat. Negara soedah didjoeal! Kedaoelatan telah moesnah! Kemerdekaan djatoeh di tangan moesoeh!.60

Pengakuan kedaulatan Republik Indonesia dari Belanda membuat keadaan lebih mendesak bagi Soekarno, Bagaimana caranya untuk mencari penyelesaian masalah secepatnya tentang Negara Islam Indonesia yang telah diproklamasikan oleh Kartosoewirjo. Namun Pemerintah RIS dan Tentara Republik merasa dihadapkan pada suatu dilema. Karena sebagian dari Tentara Republik yang tergabung di dalam TNI tidaklah mungkin menindak secara cepat para Tentara Islam Indonesia disebabkan sedikitnya jumlah pasukan dan tidak dimilikinya senjata serta perlengkapan. Di samping itu, lawan mereka walaupun dipandang dengan sebelah mata ternyata memperoleh simpati yang sangat besar dari rakyat Jawa Barat. Itulah sebabnya mengapa kebijaksanaan pemerintah sering berubah dalam menghadapi persoalan ini. Apakah ingin melakukan tindakan operasi militer atau memberikan amnesti?61 Selain daripada itu banyak sekali kritikan yang dialamatkan kepada pemerintah tentang penyelesaian masalahnya, terutama dari kalangan politisi Islam yang mendesak untuk diadakan perundingan. Maka pada bulan Desember 1949 diadakan sebuah usaha untuk membujuk atau menyadarkan Kartosoewirjo supaya dia kembali ke dalam pangkuan Republik. Usaha pertama yang dilakukan oleh pemerintah RIS yaitu dengan menugaskan menteri agama K.H. Masjkur yang akan berangkat ke Yogyakarta untuk mengadakan pembicaraan dengan Kartosoewirjo. Namun gagal disebabkan K.H. Masjkur tidak bertemu dengannya.62 Dalam Kongres Muslimin Indonesia pada tangal 20-25 Desember 1949, ada usaha untuk memasukkan pembahasan mengenai
Mahkamah Angkatan Darat dalam Keadaan Perang untuk Djawa dan Madura, Berkas Perkara No. X/III/8/1962, op.cit., hlm. 81.
61 62 60

Bab XI

AMNESTI DAN ABOLISI UMUM: CARA HALUS SESUDAH GAGALNYA CARA KASAR

alam menyusun kebijaksanaannya, Pemerintah harus mempertimbangkan di satu pihak tuntutan PNI dan PKI untuk mengambil tindakan militer yang lebih keras, dan di pihak lain tekanan untuk melakukan perundingan dan memenuhi beberapa tuntutan kaum pejuang mujahidin. Bagi PNI dan PKI, mereka berpendapat bahwa pemerintah harus menggempur terus pemberontakan DI/TII Aceh. Banyak pihak mengatakan bahwa gerakan militer dan kekerasan saja, tidak akan dapat menyelesaikan soal Aceh dengan sempurna, melainkan harus disertai dengan kebijaksanaan (bujukan dan tipuan) yang seluas-luasnya.1 SM Kartosewirjo sudah memprediksikan, bahwa djika Atjeh digempur dan ditindak keras (dengan kekerasan sendjata) sadja, maka Revolusi Islam akan mendjalar, meluas, berkobar dan bergelora dengan seru dan seremnja!2 Dan sebaliknya, jika dilakukan tindakantindakan lunak, halus maka akan berhasil. Jalan halus penyelesaian pemberontakan ini umumnya diajukan oleh Zainul Arifin (Wakil II PM),

C. Van Dijk, Darul Islam, op.cit., hlm. 98-99.


1 2

Lihat Soebagio I.N., K.H. Masjkur: Sebuah Biografi, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), hlm. 83, sebagaimana dikutip Holk H. Dengel, Darul Islam, op.cit., hlm. 123.

S.M. Kartosoewirjo, Statemen Pemerintah NII 5 Oktober 1953. Ibid.

328

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

41

perjuangan DI/TII. Di mana sebagian besar dari pembicaraan para peserta kongres membela Kartosoewirjo, mereka menerangkan bahwa perjuangan DI/TII itu bukan menentang Republik melainkan ditujukan menentang Belanda. Kongres juga menyebut bahwa anak-anak kita yang telah mempertahankan Jawa Barat dengan gigihnya berperang, telah melemahkan pengaruh Belanda di mata internasional dan melemahkan kekuatan militer Belanda. Justru sebaliknya memperkuat posisi Republik dalam setiap perundingannya.63 Dalam kongres itu juga dinyatakan, mengapa Republik kemudian tidak berusaha untuk mengadakan kompromi dengan perjuangan DI/TII. Bila Republik telah bersedia untuk bekerja sama dengan negara-negara boneka yang mengkhianati Republik, mengapa Republik tidak pula menempuh jalan kompromi dengan perjuangan DI/TII. Bagaimanapun penggunaan kekerasan tidak akan membawa penyelesaian masalah melainkan hanya menyebarkan benih dendam dalam hati umat Islam terhadap Republik.64 Selanjutnya dianjurkan supaya pemerintah RIS menyelesaikan masalah DI/TII dengan jalan damai, dan dalam kongres Muslimin tersebut menyokong resolusi Muktamar Masjumi untuk membentuk sebuah komisi pemerintah untuk menyelesaikan masalah DI/TII. Yang dikritik pula adalah Maklumat Rahasia MBKD No. V. Dalam maklumat tersebut diperintahkan kepada semua instansi, militer, polisi, dan pamongpraja untuk mengawasi gerak-gerik umat Islam. Sebagai akibat adanya maklumat itu, anggota Masjumi didaftar, di setiap rapatrapat Masjumi dihadiri oleh agen pemerintah. Penderitaan dan korban yang diberikan umat Islam demikian diterangkan, umat Islam dihukum dengan sikap curiga, tuduhan dan pengawasan. Melihat kenyataan pahit yang dirasakan oleh setiap partai, pada tanggal 1 Januari 1950 Kartosoewirjo mengeluarkan Maklumat Komandemen Tertinggi No. 5 yang isinya antara lain:
Menimbang bahwa lebih besar moedharat dan keroegiannja, bagi Negara dan Agama Allah serta Oemmat Islam Bangsa Indonesia, akan adanja
63 64

Buah Congres Muslimin Indonesia, hlm. 165. Ibid., hlm. 165.

42 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia


soeatoe organisasi, party, perhimpoenan, perkoempoelan, gerakan atau apapoen djoega, di loear organisasi Negara, atau di loear organisasi jang dibentoek/disahkan oleh pemerintah. Maka memoetoeskan dilarang keras mendirikan, membentoek dan mempropagandakan satoe organisasi, di loear dan selain daripada organisasi Negara, atau organisasi jang dibentoek/disahkan oleh Pemerintah. Dan dileboer dalam salah satoe bagian daripada organisasi Negara, atau salah satoe bagian daripada organisasi jang dibentoek/disahkan oleh Pemerintah.65

Ikrar Lamteh

327

Kemudian mereka mengeluarkan imbauan kepada para pejuang mujahidin untuk menghentikan perlawanan mereka dan menyerahkan diri pada Juni dan Juli. Pemimpin-pemimpin sipil menyusul setelah menerima janji diberi ampun oleh Soekarno.35 Sjafruddin Prawiranegara, perdana menteri kaum pejuang mujahidin, lalu menasihati para pengikutnya untuk menyerah, dia sendiri melapor kepada penguasa pada akhir Agustus.36 Akibatnya pertempuran sangat banyak berkurang sesudah Ikrar Lamteh. Namun, belum juga tampak akhir pemberontakan. Namun, sikap pendirian Daud Beureu`eh makin ditentang. Khususnya di dalam Tentara Islam Indonesia Aceh terdapat banyak yang memikirkan untuk menyerah. Kelompok ini dipimpin Hasan Saleh, Panglima Divisi Tengku Tjhik di Tiro dan Kepala Staf Tentara Islam. Ia menuduh Daud Beureu`eh berusaha menjerumuskan Aceh ke dalam suatu perang baru tanpa memikirkan nasib prajurit biasa dan rakyat pada umumnya yang harus menanggung akibat-akibatnya.37 Dua tahun lamanya lagi barulah lawan-lawan Daud Beureu`eh bulat hatinya dan benar-benar memisahkan diri dari padanya.***

Setelah Belanda meninggalkan kekuasaanya di Indonesia, maka semakin hebatlah pertarungan politik di Indonesia. Kini ada 3 kekuatan yang saling tarik menarik untuk mempengaruhi peta politik yang sedang berkembang saat itu. Terutama dari kalangan Komunis, mereka berusaha selalu masuk dalam sendi-sendi kehidupan politik Indonesia dan mereka berupaya untuk mengadu kekuatan Nasionalis Islam dengan Darul Islam yang dipimpin oleh Kartosoewirjo. Oleh karena itu dalam setiap maklumat-maklumat yang dibuat oleh Komandemen Tertinggi makin sering menyerang Komunis yang dinyatakannya sebagai musuh utama. Dalam nota rahasia pada bulan Oktober 1950 yang dikirim kepada Soekarno, Kartosoewirjo menawarkan pada Soekarno agar bersama-sama dengan Negara Islam Indonesia membasmi komunisme dan meninggalkan politik netral yang dipraktekkan selama itu. Apabila RI mengakui NII, Kartosoewirjo menjamin bahwa RI akan mempunyai sahabat sehidup semati dalam menghadapi segala kemungkinan, terutama menghadapi komunisme, karena nasionalisme tidak dapat mengikat jiwa rakyat Indonesia yang sebagian besar memeluk agama Islam. Kekuatan untuk membendung komunisme, menurut Kartosoewirjo hanya dimiliki Islam, karena itu secepatnya membuat Islam sebagai dasar negara.66 Sebuah nota rahasia berikutnya yang isinya mirip seperti nota di
S.M. Kartosoewirjo (nama pena: Karma Yoga), Pedoman Dharma Bakti, Jilid I, (Batavia-C: Seksi penerangan Masjumi Priangan), hlm. 52.
66 S.M. Kartosoewirjo (nama pena: Karma Yoga), Salinan Pedoman Dharma Bakti, Jilid II, Nota Rahasia 22.10.1950, hlm. 345-252. 65

kepada pemberontakan PRRI/Permesta. Dia menjadi Ketua Dewan Banteng di Sumatera Tengah dan pada Februari 1958 mengeluarkan ultimatum kepada Pemerintah Republik Pusat. Penolakan atas usul ini menimbulkan proklamasi PRRI. Lihat Herbert Feith dan Daniel Lev, The End of Indonesian Rebellion, dalam Pacific Affairs 36, (1963), hlm. 43.
35 36

Lihat Peraturan Presiden No. 13/1961.

Salah seorang dari yang melapor bersama Sjafruddin Prawiranegara ialah Amelz. Lihat S.M. Amin, Sekitar Peristiwa Berdarah di Atjeh, (Jakarta: Soeroengan, 1956), hlm. 198200.
37 Abdul Murat Mat Jan, GerakanDarul Islam di Aceh 1953-1959, dalam Akademika 8, 1976, hlm. 41-42.

326

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

43

merasa tidak puas di Sumatera pada Desember 1957.31 RPI tidak banyak harganya baik dalam arti militer atau pun arti politik. Persekutuan yang mengkhawatirkan antara orang-orang muslim seperti Daud Beureu`eh dan Kahar Muzakkar yang selama bertahuntahun telah bertempur untuk menegakkan dan mempertahankan Negara Islam Indonesia, orang-orang muslim yang terus-menerus dalam waktu yang lama menduduki jabatan-jabatan penting di Republik Indonesia, dan panglima-panglima militer seperti Maludin Simbolon Kawilarang, dan Warouw yang selama masa berikutnya telah memimpin aksi-aksi militer Republik Indonesia terhadap Darul Islam, dan beberapa orang dari mereka itu Kristen pula, sangatlah berbahaya. RPI mungkin mewakili, seperti yang dilukiskan Hasan Muhammad Tiro, su-atu tindakan "untuk menjamin hak suci mereka untuk membentuk pe-merintahan sendiri yang diingkari kediktatoran Soekarno di Jakarta yang memaksakan kolonialisme Jawa terhadap lebih dari selusin bangsa",32 atau penolakan terhadap "kolonialisme baru, Jawa sawo matang",33 tetapi hanya dendam terhadap Soekarno dan orang Jawa saja-lah yang merupakan persamaan mereka. Akibatnya, RPI sangat singkat usianya. Pada April 1961 Maludin Simbolon dan seorang panglima militer lain, Achmad Husein, memisahkan diri dari RPI untuk membentuk Pemerintah Darurat Militer.34
Herbert Feith dan Daniel Lev, The End of Indonesian Rebellion, dalam Pacific Affairs 36, 1963, hlm. 38; J. Mossman, Rebel in Paradise: Indonesias Civil war, (London: Jonathan Cape, 1961), hlm. 229. Lihat Muhammad Hasan Tiro, Neo-Colonialism in Indonesia (How a new Collonialism Has Been Established Under the Cover of the Cry of Anti-Colonialism), Naskah pidato pada Sidang Umum XVI PBBoleh Wakil Republik Federasi Indonesia di PBB, (New York, 1961).
33 Lihat Mohammad Hasan Tiro, The Political Future of The Indonesian Archipelago: A Manifest by Dr. Teungku Hasam Muhammad di Tiro, (Medan: Sumatera Berdaulat, 1965). 32 31

atas, dikirimkan Kartosoewirjo kepada Soekarno pada bulan Februari 1951. Nota tersebut merupakan penjelasan nota sebelumnya. Kata Kartosoewirjo,
Pemimpin RI mempoenjai tanggoengdjawab oentoek membendoeng aroes merah dan sekaligoes haroes siap oentoek menghadapi Perang Barata Joeda Djaja Binangoen.

Dia meramalkan dalam notanya ini, bahwa nasionalisme Indonesia akan mengalami perpecahan, sebagian akan mengikuti komunisme dan sebagian lagi menggabungkan diri dengan golongan Islam.67 Kartosoewirjo menerangkan, bahwa di Indonesia sejak tiga tahun berdirilah dua negara yang berbeda dalam hukum dan pendirinya, berlainan sikap dan haluan politiknya, bertentangan maksud dan tujuan-nya; pendek kata berselisih hampir dalam setiap hal. Filsafat Pancasila dinamakannya sebagai satu campuran masakan yang terdiri dari pada Sintoisme, Hokko Itciu, syirik, dan nasionalisme-jahil yang kemerah-merahan.68 Namun amat disayangkan kedua nota tersebut tidak pernah dijawab oleh Soekarno, sehingga Kartosoewirjo menyesalkan, bahwa pemerintah RI tidak menjawab kedua nota rahasianya, melainkan mencap negaranya sebagai gerombolan Darul Islam, pemberontak, perampok, dll., dan menyerang negaranya dengan kekuatan senjata. Semua usaha pemerintah RI untuk menyelesaikan masalah DI/TII secara damai dinamakannya sebagai perbuatan khianat dan sebagai penipuan. Yang sangat memalukan sekali bahwa diikut sertakannya para alim ulama sebagai penghubung dan pengantara. Yang pada akhirnya Kartosoewirjo menamakan Republik Indonesia sebagai Repoeblik Indonesia Komoenis (RIK) dan angkatan perangnya sebagai Tentara Repoeblik Indonesia Komoenis (TRIK). Dalam Manifesto Politik, Kartosoewirjo memberikan restrospeksi pada perkembangan politik Indonesia secara menyeluruh dan menjelaskan pandangannya tentang
67 68

Letnan Kolonel Achmad Husein memainkan peranan penting dalam penstiwaperistiwa sampai kepada pemberontakan PRRI/Permesta. Dia menjadi Ketua Dewan Banteng di Sumatera Tengah dan pada Februari 1958 mengeluarkan ultimatum kepada Pemerintah Republik Pusat. Penolakan atas usul ini menimbulkan proklamasi PRRI. Letnan Kolonel Achmad Husein memainkan peranan penting dalam penstiwa-peristiwa sampai

34

Ibid. Lihat juga Nota Rahasia 17.2.1951, hlm. 353-360.

Ibid. Lihat juga "Manifesto Politik Negara Islam Indonesia No. V/7", dalam Pedoman Dharma Bhakti Jilid ke-2, hlm. 334.

44 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia masa depan negeri ini. Dengan judul Manifesto Politik, SM Kartosoewirjo membuat suplemen tulisan berjudul Heru Tjokro bersabda: Indonesia kini dan kelak. Menurutnya Heru Tjokro menggambarkan satu makh-luk Allah yang menguasai dan memutarkan roda dunia menuju Mardlotillah sejati, yaitu Negara Islam Indonesia. Heru Tjokro diartikan se-bagai:
Penjapoe masjarakat Djahilijah, pembela gelap goelita, pembasmi barang siapa jang chianat dan moertad, koefoer dan moenafiq, tjoerang dan serong, pendjoeal Agama dan Negara. Tegasnja: segala anak-tjoetjoe iblis lanatoellah jang kini masih leloeasa berkeliaran di tengah-tengah masjarakat dan rakjat Indonesia. Pelepas dan pembebas bagi segenap perikemanoesiaan, daripada bentjana dan malapetaka, dlohir dan batin, di doenia dan achirat kelak.69

Ikrar Lamteh

325

hiran gerakan Darul Islam, dan di Kalimantan Selatan, tempat Ibnu Hadjar beroperasi.30 Kedua pihak memasuki federasi baru ini dengan rasa enggan. Perundingan-perundingan sebelumnya antara pemimpin-pemimpin Darul Islam dan PRRI/Permesta hampir tak ada hasilnya. Sekalipun telah dijanjikan kerjasama dan dukungan militer, hal ini tidak pernah terlaksana. Dalam kedua pihak juga terdapat orang yang terangterangan menolak setiap bentuk kerja sama resmi. Di Sulawesi Selatan cumbu rayu Kahar Muzakkar dengan Permesta sebagian menjadi sebab menyerahnya Bahar Mattaliu, sementara di Aceh hubungan yang demikian merupakan salah satu faktor yang mendorong terbentuknya Dewan Revolusi. Pembelotan-pembelotan sekaligus memaksa kaum pejuang mujahidin Darul Islam yang tersisa untuk bekerja sama lebih erat dengan PRRI/Permesta. Kaum pejuang PRRI di Sumatera pada akhir 1959 terbagi dalam tiga kelompok yang berbeda, yang menganjurkan jalan yang berbedabeda. Satu kelompok ingin semata-mata melanjutkan PRRI, bagaimana pun sudah hampir tidak ada artinya lagi akibat aksi-aksi Angkatan Darat, Kelompok lain, dengan Zulkifli Lubis dan Maludin Simbolon sebagai wakil-wakil utamanya, menyetujui proklamasi Republik Indonesia Federal, sekalipun menentang kerja sama dengan Darul Islam. Faksi yang ketiga menyetujui bergabung dengan Darul Islam. Jurubicara utamanya adalah dua bekas perdana menteri, Mohammad Natsir dan Burhanuddin Harahap, dan politikus Indonesia yang berpengaruh, Sjafruddin Prawiranegara. Ketiga mereka ini lari dari Jakarta untuk bergabung dengan panglima-panglima daerah yang

Melihat karakteristik yang seperti yang disebutkan oleh Karto di atas, maka, Teungku Daud Beureu`eh dapat disebutkan sebagai penjelmaan Heru Cokro tersebut. Selanjutnya Kartosoewirjo menulis di dalam Statement Negara Islam Indonesia, bahwa Soekarno telah menerangkan, Negara Islam Indonesia tidak bersedia diadjak beroending.
Kapan RIK mengadjak beroending, atau kapan mereka maoe beroending, demikian pertanjaannja: Negara Islam Indonesia doea kali kirim nota rahasia, apa reaksi atas nota terseboet? Lebih baik Soekarno soeroeh periksa otak dan hatinja oleh achli djiwa jang tjakap dan berani teroes terang menjatakan penjakit Bung Karno beserta RIK. Lebih baik istirahat di Tjikeumeuh, Bogor (R.S. Gila) daripada memboeat bentjana di tengahtengah oemmat dan negara, hanja oentoek menoeroet nafsoe merah Moskow belaka.70

Bagi Karto, Moskow adalah poros yang sedang dianut kuat oleh Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno, yang bagi Kartosoewirjo, adalah gangguan jiwa yang perlu bantuan perawatan Rumah Sakit Jiwa di Cikeumeuh, Bogor. Gaya radikal, ceplas-ceplok dan keras karena

SM Kartosoewirjo, Manifesto Politik Negara Islam Indonesia, (Garut: naskah tak diterbitkan, 1950), hlm. 260-344.
70 Lihat Buku Sejarah Dokumenter, Buku Induk I, Jilid II, Bab V (A), Statement Pemerintah Negara Islam Indonesia No. VI/7, 25.5.1955.

69

30 Mohammad Hasan Tiro, The Political Future of The Indonesian Archipelago: A Manifest by Dr. Teungku Hasam Muhammad di Tiro, (Medan: Sumatera Berdaulat, 1965), hlm. 19, yang membela Republik Persatuan Indonesia sebagai wakilnya pada Perserikatan Bangsa-Bangsa mengusulkan Konfederasi Negara-negara Asia Tenggara yang terdiri dari Republik-republik Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Irian Jaya, Bali, dan Sunda. Walaupun mengabaikan Jawa dan bagian-bagian Nusa Tenggara lainnya dalam penyebutannya, dia menyatakan, Jawa juga harus merupakan bagian dari konfederasi.

324

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

45

adalah di bidang militer pun diangkat seorang bekas pemimpin gerilya menjadi pimpinan tertinggi di Aceh. Dia adalah Sjammaun Gaharu, panglima Tentara Republik di Aceh untuk masa singkat selama revolusi dan salah seorang penandatangan ultimatum terhadap uleebalang di Lammeulo (sebelum jabatannya diserahterimakan kepada Amir Husin al Mudjahid). Pada waktu yang bersamaan dilakukan pembicaraan oleh pemimpinpemimpin PRRI dan Darul Islam di Aceh. Ini menghasilkan proklamasi Republik Persatuan Indonesia (RPI) federal, Februari 1960, yang mewakili koalisi mereka yang kalah, orang-orang yang merasa dirinya bertempur dalam perang yang kalah di rimba.28 Di samping itu, RPI mempersatukan mereka yang di masa lalu berada dalam dua kubu yang berbeda dan paling-paling secara baik mereka memiliki simpati satu sama lain, dan secara jelek, mereka sama sekali bermusuhan. Tambahan lagi, Republik Persatuan Indonesia merupakan urusan Sumatera dan Sulawesi semata-mata. Ini membatalkan pengakuan yang masih dinyatakan oleh Negara Islam Indonesia dan PRRI/Permesta, bahwa wilayahnya meliputi seluruh Indonesia. RPI terdiri dari sepuluh negara, semuanya kecuali dua negara yang berada di Sumatera dan Sulawesi. Aceh, sebagai Republik Islam Aceh (RIA), adalah salah satu dari enam negara Sumatera, dan Sulawesi Selatan satu dari dua negara di pulau itu.29 Selain dari delapan negara ini, barangkali sebagai tindakan mengambil hati terhadap RMS, terdapat Negara Maluku dan Negara Maluku Selatan. Secara menyolok tidak terdapat negara-negara di Jawa, seperti Negara Jawa Barat, bumi kelaRepublik Persatuan Indonesia kadang-kadang juga disebut Negara Demokrasi Indonesia (NDI). Karena itu tentaranya, Tentara Persatuan Indonesia, kadang-kadang juga disebut Tentara Demokrasi Indonesia (TDI). Untuk Konstitusi RPI, lihat Mudzakkar, Konsep negara Demokrasi Indonesia, (t.t.), hlmn. 24-64.
29 Negara-negara Sumatera lainnya ialah: gabungan Negara Tapanuli dan Sumatera Timur dan Negara-negara Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Negara yang lain di Sulawesi adalah Negara Sulawesi Utara. Lihat J. Mossman, Rebel in Paradise: Indonesias Civil war, (London: Jonathan Cape, 1961), hlm. 228. 28

komitnya yang keras terhadap Islam, membuat SM Kartosoewirjo cocok untuk karakter tegas Teungku Daud Beureu`eh dan rakyat Aceh pada umumnya. Maka bisa dibayangkan bagaimana marahnya Soekarno yang disebut gila oleh Kartosoewirjo sehingga ia tidak segan-segan meminta parlemen menyetujui pengiriman pasukan TRI71 untuk menggempur TII di Jawa Barat. Demikianlah cara Soekarno yang telah menjatuhkan vonis salah kepada temannya sendiri yang telah lama dikenalnya. Ketika Mohammad Natsir mulai menjabat sebagai Perdana Menteri, dia memasukkan pesoalan DI/TII dalam program kabinetnya. Awal mula yang dijalankannya dia berusaha untuk memecahkan masalah perjuangan D.I lewat cara damai dengan mengutus beberapa tokoh yang dekat dengan Kartosoewirjo. Pada tanggal 14 Mei 1950, Natsir mengutus Wali Al-Fatah untuk berangkat ke Priangan menemui Kartosoewirjo. Namun pertemuan itu gagal karena pasukan APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) di bawah perintah Kolonel Nasuhi yang sebelumnya telah membuat perencanaan pertemuan tersebut mengepung sebuah kesatuan TII terdiri dari kirakira 100 tentara yang ditugaskan untuk menjamin keamanan pertemuan itu. Dalam pertempuran yang selanjutnya terjadi, gugurlah Toha Arsjad Menteri Penerangan NII.72 Namun, seorang syahid, lainnya mendapatkan kemenangan yang luar biasa di berbagai daerah sehingga DI me-nyebar dengan gerak merayab ke Jawa Tengah, daerah demi daerah, wilayah demi wilayah, desa demi desa; bagai ulat memakan daun hijau yang masih muda. Kemudian PM Natsir mengadakan usaha berikutnya, ketika dia pada tanggal 14 November 1950 menawarkan amnesti bagi semua kelompok bersenjata yang belum menggabungkan diri dengan Republik

TRI (Tentara Republik Indonesia) adalah singkatan yang digunakan oleh militer Indonesia ketika itu, sebelum akhirnya berubah menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia).
72

71

Lihat Merdeka, 26.5.1950.

46 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia dan masih memusuhi pemerintah RI.73 Natsir menugaskan Kyai Muslich, kepala Kantor Urusan Agama Provinsi Jawa Tengah untuk menyampaikan pesan pemerintah kepada Amir Fatah Widjajakusuma, pemimpin perjuangan Darul Islam di Jawa Tengah.74 Dalam perjalanan menuju Jawa Barat Amir Fatah dan pasukannya selalu diikuti pasukan pemerintah hingga dia akhirnya menyerah di Jawa Barat tanpa bertemu dengan Kartosoewirjo.75 Pada akhir Desember 1950 Natsir menugaskan kembali Kyai Muslich untuk menyampaikan amanat pemerintah RI kepada Tuan Kartosoewirjo. Muslich dibawa ke markasnya Kartosoewirjo di Gunung Galunggung oleh seorang penghubung perjuangan Darul Islam yang hidup di Bandung. Sebelum keberangkatannya, Kyai Muslich masih menemui Panglima Teritorium III/Siliwangi, Kol. Sadikin dan kemudian mendapat disposisi yang ditandatangani oleh Kepala Staf Letkol Soetoko yang berbunyi: Berikan bantuan seperlunya, supaya order YM Perdana Menteri dapat dilaksanakan dalam tempo dekat. Setelah tiba di tempat tujuan Kyai Muslich tidak bertemu muka dengan Katosoewirjo yang dia sudah kenal sejak tahun tigapuluhan ketika sama-sama menjadi anggota PSII. Lewat ajudannya Kartosoewirjo menyampaikan pesan, bahwa sebenarnya dia ingin bertemu dengan Kyai Muslich, namun sebagai Imam dan Panglima Tertinggi NII dia tidak dapat menerima seorang kurir dari kedudukan serendah Kyai Muslich. Sebaiknya pemerintah di Jakarta mengirimkan seorang utusan yang resmi, maka dia akan menerimanya. Tetapi sebelumnya, pemerintah RI harus mengakui Negara Islam Indonesia dulu. Menurut Kyai Muslich, dia dititipi 2 surat untuk PM Natsir, yang satu katanya untuk Natsir pribadi. Dalam surat tersebut Kartosoewirjo menulis pada Natsir, bahwa sebagai Perdana Menteri, Natsir punya kekuasaan untuk menambahkan huruf I berikutnya di belakang RI, menjadi Republik
Mohammad Natsir, Capita Selecta, Jilid II, (Bandung & The Hague: W. Van Hoeve, 1945), hlm. 8.
74 75 73

Ikrar Lamteh

323

1955 yang mengumumkan, tidak akan diambil tindakan terhadap para prajurit resimennya yang pulang ke rumah, asal saja ini tidak merugikan perjuangan.25 Dia sendiri pun diminta melapor kepada para penguasa, katanya, tetapi ia jngin menantikan hasil pemilihan umum. Dia memikirkan akan melapor demikian karena kabinet yang memerintah sekarang, Kabinet Burhanuddin Harahap, ideologinya berdekatan dengan cita-cita perjuangan di Aceh.26 Pada umumnya sikap kaum pemberonak Darul Islam di Aceh terhadap pemilihan umum lunak. Mula-mula, ketika jihad suci menegakkan Negara Islam meletus, sikap mereka terhadap ini mendua. Di satu pihak mereka menuduh Pemerintah Republik berusaha membiarkan mereka menunggu tanpa batas waktu, sedangkan di pihak lain pemilihan umum mereka cap sebagai alat Pemerintah Pusat untuk melakukan kehendaknya. Kini ketika pemilihan umum telah di ambang pintu, mereka tidak melakukan apa pun untuk merintanginya.27 Hasil pemilihan umum yang memuaskan di Aceh, yaitu Masyumi memperoleh dua pertiga jumlah suara, memberi mereka yang menyetujui diakhirinya jihad suci menegakkan Negara Islam alasan lain untuk menyokong sikap mereka. Kasus mereka lebih diperkukuh ketika, kali ini di bawah Kabinet Ali Satroamidjojo lagi; pada akhir 1956 suatu rancangan undang-undang disahkan, yang memberikan status provinsi otonom kepada Aceh. Undang-undang ini berlaku sejak Januari 1957. A. Hasjmy pemimpin Pemuda PUSA Aceh Besar sebelum Perang dan bekas Ketua BPI/Pesindo, menjadi gubernur pertama provinsi ini. Namun, faktor lain yang menyokong diakhirinya permusuhan

Lihat juga S.M. Amin, Sekitar Peristiwa Berdarah di Atjeh, (Jakarta: Soeroengan, 1956), hlm. 198-200.
26 27

25

Pengumuman Pemrintah 20 November 1955.

Merdeka, 20.6.1950. Kiblat XVIII, No. 24, 1981, hlm. 13.

Herbert Feith, The Indonesia Election of 1955, (Ithaca, New York: Modern Indonesian Project, Southeast Asia Program, Cornell University, Interim Report Series, 1971), hlm. 42.

322

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

47

daerahdaerah lain, tampaknya di sini ini tidak sampai mengakibatkan sering terjadi bentrokan antara komandan pasukan.22 Dengan penggeseran beberapa pemimpin angkatan pertama dari pusat kekuasaan pada tahun-tahun pertama, konferensi Batee Kureng mengadakan perubahan tertentu. Kendatipun laporan-laporan tentang konflik dan perjuangan untuk kekuasaan antara pucuk pimpinannama Daud Beureu`eh, Hasan Saleh, dan Husin Jusuf paling sering munculpada umumnya terdapat persatuan dan kekompakan yang kuat di daerah itu.23 Pemusatan kekuasaan dan lenyapnya pemimpin-pemimpin ter-tentu terjadi pada 1954, ketika Dewan Syura, Majelis Syura, dan Dewan Militer dibubarkan. Ketika itu Husin Jusuf kehilangan jabatannya se-bagai Kepala Staf Divisi Tengku Chik Ditiro beralih kepada Amir Husin al Mujahid. Walau pun ia diangkat sebagai koordinator keamanan untuk Aceh, kenaikan ini berarti kehilangan kekuasaan atas sebagian besar pasukan tempur. Hal yang sama terjadi kemudian pada penggantinya, Amir Husin al Mudjahid, yang digantikan oleh Hasan Aly. Di samping itu terdapat perlawanan terhadap reaksi Daud Beureu`eh mengenai tawaran dari pihak Republik Indonesia. Sementara orang tidak menyetujui penolakannya yang terangterangan akan kemungkinan tawaran amnesti, dan khususnya dalam Tentara Islam yang sebenarnya, ada sekelompok besar yang kuat menyetujui menerima tawaran yang demikian.24 Mengingat hal yang di atas dan banyaknya jumlah prajurit yang sudah kembali ke desa mereka, salah seorang komandan daerah, Iljas Leubee dari Aceh Tengah, mengeluarkan komunike pada November
Namun, terdapat beberapa laporan tentang tindakan disiplin yang diambil terhadap komandan-komandan Darul Islam setempat. Di Aceh Utara umpamanya, salah seorang pembantu Hasan Saleh, Usman Balo, lari ke Pidie ketika mengetahui, ia akan dihukum karena kekejamannya. Bagian Dokumentasi Deppen, Sekitar Peristiwa Berdarah Daud Beureueh, vol. I, II, III, (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan, 1953), hlm.18. 23 Pikiran Rakyat, 15 Februari 1956. Abdul Murat Mat Jan, GerakanDarul Islam di Aceh 1953-1959, dalam Akademika 8, 1976. hlm. 39-40.
24 22

Islam Indonesia. Sekiranya Natsir berbuat demikian maka dia akan mempunyai dukungan sepenuhnya dari pihak NII dalam segala hal. Dalam surat berikutnya yang ditujukan kepada Moh. Natsir sebagai Perdana Menteri, Kartosoewirjo menamakan amanat pemerintah RI sebagai panggilan daun nyiur karena semua anggota kelompok bersenjata yang menyerah, harus membawa daun nyiur sebagai tanda tekad mereka yang damai. Tetapi selama masa berlakunya amnesti yang dikeluarkan oleh Muh. Natsir atas nama pemerintah, hanya sedikit dari anggota kelompok bersenjata TII yang turun gunung. Lagi pula, sementara amnesti tersebut masih berlaku, Panglima Teritorium III Jawa Barat mengeluarkan instruksi yang menyatakan 16 organisasi sebagai organisasi ter-larang, termasuk perjuangan DI/TII.76 Banyak dari mereka yang tertangkap adalah politisi dari kalangan Masjumi.77 Sebagai akibat kegagalan himbauan pemerintah RI, dan Moh. Natsir juga menyesalkan, bahwa dia dikecam. Maka pada bulan Desember, Natsir didukung oleh pihak militer mengambil langkah-langkah yang lebih keras dengan menjalankan Operasi Merdeka untuk menjawab seluruh permasalahan tentang Darul Islam. Menurut Nasution, sudah tidak dapat disangkal lagi, bahwa ini adalah keadaan perang yang harus dihadapi secara perang pula karena intensitas peperangan ini tidak kalah dengan perang gerilya melawan Belanda.78 Nasution juga menyesalkan sikap pemerintah yang sampai saat itu hanya mengambil tindakan setengah hati saja terhadap pemberontahakan Darul Islam. Lagi pula semua tindakan tidak pernah dikoordinasi satu dengan yang lainnya.79 Juga hanya 10% dari seluruh
Republik Indonesia, Provinsi Djawa Barat, Bd. 1, (Jakarta: Kementerian Penerangan Republik Indonesia, 1953), hlm. 221. Herbert Feith, The Decline and Fall the Constitutional Democracy in Indonesia, (Ithaca, New York: Cornell University Press, 1973), hlm. 210. A.H. Nasution, Tjatatan-tjatatan Sekitar Politik Militer Indonesia, Jakarta Pembimbing, 1955, hlm. 91.
79 78 77 76

A.H. Nasution, Sedjarah Perdjuangan Nasional, op.cit., hlm. 175.

48 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia pasukan Divisi Siliwangi mengambil bagian dalam penumpasan perjuangan Darul Islam pada waktu itu.80 Semakin pihak RI mengadakan penumpasan terhadap perjuangan Darul Islam, bagi kalangan pemeberontak menganggap di situ pula kiranya Allah memberikan pertolongan-Nya terhadap perjuangan Kartosoewirjo ini. Dengan Kurnia Allah pada tanggal 20 Januari 1952, Negara Islam Indonesia yang diproklamasikan Kartosoewirjo diterima oleh Kahar Mudzakar yang siap menggabungkan diri dalam NII.81 Dan siap pula menerima tawaran Kartosoewirjo untuk memegang pimpinan Tentara Islam Indonesia. Yang berdasarkan keputusan Komandemen Tertinggi APNII dia diangkat sebagai Panglima Divisi IV TII untuk daerah Sulawesi dan Indonesia Timur. Menyusul kemudian pada tanggal 21 September 1953, Abu Daud Beureu`eh menyatakan bahwa daerah Aceh menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia dan memutuskan semua hubungan dengan pemerintah pusat di Jakarta.82 Melalui kurir yang bernama Mustafa Rasjid, Kartosoewirjo mengirimkan surat pengangkatan Daud Beureu`eh sebagai Panglima TII untuk daerah Aceh (Komandemen Wilayah 5 atau disingkat dengan KW-5. Maka dengan demikian bertambah kuatlah kedudukan Negara Islam Indonesia dengan masuknya kedua tokoh besar itu. Dalam usaha Kartosoewirjo untuk terus menggalang Darul Islam, pada bulan Oktober 1952, Kartosoewirjo memerintahkan untuk mempercepat dan memperhebat semua usaha menyelenggarakan persiapan perang totaliter dan memperbaiki organisasi Polisi dan

Ikrar Lamteh

321

menjengkelkan pemimpin-pemimpin pejuang mujahidin. Mereka ini tetap bersedia berunding, tetapi hanya atas dasar resmi: antara sesama pihak pemerintah NII Aceh dengan pihak Republik Indonesia. Usul-usul Pemerintah Republik dibahas para pemimpin Darul Islam di Batee Kureng. Sebenarnya inilah yang menjadi penyebab langsung kehendak Daud Beureuh untuk berunding dengan penasihat-penasihatnya yang akrab. Hasil kongkret pembicaraan ini, seperti dirumuskan dalam salah satu butir program kabinet baru adalah ketetapan bahwa harus diusahakan menyelesaikan konflik dengan "pemerintah Pancasila" tidak hanya dengan kekuatan senjata melainkan juga dengan cara politik. Karena itu Hasan Aly mengirim surat pada bulan November kepada S.M. Amin (Gubernur Sumatera Utara) yang isinya mendesak agar Pemerintah Republik secara terbuka menyatakan pendiriannya dan bahwa semua perundirlgan selajutnya akan dilakukan delegasi resmi dari kedua pihak, dan tidak lagi informal. Hanyalah bila ada alasan-alasan yang mendesak yang mencegah Pemerintah Republik berbuat demikian. Hasan Aly bersedia melanjutkan pembicaraan informal. Tetapi dalam hal itu Pemerintah Republik hendaknya memberitahukannya secepat mungkin bahwa terdapat alasan-alasan yang mendesak demikian.20 Konferensi Batee Kureng merupakan salah satu tanda yang paling tidak mungkin diragukan lagi akan adanya perselisihan pendapat di kalangan para pejuang mujahidin Darul Islam di Aceh. Ini membuktikan ketidakpuasan akan cara semua keputusan dibuat Daud Beureu`eh dengan sekelompok kecil penasihat, dan tunduknya urusan sipil kepada militer. Masyarakat pun mengathui adanya perpecahan di antara mereka, meskipun semuanya kelihat sangat solid.21 Walaupun pasti terdapat persaingan dan pertentangan di kalangan pemimpin-pemimpin Negara Islam di Aceh, berbeda dengan
20 21

A. Kosasih, Teguh Tenang Menempuh Gelombang, (Bandung: Sumur Bandung, 1962), hlm. 29.
81

80

Bahar Mattaliu, Kahar Muzakkar dengan Petualangannja, (Jakarta: Delegasi 1965),

hlm. 37.
82 Hardi, Api Nasiolisme: Cuplikan Pengalaman, (Jakarta: Gunung Agung, 1983), hlm. 118; Moh. Nur El Ibrahimy, Teungku Muhammad Daud Beureu`eh: Peranannya dalam Pergolakan di Aceh, (Jakarta: Gunung Agung, 1982), hlm. 21.

S.M. Amin, Sekitar Peristiwa Berdarah di Atjeh, (Jakarta: Soeroengan, 1956), hlm. 301. Pikiran Rakyat, 14 Februari 1956.

320

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

49

dari Masyumi pada Agustus 1955 (Amin, 1956:205). Pembentukan suatu kabinet baru di bawah pimpinan perdana menteri Masyumi, dan di dalamnya PNI tidak terwakili, membuat lebih besar terdapat kemungkinan perukunan. Di samping itu, Burhanuddin Harahap diketahui menyetujui mengakhiri jihad suci menegakkan Negara Islam dengan cara damai. Sudah beberapa bulan sebelumnya dia sependapat dengan Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Kolonel Zulkifli LubisWakil Kepala Staf Angkatan Darat yang kontroversial ketika itusegala sesuatu harus dilakukan untuk mendapat penyelesaian politik bagi persoalan berbagai jihad suci menegakkan Negara Islam ini.19 Selanjutnya ia meminta anak Daud Beureu`eh, Hasballah Daud, pergi ke Aceh Untuk menyampaikan penawaran kepada bapaknya amnesti dan abolisi jika bersedia menghentikan perlawanan. Hasballah Daud meninggalkan Jakarta pada 5 Juli 1955 dengan surat dari Hatta dan dari Kementerian Penerangan dalam sakunya, dan diser-tai Abdullah Arif, seorang pegawai Kementerian Penerangan, melewati jalan laut dan darat yang sangat melelahkan. Baru pada akhir Agustus 1955 dia kembali ke Jakarta. Baik Kabinet Ali Sastroamidjojo maupun Kabinet Burhanuddin Harahap tidak secara resmi bertanggung jawab untuk perjalanan ini, dan keduanya menekankan, hal ini merupakan prakarsa pribadi. Namun, Abdullah Arif pergi ke Aceh sekali lagi untuk menemui Hasan Aly pada Februari 1956. Upaya ini pun sia-sia. Pemimpin-pemimpin Islam di Aceh belum tergoda oleh tawaran amnesti, se-dangkan Republik menolak tuntutan pejuang mujahidin untuk berun-ding atas dasar pemerintah dengan pemerintah. Bagi kaum Republik, DI bukanlah sebuah pemerintahan, melainkan sebuah organisasi ba-wah tanah belaka yang kantor pun tak punya apalagi mesin ketik. Upaya untuk menengahi, yang tidak jelas sejauh mana hal ini disokong Pemerintah Republik di Jakarta, hanyalah
Zulkifli Lubis dan Burhanuddin Harahap juga terlibat dalam upaya mengadakan hubungan dengan Kartosuwirjo. Ini menjadi jelas pada Februari 1956, ketika seorang utusanyang membawa surat-surat untuk Kartosuswirjo yang memintanya agar menyetujui gencatan senjata telah diciduk oleh pihak keamanan Republik. Pikiran Rakyat, 4 Februari 1956.
19

BARIS begitu juga sistem Komandemen.83


Badan-badan ini haroes membentoek seboeah Benteng Islam agar apabila dalam memasoeki tahap ketiga dapat menyelenggarakan negara basis atau Madinah Indonesia jang mana: Ke dalam, berlakoe sebagai alat-alat pembersih dan penjapoe segala matjam koetoe-koetoe masjarakat, dan obat penjemboeh beraneka warna penjakit, pemelihara kadaoelatan Negara Islam Indonesia dan kesoetjian Agama Islam. Keloear, meroepakan Benteng Islam jang koeat sentaoesa, jang sanggoep menghadapi tiap-tiap moesoeh Allah (Islam), dari djoeroesan manapoen djoega.84

Juga penganugerahan pangkat militer dan penggunaan lencana kepangkatan, serta bentuk dan pembuatan lencana tersebut kini diatur oleh sebuah Maklumat Komando Tertinggi.85 Selanjutnya ditetapkan konsolidasi militer dan aparatur Negara Islam Indonesia, agar negara ini juga dalam pandangan internasional sesuai dengan negara yang bebas merdeka. Konsolidasi ini terutama mencakup kekuatan tentara dan persenjataan kesatuan militer Tentara Islam Indonesia yang masih tetap jauh tertinggal dari standar seharusnya. Sebuah batalyon Tentara Islam Indonesia terdiri dari 4 kompi masing-masing dengan 290 tentara dan masing-masing kompi harus mempunyai 12 senjata otomatis berat dan ringan, 3 mortir, 189 pucuk senapan, dan 12 pucuk pistol. Namun standar persenjataan yang ideal ini tidak pernah tercapai, karena selalu kekurangan senjata berat. Perkembangan gerakan DI ini semakin hari semakin kuat, yang menyeberang ke DI semakin banyak, berasal dari berbagai kalangan: petani, rakyat kecil, mahasiswa, kaum intelektual, militer, polisi dan juga para pegawai negeri jawatan-jawatan pemerintahan. Gerakan ini mengalami proses ekspansi yang sangat cepat, menjalar bagaikan api membakar ladang kering di musim kemarau. Gerakan menentang ide-

S.M. Kartosoewirjo (nama pena: Karma Yoga), Salinan Pedoman Dharma Bakti, Jilid I, Maklumat Komandemen Tertinggi No. 8, 12.10.1952, hlm. 55-63.
84 85

83

Ibid. Ibid., "Maklumat Komandemen Tertinggi No. 9", 17.10.1952, hlm. 64-111.

50 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia ologi Soekarno (Pancasila) ini mendapatkan sambutan luar-biasa di Jawa Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan. DI juga memiliki program ekspansi ke Sumatera secara sangat serius. SM Kartosoewirjo pun memerintahkan Abdul Fatah Wirananggapati, seorang staf kuasa usaha, menuju ke Aceh menemui Tgk. M Daud Beureu`eh. Utusan khusus ini yang bahkan tidak mengerti situasi politik Aceh, tidak mengerti bahasa dan kultur Aceh, tapi orang asing ini pun diterima oleh Teungku Daud Beureu`eh dengan hati yang bersih. Maka bergabunglah Teungku Daud Beureu`eh dan sebagian besar rakyat Aceh ke dalam Negara Islam Indonesia, ke dalam Darul Islam.***

Ikrar Lamteh

319

Politik kebijak-sanaan yang dijalankan Pemerintah Republik, reaksi Pemerintah terha-dap Peristiwa Cumbok dan terhadap tuntutan otonomi, reorganisasi Tentara di Aceh, dan sebagainya merupakan cukup bukti kebalik-kannya..17 Amin menjawab pada Agustus 1954. Dengan menolak menemui pemimpim-pemimpin gerilya ini sendiri, ia mengirim suatu rancangan surat untuk ditandatangani Daud Beureu`eh dan Hasan Aly yang menyatakan, keduanya berjanji akan mengakhiri perlawanan mereka, meletakkan senjata mereka, dan akan menemui wakil-wakil Pemerintah Republik bila yang belakangan ini bersedia mengakui hak mereka untuk memperjuangkan Negara Islam bukan dengan jalan kekerasan, memberikan lebih banyak perhatian demi kepentingan Aceh di masa depan dan memberikan amnesti kepada para pejuang mujahidin. Bila Daud Beureu`eh dan Hasan Aly menandatangani rancangan ini, ia, Amin, pribadi akan ke Jakarta untuk memperjuangkan agar persetujuan ini diterima Pemerintah. Tetapi Daud Beureu`eh dan Hasan Aly tidak menandatanganinya. Sebaliknya mereka merancangkan suatu peraturan pemerintah untuk ditandatangani Ali Sastroamidjojo yang mereka minta dibawa Amin ke Jakarta. Di dalamnya dinyatakan, Pemerintah Republik berusaha membuka perundingan dengan pendiri-pendiri Negara Islam Indonesia di Jawa, Aceh, Kalimantan, dan Sulawesi, dan melindungi serta membantu para anggota delegasi Negara Islam selama perundingan-perundingan ini berlangsung. Dalam surat pengiringnya, tertanggal 5 Oktober 1954, mereka menjelaskan, apa yang mereka inginkan bukanlah amnesti tetapi perundingan.18 Semua surat ini dikirim Amin ke Jakarta, tetapi Pemerintah tidak memberi reaksi. Kemudian surat-menyuratnya untuk sementara dihentikan, dan baru dimulai lagi sesudah Kabinet Ali Sastroamidjojo jatuh, dan digantikan pemerintah baru yang dikepalai Burhanuddin Harahap
17 18

Gelanggang, Ibid. Gelanggang, Ibid, hlm. 157-167.

318

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

51

pendidikan dan hukum adat, tetapi dengan ketentuan, seperti dinyatakan Djuanda dalam keputusannya, tidak bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku. Sejak mula jihad suci menegakkan Negara Islam Amin memperlihatkan dirinya sebagai seorang yang membela perundingan dengan pejuang mujahidin sebagai cara memperoleh penyelesaian damai.15 Berpegang pada prinsip ini, ia melakukan kontak dengan Said Abu-bakar. Selanjutnya ia mengadakan surat-menyurat dengan pemimpin-pemimpin Darul Islam secara diam-diam, tanpa lebih dahulu memberitahukan kepada Pemerintah Pusat, Desember 1953. Dalam surat-surat iniyang dinyatakannya sendiri dengan tegas, ia menulis sebagai se-orang warga negara pribadi ia menyatakan, menyetujui tujuan pe-juang mujahidin yang merupakan cita-cita semua un.at muslim dan ia merasa peristiwa-peristiwa yang telah mencetuskan jihad suci mene-gakkan Negara Islam adalah akibat salah paham. Tetapi cara-cara yang dipilih kaum pejuang mujahidin tidak disetujui semua umat muslim. Karena itu ia meminta kaum pejuang mujahidin mengemukakan ga-gasan bagaimana mengakhlri pertumpahan darah.16 Amin menerima jawaban dari Husin Jusuf dan Daud Beureu`eh. Keduanya menggarisbawahi kewajiban setiap muslim Indonesia untuk turut serta dalam jihad mempertahankan Negara Islam Indonesia, yang demikian mereka kemukakan, telah menjadi suatu kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Lalu mereka menyatakan, konflik dapat berakhir segera sesudah Pemerintah Republik memperhatikan hasrat masyarakat Islam. Mereka menyangkal, revolusi sosial atau keinginan memperoleh otonomi mengilhami jihad suci menegakkan Negara Islam me-reka, dengan menegaskan, penyebab pangkalnya terletak dalam aga-ma. Mereka tidak sependapat dengan pandangan Amin bahwa keka-cauan yang terjadi adalah disebabkan kesalahpahaman.
15 16

Lihat C. van Dijk, Darul Islam, Sebuah Pemberontakan, hlm.67.

A.H. Gelanggang, Rahasia Pemberontakan Atjeh dan Kegagalan Politik Mr. S.M. Amin, (Banda Aceh, 1956), hlm. 126, 129-130.

Ikrar Lamteh

317

Langkah pertama Abdul Gani Usman dalam kedudukannya sebagai ketua Dewan Revolusi adalah membuat pengumuman yang menyatakan, jabatan kepala negara untuk sementara dilaksanakan Dewan Pertimbangan Revolusi, yang diketuai Amir Husin al Mudjahid. Pada waktu yang bersamaan ia memerintahkan para pengikutnya menghentikan pemungutan pajak di desa-desa, disertai ancaman terhadap siapa saja yang masih terus melakukannya. Mengenai Tentara Islam, Hasan Saleh membatasi gerak para prajurit Divisi Tengku Chik Ditiro dalam asrama mereka, dengan menarik mereka dari desa-desa tempat mereka ditempatkan. Selanjutnya ia mengumumkan, Dewan Revolusi akan mengirimkan delegasi ke Jakarta untuk membicarakan berakhirnya pemberontakan dengan para penguasa Republik. Pada bulan-bulan berikutnya Dewan Revolusi diikuti pasukan dari Aceh Barat yang dipimpin T.R. Idris dan Komandan Resimen VII Sumatera Timur, Haji Hasanuddin.12 Pada Agustus, Abdul Gani Mutiara menyatakan Dewan revolusi didukung 25.000 anggota Darul Islam.13 Perkembangan-perkembangan ini memulai serangkaian perundingan baru. Pada awal Mei Sjammaun Gaharu dan A. Hasjmy bertolak lagi ke Jakarta, kali ini atas undangan Perdana Menteri Djuanda. Mereka menjelaskan situasi yang baru kepada Kabinet dan kepada Presiden Soekarno serta memberikan sejumlah anjuran tentang langkah-langkah yang harus diambil sehubungan dengan ini. Kemudian Juanda mengeluarkan keputusan14 yang menyatakan, sejak 26 Mei Provinsi Aceh dapat menamakan dirinya Daerah Istimewa Aceh. Ini menempatkan Aceh dalam kedudukan yang agak khas, karena dari provinsi-provinsi yang lain hanyalah ibukota, Jakarta, dan Yogyakarta yang memiliki status istimewa. Kepada Aceh selanjutnya dijanjikan otonomi yang seluas mungkin, terutama dalam bidang agama,
Kedudukan Haji Hasanuddin sebagai komandan Resimen Sumatera Timur diambil alih Teuku Saat; tetapi kebanyakan prajurit mengikuti Hasanuddin. C. van Dijk, Darul Islam, Sebuah Pemberontakan..
13 14 12

Van Dijk, Ibid. Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia no. 1|Miss81959.

316

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Khususnya di dalam Tentara Islam Indonesia Aceh terdapat banyak yang memikirkan untuk menyerah karena banyak konsesi yang ditawarkan jika turun. Sementara Teungku Daud Beureu`eh tak bergeming dengan semua tawaran-tawaran ini. Bagi Abu Beureueh, biar senadainya diberikan kebun teh di tangan kirinya dan galon bensin di tangan kanannya, dia akan terus memperjuangkan negara Islam Aceh yang sudah dimulainya hingga akhir. Namun, spirit gerilya tidak semata-mata cukup dimiliki oleh pemimpinnya saja, melainkan para bawahan dan pendukungnya juga harus terus disiram dengan tilawah-tilawah yang membangkitkan semangat. Kelompok ini dipimpin Hasan Saleh, Panglima Divisi Tengku Chik Ditiro dan Kepala Staf Tentara Islam. Ia menuduh Daud Beureu`eh berusaha menjerumuskan Aceh ke dalam suatu perang baru tanpa memikirkan nasib prajurit biasa dan rakyat pada umumnya yang harus menanggung akibatakibatnya.11 Akibatnya pertempuran sangat banyak berkurang sesudah Ikrar Lamteh. Namun, belum juga tampak akhir pemberontakan. Dua tahun lamanya lagi barulah lawan-lawan Daud Beureu`eh bulat hatinya dan benar-benar memisahkan diri dari padanya. Hal ini terjadi pada Maret 1959, ketika, dengan menuduh Daud Beureu`eh bertindak sewenang-wenang, Hasan Saleh dan pendukungpendukungnya menggulingkannya. Mereka membentuk pemerintah mereka sendiri pada suatu pertemuan di Pidie yang dihadiri kira-kira seribu orang pada 15 Maret, mereka yang berlainan pendapat ini menamakan dirinya Gerakan Revolusioner Islam Indonesia, kemudian membentuk Dewan Revolusi (Negara Bagian Aceh). Ketuanya adalah Abdul Gani Usman, dan wakil ketuanya adalah Hasan Saleh, dengan Abdul Gani Mutiara sebagai sekretaris umum dan kepala Bagian Penerangan. Sebagai anggota termasuk pemimpinpemimpin Darul Islam terkemuka seperti Amir Husin al Mudjahid, T.A. Hasan, Ibrahim Saleh, T.M. Amin, dan Husin Jusuf.
11 Abdul Murat Mat Jan, GerakanDarul Islam di Aceh 1953-1959, dalam Akademika 8, 1976. hlm. 41-42.

Bab II

ACEH DI AWAL KEMERDEKAAN

Aku bermadah sekali ini, Memoedja noesa Tanah Airkoe, Djiwa Merdeka bebas bernjanji, Tjoerahan hati tidak terganggoe. Indonesia merdeka pasti, Rantai pendjadjah lenjap menghilang, Merah Poetih bendera soetji, Berkibar djaja dipontjak tiang Akoe sedia berkoeah darah. Badankoe rebah djatoeh keboemi, Niat dihati tidak berobah: Dari terdjadjah baiklah mati! Kasad dan tjita telah berpadoe. Hendak berdjoeang menentang mati, Oentoek berbakti kepada Iboe, Semangat sjahid penoeh dihati. (A. Arify)1

uisi A. Arify di atas menggambarkan bagaimana sambutan rakyat Aceh terhadap kemerdekaan Indonesia: Oentoek berbakti kepada Iboe. Indonesia adalah Ibu, sebuah personifikasi yang sangat suci dalam pandangan rakyat Aceh. Untuk memahami secara lebih jelas tentang sebab-sebab munculnya Darul Islam di Aceh, kita harus melihat sedikit ke belakang, ke sejarah politik Aceh dan bagaimana hubungan rakyat Aceh dengan sang Ibu yang kemudian hadir dengan
1 Puisi ini terdapat di back-cover buku Tgk. Ismail Jakoeb, Soesoenan Indonesia Merdeka, (Koetaradja: Semangat Merdeka, 1945).

52 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia wajah yang sangat kejam. Juga penting melihat sosiologi Aceh setidaknya pada masa awal kemerdekaan dan struktur masyarakat Aceh ketika itu yang sarat dengan nuansa Islam. Proklamasi 17 Agustus 1945 yang dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta di Jakarta segera menggema ke seluruh pelosok dan mendapatkan tanggapan dari rakyat Aceh. Di Koetaradja, pada 28 Oktober 1945, terbit sebuah buku pamflet yang ditulis oleh Tgk. Ismail Jacoeb,2 terbit oentoek penerangan kepada rajat tentang Republik yang baru berdiri, agar rakyat Aceh tahu akan negaranja yang sedang dalam pembinaan3 ini. Pe-nyusunnya adalah seorang ulama, jelas sekali memperlihatkan bagaimana Republik Indonesia disambut bak seorang Ibu yang telah lama dirindu. Kaum ulama memegang kekuasaan politik formal dan informal di Aceh jauh sebelum kemerdekaan. Melalui pendirian organisasi ulama, POeSA4 (Persatoean Oelama Seloeroeh Atjeh), kalangan ulama mendapatkan pengaruh dan dukungan legitimasi politik di seluruh Aceh. Ulama telah lama menjadi pemain dominan (recalcitrant player) dalam perpolitikan Aceh di antara dua kelompok utama (major players) lainnya semenjak jatuhnya kekuasaan Sultan (1914) hingga awal kemerdekaan (1945-1960). Dua kelompok lainnya adalah (1) uleebalang, dan (2) rakyat biasa. Untuk melihat bagaimana situasi Aceh sebelum meletusnya pemberontakan Darul Islam, maka kita harus memahami bagaimana struktur masyarakat dan perubahan sosiologis Aceh pada masa prakolonial, masa kolonial dan pasca kolonial (awal kemerdekaan Republik).5

Ikrar Lamteh

315

Aceh oleh tokoh-tokoh yang menyeleweng di Sumatera Tengah. Peristiwa ini juga melibatkan beberapa tokoh daerah Aceh yang dulunya telah menyetujui Ikrar Lamteh.9 Sjammaun Gaharu sebagai KDMA masih berketetapan hati untuk mempertahankan dengan segala daya yang ada pada garis-garis Konsepsi Pinsipiil-Bidjaksana yang sudah dirumuskannya dulu dan dianggap sinkron dengan Ikrar Lamteh. Sesuai dengan kebijaksanaannya, yang dinamakannya Konsepsi prinsipiel dan bijaksana, Sjammaun Gaharu bersama dengan Ali Hasjmy melanjutkan usaha-usahanya mencari penyelesaian. Keduanya tetap berhubungan dengan pemimpin-pemimpin Darul Islam dan mengunjungi Jakarta berkali-kali untuk mengetahui sejauh mana mereka dapat melangkah dalam perundingan mereka dengan kaum pemberontak. Pada September 1957 Perdana Menteri Djuanda mengatakan kepada mereka, mereka boleh memberikan konsep otonomi daerah dengan penafsiran yang seluas mungkin, bahkan sampai kepada pengertian bahwa Aceh diperlakukan sebagai negara tersendiri, asal saja mereka tetap dalam batas-batas UUDS Indonesia yang masih mengakui suatu republik kesatuan.10 Tetapi tak tercapai penyelesaian pada waktu itu, sebagiannya ini disebabkan kenyataan bahwa pemberontakan PRRI-Permesta telah menyita perhatian kalangana militer dan kalangan DI, dan sebagiannya karena adanya dalam Negara Islam Aceh suatu faksi yang amat kuat, yang dipimpin Daud Beureu`eh, yang tidak ingin mendengarkan kompromi apa pun juga dan berpegang pada prinsip perundingan resmi antara Negara Islam Aceh dan Republik Indonesia. Bagi teungku Beureu`eh, Ikrar Lamteh tetap bersemanyam di Lamteh, tidak di Lammeulo dan Beureuneun. Namun, sikap pendirian Teungku Daud Beureu`eh ini makin hari makin ditentang oleh para stafnya di jajaran lingkar pertama kekuasaan negara Aceh yang tengah berjuang ini.
9

Tgk. Ismail Jacoeb, Soesoenan Indonesia Merdeka, (Koetaradja: Semangat Merdeka, Ibid., hlm. 2. Dalam buku ini, singkatan POeSA, selanjutnya, disingkat dengan ejaan baru: PUSA.

1945).
3 4 5

Dengan mengikuti tesis Nazaruddin Sjamsuddin, The Republican Revolt: A Study of the Achenese Rebellion, (Singapore: ISEAS, 1985), gambaran struktur masyarakat Aceh pada masa pra-kolonial, kolonial dan pasca-kolonial menjadi sedikit lebih terang bagi konstruksi ide buku ini.

JarahDam-I, Dua Windhu., hlm. 245. Ali Hasjmy, Almanak Umum 1959, (Banda Aceh: Atjeh Press Service, 1959), hlm. 57-

10

58.

314

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Aceh di Awal Ke merdekaan

53

Melihat situasi yang berkembang semakin kondusif bagi keamanan, maka pada tanggal 22 Desember 1957 dilakukanlah sebuah Rapat Lengkap KDMA untuk membahas hasil-hasil pencapaian di bidang keamanan. Keamanan menjadi barang abstrak yang sangat mahal harganya di Aceh selama pemberontakan meletus. Ada satu perubahan besar paradigma militer dalam memahami gejolak masyarakat di dalam rapat lengkap KDMA ini. Panitia merasakan suasana kegairahan dan persaudaraan.7 Ada dua kesimpulan teoritis penting yang diambil dalam rapat ini, yaitu perlunya pemahaman faktor psikologis masyarakat dan perlunya data dan pemahaman terusmenerus (continuum) tentang catatan etnologis8 dan etnografis masyarakat dalam proses penyelesaian konflik dan pemulihan keamanan. Meskipun militer memiliki logika sendiri dalam menghadapi setiap situai, namun ilmu pengetahuan antropologis sangat mutlak diperlukan. Khususnya untuk masyarakat Aceh dengan karakter budaya yang unik faktor-faktor etnologis dan psikologis mutlak tidak bisa diabaikan sama sekali. Dalam rapat ini, bermodal perspektif teoritis antropologik tersebut, maka panitia rapat yang diketuai oleh Mayor Teuku Manyak dan Kapten Abdullah Sani berkesimpulan bahwa perlunya mengharap Pemerintah Daerah dan KDMA melanjutkan terus upaya membuka kontak dan hubungan secara formil dengan DI. Namun, Ikrar Lamteh yang sudah ditanda-tangani ini sesungguhnya masih merupakan fragile agreement karena hanya berisi semangat tanpa ada aturan-aturan dengan kesepakatan yang mengikat. Ikrar ini hanya merupakan suatu ekspresi emosional tentang perlunya gencatan senjata, suatu periode jeda perang setelah melewati sejumlah panjang episode perang yang berat. Pada tahun 1958, terjadi suatu periostiwa yang merusak kesepakatan awal Ikrar Lamteh yang adanya beberapa usaha memasukkan senjata ilegal ke

A. Struktur Masyarakat Aceh


Pada masa prakolonial, struktur masyarakat Aceh terdiri dari empat kelompok besar: (1) sultan, (2) ulama, (3) uleebalang, dan (4) rakyat biasa. Sesuai dengan urutannya, keompok sultan memiliki porsi keku-asaan yang paling besar. Sementara kelompok ulama dan uleebalang yang hampir sama. Namun, karena pengaruh sistem negara kerajaan Aceh yang berhaluan agama, maka kelompok ulama menempati posisi kedua setelah sultan. Kaum uleebalang, oleh karena penguasaan sek-tor-sektor ekonomi yang produktif di sepanjang pesisir pantai, menjadi kekuatan politik ketiga atau mungkin sama dengan kelompok ula-ma. Kelompok sultan, ulama dan uleebalang, karena kekuasaan yang dimilikinya, dapat kita sebut sebagai kelompok penguasa (the rulers). Sementara kelompok rakyat biasa, oleh karena kejelataannya, seperti terdapat di mana pun, memiliki porsi kekuasaan yang lebih kecil atau tidak memiliki kekuasaan sedikitpun (the ruled groups). Pada masa kolonial, struktur dan komposisi kekuasaan di atas mengalami perubahan setelah masuknya kolonial Belanda dengan cara fisik yang menyebabkan jatuhnya kekuasaan sultan secara definitif. Kekuasaan kolonial muncul dan menggeser kekuasaan sultan menjadi kurang lebih sama atau di bawah kekuasaan ulama dan uleebalang. Kekuasaan sultan selanjutnya melebur atau mengalami amalgamasi dengan kelompok uleebalang atau kelompok ulama. Sultan Aceh terakhir ditangkap dan diasingkan, sehingga pengaruh dan kuasanya sirna di masyarakat. Perjuangan repatriasi kekuasaan kesultanan Aceh dilanjutkan oleh kalangan ulama. Bahkan setelah penetrasi sistem kolonial demikian dalam ke masyarakat Aceh, kekuasaan kolonial hampir hilang sama sekali. Dengan hilangnya kekuasaan Sulthan, maka di atas puing-puing politik yang tersisa dimulailah program pembangunan ekonomi di Aceh oleh kolonial Belanda. Belanda mulai membangun jalur kereta api, jalan raya aspal dan jembatan yang

7 8

JarahDam-I, Dua Windhu., hlm. 245. Loc.cit.

54 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia menghubungkan mukim dan sagoe di seluruh Aceh.6 Sementara itu, kalangan ulama dan uleebalang melanjutkan perjuangan jihad melawan kaphe (kafir) Belanda. Sehingga yang tinggal hanyalah komposisi 3 struktur kekuasaan saja: (1) uleebalang, (2) ulama, dan (3) rakyat biasa. Mulai saat itulah kohesi sosial politik golongan-golongan masyarakat yang mendukung struktur sosial Aceh menjadi retak.7 Keretakan ini kemudian terus-menerus berimplikasi terhadap dinamika dan pergolakan politik di Aceh. Retakan kohesi sosial-politik ini sangat jelas terlihat pada pergeseran afiliasi politik di antara tiga go-longan utama masyarakat Aceh. Sebagian besar golongan uleebalang, sesuai dengan politik pecah-belah Belanda, lebih berafiliasi pada pe-merintah kolonial. Sementara, golongan ulama cenderung tetap ber-satu dengan sultan. Bahkan dalam beberapa hal fungsi kepemimpinan sultan cenderung berpindah ke tangan para ulama. Terutama gejala ini terlihat dalam gerakan-gerakan perlawanan melawan pemerintah ko-lonial. Meskipun demikian, harus pula diingat bahwa tidak semua go-longan uleabalang cenderung berafiliasi dengan pemerintah kolonial. Sebab, seperti tercatat dalam sejarah, banyak pula terdapat kaum ulee-balang menjadi pemimpin perlawanan

Ikrar Lamteh

313

penyelesaian.3 Teungku Daud Beureu`eh adalah seorang petempur sejati, medan perang lebih disukainya ketimbang rebah-rebahan berleha-leha melihat hancurnya moral masyarakat Aceh. Abu Beureu`eh, demikian ia biasa dipanggil, adalah sosok yang tegas dan keras, seradikal SM kartosoewirjo. Sebagai tindak lanjut dari Ikrar Lamteh ini, pada tanggal 9 April 1957, Komandan KDMA mengeluarkan perintah penghentian pertempuran dengan Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia di Aceh.4 Kemudian Sjamaun Gaharu selaku KDMA mengirim 2 rombongan utusan ke seluruh Aceh untuk mkengadakan pendekatan dengan para pemimpin DI-TII di seluruh kabupaten. Rombongan utusan ini terbagi menjadi dua kelompok: (1) kelompok pertama menjalankan misi sosialisasi damai ini di sepanjang pantai barat dan selatan yang dipimpin oleh Kapten Usman Nyak Gade, bertugas mengunjungi para tokoh pergerakan DI di Aceh Barat dan Aceh Selatan; (2) kelompok kedua menjalankan misi sosialisasi sekaligus penetrasi damai ke sepanjang pantai utara (Aceh Utara), timur (Aceh Timur) dan ke Aceh Tengah yang dipimpin oleh Kapten Ahmad Rivai Harahap.5 Belum cukup dengan upaya kalangan militer mendatangi kaum pergerakan DI di berbagai daerah, ditambah lagi dengan sejumlah kunjungan kerja para menteri ke Aceh. Pada tanggal 19 Oktober 1957, Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan, Ir. H. Djuanda, mengunjungi Aceh dengan sejumlah menteri lainnya: Menteri Agama, Menteri Sosial, dan Menteri Penghubung Antar Daerah.6 Rombongan ini mendatangi Aceh dan mengunjungi seluruh plosok Aceh sambil melihat akibat-akibat yang ditimbulkan dari konflik antara Pemerintah dengan pihak Darul Islam Aceh di bawah Teungku Daud Beureu`eh.

Pembanguna rel kereta api mulai dibangun Belanda pada tahun 1901, dimaksudkan untuk melancarkan peperangan melawan gerilyawan Atjeh (waktu itu disebut gerilyawan Mujahidin) yang sudah berserak di seluruh Aceh. Jalur pertama dibangun adalah Kutaradja ke Seulimeum, dari Seulimum ke Gunung Seulawah. Baru kemudian pada tahun tahun 1904 dibangun jalur kereta api untuk maksud damai dari Seulawah ke Sigli. Dari Sigli disambung terus ke Samalanga. Di Samalanga inilah Belanda merasa sudah dapat menaklukkan Aceh dengan terdapatnya stasiun Atjeh Tram. Dari Samalanga, diteruskan jalur tram ini hingga ke Bireun, Lhokseumawe, Langsa, Kuala Simpang hingga ke Besitang. Setelah itu, Belanda membangun jalan raya dari Kutaradja ke Sigli yang diresmikan tahun 1924. Efek pembangunan ini pada rakyat Aceh adalah semakin pluralnya Aceh karena banyak kaum pekerja dari Tionghoa dan etnik Minangkabau datang untuk menjadi buruh pembangunan rel dan jalan raya. Belanda tidak menggunakan tenaga Aceh karena suasana Atjeh-Moorden yang sangat ditakuti Belanda.
7 Fachry Ali, Golongan agama dan Etika Kekuasaan: Keharusan Demokratisasi Islam di Indonesia, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), hlm. 106.

Abdul Murat Mat Jan, Gerakan Darul Islam di Aceh 1953-1959, dalam Akademika 8, 1976. hlm. 40-41.
4 5 6

JarahDam-I, Dua Windhu., hlm. 245. Ibid., hlm. 245. Jarah Dam-I, Dua Windhu, hlm. 245.

312

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Aceh di Awal Ke merdekaan

55

dan Ishak Amin.2 Ikrar Lamteh ini sendiri belum bisa menjamin suatu gencatan senjata (cease-fire) secara menyeluruh, karena beberapa kalangan DI yang masih berada di gunung belum bisa menerima perjanjian (truce) yang dianggap tidak seimbang ini. Sjamaun Gaharu bebas melaksanakan rencananya. Bersama dengan gubernur yang baru diangkat, Ali Hasjmy, dan dengan sokongan tegas Nasution, ia menempuh politik kebijaksanaan perukunan. Pada pertengahan April 1957, pertengahan puasa, diadakan perundingan dengan sejumlah pemimpin Darul Islam terkemuka di Lamteh, sebuah desa beberapa kilometer dari Aceh. Bulan puasa (Bulan Ramadhan) adalah bulan yang tepat dan sengaja dipilih sebagai bulan penuh rahmat dan maghfirah untuk membuat perundingan dan pembicaraan damai. Pembicaraan yang mencapai puncaknya dalam Ikrar Lamteh ini tidak hanya di dalamnya keduanya berjanji masing-masing untuk memajukan Islam, mendorong pembangunan Aceh dalam arti kata yang seluas-luasnya, dan berusaha mendatangkan kemakmuran dan keamanan kepada rakyat dan masyarakat Aceh, melainkan juga sebuah upaya strategis membuka kontak dengan para tokoh pergerakan DI Aceh. Di pihak Republik piagam itu ditandatangani Letkol Sjammaun Gaharu dan kepala stafnya, Mayor Teuku Hamzah, Ali Hasjmy, dan Kepala Polisi untuk Aceh, M. Insja bukan hanya menunjukkan sebuah perhatian serius, namun juga untuk mendemonstrasikan betapa pentingnya memakai cara-cara non-militer dalam penyelesaian konflik. Pemimpinpemimpin Darul Islam yang menandatanganinya adalah Hasan Aly, Hasan Saleh, dan Ishak Amin seperti terdorong untuk mempertimbangkan tawaran-tawaran sehingga akan ada suatu jeda bagi militer untuk menarik nafas panjang guna mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang terburuk sekali pun. Kemudian, disertai Ali Hasjmy, dan M. Insja, Sjammaun Gaharu juga menjumpai Daud Beureu`eh, yang pada waktu itu masih tidak ingin mendengarkan

yang gigih terhadap Belanda seperti Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien di Aceh Barat, Cut Meutia di Aceh Utara, dan lain-lain.8 Bahkan, dalam hal ini, Belanda punya kecenderungan untuk memainkan peranannya sebagai penguasa tunggal. Dalam saatsaat tertentu, terutama ketika hubungan uleebalang menjadi dekat, mereka bisa mempromosikan golongan sultan untuk lebih dekat dengan pemerintah kolonial. Akan tetapi jelas pula, bahwa dengan munculnya pemerintah kolonial, dinamika dan pergolakan politik di Aceh lebih ditentukan oleh ketidakmantapan struktur sosial masyarakat Aceh. Ini terutama ditandai oleh persaingan yang tajam antara golongan ulama dan uleebalang. Golongan ulama, pada dasarnya merupakan golongan mayoritas di dalam masyarakat, terutama karena la lebih dekat dengan rakyat banyak. Sementara golongan uleebalang, merupakan kalangan minoritas. Akan tetapi justru karena itu pula, konflik di antara mereka menjadi semakin tajam. Sadar akan kekuatan perlawanan yang potensial di pihak ulama, pemerintah kolonial berusaha menetralisasikan kekuatan itu lewat kemudahan-kemudahan pendidikan bagi kaum uleebalang. Sebagai akibatnya, kaum ulama semakin merasa terancam. Mereka me-nyaksikan dan juga mengkhawatirkan bahwa sebagian dari anak-anak muda Aceh sudah mulai tersosialisasikan ke dalam sistem pendidikan Barat. Kenyataan ini dilihat semakin memperkuat kedudukan uleebalang dan dengan demikian sekaligus akan semakin memperlemah kedudukan mereka. Suasana yang penuh dengan benih-benih konflik ini semakin dipanaskan oleh munculnya perkembangan baru: munculnya Muhammadiyah. Organisasi pembaharu Islam ini menjadikan afi-liasi-afiliasi politik dan sosial masyarakat Aceh semakin rumit. Di satu pihak, karena organisasi Muhammadiyah bersifat apolitis yang cende-rung mempergunakan kaum uleebalang di banyak tempat sebagai pe-ngurus dan tokoh yang memegang kekuasaan politik dan dengan sendiri-nya
8 Tentang hal ini, lihat T. Ibrahim Alfian, (et.al), Perang Kolonial Belanda di Aceh (Colonial War in Aceh), (Banda Aceh: PDIA, 1995).

Ibid.

56 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia pula, memperkuat posisi kelompok ini. Bagi kalangan ulama organisasi Muhammadiyah bisa mengancam pengaruh mereka ke tengahtengah masyarakat religius Aceh dan dikhawatirkan akan melemahkan semangat jihad melawah kafir penjajah. Tentu saja, golongan ulama menjadi semakin terdesak. Hal inilah yang mendorong mereka berpacu untuk menandingi gerakan Muhammadiyah yang dalam pandangan mereka akan bisa memalingkan anak-anak Aceh dari jihad, dari Islam yang sebenarnya.9 Modernisasi pemikiran keagamaan dan sistem pendidikan Islam pun dilancarkan oleh kaum ulama untuk mendahului programprogram Muhammadiyah yang sangat masif perkembangannya di Aceh. Ulama pun berencana untuk membuat pendidikan agama yang digabungkan dengan sistem pendidikan sekuler. Akan tetapi, reaksi ini menimbulkan bentuk konflik yang lain, dan justru terjadi di dalam tubuh kaum ulama. Modernisasi yang dilancarkan ini telah menimbulkan perpecahan antara ulama reformis dan ulama tradisionalis. Sebagai akibatnya, ulama tradisionalis cenderung berafiliasi dengan golongan uleebalang. sampai dengan menjelang runtuhnya kekuasaan kolonial Belanda, struktur sosial masyarakat Aceh tegak pada dasar yang goyah. Dalam pengertian bahwa struktur sosial itu mengandung benihbenih konflik. Kelompok-kelompok pendukung struktur sosial itu telah terperangkap ke dalam suasana prasangka yang mendalam. Dalam kondisi yang semacam itulah kita menyaksikan afiliasi-afiliasi sosialpolitik yang relatif aneh. Belanda melancarkan modernisasi masyarakat Aceh untuk menetralisasikan pengaruh atau kekuatan ulama. Untuk tujuan itu, Be-landa berafiliasi dengan kaum uleebalang. Sejalan dengan sifat Muhammadiyah yang apolitis, uleebalang bisa bekerja sama dengan organisasi itu. Akan tetapi, karena terjadi perpecahan di dalam tubuh kalangan ulama, maka ulama-ulama tradisionalis jadi agak berten-tangan dengan modernisasi Belandaberafiliasi

Bab X

IKRAR LAMTEH

ada tanggal 8 April 1957 terjadi sebuah pertemuan antara Pemerintah (yang diwakili oleh KDMA (Komando Daerah Militer Aceh dan Pemerintah Daerah) dengan elite pemimpin gerakan Darul Islam Aceh di Lamteh. Lamteh adalah sebuah tempat netral di Aceh Besar. Pertemuan antara musuh dan kawan dalam perang ini sebenarnya berlangsung tanpa sepengetahuan Teungku Daud Beureu`eh. Beberapa perwira tinggi dan menengah TII yang sulit menghadapi sikap keras Teungku Daud Beureu`eh akhirnya meretas jalan sendiri menuju ke perundingan. Pertemuan ini menghasilkan Ikrar Lamteh yang berisikan 3 prinsip:
1. Sama-sama berusaha untuk memajukan agama Islam. 2. Sama-sama berikhtiar untuk membangun Aceh dalam arti yang seluasluasnya. 3. Sama-sama bekerja untuk memberikan kemakmuran dan kebahagiaan kepada rakyat dan masyarakat Aceh.1

Ikrar ini ditandatangani oleh Letkol Sjamaun Gaharu (Komandan KDMA), Ali Hasjmy (Gubernur Kepala Daerah Provinsi Aceh), M. Insja (Kepala Kepolisian Aceh), Mayor Teuku Hamzah (Kepala Staf KDMA); dan dari unsur Darul Islam ditandatangani oleh Hasan Aly, Hasan Saleh

Wawancara dengan Teungku Ibrahim, Banda Aceh, 24 Juni 2006.

1 JarahDam-I, Dua Windhu Kodam I/Iskandar Muda, (Banda Aceh: Sejarah Militer I Kodam Iskandar Muda, 1972), hlm. 244.

310

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Aceh di Awal Ke merdekaan

57

Blangpadang dari 18 sampai 22 Desember 1962. Puncak hasilnya adalah Ikrar Blangpadang, yang ditandatangani tujuh ratus orang Aceh terkemuka yang hadir. Mereka berjanji akan memelihara dan membina kerukunan serta memancarkan persatuan dan persahabatan abadi.50 Sesudah itu Aceh tetap tenang selama kira-kira lima belas tahun. Pada awal 1977, ketika diberitakan lagi tentang kegiatan-kegiatan Darul Islam juga di Jawa dan bagian-bagian lain di Sumatera, Hasan Muhammad Tiro memproklamasikan Aceh sebagai negara merdeka. Dengan menamakan dirinya Ketua Front Pembebasan Nasional dan Kepala Negara, ia kembali ke Aceh untuk secara pribadi memimpin perjuangan Gerakan Aceh Merdeka. ***

dengan uleebalang. Dan untuk menghadapi pengaruh kaum ulama modernis yang populer di Aceh, kaum uleebalang cenderung membangun citranya sebagai kalangan yang mempertahankan adat Aceh.10 Sementara, justru untuk membendung pengaruh Muhammadiyah, sebagian dari kalangan ulama melancarkan gerakan reformasi. Berdirinya organisasi Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA), adalah refleksi dari usaha ulama-ulama berhaluan modernis dalam menandingi Muhammadiyah.11 Dalam komposisi struktur sosial yang semacam ini, Daud Beureu`eh berada dalam kalangan ulama reformis. Dialah salah seorang tokoh utama yang mendirikan PUSA. Dan dia pula yang menjadi ketua organisasi itu. Dengan demikian, jelas sekali terlihat bahwa dalam struktur sosial masyarakat Aceh di masa kolonial - yang penuh dengan benih konflik itu Daud Beureu`eh memimpin golongan yang semakin lama semakin terdesak. Suatu golongan sosial-politik Aceh yang menjadi kuda hitam dan paling artikulatif dalam gerakan dan menyuarakan sikap anti Belandanya.12 Dukungan massa yang besarlah yang menyebabkan kaum ulama reformis ini menjadi kuda hitam dalam percaturan politik Aceh. Dan itu pula salah satu yang menjadi sebab, mengapa, walaupun semakin terdesak oleh berbagai pihak, kaum ulama reformis Aceh di bawah pimpinannya, tetap bisa bertahan. 13 Sementara, baik kekuatan uleebalang maupun ulama tradisional tidak bisa mengungguli kaum ulama modernis Aceh yang semakin melebarkan sayapnya dengan sekolah Jamiatuddiniyah di Lam Paseh atau Normal Islam Institut di Bireun maupun Al Muslim di Matang Glumpang dua. Dalam kondisi status quo kekuatan-kekuatan sosialpolitik Aceh inilah pula kita bisa memahami akan selalu timbulnya
10 11 12

Fachry Ali, Golongan Agama., hlm 104. Fachry Ali, Ibid. Ibid. Ibid.

50

Lihat C. van Dijk, Darul Islam, Sebuah Pemberontakan..

13

58 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia kebutuhan untuk meminjam tenaga luar guna memperkuat kedudukan golongan masing-masing. Uleebalang dalam hal ini relatif lebih beruntung. Sebab dalarn posisinya yang berhadapan dengan kelompok Daud Beureu`eh, ia bisa meminjam kekuatan Belanda. Mungkin hal ini pula yang mendorong kaum ulama reformis untuk menghu-bungkan dirinya dengan kekuatan Jepang sebagai tandingan ke-kuatan Belanda. Dari sinilah muncul organisasi F atau Fujiwara - salah satu nama keluarga Jepang yang mengorganisasikan pembe-rontakan terhadap Belanda dengan bantuan Jepang. Tentu saja, se-perti yang dituturkan Van Dijk, organisasi F ini, tidak hanya melulu terdiri dari ulama reformis. Sebab di samping itu terdapat pula unsur-unsur uleebalang nasionalis, seperti Teuku Nya' Arif dan Teuku Panglima Polem Muhammad Ali. Pada masa pasca-kolonial, struktur masyarakat Aceh mengalami perubahan dengan banyaknya unsur-unsur luar yang semakin merumitkan suasana sosial Aceh. Dalam konteks struktur sosial masyarakat Aceh pasca-kolonial yang masih belum mantap, dan dalam komposisi serta afiliasi sosial-politik yang penuh dengan benih konflik dan dalam suasana yang selalu rnenimbulkan kebutuhan untuk meminjam tenaga luar itulah kita lebih bisa memahami secara lebih kongkret dan rill kejutan munculnya pemberontakan DI yang sebenarnya berasal dari Jawa Barat. Dalam masa pemerintahan Jepang, jelas sekali kaum ulama reformis menggunakan kekuatan luar inilah yang memberikan peluang meletusnya Peristiwa Cumbok, di mana sisa-sisa kaum uleebalang dihancurkan. Kaum uleebalang ini, dengan merosotnya kekuatan Jepang dalam bulan Agustus 1945, mengharapkan kembalinya kekuasaan Belanda sebagai sumber dari tenaga luar mereka, berhadapan dengan ulama reformis. Dan justru karena kekhawatiran akan kembalinya kekuasaan Belandalah setidak-tidaknya, inilah yang terbaca dalam introduction tesis Nazaruddin Sjamsudin 14 kaum ulama reformis secara cepat
Nazaruddin Sjamsuddin, The Republican Revolt, The Case of Achenese Darul Islam, (Singapore: ISEAS), 1985, hlm. vi.
14

Dewan Revolusi: Perpecahan Inter nal Darul Is lam Aceh

309

terhadap Soekarno dan orang Jawa sajalah yang merupakan persamaan mereka. Akibatnya, RPI sangat singkat usianya. Pada April 1961 Maludin Simbolon dan seorang panglima militer lain, Achmad Husein, memisahkan diri dari RPI untuk membentuk Pemerintah Darurat Militer.47 Kemudian mereka mengeluarkan imbauan kepada para pemberontak untuk menghentikan perlawanan mereka dan menyerahkan diri pada Juni dan Juli. Pemimpin-pemimpin sipil menyusul setelah menerima janji diberi ampun oleh Soekarno.48 Sjafruddin Prawiranegara, perdana menteri kaum pemberontak, lalu menasihati para pengikutnya untuk menyerah, dia sendiri melapor kepada penguasa pada akhir Agustus.49 Ini berarti akhir yang sesungguhnya dari pemberontakan-pemberontakan, termasuk pemberontakan Darul Islam di Aceh. Di sini pada bulan-bulan sebelumnya banyak orang telah melaporkan diri. Keamanan sepenuhnya pulih di Aceh, Mei 1962, ketika Daud Beureu`eh pun menghentikan perlawanannya. Untuk merayakan perubahan Aceh dari Dar al Harb, wilayah perang, ke Dar al-Salam, daerah damai (untuk menggunakan ungkapan yang berlaku ketika itu), dan selanjutnya guna mengungkapkan per-nyataan resmi akan persatuan Aceh yang telah pulih, diselenggarakan suatu upacara akbar pada akhir tahun itu, yaitu Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh (MKRA), yang berlangsung di
Letnan Kolonel Achmad Husein memainkan peranan penting dalam penstiwaperistiwa sampai kepada pemberontakan PRRI/Permesta. Dia menjadi Ketua Dewan Banteng di Sumatera Tengah dan pada Februari 1958 mengeluarkan ultimatum kepada Pemerintah Republik Pusat. Penolakan atas usul ini menimbulkan proklamasi PRRI. Letnan Kolonel Achmad Husein memainkan peranan penting dalam penstiwa-peristiwa sampai kepada pemberontakan PRRI/Permesta. Dia menjadi Ketua Dewan Banteng di Sumatera Tengah dan pada Februari 1958 mengeluarkan ultimatum kepada Pemerintah Republik Pusat. Penolakan atas usul ini menimbulkan proklamasi PRRI. Herbert Feith dan Daniel Lev, The End of Indonesian rebellion, dalam Pacific Affairs, 36, No. 1, 1963, hlm. 43.
48 49 47

Peraturan Presiden no.13/1961. Salah seorang dari yang melapor bersama Sjafruddin Prawiranegara ialah Amelz.

308

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Aceh di Awal Ke merdekaan

59

berbedabeda. Satu kelompok ingin semata-mata melanjutkan PRRI, bagaimana pun sudah hampir tidak ada artinya lagi akibat aksi-aksi Angkatan Darat, Kelompok lain, dengan Zulkifli Lubis dan Maludin Simbolon sebagai wakil-wakil utamanya, menyetujui proklamasi Republik Indonesia Federal, sekalipun menentang kerja sama dengan Darul Islam. Faksi yang ketiga menyetujui bergabung dengan Darul Islam. Jurubicara utamanya adalah dua bekas perdana menteri, Mohammad Natsir dan Burhanuddin Harahap, dan politikus Indonesia yang berpengaruh, Sjafruddin Prawiranegara. Ketiga mereka ini lari dari Jakarta untuk bergabung dengan panglima-panglima daerah yang merasa tidak puas di Sumatera pada Desember 1957.44 RPI tidak banyak harganya baik dalam arti militer atau pun arti politik. Persekutuan yang mengkhawatirkan antara orang-orang muslim seperti Daud Beureu`eh dan Kahar Muzakkar yang selama bertahuntahun telah bertempur untuk menegakkan dan mempertahankan Negara Islam Indonesia, orang-orang muslim yang terus-menerus da-lam waktu yang lama menduduki jabatan-jabatan penting di Republik Indonesia, dan panglima-panglima militer seperti Maludin Simbolon Kawilarang, dan Warouw yang selama masa berikutnya telah memimpin aksi-aksi militer Republik Indonesia terhadap Darul Islam, dan beberapa orang dari mereka itu Kristen pula, sangatlah berbahaya. RPI mungkin mewakili, seperti yang dilukiskan Hasan Muhammad Tiro, suatu tindakan "untuk menjamin hak suci mereka untuk membentuk pemerintahan sendiri yang diingkari kediktatoran Soekarno di Jakarta yang memaksakan kolonialisme Jawa terhadap lebih dari selusin bangsa"45, atau penolakan terhadap "kolonialisme baru, Jawa sawo matang"46, tetapi hanya dendam
44 45

menerima kehadiran Republik Indonesia. Tentu saja, kesimpulan ini tidak bisa diterima secara mutlak. Sebab, seperti Anthony Reid 15 menyatakan, sudah sejak tahun 1920, semangat nasionalisme telah tersebar di daerah Aceh. Ini terbukti dari pidato Abdoel Manap pada tahun itu di pedesaan Aceh, tentang perlunya kesatuan dan kesepakatan nasional. Daud Beureu`eh sendiri, lewat kekuatan luar juga (dalam hal ini Pemerintah Republik ketika ia bersama para ulama menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia yang diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta), terpilih sebagai Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo. Akan tetapi juga jelas, bahwa dengan meminjam tenaga luar (dalam hal ini Darul Islam Jawa Barat), kaum ulama reformis semakin meneguhkan kekuatan dan kekuasaannya di atas golongan sosial-politik lainnya.16 Namun, dalam kontes perebutan pengaruh dan kekuasaan apakah sehingga ia harus mengusir pengaruh Pancasila dan komunisme dengan tanpa memakai cara-cara separatis. Darul Islam bukan anti Indonesia, melainkan anti-Pancasila, anti-Marhaenisme, anti-Komunisme dan demokrasi. Untuk melihat bagaimana ideologi Darul Islam bisa compatible dengan world-view orang-orang Aceh, kita terlebih dahulu harus memahami sejarah peran kaum ulama, organisasinya (PUSA) dan perjuangan politiknya dalam mengusir Belanda, memasukkan Jepang untuk kemudian diusir kembali dari Aceh. Perseteruannya dengan kaum uleebalang dan strategi politiknya dalam menolak pengaruh Muhammadiyah di Aceh.

15

Anthony Reid, The Birth of Republic in Sumatra dalam Indonesia, 12, (Oktober

1971).
16 Tulisan Fachry Ali, meskipun diakuinya sendiri sebagai sebuah responsi teoritikal, namun sudah menjadi sebuah teori yang bisa menjelaskan mengapa Darul Islam muncul di Aceh. Kekurangan yang menyolok dalam tulisannya sangat mungkin terletak pada ketiadaan data. Karena itu, asumsi dan interpretasinya harus dibuktikan melalui buku ini. Meskipun Fachry Ali lebih cenderung menyebutnya sebagai hipotesa-hipotesa tentatif untuk namun sangat berguna untuk studi tentang perubahan, atau juga kelanjutan dinamika dan pergolakan politik masyarakat Aceh masa DI atau GAM sekarang ini. Fachry Ali, Ibid.

Lihat juga C. van Dijk, Darul Islam, Sebuah Pemberontakan. Hlm. 229.

Hasan Muhammad Tiro, Neo-Colonialism in Indonesia (How a New Colonialism has been established under the cover of the cry of anti-colonialism, Naskah Pidato pada Sidang Umum XVI PBB Oleh Wakil Republik Federasi Indonesia di PBB, (New York: 1961), hlm. 1..
46 Hasan Muhammad Tiro, The Political Future of the Indonesian Archipelago, (Medan: Sumatera Berdaulat, 1965), hlm. 1.

60 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Dewan Revolusi: Perpecahan Inter nal Darul Is lam Aceh

307

B. Persatuan Ulama Seluruh Aceh


Organisasi Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang didirikan pada 5 Mei 1938 adalah satu-satunya sarana dakwah, kaderisasi dan alat perjuangan politik kaum ulama modernis melawan segala bentuk unsur-unsur baru dan aneh yang datang masuk dan berpengaruh di Aceh. Salah seorang pendirinya adalah Teungku Mohammad Daud Beureu`eh, seorang pemimpin Islam terkemuka, yang lahir sekitar tahun 1899 di Beureu`eh, di Distrik Keumangan17, Pidie. Para pendiri bersamanya ialah Teuku Haji Chik Djohan Alamsjah, Teuku Mohammad Amin dan Tengku Ismail Jacub. Daud Beureu`eh terpilih sebagai ketua umum persatuan ini. Kelompok PUSA inilah yang telah memainkan peran sebagai pemasok tenaga luar (outside-power broker)18 bagi perubahan politik di Aceh. Orang-orang Aceh pun memiliki Weltanschauung19 sendiri dalam melihat persoalan ini dengan ungkapan folk wisdom yang sederhana: Yang Peutamong Beulanda Panglima Tibang, yang peutamong Jeupang Pemuda PUSA (artinya: Yang memasukkan Belanda adalah Panglima Tibang, yang membawa masuk Jepang adalah Pemuda PUSA).20 Panglima Tibang adalah simbol representasi kalangan uleebalang, sementara Pemuda PUSA adalah simbol dari kalangan ulama. Sehingga tidaklah terlalu keliru bila rakyat biasa menganggap kedua kalangan ini telah memasukkan kekuatan-kekuatan jahat (evil powers) ke tanah Aceh. Lambat laun PUSA berkembang menjadi wahana utama para ulama Islam Aceh, yang menamakan dirinya Tengku, dalam perjuangan
Distrik Keumangan kini, dengan birokratisasi sistem pemerintahan nasional tahun 1959, bernama Kecamatan Mutiara. Konsep meminjam tenaga luar ini pertama kali dikemukakan oleh Fachry Ali sebagai sebuah hipotesa untuk menjelaskan proses masuknya Jepang (tahun 1940-an) dan Golkar (tahun 1980-an) ke Aceh. Lihat Fachry Ali, Golongan Agama dan Etika Kekuasaan: Keharusan Demokratisasi dalam Islam di Indonesia, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996), hlm. 103110.
19 20 18 17

RPI terdiri dari sepuluh negara, semuanya kecuali dua negara yang berada di Sumatera dan Sulawesi. Aceh, sebagai Republik Islam Aceh (RIA), adalah salah satu dari enam negara Sumatera, dan Sulawesi Selatan satu dari dua negara di pulau itu.42 Selain dari delapan negara ini, barangkali sebagai tindakan mengambil hati terhadap RMS, terdapat Negara Maluku dan Negara Maluku Selatan. Secara menyolok tidak terdapat negara-negara di Jawa, seperti Negara Jawa Barat, bumi kelahiran gerakan Darul Islam, dan di Kalimantan Selatan, tempat Ibnu Hadjar beroperasi.43 Kedua pihak memasuki federasi baru ini dengan rasa enggan. Perundingan-perundingan sebelumnya antara pemimpin-pemimpin Darul Islam dan PRRI/Permesta hampir tak ada hasilnya. Sekalipun telah dijanjikan kerjasama dan dukungan militer, hal ini tidak pernah terlaksana. Dalam kedua pihak juga terdapat orang yang terangterangan menolak setiap bentuk kerja sama resmi. Di Sulawesi Selatan cumbu rayu Kahar Muzakkar dengan Permesta sebagian menjadi sebab menyerahnya Bahar Mattaliu, sementara di Aceh hubungan yang demikian merupakan salah satu faktor yang mendorong terbentuknya Dewan Revolusi. Pembelotan-pembelotan sekaligus memaksa kaum pemberontak Darul Islam yang tersisa untuk bekerja sama lebih erat dengan PRRI/Permesta. Kaum pemberontak PRRI di Sumatera pada akhir 1959 terbagi dalam tiga kelompok yang berbeda, yang menganjurkan jalan yang
Negara-negara Sumatera lainnya ialah: gabungan Negara Tapanuli dan Sumatera Timur dan Negara-negara Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Negara yang lain di Sulawesi adalah Negara Sulawesi Utara. Lihat juga C. van Dijk, Darul Islam, Sebuah Pemberontakan.
43 Hasan Mohammad Tiro, The Political Future of the Indonesian Archipelago, (Medan: Sumatera Berdaulat, 1965), hlm. 19. Hasan Tiro membela Republik Persatuan Indonesia dan menyatakan dirinya sebagai wakilnya pada Perserikatan Bangsa-Bangsa mengusulkan Konfederasi Negara-negara Asia Tenggara yang terdiri dari Republik-republik Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Irian Jaya, Bali, dan Sunda. Walaupun mengabaikan Jawa dan bagian-bagian Nusa Tenggara lainnya dalam penyebutannya, dia menyatakan, Jawa juga harus merupakan bagian dari konfederasi. 42

Weltanschauung (Bhs. Jerman) artinya pandangan dunia atau pandangan hidup. Wawancara dengan Sayed Mudhahar Ahmad, Jakarta, 14 Maret 1998.

306

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Aceh di Awal Ke merdekaan

61

Batee Kureng. Dia dan Hasan Aly melanjutkan bertempur. Menurut Gubernur Aceh ketika itu Ali Hasjmy, mereka masih dapat mengharapkan dukungan dari kira-kira tiga puluh persen pengikut pertamanya.38 Seperti juga rekannya di Sulawesi Selatan di bawah kepemimpinan Kahar Muzakkar, Daud Beureu`eh bergabung dengan sisa-sisa pasukan PRRI/Permesta. Mula-mula pasukannya bergerak bersama dengan se-jumlah komandan PRRI bawahan dengan anakanak buahnya. Kemu-dian diperkuat dengan satuan-satuan pemberontak yang dipimpin Mayor Nukum dan Kapten Hasanuddin, bekas kapten Polisi Militer.39 Kedua mereka ini ditawari kedudukan menteri oleh Daud Beureu`eh untuk mengisi jabatan yang lowong karena mereka yang membelot ke Dewan Revolusi.40 Pada waktu yang bersamaan dilakukan pembicaraan oleh pemimpinpemimpin PRRI dan Darul Islam di Aceh. Ini menghasilkan proklamasi Republik Persatuan Indonesia (RPI) federal, Februari 1960, yang mewakili koalisi mereka yang kalah, orang-orang yang merasa dirinya bertempur dalam perang yang kalah di rimba.41 Di samping itu, RPI mempersatukan mereka yang di masa lalu berada dalam dua kubu yang berbeda dan paling-paling secara baik mereka memiliki simpati satu sama lain, dan secara jelek, mereka sama sekali bermusuhan. Tambahan lagi, Republik Persatuan Indonesia merupakan urusan Sumatera dan Sulawesi semata-mata. Ini membatalkan pengakuan yang masih dinyatakan oleh Negara Islam Indonesia dan PRRI/Permesta, bahwa wilayahnya meliputi seluruh Indonesia.
38 39

mereka melawan elite tradisionalkepala wilayah atau uleebalang yang menggunakan gelar Teuku (T). Ketika sesudah Perang Dunia Kedua kaum ulama memberikan pukulan yang menentukan terhadap lawan mereka, terutama para bekas pendiri dan anggota terkemuka PUSA inilah yang memainkan peranan penting dan mengambil alih pemerintahan Aceh. Di dalamnya termasuk Teungku Amir Husin al Mudjahid) dan Husin Jusuf, masing-masing ketua dan sekretaris Pemuda PUSA, dan Teungku Ismail Jacub, Teungku Mohammad Nur el Ibrahimy (menantu Daud Beureu`eh) dan Teungku Said Abubakar, ketiganya guru pada Perguruan Normal Islam Institute, sekolah pendidikan guru yang didirikan PUSA. Pada mulanya tidak tampak PUSA merupakan kubu anti-Belanda dan anti-uleebalang yang kukuh. Di antara pendirinya atau yang bertindak sebagai penasihatnya terdapat uleebalang dan sementara PUSA hanyalah suatu organisasi Islam yang modern. Tetapi, segera dengan pengaruh Amir Husin al Mudjahid, badan ini menjadi lebih radikal. Pada hari-hari akhir Hindia Belanda ia tumbuh menjadi organisasi nasionalis murni, yang tujuannya tidak hanya mengusir Belanda, melainkan juga kepala-kepala adat setempat, uleebalang, yang digunakan Pemerintah kolonial menjadi alat untuk memerintah daerah itu. Sesungguhnya PUSA dalam masa itu adalah satu-satunya gerakan nasionalis yang berarti di Aceh. Tidak terdapat di sini gerakan nasionalis sekuler. Tidak banyak dapat diharapkan dari kalangan uleebalang, karena begitu berakar dalam sistem kolonial untuk menjadi pimpinan suatu gerakan anti penjajahan sekuler. Uleebalanguleebalang ini yang menentang Pemerintah kolonial harus berpaling kepada PUSA. Pengaruh PUSA terhadap rakyat Aceh ketika itu sangat luar biasa, dalam bahasa S.M. Kartosoewirjo, PUSA (persatuan Ulama Seluruh Atjeh) amat besar pengaruhnja kepada rajat Atjeh yang terkenal Islam-minded itu.21 Dengan pengaruh yang demikian besar ini, rakyat benar-benar berada di bawah asuhan PUSA ketika itu.
Lihat S.M. Kartosoewirjo, Statement Pemerintah NII Tanggal 5 Oktober 1953, dalam Al Chaidar, Pemikiran Politik, bagian lampiran.
21

Duta Masyarakat, 20-5-1960. Van Dijk, op.cit.

Kedua perwira ini termasuk dalam apa yang disebut OSM (Operasi Sabang Merauke), organisasi yang dipimpin Mayor Bojke Nainggolan (Boyke Nainggolan). Mulanya ini adalah nama operasi PRRI, dan ketika itu Medan diduduki kaum pemberontak selama satu hari pada Maret 1958.
40 41

Lihat C. van Dijk, Darul Islam, Sebuah Pemberontakan.

Republik Persatuan Indonesia kadang-kadang juga disebut Negara Demokrasi Indonesia (NDI). Karena itu tentaranya, Tentara Persatuan Indonesia, kadang-kadang juga disebut Tentara Demokrasi Indonesia (TDI). Untuk Konstitusi RPI lihat Mudzakkar (t.t.:24-64).

62 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia Pilihan lain diberikan oleh Muhammadiyah. Di Aceh Mohammadiyah telah lebih lama dari PUSA, tetapi seperti juga PUSA, Muhammadiyah pun bersumber pada Islam modern. Berbeda dengan keadaan di bagian-bagian lain di Indonesia, dan karena tidak adanya gerakan nasi-onalis di Aceh, Muhammadiyah Aceh sebagian juga berfungsi sebagai organisasi Politik dan tidak semata-mata sebagai organisasi keagamaan atau pendidikan. Namun, organisasi ini tidak menarik bagi pe-mimpin-pemimpin Islam Aceh dan para pengikut mereka. Sebagian hal ini adalah karena ia tidak mempunyai akar dalam masyarakat Aceh dan tetap merupakan gejala kota.22 Para anggotanya sebagian besar dari luar daerah, atau orang Aceh dengan pendidikan formal yang telah ter-cerabut dari lingkungan tradisionalnya. Dan juga sebagian karena, de-ngan adanya hubungan dengan bagian-bagian lain di Indonesia, ia meluas melampaui batasbatas setempat, dan dengan demikian sifat-nya cenderung merangkap seluruh Indonesia ketimbang suatu gerak-an yang mengutamakan daerah Aceh saja. PUSA, oleh karenanya, men-jadi kekuatan yang menjanjikan untuk upaya pembebasan regional dalam harapan orang-orang Aceh, ketimbang Muhammadiyah. Dalam setting yang demikian, bahkan Muhammadiyah dipandang akan me-rusak semangat dan primordialisme the Achenized Islam yang dianut oleh orang-orang Aceh.23 Muhammadiyah cenderung tidak memihak pada keinginan azasi rakyat Aceh sehingga tidak berakar dalam jiwa masyarakat Aceh. Sebaliknya PUSA kuat berakar dalam masyarakat Aceh. Ia dapat mengharapkan dukungan para ulama Islam di sini, dan dapat melaksanakan pengaruhnya melalui mereka di desa-desa. Pemimpinpemim-pin mereka terbuka matanya bagi kemanfaatan pendidikan modern dalam usaha untuk menjembatani jurang dalam pengetahuan dan pe-ngalaman administratif yang memisahkan mereka dari
22 23

Dewan Revolusi: Perpecahan Inter nal Darul Is lam Aceh

305

tiga puluh persen pengikut pertamanya.35 Seperti juga rekannya di Sulawesi SelatanKahar MuzakkarDaud Beureu`eh bergabung dengan sisa-sisa pasukan PRR8Permesta. Mula-mula pasukannya bergerak bersama dengan sejumlah komandan PRRI bawahan dengan anak-anak buahnya. Kemudian diperkuat dengan satuan-satuan pejuang mujahidin yang dipimpin Mayor Nukum dan Kapten Hasanuddin, bekas kapten Polisi Militer.36 Kedua mereka ini ditawari kedudukan menteri oleh Daud Beureu`eh untuk mengisi jabatan yang lowong karena mereka yang membelot ke Dewan Revolusi.37 Perlu di catat bahwa pada tanggal 15 Maret 1959, DI mengalami friksi, yaitu: sebagian dipimpin oleh Hasan saleh, yag menamakan dirinya Dewan revolusi. Adapun bagian dari DI yang setia kepada Teungku Muhammad Daud Beureu`eh mempertahankan Aceh sebagai bagian dari Negara Islam Indonesia di bawah pimpinan Kartosoewirjo. Adapun Kabinet Hasan Ali yang setia kepada Teungku Muhammad Daud Beureu`eh mengalami perubahan seperti di jelaskan di bawah. Perdana Menteri merangkap Menteri Keuangan/Kemakmuran: Hasan Ali Menteri Dalam Negeri: Teungku Sulaiman Daud Menteri Penerangan: Teungku H. Affan Menteri Pendidikan/Penerangan: Saleh Adri Menteri Kehakiman: Teungku Zainal Abidin Daud Beureu`eh tidak menerima persetujuan dari Konferensi
Duta Masyarakat, 20-5-1960. Lihat juga C. van Dijk, Darul Islam, Sebuah Pemberontakan. Kedua perwira ini termasuk dalam apa yang disebut OSM (Operasi Sabang Merauke), organisasi yang dipimpin Mayor Bojke Nainggolan (Boyke Nainggolan). Mulanya ini adalah nama operasi PRRI, dan ketika itu Medan diduduki kaum pemberontak selama satu hari pada Maret 1958.
37 Duta Masyarakat, 20-5-1959, 21-5-1959. Lihat juga C. van Dijk, Darul Islam, Sebuah Pemberontakan. 36 35

Fachry Ali, op.cit., hlm 108.

Tentang hal ini, lihat Fachry Ali, The Revolt of Nation-State Builders: A Study of Achenese Darul Islam and West Sumatran PRRI, Unpublished thesis, (Melbourne: Monash University, 1985).

304

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Aceh di Awal Ke merdekaan

63

aggapan saya memberikan hukum, nanti akan ada urusan.32 Suatu sikap militer yang penuh pertimbangan antropologis dalam menentukan hukum terhadap bawahannya. Wali negara, Teungku Muhammad Daud Beureu`eh, dengan sikap yang tegar meski pasukannya digerogoti oleh para perwira yang sudah terpengaruh oleh pihak Republik, maupun yang terpengaruh oleh pihak PRRI, ia masih mengingat siapa dirinya dan siapa yang dipimpinnya. Saya adalah orang yang menanggung 4 amanah, katanya suatu sore di gunung, Pertama, Amanah Tuhan; kedua Amanah dari rakyat Aceh (ulama-ulama); ketiga Amanah dari sambutan rakyat sekitar; keempat Amanah dari tentara Pancasila yang sudah menyeberang kepada kita yaitu yatim piatu dan janda-janda.33 Luar biasa tegarnya pemimpin Islam yang satu ini. Sesudah itu pun ia masih sempat untuk mengurusi pelaksanaan hukuman rajam, potong tangan, buang, dan bunuh. Hukum Islam selalu terlaksana dengan baik meskipun dalam keadaan perang. Kemungkaran dan tindak pidana asusila ditindak dengan memakai hukum-hukum ini. Persetujuan Mei secara resmi diterima para pendukung Dewan Revolusi pada suatu konferensi besar yang diadakan dalam minggu pertama November 1959. Pada akhir bulan itu Nasution bertolak ke Pidie. Di sini ia menerima pemberian hormat lima ribu pendukung Dewan Revolusi.34 Anggota Dewan Revolusi ini sebagian besar tidak mengetahui perkembangan di tingkat atas komando, sehingga memandang bahwa cease fire sudah merupakan persetujuan bersama yang dianggap menguntungkan. Daud Beureu`eh tidak menerima persetujuan itu. Dia dan Hasan Aly melanjutkan bertempur. Menurut gubernur Aceh ketika itu A. Hasjmy, mereka masih dapat mengharapkan dukungan dari kira-kira
32 33 34

uleebalang. Ber-samaan dengan itu mereka berhati-hati agar tidak kehilangan hubung-an dengan latar belakang budaya dan agama Aceh, dan menghindari kesalahan memasang rintangan antara mereka sendiri dan rakyat. PUSA tetap "sifatnya Aceh murni".24 Kerangka acuannya adalah Aceh, bukan Indonesia. Diterimanya oleh PUSA sikap kebijaksanaan anti-Belanda dan antiuleebalang adalah bertepatan dengan meluasnya hegemoni Jepang di Asia Tenggara. PUSA mencari dan mendapat sekutu pada Jepang untuk melawan Belanda. Melalui perantaraan orang-orang Aceh yang berdiam di Malaya dilakukan hubungan dengan orang Jepang, dan dibuat rencana untuk mengadakan pemberontakan anti-Belanda menjelang pendaratan Jepang di Hindia Belanda. PUSA sangat cerdik dalam memanfaatkan kekuatan luar atau meminjam tenaga luar bagi tujuannya mengusir kafir Belanda. Yang menolong dalam melaksanakan rencana ini adalah apa yang disebut Organisasi F, dinamakan demikian menurut nama keluarga seorang agen intelejen Jepang, Iwaichi Fujiwara. Inti Organisasi F ini terdiri dari orang-orang Aceh yang berdiam di Malaya yang berangsurangsur menyusup kembali ke Aceh; di sini mereka mengkoordinasi aksi-aksi mereka dengan aksi gerakan-gerakan lain yang terdiri dari orang-orang yang merasa tidak puas. Pada Februari dan Maret 1942 Organisasi F ini sesungguhnya memulai suatu pemberontakan terhadap Belanda. Kawat-kawat telepon diputuskan, perjalanan kereta api diganggu, dan sejumlah orang Belanda dibunuh. Anggota organisasi ini muncul di depan umum mengenakan ban lengan putih dengan tulisan huruf F di atasnya. Walaupun terutama merupakan pemberontakan orang Aceh dan di samping itu ulama, kelompokkelompok lain juga turut serta, seperti orang-orang dari Minangkabau dan daerah Batak, dan uleebalang. Pimpinan pemberontakan ini terutama, walaupun tidak

Ibid., hlm. 67. Ibid., hlm. 67.

Abdul Murat Mat Jan, Pemberontakan Darul Islam Aceh 1953-1959, dalam Akademika No. 9, 1976, hlm. 43.

24 J.M. Pluvier, (1953:84), sebagaimana dikutip oleh C. van Dijk, Darul Islam: Sebuah Pemberontakan, (terj.), (Jakarta: Grafiti Pers, 1993), hlm. 165.

64 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia seluruhnya adalah ulama Islam. Di dalamnya tidak saja termasuk Tengku Said Abubakar, seorang tokoh PUSA yang kemudian, pada 1950-an, memainkan peranan penting dalam upaya menyediakan senjata kepada Darul Islam Aceh, tetapi juga Teuku Nya' Arif (Nya' Arif), mantan anggota Volksraad dan sesudah perang menjadi Residen Republik yang pertama di Aceh, dan Teuku Panglima Polim Mohammad Ali, yang sesudah Agustus 1945, pernah menjadi Wakil Residen Aceh. Pemberontakan ini membuat Aceh satu-satunya daerah tempat serbuan Jepang mendapat sokongan bersenjata yang aktif dari rakyat. Ia juga tidak semata-mata diilhami perasaan anti-Belanda. Pemimpinpemimpin Islam mengharapkan dengan melaksanakan dan turut serta dalam pemberontakan mereka akan diberi imbalan oleh Jepang dengan pengangkatan pada jabatan-jabatan dalam pemerintahan yang selama ini diduduki uleebalang. Sedikit banyaknya harapan-harapan mereka dipenuhi. Monopoli uleebalang diterobos. Namun, seperti juga di bagian-bagian iain di Indonesia, para ulama, walaupun mendapat manfaat dari pendudukan Jepang, tidak berhasil memperoleh kedudukan unggul selama masa itu. Kaum uleebalang kehilangan kekuasaan atas administrasi peradilan, karena tidak lagi mengetahui pengadilan, termasuk pengadilan Islam, tetapi dipertahankan sebagai pejabat lokal dalam pemerintahan sipil. Jepang meneruskan kebijaksanaan. Belanda dulu dalam menghadapi rakyat melalui uleebalang dan menyerahkan urusan rutin kepada mereka. Demikian pula para ulama Islam di Aceh muncul dari pendudukan Jepang lebih diperkuat dan sangat yakin, dengan menantikan peluang untuk memberikan pukulan terakhir kepada lawan mereka. Dalam hal ini mereka dapat menghimpun dukungan rakyat yang luas. Kaum uleebalang, karena kedudukan mereka dalam pemerintahan kolonial diidentifikasikan dengan kekuatan kafir kolonial yang sangat dibenci. Terdapat kekhawatiran bahwa sesudah Jepang menyerah mereka akan menyeberang ke Belanda untuk berusaha memperoleh kembali dan mempertahankan kedudukan mereka yang dahulu dalam masyarakat.

Dewan Revolusi: Perpecahan Inter nal Darul Is lam Aceh

303

Dua; Amin Jalil Letnan; dan, Moein Hasyim Kapten.29 Penetapan dibuat karena untuk menyegarkan urusan, bahkan kepada yang sudah berulang kali dipanggil tetapi tak datang juga diberikan pangkat baru. Daya tarik-menarik antara TII, TNI dan PRRI begitu hebatnya dan Wali Negara tak mau kehilangan para prajurit dan perwira handalannya. Menurut berita dari Amin Djalil, ia menyatakan bahwa Said Ali, adik Said Abu Bakar, agar ditarik dan jangan dilepaskan, jangan sampai sudah didakwah dan dibekali denga latihan nanti akan diambil orang.30 Kekuatan TII masih berputar, meski dengan energi yang tinggal separuhnya saja, pada tanggal 4 Januari 1959, Moein Hasyim, melakukan pemindahan perwira-perwira Resimen VII yang meskipun akan mengakibatkan yang tak baik bagi Resimen VII, tapi tetap harus dilakukan berdasarkan pertimbangan militer. Kesatuan Ali Daud akan kacau balau jika tidak diperbaharui struktur komando dan orangorangnya. Batalyon 275 juga diusulkan untuk tak di bentuk lagi.31 Di tengah camp persembunyiannya yang menjadi markas besar TII, Wali Negara masih memberikan semangat: Pikiran saya sepenuhnya kepada pekerjaan yang sedang dilaksanakan, harap anak-anak saya demikian juga. Kedudukan saya demikan anak-anak saya adalah sebagai kode harap diturut. Sebagai pikiran saya untuk perbaiki sesuatu harus lebih dahulu memukau membentuk anak sendiri, tak mungkin satu perasaan tamu yang masuk, maka inilah sebabnya kami pindahkan anak-anak saya kemari supaya tidak dituduh orang macammacam. Ada-ada saja orang yang mempengaruhinya.Cita-cita saya tak dapat saya harap kalau bukan pada orang Aceh. Resimen VII adalah tanggung jawab saja, yang mesti saya perbaiki. Dengan komandan Resimen VII akan saya bicara lebih lanjut. Dengan pemindahan anakanak saya ini, Resimen VII sudah terang mesti diisi segera, jangan ada

29 30 31

Ibid., hlm. 65. Ibid., hlm. 66. Ibid., hlm. 67.

302

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Aceh di Awal Ke merdekaan

65

setiap kerusakan yang ada. Sebagai Wali Negara, ia mengeluarkan komando umum sederhana: Untuk menyelesaikan satu per satu pekerjaan yang sepenuh-penunya agak payah dan susah dan apa lagi saya hanya tinggal seorang diri saja dan didesak oleh lawan dan kawan. Untuk memperbaiki kerja ini supaya saya suka dibantu dengan karena Allah. Untuk Resiment VII Kuta Karang, saya berhak bicara dan beri perintah sedang untuk sabang mauroke cara pribadi boleh juga saya bicara dan sudah bicara dengan sumpah. Apabila satu-satu muslihat yang saya fikir harap supaya di taati gunanya untuk menenteramkan tempat bukan karena curiga tetapi karena untuk tambah tenaga harap dipatuhi.26 Akhirnya, dengan susah-payah, semua bawahan yang hadir ketika itu, Jahja Ahmad, Ali Daud, dan lain-lain menjawab pasti: Kami taat sepenuhnya, di samping itu kami minta izin untuk kembali sebentar menyelesaikan urusan terbengkalai.27 Tiba-tiba, satu berita gembira dibawa oleh Hasanuddin Siregar yang sudah berhasil menarik kembali satu kompi TII yang tadinya masuk PRRI. Maka pada tanggal 4-5-1958 Hasanuddin Siregar meresmikan Batalyon 275. Hasanudin pun akhirnya harus juga membereskan urusan-urusan infiltrasi yang sangat sulit dari kalangan PRRI. Sabang Merauke PRRI bahkan bertindak melampaui batas-batas hukum militer, mereka memakai lencana dan tanda pangkat TII dengan tak mendapat penetapan dari yang berwajib (kedapatan di Batalyon 435) sedang tingkah lakunya bertentangan dengan TII.28 Wali Negara di tengah situasi perang yang tak menentu dan di tengah desersi serta sikap indisipliner, ia masih tegar sebagai seorang tentara Islam sejati. Wali Negara kemudian mengangkat dan memberikan pangkat-pangkat, masih dalam sikap tegar kemiliteran. Banta Abdullah jadi Kapten; Ali Daud Letnan Satu; Jahja Ahmad Letnan
26 27 28

Di samping itu mereka merupakan bagian masyarakat yang lebih mampu; banyak dari mereka ini tuan tanah kaya. Di Pidie, umpamanya, menurut James T. Siegel25, uleebalang memiliki antara sepertiga sampai setengah dari seluruh sawah.26 Demikianlah ketika uleebalang mengharapkan kembalinya Belanda, ulama sebaliknya cepat memihak Republik Indonesia, dengan menamakan Revolusi Indonesia sebagai jihad terhadap kafir Belanda.

C. Respon Aceh terhadap Proklamasi Berdirinya Republik Indonesia


Ratusan tahun Aceh bergulat dalam kemelut perlawanan menantang penjajahan dengan pekikan-pekikan Allahu Akbar!. Tapi, tiba-tiba sebuah suara di Jakarta berkumandang dengan nada yang datar dan bersahaja: proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Pada saat Proklamasi yang dikumandangkan Soekarno-Hatta ini sampai di Aceh beberapa bulan setelahnya, semua rakyat Aceh antusias menyambut-nya. Banyak tokoh yang di dadanya telah tersemai nasionalisme, ber-maksud menerimanya dengan segala sukacita, meskipun ada yang masih meyakini akan kembalinya Belanda sebagai penguasa baru se-telah kalahnya Jepang. Hal ini disebabkan kerinduan bebasnya negeri mereka dari keterjajahan telah mengental, mereka ingin menghirup alam yang bebas merdeka lepas dari belenggu penjajahan. Sebagian elite Aceh, tanpa Teungku Muhammad Daud Beureu`eh ikut serta di dalamnya, tidak lagi mempersoalkan perbedaan suku, agama, ras dan kepentingan golongan. Mereka semua terhanyut dalam gelombang besar integrative revolution27 Indonesia di tahun 1945. Semua sentimen
25

James T. Siegel, The Rope of God, (Los Angeles: California University Press, 1969), hlm. Ibid.

27.
26

Ibid. hlm. 64. Ibid., hlm. 64. Ibid., hlm. 65.

Tentang integrative revolution, lihat Clifford Geertz, The Integrative Revolution: Primordial Sentiments and Civil Politics in the New States, dalam buku Claire Holt (ed.), The Interpretation of Culture, (New York: Basic Books, Inc., 1973).

27

66 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia primordial ditinggalkan di belakang, yang dikedepankan hanyalah persatuan dan kesatuan. Tentang berita proklamasi ke Aceh pertama diketahui oleh Teuku Panglima Polem Muhammad Ali, kemudian berita tersebut dicatat oleh Teuku Teungoh Hanafiah. Lewat dua tokoh ini, bayangan tentang persatuan dan kesatuan terterimakan di Aceh. Maka mulailah suatu masyarakat bayangan (imagined communities)28 hadir di kalangan orang-orang Aceh dan mereka lupa dengan Negara Islam Aceh yang sebenarnya masih berdaulat dan tidak tergabung dengan Indonesia. Pada saat rakyat Aceh menerima kabar walaupun terlambat datangnya bahwa telah diproklamasikan kemerdekaan Indonesia, yang mula-mula tergambar dalam pikiran rakyat Aceh ialah bahwa saat yang berbahagia yang selama ini dinanti-nantikan telah tiba yaitu saat akan berlakunya syariat Islam di tanah Aceh. Mereka merindukan kembali masa-masa di mana bangsa Aceh menjadi Kerajaan Islam. Dalam masa-masa kerajaan Islam itu, rakyat Aceh sangat merasakan kebahagiaan hidup lahir dan bathin, karena nikmatnya menjalankan hukum syariat Islam. Oleh karena itulah, proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 disambut oleh seluruh rakyat Aceh dengan semangat jihad yang meluap-luap. Mereka bertekad akan mempertahankan kemerdekaan dengan mengorbankan jiwa dan harta bendanya untuk mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan Indonesia sehingga rencana Belanda hendak menduduki lagi daerah Aceh tidak dapat terlaksana. Pernah diketahui bahwa di Aceh ketika itu telah berkumandang seruan-seruan rakyat agar hukum-hukum Islam dilaksanakan sepenuhnya. Bahkan, di beberapa tempat rakyat dengan bertindak sendiri-sendiri menjalankan sebahagian dari hukum Islam. Di samping seruan-seruan untuk melaksanakan hukum-hukum Islam itu terdengar pula seruan agar kesultanan Aceh diproklamasikan kembali.

Dewan Revolusi: Perpecahan Inter nal Darul Is lam Aceh

301

Segala apa yang terasa dalam hati harap dilaksanakan tetapi jangan hatap saya dapat memberi bantuan. Teungku Muhammad Daud Beureu`eh kemudian berkeluh atas banyaknya pengkhianatan dan yang menyerah: saya hanya seorang diri dengan tak ada kawan.23 Pada T&T, semua perintah sudah berjalan, tetapi pelaksanaan sedemikan rupa. Artinya, banyak penyimpangan dan kemerosotan akhlak dari para prajurit. Kepala staf minta bubar kabinet, sudah bubar, kepal staf diangkat menjadi Meteri Perang dan kepala staf di ganti oleh Ibrahim Saleh, namun urusan tak juga beres. Kemudian Amin Jalil mengungkapkan idenya bahwa: (1) punya modal ; (2) minta perbaikan kemungkaran-kemungkaran. Moei Hajim juga menegaskan bahwa TII yang sudah masuk PRRI supaya kembali ke TII dan dilatih kembali, jangan sampai menyerah kepada Pancasila. Wali Negara menyatakan dengan tegas, Segala sesuatu sudah saya dengar dan akan saya salurkan dengan perantaraan Gazali ataupun dengan Hasunddin sendiri. Wakil saya pun sudang mengurus hal ini di luar Negeri. Modal yang dipinjam sudah bayar. Belanja untuk tentara selama 3 bulan Rp. 90.000.- Dapat diurus dengan TII saja sedang dengan PRRI tak dapat langsung. Amin Djalil sekarang saya anggap orang pusat, yang akan ditempatkan di mana perlu akan ditempatkan nanti. Moein juga kalau tak ada keberatan akan ditempatkan dipusat (disini), apa untuk mejadi pelatih atau lain, nanti akan ditetukan.24 Sementara itu, berbagai godaan terus berdatangan ke TII yang menyeruak dan menggerogoti moral prajurit misalnya Banta Chairullah dijanjikan akan diangkat sebagai agen tambang minyak.25 Teungku Daud Beureu`eh pun kembali terpuruk oleh jatuhnya moral prajurit dan perwira TII yang mudah tergoda. Namun, ia, sebagaimana biasanya, tetap tegar dan keras hati berdiri menghadang
23

Ibid., hlm. 63. Ibid., hlm. 64. Ibid., hlm. 64.

28 Tentang imagined communities, lihat Benedict R. OGorman Anderson, Imagined Communities, (London: Verso, 1983).

24 25

300

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Aceh di Awal Ke merdekaan

67

menjadi oportunis dan menjadi rusak moralnya.19 Sementara itu, banyak TII berdiri di dua nokang (perahu) dalam pengertian bahwa banyak dari TII yang juga menjadi anggota tentara PRRI. Tetapi, dalam beberapa hal, sebagaimana diakui oleh Gazali, dengan kami tetap baik, tetapi dalam hal itu berupa rahasia tak ada pertimbangan apaapa.20 Kekuatan TII terus menurun, bahkan banyak dari para pendukung dana sudah beralih ke PRRI. Hasan ATRA, misalnya, yang memiliki perusahaan angkutan bus kota yang menghubungkan kota-kota antara Kutaradja dan Medan, tak dapat meladeni Resimen VII karena ia dalam PRRI dan aktif malah tak ada jaminan apa-apa lagi darinya tentang hal keuangan karena ia sudah membangga-banggakan PRRI.21 Sementara itu TII dengan sangat bersahaja meneruskan perjuangannya. Bahkan, dari operasi pencurian dan dakwah, TII kemudian berhasil memperoleh 180 pucuk senjata dari tentara Pantjasila. Hasanoeddin membuat pernyataan bahwa segala senjata-senjata diserahkan kepada NBA-NII demikian orang-orangnya. Pada hari-hari berikutnya, dengan tanpa bantuan dan sokongan dana dari Hasan ATRA, TII mendapatkan kembali spiritnya dengan berhasilnya merampas 35 pucuk senjata, 1 bren gun, dan 1 mortir.22 Perolehan ini kemudian dikirim kepada Resimen VII dan Batalyon 175 TII. Pada 31 Januari 1959, di hadapan Amin Djalil dan Moein Hasjim, Wali Negara NII Aceh, Teungku Muhammad Daud Beureu`eh mengingatkan kembali bahwa pekerjaan ini semata-mata untuk ibadat bukan karena yang lain, segala sesuatu oleh atasan tidak hanya dapat mendengar dari sebelah pihak. Dalam pertemuan ini saya harap supaya kepada saya dapat diberikan bahan-bahan untuk fikiran dan pertimbangan.
19 20 21 22

Pada tanggal 22 Agustus 1945, di rumah Teuku Abdullah Jeunib berkumpul beberapa tokoh di antaranya: Teuku Nyak Arief, Teuku Ahmad Jeunib, Teuku Nyak Hanafiah, Teuku Abdul Hamid, dan Pak Ahmad Kepala Kantor Pos di Kutaraja. Mereka berbincang-bincang tentang seputar kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Dalam pertemuan itu para hadirin semua tertuju pada Teuku Nyak Arief, Teuku Ahmad Jeunib berkata Saya menyokong apa pun yang Teuku Nyak Arief putuskan, tetapi agar diperhatikan bahwa Jepang masih berkuasa penuh di sini dan Belanda serta sekutunya sekarang sudah berada dan menguasai Sabang. Teuku Abdul Hamid, seorang yang berwibawa mengatakan, Saya sependapat dengan Teuku Ahmad Jeunib. Harus kita dulu, kata Teuku Teungoh Hanafiah dengan tegas. Jawab Teuku Nyak Arief, Itu yang ingin saya dengar. Maka Teuku Nyak Arief memerintahkan kepada Pak Usman Commis untuk segera membuat undangan agar besok berkumpul di Kantor Gubernur/Residen Aceh (Shu Chokan), diundanglah sebanyak 56 orang tokoh Aceh,29 Namun dalam pertemuan itu Teungku Muhammad Daud Beureu`eh tidak hadir. Pada pukul sembilan lewat, Teuku Nyak Arief membuka rapat. Di sampingnya ada sebuah meja di antaranya terletak sebuah Al Quran dan bendera Merah Putih, di samping meja berdiri istri Teuku Nyak Arief dan Teuku Dahlan dengan sikap sempurna. Dengan langkah pasti Teuku Nyak Arief maju ke depan, beliau mengambil Al Quran dengan tangannya sendiri sembari berkata, Demi Allah, Wallah, Billah, saya akan setia untuk membela kemerdekaan Indonesia sampai titik darah saya yang terakhir. Suara Teuku Nyak Arief lantang, tegas dan pasti serta dengan nada keras tanpa keraguan sedikit pun, Teuku Nyak Arief mundur ke tempat semula kemudian maju mengangkat sumpah Teuku Ali Panglima Polem dan disusul kemudian seluruh para hadirin

Ibid., hlm. 62. Ibid., hlm. 62. Ibid., hlm. 62. Ibid., hlm. 63.

29 C. van Dijk, Darul Islam: Sebuah Pemberontakan, (terj.), (Jakarta: Grafiti Pers, 1993), hlm. 132.

68 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia satu per satu.30 Setelah itu, di depan kantor Teuku Nyak Arief dinaikkanlah bendera Merah Putih yang pertama di Aceh, yaitu pada tanggal 24 Agustus 1945. Penaikan bendera dipimpin langsung oleh Teuku Nyak Arief, sedangkan yang menggerak benderanya adalah Husein Naim (mantan Kepala Polisi pertama) dan Muhammad Amin Bugeh. Sebenarnya, mereka-mereka inilah yang telah menjual Negara Islam Aceh yang berdaulat penuh kepada Republik Indonesia Soekarno. Menyusul kemudian penaikan-penaikan bendera di seluruh Aceh, di antaranya: Penaikan bendera di Lhok Sukon, pada 29 Agustus 1945, dipimpin oleh Hasbi Wahidi, di Lhokseumawe dipimpin oleh Teuku Panglima Agung Ibrahim dan Hasan Sab, di Langsa jam sembilan pagi 1 Oktober 1945 di lapangan stasiun kereta api dinaikkan bendera merah putih, di Kuala Simpang pada tanggal 3 September, penarikan bendera dipimpin oleh H. Burhan Jamil. Pada tanggal 5 September dinaikkan bendera di depan Kantor Camat Kuala Simpang dipimpin oleh Syamsuddin Siregar dan Abu Samah, peniup terompet Arifin Bujong dan Sofyan Tanour, Teuku Raja Sulung, pidato disampaikan oleh Haji Burhan Jamil, di Tualang Cut dinaikan bendera pada tanggal 2 Oktober oleh barisan laskar, di Aceh Selatan pada tanggal 4 Oktober dipimpin oleh AR. Hajat, Khabar Ginting, Abdul Karim, Gindo Bangko, di Blang Keujreun pada tanggal 4 Oktober 1945 dipimpin oleh Muhammad Din Sinar Terang, di Aceh Tengah pada tanggal 5 Oktober 1945 dipimpin oleh Teuku Mahmud yang memimpin acara Raja Abdul Wahab Muda Sedang, di Aceh Selatan pada tanggal 4 September 1945 penaikan bendera dipimpin oleh Muhammad Nasir dan Muhammad Ali Akbar, di Aceh Barat Meulaboh September 1945 penaikkan bendera dipimpin oleh Wahab Makmur dan Teuku Cut Raman. Pada tanggal 3 September 1945, penarikan bendera Merah Putih dipimpin oleh Teungku Umar Tiro dan Hasan Muhammad Di Tiro selaku Ketua Barisan Pemuda Indonesia Lamlo yang menggerek
30

Dewan Revolusi: Perpecahan Inter nal Darul Is lam Aceh

299

sudah beralih masuk ke PRRI. Hadji Hasanoeddin Siregar yang tetap patuh kepada Teungku Muhammad Daud Beureu`eh dan tetap setia dalam TII, ia kemudian mengangkat Noekoem menjadi penguasa perang di Resimen VII. Dalam suatu operasi mendapat suatu kekecewaan yang menjadi pecah antara PRRI dengan TII. Noekoem datangi Mayor Hadji Hasanoeddin Siregar membentangkan segala keburukan yang telah terjadi zina, judi, rampok, agama baru. Hadji Hasanoeddin Siregar adalah sebagai pengurus keuangan Sabang Merauke dan TII, sampai sekarang belum ada perbaikan. Noekoem menyatakan keluar dari Sabang Merauke(PRRI) dan masuk DI dan diangkat menjadi consigner TII dengan minta bantuan dari Gazali, tetapi tak diberikan. Nukum berikhtiar mencari jalan untuk memperoleh uang, sekarang baru dapat membantu TII sedikit-sedikit dan sudah saya beli pakaian dan peluru Ketika datang Menteri Perang dan Menteri Dalam Negeri NII tak dikatakan pada Menteri Dalam Negeri bahwa di sini banyak perjudian, perzinaan, perampokan dan membuat aliran baru yang aneh-aneh dalam Islam.18 TII kemudian bergerak terus menghadang barisan PRRI dan berhasil mensita satu kapal milik PRRI sejumlah 30 mil yang merupakan kepunyaan saudagar-saudagar. Para TII menceritakan bahwa Tentara PRRI hanya 64 orang lagi yang selalu berjudi, pernah ditangkap oleh Noekoem selagi judi itu tetapi oleh Hasanoeddin dilepaskan. Bagi Noekoem, dalam memerangi PRRI, ia rela mati dalam Islam, suatu moralitas yang jarang terdapat pada tentara kita. Menurut Moein Hasjim, dari TII, kondisi moral tentara PRII ini payah diatasi karena ada dua komando, ada dua hukum. Banyak tentara PRRI yang tertangkap tak bersedia masuk DI, sedang sebahagian dari TII sudah masuk PRRI karena mewah, tak mau kembali lagi ke TII. Kerusakan moral karena terpengaruh pemberontakan yang lain terjadi karena banyak personil TII yang sudah terpengaruh Dewan Revolusi

C. Van Dijk, op.cit., hlm. 198.

18 Amelz, Riwajat Singkat Atjeh., hlm. 61. Dan juga lihat M Noer el-Ibrahimy, Peranan Tgk. Daud Beureu`eh dalam Pergolakan Aceh, (Jakarta: Media Dakwah, 2001).

298
19. 20. 21. 22. 23. 24. 25.

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Aceh di Awal Ke merdekaan

69

Kapten Ismail M. H. Abu Bakar Tgk. Harus B.E. Tgk. Daud Ali Tgk. M. Daud Bugeh Tgk. Raden Thamrin Amin

Perwira Staf T&T TII Anggota Majelis Syura NBA NII Anggota Majelis Syura Anggota Majelis Syura Anggota Majelis Syura Anggota Majelis Syura Anggota Majelis Syura

bendera adalah Muhammad Saleh (Ayahwa Leh). Pada kesempatan itu Teungku Umar Tiro selaku pewaris satu-satunya keluarga Tiro bersumpah setia atas nama keluarga Tiro terhadap Republik Indonesia. Keluarga Tiro, dengan menaikkan bendera Merah Putih ini, telah mengesahkan ijab kabul terjualnya Aceh kepada Indonesia. Dukungan kepada Republik dari para pemimpin keagamaan yang lebih tua datang pada tanggal 15 Oktober 1945 berupa Pernyataan Ulama Seluruh Aceh yang ditandatangani oleh empat ulama terkenal: Teungku Muhammad Daud Beureu`eh dan Teungku Ahmad Hasballah, keduanya pemimpin PUSA, Teungku Jafar Sidik, seorang ulama yang menguasai dayah yang sudah lama berdiri; dan Teungku Hasan Krueng Kale, ulama konservatif yang terkemuka. Pernyataan ini menyerukan kepada rakyat agar bersatu di belakang pemimpin besar kita Soekarno dalam melawan kembalinya Belanda ke tanah air kita Indonesia. Karena Belanda sekali lagi akan mencoba menghancurkan agama kita yang murni dan juga menindas serta merintangi keagungan dan kemakmuran rakyat Indonesia, maka keempat ulama itu menyatakan bahwa perjuangan untuk kemerdekaan adalah suatu tujuan yang suci yang biasanya dikenal sebagai Prang Sabi. Pada tanggal 30 Oktober 1945, pukul 8:00 pagi, Mr. Teuku Muhammad Hasan mengeluarkan ketetapan tentang pengangkatan residen se-Sumatera.31 Adapun susunan residen se-Sumatera itu antara lain: untuk daerah Aceh, Teuku Nyak Arief; untuk daerah Sumatera Timur, Mr. Muhammad Yusuf; untuk daerah Tapanuli, Dr. Ferdiman Lumban Tobing; untuk daerah Sumatera Barat, Muhammad Syafie; untuk daerah Bengkulu, Ir. Idra Tjahya; daerah Jambi, Dr. A. Syaqaf; daerah Lampung, Mr. Abbas; daerah Sumatera Selatan, Dr. A.K. Gani; dan untuk daerah Bangka Belitung, Muhammad A. Syarif.32 Namun amat disayangkan perjuangan rakyat Aceh mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan Belanda kembali dicemari oleh
31 32

Langkah pertama Abdul Gani Usman dalam kedudukannya sebagai ketua Dewan Revolusi adalah membuat pengumuman yang menyatakan, jabatan kepala negara untuk sementara dilaksanakan Dewan Pertimbangan Revolusi, yang diketuai Amir Husin al Mudjahid. Pada waktu yang bersamaan ia memerintahkan para pengikutnya menghentikan pemungutan pajak di desa-desa, disertai ancaman terhadap siapa saja yang masih terus melakukannya. Mengenai Tentara Islam, Hasan Saleh membatasi gerak para prajurit Divisi Tengku Chik Ditiro dalam asrama mereka, dengan menarik mereka dari desa-desa tempat mereka ditempatkan. Selanjutnya ia mengumumkan, Dewan Revolusi akan mengirimkan delegasi ke Jakarta untuk membicarakan berakhirnya jihad suci menegakkan Negara Islam dengan para penguasa Republik. Pada bulan-bulan berikutnya Dewan Revolusi diikuti pasukan dari Aceh Barat yang dipimpin T.R. Idris dan Komandan Resimen VII Sumatera Timur, Haji Hasanuddin.16 Pada Agustus, Abdul Gani Mutiara menyatakan Dewan Revolusi didukung 25.000 anggota Darul Islam.17 Namun, kemudian banyak anggota Dewan Revolusi yang

Kedudukan Haji Hasanuddin sebagai komandan Resimen Sumatera Timur diambil alih Teuku Saat; tetapi kebanyakan prajurit mengikuti Haji Hasanuddin Siregar. Adanya tokoh ini sekaligus menegaskan bahwa ini bukanlah pergerakan dari Aceh untuk Aceh, melainkan lebih sebagai dari Aceh untuk Indonesia, untuk umat Islam. C. van Dijk, Darul Islam, Sebuah Pemberontakan, (terj.), (Jakarta: Grafiti Pers, 1991), hlm. 265.
17

16

SK No.IX tanggal 3-10-1945. C. van Dijk, op.cit., hlm. 43.

70 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia segolongan dari bangsa Aceh yang haus akan kekuasan dan rakus terhadap kehidupan dunia. Ketika sedang bergejolaknya api revolusi kemerdekaan di Aceh, sebagian dari golongan uleebalang benar-benar mengharapkan kembalinya kekuasaan Belanda sebagai bagian dari pendudukan Sekutu di Indonesia, dan untuk itu mereka enggan mengambil prakarsa apa pun. Mengapa ada kejadian yang demikian? Golongan bangsawan di Aceh yang diwakili oleh para uleebalang. Mereka itu semacam raja-raja kecil di daerah kekuasaannya, yang dahulunya tunduk pada kekuasaan Sultan Aceh. Akan tetapi lambat laun ikatan antara uleebalang dan sultan semakin lemah. Hingga akhirnya mereka memisahkan diri dari sultan dan menjadi merdeka. Mereka menjadi raja-raja kecil di daerahnya. Dengan demikian, dengan gampang mereka memihak kepada musuh dan mengadakan perjanjian setia kepada Belanda secara sendiri-sendiri. Sehingga hubungan batin dalam tempo yang tidak lama setelah bahu membahu dengan pihak golongan ulama dalam melawan Belanda mulai agak renggang. Ketika Belanda menancapkan kuku kekuasaannya di Aceh, posisi uleebalang sangat diharapkan untuk membantu usaha-usahanya membasmi perlawanan kaum muslimin dan orang-orang Aceh yang dijangkiti penyakit Atjeh-moorden. Belanda memberikan kewenangan kepada uleebalang atas daerahnya untuk mengatur rakyat, memungut pajak, menentukan hukuman dan bahkan diantara mereka ada yang diangkat menjadi perwakilan pemerintah Belanda di Kutaraja. Itulah jalinan kerjasama antara Belanda dengan para kaum ulee-balang sampai Belanda hengkang dari bumi Aceh. Sementara para ulama melihat tingkah laku para uleebalang yang demikian telah menyulut emosi mereka, sebab utama dari proses ini adalah akibat daripada pertentangan prinsip antara raja-raja yang memerintah dengan bermacam-macam tindakan yang dijalankannya di satu pihak dan kalangan rakyat yang hidup dalam suasana tertekan di pihak lainnya. Uleebalang sesuai dengan kedudukannya, telah mendapat dan menjalankan hak-hak kekuasaan yang luas dan keras, sehingga di

Dewan Revolusi: Perpecahan Inter nal Darul Is lam Aceh

297

menyumbang bagi hancurnya gerakan Darul Islam di Aceh.


Nama-Nama Anggota Delegasi Dewan Revolusi DI/TII Aceh Peserta Musyawarah Dengan Missi Pemerintah Pusat Untuk Penyelesaian Pemberontakan DI/TII Aceh Tanggal 23-26 Me1 195915 No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Nama Tgk. A. Husin Al Mujahi A. Gani Usman Hasan Saleh A.G. Mutyara T.M. Amin T.A. Hasan Nya' Umar M. Saleh Kapa M.K. Arsjad Tgk. Ishak Amin Tgk. Ibrahim Saleh Kol. Husin Jusuf Tgk. Hasballah Mayor Abdul Wahab Ibrahim Mayor M.A. Hanafiah Mayor Ben Husin Kapten Abdullah Husin Mayor Dja'far Abdullah Jabatan Wali Negara NBA-NII Ketua Dewan Revolusi Wakil Ketua Dewan Revolusi Sekjen Dewan Revolusi Anggota Dewan Revolusi Anggota Dewan Revolusi Wakil Sekjen Dewan Revolusi Anggota Dewan Revolusi Anggota Dewan Revolusi Anggota Dewan Revolusi Anggota Dewan Revolusi Anggota Dewan Revolusi Anggota Dewan Revolusi Komandan Resimen VI TII Kepala Staf Resimen I/ Gajah Putih TII Komandan Batalyon 315 TII Perwira Staf Resimen VI Komandan Resimen II TII

15 Hardi, Daerah Istimewa Aceh: Latarbelakang Politik dan Masa Depannya, (Jakarta: Citra Panca Serangkai, 1993), bagian lampiran.

296

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Aceh di Awal Ke merdekaan

71

Pang Bajak, sekarang Hasan Saleh sendiri telah menjadi Pang Baroen. Telah membuka celana Teungku Di Beureu-eh.14 Perkembangan internal gerakan DI Aceh selanjutnya pada bulan Maret 1959 sudah banyak yang terpengaruh dengan Dewan Revolutieneer. Hal ini menyebabkan Hasan Saleh ke Geumpang bersama dengan Wedana Ali Gade dan Gam Manjak. Bahkan Njak Maoen nampaknya sudah terpengaruh dengan Dewan Revolusi. Hal ini terjadi pada Maret 1959, ketika, dengan menuduh Daud Beureu`eh bertindak sewenang-wenang, Hasan Saleh dan pendukungpendukungnya mengambil jalan pintas yang lain dan meninggalkan Teungku Muhammad Daud Beureu`eh tinggal bersama tokoh DI lainnya yang sudah terisolir. Mereka membentuk pemerintah mereka sendiri pada suatu pertemuan di Pidie yang dihadiri kira-kira seribu orang pada 15 Maret, mereka yang berlainan pendapat ini menamakan dirinya Gerakan Revolusioner Islam Indonesia, kemudian membentuk Dewan Revolusi (Negara Bagian Aceh). Ketuanya adalah Abdul Gani Usman, dan wakil ketuanya adalah Hasan Saleh, dengan Abdul Gani Mutiara sebagai sekretaris umum dan kepala Bagian Penerangan. Sebagai anggota termasuk pemimpin-pemimpin Darul Islam terkemuka seperti Amir Husin al Mudjahid, T.A. Hasan, Ibrahim Salehs T.M. Amin, dan Husin Jusuf. Tabel di bawah ini memperlihat nama-nama anggota Dewan Revolusi yang menjalin hubungan damai untuk perundingan bagi penyelesaian kasus Darul Islam Aceh. Para anggota Dewan Revolusi ini dengan berbagai motif dan niat pada akhirnya bukan hanya berhasil menekan pemerintah Pusat, melainkan membuka lubang dalam pergerakan sehingga, ibarat kapal yang dibocorkan sengaja dari dalam, akan mengakibatkan perpecahan dan karamnya kapal tersebut. Namun, kapal Darul Islam tidaklah karam di lautan leaps yang jauh dengan pantai, melainkan di pinggiran pantai. Artinya, perpecahan yang diakibatkan oleh munculnya Dewan Revolusi ini tidak semuanya

dalam prakteknya kerapkali dirasakan sebagai suatu tindakan sewenang-wenang oleh penduduk yang bersangkutan. Perlakuanperlakuan yang dialami oleh sementara rakyat Aceh dari rajanya ini, misalnya mengenai harta-benda mereka yang diambil, dirasakan 14 sebagai hal-hal yang menyakiti hati. Begitu pula kekuasaan di dalam hukum-adat yang dipegang oleh uleebalang, kelihatan benar tidak selalu bisa berjalan paralel dengan hukum agama yang telah berurat berakar menjadi sendi hidup masyarakat Aceh. Kebijakan-kebijakan uleebalang yang seperti ini yang kemudian menjadi penyebab bagi suburnya rasa pertentangan-pertentangan antara pihak ulama dan uleebalang. Kesempatan meledaknya pertentangan yang telah lama akhirnya tiba juga yaitu ketika menyerahnya tentara Jepang kepada Sekutu dan ketika berkumandangnya proklamasi kemerdekaan. Atas nama Pemerintah Daerah Aceh, Teuku Panglima Polem Muhammad Ali dan atas nama Markas Umum Daerah Aceh, Sjamaun Gaharu terjadilah penyerangan secara sistematis terhadap pasukan uleebalang yang diketuai Teuku Muhammad Daud Cumbok, begitu juga dari golongan ulama yang turut berpartisipasi dalam peristiwa tersebut. Peristiwa yang merupakan suatu pertarungan hidup-mati, senjata lawan senjata dan jiwa bertarung dengan jiwa yang kemudian terkenal dengan Peristiwa Cumbok. Perang Cumbok inilah yang mengakibatkan runtuhnya kekuasaan feodal yang telah berabad-abad berurat berakar di persada bumi Aceh. Setelah padamnya api revolusi sosial di Aceh, roda pemerintahan Keresidenan Aceh berjalan lancar, tinggal mengurus penyempurnaan alat-alat kekuasaan negara di berbagai lapangan, menyelenggarakan soal keamanan serta menempuh jalan-jalan yang mungkin untuk memperbaiki penghidupan rakyat yang belum sembuh dari penderitaan akibat perang. Di samping itu perhatian ditujukan kepada soal-soal pertahanan bersama-sama dengan angkatan perang dan barisan perjuangan rakyat yang ketika itu banyak terbentuk badanbadan perjuangan dan kelaskaran di Aceh. Setiap waktu Aceh menghadapi serangan-serangan Belanda dari perbatasan dengan

14

Ibid.

72 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia Sumatera Timur. Para pemimpin di Aceh memikirkan pula persoalan sekitar pengiriman balabantuan untuk Sumatera Timur, di mana setiap waktu terjadi kegiatan militer Belanda yang ingin menancapkan kukunya kembali di bumi Aceh. Belanda selalu menganggap kehadirannya kembali ke Indonesia merupakan kelanjutan dari romantisme masa lalu yang panjang. Setelah mereka berhasil membangun rezim kolonialismenya selama 350 tahun yang kemudian diakhiri ketika Perang Dunia ke dua, ambisi kebinatangannya untuk menguasai daerah-daerah di Indonesia termasuk juga Aceh mulai muncul kembali seiring dengan takluknya Jepang kepada pihak sekutu. Berkat tekad yang membaja dan pantang menyerah yang didukung oleh persenjataan yang rapi dan koordinasi yang lancar telah di-perlihatkan rakyat Aceh, sehingga mereka dapat menghadapi Belanda pada dua kali aksi militernya. Aceh, kemudian menjadi daerah satu-satunya di Indonesia yang bersih dari injakan militer Belanda. Belanda pada akhirnya tidak berani lagi datang ke Aceh, setelah aksi di Medan Area mengalami gempuran yang sangat hebat dari rakyat Aceh, m-ereka sangat trauma dengan kejadian masa silamnya di Aceh, kenge-rian inilah yang membawa dirinya untuk menarik pasukan dari Aceh. Pada tanggal 16 Juni 1948, Soekarno datang ke Aceh. Sehari kemudian, dalam sebuah rapat akbar yang diselenggarakan di Lapangan Blang Padang, Soekarno menyampaikan pidato. Dalam sambutan pidatonya itu Soekarno menjelaskan tentang kedatangannya ke Aceh, Kedatangan saya ke Aceh ini spesial untuk bertemu dengan rakyat Aceh, dan saya mengharapkan partisipasi yang sangat besar dari rakyat Aceh untuk menyelamatkan Republik Indonesia ini. Daerah Aceh adalah menjadi Daerah Modal bagi Republik Indonesia, dan melalui perjuangan rakyat Aceh seluruh Wilayah Republik Indonesia dapat direbut kembali. 33 Di sisi lain, dalam suatu acara jamuan makan malam dengan Teung33

Dewan Revolusi: Perpecahan Inter nal Darul Is lam Aceh

295

yang berusaha mencari keuntungan dari cara damai yang ditempuh secara sepihak. Menyerah dengan mendapatkan keuntungan dan hasil konsesi politik memperlihatkan bahwa memberontak adalah jalan lain untuk meraih kekayaan. Haroen Ali menyebutkan bahwa ketika diadakan pertemuan dengan Nasution hadir Hoesin Joesoef, Hasan Saleh, Ayah Gani. Dan mereka sudah menanda tangani suatu perjanjian dengan memberikan pangkat kepada Hasan Saleh Letnan Kolonel berarti telah kembali kepada TNI. Tak ada bantahan apa-apa dari Ayah Gani. Namun Ayah Gani kembali menyatakan bahwa ia tidak tahu tentang hal tersebut. Artinya, Hasan Saleh sangat cerdik dalam memainkan disinformasi Dewan Revolusi dan segala sepakterjangnya. Bahkan Ayah Gani, menyatakan bahwa Gerakan ini boleh jadi sudah diboncengi oleh golongan ke III.10 Lebih terkejut lagi Ayah Gani ketika dikatakan oleh Haroen Ali bahwa sudah terdapat banyak pamflet-pamflet itu sesudah disusun dirumah Zaini Bakri, oleh A. G. Moetiara dan lain-lain, dibawa oleh Hoesin Joesoef dan Hamidy kepada percetakan untuk dicetak. Dan sesudah dicetak disuruh siarkan dengan kapal terbang. T.N.I. ketika menempelkan pamflet itu dengan riang gembira.11 Husin Ali mencoba menyatakan kepada Ayah Gani bahwa Bukankah penerimaan rakyat umum dalam hal ini sangat buruk akibatnya? Bermaksud hendak menghindarkan Aceh dari keruntuhan, tetapi sekarang nampaknya bukan runtuh lagi sudah hancur seluruhnya.12 Sesudah diadakan pertemuan dengan Nasution, ia kembali ke Djakarta, entah dengan jalan bagaimana Pemerintah Asing (Inggeris) telah mengetahui dan menyiar-nyiarkan di surat kabar.13 Toeanku Hoesin mengatakan pada Badaroeddin Tjoet Dahulu saya dituduh
10 11 12

Ibid. Ibid. Ibid. Ibid.

Lihat Amelz, Riwajat Singkat Atjeh., hlm. 17.

13

294

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Aceh di Awal Ke merdekaan

73

Mahmoed 2 orang di Tjot Bajoe.6 Hal ini menun-jukkan, meskipun telah terjadi desersi pada beberapa personil utama TII, pasukan DI masih solid dan patuh. Di dalam jajaran Darul Islam Aceh sendiri, pada tanggal 22 Maret 1959 Amin Basjah masih mengatur jadwal dan tempat serta panita kegiatan dakwah dan khutbah-khutbah Teungku Daud Beureu`eh di Geumpang.7 Baru pada sore harinya ada dialog antara jajaran teungku Muhammad Daud Beureu`eh dengan Abdul Ganie Oesman yang menanyakan Hendak ke mana Dewa Revolutie dengan Panglima Hasan Salehnya? Maka, Abdoel Gani pun menjawab Untuk mencari jalan keluar dari kehancuran Aceh seluruhnya. Karena tindakan ini dianggap sudah merupakan improvisasi yang berlebihan, maka Haroen Ali bertanya lagi: Mengapa tidak diberi tahukan kepada orang tua itu? Yang dimaksud dengan orang tua adalah Teungku Muhammad Daud Beureu`eh.8 Ayah Gani akhirnya hanya menjawab bahwa ia Tak berani pergi kesama takut tersentuh pribadi. Artinya, kharisma Teungku Daud Beureu`eh malah dalam manajemen pergerakan akan menjadi penghalang bagi bawahannya untuk menyampaikan aspirasi. Haroen Ali kemudian menanyakan lagi, Apa sebab dalam proklamasi dan pengumumannya dilakukan oleh Hoesin Joesoef, A.G. Moetiara, T. A. Hasan, T. M. Amin, yang dianggap telah keluar dari kesatuan TII. Abdoel Gani kemudian menukas, Mereka adalah pelopor T.I.I. juga. Namun ketika Haroen Ali menanyakan Apakah gerakan ini tidak bersangkut dengan divizen yang telah diperoleh mereka masing-masing 7 (tujuh juta) rupiah? Tampak Abdoel Gani bersikap diplomatis dengan memberikan jawaban netral: Ini saya tiada ketahui mereka sudah mendapat divizen itu.9 Hal ini menunjukkan bahwa ada ketertutupan dan ada
Amelz, Riwajat Atjeh Bangkit dari Tidoernya jang Njenjak Sesoedah beberapa Poeloeh Tahoen Lamanja, (Pidie, Naskah ketikan, t.t.), hlm. 71.
7 8 9 6

ku Muhammad Daud Beureu`eh yang dihadiri oleh para saudagar Aceh, Soekarno menyarankan kepada rakyat dan saudagar Aceh yang tergabung dalam organisasi GASIDA (Gabungan Saudagar Daerah Aceh) mengumpulkan dana untuk membeli pesawat terbang. Kedatangan Soekarno ke Aceh hanya untuk mengobarkan semangat nasionalisme perjuangan rakyat Aceh. Pengobaran api semangat ini bertujuan untuk menghapus bekas-bekas ideologi Islam sebagai ideologi perjuangan rakyat. Ia menjelaskan begitu gagah beraninya rakyat Aceh dalam perjuangan kemerdekaan, sampai dia memberikan gelar kepada Aceh sebagai daerah modal perjuangan yang kemudian gelar itu diulang-ulangi oleh para pemimpin negara dan politikus lainnya serta diyakini oleh sejarah yang jujur dan objektif. Sesungguhnya dengan pidato politiknya ini Soekarno menipu rakyat Aceh. Orang akan terharu apabila mendengar kisah pengumpulan dana untuk pembelian dua buah kapal tersebut. Betapa tidak, kondisi rakyat Aceh yang serba kekurangan, caru-marut akibat harta kekayaannya terkuras habis akibat penjajah Belanda dan Jepang. Kini, ketika pemerintah meminta sumbangan kepada rakyat Aceh yang besar, dengan rasa penuh tanggungjawab sebagai warga negara Republik Indonesia tetap menyanggupi permintaan kepala negara. Ketika Yogyakarta dikembalikan kepada pemerintah Indonesia, pemerintah hampir tidak dapat mengongkosi dirinya lagi. Dengan maksud supaya roda pemerintahan dapat berjalan kembali, maka dari rakyat Aceh telah mengalir ke Yogyakarta sumbangan-sumbangan berupa uang, alat-alat kantor dan obat-obatan. Pada akhirnya orang dapat membaca di surat-surat kabar tentang sumbangan itu dengan angka-angka yang menakjubkan. Bahkan, untuk pemulihan pemerintah Republik Indonesia, Aceh telah menyumbangkan lima kilogram emas batangan. Entah di mana pula emas itu bersembunyi sehingga tidak ketahuan di mana. Aceh telah membantu RI, namun RI dengan sistem pemerintahan jahiliyahnya telah dengan gampangnya mengkorupsi harta sumbangan rakyat Aceh. Bukan hanya korupsi yang dipraktekkan pemerintahan Soekarno,

Ibid., hlm. 71. Ibid., hlm. 72. Ibid., hlm. 72.

74 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia tapi juga membalas bantuan Aceh dengan serbuan militer. Sekali lagi, air susu dibalas dengan air tuba, itulah kira-kira gambaran kasar yang diperbuat oleh Soekarno sebagai pemimpin bangsa terhadap rakyat Aceh yang nota-bene adalah warga muslim penyokong utama tegaknya Republik. Betapa pun Aceh telah banyak mengorbankan harta dan jiwa bahkan nyawanya untuk tetap mempertahankan negeri ini dari penjajah Belanda ternyata politik pemerintah mengenai perjuangan umat Islam Aceh menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat. Padahal pada waktu kunjungannya ke Aceh yang pertama, Soekarno telah memberikan harapan bagi perjuangan umat Islam Aceh. Hal itu nampak terlihat ketika dia mengadakan suatu dialog dengan Teungku Daud Beureueh. Di mana dalam pertemuan itu Soekarno bersumpah atas nama Allah akan memberikan hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan syariat Islam. Dan akan mempergunakan pengaruhnya agar rakyat Aceh benar-benar nanti dapat melaksanakan syariat Islam di dalam daerah Aceh. Dan banyak lagi tindakan dan kebijakan pemerintah pusat terhadap Aceh yang dianggap rakyat Aceh telah melanggar kesepakatan. Bagi rakyat Aceh janji adalah hutang, dan hutang haruslah dibayar dengan tunai. Dalam kasus ini, ternyata Soekarno atas nama pemerintah pusat tidak ada niat untuk membayar hutangnya kepada rakyat Aceh. Soekarno lebih suka menjadi seorang penipu dari pada besikap jujur sebagai seorang manusia yang beradab. Maka sangatlah wajar jika kemudian Teungku Muhammad Daud Beureu`eh sebagai seorang ulama atas nama rakyat Aceh mengumandangkan Prang Sabi kepada umara yang jahat dan bandit seperti Soekarno yaitu melakukan resistensi politik terhadap kekuasaan pusat.

Dewan Revolusi: Perpecahan Inter nal Darul Is lam Aceh

293

pada tanggal 15 Maret 1959 dan terbentuknya Dewan Revolusi5. Sebenarnya, terbentuknya Dewan Revolusi NBA-NII ini secara rahasia, tak diberitahukan kepada Teungku Muhammad Daud Beureu`eh. Pengambil-alihan kekuasaan secara sepihak dan tanpa sepengetahuan Imam/Panglima/Wali Negara sebenarnya sebuah tindakan penipuan. Namun, dalam pidato Hasan Saleh, Dewan Revolusi mengambil over kekacauan dari Wali Negara dan Kabinet. Proklamasi Dewa Revolusi dibaca oleh Abdoel Gani Oesman (Ajah Gani) yang susunannya adalah: Ketua: Abdoel Gani Oesman Wakil Ketua: Tgk. H. A. Oejong Rimba/Moedjahid? Sekretaris Djenderal: A. G. Moetiara Wakil sekretaris: Tgk. Njak Oemar merangkap anggota Anggota-anggota: Seluruh bekas Menteri2, Seluruh bupati-bupati Panglima Pertahanan: Hasan Saleh Kepala staf T&T/Kores I: Ibrahim Saleh Hanya susunan ini yang kemudian diketahui oleh Teungku Daud Beureu`eh. Teungku Daud Beureu`eh tidak memberikan reaksi yang berlebihan. Sementara itu, pada saat terbentuknya Dewan Revolusi ini, malah Teungku Daud Beureu`eh masih akan membicarakan tentang rencana pembentukan Kabinet akan dibicarakan dalam Majlis Syura. Kegiatan DI Aceh masih tetap seperti biasa. Surat-menyurat masih lancar dari atas di gunung hingga ke bawah di kedai-kedai di pinggiran jalan raya yang ramai. Pada tanggal 18/19 Maret 1959, Teungku Daud Beureu`eh masih memberikan perintah untuk membentuk pos penjagaan pada Alamsjah dan Mahmoed, kekuatan Alamsjah 10 orang,

D. Bangkitnya Kekuasaan Ulama


Di Banda Aceh pasukan Amir Husin al Mujahid terus juga mengambil apa yang disebut "langkah-langkah koreksi" terhadap para angHasjmy, Ishak Amin, A. R. Hajad, Ibrahim Amin, dan hampir semua tokoh TNI. Lihat Hasan Saleh, op. cit. hlm. 354-355.
5 M. Nur El Ibrahimy, Peranan teungku Muhammad Daud Beureu`eh Dalam Pergolakan Aceh, (Jakarta: Media Dakwah, 2001), hlm. 199.

292

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Aceh di Awal Ke merdekaan

75

saya atas nama seluruh rakyat Aceh, mengikrarkan di depan Pak Nas bahwa saya menjamin keamana Aceh dan akan menggagalkan usaha untuk berperang kembali pada tanggal satu bulan satu tahun sembilan belas lima sembilan. Sebagai konsekuensinya KSAD berjanji akan berusaha memenuhi tuntutan-tuntutan yang diajukan Hasan Saleh.2 Tindakan selanjutnya yang dilakukan Hasan Saleh setelah pertemuan dengan KSAD adalah mengirim surat resmi kepada KSAD tanggal 28 Desember 1958 yang isinya ikrar pernyataan taat setia kepada Republik Indonesia, sumpah prajurit, Sapta Marga, dan permohonan agar Ibrahim Saleh direhabilisasi dalam pangkat Kapten dan Yacob Ali dalam pangkat Letnan Satu, sedangkan A. Gani Usman (Ayah Gani) dipercayakan sebagai Penghubung Tinggi/TII. Sementara itu, para pimpinan pemberontak lainnya yang telah berdiam di kota, seperti T. M. Amin, A. Gani Mutiara dan Husin Yusuf diberikan fasilitas dan pe-luang usaha oleh Syamaun Gaharu Ali Hasjmy. T. M. Amin mulai aktif kembali mengelola NV. Indolco, Husin Yusuf mengelola NV. Sakti, dan Husin Shab mengurus pembayaran ganti rugi rumahnya di Sigli dan usul rapel gajinya di Perusahaan Tambang Minyak.3 Tindakan Hasan Saleh dan Ayah Gani tersebut mendapat dukungan dari beberapa pimpinan penting pemberontak, antara lain Tgk. A. Husin Al Mujahid dan Husin Yusuf. Sebaliknya tindakan tersebut membuat Tgk. M. Daud Beureu`eh sangat murka. Akibatnya sejak awal tahun 1959 mulai terlihat perpecahan dikalangan pemberontak antara kubu Tgk. M. Daud Beureu`eh, Hasan Ali, dan Ilyas Leube dan lainnya di satu pihak dengan kubu Hasan Saleh, Ayah Gani, Amir Husin AlMujahid dan lainnya di pihak yang lain. Perpecahan itu termanifestasi secara tegas setelah pengambilalihan kekuasaan oleh Hasan Saleh4
2 3 4

gota senior Pemerintahan dan Tentara.34 Tentara Republik menyerah tanpa pertempuran: Nya' Arif memberi perintah agar tidak melakukan perlawanan apa pun. Tetapi tindakan ini sia-sia saja baginya. Nya' Arif ditangkap dan dipenjarakan di Takengon uleebalang yang lain-lain juga ditempatkan di sini. Awal bulan berikutnya Maret 1946, dia tutup usia, sebab kematiannya dinyatakan diabetes. Tindakan Amir Husin al Mujahid merupakan pukulan terakhir bagi uleebalang. Pada Agustus 1946, residen Aceh, T.M. Daudsyah menunjuk daerah permukiman yang khusus untuk orang-orang yang diduga terlibat dalam Peristiwa Daud Cumbok, seolah-olah melindungi mereka terhadap dendam massa.35 Penahanan mereka ini diperintahkan olehnya karena: "Tidak mungkin dewasa ini kaum kerabat ataupun sahabat-sahabat akrab para korban revolusi sosial tetap berada di kalangan sisa penduduk lainnya, dan adalah kewajiban pemerintah untuk memelihara ketertiban umum dan menjamin keselamatan rakyat maupun pihak yang ter-sebut di atas. Demikianlah diperintahkannya penahanan 62 orang dan kerabatnya,36 termasuk Sjammaun Gaharu, yang menurut daftar yang dilampirkan pada ketetapan yang dimaksud telah melarikan diri.37 Para uleebalang yang tidak sempat terbunuh secara sukarela mengundurkan diri dari jabatannya dan meninggalkan hak turuntemurun-nya karena takut akan akibat-akibat kemudian.38 Tempat
JarahDam-I, Dua Windhu Kodam I/Iskandar Muda, (Banda Aceh: Sejarah Militer Kodam I/Iskandar Muda, 1972), hlm. 113. Sumatera Utara, Republik Indonesia: Provinsi Sumatera Utara, (Jakarta: Kementerian Penerangan, 1953), hlm. 90.
36 Ketetapan Residen Aceh 18 Agustus 1946 dalam S.M. Amin, kenang-kenangan dari Masa Lampau, (1975), hlm. 69-70. 35 34

Hasan Saleh, op. cit. hlm. 345. M. Isa Sulaiman, op. cit. hlm. 406.

Menurut Hasan Saleh, keputusannya mengambil keputusan mengambil alih kekuasaan dari Tgk. M. Daud Beureu`eh atas desakan dari kawan-kawannya baik sesama pemberontak, tokoh sipil maupun militer, yang menginginkan perdamaian di Aceh seperti A. Gani Mutiara, A. Gani Usman (Ayah Gani), T. Amin, T. A. Hasan, Zaini Bakri, Abduh Syam, A.

S.M. Amin, Ibid., hlm. 70. Demikianlah uleebalang Sagi Mukim XXII menyatakan pada 19 Februari: 1) hak uleebalang turun-temurun menggantikan pemimpin negen tidak lagi sesuai dengan zaman; 2) uleebalang adalah warga negara Republik dan menghormati kesejahteraan rakyat; dan 3) mereka telah memutuskan, demi tercapainya organisasi yang sempurna. a) memohon kepada Pemerintah dengan hormat agar memberikan kepada penduduk kedua puluh dua mukim hak untuk memilih pemimpin-pemimpinnya sendiri, dan b) meminta
38

37

76 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia mereka seba-gian besar diambil orang-orang PUSA. Dengan kata-kata Pemerintah Pusat setelah meletusnya pemberontakan Darul Islam, sebagian yang sangat besar dari jabatan-jabatan penting berada dalam tangan orang PUSA dan pengikut-pengikut mereka ... Hanyalah untuk jabatan-jabatan yang memerlukan keterampilan keahlian diangkat orang-orang dari luar daerah.39 Jabatan Nya Arif sebagai residen Aceh diambil alih Teuku Mohammad Daudsjah juga seorang uleebalang, tetapi sudah lama menjadi anggota PUSA yang setia. Seorang uleebalang lain anggota PUSA, Teuku Mohammad Amin, diangkat menjadi wakil residen. Jabatan yang sama juga diberikan kepada Daud Beureu`eh, yang kemudian di samping itu menjadi kepala Departemen Agama di Aceh. Nya Arif digantikan sebagai anggota Staf Umum Tentara Republik di Sumatera oleh Amir Husin al Mujahid, yang mengangkat dirinya sendiri dari pangkat mayor menjadi mayor jenderal pada Maret awal, ketika ia mengeluarkan keterangan yang mengumumkan sejumlah perubahan dalam susunan Komando Tentara Republik di Aceh. Rekan dekatnya, Husin Jusuf bekas sekretaris Pemuda PUSA umpamanya, diangkat dari jabatan mayor menjadi kolonel, menggantikan Sjammaun Gaharu sebagai panglima Divisi V. Perubahan-perubahan ini dilakukan atas kehendak rakyat yang diwakili Tentara Perjuangan Rakyat, demikian dinyatakan dengan tegas.40 Pada akhir 1946 Amir Husin al Mujahid sendiri menjadi korban sebuah komplot. Dia diculik dari Hotel Aceh di Banda Aceh, dan dibawa ke Sigli. Kata orang para penculiknya bermaksud menyerahkannya kepada seorang ulama Islam setempat, yang ingin membalas dendam atas kematian saudaranya atas perintah Amir Husin al Mujahid. Tetapi akhirnya ia diserahkan kepada yang berwajib dan
agar semua uleebalang, termasuk kepala Sagi, untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Lihat Insider (S.M. Amin), Atjeh Sepintas Lalu, (Jakarta: Fa Archapada, 1950). 39 Keterangan Pemerintah, 1953, hlm. 100. 40 Sebagai wakil komandan Divisi V diangkat Letnal Kolonel Nurdin Sufi, sedangkan Mayor Bachtiar Saleh diangkat menjadi kepala staf. Lihat Sumatera Utara, Republik Indonesia: Provinsi Sumatera Utara, (Jakarta: Kementerian Penerangan, 1953).

Bab IX

DEWAN REVOLUSI: PERPECAHAN INTERNAL DARUL ISLAM ACEH

erbarengan dengan kegiatan pembangunan Kopelma Darussalam, usaha mencari solusi damai masalah Aceh terus dilakukan oleh Ali Hasjmy dan Syamaun Gaharu. Proses perundingan tersebut sempat tertunda beberapa saat akibat keterlibatan beberapa pimpinan dan bekas teman seperjuangan pemberontak dalam Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Operasi Sabang Meuroke (OSM),1 dan tersiar kabar bahwa pihak pemberontak mau memulai lagi pemberontakan pada 1 Januari 1959 dan rencana pemberontak merebut Kutaraja. Dalam usaha memperjelas proses perdamaian tersebut Syamaun Gaharu berhasil mempertemukan KSAD A. H. Nasution, yang datang ke Kutaraja untuk meresmikan perubahan KDMA menjadi Kodam A Iskandarmuda, dengan pimpinan pemberontak. Dalam pertemuan yang berlangsung di ruang kerja rumah Panglima KDMA di Neusu Kutaraja tanggal 22 Desember 1958 Hasan Saleh yang ditemani oleh A. Gani Usman (Ayah Gani) telah menjamin tidak akan ada perang lagi sebagaimana ucapannya Bismillahirrahmanirrahim, dengan ini

1 Putra Aceh yang terlibat dalam gerakan PRRI dan OSM adalah Amelz sebagai Mendagri PRRI, dan A. Gani Usman (Ayah Gani) diangkat sebagai Mensos PRRI, dan Mayor Sayid Usman, Mayor Nukum Sanani, Kapten Hasanuddin dan mantan Letnan Sayid Ali Alaydrus dalam OSM. Lihat M. Isa Sulaiman, Sejarah Aceh, Gugagatan Terhadap Tradisi., (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1997), hlm. 394. Lihat Juga Hasan Saleh, Mengapa Aceh Bergolak, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1992), hlm. 345.

Aceh di Awal Ke merdekaan

77

dijatuhi hukuman penjara oleh sebuah pengadilan militer,41 tetapi segera dibebaskan lagi..Tujuan Tengku Amir Husin al Mujahid bukan hanya untuk mengambil alih komando Tentara Republik di Aceh, tetapi untuk menggabungkan pemerintahan militer dan sipil bersama-sama. Perlawanan dari organisasi-organisasi bukan-uleebalang dan bukanPUSA, dan juga barangkali di dalamPUSA,42 merintangi rencana ini. Karena, sebuah usul dari Tentara, yang kini dipimpinnya sendiri, untuk meletakkan pemerintahan sipil di bawah kekuasaan militer ditolak setelah dibahas dalam suatu pertemuan yang di samping dihadiri residen yang baru, juga dihadiri wakil-wakil Tentara, Komite Nasional Daerah, Pesindo, Mujahidin, Masyumi, PSI, PKI, dan sejumlah organisasi kecil pada 6 April 1946. Mereka memutuskan, untuk masa ini keadaannya adalah demikian bahwa "pemerintah sipil belum perlu digantikan oleh peme-rintah militer" dan bahwa "belum tiba masanya untuk menyampaikan usul kepada penguasa untuk mengubah pemerintahan sipil menjadi pemerintahan militer".43 Walupun pemerintahan sipil tetap terpisah dari pemerintahan militer dan beberapa orang pamong praja utama masih berasal dari kalangan uleebalang, kaum ulama dan PUSA kukuh menguasai keduanya. Juga mereka memperoleh banyak kemajuan dalam bidang ekonomi. Harta milik uleebalang yang kaiah disita dan dibagi-bagi, sebagian besar mungkin diberikan kepada ulama. Yang akhir ini selanjutnya menuntut kedudukan yang paling menguntungkan dalam ekonomi untuk mereka sendiri. Said Abdullah, umpamanya, menjadi manager perkebunan asing maupun yang dimiliki pemerintah,

Insider (S.M. Amin), Atjeh Sepintas Lalu, (Jakarta: Fa Archapada, 1950), hlm. 25-26. Perasaan iri hati pribadi dan antagonisme daerah mungkin memainkan peranan di sini. Amir Husin al Mudjahid berasal dari Aceh Timur, demikian juga Mohammad Daudsjah. Menurut beberapa pengamat, kenyataan bahwa jabatan militer dan sipil penting di Aceh diduduki dua orang Aceh Timur menimbulkan amarah orang dan Aceh Besar dan Pidie. Persoalan-Persoalan Politik di Atjeh, Laporan Ms. Mohd. Suhud kepada Gunernur Sumatera Utara, (Medan, 1953), hlm. 5. 43 Sumatera Utara, Republik Indonesia: Provinsi Sumatera Utara, (Jakarta: Kementerian Penerangan, 1953), hlm. 116.
42

41

78 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia sedangkan Amir Husin al Mujahid dihadiahi jabatan direktur umum perusahaan minyak Sumatera Utara. Seorang pemimpin PUSA lain, Njak Neh membuat karier untuk dirinya sen&ri dalam perdagangan.44 Perubahan-perubahan ini menimbulkan banyak perlawanan tidak hanya di pihak kerabat para uleebalang yang telah meninggal dunia, yang harta miliknya disita, melainkan juga dipihak rakyat jelata dan ulama-ulama Islam yang tidak termasuk kalangan teras PUSA. Dua dari mereka ini, Tengku Hasan Krueng Kale dan Tengku Hasbullah Indrapuri, terus mengutuk pengambilan harta kekayaan uleebalang dan menyatakan hukumnya haram. Untuk agak meredakan kecamankecaman terhadap pembagian kekuasaan dan harta benda, Pemerintah Daerah Aceh membentuk Majelis Penimbang di tiap kabupaten. Majelis-majelis ini harus mengawasi agar pembagian barang-barang yang disita ini berlaku jujur dan adil. Pelaksanaannya terjamin dan ketentuan-ketentuan untuk pembagian barang-barang yang disita ditetapkan dalam "peraturan untuk pengawasan dan pemilikan harta benda dari almarhum pengkhianat-pengkhianat terhadap Negara Republik Indonesia di Aceh".45 Majelis-majelis ini diserahi tugas mengenai semua bekas barang milik sang uleebalang almarhum; dari hasil pendapatan inilah akan diberi ganti kerugian yang ditimbulkan oleh uleebalang pada masa lalu maupun dalam bulan-bulan dekat sebelum dan selama revolusi sosial. Barang-barang yang diambil uleebalang se-cara tidak sah harus dikembalikan kepada pemilik yang sah. Demikian pula pemilik asal barang-barang yang dibeli uleebalang dengan harga rendah yang tidak wajar diberi kesempatan membeli kembali barangbarang ini menurut harga yang diterimanya semula. Sisanya, menurut ketentuaan ini, dibagi antara para ahli waris uleebalang almarhum. Tampaknya tak banyak uang yang tersisa untuk dikembalikan
44 45

Konferensi Batee Kureng dan Konse psi Prinsipil-Bidjaksana

291

Dada Meuraxa, Peristiwa Berdarah di Atjeh, (Medan: Pustaka Sedar, 1956), hlm. 261. Lihat Keresidenan Republik Indonesia Daerah Aceh, Peraturan Daerah No. 1.

290

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Aceh di Awal Ke merdekaan

79

kepada para ahli waris ini pada akhir 1949, ketika majelis-majelis ini mulai bekerja sebagaimana mestinya. Karena, pada ketika pembentukannya, dewan-dewan ini tidak saja menghadapi masalah sulitnya mengumpulkan harta milik yang uleebalang yang dalam banyak hal telah diserobot orang lain dalam rangka "revolusi sosial" melainkan juga karena kurangnya dana akibat suatu keputusan yang meng-hendaki tunjangan dibayarkan kepada semua penderita cacad maupun janda dan anak-anak mereka yang tewas selama revolusi sosial dari harta kekayaan bersama para uleebalang. Jadi sebenarnya sedikit saja uang yang tersisa, hingga khususnya Majelis Penimbang Pidie, daerah yang bergolaknya revolusi sosial "paling hebat" terpaksa minta Pemerintah mengambil alih tanggung jawab membayar tunjangan. Pembentukan Majelis Penimbang pada Juli 1946 pun bukan tidak menimbulkan tantangan. Pertama, mereka terdiri hampir seluruhnya dari pemimpin-pemimpin Islam. Kedua, mereka tidak berhasil melaksanakan tugas yang telah ditetapkan bagi mereka.46 Kegagalan Dewan ini diakui anggota-anggotanya sendiri.47 Sejumlah faktor mereka ke-mukakan sebagai alasan, umpamanya, perang melawan Belanda dan kenyataan bahwa pendaftaran harta milik uleebalang mulai hampir sa-tu tahun penuh sesudah revolusi sosial membuat sangat sulit melaku-kan rekonstruksi peristiwa-peristiwa dan menentukan barang-barang mana yang diambil secara tidak sah, demikian pula inflasi terbang benar-benar tidak memungkinkan untuk menetapkan jumlah ganti rugi.48 Pada tahun-tahun kemudian pun penyitaan harta milik uleebalang dan bekerjanya Madjelis Penimbang merupakan benih-benih konflik
46 Untuk susunan Majelis Penimbang dan laporan tentang bekerjanya Dewan ini di Pidie lihat, Bagian Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureueh, Jilid I (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan (t.t.), hlm. 202. 47 Dada Meuraxa, Peristiwa Berdarah di Atjeh, (Medan: Pustaka Sedar, 1956), hlm. 20-21. 48 Lihat surat Nya' Umar, Ketua Majelis Penimbang Pidie kepada para bupati dan wedana Sigli, Lammeulo, dan Meureudu. Lihat Bagian Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureueh, Jilid I (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan (t.t.).

80 Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia yang semakin menggumpal dan memunculkan pertentangan-pertentangan berikutnya. Ketika pecah pemberontakan Darul Islam di Aceh, 1953, Pemerintah Republik dan partai-partai politik yang tidak menyetujui pemberontakan terus-menerus berulang-ulang menggunakan kedua soal ini untuk memojokkan pemimpin-pemimpin pemberontakan dan untuk menarik perhatian akan perlawanan rakyat yang dinyatakan masih keras terhadap mereka. Sebaliknya, simpatisan-simpatisan pemberontakan yang pasif membantah tuduhan bahwa penyitaan dan pembagian dilakukan secara tidak jujur dan sebaliknya menuduh golongan uleebalang merampas rakyat sewenang-wenang sejak mereka masuk dalam pemerintahan kolonial, dan penyelewengan bait almal (dana-dana masyarakat Islam) dan salah urus wakaf (yayasan keagamaan) yang diserahkan dalam pemeliharaan mereka.49 Selanjutnya, Republik Indonesia berjalan dalam proses yang yang penuh gejolak dan hingar-bingar perdebatan di Pusat, di Jakarta. Sementara Aceh semakin terlupakan dan jasa-jasa rakyat Aceh semakin tak terhiraukan, Jakarta membuat banyak kebijakan-kebijakan yang tidak popu-ler. Pada tahap ini, rakyat Aceh sudah tidak lagi memintaminta untuk diperhatikan, melainkan sudah bersikap tidak peduli, suatu kemarahan tersembunyi yang sulit diketahui kapan akan meledak dalam luapan pemberontakan. ***

Konferensi Batee Kureng dan Konse psi Prinsipil-Bidjaksana

289

kini kembali menjadi masalah yang hangat diperdebatkan dalam Konstituante di Jakarta. Seperti ternyata, kaum politisi Islam tidak cukup kuat untuk meluluskannya kali ini. Satu-satunya hasil yang mereka peroleh ialah diakuinya oleh Soekarno dalam Dekrit yang menyatakan kembali ke Undang-Undang Dasar 1945 bahwa Piagam Jakarta telah mengilhami Undang-Undang Dasar ini dan merupakan kesatuan dengannya.44 Selanjutnya disetujui secara prinsip, sebagian prajurit Tentara Islam, setelah melalui screening wajib, akan dijadikan wajib militer darurat. Kemudian, pada 1 Oktober disetujui akan dibentuk Divisi Tengku Chik Ditiro sebagai bagian khusus dari Divisi Tentara di Aceh. Pegawai-pegawai negeri Darul Islam yang mengikuti Dewan Revolusi mendapat perlakuan yang sedikit banyaknya sama. Usaha yang menyatakan bahwa di mana mungkin mereka akan diintegrasikan ke dalam Pemerintahan Republik dikukuhkan para penguasa militer pusat pada akhir Oktober. Ini berarti memberikan kuasa kepada Pemerintah Daerah Aceh untuk mengangkat bekas pejuang mujahidin yang telah menyatakan sumpah setia kepada Republik Indonsia pada jabatanjabatan dalam pemerintahan sipil.45***

Lihat umpamanya pidato Nur el Ibrahimy dan Kasman Singodimedjo. Bagian Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureueh, Jilid I (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan (t.t.), hlm. 134-139, 92-249.

49

44 Kekaburan kompromi ini menimbulkan beberapa masalah pada 1962. Pada akhir tahun itu tersiar berita, Angkatan Darat Pusat menentang (diberlakukannya hukum Islam di Aceh. Berita ini dibantah juru bicara Tentara. Ia membacakan sebuah pernyataan yang pokoknya berisi 1) hukum Islam tidaklah a priori ditolak, karena itu juga tidak di Aceh; 2) dapat dibuat hukum bagi masyarakat Islam yang mungkin di sesuaikan dengan hukum Islam; dan 3) Pemerintah Daerah Aceh, sesuai dengan keterangan misi Hardi, boleh mengeluarkan peraturan-peraturan daerah yang sesuai dengan hukum Islam, asal saja ini tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip umum kebijaksanaan negara, kepentingan umum, atau peraturan hukum tingkat yang lebih tinggi. Dalam pembicaraan turut serta Menteri Agama, yang menyatakan dirinyayakin Angkatan Darat Pusat mengakui dan karena itu tidak menolak prinsip hukum Islam di Aceh. BJ. Boland, Pergumulan Islam dalam Indonesia Modern, (terj.), (Jakarta: Grafiti, 1981), hlm. 90-100. 45 Ini berdasarkan Keputusan Penguasa Perang Pusat no.010541959 31 Oktober 1959. Indonesia berada dalam keadaan perang dari Maret 1957 sampai Maret 1962. Selama masa ini terdapat Penguasa Perang Pusat (Peperpups dan di provinsi-provinsi Penguasa Perang Daerah (Peperda). Di Aceh yang menjadi ketua Peperda (Penguasa perang Daerah) adalah panglima militer, Sjammaun Gaharu, dan wakil ketuanya adalah Gubernur A. Hasjmy.

288

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

pada Kabinet dan kepada Presiden Soekarno serta memberikan sejumlah anjuran tentang langkah-langkah yang harus diambil sehubungan dengan ini. Kemudian Juanda mengeluarkan keputusan43 yang menyatakan, sejak 26 Mei Provinsi Aceh dapat menamakan dirinya Daerah Istimewa Aceh. Ini menempatkan Aceh dalam kedudukan yang agak khas, karena dari provinsi-provinsi yang lain hanyalah ibukota, Jakarta, dan Yogyakarta yang memiliki status istimewa. Kepada Aceh selanjutnya dijanjikan otonomi yang seluas mungkin, terutama dalam bidang agama, pendidikan dan hukum adat, tetapi dengan ketentuan, seperti dinyatakan Djuanda dalam keputusannya, tidak bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku. Pada waktu yang sama Pemerintah Pusat mengirimkan sebuah misi ke Aceh untuk berunding dengan Dewan Revolusi. Misi ini dipimpin Wakil Perdana Menteri Pertama Hardi, dan di dalamnya termasuk Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, Mayor Jenderal Gatot Subroto dan Menteri Kestabilan Ekonomi tanpa Portfolio, Kolonel Suprajogi. Dua hari kemudian, 26 Mei 1959, sesudah melalui usaha Ali Hasjmy dan Letnan Kolonel T. Hamzah menembus jalan buntu, tercapai persetujuan sementara dengan pemimpin-pemimpin Dewan Revolusi yang menerima usul-usul Pemerintah Pusat. Secara tertulis mereka sendiri berjanji kembali ke dalam haribaan Republik dan mengucapkan sumpah setia kepada Undang-Undang Dasar. Sifat yang sebenar-benarnya dari kompromi itu tetap samar-samar. Seperti telah ditetapkan Djuanda sebelumnya, otonomi janganlah ditafsirkan sedemikian rupa hingga setiap ketentuan baru yang diadakan akan bertentangan dengan perundang-undangan yang berlaku. Hardi menambahkan di Banda Aceh, masalah apakah masyarakat Islam di Aceh dapat dipaksakan melaksanakan syariat Islam atau tidak, merupakan persoalan yang akan diputuskan Konstituante, yang ketika itu sedang membicarakan kembalinya ke Undang-Undang Dasar 1945. Ia menghubungkan hal ini dengan Piagam Jakarta, yang

Bab III

KONGGRES ULAMA SELURUH INDONESIA DI MEDAN: PERSIAPAN-PERSIAPAN UNTUK PEMBERONTAKAN

ebenarnya, Darul Islam atau NII adalah sebuah gerakan fisik radikal yang dimulai dengan kegiatan non-fisik: konferensi. Di Jawa Barat, SM Kartosoewirjo, sebelum mengumumkan jihad fi sabilillah terhadap Belanda di akhir tahun 1948, dan kemudian memproklamasikan Negara Islam Indonesia, ia terlebih dahulu memulainya dengan tiga buah konferensi: (1) Konferensi Cisayong awal tahun 1948; (2) Konferensi Cipendeuy, Maret 1948; dan (3) Konferensi Cijoho, Mei 1948.1 Barulah kemudian, setelah sejumlah konferensi mengkristalkan keyakinan untuk berjuang, naik gunung, angkat senjata, membunuh atau terbunuh, berperang melawan tentara Pancasila; ist kariman aumut syahidan.2 Begitu pun dengan di Aceh. Pemberontakan dimulai dengan sebuah atau dua kongres. Di kongres inilah para ulama menyusun sejumlah agenda komitmen, maka di gunung untuk mempertahan-kannya.
Album Peristiwa Pemberontakan DI-TII di Indonesia, (Jakarta: Dinas Sejarah TNI-AD, 1981), hlm. 242-243.
1

43

Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia no. 1/Miss8-1959.

Ist kariman aumut syahidan, (hidup mulia atau mati syahid).

82

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konferensi Batee Kureng dan Konse psi Prinsipil-Bidjaksana

287

A. Sebelum Konggres
Sebelum PUSA menyelenggarakan sebuah perhelatan besar kaum ulama di Medan dalam bentuk Konggres Ulama Seluruh Indonesia, Teungku Daud Beureu`eh dan beberapa anggota PUSA, khususnya Pemuda PUSA, ternyata sudah menjalin hubungan diplomatik rahasia dengan SM Kartosoewirjo di Jawa Barat. Hubungan rahasia ini dijalin dengan modus yang sama dengan plot memasukkan Jepang ke Aceh. Teungku Daud Beureu`eh dan kaum ulama di dalam PUSA merasa perlu meminjam tenaga luar untuk membasmi komunisme dan ideologi Pancasila yang dirasakannya semakin hari semakin jauh dari nuansa Islami yang dulu dicita-citakan banyak rakyat Aceh ketika merebut kemerdekaan dan mempertahankan Republik dan Agresi Belanda Pertama dan Aksi Polisionil Belanda Kedua. Merasa bahwa hanya SM Kartosoewirjo dengan jajaran Darul Islam dan bala tentara TII-nya yang bisa menghalau gurita komunisme dan Pancasila, maka Teungku Daud Beureu`eh serius melakukan kontak rahasia dengan Jawa Barat. Agaknya pada waktu itulah kekecewaan rakyat Aceh sampai ke telinga Imam NII Kartosoewirjo, yang segera mengirim seorang utusan, Abdul Fatah Wirananggapati, alias Mustafa, 3 untuk mendekati para pemimpin Aceh pada awal tahun 1952. Melalui Abdul Fatah Wirananggapati4, Kartosoewirjo mengirimkan beberapa tulisan5 dan maklumat NII tentang gerakan Darul Islam, dan mengajak para pemimpin Aceh untuk bergabung. Ajakan ini mendapat sambutan baik di Aceh. Pendekatan lebih lanjut terjadi ketika Daud Beureu`eh mengirim seorang utusan, Jahja Sulaiman, seorang pemimpin
Memakai nama alias atau nama tsani adalah tradisi politik dan strategi taktik yang sudah mentradisi dalam gerakan Darul Islam dan mereka memiliki alasan pembenaran yang kuat akan taktik nama alias ini, misalnya untuk keamanan dan siasat dengan pihak musuh.
4 5 3

Hasjmy, dan Kepala Polisi untuk Aceh, M. Insja. Pemimpin-pemimpin Darul Islam yang menandatanganinya adalah Hasan Aly, Hasan Saleh, dan Ishak Amin (Bupati Aceh Besar3. Kemudian, disertai Ali Hasjmy, dan M. Insja, jammaun Gaharu juga menjumpai Daud Beureu`eh, yang pada waktu itu masih tidak ingin mendengarkan penyelesaian .41 Sesuai dengan kebijaksanaannya, yang dinamakannya Konsepsi Prinsipiil dan Bijaksana, Sjammaun Gaharu bersama dengan Ali Hasjmy melanjutkan usaha-usahanya mencari penyelesaian. Keduanya tetap berhubungan dengan pemimpin-pemimpin Darul Islam dan mengunjungi Jakarta berkali-kali untuk mengetahui sejauh mana mereka dapat melangkah dalam perundingan mereka dengan kaum pejuang mujahidin. Pada September 1957 Perdana Menteri Djuanda mengatakan kepada mereka, mereka boleh memberikan konsep otonomi daerah penafsiran yang seluas mungkin, bahkan sampai kepada pengertian bahwa Aceh diperlakukan sebagai negara terselldiri, asal saja mereka tetap dalam batas-batas UUDS Indonesia yang masih mengakui suatu republik kesatuan.42 Tetapi tak tercapai penyelesaian pada waktu itu. Sebagiannya ini adalah disebabkan kenyataan bahwa jihad suci menegakkan Negara Islam PRRI-Permesta menarik perhatian, dan sebagiannya karena adanya dalam Negara Islam Aceh suatu faksi yang amat kuat, yang dipimpin Daud Beureu`eh, yang tidak ingin mendengarkan kompromi apa pun juga dan berpegang pada prinsip perundingan resmi antara Negara Islam Aceh dan Republik Indonesia. Perkembangan-perkembangan baru dalam tubuh Darul Islam Aceh yang mulai pecah, membuat Sjammaun Gaharu dan Ali Hasjmy memulai serangkaian perundingan baru. Pada awal Mei Sjammaun Gaharu dan Ali Hasjmy bertolak lagi ke Jakarta, kali ini atas undangan Perdana Menteri Djuanda. Mereka menjelaskan situasi yang baru ke41 42

Wawancara dengan Abdul Fatah Wirananggapati, Sumedang, 9 Oktober 1987. Abdul Murat Mat Jan, op.cit., hlm. 40-41. C. van Dijk, Darul Islam, hlm. 258.

Dia antara tulisan-tulisan tersebut adalah Pedoman Dharma Bhakti, jilid 1 dan 2, juga Manifesto Politik NII.

286

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

83

Segera Sjammaun Gaharu menjauhkan diri dari Maludin Simbolon dan tetap berhubungan erat dengan AH Nasution.39
DAFTAR NAMA-NAMA PARA PEJABAT DARI KDMA/ PENGUASA PERANG DAN PEMERINTAH DAERAH ACEH DALAM PENYELESAIAN PEMBERONTAKAN DI/TII ACEH TANGGAL 23-26 MEI 195940

1. Ali Hasjmy: Gubernur Kepala Daerah Provinsi Aceh 2. Overste T. Hamzah: Wakil Komandan KODAM "A"/Iskandar Muda 3. Mayor Nyak Adam Kamil: Wakil Kepala Staf KODAM "A"/Iskandar Muda 4. Kapten Ismet Noor: Perwira SU- 1 5. Lts. A.K. Abdullah: Sekretaris 6. Zaini Bakri: Bupati/Kepala Daerah Aceh Besar 7. Achmad Abdullah: Kepala Penerangan Provinsi Aceh Sekarang Sjammaun Gaharu bebas melaksanakan rencananya. Bersama dengan gubernur yang baru diangkat, A. Hasjmy, dan dengan sokongan tegas Nasution, ia menempuh politik kebijaksanaan perukunan. Pada pertengahan April 1957, pertengahan puasa, diadakan perundingan dengan sejumlah pemimpin Darul Islam terkemuka di Lamteh, sebuah desa beberapa kilometer dari Aceh. Pembicaraan mencapai puncaknya dalam Ikrar Lamteh yang di dalamnya keduanya berjanji masing-masing untuk memajukan Islam, mendorong pembangunan Aceh dalam arti kata yang seluas-luasnya, dan berusaha mendatangkan kemakmuran dan keamanan kepada rakyat dan masyarakat Aceh. Di pihak Republik piagam itu ditandatangani Sjammaun Gaharu dan kepala stafnya, Teuku Hamzah,

Pemuda PUSA dari Meureudu, kepada SM Kartosoewirjo di Jawa Barat, bersama Abdul Fatah yang kembali ke sana. Daud Beureu`eh dan pemimpin PUSA lainnya merasa kecewa terhadap penjelasan yang tidak jelas dari SM Kartosoewirjo yang hanya berisi konsepkonsep ideologis gerakan Darul Islam tanpa memberikan informasi mengenai struktur gerakan itu. 6 Struktur adalah hal terpenting untuk memahami manajemen dan pengelolaan gerakan, apalagi untuk sebuah gerakan me-nentang kekuasaan sebuah negara yang didukung oleh rakyat banyak. Teungku Daud Beureu`eh pun mengirimkan utusan ke Jawa Barat bersama dengan Abdul Fatah Wirananggapati untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas dan komprehensif tentang Darul Islam se-bagai sebuah negara. Oleh sebab itulah utusan Aceh tersebut diberi wewenang untuk membahas secara mendalam susunan pemerin-tahan dan militer NII dengan Kartosoewirjo. Daud Beureu`eh mengirimkan surat kepada Kartosoewirjo, bertanggal Aceh Darussalam, 4 Oktober 1956. Dalam suratnya, Daud Beureu`eh juga membicarakan hubungan awal di antara kedua pemimpin itu. 7 Akan tetapi utusan tersebut tidak pernah bertemu muka dengan Kartosoewirjo melain-kan dengan sejumlah pemimpin Darul Islam lainnya. la juga tidak memperoleh informasi yang dikehendaki oleh para pe-mimpin Aceh, malah disuruh kembali ke Aceh bersama Abdul Fatah Wirananggapati. Kali ini Abdul Fatah diangkat sebagai kuasa usaha NII di Sumatera dengan tugas membina gerakan Darul Islam di pulau itu. Abdul Fatah tampak tidak sabar melihat pemimpin-pe-mimpin Aceh yang bergerak sangat lambat walaupun ia diyakinkan bahwa mereka sedang menuju ke arah pemberontakan. Dia tidak meninggalkan Aceh sampai awal tahun 1953. Saban hari dan malam Abdul Fatah Wirananggapati menjelaskan konsep-konsep kenegaraan dari NII dan seperti melakukan tentir kepada Teungku Daud Beureu`eh. Ia sedikit sekali bersosialisasi
Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan Kaum Republik, Kasus Darul Islam Aceh, (terj.), (Jakarta: Grafiti Pers, 1990), hlm.90
7 6

39 40

Sjamaun Gaharu, op.cit., 1958:40-43.

Hardi, Daerah Istimewa Aceh: Latarbelakang Politik dan Masa Depannya, (Jakarta: Citra Panca Serangkai, 1993), bagian lampiran

Nazaruddin Sjamsuddin, Ibid., hlm. 89.

84

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konferensi Batee Kureng dan Konse psi Prinsipil-Bidjaksana

285

dengan masyarakat Aceh sehingga menikah dengan seorang puteri Aceh pun ia tak sempat karena saking padatnya acara tilawah (proses transmisi ideologi a la Darul Islam) kepada Teungku Muhammad Daud Beureu`eh dan para anggota PUSA. Tilawah ini dilakukan dengan sangat pelan, hati-hati dan penuh dengan perdebatan. Daud Beureu`eh sangat serius mendengarkannya dan mempertanyakan setiap konsep, tahapan dan cara-cara serta mekanisme kenegaraan secara mendetail kalau sudah bergabung dengan Darul Islam. Teungku Daud Beureu`eh adalah seorang ulama yang tidak menyombongkan diri, ia adalah ulama besar dengan kharisma besar dan pernah menjabat sebagai Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo untuk jangka waktu yang sangat panjang dan terbiasa dengan manajemen organisasi negara, state-craft serta administrasi pemerintahan. Daud Beureu`eh lama mempertimbangkan kesedia-annya untuk ikut bergabung dengan barisan jihad mati-matian a la Darul Islam. Namun, dengan segala kerendahan hati, ia kemudian mengakui akan keberanian Abdul Fatah Wirananggapati atas kesabarannya melakukan diskusi tilawah yang sangat a lot. Pada akhirnya, Teungku Daud Beureu`eh pun setuju bergabung dan siap berjihad fi sabilillah menegakkan negara kurnia Alllah, Negara Islam Indonesia. Pada awal tahun 1953, Teungku Daud Beureu`eh ber-baiat untuk jihad menegakkan Negara Islam Indonesia di Aceh. Abdul Fatah Wirananggapati sendiri yang melakukan baiat tersebut. Teungku Beureu`eh tidak meminta untuk dibaiat oleh SM Kartosoewirjo, karena bergabungnya dia ke dalam barisan Darul Islam bukanlah karena kultus individu terhadap SM Kartosoewirjo. Dalam kapasitas dan keseniorannya, ia lebih sedikit dibanding SM Kartosoewirjo dan ia sendiri tidak membangga-banggakan kharisma yang dimilikinya tersebut. Bagi Teungku Daud Beureu`eh, kemuliaan manusia ditentukan oleh derajat ketakwaannya, bukan ilmu, harta, tahta, dan wanita yang dimilikinya. Ketika Daud Beureu`eh setuju mendukung Darul Islam dan membawahkan Aceh pada NII, maka Abdul Fatah Wirananggapati pun pulang ke Jawa Barat membawa berita gembira ini kepada SM Kartosoewirjo nun jauh di sana, di pegunungan yang sunyi tempat ia bersembunyi dan melawan

usul tersebut dibawa S. M. Amin ke kabinet. Pemerintah Pusat sendiri menurut Amin tidak menghendaki penyelesaian melalui perundingan seperti harapan pemberontak. Menurut pendapat PM Ali berunding dalam kedudukan sejajar dengan pemberontak berarti merendahkan derajat dan martabat negara.38 Berdasarkan keterangannya sendiri Sjammaun Gaharu mendapat pengangkatannya berkat dukungan yang diterimanya dari Nasution akan gagasannya untuk mengakhiri jihad suci menegakkan Negara Islam di Aceh. Sering kali ia bertemu dengan Nasution dalam masa antara 1952 dan 1955, ketika Nasution dibebaskan dari jabatannya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, untuk memberikan keterangan bagi buku-buku yang tengah ditulisnya tentang revolusi Indonesia dan tentang perang gerilya pada umumnya. Intisari teori ini adalah, situasi Aceh berbeda dengan di tempat lain dan rumit sekali, dan persoalan ini paling baik diselesaikan orang Aceh sendiri dengan cara Aceh. Wakil Presiden juga tertarik akan gagasan Sjammaun Gaharu tentang masalah ini dan meminta dia menuliskannya. Pada Oktober 1955 ia me-nyampaikan hasilnya kepada Hatta, dan ketika beberapa hari kemu-dian Nasution diangkat kembali menjadi Kepala Staf Angkatan Darat, ia pun mengirimkan sebuah salinan kepada Nasution. Nasution kemudian menyambutnya dengan menawarkan kepadanya jabatan pimpinan militer Aceh. Pada mulanya Sjammaun Gaharu bermaksud menolak tawaran ini, karena dia merasa, pandangannya tidak sesuai dengan kebijaksanaan panglima Sumatera Utara, Maludin Simbolon. Tetapi dengan janji Nasution bahwa Maludin Simbolon akan dipindahkan dalam waktu dekat, ia menerima kedudukan ini. Kesempatan untuk melaksanakan gagasannya dalam praktek diperolehnya ketika pada akhir 1956 Maludin Simbolonyang merupakan saingan utama Nasution untuk jabatan kepala stafdalam upaya mencegah kepindahannya memutuskan hubungan Komando Tentara Teritorium Sumatera Utara dengan Pimpinan Angkatan Darat.

38

Insider, op. cit. hlm. 205-206. Lihat juga M. Isa Sulaiman, op. cit., hlm. 350.

284

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

85

mengakhiri petumpahan darah. Walaupun pemimpin pemberontak belum lagi membalas suratnya yang pertama, S. M. Amin mengirim surat kedua masing-masing kepada Tgk. M. Daud Beureu`eh, Hasan Ali, Husin Yusuf, Tgk. A. Husin Al Mujahid, T. M. Amin, Tgk. Ali Piyeung, A. Jalil Amin dan Ishak Amin. Isi surat kedua ini dia menegaskan kembali keinginannya agar para pemimpin utama pemberontak bersedia mengemukakan pendirian mereka guna mengakhiri pertumpahan darah yang telah lama berlangsung di Aceh. Pemimpin pemberontak pertama yang membalas surat tersebut adalah Husin Yusuf, Tgk. A. Husin Al Mujahid, T. M. Amin, dan akhirnya Tgk. M. Daud Beureu`eh beserta kepala stafnya Hasan Ali. Dalam balasannya tanggal 20 Juni 1954 Tgk. A. Husin Al Mujadid menulisAdalah mungkin mengakhiri pertikaian yang terjadi antara Pemerintah Republik Indonesia dan rakyat Aceh asal saja kedua pihak ingin memperlihatkan goodwillnya masin-masing. Dia juga mengemukkan ktidakpuasannya terhadap perlakuan yang mereka terima. Hal senada juga terungkap dalam surat balasan T. M. Amin dan Husin Yusuf.36 Setelah mengeluarkan pernyataan korespondensi itu kepada masyarakat barulah Tgk. M. Daud Beureu`eh membalas surat S. M. Amin dengan tembusan kepada Said Abu Bakar di Penan dan M. Nur El Ibrahimy di Jakarta. Dalam surat tersebut mereka mengusulkan enam butir prasyarat perundingan antara lain adalah penegasan posisi berdaulat dua pemerintahan yang saling berseteru sehingga perlu pemecahan yang integral dengan pemberontk di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan, persoalan status hukum tawanan, persoalan janda dan yatim piatu yang telah menjadi korban perang, dan persoalan anti rugi harta benda yang musnah.37Usul yang diajukan Tgk. M. Daud Beureu`eh dan Hasan Ali yang berada di luar kewenangannya maka
36 37

negara RI di suatu tempat yang disebut Madinah Indonesia.8 Dalam surat Teungku Daud Beureu`eh kepada SM Kartosoewirjo bertanggal Aceh Darussalam, 4 Oktober 1956, disebutkan bahwa sebelum meletusnya peristiwa pemberontakan DI Aceh, Kartosoewirjo sudah memberitahukan kepada Teungku Daud Beureu`eh melalui utusannya bahwa dalam keadaan darurat para pemimpin DI Aceh dapat bertindak dengan mengatasnamakan pimpinan pusat di Jawa Barat, terutama dalam bidang hubungan internasional.9 Seperti juga dengan harakah Darul Islam lainnya, asal dari gerakan Aceh ini dapat ditelusuri hingga perjuangan kemerdekaan ketika Aceh merupakan salah satu bagian dari Republik Indonesia yang tidak pernah diduduki pasukan Belanda dan, sesudah tercapainya kemerdekaan, banyak para pelaku pembe-rontakan DI yang sudah menduduki jabatan-jabatan eksekutif di pemerintahan, meskipun pada level daerah. Pengalaman ini memberikan pengalaman cukup penting bagi etos kerja kemudian ketika mem-berontak. Sebelum memberontak pun, sebuah rapat umum yang ber-bentuk konggres pun dibentuk, mengundang banyak pihak membi-cara rencana, plot dan arah perjuangan di samping mencari legitimasi untuk mendapatkan dukungan berbagai pihak. Sentimen lokal pun di-letakkan pada masalah-masalah yang diciptakan oleh kompromi yang harus dilakukan antara tuntutan-tuntutan yang bertentangan dari oto-nomi daerah dan campur tangan Pemerintah Pusat. Di Aceh keadaan-nya menjadi lebih ruwet karena konfrontasi berdarah antara dua ke-lompok sosial yang bertentangan: elite tradisional dan pemimpin-pe-mimpin agama. Kaum ulama, dengan hajatan ini, bukan hanya meper-oleh panggung untuk beraksi,

Madinah Indonesia adalah tempat di mana SM Kartosoewirjo bermarkas, Dipercaiyai oleh sebagian orang bahwa Madinah Indonesia adalah desa Leuwisari, Cigalontang, sebelah selatan Tasikmalaya. Lihat Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan Kaum Repu-blik , hlm. 250.
9 Surat Teungku Daud Beureu`eh kepada SM Kartosoewirjo, bertanggal Aceh Darussalam, 4 Oktober 1956, sebagaimana dikutip dalam Nazaruddin Sjamsuddin, Ibid., hlm. 251.

M. Isa Sulaiman, op. cit., hlm. 346-348. Ibid., hm. 349. Lihat juga A. H. Geulanggang, op. cit. hlm. 153-156.

86

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konferensi Batee Kureng dan Konse psi Prinsipil-Bidjaksana

283

melainkan juga merupakan sebuah per-makluman dan mohon doa restu sebelum bergerak lebih jauh lagi.

B. Teungku M. Daud Beureu`eh: Singa Aceh


Selain PUSA, pribadi Teungku M. Daud Beureu`eh juga perlu kita pahami untuk bisa memberikan gambaran yang jelas bagaimana watak dan karakter pergerakan Darul Islam Aceh dalam mengusir pengaruh Komunisme, Pancasila dan paham kekuasaan Jawa.10 Bagi Teungku Daud Beureu`eh, DI adalah tenaga luar yang dipinjam untuk mengimbangi pengaruh sekuler yang merusak Aceh seperti ideologi komunisme, Pancasila dan model berpikir birokratik a la paham kejawen. DI bukan perlawanan separatis, meskipun jika digerakkan ke politik seccesion juga bisa jika Teungku Daud Beureu`eh berkenan ketika itu. Tentang pribadi Abu Beureu`eh, sedikit cuplikan tulisan Boyd R. Compton di bawah ini mungkin tepat untuk menggambarkan sosok dingin yang satu ini: Selama ini Indonesia dilukiskan sebagai untaian zamrud yang terhampar di sepanjang khatulistiwa. Gambaran indah ini tak memadai untuk mengungkapkan keagungan alam dan keragaman manusia di kepulauan ini, tapi ia sangat bagus untuk menggambarkan masalah pokok politik Indonesia. Sebuah untaian zamrud yang mudah putus. Seandainya untaian rumit yang melingkari persatuan Indonesia itu longgar dan putus, permata pertama yang jatuh tentulah Aceh, benteng Islam di ujung Barat Laut Sumatera.11 Boyd Compton mengisahkan saat-saat akan meletusnya pemberontakan ini dengan sangat baik: Baru-baru ini saya menghabiskan sepuluh hari di Aceh, sebagai tamu Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang kuat, dan kembali ke Medan dengan kesan bahwa keinginan Aceh yang angkuh terhadap kemerdekaan tidaklah
Tentang konsep paham kekuasaan Jawa, lihat Fachry Ali, Paham Kekuasaan Jawa dalm Indonesia Modern, (Jakarta: Gramedia, 1986). Lihat Boyd R. Compton, Surat-Surat Rahasia Boyd R. Compton, (Jakarta: LP3ES, 1995), halaman 145. Lihat terutama kata pengantar yang ditulis oleh Fachry Ali.
11 10

Kedua proyek monumental tersebut direalisasikan pada bulan Agustus 1958 dengan kedatangan Menteri Agama K. H. Ilyas untuk membuka PKA di Kutaraja. Pada tanggal 17 Agustus 1958, di tengah hiruk-pikuk gelar budaya, Menteri Agama meresmikan dimulainya pembangunan Kopelma Darussalam yang terletah sekitar 7 Km sebelah timur Kutaraja. Selanjutnya tanggal 23 Agustus 1958, Menteri PP&K Prof. Dr. Priyono yang menutup PKA juga menyempatkan diri untuk meletakkan batu pertama pembangunan gedung Kopelma Darussalam.34 Meskipun sikap Ali Sostroamidjojo sangat tegas terhadap penyelesaian masalah Aceh dengan kekuatan militer, namun usaha untuk mencari penyelesaian secara damai sudah muncul sejak awal dengan diangkatnya Mr. S. M. Amin sebagai Gubernur Sumatera Utara menggantikan Gubernur Hakim. Pengangkatan S.M. Amin tidak lama setelah meletusnya pemberontakan didasari pada pertimbanan bahwa dia cukup mengelal Aceh dan juga cukup dekat dengan para pemimpin pemberontak, karena selain sebagai pejuang masa revolusi, dia juga pernah menjadi Gubernur Muda, dan Komisaris Pemerintahan di Sumatera Utara, sebelum mengundurkan diri dan menjadi advokat di Jakarta.35 Dengan kekuasaan yang ada padanya dalam Militaire Bijstand yang sedang berlaku di Aceh, S. M. Amin mencoba melakukan korespondensi dengan pemimpin pemberontak. Pada tanggal 5 Desember 1953 ia mengirim surat kepada empat orang pimpinan puncak pemberontakan yaitu Tgk. M. Daud Beureu`eh, Hasan Ali, Tgk. A. Husin Al Mujahid, dan Husin Yusuf, dengan tembusan dikirim kepada Said Abu Bakar yang sudah menyeberang ke Penang sebagai wakil DI di Semenanjung. Isi surat-surat tersebut adalah pesan agar pemmpin pemberontak mau mengemukakan alasan mereka memberontak, keinginan minimum mereka, dan kemungkinan
M. Isa Sulaiman, Sejarah Aceh: Sebuah Gugatan Terhadap Tradisi, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1997), hlm. 387-392.
35 34

T. M. Ali Panglima Polim, loc. cit.

282

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

87

Tentang Pembentukan Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah di Daerah Aceh. Melalui penetapan tersebut Pemerintah mengesahkan 16 Pengadilan Agama di kota-kota besar di Aceh dan sebuah Pengadilan Tinggi Agama di Kutaraja. Selain itu, dalam bidang agama pada tanggal 1 Oktober 1957 Dewan Menteri mengeluarkan Keputusan No. 44 Tentang Pernyataan Mesjid Raya Kutaraja (Mesjid Baiturrahman) sebagai milik Negara, sehingga terbuka landasan yuridis bagi Pemerintah untuk merawat dan membangunnya. Mendukung ketetapan itu tanggal 21 Oktober 1957 Menteri Agama K. H. Ilyas menyediakan bantuan Rp. 500.000,- sebagai tanda permulaan pekerjaan renovasi yang diperkirakan meng-habiskan biaya Rp. 12.000.000,-. Persoalan SRI juga mendapat perhatian Pemerintah dengan dikeluarkan Penetapan Menteri Agama No. 1 Tahun 1959 Tentang Pengasuhan dan Pemeliharaan SRI di Provinsi Aceh. Dengan demikian sejak saat itu 205 buah SRI di Aceh secara yuridis formal berada di bawah Ke-menterian Agama. Selanjutnya Sekolah Menengah Islam (SMI) yang waktu itu mencapai 30 buah dan berstatus swasta juga mendapat Per-hatian Pemerintah. Sejak permulaan tahun 1958 Pemerintah memba-ngun sebuah kompleks PGA yang representatif di Kutaraja. Pembangunan yang menelan biaya Rp. 7.193.350,- itu mencakup pengadaan gedung sekolah, asrama siswa, SRI latihan, rumah guru dan mushalla. Pemerintah daerah juga tidak mau ketinggalan dalam menggiatkan pembangunan di Daerah yang telah dikoyak oleh perang. Pada tanggal 15 Maret 1958 Letkol Syamaun Gaharu selaku Peperda membentuk Yayasan Dana Kesejahteraan Aceh (YDKA) yang diketuai oleh M. Husin, bupati t/b pada Kantor Gubernur dan Mayor R. Sunaryo. YDKA dibentuk dengan misi untuk mempersiapkan Kota Pelajar Mahasiswa Darussalam. Di samping itu sebelumnya, tanggal 15 September 1957 telah dibentuk Lembaga kebudayaan Aceh yang dipmpin oleh T. Hamzah untuk mempersiapkan penyelenggaraan festival kebudayan yaitu Pekan Kebudayaan Aceh (PKA).

sebesar hasrat-nya akan otonomi pemerintahan lebih luas dan pengembangan eko-nomi lebih pesat. Sukar membayangkan apa yang akan terjadi seandai-nya keinginan-keinginan ini tak terpenuhi. Ketidakpuasan dan kekecewaan terlihat jelas di Aceh, dan homogenitas internal daerah ini memungkinkan hasrat akan kemerdekaan segera diterjemahkan menjadi aksi terorganisasi. Namun sekarang ini suasana Aceh lebih diwarnai oleh penantian yang waspada daripada kegelisahan terbuka. Ketenangan Aceh lebih bernada tak menyejukkan ketimbang menenteramkan.12 Artinya, otonomi bukanlah jawaban yang bisa memuaskan hati rakyat yang dipimpin oleh seorang ulama kharistik, seorang penjaga bangsa Aceh yang tegar, setegar singa. Dialah Teungku Daud Beureu`eh, sang singa Aceh. Tanpa dia, maka semuanya tidak akan mungkin terjadi di Aceh ketika itu. Boyd R. Compton selanjutnya menceritakan bagaimana keadaan Indonesia yang sudah semakin miring dan condong dan hampirhampir masuk dalam perangkap merah komunis. Pada akhir Juli, saya meninggalkan Medan dengan berbekal segudang kasak-kusuk, sebagian besar tentang memuncaknya ketegangan di Aceh selama krisis kabinet dewasa ini. Gosip paling menarik adalah bahwa susunan kabinet yang terang didominasi sayap kiri di Jakarta akan menyulut Aceh melakukan pemberontakkan terbuka dengan bendera Darul Islam, gerakan jihad suci menegakkan Negara Islam Muslim di Jawa Barat. Kasak-kusuk lainnya menyatakan, bahwa tokoh terkenal Daud Beureu`eh sudah ditunjuk sebagai komandan Darul Islam untuk Aceh; laporan agaknya diberi bukti dengan ditahannya sekretaris pribadinya di Jakarta, tak lama sebelum saya berangkat.13 Teungku Daud Beureu`eh tetap tegar, tak bergeming, darah di dadanya sudah demikian mendidih melihat kondisi Indonesia yang semakin-hari semakin merah, seakan ia mampu melihat bagaimana Soekarno menarimenari mengejeknya, yang telah menipunya dulu dengan janji men12 13

Compton, ibid., halaman 145-146. Boyd R. Compton, Ibid., hlm. 146.

88

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konferensi Batee Kureng dan Konse psi Prinsipil-Bidjaksana

281

jadikan Aceh negara (bagian) Islam. Pekik Allahu Akbar rakyat Aceh dulu, nama Tuhan untuk kemerdekaan negeri, nama Tuhan untuk mengusir penjajah, dengan mudah hilang di tengah hiruk pikuk para tokoh partai-partai kiri yang semakin mengkek dengan kekuasaan fatamorgananya. Boyd R. Compton selanjutnya mengisahkan betapa bahan bakar Islam untuk meletusnya sebuah revolusi politik yang paling berdarah sekalipun akan sangat mungkin terjadi di Aceh, negeri pahlawan yang miskin dan compang-camping, tak dipedulikan lagi oleh negara Republik Soekarno yang telah terbang dengan segenap kemegahan dan kereta kencananya. Boyd R. Compton mengatakan: Dengan agak ragu akan berbagai kasak-kkusuk yang saya dengar, saya tiba di Kutaradja (sekarang Banda Aceh - pen), ibukota Aceh yang senyap dan compang-camping. Tugas utama saya adalah mengumpulkan bahan tentang Islam di Aceh, tetapi di relung benak saya tersisip harapan melihat Daud Beureu`eh yang kondang itu. Jihad suci menegakkan Negara Islam-jihad suci menegakkan Negara Islam paling serius dalam sejarah singkat Indonesia digencarkan oleh komando orang-orang kuat: Kartosoewirjo di Jawa Barat, Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan. Di Indonesia yang masih ingusan dan rewel, syarat-syarat umum bagi meletusnya jihad suci menegakkan Negara Islam tampak selalu ada. Batas antara kekacauan dan kedamaian acap terletak pada sikap dan keistimewaan seorang pemimpin tunggal yang mempunyai kekuatan mengkomando. Teungku Daud Beureu`eh adalah seorang pemimpin semcam ini. Beberapa hari setelah kedatangan saya di Kutaradja, saya sudah berjalan menuju desanya untuk berwawancara, ditemani oleh Bupati Sigli yang baik hati.14 Seorang peneliti Amerika berjalan tenang menyusuri hari-hari senyap menjelang perang dan Teungku Daud Beureu`eh pun menerimanya dengan tangan terbuka. Bahkan ketika Teungku Daud Beureu`eh membuat seruan selepas proklamasi NII Aceh bahwa orang-orang asing akan dijamin keselamatannya, ia sesungguhnya mengingat pada orang asing semacam Boyd R.
14

untuk berkomunikasi dengan Syamaun Gaharu.31 Usaha mencari solusi penyelesaian damai masalah Aceh terus digiatkan antara kedua belah pihak. Sejalan dengan itu, duet Syamaun Gaharu dan Ali Hasjmy juga secara giat melobi Pemerintah Pusat, terutama PM. Juanda dan KSAD A. H. Nasution, agar Pemerintah mau memberikan kelonggaran atau konsesi kepada pemberontak. Namun PM. Juanda hanya bersedia memberikan otonomi yang luas, apakah hukum, pendidikan, agama, dan sebagainya asal bukan Negara Bagian sebagaimana tuntutan pemberontak, karena menurutnya hal itu bertentangan dengan Konstitusi Republik Indonesia. Pendirian itu ditegaskan kembali oleh Juanda saat bertemu dengan dua tokoh perunding pemberontak yaitu Hasan Ali dan Hasan Saleh, saat dia berkunjung ke Aceh bersama Menteri Agama tanggal 19-25 Oktober 1957.32 Ketegasan Juanda tentang penyelesaian masalah Aceh tidak keluar dari bingkai Negara Kesatuan dapat dilihat dari ucapannya sebagaimana ditulis Hasan Saleh yaitu Kalau Saudara-saudara benar ingin menempuh jalan damai, maka tuntutlah sesuatu yang lebih luas dan lebih tinggi dari otonomi biasa, tetapi bukan negara bagian. Tuntutlah yang lain, yang berada dalam batas perundang-undangan yang ada. Insyaallah saya bantu.33 Pendirian Pemerintah bahwa bagi Aceh yang pentin adalah substansi otonomi bukan status nama terus dijabarkan di lapangan. Pe-ngadilan Agama yang dulu menjadi salah satu sumber keresahan mulai ditangani. Setelah mendapat persetujuan dari Dewan Menteri, Ran-cangan Peraturan Pemerintah Tentang Pengadilan Agama/ Mahkamah Syariah di Aceh ditandatangani oleh Presiden Soekarno tanggal 6 Agustus 1957 dalam bentuk PP No. 29 tahun 1957. Lalu Menteri Agama K. H. Ilyas mengeluarkan penetapan No. 58/1957

31 32 33

Ibid., hlm. 199. M. Isa Sulaiman, op. cit. hlm. 386-387. Hasan Saleh, Mengapa Aceh Bergolak, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1992), hlm.

Boyd R. Compton, op.cit., hlm. 147.

330.

280

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

89

cucu kita di belakang hari akan menuduh kita sebagai pengkhianat dan orang yang tidak bertanggung jawab!.27 Pertemuan yang berlangsung alot akhirnya mencapai kata sepakat bahwa untuk dapat menjunjung tinggi kehormatan agama dan kepentingan rakyat dan daerah Aceh, sebagaimana yang diinginkan kedua pihak, maka perlu dilaksanakan genjatan senjata sebagai landasan bagi perundingan lebih lanjut. Kesepakatan tersebut diberi nama Ikrar Lamteh28, yang ditandatangani oleh Letkol Syamaun Gaharu, Komisaris M. Isya (dan kemudian Gubernur Ali Hasjmy dan Mayor T. Hamzah) dari pihak Pemerintah, dan Hasan Ali, Hasan Saleh, dan Ishak Amin dari pihak pemberontak.29 Atas dasar Ikrar Lamteh ini tercapai pula suatu persetujuan antara pihak pemberontak dengan KDMA untuk menghentikan tembak-menembak atau genjatan senjata yang waktu itu menurut M. Nur El Ibrahimy lebih dikenal dengan istilah caese fire. Genjatan senjata ini berlangsung sampai tahun 1959.30 Dengan adanya genjatan senjata tersebut maka terbukalah jalan bagi sebagian pemberontak untuk pulang ke kampung untuk menjenguk keluarga yang telah bertahun-tahun ditinggalkan dan turun ke kota untuk melihat-lihat keramaian setelah bertahun-tahun hidup dalam hutan yang penuh kesepian. Dengan demikian terbukalah kesempatan bagi Letkol Syamaun Gaharu untuk bersilaturrahmi dengan para pemimpin pemberontak. Begitu juga sebaliknya para pemimpin pemberontak yang sebagian beralasan ingin menghindari Aceh dari kehancuran dan sebagian lagi memang telah letih berjuang dan telah bosan hidup di dalam hutan yang telah mencapai enam tahun lamanya, mempergunakan kesempatan itu

Compton yang meskipun Amerika, atau mungkin Yahudi sekalipun, ia adalah ilmuwan, warga sipil yang tak ada hubungannya dengan perang yang sedang direncanakan. Boyd R. Compton selanjutnya mengatakan: Daud Beureu`eh dikenal luas sebagai guberneur militer Aceh selama tahun-tahun revolusi, tapi sekarang ia hidup tenang-tenang di desanya tampaknya seperti pensiun. Setelah Aceh masuk ke dalam Republik Indonesia kesatuan dua tahun silam, Daud Beureu`eh diberi jabatan gubernur kehormatan dan diminta menetap di Jakarta sebagai penasehat di Kementerian Dalam Negeri. Ia tidak menerima penghormatan ini. Satu-satunya tindakan pentingnya yang diketahui umum dalam dua tahun ini adalah ketika ia mengetuai Musyawarah Ulama Medan, April lalu. Setelah musyawarah itu, Daud Beureu`eh melakukan tur singkat keliling Aceh, memberikan ceramah-ceramah provokatif bernada mendukung ide Negara Islam. Ia kemudian kembali ke desanya, dan membikin takjub penduduk Medan yang sudah maju membangun sebuah tembok besar dan masjid sungguhan dengan tangannya sendiri.15 Tangan-tangan kekarnya yang sudah berumur itu kembali dilatih dengan kerja-kerja fisik, untuk sebuah persiapan, untuk membiasakan dirinya kalau sudah berada dalam barisan jihad suci nantinya. Ia menolak jabatan simbolis sebagai Gubernur di Jawa, terlepas dari tanah kekuasaannya. Teungku Daud Beureu`eh adalah sebenar-benarnya pejuang suci, mujahidin tangguh yang sama juga SM Kartosoewirjo yang berani menolak jabatan sebagai Menteri Muda Pertahanan. Boyd R. Compton, melalui surat-surat rahasiannya itu ia menulis: Selama kami bermobil ke Selatan Sigli, saya tanya Pak Bupati tentang status Daud Beureu`eh sekarang. Ia mengatakan, sang mantan gubernur militer sebenarnya masih aktif. Karena wibawanya yang amat besar di mata warga desa dan ulama Aceh, Daud Beureu`eh selalu diminta untuk menengahi perselisihan-perselisihan dan memberi

27 28

Hasan Saleh, op. cit. hlm. 310.

Menurut Hasan Saleh nama Ikrar Lamteh diambil sebagai nama perundingan tesebut merupakan hasil kesepakatan bersama. Lihat ibid. hlm. 310. Ibid. Lihat juga M. Isa Sulaiman, op. cit. hlm. 82. Lihat juga M. Nur El Ibrahimy, op. cit., hlm. 197.
30 29

M. Nur El Ibrahimy, ibid.

15

Ibid.

90

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konferensi Batee Kureng dan Konse psi Prinsipil-Bidjaksana

279

saran. Kesi-bukan hidupnya terutama dicurahkan untuk mengunjungi desa-desa tetangga dan menerima delegasi dan tamu-tamu di desanya sendiri. Rupanya, kehidupan semacam ini lebih bermakna bagi Daud Beureu`eh daripada menduduki jabatan kehormatan nun jauh di Jakarta. Saya sudah mendengar bahwa di Jakarta Daud Beureu`eh menjadi gundah dan malas, ketika ia tak diperbolehkan berhubungan dengan masyarakat Aceh. Seperti banyak pemimpin rakyat lainnya, ia dibesarkan dan didorong oleh kontak pribadinya dengan para pengikutnya; sebaliknya mereka bergantung pada personalitasnya yang kuat untuk mengungkapkan harapan-harapan terdalam mereka demi perbaikan nasib mereka.16 Mujahid agung yang pernah dimiliki Aceh ini benar-benar menyadari dirinya harus berada di tengah-tengah rakyatnya, bangsa Aceh, bangsa yang telah mengorbankan nyawanya demi kecintaannya kepada Allah, rasul dan kaum muslimin serta tanah suci Serambi Mekkah. Selanjutnya Boyd R. Compton melanjutkan ceritanya: Mobil kami baru saja melewati pasar riuh desa Daud Beureu`eh, ketika kami melihat masjid setengah jadi itu. Kalaulah Daud Beureu`eh adalah kunci untuk memahami Aceh, saya kira bangunan ini yang sangat penting tapi tak utuh merupakan simbol dari watak dan sikap Daud Beureu`eh sekarang ini.17 Boyd benar, bangunan itu adalah refleksi diri Teungku Daud Beureu`eh yang sangat tegar, sangat sederhana, apa adanya, parut-parutnya mewakili kondisi Aceh yang serba miskin dan compang-camping setelah ditinggal dan dilupakan oleh Republik. Lihatlah bagaimana selanjutnya Boyd R. Compton menggambarkan sosok pejuang jihad suci ini memuloiakan tamunya, yang paling asing sekalipun: Jauh di sisi masjid, mobil tiba-tiba berbelok ke rumah nyiur. Pemandangan sawah dan pegunungan biru yang jauh hilang, dan kami terguncang-guncang di sepanjang jalan menuju sebuah rumah tembok putih yang asri. Daud Beureu`eh keluar untuk menemui
16 17

menemui rekan sekolah dan sedaerahnya yang telah penjadi pimpinan pemberontak di Aceh Besar yaitu A. Jalil Amin, M. Ali Piyeung dan Ishak Amin. Kontak dalam bentuk surat juga dikirim Ali Hasjmy kepada Hasan Muhammad Tiro dari Singapura saat dia singgah di kota tersebut untuk bertemu beberapa tokoh Aceh di sana.25 Seiring dengan itu, kontak antara Syamaun Gaharu dengan para tokoh pemberontak semakin intensif. Buktinya, hingga tanggal 5 maret 1957 paling tidak sudah 5 pucuk surat-menyurat berlangsung antara dia dengan Ishak Amin, Pawang Leman, dan Hasan Saleh. Keinginan Syamaun Gaharu untuk bertemu Hasan Saleh secara pribadi mendapat respon yang sama dari Hasan Saleh. Dalam suratnya tanggal 4 April 1957 Hasan Saleh menatakan bahwa pertemuan mereka berdua sangat penting demi masa depan Aceh. Dia juga memuji sikap dewasa Syamaun Gaharu yang bersedia melupakan peristiwa masa lalunya. Persoalan tempat dan waktu pertemuan dia serahkan kepada Ishak Amin dan Pawang Leman untuk mengaturnya.26 Setelah mendapat pesetujuan dan petunjuk dari masing-masing atasan mulailah mereka melangkah ke negosiasi formal mulai tanggal 8 April 1957 bertempat di rumah Pawang Leman di desa Lamteh, sekitar 6 Km barat laut Kutaraja. Dalam pertemuan itu Letkol Syamaun Gaharu ditemani oleh stafnya Kapten Abdullah Sani, Letnan Usman Nyak Gade, dan Kepala Kepolisian Sumatera Utara dan Aceh Komisaris Polisi M. Isya. Sementara itu pihak pemberontak dipimpin oleh PM. Hasan Ali dan didamping oleh stafnya Hasan Saleh, Ishak Amin, Nyak Umar, dan Pawang Leman. Pertemuan tersebut berlangsung sangat alot dan hampir mengalami jalan buntu. Pada saat pertemuan hampir mengalami dead lock tersebut menurut Hasan Saleh mereka disadarkan oleh ucapan yang cukup keras dan penuh haru dari Pawang Leman yang isinya Kalau Bapak-bapak tidak sanggup menyelesaikan masalah ini, mari kita bakar saja Aceh ini supaya kita puas dan agar

Ibid., halaman 147-148. Ibid., hlm. 148.

25 26

Ibid., hlm. 378. Ibid., hlm. 179. Lihat juga Hasan Saleh, op.cit. hlm. 308-309.

278

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

91

pihak bangsawan dibicarakan persoalan ganti rugi harta mereka yang diambil oleh Majelis Penimbang dan direhabilitasi bagi mereka yang diberhentikan semena-mena dahulu. Bersamaan dengan itu Pemerintah bersama masyarakat melakukan penerangan dan pembangunan. Seterusnya diakhiri dengan upacara memproklamirkan perdamaian dan persaudaraan abadi di Aceh.23 Berbarengan dengan otonomi militer, birokrasi sipil juga mendapat otonomi dengan direalisasinya UU No. 24 Tahun 1956 Tentang Pembentukan Provinsi Aceh. Untuk pertama sekali jabatan Gubernur Provinsi Aceh dipilih Ali Hasjmy, yang dilantik oleh Menteri Dalam Negeri Sunaryo tangal 27 Januari 1957. Setelah pelantikan itu mulailah duet Syamaun Gaharu dan Ali Hasjmy melaksanakan tugas utama mereka yang dibebankan oleh Pemerintah Pusat yaitu pemulihan keamanan di Aceh. Konsepsi prinsipil bijaksana ini sendiri sebenarnya gagal. Bahkan Misi Hardi pun dapat dianggap gagal karena, kejatuhan Darul Islam sendiri bukanlah karena kedua konsep ini, melainkan karena spirit perang kaum mujahidin yang sudah jatuh dan yang tertinggal kemudian adalah Teungku Muhammad Daud Beureu`eh sendirian di hutan dan gunung sebelum kemudian tertangkap.24 Sehubungan dengan itu, tidak lama setelah pengangkatannya sebagai Gubernur Aceh, Ali Hasjmy mulai melakukan kontak dengan para pemimpin pemberontak terutama yang mempunyai hubungan akrab dengannya waktu sekolah, berjuang atau yan mempunyai ikatang kekerabatan. Langkahnya itu semakin mulus setelah ia menerima surat yag berisi ucapan selamat dari T. A. Hasan, A. Gani Mutiara, dan iparnya Ishak Amin. Pada tanggal 30 Januari 1957 Ali Hasjmy berangkat ke Lubuk, sekiar 12 Km dari Kutaraja, untuk
Naskah asli Konsepsi Prinsipil dan Bijaksana yang diberi judul Penyelesaian Peristiwa Pemberontakan di Aceh ditandatangani oleh Letnan Kolonel Syamaun Gaharu. Lihat Ibid., hlm. 373-374.
24 Penting untuk dipahami di sini adalah, bahwa Teungku Daud Beureu`eh bukanlah turun gunung atau menyerah, melainkan karena sudah tertawan dan tertangkap, baru kemudian dia dijemput oleh Nyak Adam Kamil. 23

kami, tersenyum dan tampil rapi dengan celana panjang ketat, kemeja putih, dan peci beludru hitam. Kami segera duduk mengelilingi meja teh, simbol lazim bagi keramahan Indonesia. Sembari kami saling memperkenalkan diri, saya memandangi dua permadani dinding bergambar dari Arab, beberapa gambar kecil masjid, dan ruangan yang sangat bersih. Ruangan ini memperlihatkan kesederhanaan, kesejahteraan, dan disiplin.18 Luar-biasa lengkapnya penggambaran Boyd R. Compton tentang rumah dan keadaan diri Teungku yang sangat bersahaja dan keras hati membela Islam ini. Jelaslah sekarang bagi rakyat dan bangsa Aceh bahwa pada diri orang-orang suci yang berjalan bersama dengan Tuhan inilah harapan akan terbentuknya Negara Islam bagi rakyat yang telah mendamba demikian lama di tanah rencong. Tokoh yang menjadi idola banyak orang-orang Aceh dan para pejuang Islam di mana pun di Indonesia ketika itu adalah seorang dengan sosok yang sederhana, hidup tenang dan santai di gampong-nya yang guyub. Ia tenang setenang air laut Pasifik, karena semuanya sudah ditakdirkan Tuhan, maka baginya hanya ada satu: bagaimana menanti kematian dengan cara yang paling disukai Tuhan, cara martir, menjadi syahid. Boyd Compt menggambarkan tokoh ini dengan kata-kata lugas dan datar: Daud Beureu`eh lebih tampak sebagai pensiunan perwira militer ketimbang sebagai ahli agama, hang ditandai oleh gelar teungku-nya. Tubuhnya yang kurus dan kuat, tegak tapi santai di kursi-nya. Dari bawah pecinya, rambut kelabunya yang dipangkas pendek kontras dengan wajahnya yang muda dan coklat kemerahan. Bicaranya lugas, tapi tatapan matanya tampak kurang yakin, seperti orang awam yang menghadapi problem membingungkan. Tiba-tiba ia mengungkapkan pikirannya dengan kegairahan yang nyaris kekanakkanakan. Saya rasa rekan-rekanya agak kikuk mendengar pernyataannya yang blak-blakan ini: Anda harus tahu bahwa kami di Aceh ini punya sebuah impian. Kami mendambakan masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda, ketika Aceh menjadi Negara Islam. Di zaman itu,
18

Boyd R. Compton, Ibid., hlm;. 148.

92

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konferensi Batee Kureng dan Konse psi Prinsipil-Bidjaksana

277

pemerintahan memiliki dua cabang, sipil dan militer. Keduanya didirikan dan dijalan-kan menurut ajaran agama Islam. Pemerintahan semacam itu mampu memenuhi semua kebutuhan zaman modern. Sekarang ini kami ingin kembali ke sistem pemerintahan semacam itu.19 Benar-benar kata-kata yang tajam yang dimiliki oleh mulutmulut pejuang suci yang akan mempertaruhkan setiap ucapannya dengan darah yang mengalir dalam tubuhnya dan dengan segala kemampuan pikiran yang ada serta para pengikutnya yang setia. Memang benar seperti apa yang disebut oleh Compton bahwa seperti orang awam yang menghadapi problem membingungkan, karena Teungku Daud Beureu`eh telah dibuat bingung oleh Soekarno yang semakin bersikap aneh dan me-lupakan janji-janjinya kepada rakyat Aceh. Teungku Daud Beureu`eh yang semakin bingung dengan perkembangan Indonesia hanya tahu hanya tahu Iskandar Muda, hanya tahu bahwa Aceh harus diseret kembali ke masa kejayaannya di masa lalu, dengan cara apa pun, revolusi, perang atau apa sajalah, yang penting adalah jihad! Teungku Daud Beureu`eh hanyalah seorang jundullah seorang tentara Allah yang hanya punya agenda simpel saja dalam hidupnya, berperang dan mengubah tanah tempat ia berkuasa menjadi tanah suci. Teungku Daud Beureu`eh memang adalah seorang pejuang Islam yang sangat mengerti tentang tata air dan tata pemerintahan. Boyd R. Compton kemudian mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat sederhana: Apakah pemerintahan seperti itu mampu mengatasi masalah-masalah Aceh sekarang ini. Maka, Teungku Daud Beureu`eh pun menjawabnya dengan sangat blak-blakan, bukan seperti gayagaya pemimpin-pemimpin yang sudah terlalu banyak mengkonsumsi pendidikan dan teori-teori Barat. Teungku Beureu`eh hanya menjawab datar dengan sorot mata yang pasti dan berbinar: Ya. Ambillah pengairan sebagai contoh. Pada zaman Iskandar Muda, dibuat saluran dari sungai yang jauhnya sebelas kilometer dari sini menuju laut. Daerah Pidie menjadi sangan makmur. Dibuat pula saluran lain tak
19

Pemerintah Republik Indonesia. Proses penyelesaian politik yang ditempuh Syamaun Gaharu memperoleh pijakan yang kuat oleh dua peristiwa penting yang terjadi berturut-turut yaitu pengesahan UU No. 24 Tentang Pembentukan Provinsi Aceh tanggal 29 Nopember 1956 yang berlaku efektif 1 Januari 1957, dan pembangkangan yang dilakukan oleh Kolonel M. Simbolon terhadap Kabinet Ali II tanggal 22 Desember 1956. Kejadian tersebut dimanfaatkan oleh Syamaun Gaharu untuk melepaskan Resimen I dari Terirorium I dan tunduk langsung di bawah KSAD dengan nama baru Komando Daerah Militer Aceh (KDMA), sehingga kekuasaannya semakin besar. Tindakan tersebut mendapat dukungan dari KSAD Mayjen A. H. Nasution dan sebaliknya Kol. M. Simbolon diberhentikan dan digantikan oleh Jamin Ginting.21 Pembentukan KDMA tersebut memiliki makna yang sangat penting bagi pemulihan keamanan di Aceh. Sebagai komandan KDMA yang juga Penguasa Perang Daerah Peperda), Letkol Syamaun Gaharu22 semakin leluasa menempuh langkah-langkah yang diperlukan untuk memulihkan keamanan di Aceh. Berdasarkan konsultasi de-ngan Pemerintah Pusat yaitu WKPM Idham Khalid dan KSAD A. H. Nasution maupun dengan masyarakat di Aceh, Syamaun Gaharu meru-muskan formula penyelesaian pemberontakan di Aceh yang dinama-kan Konsepsi Prinsipil dan Bijaksana pada pertengahan Januari 1957. Konsepsi Prinsipil dan Bijaksana merupakan suatu proses penyelesaian keamanan yang diawali oleh proklamasi pemberhentian permusuhan, lalu diikuti perundingan antara Pemerintah dengan pihak Tgk. M. Daud Beureu`eh dan dengan pihak kaum bangsawan. Dengan Tgk. Daud Beureu`eh Cs. Dibicarakan persoalan tuntutan hukum terhadap mereka dan rehabilitasi pada status sebelumnya, dan dengan
21 M. Isa Sulaiman, Sejarah Aceh, Sebuah Gugatan Terhadap Tradisi, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1997), hlm. 355-358. 22 Setelah menjadi komandan KDMA, pangkat Syamaun Gaharu dinaikkan satu tingkat dari Mayor menjadi Letnan Kolonel.

Boyd R. Compton, Ibid., hlm 149.

276

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

93

masalah militer (pemberontakan bersenjata) Darul Islam ini. Mayor Syamaun Gaharu yang sebelumnya bertugas di Banjarmasin, sejak 9 April 1956 dipindahkan ke Aceh untuk menjabat Komandan Resimen I, kemudian dipanggil oleh AH Nasution di Jakarta untuk membicarakan kasus Peristiwa Daud Beureu`eh. Demikian pula beberapa perwira lain seperti Kapten Nyak Adam Kamil yang telah lebih dulu diangkat sebagai Komandan Sektor FF di Lhokseumawe dan Lettu Usman Nyak Gade di Kutaraja. Dengan seizin WKPM II K. H. Idham Khalid yang bertanggung jawab masalah keamanan, Syamaun Gaharu mulai mengadakan kontak dengan para pimpinan pemberontak.Bersama dengan Lettu Abdullah Masri, Perwira Distrik Militer Pidie, Syamaun Gaharu berhasil mendekati Tgk. Syekh Daud Tangse, yang mempunyai pengaruh besar di Tangse karena tiga orang pimpinan pembeontak di Tangse yaitu Banta Khairullah, Sulaiman Adami dan Hamada adalah putra dan menantunya sendiri. Hasil dari pendekatan tersebut 43 orang anggota pemberontak di Tangse kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi dan Tgk. Syekh Daud Tangse sendiri nantinya dieksekusi oleh pemberontak. Selanjutnya bersama dengan Lettu Usman Nyak Gade, Syamaun Gaharu mengadakan kontak dengan dua pemimpin pemberontak di Aceh Besar yaitu Isak Amin dan Pawang Leman (Ayah Keude). Melalui merekalah Syamaun Gaharu dapat berkorespondensi dengan teman sekompi Gyugunnya dulu, Pimpinan TII Hasan Saleh pada akhir Desember 1956. Hasan Saleh yang mula-mula mengirim surat kepada Syamaun Gaharu. Surat itu sangat bersifat pribadi antara dua kawan lama yang saling berhadap-hadapan di medan perang. Langkah Syamaun Gaharu diikuti juga oleh Komisaris M. Isa, yang telah menjadi Kepala Polisi Sumatera Utara di Medan. Dengan memanfaatkan jasa T. M. Ali, kepala kepolisian wilayah Bireun dia berusaha melakukan kontak dengan Husin Yusuf yang waktu itu Menteri pertahanan NBA-NII. Dalam balasannya tanggal 14 Oktober 1956, sesuai dengan pasal 4 program Kabinet Hasan Ali, secara tegas dia mengatakan bahwa perundingan dapat diterima sepenuhnya dan waktu diserahkan epada

jauh dari yang pertama, keduanya dikerjakan oleh ulama. Beda dengan ulama zaman sekarang, pemimpin-pemimpin di masa itu tak takut sarung mereka kena lumpur. Sekarang saluran-saluran itu sudah rusak, dan hasil panen padi merosot. Sebelum terjadi perang, Aceh biasa mengekspor beras untuk kebutuhan seluruh daerah Sumatera Timur. Sekarang kita mengimpor beras dari Burma. Dalam impiannya, ia melihat sebuah Aceh yang sejahtera di bawah pimpinan kelompok ulama yang ditampilkan kembali. Di masa keemasan itu, hanya orangorang yang benar-benar berpengetahuan yang dapat menjadi ulama. Sedangkan di zaman modern ini, hampir setiap orang bisa mengaku berhak untuk disebut ulama.20 Teungku Daud Beureu`eh sesungguhnya adalah seorang yang sangat jenius dengan segudang rencana tata-ruang Aceh yang ada di dalam kepalanya. Siapa saja yang peduli dengan air, dengan beras dengan lingkungan, maka ia adalah orang-orang lurus yang mengerti harus dibawa ke mana rakyat ini. Boyd R. Compton, selanjutnya dengan spontan membuat bandingan antara Soekarno dan teungku Daud Beureu`eh. Compton menulis: Daud Beureu`eh bicara dengan gelora dan kesungguhan tentang perlunya pembaruan. Saya bisa memahami mengapa Pak Bupati membandingkannya dengan Soekarno yang cemerlang sebagai orator massa. Seandainya keduanya berpidato di sebuah acara yang sama, konon Soekarno akan menjadi juara kedua jika pendengarnya orang Aceh, terutama kalau sang Singa Aceh sudah mulai gusar dan marah. Hanya Compton sajalah yang mengerti akan kemarahan dan gelora pemikiran dan kemarahan Teungku Daud Beureu`eh yang luar biasa ini, meskipun tadinya ia hanya menyambut Boyd R. Compton dengan senyum dan kehangatan tuan rumah khas gampong-gampong di Aceh. Teungku Daud Beureu`eh adalah singa Aceh yang sudah mulai gusar dan marah, maka tidak ada seorang pun yang bisa menghalanginya untuk menjalankan niat sucinya, berperang demi agama Allah, demi tegaknya syariat Islam, demi tegaknya negara Islam bagi bangsa yang telah mengorbankan nyawanya dan syahid dalam
20

Boyd R. Compton, Ibid., hlm. 150.

94

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konferensi Batee Kureng dan Konse psi Prinsipil-Bidjaksana

275

peperangan melawan kafir-kafir jahanam dari dunia Barat. Boyd R. Compton pun mengakui kesalahannya dalam menilai sosok tegar yang sedang diusik, diganggu oleh cecunguk-cecunguk revolusi nun jauh di Jawa sana. Teungku Daud Beureu`eh ibarat singa Aceh yang sedang tertidur, kini dia diusik dengan hal-hal yang membingungkannya. Boyd Compton mengisahkan bahwa: Sementara ia terus bicara tentang pemerintahan Islam di Aceh, saya merasa bahwa aneka kasak-kusuk yang saya bawa dari Medan telah sangat menyesatkan saya. Jelas bahwa ia bicara tentang sebuah Negara Islam untuk seluruh Indonesia, dan bukan cuma untuk Aceh yang merdeka. Ia berusaha meyakinkan saya bahwa kemerdekaan beragama akan dijamin di negara semacam itu, dengan menekankan contoh mengenai toleransi besar bagi penganut Kristen dalam negaranegara Islam di Timur Dekat. Kaum Kristen akan diberi kebebasan dan dilindungi dalam negara Islam Indonesia, sedangkan umat Islam tidak dapat merasakan kemerdekaan sejati kalau mereka tidak hidup dalam sebuah negara yang diadasarkan atas ajaran-ajaran Al-Qur-an. Ketika saya tanya apakah sikap ini tak mengandung semacam kontradiksi, ia menandaskan bahwa, sebagai sebuah negara demokrasi, Indonesia harus tunduk pada kehendak-kehendak mayoritas muslim. Ia yakin partai-partai Islam akan menang besar dalam sebuah pemilihan umum.21 Teungku Daud Beuereu`eh adalah tokoh yang cukup fair, demokratis dan bertenggang rasa, namun ia akan mengambil jalannya sendiri jika kehendak rakyat tak terlaksanakan dengan paripurna. Ia telah memberikan waktu yang cukup, bagi partai-partai untuk mengupayakan kemenangan, maka jika gagal, giliran dia yang akan membuka cahaya agama Allah dengan cara perang. Kalau Teungku Daud Beureu`eh sudah menunjukkan cahaya-Nya, maka tidak ada seorang pun yang akan mampu menutup-nutupi cahaya Allah, kecuali para pengkhianat yang turun gunung dan menyerahkan dirinya ke pangkuan Ibu Pertiwi, bukan ke pangkuan haribaan Allah.

prajurit resimennya yang pulang ke rumah, asal saja ini tidak merugikan perjuangan. Dia sendiri pun diminta melapor kepada para penguasa, katanya, tetapi ia jngin menantikan hasil pemilihan umum. Dia memikirkan akan melapor demikian karena kabinet yang memerintah sekarang, Kabinet Burhanuddin Harahap, ideologinya berdekatan dengan cita-cita perjuangan di Aceh.19 Pada umumnya sikap kaum pemberonak Darul Islam di Aceh terhadap pemilihan umum lunak. Mula-mula, ketika pemberontakan meletus, sikap mereka terhadap ini mendua. Di satu pihak mereka menuduh Pemerintah Republik berusaha membiarkan mereka menunggu tanpa batas waktu, sedangkan di pihak lain pemilihan umum mereka cap sebagai alat Pemerintah Pusat untuk melakukan kehendaknya. Kini ketika pemilihan umum telah di ambang pintu, mereka tidak melakukan apa pun untuk merintanginya.20 Hasil pemilihan umum yang memuaskan di Aceh, yaitu Masyumi memperoleh dua pertiga jumlah suara, memberi mereka yang menyetujui diakhirinya pemberontakan alasan lain untuk menyokong sikap mereka. Kasus mereka lebih diperkukuh ketika, kali ini di bawah Kabinet Ali Satroamidjojo lagi; pada akhir 1956 suatu rancangan undang-undang disahkan, yang memberikan status provinsi otonom kepada Aceh. Undang-undang ini berlaku sejak Januari 1957. A. Hasjmy pemimpin Pemuda PUSA Aceh Besar sebelum Perang dan bekas Ketua BPI/Pesindo, menjadi gubernur pertama provinsi ini.

B. Konsepsi Prinsipil-Bidjaksana
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa Peristiwa Pulot Cot Jeumpa telah mempengaruhi Pemerintah dalam menggunakan personil militer, maka kesempatan ini digunakan oleh Komanda KDMA, Sjamaun Gaharu untuk mengusulkan jalan politik bagi penyelesaian
19 20

Pengumuman Pemerintah 20 November 1955.

21

Ibid.

Herbert Feith, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, (New York: Cornell University Press, 1963), hlm. 42.

274

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

95

Walaupun pasti terdapat persaingan dan pertentangan di kalangan pemimpin-pemimpin Negara Islam di Aceh, berbeda dengan daerah-daerah lain, tampaknya di sini ini tidak sampai mengakibatkan sering terjadi bentrokan antara komandan pasukan.17 Dengan penggeseran beberapa pemimpin angkatan pertama dari pusat kekuasaan pada tahun-tahun pertama, konferensi Batee Kureng mengadakan perubahan tertentu. Pemusatan kekuasaan dan lenyapnya pemimpinpemimpin tertentu terjadi pada 1954, ketika Dewan Syura, Majelis Syura, dan Dewan Militer dibubarkan. Ketika itu Husin Jusuf kehilangan jabatannya sebagai Kepala Staf Divisi Tengku Chik Ditiro beralih kepada Amir Husin al Mujahid. Walau pun ia diangkat sebagai koordinator keamanan untuk Aceh, kenaikan ini berarti kehilangan kekuasaan atas sebagian besar pasukan tempur. Hal yang sama terjadi kemudian pada penggantinya, Amir Husin al Mudjahid, yang digantikan oleh Hasan Aly. Di samping itu terdapat perlawanan terhadap reaksi Daud Beureu`eh mengenai tawaran dari pihak Republik Indonesia. Sementara orang tidak menyetujui penolakannya yang terangterangan akan kemungkinan tawaran amnesti, dan khususnya dalam Tentara Islam yang sebenarnya, ada sekelompok besar yang kuat menyetujui menerima tawaran yang demikian.18 Mengingat hal yang di atas dan banyaknya jumlah prajurit yang sudah kembali ke desa mereka, salah seorang komandan daerah, Iljas Leubee dari Aceh Tengah, mengeluarkan komunike pada November 1955 yang mengumumkan, tidak akan diambil tindakan terhadap para

Selanjutnya, Boyd R. Compton menulis: Daud Beureu`eh melihat ada tiga kelompok di Indonesia dewasa ini: kaum Komunis yang menginginkan negara Marxis ateistik, umat Islam yang menghendaki Negara Islam, dan golongan nasionalis tertentu yang mau menghidupkan kembali Hinduisme Jawa. Ia cemas bahwa golongan Hindu dan Marxis sedang mengakar, tapi mereka sendiri khawatir kalau pemilihan umum diadakan,sebab mereka pasti kalah. Karena alasan ini, menurut Daud Beureu`eh, mereka akan berusaha habis-habisan untuk menunda-nunda pelaksanaan pemilu.22 Demokrasi bagi Teungku Daud Beureu`eh adalah sebuah cara syura rakyat yang sangat sederhana, meskipun berbiaya tinggi dengan pemilunya, akan tetapi akan mampu memperlihatkan suara rakyat yang sebenarnya. Teungku Daud Beureu`eh adalah demokrat sejati, panjaga gawang bagi kehidupan governance yang baik dan sehat agar kemakmuran dan kesejahteraan rakyat terjamin. Sikap demokratiknya ini ia terjemahkan ke dalam aksi kongres untuk mengumpulkan seluruh kaum ulama dan menanyakan apa keinginannya dan bagaimana mencapai keinginannya itu. Boyd Compton menulis: Musyawarah Ulama Medan, kata Daud Beureu`eh, adalah bukti bahwa Islam lebih kompak dibanding sebelum perang. Ia me-nandaskan ketegangan antara kelompok muda dan kaum kolot sudah berakhir pada tahun tiga puluhan. Salah satu pertanda adanya persatuan baru ini adalah tak ditonjolkannya perbedaan-perbedaan di antara mazhab-mazhab hukum Islam. (Mazhab Syafii dominasi di Indonesia). Ia lalu membikin kami geli dengan cerita-cerita tentang guru-guru agama masa silam yang bodoh dan percaya tahayul, yang menyatakan bahwa potongan rambut dan pakaian orang Barat itu haram menurut hukum Islam. Guru-guru agama yang paling konservatif masih yakin bahwa semua kebiasaan orang Barat itu terkutuk, tetapi mereka tak berani mengatakannya di luar desa mereka. Menurutnya, konservativisme cerewet yang lazim di Aceh sampai kemarin-kemarin ini, didasarkan atas kejumudan terhadap hukum
22

Namun, terdapat beberapa laporan tentang tindakan disiplin yang diambil terhadap komandan-komandan Darul Islam setempat. Di Aceh Utara umpamanya, salah seorang pembantu Hasan Saleh, Usman Balo, lari ke Pidie ketika mengetahui, ia akan dihukum karena kekejamannya (Sekitar t.t.lll:18). Kendatipun laporan-laporan tentang konflik dan perjuangan untuk kekuasaan antara pucuk pimpinannama Daud Beureu`eh, Hasan Saleh, dan Husin Jusuf paling sering munculpada umumnya terdapat persatuan dan kekompakan yang kuat di daerah itu. 18 Abdul Murat Mat Jan, Pemberontakan darul Islam di Aceh, 1953-1959, dalam Akademia, (1976), hlm. 39-40.

17

Ibid., hlm. 149.

96

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konferensi Batee Kureng dan Konse psi Prinsipil-Bidjaksana

273

Islam; kemajuan di tahun-tahun ini menjadikannya tampak dungu.23 Benar-benar Compton yang mampu menuliskan bagaimana luasnya pikiran modernis Islam Teungku Daud Beureu`eh dalam melihat persoalan-persoalan perkembangan masyarakat. Sayang, Aceh telah kehilangan pemimpin yang berani mengatakan sesuatu secara jujur dan berani. Ia, Teungku Beureu`eh yang santun dan sahaja, bukanlah ulama yang kolot, bukan ulama konservatif dan memandang segala sesuatu yang dari Barat sebagai haram. Kesaksian Compton ini menunjukkan betapa tingginya ilmu agamanya dan kesadaran politiknya dan bagaimana ia mengejawantahkan ajaran-ajaran universal Islam ke dalam tindakan, sikap, tingkah laku dan etos kerjanya yang supra-agama. Kesaksian Compton inilah, yang tak pernah seorang pun menuliskannya tentang tokoh dingin dan tenang ini, memperlihatkan betapa Islam di Aceh adalah Islam yang berbeda dengan Islam di tempat lainnya di mana pun di dunia ini. Islam yang dianut Teungku Daud Beureu`eh ini adalah Islam yang sejuk, moderat, tenang tak suka mengusik orang lain dan tak akan lari jika ada yang mengusiknya. Selanjutnya Compton menulis, Ada purbasangka luas di Jawa dan banyak bagian Sumatera bahwa Islam di Aceh sangat kental diwarnai oleh tahayul dan kejumudan. Saya rasa anggapan ini keliru besar, sebab ia mengabaikan perubahan-perubahan besar selama tiga dasawarsa terakhir, yang ditimbulkan oleh Persatuan Ulama Seluruh Aceh, biasa disingkat PUSA. Benih fanatisme di Aceh barangkali sebagian besar memang karena pembaruan ala fundamentalis yang dilancarkan oleh tokoh-tokoh PUSA seperti Daud Beureu`eh, akan tetapi penting disadari bahwa itu tidak sama dengan jenis fanatisme yang membulatkan tekad Aceh untuk membendung penjajahan Belanda pada akhir abad lalu.24 Bagi Teungku Daud Beureu`eh, Islam bukanlah agama yang membuat pemeluknya menjadi fanatik, melainkan harus inklusif, bukan menjadi fundamentalis, bukan menjadi teroris. Ia juga
23 24

antara lain disebutkan bahwa Negara RPI adalah suatu bentuk federasi yang menjiwai ketatanegaraan Islam yang mempunyai landasan pijakan berdasarkan Keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk atau golongan untuk memeluk agamanya atau kepercayaannya masing-masing dan untuk beribadah serta hidup bermasyarakat sesuai dengan syariat agamanya atau kepercayaannya.15 Adapun mengenai kebebasan berpendapat, diberikan haknya secara penuh. Namun bila mengeluarkan pendapat itu mengandung unsur cacian kepada salah satu agama, atau ajakan untuk mendirikan diktator atau untuk menganut dan melaksanakan paham-paham komunis atau jelasnya paham yang membayakan negara, maka hal itu dilarang.16 Harapan besar dari terbentuknya negara federasi RPI ini upaya memperlihatkan hanya ada satu organisasi negara saja di Indonesia yang menentang dan memberi perlawanan bersenjata terhadap organisasi pemerintahan Soekarno. Di sisi lain supaya menarik perhatian dunia Internasional terhadap kesanggupan rakyat Indonesia dalam memegang kekuasaan politik di Indonesia terutama dalam menumpas regime Soekarno, serta sebagai landasan untuk memperoleh sokongan bantuan moril dan materil dari pihak luar negeri, baik di forum PBB maupun dari pihak negara-negara Blok anti Komunis yang ketika itu dalam pemerintahan Soekarno sudah mulai condong ke arah Komunisme. Konferensi Batee Kureng merupakan salah satu tanda yang paling tidak mungkin diragukan lagi akan adanya perselisihan pendapat di kalangan pemberontak-pemberontak Darul Islam di Aceh. Ini membuktikan ketidakpuasan akan cara semua keputusan dibuat Daud Beureu`eh dengan sekelompok kecil penasihat, dan tunduknya urusan sipil kepada militer.
15 16

Boyd R. Compton, ibid., hlm. 150. Ibid.

Ibid. Ibid.

272

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

97

Secara umum, banyak kalangan melihat bahwa sejak berdirinya, PRRI telah mengadakan kerjasama yang erat dengan NBA/NII terutama dalam bidang militer. Pasukan NBA/NII telah mengadakan operasi bersama dengan pasukan PRRI yang tergabung dalam apa yang dinamakan Operasi Sabang Merauke di daerah-daerah perbatasan Aceh-Sumatra Timur. Padahal sesungguhnya pihak NII Aceh yang berada di bawah komando Teungku Muhammad Daud Beureu`eh tidak menyukai perangai dan moralitas tentara flamboyan PRRI. Pada akhir tahun 1959, sesuai dengan kesepakatan yang tercapai dalam pertemuan di Genewa pada bulan Desember tahun 1958 antara pemimpin-pemimpin PRRI/ Permesta, dan dalam pertemuan itu turut hadir juga Hasan Ali, Perdana Menteri NBA/NII dan Hasan Muhammad Tiro maka diputuskanlah untuk mendirikan suatu negara yang berbentuk federal yang dinamakan Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII) atau sering juga disebut dengan hanya Republik Persatuan Indonesia saja (RPI) guna mendapatkan dukungan yang lebih banyak dari daerah-daerah dan untuk lebih mengefektifkan perjuangan menghancurkan regime Soekarno yang diktatorial.12 RPI terdiri dari sepuluh negara, semuanya kecuali dua negara yang berada di Sumatera dan Sulawesi. Aceh, sebagai Republik Islam Aceh (RIA), adalah salah satu dari enam negara Sumatera, dan Sulawesi Selatan satu dari dua negara di pulau itu.13 Selain dari delapan negara ini, barangkali sebagai tindakan mengambil hati terhadap RMS, terdapat Negara Maluku dan Negara Maluku Selatan. Secara menyolok tidak terdapat negara-negara di Jawa, seperti Negara Jawa Barat, bumi kelahiran gerakan Darul Islam, dan di Kalimantan Selatan, tempat Ibnu 14 Hadjar beroperasi. Dalam Undang-Undang Dasar Republik Persatuan Indonesia
C. van Dijk, Darul Islam, Sebuah Pemberontakan, (terj.), (Jakarta: Grafiti Pers, 1993), hlm. 266.
13 14 12

seorang organisatoris ulung, memimpin organisasi ulama yang kuat dan disegani, PUSA, yang mampu membalikkan tanah Aceh ini menjadi tempat bagi tumpahnya darah-darah suci, yang telah mengantar ratusan ribuan para pejuang Aceh menemui syahidnya yang damai. PUSA, meskipun adalah organisasi sederhana, ia telah menjadi sebuah sarana pencapaian tertinggi bagi siapa-saja yang menyebut dirinya Muslim. Compton menilai Teungku Daud Beureu`eh dari berbagai latarbelakang sosial, ekonomi, politik, dari sudut-sudut yang paling memungkinkan orang untuk melihat titik kelemahan manusiawi dari seorang tokoh. Namun, Compton justru melihat kekuatan dalam setiap sudut pandangannya: Dari segi organisasi, PUSA merupakan federasi longgar yang meliputi sebagian besar guru dan tokoh agama pedesaan Aceh. Sumber kekuatannya adalah wibawa para anggotanya di desa-desa mereka dan, sampai batas tertentu, kekayaan anggotaanggota seperti Daud Beureu`eh, yang memiliki sejumlah toko atau giat berbisnis. PUSA agaknya bukan sebuah organisasi yang berdisiplin, tapi ia mempunyai kemampuan memobilisasi limpahan dukungan rakyat, kalau anggota-anggotanya bersatu menjalankan suatu tugas.25 Teungku Daud Beureu`eh adalah orang Pidie, salah satu suku dari bangsa Aceh yang agung, yang gesit berniaga, hebat dalam berbinis, disiplin dalam bekerja, serius dalam berpendapat, dan berani mati untuk sebuah keyakinan, untuk mempertahankan agamanya. Teungku Daud Beureu`eh, sama halnya dengan Teungku Hasan Muhammad di Tiro, adalah manusia dengan kombinasi yang sangat unik: intelektualitas, memiliki jaringan, belajar Islam dari sumber mataair ajaran Islam yang murni (Mekkah) dan mengendalikan organisasi modern dengan prinsip-prinsip manajerial rasional. Compton menulis, Pimpinan puncak PUSA, termasuk Daud Beureu`eh, dapat disebut modernis dalam pemikirannya tentang ritual dan hukum Islam. Dalam hal ini kita harus ingat bahwa modernisme dalam Islam mengandung

Ibid. Ibid.
25

Boyd R. Compton, Ibid., hlm. 152.

98

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konferensi Batee Kureng dan Konse psi Prinsipil-Bidjaksana

271

banyak makna. Modernisme PUSA adalah fundamentalis dan keras, jauh berbeda dari modernisme Medan dan Jakarta yang cenderung sekular. Rupa-rupanya rangsangan bagi pembaharuan di Aceh bukan berasal dari Mesir, melainkan langsung dari Mekkah, tempat sebuah koloni besar orang-orang Aceh sudah ada selama berabad-abad. Toh, modernisme di Aceh memancang tujuan pokok serupa dengan modernisme di seluruh dunia Islam: pembaharuan dan pemurnian Imam Muslim melalui pendidikan agama dan umum, dan meraih tujuan-tujuan sosial dan politik melalui organisasi. Sebelum perang, PUSA mengupayakan tujuannya terutama di bidang pendidikan. Di bawah kepemimpinan Daud Beureu`eh, PUSA mendirikan sekolahsekolah agama baru, yang meliputi pengajaran sains dan pengetahuan umum, dan mulai memperbarui kurikulum sekolah-sekolah lama yang dikelola para anggotanya. Tampaknya, pembaruan fundamentalis ini sudah berpengaruh di Aceh sebelum penyerbuan Jepang. Dengan kalahnya Jepang, langkah perubahan itu benar-benar dipercepat.26 Adakah yang mampu melakukan suatu akselerasi kemajuan yang sangat luar biasa seperti ini selain Teungku Daud Beureu`eh, manusia tegar, unik, berani dan dengan program maksimasi ekonomi, sosial, optimasi pendidikan dan politik dalam waktu yang bersamaan. Adakah energi ini dimiliki oleh sosok manusia lainnya dalam mengubah keadaan? Sulit rasanya untuk bisa memiliki tokoh kharismatik setegar dan setangguh Teungku Beureu`eh, dan mungkin Tuhan telah memilih dia untuk menjalankan revolusi Aceh kemudian, bukan revolusi sosial yang merugikan Aceh yang Teungku Daud Beureu`eh pun tak setuju terjadinya pertumpahan darah sesama saudara. Bagi Compton, PUSA menunjukkan minat besar untuk berkuasa selama revolusi sosial berdarah dan singkat, yang meletus di Aceh tak lama setelah Jepang menyerah. Selama masa penjajahan, Belanda memecah kekuasaan Sultan Aceh yang kalah dan membagi-bagikan-nya kepada sejumlah perwira militernya yang kurang menonjol (hulubalang). Belanda memerintah secara efektif melalui tuan-tuan
26

yang sudah-sudah. Tetapi dalam hal itu Pemerintah Republik hendaknya memberitahukannya secepat mungkin bahwa terdapat alasan-alasan yang mendesak demikian.8 Pada tanggal 15 Februari 1958 didengar khabar adanya Proklamasi PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) yang mengambil kesempatan pada saat Hatta di luar negeri, dan Hamengkoe Boewono ke Amerika.9 Pemerintah NII Aceh berpendapat bahwa jika PRRI tak dapat diperlihatkan suatu tanda bahwa kalau tak dapat ditimbulkan suatu moment baru, akan menempuh suatu bahaya yang besar. Pemerintah NII hanya berpikir pada sisi finansial saja bahwa gerakan yang dibantu Amerika Serikat ini hanya akan bertahan sebentar saja, karena bukan berlandaskan agama, melainkan kepentingan materil belaka. Bagi Pemerintahan NII, strategi dan tentera harus kuat, sebagai keputusan pemerintah NII Aceh mengirim suatu delegasi keluar negeri dan misi yang lain untuk ke dalam. Keputusan kabinet bulan Agustus di Pantja, menguraikan perjalanan PM ke Luar Negeri bertemu dengan duta-duta PRRI di Geneva dan Jerman Barat, berembuk tentnag pembentukan federasi. Namun, bagi NII Aceh, ide PRRI tidaklah menarik, karena tidak dilandasi agama. Meskipun uang berlimpah sebagai sarana operasional pemberontakan, namun bagi Teungku Daud Beureu`eh itu merupakan terjun bebas menuju neraka.10 Namun, bagi kalangan Dewan Revolusi NBA-NII melihat peluang ini dengan sangat cerdik dan banyak di antara mereka yang terpengaruh oleh ide-ide Syafruddin Prawiranegara dan Simbolon untuk memisahkan diri. Perjuangan, bagi kalangan DI yang masih bersama dengan Teungku Muhammada Daud Beureu`eh, bukanlah semata-mata talak 3 (pemisahan diri total), melainkan caracara dan prosesnya mestilah sangat syarie.11
8 9

S.M. Amin, Sekitar Peristiwa Berdarah di Atjeh, (Jakarta: Soeroengan, 1956), hlm. 301. Amelz, Riwajat Singkat Atjeh., hlm. 56. Ibid., hlm. 57. Syarie (Bhs. Arab), artinya sesuai dengan ketentuan hukum Islam (syariah).

10

Boyd R. Compton, Ibid., hlm. 153.

11

270

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

99

j.Menteri Sosial: Teungku Harun B.E. k.Menteri Perhubungan: Teungku Muhammad Yusuf Hasyim. 6. Menyusun Pemerintahan Kabupaten yang terdiri dari 6 kabupaten: 1.Kabupaten Pidie. 2.Kabupaten Aceh Utara. 3.Kabupaten Aceh Timur. 4.Kabupaten Aceh Barat. 5.Kabupaten Aceh Tengah. 6.Kabupaten Aceh Besar. Selanjutnya disusunlah struktur ketentaraan yang terdiri dari 7 resimen: 1. Resimen I Gajah Putih selaku komandannya: Ibrahim Saleh. 2. Resimen II Samudra selaku komandannya: Haji Ibrahim. 3. Resimen III Shalahuddin selaku komandannya: Gazali Idris. 4. Resimen IV Kawai selaku komandannya: Teungku Hasan Hanafiah. 5. Resimen V Laut Tawar selaku komandannya: Teungku Ilyas Leube. 6. Resimen VI Kuta Karang selaku komandannya: A. Wahab Ibrahim. 7. Resimen VII Tarmihim selaku komandannya: Haji Hasanuddin Siregar. Setelah terbentuknya Kabinet ini, maka disusun program kerja kabinet sesuai dengan keputusan Majlis Syura Negara Bagian Aceh NII pada rapat yang diselenggarakan tanggal 10 Safar 1375 / 27 September 1955. Kemudian mereka melakukan rapat-rapat dalam Madjlis Ifta untuk membahas berbagai perkembangan dan hubungan dengan du-nia luar. Majlis Ifta pun, seperti dirumuskan dalam salah satu kesepa-katan Kongres Dinas Batee Kureng adalah untuk menyokong kete-tapan penyelesaian konflik dengan pemerintah Pancasila tidak hanya dengan kekuatan senjata melainkan juga dengan cara politik. Hasan Aly bersedia melanjutkan pembicaraan informal, namun Majlis Ifta menginnginkan pembicaraan bersifat formal dan berlangsung secara face-to-face, bukan incognito seperti

feodal kecil ini, tetapi sistem pemerintah tak langsung yang pelik dan terlalu berat ke atas ini sangat menindas rakyat Aceh.27 Kekalahan Jepang me-mungkinkan pembebasan sejumlah besar pembangkang yang dise-kap. Umumnya yang disekap dan ditangkap itu adalah golongan ula-ma yang dipandang Belanda sebagai ekstrimis, teroris dan kriminal yang berbahaya. Compton pun menulis tentang kisah tragis revolusi sosial Aceh di masa lalu, bahwa para pemimpin agama di Aceh, sebagian besar adalah anggota PUSA, tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menindas para bangsawan kecil yang telah mengabdi Belanda. Kisah penggilasan sebagian besar bangsawan Aceh ini belum ditulis, dan tak jelas seberapa jauh para pemimpin PUSA merestui keganasan pengikut-pengikut mereka. Yang jelas, pelenyapan kaum ningrat ini memungkinkan PUSA untuk meraih kekuasaan lebih besar di Aceh. Pada 1947, Daud Beureu`eh diakui sebagai gubernur militer Aceh untuk Republik Indonesia, dan dinas militer dan sipil dikuasai bulat oleh tokoh-tokoh dan sahabat-sahabat PUSA.28 Bangkitnya kaum ulama dalam politik Aceh adalah sebuah historical inevitability (keniscayaan sejarah) di mana para ulama, pemangku agama yang tegar dan tangguh ini tidak bisa menghindari takdir pergolakan sosial yang menjatuhkan pulung kekuasaan kepada mereka. Namun, setelah negara Republik Indonesia diproklamasikan, maka Soekarno merebut apa saja yang dimiliki kaum ulama Aceh, kekuasaan, pengaruh, kekayaan ekonomi dan pengorbanan darah dan nyawa, semuanya terbawa ke Jakarta, sebuah kota semrawut tempat berkumpulnya para penguasa. Compton menulis bahwa: Salah satu kenyataan penting dalam kehidupan politik di Aceh dewasa ini adalah bahwa kekuasaan PUSA telah diserahkan kepada pemerintah pusat pada 1951. Seperti Daud Beureu`eh, banyak ulama PUSA yang menolak berpartisipasi dalam pemerintahan baru; yang lain memang tak

27 28

Ibid. Compton, Loc.cit.

100

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konferensi Batee Kureng dan Konse psi Prinsipil-Bidjaksana

269

diajak.29 Tapi Teungku Daud Beureu`eh tak tergoda untuk ke Jakarta, memegang jabatan simbolik yang dijanjikan Menteri Dalam Negeri. Ia cukup sadar politik, Teungku Daud Beureu`eh cukup sadar bahwa ia akan diasingkan dan akan dicabut dari akarnya, dari masyarakat dan jiwa Aceh, sehingga ia memilih menolak, meskipun uang dan kemewahan telah menantinya di Jawa. Selanjutnya Compton menulis tentang pribadi yang nyaris sempurna ini: Sementara duduk di rumah Daud Beureu`eh, saya sadar bahwa saya telah menyangka akan berbicara dengan seorang pemarah dan tak sabaran. Saya telah mengira bahwa kejatuhan dari kekuasaan yang nyaris mutlak tentu menimbulkan efek itu atas diri sang mantan gubernur militer. Karenanya menarik sekali melihat Daud Beureu`eh menunjukkan ciri yang benar-benar berlawanan: kesabaran yang tenang dan nyaris sempurna. Ia terang-terangan, nyaris nekad, mengecam pemerintah Indonesia atas perbuatannya terhadap persoalan warga Aceh. Ia juga menyarankan sangat blak-blakan tindakan-tin-dakan untuk memperbaiki situasi ini. Toh ia tak sedikit pun memperli-hatkan kobaran hasrat, dan cuma sering berucap, yah, kita lihat saja nanti.30 Boyd Compton cukup memahami kalimat fatalis yang diucapkan pada akhir tema pembicaraan, kita lihat saja nanti, sebuah helaan nafas panjang penuh harap, penuh emosi yang ditekan, ditahan, sebuah sikap menunggu dan mengintai suatu saat yang tepat untuk mengambil alih kekuasaan, lewat perang atau revolusi atau apa pun yang memungkinkan darah-darah suci bangsa Aceh tumpah memenuhi niat setiap jiwa Aceh yang ingin mati secara lebih terhormat, di hadapan Tuhannya, di hadapan bangsa Aceh, di hadapan tanah leluhur yang suci, di hadapan para arwah pahlawan, di hadapan anak-anak dan istri(-istri), menjadi syuhada, menjadi manusia terkasih Tuhan. Boyd Compton, sangat sensitif dalam menangkat gelagat dan isi

menjadi gerakan politik damai.7 Perubahan-perubahan lain di antaranya ialah: 1. Daerah Aceh yang tadinya menjadi bahagian dari Negara Islam Indonesia menjadi Negara Bagian Aceh, Negara Islam Indonesia. Aceh menjadi KW (Komandemen Wilayah V) dalam struktur nasional NII. 2. Sistem Pemerintahan Komandemen yang dualis itu berobah pula sebagai pemerintahan biasa, di mana sipil dijalankan oleh sipil dan kekuasaan militer dipegang langsung oleh militer sendiri. 3. Kepala Negaranya diangkat dan terus dilantik, Teungku Muhammad Daud Beureu`eh sebagai Wali Negara, Negara Bagian Aceh NII. 4. Teungku Husin Al Mujahid sebagai Ketua Parlemen (Ketua Majlis Syura). Majlis Syura ini beranggotakan para alim ulama yang berani memberontak terhadap Republik, sekitar 65 orang. 5. Juga pada hari itu dibentuk Kabinet Pertama dari Negara Bagian Aceh yang terdiri dari: a. Perdana Menteri: Hasan Aly. b. Menteri Dalam Negeri: Hasan Aly. c. Menteri Keuangan: T.A. Hasan. d. Menteri Kesehatan: T.A. Hasan. e. Menteri Pertahanan/Keamanan: Kolonel Husin Yusuf. f. Menteri Kehakiman: Teungku Zainul Abidin. g. Menteri Penerangan: A. G. Mutiara. h. Menteri Ekonomi/kemakmuran: T. Muhammad Amin. i. Menteri Pendidikan: Teungku Muhammad Ali Kasim.
7 Surat kemungkinan perdamaian yang dikirm oleh Hasan Aly November kepada S.M. Amin (Gubernur Sumatera Utara) yang isinya mendesak agar Pemerintah Republik secara terbuka menyatakan pendiriannya secara resmi memakai surat, bukan komunikasi oral dan bujukan verbal. Gerakan DI terlihat sangat disiplin dalam manajemen administrasinya, bagaikan mengurus sebuah negara sungguhan dan tak pernah berfikir untuk main-main dalam urusan ini. Wawancara dengan Komandan Ishak Ibrahim, Banda Aceh, 28 Juli 2006.

29 30

Compton, Ibid., hlm. 153. Compton, Ibid., halaman 154.

268

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

101

tentang konflik dan perjuangan untuk kekuasaan antara pucuk pimpinannama Daud Beureu`eh, Hasan Saleh, dan Husin Jusuf paling sering munculpada umumnya terdapat persatuan dan kekompakan yang kuat di daerah itu.6 Pemusatan kekuasaan dan lenyapnya pemimpin-pemimpin ter-tentu terjadi pada 1954, ketika Dewan Syura, Majelis Syura, dan Dewan Militer dibubarkan. Ketika itu Husin Jusuf kehilangan jabatannya se-bagai Kepala Staf Divisi Tengku Chik Ditiro beralih kepada Amir Husin al Mujahid. Walau pun ia diangkat sebagai koordinator keamanan untuk Aceh, kenaikan ini berarti kehilangan kekuasaan atas sebagian besar pasukan tempur. Hal yang sama terjadi kemudian pada penggantinya, Amir Husin al Mudjahid, yang digantikan oleh Hasan Aly. Akhirnya, karena Pemimpin-pemimpin rakyat seluruh Aceh turut hadir sejak dari Pasir Putih sampai ke Besi Merah (Langkat Tamiang), mereka lalu mendesak supaya di samping Konferensi pemerintahan diadakan Kongres Rakyat, sebab Pemimpin-pemimpin rakyat yang bertanggung jawab seluruhnya telah turut diundang dan turut hadir ketika itu. Resolusi yang membawa kejernihan politik pemerintahan sementara Negara Islam itu diterima baik oleh Teungku Muhammad Daud Beureu`eh, sehingga ketika itu diumumkan satu Kongres Rakyat yang dihadiri oleh pemimpin-pemimpin rakyat yang berpengaruh dalam Aceh waktu itu, yaitu pemimpin-pemimpin lama yang telah turut dalam perjuangan dan yang masih pro. Akhirnya pada tanggal 23 September 1955 berlangsunglah Kongres Rakyat dengan meriahnya, yang kemudian dinamakan Kongres Batee Kureng. Adanya Kongres Batee Kureng ini menyebabkan status Daerah dan Pemerintahan berubah sama sekali. Dan gerakan DI men-jadi gerakan yang hampir baru sama sekali. Konferensi Batee Kureng seakan sudah mentransformasikannya

pembicaraan dengan Teungku Daud Beureu`eh yang penuh muatan kemanusiaan, peradaban dan misteri. Compton menulis, Daud Beureu`eh agaknya menunjukkan kesan serupa pada wartawan koran Medan Waspada, yang mengutip kata-katanya, Kami di Aceh hanya jadi penonton. Kesan saya, Daud Beureu`eh serta para pemimpin Aceh lainnya sedang menonton sebuah pertunjukan yang tidak mereka sukai, namun agaknya mereka ingin melihat pertunjukan itu berakhir sebelum mereka menjatuhkan penilaian final.31 Ia, Teungku di Beureu`eh yang tajam dan tegar ini, akan menjawab semua pertunjukan membosankan yang tengah dimainkan di Jawa, di pusat kekuasaan, dengan kekecewaan, meninggalkan arena pertarungan dan pertunjukan dengan tanpa tepuk tangan sedikitpun, meubacut pih han, tak sekalipun. Dan, selepas pertunjukan ini, orang Aceh akan mempersiapkan sebuah perlawanan, sebuah show of respect, yang paling mungkin hal itu terjadi di Aceh dalam bentuknya yang paling kasar: pemberontakan. Selanjutnya Compton menulis, Situasi di Aceh mudah sekali menjadi rawan karena sikap pemerintah Indonesia yang masih belia. Dislokasi sosial akibat revolusi dan keadaan ekonomi yang mengecewakan dewasa ini telah mempertajam perasaan-perasaan tak puas di kawasan ini. Pemerintah pusat tak dapat mengabaikan kenyataan bahwa PUSA berkemampuan untuk mengendalikan dan memanfaatkan sentimen-sentimen rakyat ini. Perlu pula diingat bahwa pimpinan puncak PUSA telah kehilangan posisi kekuasaan yang mereka pegang selama tahun-tahun revolusi. Yang paling merisaukan dari semuanya adalah sosok Daud Beureu`eh seorang lelaki yang kuat dan disimak rakyat yang sedang merenung dan menanti di dusunnya.32 Republik yang masih belia, atau dalam bahasa Teungku Ismail Jacob sebagai negara dalam masa pembinaan tiba-tiba sudah menunjukkan sikap soknya, sikap congkak dengan berbagai penjelasan yang telinga orang-orang Aceh sudah muak
31

Boyd R. Compton, Ibid., hlm. 153. Boyd R. Compton, Ibid., hlm. 154.

Pikiran Rakyat, 15 Februari 1956.

32

102

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konferensi Batee Kureng dan Konse psi Prinsipil-Bidjaksana

267

mendengarnya. Namun, tulis Compton, sungguhkah keadaan Aceh rawan pada saat ini? Daud Beureu`eh menandaskan, desas-desus tentang ketidakpuasan yang pecah di Aceh itu, dihembuskan oleh kaum feodal yang kehilangan kekuasaan selama revolusi. Selain itu, adalah ngawur pikiran bahwa Daud Beureu`eh mau menerima posisi rendahan di bawah Kartosoewirjo Darul Islam. Sulit pula dibayangkan para tokoh kuat PUSA menyingkir ke pegunungan untuk melancarkan kampanye gerilya gelap melawan pemerintah. Posisi runding mereka dalam berhadapan langsung dengan pemerintah pusat sekarang ini cukup kuat untuk menegaskan keinginan-keinginan secara damai. Namun, tentu saja, tidak ada kepastian bahwa pimpinan PUSA berpikir demikian.33 Sikap Teungku Daud Beureu`eh sudah pada klimaksnya, ia sudah merasa jijik dengan semua ulah dan tingkah polah Pemerintah Pusat yang tidak akomodatif terhadap Aceh sejak awal, hanya ingin mengeruk keuntungan dari kelimpahan sumber daya yang ada di Aceh: (1) manusia-manusia pejuang yang menghadang dan mengusir penjajah, dan (2) alam belantara yang berlimpah ruah dengan rizki mineral. Di awal suratnya, Compton menulis: saya menyatakan bahwa kedamaian dan ketenangan di Aceh agaknya lebih bersifat tak nyaman ketimbang memperlihatkan kegelisahan terbuka. Saya memperoleh kesan umum dari kunjungan singkat ini, bahwa Daud Beureu`eh dan tokoh-tokoh PUSA memegang kontrol kuat atas pengikut mereka; ketenteraman di Aceh mungkin sekadar menunjukkan bahwa umat Islam Aceh menaati perintah para pemimpin mereka dan menunggu semacam perkembangan lebih lanjut. Seandainya benar demikian, alternatif-alternatif di Aceh agaknya adalah perdamaian yang terus berlanjut, atau jihad suci menegakkan Negara Islam besar-besaran dan terkoordinasi di masa datang yang cukup jauh.34 Prediksi Compton tepat, orang-orang Aceh di bawah asuhan Teungku Daud Beureu`eh me-

September 1955, di samping merayakan hari ulang tahunnya kedua dari Proklamasi NII yang telah dicetuskan pada tanggal 21 September 1954 itu. Menurut laporan pihak DI sendiri,3 maksud semula selain konferensi atau membicarakan sekitar maju mundurnya pemerintahan dan perjuangan militer juga akan mengetahkan persoalan perundingan dengan RI yang disalurkan oleh Amin dan Pemerintah di waktu itu. Usul-usul Pemerintah Republik dibahas para pemimpin Darul Islam di Batee Kureng. Sebenarnya inilah yang menjadi penyebab langsung kehendak Daud Beureuh untuk berunding dengan penasihat-penasihatnya yang akrab. Hasil kongkret Kongres Batee Kureng ini adalah pembentukan Majlis Syura, Reorganisasi Pemerintahan Sipil dan Reorganisasi Militer (TII). Konferensi Batee Kureng merupakan salah satu tanda yang paling tidak mungkin diragukan lagi akan adanya perselisihan pendapat di kalangan para pejuang mujahidin Darul Islam di Aceh. Ini membuktikan ketidakpuasan akan cara semua keputusan dibuat Daud Beureu`eh dengan sekelompok kecil penasihat, dan tunduknya urusan sipil kepada militer. Masyarakat pun mengetahui adanya perpecahan di antara mereka, meskipun semuanya kelihatan sangat solid.4 Walaupun pasti terdapat persaingan dan pertentangan di kalangan pemimpin-pemimpin Negara Islam di Aceh, berbeda dengan da-erah-daerah lain, tampaknya di sini ini tidak sampai mengakibatkan se-ring terjadi bentrokan antara komandan pasukan.5 Dengan penggeseran beberapa pemimpin angkatan pertama dari pusat kekuasaan pada tahun-tahun pertama, konferensi Batee Kureng mengadakan pe-rubahan tertentu. Kendatipun laporan-laporan
3 4 5

Amelz, op.cit., hlm. 31.

33 34

Compton, Ibid., hlm. 155. Compton, Ibid., hlm 155.

Pikiran Rakyat, 14 Februari 1956. Namun, terdapat beberapa laporan tentang tindakan disiplin yang diambil terhadap komandan-komandan Darul Islam setempat. Di Aceh Utara umpamanya, salah seorang pembantu Hasan Saleh, Usman Balo, lari ke Pidie ketika mengetahui, ia akan dihukum karena kekejamannya. Bagian Dokumentasi Deppen, Sekitar Peristiwa Berdarah Daud Beureueh, vol. III, (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan, 1953), hlm.18.

266

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Pendahuluan

pembicaraan ini, seperti dirumuskan dalam salah satu butir program kabinet baru adalah ketetapan bahwa harus diusahakan menyelesaikan konflik dengan pemerintah Pancasila tidak hanya dengan kekuatan senjata melainkan juga dengan cara politik.1 Setiap gerakan intelektual, senantiasa bersikap peduli dengan upaya damai (politik) melalui berbagai saluran yang mungkin dan tidak bertentangan dengan idealisme. Karena itu Hasan Aly mengirim surat pada bulan November kepada Amin yang isinya mendesak agar Pemerintah Republik secara terbuka menyatakan pendiriannya dan bahwa semua perundingan selanjutnya akan dilakukan delegasi resmi dari kedua pihak, dan tidak lagi informal. Hanyalah bila ada alasan-alasan yang mendesak yang mencegah Pemerintah Republik berbuat demikian. Hasan Aly bersedia melanjutkan pembicaraan informal. Tetapi dalam hal itu Pemerintah Republik hendaknya memberitahukannya secepat mungkin bahwa terdapat alasan-alasan yang mendesak demikian.2 Akibat dari kontak pribadi atau korespondensi politik antara Teungku Muhammad Daud Beureu`eh dengan Mr. S.M. Amin, Gubernur Sumatra Utara yang berlaku sejak bulan Desember 1955, sampai kepada akhir riwayat dengan kebuntuannya, kemudian ditambah lagi dengan datangnya Hasballah Daud/Abdullah Arif, baik sebagai utusan Hatta ataupun Pemerintah Pusat, yang oleh rakyat umum dianggap sebagai delegasi Pemerintah, meyebabkan suasana politik di Aceh menjadi hangat. Bukan saja menjadi perhatian dan tanda tanya rakyat legal malahan rakyat yang dikatakan dari Negara Islam sendiri, yaitu pejuang Islam yang puluhan ribu banyaknya itu pun memperbincangkan persoalan itu sehingga akhirnya oleh hangatnya pembicaraan umum, lalu Pemimpin Tinggi kalangan Mujahidin Islam itu mengadakan Konferensi Dinas di Batee Kureng pada tanggal 21
Amelz, Riwajat Singkat Atjeh Bangoen dari Tidoernja jang Njenjak Beberapa Poeloeh Tahoen Jang Laloe, (Pidie, naskah ketikan, t.t.), hlm. 31.
2 S.M. Amin, Kenang-Kenangan dari Masa Lampau, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1978), hlm. 301. 1

mendistribusikan baik sumber daya alam maupun sumber daya ekonomi dalam cara-cara yang tegas, turut menyebabkan munculnya beberapa gejolak sosial-politik yang amat merepotkan kepemimpinan nasional. Beberapa contoh yang terkenal dari gejolak-gejolak itu adalah "pemberontakan" Darul Islam (DI), Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), dan Perjuangan Semesta Alam (Permesta). Salah satu di antara butir-butir agenda terpenting dari kabinet-kabinet Indonesia pasca kemerdekaan adalah penyelenggaraan pemilihan umum untuk Parlemen dan Majelis Konstituante. Kabinet Sjahrir berjanji akan menyelenggarakan pemilihan umum pertama pada awal Januari 1946. Sayangnya, situasi revolusi fisik (1945-1949) tidak memungkinkan dilaksanakannya pemilihan umum itu. Ketika kedaulatan negara diserahkan Belanda ke Republik Indonesia, sebagaimana dicatat Feith, Setiap kabinet menjadikan pemilihan umum untuk menyusun Majelis Konstituante sebagai bagian penting dari program-programnya. Meskipun demikian, baru pada kabinet Burhanuddin Harahap sajalah pemilihan umum pertama berhasil diselenggarakan (1955).15 Ada beberapa faktor yang menyebabkan tertundanya penyelenggaraan pemilihan umum itu. Yang paling penting adalah ketakutan para elite negara dan partai, khususnya mereka yang berasal dari ke-lompok nasionalis sekuler, bahwa pesta-pora demokrasi itu dapat me-ngancam hubungan politik antara agama (Islam) dan negara yang su-dah di-dekonfessionalisasi seperti yang berlangsung saat itu. Mereka percaya bahwa peristiwa-peristiwa politik seperti pemilihan umum da-pat digunakan oleh kalangan Islam untuk menyusun dukungan rakyat guna merealisasikan gagasan negara Islam. Mengingat potensi mereka untuk memenangkan suara mayoritas, sukses kelompok Islam dalam pemilihan umum akan melempangkan jalan bagi mereka untuk men-jadikan Islam sebagai dasar negara di Majelis Konstituante yang artinya akan menjadikan Indonesia sebagai Negara Islam.
15 Herbert Feith, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, (Ithaca, New York: Cornell University Press, 1969).

104

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

siapa saja yang dianggap sebagai out-sider, sebagai musuh, sejauh yang paling mungkin untuk Aceh menganggapnya sebagai kafir harbi (kaum kafir yang halal diperangi). Rakyat Aceh, melalui pemimpinnya Teungku Daud Beureu`eh, telah menarik garis dan memutuskan bahwa darah orang-orang pemerintah Pusat yang anti-Aceh, anti syariat Islam, adalah halal. Maka segalanya menjadi agama, perang pun akan dilancarkan sebagai ekspresi sikap beragama (Islam) yang konsisten. Compton mengakhiri suratnya yang melaporkan kondisi Aceh secara detail dengan kalimat datar namun mendalam: Seperti masjid Daud Beureu`eh, sikap para pemimpin PUSA tak tuntas; mereka tengah menanti dengan agak bimbang kebijakan pemerintah yang lebih memuaskan. Seandainya otonomi administratif yang didambakan dan perbaikan-perbaikan ekonomi tak kunjung tiba, kesabaran Daud Beureu`eh dan kawan-kawannya mungkin habis. Sesaat sebelum saya meninggalkan rumah Daud Beureu`eh, ia mengungkapkan lagi impiannya tentang pemerintahan Islam yang makmur di Aceh. Saya me-rasa, ia tak akan puas untuk selamanya duduk dan bicara dan bermimpi.37 Singa Aceh ini akan bangkit dari tidurnya dan siap untuk menerkam siapa saja yang telah mengganggu mimpi dalam tidurnya yang tenang, tentang sebuah Negara Islam yang maju, modern, manusiawi, mengayomi, melindungi jiwa-jiwa terasing, dan memberdayakan kaum yang lemah dan terkalahkan, terpinggirkan oleh proses pembangunan yang digerakkan oleh pemerintah sekuler yang kacau dan amburadul.

Bab VIII

KONFERENSI BATEE KURENG DAN KONSEPSI PRINSIPIL-BIDJAKSANA

erkembangan gerakan Darul Islam sudah mencapai tahap yang menggembirakan ketika banyak rakyat yang mendukung dan hingga tahun 1955 banyak kemajuan dan kemenangan perang yang diraih, meskipun beberapa serangan TNI belum sempat dibalas. Untuk memperingati 2 tahun proklamasi NBA-NII, ketika para mujahidin Darul Islam yang pada waktu itu bergerilya di Baital Julud, memutuskan untuk merayakan peringatan hari proklamasi ini dengan syukur berbentuk konferensi dinas. Para utusan DI Aceh Utara mengusul tempat, yaitu di Batee Kureeng, dekat Peudada, Aceh Utara, yang aman untuk berkongres. Gerakan DI ini dimulai dengan Kongres Ulama SeIndonesia, di tengah-tengah perjalanannya juga terdapat kongres. Gerakan pemberontakan ini, dari cara para pelakunya menjalaninya dengan berbagai kongres, adalah sebuah gerakan intelektual.

C. Kongres Alim Ulama Se-Indonesia di Medan


Sebelum meletusnya peristiwa bersejarah tanggal 21 September 1953 yang terkenal dengan nama Peristiwa Daud Beureu`eh, pada bulan april 1953, bertempat di Istana Maimun Al-Rasyid Medan, telah berlangsung Kongres Alim Ulama seluruh Indonesia yang dihadiri kurang lebih 540 orang ulama. Hajat besar yang diselenggarakan itu
37

A. Konferensi Dinas NBA-NII di Batee Kureng


Pada tanggal 23 September 1955, Konferensi Batee Kureeng berlangsung, di suatu desa yang aman, yang sudah dikategorikan sebagai darul amman. Usul-usul Pemerintah Republik dibahas para pemimpin Darul Islam di Batee Kureng. Sebenarnya inilah yang menjadi penyebab langsung kehendak Daud Beureuh untuk berunding dengan penasihat-penasihatnya yang akrab. Hasil kongkret

Ibid.

264

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

105

Peserta Kongres itu ada yang datang dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Ambon bahkan dari belahan timur Indonesia, yaitu NTT turut hadir pula. Adapun diadakannya kongres itu guna membicarakan seputar nasib umat Islam Indonesia yang baru lepas dari belenggu penjajahan belanda yang ketika itu sedang dipegang oleh Soekarno-Hatta. Para ulama merasakan kegelisahan karena mereka melihat kurang terakomodasinya peran Islam dalam mempertahankan hasil kemerdekaan. Tidak jelas mau dibawa ke mana negeri ini oleh Soekarno. Pada saat Kongres berlangsung, Dewan formatur yang telah dibentuk kemudian merasa kebingungan siapa yang akan dipilih untuk menjadi pimpinan karena sulitnya memilih pimpinan yang mampu serta penuh tanggung jawab. Tetapi, hasil keputusan musyawarah dewan formatur yang terdiri dari Al Ustadz Tuan Arsyad Talib Lubis (ulama besar Sumatra Utara), Kiyai Haji Zainal Arifiin Abbas, Al Ustadz Abidin Nurdin, Al Ustadz Yahya Pintor dan Al Ustadz Ghazali Hasan telah menetapkan berdasarkan penelitian satu per satu secara teliti dan cermat berdasarkan kemampuan bahwa yang pantas menjadi Ketua Kongres adalah Teungku M. Daud Beureu`eh (seorang ulama besar dari Aceh). Padahal ketika itu ulama besar Aceh lainnya hadir seperti: Teungku Hasballah Indrapuri, Teungku Haji Krung Kali. Setelah keputusan diambil, segera mereka berlima mendatangi tempat di mana Teungku M. Daud Beureu`eh menginap. Ketua delegasi, Al Ustadz Arsjad Talib Lubis menyampaikan hasil keputusan itu, namun kemudian mendapat sanggahan dari Teungku M. Daud Beureu`eh dengan mengatakan: Jangan, jangan saya yang menjadi ketua karena saya merasa sangat terbatas dalam ilmu, lebih baik Ustadz memilih orang lain yang lebih alim dan berpengaruh. Kemudian oleh Ustdaz Talib dijawab: Kami melihat bahwa Teungkulah yang lebih pantas menjadi ketua, karena umur dan ilmu pengetahuan telah mencukupkan kami untuk memilih Teungku. Teungku adalah ulama revolusi dan reformis. Karena didesak terus pada akhirnya

106

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Operasi Militer: Pembantaian Rakyat Aceh di C ot Jeumpa, Pulot, Gunu ng Ku lu, dan 263

Teungku M. Daud Beureu`eh tidak ada jalan lain untuk menolaknya. Kongres yang diadakan selama tiga hari tiga malam dengan rasa kekeluargaan itu telah mendapatkan beberapa keputusan penting yang di antaranya ialah mengajukan kepada pemerintah Republik Indonesia, Soekarno, untuk tidak perlu mengadakan pemilihan umum, sebab umat Islam Indonesia secara mayoritas sudah menang. Hendaknya pemerintah Republik Indonesia tinggal mengganti dan melaksanakannya menjadi negara Islam dan melaksanakan hukum Islam. Dan masalah biaya pemilu dapat dipergunakan ke sektor-sektor yang lain untuk kepentingan rakyat umum. Sebelum keputusan kongres ini diambil, ketua terpilih, Tgk. M. Daud Beureu`eh, telah mengajukan beberapa pertanyaan kepada para peserta kongres di antaranya adalah: Bagaimana seandainya resolusi ini tidak diterima oleh Pemerintah Pusat, Soekarno, apakah saudara sekalian sudah siap untuk angkat senjata? Secara aklamasi peserta kongres menjawab: Setuju sambil mengumandang kalimat takbir. Seandainya resolusi kita ditolak oleh Soekarno apakah saudara sudah siap untuk behijrah dan berjihad? Peserta menjawab setuju. Apakah resolusi kita ditolak oleh Pemerintah apakah kita pantas mengatakan pemerintah ini kafir? Peserta menjawab: pantas. Dan yang terakhir Tgk. M. Daud Beureu`eh bertanya: Seandainya usulan kita diterima, apakah saudara sudah siap untuk bekerja dan memimpin serta berkorban untuk Negara? Para hadirin menjawab: Siap. Alhamdulillah kata Teungku M. Daud Beureu`eh mengakhiri pertanyaannya. Secara aklamasi para peserta kongres telah bersumpah (berbaiah) bersama-sama bila pemerintah RI tidak bersedia mengumumkan RI ini sebagai negara Islam berarti para ulama bersiap sedia mengangkat senjata. Keputusan ini ditandatangani oleh semua peserta kongres bahkan ada yang menandatanganinya dengan cap jari darah sebagai tanda bahwa mereka telah bulat dan sepakat untuk memberlakukan hukum Islam di Indonesia. Selanjutnya hasil dari kongres itu, membentuk tim delegasi yang akan mengantarkan resolusi dan keputusan Muktamar Medan ini

Hasan Muhammad Tiro dengan demikian dapat melanjutkan kampanye propaganda anti-Indonesia-nya di New York. Pada awal 1955 ia mengirim surat kepada dua belas negara Islam dengan meminta kepada mereka memboikot Konferensi Asia-Afrika, kebanggaan Pemerintah Republik, yang akan diadakan di Bandung pada bulan April. Sebagai alasan mendasari permintaannya, ia mengemukakan, pemimpin-pemimpin Islam dan para pengikutnya kecuali mereka yang membungkuk terhadap kaum komunisdisiksa dan dibunuh Tentara dan Polisi Pemerintah Ali Sastroamidjojo yang didominasi komunis.33 Komunisme adalah sumber segala masalah bagi Indonesia yang religius dan bagi rakyat Aceh semakin memperlihatkan betapa komunis tidak memiliki hati dalam menyelesaikan kasus pemberontakan di Aceh. Dari pihak Darul Islam Aceh sendiri, juga mengirimkan surat-surat kepada Pemerintah atau Parlemen. Surat-surat dari pusat pemberontakan di Pidie yang dikonsep oleh Hasballah Daud ini sempat menimbulkan reaksi yang keras dari partai-partai sekuler di Jakarta. Semua protes kemudian mengarah pada Pemerintah dan Parlemen di Jakarta, tetapi Pemerintah tidak memberi reaksi. Kemudian surat-menyurat antara Pemerintah dengan Darul Islam Aceh untuk sementara dihentikan, dan baru dimulai lagi sesudah Kabinet Ali Sastroamidjojo jatuh, dan digantikan pemerintah baru yang dikepalai Burhanuddin Harahap dari Masjumi pada Agustus 1955.34 Jelas sekali, bahwa haluan politik suatu negara atau pemerintahan akan sangat menentukan bagaimana proses penyelesaian kasus pemberontakan atau protes daerah. Jika komunis yang berkuasa di Indonesia, maka selamanya kasus daru Islam Aceh akan tak pernah selesai. Dari sini pula dapat diambil satu kesimpulan sementara bahwa rakyat Aceh sesungguhnya tidak melawan terhadap pemerintahan Republik, melainkan melawan kuasa rezim komunis fasis yang otoriter. ***

33 34

Ibid., hlm. 443-488. S.M. Amin, Sekitar peristiwa Berdarah di Atjeh, (Jakarta: Soeroengan, 1956), hlm. 205.

262

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

107

Aceh, Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan dan Sulawesi dan memperjuangkan pengakuan internasional akan dukungan moril dan materiil untuk Republik Islam Indonesia. Di samping itu ia mengumumkan, bila Pemerintah Republik tidak memenuhi tuntutantuntutannya, ia akan mengusahakan pemboikotan diplomatik dan ekonomi secara internasional terhadap Republik Indonesia juga penghentian bantuan yang diberikan lewat Rencana Kolombo atau oleh Perserikatan BangsaBangsa dan Amerika Serikat.32 Sebuah ultimatum jihad yang sangat berani yang tak terpikirkan oleh banyak pejuang dan mujahidin Darul Islam yang hidup dan berjuang di tengah-tengah keguyuban alam pedesaan dan lebatnya hutan belantara. Pemerintah Indonesia menolak tuntutan-tuntutan Hasan Muhammad Tiro dan memberinya waktu sampai 22 September untuk kembali ke Indonesia. Bila perintah ini diabaikannya, maka paspornya ditarik. Ia sama sekali tak bergeming dengan ancaman ini, malah ia mengambil jalan dengan konsekuensi yang berani: Hasan Muhammad Tiro lalu dimasukkan dalam tahanan oleh Imigrasi Amerika dan disekap di Ellis Island. Dia dibebaskan lagi sesudah membayar denda US$ 500,Ia membalas dengan mengumumkan sepucuk surat dalam New York Times yang meminta perhatian akan kemajuan komunisme di Indonesia sejak Pemerintah Ali Sastroamidjojo berkuasa dan menyampaikan sebuah laporan tentang Pelanggaranpelanggaran Hak Asasi Manusia oleh rezim Sastroamidjojo di Indonesia. Reaksi Hasan di Tiro ini sesungguhnya adalah sebuah ekspresi kemarahan intelektual, dengan sangat etis ia mengirimkan surat kepada Jang Terhormat Pemerintahan yang komunis di Indonesia. Seandainya Indonesia tidak ada partai komunis waktu itu, maka ia akan bersikap dengan nada yang lebih rendah. Pemerintah Indonesia tidak mampu membungkam Muhammad Hasan Tiro, atau memintanya diekstradisikan dari Amerika Serikat.
32 Bagian Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureu`eh, (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan, t.t., Jilid III), hlm. 445-447.

kepada Soekarno baik lisan maupun tulisan yang menyatakan bahwa hasil kongres ulama di Medan berjalan dengan lancar serta memberikan salam dari ketua, Teungku M. Daud Beureu`eh, untuk Soekarno. Setelah mendengarkan laporan yang disampaikan oleh tim delegasi itu, Soekarno dapat memahami dan memaklumi serta meminta kembali kepada para delegasi untuk kembali ke tempatnya masingmasing. Lebih lanjut Soekarno mengatakan: Saya akan mengutus utusan resmi untuk menjumpai kakanda Teungku M. Daud Beureu`eh. Dua minggu kemudian, diutuslah Mohammad Hatta bersama rombongan menjumpai Teungku M. Daud Beureu`eh di Aceh. Mohammad Hatta secara diplomatis menyampaikan kepada Teungku M. Daud Beureu`eh apa yang dihasilkan dari kongres ulama di Medan telah dipahami oleh Soekarno dan memohon kepada kakanda untuk menunda dulu maksudnya, karena menunggu hasil pemilu nanti. Mendengar ucapan Hatta itu, Teungku. M. Daud Beureu`eh menjawab: Bung Hatta, kami para ulama pantang menjilat kembali air ludah yang telah kami keluarkan, bila keinginan dan hasil kongres di Medan ditolak oleh pemerintah RI, kami telah siap untuk angkat senjata ber-jihad fisabilillah. Bung Hatta, silahkan malam ini juga tinggalkan Kutaraja, karena saya tidak dapat menjamin keamanan saudara. Pada malam itu juga setelah berpamitan dengan Teungku M. Daud Beureu`eh, Mohammad Haat bersama rombongan terpaksa berangkat meninggalkan Kutaraja tanpa hasil. Dua minggu kemudian Teungku M. Daud Beureu`eh melalui pidato di radio di Kutaraja, menyerukan kepada seluruh para ulama yang ikut bermusyawarah di Medan agar bersiap-siap untuk mengangkat senjata dan berjihad bila tuntutan ditolak oleh Soekarno. Pada tanggal 21 September 1953, Teungku M. Daud Beureu`eh memproklamasikan Darul Islam Aceh dan bergabung dengan Darul Islam NII Jawa Barat di bawah pimpinan Imam Sekarmadji Marijan Kartosoewirjo. Adapun ulama-ulama hasil kongres di Medan yang turut dengan Teungku M. Daud Beureu`eh hijrah ke hutan hanya sedikit, diantara mereka itu adalah Teungku Haji Hasballah Indra Puri, Teungku

108

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Operasi Militer: Pembantaian Rakyat Aceh di C ot Jeumpa, Pulot, Gunu ng Ku lu, dan 261

Sulaiman Daud dan Teungku Syech Abdul Hamid Samalanga. Yang lainnya satupun tidak ikut sampai Teungku M. Daud Beureu`eh kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Sulawesi Selatan dan Tengah dan Kalimantan, dan selanjutnya menjalankan politik divide et impera dan kolonialisme, dan mengadu domba berbagai suku bangsa dan agama satu sama lain. Ia bertanya kepada Ali Sastroamidjojo apakah barangkali telah tiba abad baru kolonialisme yang di dalamnya hanyalah kaum komunis yang memungut hasil buah kemerdekaan, sedangkan yang lain dibunuh habis begitu saja. Lalu ia menuntut agar Ali Sastroamidjojo menghentikan politik agresifnya, membebaskan tahanan-tahanan politik, dan mulai berunding dengan pejuang mujahidin Darul Islam. Bila tidak, maka ia pribadi akan mengambil sejumlah langkah. Sebuah langkah berani dan penuh perhitungan intelejensia. Dari surat yang hanya secarik ini, ia adalah satu-satunya wakil suara Aceh di luar negeri. Hasan Tiro akan membuka kedutaan-kedutaan Republik Islam Aceh di seluruh duniadi Amerika Serikat, Eropa, Asia, dan semua negara Islam, demikian pula di Perserikatan Bangsa-Bangsadan menelanjangi kebuasan Pemerintah Republik dan kekejaman serta pelanggarannya terhadap Hak Asasi Manusia di Aceh di depan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa mengirimkan Komisi Penyelidikan ke Aceh. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan akan dilakukan oleh pejuang Darul Islam mana pun di Indonesia, baik di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, atau di Kalimantan Selatan ketika itu. Biarlah forum internasional mengetahuinya, katanya, tentang tindakan-tindakan kekejaman yang paling keji yang dilakukan di dunia sejak zaman Jenghis Khan dan Hulagu.31 Langkah-langkah lain yang dipertimbangkan Hasan Muhammad Tiro mengadukan Pemerintah Republik Indonesia di depan PBB atas tuduhan melakukan pembunuhan massal untuk memberitahu Dunia Islam akan kekejaman yang dilakukan terhadap para alim ulama di

D. Berakhirnya Kongres, Dimulainya Persiapan Melawan


Darul Islam di Aceh adalah sebuah pemberontakan unik, ia dimulai dari sebuah konggres, dan juga berakhir melalui sebuah konggres. Perang hanyalah dianggap sebagai selingan saja, meskipun banyak darah para syuhada tumpah ruah di medan perang suci dari tahun 1953 hingga tahun 1959, bahkan hingga tahun 1962 getarangetaran dari gemuruhnya roda-roda jihad gerakan Darul Islam masih terasa di Aceh. Berperang adalah hal yang sudah biasa, namun berkonggres adalah kesempatan yang langka. Artinya, musyawarah adalah sesuatu yang paling dihormati, keputusannya-keputusannya selalu dijunjung tinggi. Bertempur bukanlah sesuatu yang ditakuti oleh rakyat Aceh, namun berkonggres adalah hajatan istimewa yang mesti dihadiri, perang pun akan dihentikan sementara jika ada undangan konggres.38 Selama bulan-bulan pertama tahun 1953 ketegangan kian memuncak di Aceh. Beredar desas-desus tentang penangkapan-penangkapan baru, rapat-rapat rahasia, dan hubungan antara Daud Beureu`eh dan Kartosoewirjo. Anggota-anggota PUSA memulai kampanye mereka untuk pemilihan umum dan pidato-pidato mereka menekankan perlu-nya otonomi daerah serta Negara Islam. Bicara negara Islam ketika itu sangat mengerikan dan bisa mendatangkan bahaya bagi siapa saja yang membicarakannya secara terbuka. Agen mata-mata bersembunyi di mana-mana, intelijen menempel di setiap sudut, bahkan dinding pun memiliki telinga di Aceh ketika itu.39
Jika kita membandingkan dengan apa yang terjadi di tahun 1976 kemudian, proklamasi Aceh Merdeka juga dimulai dari sebuah seminar, sebuah kongres, muktamar atau sejenisnya di Medan tentang Sejarah Perjuangan Rakyat Aceh sejak 1879 hingga 1910.
39 38

Wawancara dengan Tgk. Ibrahim A. Rahman, Banda Aceh, 28 Juni 2006.

Hulagu adalah cucu Jenghis Khan, yang memerintah Iran dengan tangan besi dari tahun 1251 hingga 1265.

31

260

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

109

kombinasi yang jarang terdapat: pesona dan keteguhan hati,29 lahir di Desa Lhok Rheum, Tiro, Pidie. Dalam zaman Belanda dia adalah salah seorang murid Teungku Daud Beureu`eh di Madrasah Jamiatuddiniyah Blang Paseh di Sigli, sedangkan dalam masa pendudukan Jepang dia belajar di Perguruan Normal Islam; tempat ia menjadi anak emas Said Abubakar. Sesudah proklamasi kemerdekaan ia berangkat ke Yogyakarta untuk belajar di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Dia kembali ke Aceh sebentar untuk bekerja pada Pemerintah Darurat Sjafruddin Prawiranegara. Kembali ke Yogyakarta, dia menjadi salah seorang dari dua mahasiswa Universitas Islam Indonesia yang pada tahun 1950 menerima beasiswa untuk melanjutkan pelajarannya di Universitas Columbia, Amerika Serikat. Di Amerika Serikat Hasan Mohammad Tiro selain belajar ia juga bekerja pada Dinas Penerangan Delegasi Indonesia di Perserikatan BangsaBangsa sebentar dan memiliki bisnis yang tersebar di berbagai bidang: perkapalan, pengeboran minyak dan menjadi konsultan pada beberapa perusahaan multinasional.30 Dalam paruh kedua tahun 1954 dia membuat surat protes, kombinasi antara diplomasi, kemarahan dan spirit kemanusiaan yang sangat halus yang menimbulkan hal-hal yang mengabaikan Pemerintah Republik. Ia kemudian dipecat dari kantor perwakilan diplomatik RI dan memulai suatu kerja serius untuk rakyat Aceh. Ia menyebut dirinya Menteri Berkuasa Penuh dan Dutabesar pada Perserikatan BangsaBangsa dan Amerika Serikat Republik Islam Indonesia. Dengan mewakili Negara Islam ini, ia mengirim ultimatum kepada Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo pada awal September tahun itu. Dalam ultimatum ini ia menuduh pemerintah fasiskomunis membawa bangsa Indonesia hampir ke dalam kehancuran ekonomi dan politik, kemiskinan, percekcokan, dan perang saudara, serta melakukan agresi terhadap rakyat Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah,

Nama-nama yang paling sering muncul sehubungan dengan persiapan-persiapan pemberontakan dalam masa ini adalah Daud Beureu`eh, Hasan Aly, Husin Jusuf, dan Amir Husin al Mudjahid. Dua yang akhir ini khusus mengusahakan sendiri memperoleh dukungan dari gerilyawan yang didemobilisasikan. Untuk ini mereka membentuk (Persatuan) Bekas Pejuang (Islam) Aceh (BPA). Organisasi ini dipimpin Husin Jusuf, dan Daud Beureu`eh sebagai pelindungnya. Amir Husin al Mudjahid dikabarkan telah melakukan hubungan dengan sebuah organisasi lain bekas gerilyawan, Biro Bekas Angkatan Perang, demikian pula diusahakannyamenarik bekas pejuang gerilyawan yang tidak puas di Sumatera Timur.40 Juga diadakan hubungan dengan pasukan Aceh dengan maksud menghasut mereka melakukan desersi.41 Bahwa terdapat hubupgan antara Daud Beureu`eh dan gerakan Darul Islam sebelum September 1953 sudah pasti. Tetapi kurang- dapat dipastikan, siapa yang mengambil prakarsa: pemberontak-pemberontak di Aceh atau Kartosoewirjo. Menurut sebuah laporan rahasia, Daud Beureu`eh dan Amir Husin al Mudjahid dikatakan telah pergi ke Jawa untuk berunding dengan Kartosoewirjo di Jawa Barat sesudah suatu pertemuan rahasia yang diadakan Daud Beureu`eh pada 13 Maret, yang dihadiri Amir Husin al Mudjahid, Husin Jusuf, Sulaiman Daud, Hasan Aly (Kepala Kejaksaan di Aceh, ketika itu sedang cuti resmi), Said Abubakar, dan A.R. Hanafiah (pegawai Kantor Agama Aceh Timur). Dalam pertemuan ini komplotan itu telah mengutus dua orang untuk pergi ke Jawa untuk melakukan hubungan dengan pemimpinpemimpin Darul Islam di sini.42 Menurut laporan yang sama, sekembalinya dari Jawa, Amir Husin al Mudjahid dari Jawa tinggal beberapa hari di Medan untuk menemui wakil organisasi-organisasi lainnya di
40 Informasi ini diperoleh dari sebuah laporan rahasia yang dikemukakan K. Werdojo (K. Werdoyo) selama perdebatan parlemen mengenai pemberontakan Daud Beureu`eh (Sekitar t.t.I: 302-303). 41 A.H. Gelanggang, Rahasia Pemberontakan Aceh dan Kegagalan Politik Mr. S.M. Amin, (Banda Aceh: Pustaka Murni Hati, 1956), hlm. 38. 42 Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureueh, Jilid I (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan (t.t.), hlm. 302-303.

29

J. Burham, Dispatch from a forgotten front, National Review 25 Maret 1961. 30 Ibid., hlm. 154.

110

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Operasi Militer: Pembantaian Rakyat Aceh di C ot Jeumpa, Pulot, Gunu ng Ku lu, dan 259 Djengkiz Khan. Kami akan meminta PBB mengirimkan komisi ke Atjeh. Biar rakjat Atjeh mendjadi saksi; Kami akan menuntut regima Tuan di muka PBB atas kedjahatan genocide jang tuan sedang lakukan terhadap suku bangsa Atjeh; Kami akan membawa kehadapan mata seluruh dunia Islam, kekedjaman-kekedjaman jang telah dilakukan oleh regime Tuan terhadap para alim ulama di Atjeh, Djawa Barat, Djawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Kalimantan; Kami terhadap akan mengusahakan Islam pengakuan jang dunia international de fakto

sana, seperti Masyumi dan cabang pemudanya, GPII. Daud Beureu`eh dan Kartosoewirjo tetap saling berhubungan melalui para utusan. Demikianlah Kartosoewirjo memutuskan untuk mengirim Mustafa Rasjid (Abdul Fatah Wirananggapati) ke Aceh untuk membicarakan penggabungan wilayah ini ke dalam Negara Islam Indonesia dan pengangkatan Daud Beureu`eh sebagai pemimpin Tentara Islam di Aceh. Mustafa Rasjid, nama yang sebenarnya adalah Abdul Fatah Tanu Wirananggapati, menyatakan dirinya kuasa usaha Negara Islam Indonesia untuk Aceh. Ia ditangkap ketika kembali ke Jawa pada Mei 1953. Di sini juga tertangkap seorang utusan Daud Beureu`eh.43 Pemerintah Pusat yang berusaha merahasiakan penangkapan-penangkapan ini, tidak terus menangkap Daud Beureu`eh, dan hanya menambah jumlah satuan Mobil Brigade di Aceh. Dalam pada itu, berlangsung dua kongres yang penting, April 1953. Pertama, Kongres Alim Ulama yang diadakan di Medan dari 11 sampai 15 April. Kedua, kongres untuk menilai hasil-hasil kongres Medan diadakan oleh PUSA di Langsa dari 15 sampai 29 April. Kedua pertemuan ini diketuai Daud Beureu`eh, yang dengan demikian mendapat kesempatan yang baik sekali untuk menyampaikan kepada para peserta rencananya dan membicarakan bersama mereka kemungkinan mengadakan pemberontakan. Konggres Alim Ulama di Medan, menurut Daud Beureu`eh, adalah bukti bahwa Islam lebih kompak dibanding sebelum perang. Ia menandaskan ketegangan antara kelompok muda dan kaum kolot sudah berakhir pada tahun tiga puluhan. Salah satu pertanda adanya persatuan baru ini adalah tak ditonjolkannya perbedaan-perbedaan di antara mazhab-mazhab hukum Islam. (Mazhab Syafii dominasi di Indonesia). Ia lalu membikin kami geli dengan cerita-cerita tentang guru-guru agama masa sialm yang bodoh dan percaya tahayul, yang menyatakan bahwa potongan rambut dan pakaian orang Barat itu

Republik

Indonesia,

sekarang

menguasai Atjeh, sebagian Djawa Barat dan Djawa tengah, Sulawesi Selatan dan Tengah dan sebagian Kalimantan; Kami akan mengusahakan pemboikotan diplomatik dan ekonomi international terhadap regima Tuan dan penghentian bantuan teknik dan ekonomi dari PBB, Amerika Serikat, dan Kolombo Plan; Kami akan mengusahakan bantuan moral dan material buat Republik Islam Indonesia dalam perdjuanngannja menghapus regime-teror Tuan dari Indonesia. Dengan demikian terserah kepada Tuanlah, apakah kita akan manjelesaikan pertikaian politik ini setjara antara-kita atau sebaliknja. Tuan dapat memilih tetapi kami tidak ! Apakah tindakan tindakan jang saja ambil ini untuk

kepentingan bangsa Indonesia atau tidak, bukanlah hak tuan untuk menentukannja. Allah Subhanahu wa taala dan 80 djuta rakjat Indonesialah jang akan mendjadi Hakim, jang ketengah-tengah mereka saja akan kembali didunia, dan keharibaanNja saja akan kembali di hari kemudian.

C. Hasan Mohammad Tiro


Hasan Muhammad Tiro, yang dilukiskan seorang wartawan Amerika sebagai inteligen, berpendidikan baik, dan diberkahi dengan

43 Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureueh, Jilid I (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan (t.t.), hlm. 547-553.

258

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

111

membiarkan Tuan menukarnja dengan pendjadjahan model baru !. Persoalan jang dihadapi Indonesia sesungguhnja bukan tidak bisa dipetjahkan, tetapi Tuanlah jang mentjoba membuatnja mendjadi sukar. Sebenarnja djika Tuan hari ini mengambil keputusan buat menjelesaikan pertikaian politik ini dengan djalan semestinja, jakni perundingan, maka besok hari djuga keamanan dan ketenteraman akan meliputi seluruh tanah air kita. Oleh karena itu demi kepentingan rakjat Indonesia, saja mengandjurkan Tuan mengambil tindakan berikut: Hentikan agressi terhadap rakjat Atjeh, rakjat Djawa Barat, rakjat Djawa Tengah, rakjat Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan rakjat Kalimantan; Lepaskan semua tawanan-tawanan politik dari Atjeh, Sumatera Selatan, Djawa Barat, Djawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan dan Maluku; Berunding dengan Tengku Muhammad Daud Beureu`eh, S.M. Kartosoewirjo, Abdul Kahar Muzakkar dan Ibnu Hadjar. Djika andjuran sampai kearah pada tanggal 20 September 1954, darah andjuranini tidak

haram menurut hukum Islam. Guru-guru agama yang paling konservatif masih yakin bahwa semua kebiasaan orang Barat itu terkutuk, tetapi mereka tak berani mengatakannya diluar desa mereka. Menurutnya, konservatifisme cerewet yang lazim di Aceh sampai kemarinkemarin ini, didasarkan atas kejumudan terhadap hukum Islam; kemajuan di tahun-tahun ini menjadikannya tampak dungu.44 Kedua kongres ini merupakan titik awal dari suatu gerakan luas yang meliputi seluruh Aceh, yang digunakan pemimpin-pemimpin Islam untuk mendesak rakyat memberikan suara untuk partai Islam dalam pemilihan umum yang akan datang (yang ketika itu tampaknya sudah dekat), dan untuk Islam sebagai dasar konstitusional Negara Indonesia. Di samping itu mereka mengemukakan sejumlah persoalan yang sejak lama telah menimbulkan kemarahan sebagian besar rakyat Aceh, yaitu sikap Pemerintah Indonesia yang dinyatakan anti-atau bukan-Islam, kelalaian Pemerintah terhadap Aceh, dan penggantian orang Aceh dengan orang dari luar daerah dalam pemerintahan daerah dan tentara. Dalam rapat-rapat umum dan khotbah-khotbah mereka selanjutnya menuduh orang Jawa dan orang Batak mengandung maksud untuk mengambil alih Aceh. Menurut mereka, pasukan Angkatan Darat yang dikirim ke Aceh terdiri dari bekas serdaduserdadu KNIL dan orang-orang kafir, dan mereka menyerang Soekarno karena ingin memajukan agama Hindu. Sebuah monografi tentang pemberontakan Aceh45 menyatakan, para alim ulama "dengan tegas bersumpah ... bahwa sekembalinya mereka ke daerah mereka mereka akan mengusahakan dengan sekuat tenaga untuk meyakinkan rakyat memperjuangkan Negara Islam dalam pemilihan umum yang akan datang untuk DPR dan Konstituante, dan bahwa bila kemenangan tidak tercapai dengan jalan ini, mereka tidak akan ragu-ragu menggunakan cara-cara yang melanggar hukum guna mencapai tujuan ini". Kedua kongres ini tidak hanya memberikan titik awal untuk ge-

penghentian

pertumpahan

mendapat perhatian Tuan, maka untuk menolong miliunan djiwa rakjat jang tidak berdosa jang akan mendjadi korban keganasan kekedjaman agressi jang Tuan kobarkan, saja dan putera-putera Indonesia jang setia, akan mengambil tindakan-tindakan berikut: Kami akan membuka dengan resmi perwakilan diplomatik bagi Republik Islam Indonesia di seluruh dunia, termasuk PBB, benua Amerika, Eropa dan Asia dan seluruh negara-negara Islam; Kami akan memadjukan kepada General Assembly PBB j.a.d. segala kekedjaman, pembunuhan, penganiajaan, dan lain-lain pelanggaran terhadap Human Rights jang telah dilakukan oleh regime Komunist-Fasist tuan terhadap rakjat atjeh. Biarlah forum international mendengarkan perbuatan-perbuatan maha kedjam jang pernah dilakukan didunia sedjak zamannja Hulagu dan

44 45

Boyd R. Compton, ibid., hlm. 150. Gelanggang, op.cit., hlm. 13.

112

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Operasi Militer: Pembantaian Rakyat Aceh di C ot Jeumpa, Pulot, Gunu ng Ku lu, dan 257 kejahatan politik jang se-jahat2nja jang bisa diperbuat dalam negara jang terdiri dari suku2 bangsa, bebagai halnja Indonesia, jaitu mengadu-dombakan satu suku bangsa dengan suku bangsa jang lain, mengadu-dombakan suku bangsa Kristen dengan suku bangsa Islam, dan sebagainja. Tuan mengadu suku Minahasa dengan suku Sunda, suku Sunda dengan suku Bugis, suku Djawa dengan suku Ambon, dan suku Batak Kristen dengan suku Atjeh Islam. Dan Tuan mengatakan bahwa Tuan telah memperbuat semua ini atas nama persatuan nasional dan patriotisme! Rasanja tak ada suatu tjontoh jang lebih tepat bagi pepatah jang mengatakan bahwa patriotisme itu adalah tempat perlindungan jang terachir bagi seorang pendjahat! Sampai hari ini, sembilan tahun sesudah tertjapainja kemerdekaan bangsa, sebagian besar bumi Indonesia masih terus digenangi darah dan air mata putera puterinja jang malang, di Atjeh, di Djawa Barat, di Djawa Tengah, di Sulawesi Selatan, di Sulawesi Tengah dan Kalimantan, jang kesemuanja terdjadi hanja karena Tuan ingin melakukan pembunuhan terhadap lawan-lawan politik Tuan. Seluruh rakjat Indonesia menghendaki penghentian pertumpahan darah jang maha kedjam ini sekarang djuga, dengan djalan musjawarat antara kita-sama-kita. Tetapi Tuan dan kaum Komunist lainnja, sedang terus mentjoba mengeruk keuntungan jang sebesar-besarnja dari kesengsaraan rakjat ini, dan hanja Tuan sendirilah jang terus berusaha memperpandjang agressi terhadap rakjat Indonesia ini. Dan sekarang, belum puas dengan darah jang sudah tertumpah, harta benda jang sudah musnah, ratusan ribu djiwa jang sudah melajang, Tuan sedang merentjanakan pula buat melantjarkan agressi jang lebih hebat, dahsjat dan kedjam lagi terhadap rakjat Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Djawa Barat, Djawa Tengah, Kalimantan dan Atjeh. Tetapi Tuan akan mengetahui dengan segera bahwa djiwa merdeka, harga diri, dan ketjintaan suku-suku bangsa ini kepada keadilan, tidak dapat Tuan tindas dengan sendjata apa pun djuga. Rakjat Indonesia sudah merebut kemerdekaannja dari pendjajah Belanda. Pastilah sudah mereka tidak akan membiarkan Tuan merebut kemerdekaan itu dari mereka, djuga tidak akan

rakan seluruh Aceh guna menjelaskan pandangan pemimpin-pemimpin Islam tentang Negara Islam dan menghasut rakyat memberontak terhadap Pemerintah Pusat. Juga memberikan dorongan guna memperbaharui usaha meluaskan pengaruh PUSA dalam masyarakat. Struktur organisasi PUSA diperkukuh dengan dibentuknya organisasiorganisasi massa untuk mengerahkan para pendukung. Demikianlah cabang Pemuda PUSA yang selama bertahun-tahun tidak aktif dihidupkan kembali, didirikan Persatuan Bekas Pejuang Islam yang tersebut di atas, dan PUSA memperkuat penguasaannya atas gerakan Pandu Aceh, Pandu Islam, dengan mengangkat A.G. Mutiara sebagai pemimpinnya. Ketiga organisasi ini memainkan peranan penting dalam persiapan-persiapan militer bagi pemberontakan yang akan datang. Di samping memberikan Darul Islam Aceh bagian terbesar pasukannya, mereka barsyak memudahkan perencanaan untuk aksiaksi yang terkoordinasi pada saat pemberontakan meletus dengan menyerang kota-kota utama Aceh sekaligus. Para bekas gerilyawan yang dipersatukan dalam Persatuan Bekas Pejuang Islam Aceh merupakan pasukan tempur pokok, disokong para pemuda dari Pemuda PUSA dan Pandu Islam sebagai pembantunya. Pandu Islam ini tidak hanya menjadi gerakan Pandu. Di samping latihan militer-militeran biasa, kepada para anggotanya diberikan latihan dasar militer. "Pandu Islam hari demi hari bertambah sehat dan pengikutnya makin bertambah banyak. Kemudian ternyata, para anggotanya menerima latihan militer dari prajurit-prajurit berpengalaman pilihan khusus dan diajarkan metode menyerang dan menyerbu. Latihah ini mereka terima tidak hanya siang tetapi juga malam hari".46 Sebagian dari Pandu ini, yang jumlahnya menurut taksiran Pemerintah adalah 4.000 orang,47 juga bekas gerilyawan.

E. Persiapan Pemberontakan
46 47

Gelanggang, op.cit., hlm. 18. Keterangan Pemerintah, 1953, hlm. 107.

256

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia Kepada Yth. Tuan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo Djakarta.

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

113

New York, 1 September, 1954. Dengan hormat: Sampai hari ini sudahlah lebih setahun lamanja Tuan memegang kendali pemerintahan atas tanah air dan bangsa kita. Dalam pada itu alangkah sajangnja, kenjataan2 sudahlah membuktikan bahwa Tuan, bukan sadja telah tidak mempergunakan kekuasaan jang telah diletakkan ditangan Tuan itu untuk membawa kemakmuran, ketertiban, keamanan, keadilan dan persatuan dikalangan bangsa Indonesia, tetapi sebaliknja Tuan telah dan sedang terus menjeret politik, bangsa Indonesia kelembah keruntuhan Perang ekonomi dan kemelaratan, perpedjahan, dan Saudara. Belum

pernah selama dunia terkembang, tidak walaupun dizaman pendjadjahan, rakjat Indonesia dipaksa bunuh-membunuh antara sesama saudaranja setjara jang begitu meluas sekali sebagaimana sekarang sedang Tuan paksakan di Atjeh, di Djawa Barat, di Djawa Tengah, di Sulawesi Selatan, di Sulawesi Tengah dan Kalimantan. Ataukah zaman pendjadjahan baru sudah datang ke Indonesia di mana hanja kaum Komunist jang mengetjap kemerdekaan, sedang jang lain2 harus dibunuh mati ? Lebih dari itu lagi, Tuan-pun tidak segan2 memakai politik petjah dan djadjah terhadap suku 2 bangsa diluar Djawa. Bahkan untuk menghantjurkan persatuan dikalangan suku bangsa Atjeh, Tuan-pun tidak malu2 memakai Politik Atjeh pendjadjah Belanda jang Tuan mengaku begitu membentjinja. Tetapi ketahuilah, politik kotor Tuan ini, bukan sadja sudah gagal, bahkan karenanja, kami rakjat Atjeh semakin bersatu-padu menentang tiap penindasan dari regime Komunist Fasist Tuan. Lebih rendah dari segala2nja, Tuan sekarang sedang melakukan

Dengan berjalannya persiapan-persiapan yang baik, akhirnya tibalah saatnya menentukan hari dimulainya pemberontakan. Kongres telah menghasilkan sejumlah alasan syariyah bahwa berperang melawan pemerintah dan ideologi yang zalim adalah wajib, sebuah bekal spirit yang penting. Namun, tinggal bekal logistik dan amunisi yang memang tak sulit mendapatkannya di Aceh ketika itu. Bagi orangorang Aceh, jika ada niat, maka semua amunisi sudah terbungkus rapi, siap diangkut. Maka dari titik pandangan ideologis hari yang paling cocok mestinya adalah 7 Agustus, hari Kartosoewirjo memproklamasikan Negara Islam Indonesia. Sebenarnya ada tandatanda, para pe-mimpin Darul Islam menganggap ini sebagai hari yang layak. Pada mulanya kaum pemberontak memutuskan akan mulai pemberontakan pada 7 Agustus, tetapi pikiran mereka berubah sesudah informasi sampai kepada Pemerintah Pusat.48 Wakil Presiden Mohammad Hatta, seorang Muslim yang saleh, lalu mendesak pemimpin-pemimpin gerombolan ini untuk membatalkan rencana ini. Tanggal kemungkinan yang lain disebut adalah 17 Agustus, ulang tahun pernyataan kemerdekaan Indonesia. Menurut laporan rahasia tersebut, tanggal 17 Agustus telah diputuskan pada suatu rapat 1 Agustus.49 Pada rapat ini dua belas orang, termasuk Amir Husin al Mudjahid (tetapi Daud Beureu`eh tidak)50, berkumpul di rumah Zainy

48 49

Asia Newsletter Vol.VIII.n.37,10 Oktober 1953, Sekitar t.t. I:493)

Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureueh, Jilid I (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan (t.t.), hlm. 303. 50 Di antara mereka yang disebut hadir ialah: T. Aziz (Ketua Dewan Sosial Acoh Timur) Burhanuddin (camat Langsa), Aminuddin (kepala Polisi Idi), Garbie (wedana Idi), dan Abdul Rani (camat Peureulak), sedangkan nama Hasan Aly dan A.R. Hadjat (A.R. Hajat), patih Binjai juga disebut sehubungan dengan pertemuan itu, walaupun tidak jelas apakah mereka sesungguhnya hadir atau tidak. Nama Hasan Aly, bekas Kepala Kejaksaan di Aceh dan kemudian Perdana Menteri Darul Islam dan daerah ini, juga disebut sehubungan dengan rapat persiapan ketiga. Untuk ini dibentakan, dia dan sejumlah orang lain berkumpul di rumah patih Binjai, yang kemudian menyangkal kunjungan Hasan Aly sama sekali tak ada hubungannya dengan Darul Islam, denga. mengatakan bahwa Hasan Aly hanya datang ke rumahnya untuk berkunjung sebelum berangkat ke Jakarta, karena ia dipindahkan ke kota ini. Tidak disangkal, Hasan Aly datang bersama beberapa teman, tetapi yang dibicarakan

114

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Operasi Militer: Pembantaian Rakyat Aceh di C ot Jeumpa, Pulot, Gunu ng Ku lu, dan 255

Bakri, bupati di Langsa. Juga telah disetujui pada pertemuan ini, menurut laporan ini, untuk mengundurkan awal pemberontakan sampai selambat-lambatnya pertengahan September, bila persiapanpersiapan masih belum selesai pada 17 Agustus. Untuk meredakan situasi di Aceh, dilakukan kunjungan ke daerah ini oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta. Kunjungan yang pertama berlangsung Maret 1953. Tetapi kunjungannya tidak banyak mengurangi ketegangan, karena terlalu banyak dikuasai pidatonya di Amuntai, yang juga telah menimbulkan amarah umat Muslim yang saleh di Aceh. Seperti pada kunjungannya yang terdahulu pada 1951, Soekarno disambut dengan tulisan-tulisan slogan seperti "Kami cinta presiden,tetapi kami lebih mencintai agama".51 Lebih berhasil tampaknya usaha Hatta. Selama kunjungannya, yang berlangsung pada bulan Juli, dia berunding antaranya dengan Daud Beureu`eh. Kemudian dia kembali ke Jakarta dengan kerangka pikiran yang optimistis, yakin bahwa ia telah memecahkan suatu persoalan dan bahwa keadaan masih dapat dikuasai. Daud Beureu`eh dan rekanrekannya tidak ditangkap, walaupun Pemerintah mengetahui mereka melakukan hubungan dengan Kartosoewirjo. Belakangan Partai Komunis Indonesia (PKI), partai politik yang paling mengecam pemberontakan, menyalahkan Hatta karena secara pribadi telah mencampuri urusan Pemerintah dengan memerintahkan Perdana Menteri Wilopo (yang kabinetnya jatuh pada akhir Juli) agar tidak mengambil tindakan pencegahan di Aceh. Menurut para juru bicara PKI, tidak berbeda sikap Hatta sebelum dan sesudah kunjungannya ke Aceh. Sebelum berangkat dia merasa yakin akan sanggup menghadapi masalah-masalah di Aceh. Sekembalinya, ia memberi tahu Wilopo bahwa tak akan terjadi apa-apa

gung jawab untuk perjalanan ini, dan keduanya menekankan, hal ini merupakan prakarsa pribadi. Namun, Abdullah Arif pergi ke Aceh sekali lagi untuk menemui Hasan Aly pada Februari 1956. Upaya ini pun siasia. Pemimpin-pemimpin Islam di Aceh belum tergoda oleh tawaran amnesti, sedangkan Republik menolak tuntutan kalangan Darul Islam yang dipandang sebagai pemberontak untuk berunding atas dasar pemerintah dengan pemerintah. Upaya untuk menengahi, yang tidak jelas sejauh mana hal ini disokong Pemerintah Republik di Jakarta, hanyalah menjengkelkan pemimpin-pemimpin pemberontak. Mereka ini tetap bersedia berunding, tetapi hanya atas dasar resmi. Di pihak Pemerintah Menteri Dalam Negeri dikirim ke Aceh, sedangkan wakil-wakil Staf Tentara Pusat dan Jaksa Agung pun mengunjungi daerah itu. Selanjutnya, Gubernur Sumatera Utara, S.M. Amin, memulai suatu penyelidikan. Ketika mengunjungi kedua desa itu didapatinya Cot Jeumpa seluruhnya kosong, sedangkan di Pulot Leupung semua mereka yang luput dari pembantaian telah lari ke gunung. Sesudah ini Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo memberikan keterangan kepada DPR atas nama Pemerintah dalam pertengahan April. Keterangan tentang peristiwa-peristiwa ini tidak berbeda dengan yang dikemukakan Angkatan Darat.28

B. Respon Hasan Tiro


Peristiwa Cot Jeumpa, Pulot, Krung Kala ini mendapatkan respon cepat dari seorang humanis Aceh yang bekerja di New York. Dia adalah Hasan Tiro, yang menulis surat yang sangat keras terhadap Perdana Menteri Ali Sastroamodjojo dari partai komunis yang dianggapnya tidak memiliki sense of humanity yang memadai untuk menghormati HAM di Aceh. Lihatlah, betapa geramnya Teungku Hasan Tiro dalam suratnya berikut ini:

Hasan Aly dengan teman-temannya ini, Hasan Aly tidak tahu karena mereka bicara bahasa Aceh, bahasa yang tidak diketahuinya C. van Dijk, op.cit., hlm. 233. 51 Herbert Feith, The Indonesian Election of 1955, (Ithaca, New York: Modern Indonesian Project, Cornell University, 1973), hlm. 46.

28 Bagian Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureu`eh, (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan, t.t., Jilid III), hlm. 272-442.

254 8 9

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

115

Gading Blang Mee Anzib

42 45

Meunasah Kareung Meunasah Baroh

dan ia merasa pasti, keamanan dan ketenteraman dapat dipelihara.52 Pemerintah tidak saja diserang PKI karena kekurangwaspadaannya. Partai-partai Islam pun, khususnya Masyumi, mengecam Pemerintah karena tidak bertindak sesudah mendapatkan informasi tentang keadaan sebenarnya. Sebetulnya kedua kelompok telah menunjuk kepada keresahan yang kian bertambah di Aceh, yaitu kaum komunis yang minta perhatian terhadap persiapan-persiapan untuk pemberontakan dan usaha-usaha PUSA untuk meluaskan pengaruhnya, dan se-baliknya Masyumi yang berusaha meyakinkan Pemerintah bahwa pera-saan tidak puas yang kian memuncak adalah akibat politik kebijaksanaammya sendiri yang salah. Masyumi masih mengusulkan perubahan kebijaksanaan sesudah meletusnya pemberontakan, dengan me-minta bantuan keuangan yang lebih besar untuk Aceh, penggantian pasukan dari daerah-daerah lain oleh prajurit-prajurit Aceh, dan peng-angkatan kembali pejabat-pejabat Aceh yang dulu digeser dalam jabatan militer dan sipil yang tinggi. Kalangan penguasa Pemerintah Daerah di- Sumatera Utara dan Aceh mengikuti garis Pemerintah Pusat di Jakarta dan berusaha sungguhsungguh menghilangkan kesan bahwa suatu pemberontakan sedang bergolak. Berulang kali mereka menyangkal bahwa keadaan gawat atau bahwa terjadi suatu gerakan pemberontakan. Dalam beberapa hal pernyataan ini memang dibuat karena benar-benar tidak tahu, dalam hal-hal yang lain disebabkan keinginan menenangkan pikiran rakyat, sedang. dalam hal-hal yang lain pula ada kesengajaan untuk mempedayakan pejabat-pejabat pemerintah yang lain dan menutupi macam-macam tipu daya. Pada awal September 1953 diadakan sejumlah rapat resmi untuk membicarakan situasi keamanan di Aceh. Salah satu rapat ini berlangsung di Medan pada 14 September 1953 tepatnya seminggu sebelum pemberontakan pecah. Rapat ini dihadiri Bupati Aceh Timur,

A. Respon Anggota Parlemen


Pembunuhan di Cot Jeumpa (Lhoong) dan Pulot (Leupung) menimbulkan protes hebat dari organisasi-organisasi Islam dan Aceh. Front Pemuda Aceh (FPA) mengancam akan melaporkan peristiwa ini kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa dan negara-negara Konferensi Asia-Afrika, bila tidak ditindak demi keadilan dan suatu penyelidikan harus dimulai Pemerintah. Dalam Parlemen pernyataan-pernyataan diajukan Muhammad Nur el-Ibrahimy, Amelz, dan Sutardjo Kartohadikusumo. Pembentukan suatu kabinet baru di bawah pimpinan Perdana Menteri Masjumi, dan di dalamnya PNI tidak terwakili, membuat lebih besar terdapat kemungkinan perukunan. Di samping itu, Burhanuddin Harahap diketahui menyetujui mengakhiri pemberontakan dengan cara damai. Sudah beberapa bulan sebelumnya dia sependapat dengan Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Kolonel Zulkifli LubisWakil Kepala Staf Angkatan Darat yang kontroversial ketika itusegala sesuatu harus dilakukan untuk mendapat penyelesaian politik bagi persoalan berbagai 27 pemberontakan ini. Selanjutnya ia meminta anak Teungku Daud Beureu`eh, Hasballah Daud, pergi ke Aceh berhubungan dengan bapaknya dan menawarkan amnesti kepadanya. Hasballah Daud meninggalkan Jakarta pada 5 Juli 1955 dengan surat dari Hatta dan dari Kementerian Penerangan dalam sakunya, dan disertai Abdullah Arif, seorang pegawai Kementerian Penerangan. Pada akhir Agustus dia kembali. Baik Kabinet Ali Sastroamidjojo maupun Kabinet Burhanuddin Harahap tidak secara resmi bertangZulkifli Lubis dan Burhanuddin Harahap juga terlibat dalam upaya mengadakan hubungan dengan Kartosuwirjo. Ini menjadi jelas pada Februari 1956, ketika seorang utusanyang membawa surat-surat untuk Kartosuswirjo yang memintanya agar menyetujui gencatan senjatadiciduk. Lihat, C. van Dijk, Darul islam, Sebuah Pemberontakan, (terj.), (Jakarta: Grafiti Pers, 1993).
27

52 Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureueh, Jilid I (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan (t.t.), hlm. 281-286.

116

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Operasi Militer: Pembantaian Rakyat Aceh di C ot Jeumpa, Pulot, Gunu ng Ku lu, dan 253

Zainy Bakri, Bupati Pidie, T.A. Hasan, dan Bupati Aceh Utara, Usman Azis, yang menguraikan secara singkat kepada Gubernur Sumatera Utara, Abdul Hakim, tentang keadaan dalam daerahnya masingmasing dan memberi jaminan kepadanya bahwa segalanya beres dan tidak terdapat ancaman langsung bagi keamanan. Rapat ini juga dihadiri Sulaiman Daud, penjabat residen-koordinator Aceh,53 yang beberapa minggu kemudian ternyata adalah komandan pasukan pemberontak di Aceh Besar. Pada waktu yang sama ternyata, bupati Pidie TA Hasan, dan bupati Aceh Timur, Zainy Bakri, telah menyeberang ke Darul Islam.54 Tentu saja Abdul Hakim juga menerima informasi yang bertentangan dengan pandangan yang dikemukakan para bupati. Informasi demikian disampaikan kepadanya oleh, antara lain Nja' Umar, koordinator Polisi untuk Aceh, yang menilai keadaan demikian gawat hingga ia memerintahkan penempatan pengawal di gedung-gedung pemerintah yang penting.55 Sebenarnya Abdul Hakim mungkin sungguh-sungguh lebih percaya kepada jenis informasi yang belakangan ini. Pada akhir September, ketika bebas untuk mengungkapkan keadaan yang sebenarnya, ia mengakui, suasana memang "hangat" pada Agustus, lalu keredaan menenang kembali, namun mencapai klimaks baru pada pertengahan September, ketika pemberontakan meletus.56 Pada Agustus rakyat mulai mempersiapkan diri meninggalkan Aceh atau bersembunyi. Sementara Pemerintah terus juga tidak mempedulikan peringatan-peringatan tentang bertambahnya ketegangan oleh orang dari kiri maupun dari kanan, penduduk mulai meninggalkan daerah menuju Medan dan Sumatera: Timur dalam jumlah yang besar. Kebanyakan mereka ini adalah keluarga uleebalang dan anggota
53 54

14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Beurahim Raman Amin Petua Husin Sulaiman Limah Saleh Tgk Beurahim Raoef Junus raman M. Ali Beurahim Husin Mudin leman Umar Brahim Rani Tengah Rani Ali Amin Seman Mahmud Kando

25 tahun 19 tahun 19 tahun 16 tahun 18 tahun 16 tahun 17 tahun 15 tahun 18 tahun 20 tahun 13 tahun 18 tahun 14 tahun

Birik Koeloe Mns. Birik Mns. Birik Mns. Birik Mns. Birik Mns. Birik Mns. Birik Mns. Birik Mns. Birik Mns. Birik Mns. Birik Mns. Birik Mns. Birik

Tabel 6 Daftar Nama-Nama Syuhada Korban Pembantaian di Gunung Kulu, PantonSedu, Lhoong, Aceh Besar pada Tanggal 4 Maret 1955 yang dilakukan oleh TNI, Batalyon 142, Peleton 32 dengan menggunakan senjatan Bren, 2 mobil, 2 jeep, 2 truk (sumber: suratkabar Peristiwa, 10 Maret 1955)

No. 1 2 3 4 5 6 7

Nama yang Meninggal Tgk. Mahmud Leman Muda Apa Ali Puteh Kulu Wk Leman Wk. Mud Keutjhik Ali

Umur 60 55 60 45 50 70 65

Tempat Tinggal Meunasah Tunong Meunasah Kareung Meunasah Kareung Meunasah Kareung Meunasah Baroh Meunasah Kareung Meunasah Kareung

Gelanggang, op.cit., hlm. 19-25.

Bupati ketiga, Moh. Hasan dari Aceh Tengah, ditangkap pasukan Republik ketika pemberontakan meletus.
55 56

Lihat SM Amin, Sekitar Peristiwa Berdarah di Atjeh, (Jakarta: Soeroengan, 1956).

Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureueh, Jilid I (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan (t.t.), hlm. 8.

252

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

117

Tabel 4 Daftar Yang Luka-Luka Dalam Peristiwa Pembantaian di Pulot

No.
1 2 3 4 5

Nama Korban Luka


Dullah Tgk. Agam Abd. Salam Abdullah Pw. Amat Machmoed M Ali

Umur

Tempat Tinggal
Mns. Seunia Pulot

11 tahun 11 tahun 14 tahun

Pulot Meunasah Bak Oe Lam Seunia

atau simpatisan partai-partai sekuler, terutama PKI. Tetapi anggota partai-partai Islam pun, termasuk PUSA, merasa tidak aman. Kekhawatiran akan tindakan penumpasan oleh Angkatan Darat seperti yang mereka saksikan pada Agustus 1951 meningkat ketika tersebar desas-desus, Pemerintah telah menyusun daftar nama orang Aceh ter-kemuka yang dinyatakan akan ditangkap. Menurut sementara orang, daftar ini memuat tiga ratus, menurut yang lain-lain, seratus sembilan puluh nama.57 Beberapa penulis menyatakan, daftar ini yang menjadi penyebab langsung pemberontakan. Menurut informasi yang diperoleh di Aceh, kaum politisi sayap kiri di Jakarta sebelumnya pada 1953 menyebarkan desas-desus bahwa Aceh benar-benar mengatur suatu 58 pemberontakan. Akibatnya "Djakarta" mencantumkan dalam daftar 190 orang Aceh terkemuka yang harus ditangkap. Hal ini diketahui di Aceh pada Juli 1953 belakangan ternyata bahwa daftar nama ini barangkali sengaja dibocorkan dengan tujuan tertentu. Karena orangorang Aceh terkemuka ini merasa bahwa mereka mungkin akan ditangkap, mereka memutuskan lari ke gunung pada 19 September 1953. Ini merupakan pemutusan resmi dengan Jakarta, dan awal dari apa yang disebut pemberontakan Darul Islam di Aceh." Pandangan yang sama dikemukakan Amelz dalam suatu perdebatan parlemen ketika meletus pemberontakan. Tetapi dengan mendasarkan diri pada sebuah artikel dalam tarian Indonesia Lembaga, ia menyatakan kebocoran daftar itu pada tanggal lebih belakangan, yaitu sesudah terjadi tindakan pemberontakan pertama pada 20 dan 21 September. Tetapi dia menyetujui pendapat Boland bahwa hadirnya nama mereka di daftar menyebabkan sejumlah pemimpin mengikuti pemberontakan. Mereka yang bermaksud tidak akan bertindak sebelum Pemerintah lebih dulu bertindak, kini sesudah
Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureueh, Jilid I (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan (t.t.), hlm. 263.
58 B.J. Boland, The Struggle of Islam In Modern Indonesia, (The Hague: Martinus Nijhoff, Verhandelingen KITLV, 1971), hlm. 73. 57

Tabel 5 Daftar Nama-Nama Syuhada Korban Pembantaian di Kroeng Kala, Lhoong, Aceh Besar, pada Tanggal 4 Maret 1955 yang dilakukan oleh TNI, Batalyon 142, Peleton 32 (Berdasarkan Laporan Koresponden Peristiwa, 5 dan 10 Maret 1955)

No.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

Nama yang Meninggal


Tgk. Harun Harun Muhammad Ali Leman Sikoh Ali P.U. Hasjim Minah Blang Ahmad Lampoh U Nago Hasjim Sago Zainoen S.G.B. Oesoep Nago Harun Asem

Umur
35 tahun 27 tahun 30 tahun 35 tahun 15 tahun 25 tahun 27 tahun 27 tahun 40 tahun 18 tahun 17 tahun 14 tahun 25 tahun

Tempat Tinggal
Rima Peukan Bada Tjot Djeumpa Djalan Arik Koeloe Djalan Arik Koeloe Nedjit Peukan Bada Birik Koeloe Birik Koeloe Birik Koeloe Birik Koeloe Birik Koeloe Birik Koeloe Birik Koeloe Birik Koeloe

118

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Operasi Militer: Pembantaian Rakyat Aceh di C ot Jeumpa, Pulot, Gunu ng Ku lu, dan 251

diberitahu tentang daftar itu, menurut Amelz, memutuskan untuk membelot.59 Walaupun ada benarnya penilaian Boland dan Amelz akan arti pentingnya daftar hitam ini, kedua penulis mengabaikan, atau meremehkan, perbedaan pendapat antara calon pemimpin-pemimpin Darul Islam mengenai urgensi pemberontakan bersenjata. Keyakinan yang diperlihatkan Hatta sekembalinya dari Aceh mungkin karena salah memperhitungkan posisi Daud Beureu`eh. Daud Beureu`eh dianggap Hatta sebagai pemimpin unsur-unsur yang tidak puas di daerah itu, dan dia yakin unsur-unsur ini dapat dikuasai Daud Beureu`eh. Tentu saja sangat mungkin bahwa Daud Beureu`eh dianggap sebagian besar rakyat Aceh sebagai satu-satunya orang yang pantas dan mampu memimpin pemberontakan terhadap Pemerintah Pusat. Juga benar pula, sebaliknya, Daud Beureu`eh menghadapi banyak kesulitan dalam mengendalikan orang-orang kepala batu yang tidak sabar untuk bertindak. Jadi mungkin saja pemberontakan dicetuskan oleh tindakan bersenjata yang terburu nafsu yang dilakukan pemuda-pemuda yang kena hasut dengan tujuan menyerobot senjata dari Polisi, dengan begitu memaksa melaksanakan rencana yang dibuat pada awal 1953 yang realisasinya telah ditangguhkan sesudah pembicaraan antara Hatta dan Daud Beureu`eh. Daud Beureu`eh, yang kini menyadari bahwa dia akan termasuk mereka yang pertama-tama akan ditangkap pada tanda pertama pemberontakan, lalu tidak punya pilihan lain kecuali ikut dan menerima pimpinan pemberontakan. Bahwa Daud Beureu`eh benar-benar mengalami kesulitan dalam mengendalikan kaum radikal muda diungkapkan Amelz yang menyatakan, terdapat suara-suara yang menuntut bertindak cepat terdengar dalam sebulan sebelum pemberontakan meletus. Permintaan bertindak oleh orangorang muda ini didorong keadaan yang bertambah tegang, maupun karena khawatif akan kemungkinan langkah represif dari pihak
59 Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureueh, Jilid I (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan (t.t.), hlm. 263.

40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64

Dolah Leman Agam Dolah Amin Tjalok Bintang Pulot Hasjem Gam Doli Musa Pulot Dolah Pante Harun Toke Sarong Gapi Raman Kob Him Amat Hasan Gam Blang Amad Subin Dolah Ahmad Hajem Husen Mae Riek Mud Leupoh Itam Him Idi Bunthok Musa Djuned Adam Zainun Petua Hasjem Harun Tjapik Hassan K/ Adjad Min Hassan Bile Dullah Teupin

45 tahun 20 tahun 50 tahun 50 tahun 12 tahun 35 tahun 40 tahun 35 tahun 25 tahun 50 tahun 40 tahun 11 tahun 50 tahun 11 tahun 18 tahun 40 tahun 55 tahun 35 tahun 14 tahun 11 tahun 12 tahun 40 tahun 35 tahun 20 tahun 50 tahun

Deah Mamplam Deah Mamplam Pulot Pulot Lam Seunia Pulot Meunasah Bak U Meunasah Bak U Mesdjid Pulot Pulot Meunasah Mesdjid Pulot Pulot Lam Seunia Lam Seunia Lam Seunia Deah Mamplam Deah Mamplam Deah Mamplam Meunasah Bak U Lam Seunia Peg. P.U. Lam Seunia Lam Seunia/Pulot Meunasah Pulot

Dan 4 orang lagi yang tidak dikenal namanya dengan pasti.

250
13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

119

Tgk. Ahmad Wk. Deurih Keutjhik Budiman Itam Pw. Harun Muhammad Ali Pt. Harun Agam Amik Abu Atjeh Daod Ahmad Muhammad Ali S.G.B. Abdurrahman (Puasa) Seuman Beurahim Suid Pante Seuman Rachman Junus Main (Barat) Mahmud Tgk. Hassan Him Blang Gam Him Agam Nago Amat Pintjang Amin Sani Jusuf Ahmad Hasjem Rahman Hassan Nipah Toke Suid Gam Lam Kawe Ahmad Mese Sufi Kama Utoh Mae

40 tahun 45 tahun 25 tahun 12 tahun 30 tahun 25 tahun 11 tahun 12 tahun 25 tahun 11 tahun 13 tahun 14 tahun 30 tahun 25 tahun 25 tahun 45 tahun 12 tahun 30 tahun 11 tahun 13 tahun 35 tahun 100 tahun 50 tahun 50 tahun 12 tahun 30 tahun 35 tahun

Lam Seunia Pulot Pulot Pulot Pulot Meunasah Bak U Lam Seunia Pulot Lajeun Meunasah Bak U Lam Seunia Pulot Meunasah Bak U Lam Seunia Deah Mamplam/Pulot Deah Mamplam/Pulot Mesdjid Meunasah Mesdjid Pulot Pulot Pulot Pulot Meunasah Bak U Lam Kawe Lam Seunia Meunasah Bak U Meunasah Bak U

Pemerintah.60 Tetapi pemimpin-pemimpin yang lebih tua berhasil untuk sementara waktu membungkam suara-suara ini. Teori yang menyatakan beberapa pemimpin ditangkap tak terduga-duga oleh mereka akan menjelaskan beberapa perkembangan yang terjadi pada minggu-minggu pertama sesudah ini. Walaupun tampaknya dipersiapkan secara baik, dengan serangan yang dilancarkan sekaligus pada kota-kota di seluruh Aceh, ada beberapa kenyataan yang membuktikan kekurangan persiapan tertentu dari peristiwa ini. Pada saat serangan atas pos polisi di Peureulak oleh pasukan Darul Islam yang dipimpin Ghazali Idris pada 19 September, yang menandai awal pemberontakan yang sesungguhnya, Daud Beureu`eh masih di Banda Aceh. Di samping itu, pemimpin-pemimpin lainnya belum kem-bali dari Medan tempat mereka menghadiri pesta olahraga nasional. Kongres Alim Ulama se-Indonesia, yang telah berlangsung di Medan pada bulan April 1953, di mana Teungku Muhammad Daud Beureu`eh memegang pucuk pimpinan selaku Ketua Umumnya, di antara lain dengan suara bulat dan sepakat, telah mengambil keputusan: Memperjuangkan dalam pemilihan umum yang akan datang supaya negara RI ini menjadi Negara Islam Indonesia. Demikianlah salah satu keputusan, keputusan yang harus diperjuangkan dengan segenap fikiran dengan segenap tenaga dan harta benda dan jika perlu dengan berkuah darah, seluruh ummat Islam di bawah pimpinan ulama-ulamanya harus dapat bersatu dan berjuang untuk meng-Islamkan RI ini. Sekalian Alim Ulama dan cerdik pandai yang hadir dalam Kongres di waktu itu telah berjanji dengan dirinya sendiri dan dengan Allah secara baiah (bersumpah) betapa pun susah dan sukarnya pasti segenap keputusan yang telah diambilnya itu akan dilaksanakannya. Sebagai langkah pertama para kongresisten sekembalinya ke

60 Bagian Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureueh, Jilid I (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan (t.t.), hlm.262.

120

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Operasi Militer: Pembantaian Rakyat Aceh di C ot Jeumpa, Pulot, Gunu ng Ku lu, dan 249

daerahnya masing-masing akan menyarankan dan menyampaikan segenap putusan kongres kepada umum, laki-laki dan perempuan, supaya segenap ummat Islam dapat mengetahui isi kongres tersebut untuk dijadikan pedoman manakala nanti sampai dawah kepada mereka. Begitu juga supaya tiap kaum muslimin dalam pemilihan umum yang akan datang akan memilih Islam sebagai dasar negaranya. Para ulama yang insaf dan sadar akan ketinggian Agama Islam, agama yang menjamin hidup berbahagia dunia dan akhirat, agama yang tinggi, tidak ada yang lebih wajib ditaati oleh segenap muslim yang beriman penuh kepada Allah dan Sunnah Rasul, harus dihormati, dipelihara diperjuangkan dan dipertahankan menjadi Undang-undang dasar hidup dan harus pula menjadi Undang-undang Dasar Negara. Sebab mereka telah muak menonton, melihat, betapa kakafirankekafiran ummat manusia, yang telah mencemoohkan dan menghina terus-menerus Nabi Muhammad SAW, Al Quran dirobek-robek, diinjak-injak, dijadikan bungkusan pisang-goreng, dipalsukan, dibakar, dihinakan sebagaimana perlakuan Kartawinata dan sebagainya. Malahan Pemerintah Indonesia sendiripun telah berani bertindak dengan tegas, melarang beberapa ayat Allah itu dibaca di radio RI Jakarta, dengan mencoret ayat dan hadist yang menjadi keimanan ummat Islam sedunia, dengan dikatakan mengganggu ketentraman umum, dan sebagainya. Memperhatikan juga betapa kecurangan-kecurangan alat Negara yang memeras rakyat, baik dari sudut lalu lintas, dari sudut perdagangan di berbagai jawatan. Memperhatikan juga betapa besarnya sudah berjangkit penyakit korupsi yang dimainkan pegawai negeri Tinggi, menengah dan bawahan yang membuat Negara bangkrut karenanya. Dengan dasar pertimbangan inilah para ulama telah muak dengan sistem pemerintahan. Pancasila, yang sesungguhnya telah menjadi pengetahuan umum, dan memerlukan adanya perubahan-perubahan yang sesuai dengan jiwa dari ummat yang 90% memeluk agama Islam. Para ulama dengan tegas telah berjanji bahwa untuk menyempur-

17 18 19 20 21 22 23 24 25

Mahmud Kandih Nago Baroih Nja Main Tgk. Leman Berahim Kaoh Nja Ali Idris Nja Harun Nja Leman Amin Kareung Harun Hasim

16 tahun 35 tahun 27 tahun 23 tahun 35 tahun 25 tahun 30 tahun 25 tahun 25 tahun

Tani Tani Tani Tani Jualan Jualan Jualan Tani Tani

Gampong Birek Gampong Birek Gampong Birek Gampong Birek Seungko Mulat Seungko Mulat Seungko Mulat Kareung Kareung

Tabel 3
Daftar Nama-Nama Syuhada Korban Pembantaian di Pulot, Leupung, Aceh Besar, pada tanggal 29 Februari 1955 yang dilakukan oleh TNI, Batalyon 142, Peleton 32 (Berdasarkan Laporan Abdul Wahab, Bupati/Kepala daerah Kabupaten Atjeh Besar, 3 Maret 1955)

No. Nama yang Meninggal


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Tgk. Muhammad Chalud Tgk. Muhammad Daud Tgk. Hassan Pawang Husen Pawang Hasim Pawang Ali Pawang Hassan Pawang M. Sjaref Ahmad Pawang Baharuddin (Laud) Pawang Harun Pawang M. Ali Pawang Jusuf Pukat Pari

Umur
45 tahun 50 tahun 55 tahun 40 tahun 40 tahun 27 tahun 27 tahun 25 tahun 25 tahun 40 tahun 45 tahun 35 tahun

Tempat Tinggal
Meunasah Bak U Meunasah Bak U Lam Seunia Mesdjid Mesdjid Lam Seunia Pulot Meunasah Bak U Meunasah Bak U Pulot Lam Seunia Lam Seunia

248

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Konggres Ulama Seluruh Indonesia di Medan: Persiapan-Persiapan untuk Pemberontakan

121

dikeluarkan menekankan, tidaklah mungkin membedakan gerilyawan dari penduduk desa biasa, karena para gerilyawan telah bercampur dengan rakyat setempat atau memaksa penduduk desa maju di barisan depan. Tabel-tabel di bawah ini menjelaskan secara detail betapa anak-anak telah menjadi syuhada muda, korban yang tak berdosa:
Tabel 2 Daftar Nama-Nama Syuhada Korban Pembantaian di Tjot Jeumpa, Lhoong, Aceh Besar pada Tanggal 26 Februari 1955 yang dilakukan oleh TNI, Batalyon 142, Peleton 32 (Berdasarkan Laporan Abdul Rachman Ms, Assisten Wedana Kecamatan Lhoong, 28 Februari 1955)

No. Nama yang Meninggal


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Ali Lam Beurahim Abdullah Ali Zainul Sjam Amat Lampoh U Umar Kadir Beurahim Baroih Abdul Rani Ali Husen Bileu Nja Hasjim Bn. Blang Usuh Nago Amin Husen Saleh Musa Nja Hasjim Musa Abd. Rani Leman Limah Nja Oenoh

Umur
16 tahun 16 tahun 22 tahun 18 tahun 20 tahun 25 tahun 14 tahun 25 tahun 25 tahun 14 tahun 20 tahun 25 tahun 14 tahun 25 tahun 25 tahun 16 tahun

Pekerjaan
Buruh P.U. Tani Bekas M.S.G.B. Tani Tani Tani Tani Tani Tani Tani Tani Tani Tani Tani Tani Tani

Tempat Tinggal
Gampong Birek Gampong Birek Gampong Birek Gampong Birek Gampong Birek Gampong Birek Gampong Birek Gampong Birek Gampong Birek Gampong Birek Gampong Birek Gampong Birek Gampong Birek Gampong Birek Gampong Birek Gampong Birek

nakan maksud merobah dasar Pancasila kepada dasar ke Islaman, tidak ada daya upaya yang lain selain sekembalinya ke daerah masingmasing mengajak rakyat memperjuangkan Negara Islam dalam pemilihan umum dan konstituante nanti, bahkan jika dengan itu tidak dicapai kemenangan, secara ilegal pun harus ditempuh. Mungkin dengan tekad yang bulat itulah para ulama sekembalinya ke daerahnya masing-masing lalu mengadakan rapat umum di mana-mana menyampaikan segenap keputusan Kongresnya yang baru itu. Oleh karena itulah maka terdengarlah adanya rapat-rapat umum di manamana terutama di daerah Aceh, di mana ketua umumnya sendiri Teungku Muhammad Daud Beureu`eh menjelajah seluruh daratan Tanah Rencong memaparkan keputusan Kongres Alim Ulama, di mana antara lain diajaknya agar dalam pemilihan umum nanti ummat Islam harus memilih blok Islam, jika benar-benar menghendaki adanya negara Islam. ***

Operasi Militer: Pembantaian Rakyat Aceh di C ot Jeumpa, Pulot, Gunu ng Ku lu, dan 247

karena mereka dicurigai telah menyeberang ke pihak pemberontak, dan pembunuhan serta penyiksaan para tawanan dan pendudukpenduduk desa yang tidak berdosa.26 Menurut laporan, dua peristiwa yang paling hebat adalah di Cot Jeumpa dan Pulot Leupung, dua desa dekat Banda Aceh di Aceh Besar, suatu daerah yang dianggap aman oleh Angkatan Darat, pada Februari 1955. Kedua peristiwa ini disingkapkan harian Peristiwa, yang terbit di Banda Aceh. Menurut berita Peristiwa, pasukan Republik pada 26 Februari menangkapi semua penduduk Cot Jeumpa dan menembak mati mereka semua. Peristiwa yang serupa terjadi dekat Pulot Leupung dua hari kemudian. Peristiwa mengatakan, dalam kedua kejadian ini kirakira dua ratus orang seluruhnya terbunuh, termasuk anak-anak. Tetapi versi yang dikemukakan Tentara berbeda. Dengan tidak menyangkal besarnya jumlah kematian, mereka berusaha memberi alasan dengan mengatakan, korban-korban ini semua tewas dalam pertempuran. Beberapa hari sebelum kejadian-kejadian ini, juru bicara Angkatan Darat menjelaskan, tembakan-tembakan dilepaskan terhadap sebuah truk tentara pada sebuah jembatan dekat Cot Jeumpa. Salah sebuah peluru mengenai tank bensin, truk terbakar, akibatnya lima belas prajurit mati terbakar. Jebakan itu dipasang Pawang Leman, bekas mayor pada zaman revolusi dan bekas camat setempat. Keterangan yang dikumpulkan Tentara Republik menyatakan, rakyat setempat pada hari yang nahas itu menyuruh pulang kembali semua lalu lintas kecuali truk tentara itudengan dalih bahwa jembatan putus. Menurut sumber yang sama, Pawang Leman telah menghasut rakyat untuk memulai perang sabil. Kemudian komandan pasukan Angkatan Darat setempat memutuskan menyelidiki berdasarkan keterangan ini, dan mengirimkan sebuah patroli ke Cot Jeumpa. Di sini patroli ini ditembaki dan diserang pasukan Darul Islam (dengan ini dimaksudkan rakyat setempat) dengan parang dan pisau dan harus menjawab serangan ini. Hal seperti itu terjadi di Pulot Leupung. Di sini sebuah patroli tentara diserang penduduk desa. Sebuah keterangan lain yang
26

Ibid., 81-112.

246

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

menghormati adat istiadat setempat. Dalam hubungan ini mereka diberi tahu bagaimana bersikap sopan dalam menghadapi wanita Aceh, dengan menasihatkan mereka, bila ingin kawin dengan seorang gadis setempat, agar menghubungi orang tuanya dan kerabatnya, dan mengetahui aturan-aturan yang bersangkutan lebih dahulu.23 Tetapi konflik-konflik yang terjadi bukanlah semata-mata karena ketidaktahuan. Juga terdapat peri laku menyakitkan hati yang disengaja, maupun kasus-kasus yang di dalamnya kemungkinan ada tuduhan penyiksaan dan pembunuhan. Banyak tuduhan sesungguhnya ditujukan pada Angkatan Darat yang dinyatakan melakukan kejahatan perang dan tindak-tanduk yang tidak senonoh, dan sudah pada Februari 1954 anggota Parlemen Masjumi Muhammad Nur el Ibrahimy mengusulkan agar dibentuk komisi parlemen untuk menyelidiki apa yang disebutnya tingkah laku yang kejam dan sewenang-wenang prajurit-prajurit Republik.24 Beberapa kasus menyangkut pelanggaran susila (yang ketat) dari daerah ini. Pada awal 1955 umpamanya, beberapa prajurit Minangkabau memasuki sebuah desa dekat Banda Aceh dan memerintahkan semua wanita berkumpul, kemudian celana mereka-mereka turunkan dengan memperlihatkan kemaluan mereka, dan mereka tanyakan pada para wanita ini apakah kemaluan mereka ini tidak sama indahnya dengan milik pria Aceh. Pada kesempatan lain beberapa tawanan perang Aceh dipaksa membandingkan kemaluan mereka dengan kemaluan prajurit Angkatan Darat untuk memperlihatkan kepada mereka bahwa tidak terdapat perbedaan, dan prajurit Republik pun disunat dan karena itu agar tidak dicap kafir.25 Peristiwa-peristiwa lain menyangkut perampokan oleh pasukan Republik, pembakaran rumah-rumah yang ditinggalkan pemiliknya

Bab IV

PENGHAPUSAN PROVINSI ACEH: KEGAGALAN POLITIK SOEKARNO DAN KEBERHASILAN PROPAGANDA KARTOSOEWIRJO

ebagaimana akan kita lihat di dalam uraian di bawah, ketidakmampuan atau kegagalan politik kaum birokrasi dan partai politik telah mengakibatkan bagaimana kekecewaan dan sakit hati rakyat demikian menggumpal. Haluan politik negara RI pun semakin dikuasai kaum merah, kaum komunis. Komunisme telah demikian kuat berakar di masyarakat Aceh yang terkenal dalam bahasa SM Kartosoerwirjo Islam-minded Indonesia-minded.1 SM Kartosoewirjo, menyebut Republik Indonesia dalam singkatan yang mengejek: RIK (Republik Indonesia Komunis) alias Pancasila.2 Dan di saat-saat ketidakcerdasan birokratik ini terjadi, ide-ide radikal dari SM Kartosoewirjo menyeruak
1

23 24 25

Ibid. Ibid., hlm. 124.

Lihat S.M. Kartosoewirjo, Statemen Pemerintah NII Tanggal 5 Oktober 1953 tentang Atjeh, dalam Al Chaidar, Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia, SM Kartosoewirjo, (Jakarta: darul Falah, 1999), bagian lampiran.
2 Ibid. TRI (Tentara Republik Indonesia) dalam bahasa bombastik SM Kartosoewirjo menjadi TRIK (Tentara Republik Indonesia Komunis. Dari sebutan ini, dapat disimpulkan bahwa kebencian ideologis menjadi fondasi perlawanan Darul Islam.

A.H. Gelanggang, Rahasia Pemberontakan Atjeh dan Kegagalan Politik Mr. S.M. Amin, (Banda Aceh: Pustaka Murni Hati, 1956), hlm. 94, 103.

122

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Operasi Militer: Pembantaian Rakyat Aceh di C ot Jeumpa, Pulot, Gunu ng Ku lu, dan 245

dan mempengaruhi para tokoh ulama Aceh. Ide-ide radikal dan terkadang sinis serta emosional ini menjadi hal yang sangat menarik hati kaum Islam di Aceh.3 Kejadian ini terjadi demikian cepat sehingga di Aceh yang masih belum pulih dari luka serangkaian konflik (Cumbok, Sajid Ali), dengan mudah menerima pengaruh pemikiranpemikiran radikal SM Kartosoewirjo sebagai healing anti-dote mengobati sakit hati dan frustasi. Dalam beberapa minggu penangkapan Sajid Ali terjadi konflik baru, kali ini mengenai maksud Pemerintah Pusat untuk menggabungkan Aceh ke dalam provinsi Sumatera Utara. Seperti juga "revolusi sosial" dan perbantahan mengenai pembagian kekuasaan ekonomi, politik, dan militer, perbedaan tentang status administratif Aceh tetap merupakan penyebab ketidakpuasan dan perpecahan selama bartahun-tahun. Ketidaksensitivitasan pemerintah, khususnya kalangan birokrasi, telah menggumpalkan perasaan memberontak yang begitu menggunung di kalangan rakyat Aceh. Akibat ketidak pedulian setitik, rusaklah belanga rakyat: kekeceewaan, keputusasaan, pemberontakan pun muncul di mana, bukan hanya di Aceh, melainkan di seantero Indonesia. Sebagaimana akan kita lihat di bawah ini, birokrasi eksekutif pemerintah justru melakukan hal yang tidak penting sementara hal penting tidak dilakukan. Sakit hati dan marah adalah ekspresi wajar dari ethos yang tidak cerdas seperti ini. Bahkan penentangan terhadap provinsi Sumatera Utara dan makin bertambahnya campur tangan Pemerintah Pusat dan Provinsi menjadi salah satu sebab langsung pecahnya pemberontakan Darul Islam di sini. Peristiwa DI/TII yang meletus di Aceh tahun 1953 merupakan suatu peristiwa yang cukup kompleks yang diakibatkan oleh faktor yang cukup kompleks pula. Meskipun hampir semua ahli sepakat bahwa penghapusan otonomi merupakan salah satu faktor sentral yang menyebabkan terjadinya gerakan ini, tetapi tidak semua setuju bahwa faktor penghapusan otonomi sebagai satu-satunya faktor terjadinya Peristiwa DI/TII Aceh. Dalam hal ini penulis juga sepakat
3

pejuang mujahidin-pejuang mujahidin Darul Islam di Aceh untuk menghentikan perjuangan mereka dan berunding dengan Republik telah gagal. Gubernur baru Sumatera Utara, S.M. Amin, melakukan surat-menyurat dengan pemimpin-pemimpin pejuang mujahidin yang terkemuka sejak akhir 1953. Walaupun dia sendiri bukan orang Aceh (dia sendiri seorang Batak Mandailing), hubungan Amin dengan Teungku Daud Beureu`eh dan rekan-rekannya yang akrab baik. Sebenarnya, pengangkatannya sebagai pengganti Abdul Hakim, yang menjauhi pemimpin-pemimpin Aceh dengan sikapnya, sebagian adalah karena didorong perkenalannya yang akrab dengan pemimpinpemimpin ini.21 Karena, selama masa Jepang dia menjadi kepala sekolah menengah di Banda Aceh, sedangkan kemudian dia menjadi anggota mahkamah pengadilan di Sigli bersama Usman Raliby dan Hasan Aly. Sesudah proklamasi kemerdekaan ia menjadi anggota dan kemudian, Januari 1946,-Ketua Dewan Perwakigan Rakyat Daerah Aceh. Kemudian menyusul pula pengangkatannya sebagai gubernur Sumatera Utara. Pimpinan tentara mengakui, tingkah laku yang tidak senonoh para prajuritnya sendiri menambah keberhasilan propaganda Darul Islam.22 Prajurit-prajurit dari luar daerahBatak Minangkabau, dan Jawa kadang-kadang sangat menyakitkan hati orang Aceh dengan kelakuan mereka. Untuk memperbaiki hal ini Angkatan Darat mengeluarkan perintah kepada anggotanya agar berlaku baik terhadap rakyat setempat, dengan memberikan keterangan tentang masyarakat Aceh maupun nasihat bagaimana harus bersikap dalam masyarakat ini. Demikianlah mereka dilarang memasuki masjid memakai sepatu dan main judi serta minum minuman keras, dan diperingatkan agar
21 Ketika Amin diangkat, dua puluh partai dan organisasi, di antaranya Masyumi, GPII dan Muhammadiyah mendesak agar Abdul Hakim terus menduduki jabatannya. Partaipartai yang menentang termasuk PKi, yang ingin Abdul Hakim segera dipecat. Persoalannya adalah politik agraria Abdul Hakim; PKI menyatakan dia bertanggung jawab tentang penangkapan para petani Bagian Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureu`eh, (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan, t.t., Jilid I), hlm. 369-370. 22 Ibid.

Wawancara dengan Ishak Ibrahim, Banda Aceh, 24 Juli 2006.

244

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

123

rakyat setempat atau memaksa penduduk desa maju di barisan depan. Pembunuhan di Cot Jeumpa dan Pulot Leupung menimbulkan protes hebat dari organisasi-organisasi Islam dan Aceh. Front Pemuda Aceh mengancam akan melaporkan peristiwa ini kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa dan negara-negara Konferensi Asia-Afrika, bila tidak ditindak demi keadilan dan suatu penyelidikan dimulai Pemerintah. Dalam Parlemen pernyataan-pernyataan diajukan Muhammad Nur el Ibrahimy, Amelz, dan Sutardjo Kartohadikusumo. Di pihak Pemerintah Menteri Dalam Negeri dikirim ke Aceh, sedangkan wakil-wakil Staf Tentara Pusat dan Jaksa Agung pun mengunjungi daerah itu. Selanjutnya, gubernur Sumatera Utara, S.M. Amin, mulai penyelidikan. Ketika mengunjungi kedua desa itu didapatinya Cot Jeumpa seluruhnya kosong, sedangkan di Pulot Leupung semua mereka yang luput dari pembantaian telah lari ke gunung. Sesudah ini Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo memberikan keterangan kepada DPR atas nama Pemerintah dalam pertengahan April. Keterangan tentang peristiwa-peristiwa ini tidak berbeda dengan yang dikemukakan Angkatan Darat.19 Pasukan Darul Islam sendiri juga dituduh melakukan kejahatan dan pembantaian besar-besaran. Demikianlah dinyatakan, mereka telah membunuh lebih dari 200 tawanan di dekat Lammeulo, daerah tempat mulainya revolusi sosial, ketika dipaksa mundur ke sini Oktober 1953. Bicara tentang peristiwa yang sama ini, komisi parlemen melaporkan terbunuhnya secara keji 123 anggota PNI, 120 anggota PKI dan 28 anggota Perti sesudah kunjungannya ke Aceh.20 Peristiwa yang menyangkut pasukan Republik digunakan mereka yang menyetujui penyelesaian damai untuk mendesak sekali lagi diadakan perundingan dan diberikan konsesi kepada beberapa tuntutan kaum pejuang mujahidin. Sejauh ini upaya untuk meyakinkan

dengan kelompok yang disebutkan terakhir, dengan alasan terdapat selisih waktu yang cukup lama (sekitar 3 tahun) antara penghapusan otonomi dengan meletusnya DI/TII. Penulis berpendapat bahwa di samping penghapusan otonomi yang telah berakibat pada kekecewaan yang cukup dalam pemimpin Aceh dan telah menimbulkan ketegangan hubungan Aceh dengan Pemerintah Pusat, juga akibat-akibat yang ditimbulkan setelah penghapusan otonomi yang dalam banyak aspek sangat merugikan masyarakat Aceh yang semakin memicu meletusnya DI/TII. Untuk mendukung pendapat tersebut akan diuraikan peristiwa-peristiwa yang terjadi di Aceh menjelang meletusnya Gerakan DI/TII.

A. Penghapusan Status Provinsi Aceh dan Reaksi Masyarakat Aceh


Setelah Negara Kesatuan terbentuk kembali pada tahun 1950 dan pemerintah mengadakan penyederhanaan administrasi pemerintahan, maka beberapa daerah mengalami penurunan status. Salah satu di antaranya adalah Aceh yang diturunkan statusnya dari daerah istimewa4 menjadi Keresidenan di bawah provinsi Sumatra Utara.5 Keputusan membubarkan Provinsi Aceh itu akibat persetujuan antara RI dan RIS untuk membentu negara kesatuan, sehingga lahir PP No. 21 Tahun 1950 tanggal 20 Agustus 1950 yang menetapkan bahwa Indonesia terdiri atas 10 provinsi, 3 provinsi di antaranya di Sumatra yaitu Provinsi Sumatra Utara, Provinsi Sumatra Tengah dan Provinsi Sumatra Selatan. Akibatnya, Provinsi Aceh harus dilebur ke dalam
Provinsi Aceh terbentuk berdasarkan Ketetapan Pemerintah Darurat Republik Indonesia, dalam bentuk peraturan Wakil Perdana Menteri pengganti Peraturan Pemerintah tanggal Kutaraja, 17 Desember 1949 No. 8/Des/W.K.P.M., dengan Tgk. M. Daud Beureu`eh sebagai Gubernur. Lihat S. M. Amin, Kenang-Kenangan dari Masa Lampau, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1978), hlm. 82-83. Lihat juga T. Ibrahim Alfian, Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah, (Banda Aceh: PDIA, 1999), hlm. 214.
5 Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia IV, (Jakarta: Depdikbud dan Balai Pustaka, 1993), hlm. 271. 4

Bagian Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureu`eh, (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan, t.t., Jilid III), hlm.272-442.
20

19

Ibid., hlm. 149.

124

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Operasi Militer: Pembantaian Rakyat Aceh di C ot Jeumpa, Pulot, Gunu ng Ku lu, dan 243

Provinsi Sumatra Utara dengan ibukota Medan.6 Sebelum kebijakan tersebut diimplementasikan pada bulan Maret 1950 Pemerintah Pusat di Yogyakarta mengirimkan sebuah Panitia Penyelidik yang diketuai Menteri Dalam Negeri Mr. Susanto Tirtoprodjo untuk mengadakan penyelidikan di Aceh. Pada tanggal 13 Maret 1950 diadakan pertemuan dengan instansi-instansi pemerintah daerah. Hadir dalam pertemuan tersebut adalah Gubernur Aceh Tgk. M. Daud Beureu`eh, Residen T. M. Daud Syah, Ketua DPR Provinsi Aceh Tgk. Abdul Wahab, anggota-anggota Dewan Pemerintahan Daerah Provinsi Aceh T. M. Amin, O.K.H. Salamuddin, A.R. Hasyim, Abdul Gani, Ketua DPR Kabupaten Aceh Besar Zaini Bakri, Bupati Aceh Besar T.A. Hasan, dan Kepala Kejaksaan Hasan Ali. Dalam pertemuan tersebut Menteri Dalam Negeri menyatakan bahwa Pemerintah Pusat belum menetapkan adanya Provinsi Aceh dan maksud kedatangan panitia adalah untuk mengumpulkan bahan guna dijadikan pertimbangan perlu tidaknya diadakan Provinsi Aceh. Menurutnya hal ini sangat penting dilakukan Pemerintah karena ketika Ketetapan Wakil Perdana Menteri mengenai pembentukan Provinsi Aceh diserahkan kepada Parlemen, beberapa anggota parlemen menyatakan tidak menyetujuinya.7 Pertemuan antara Menteri Dalam Negeri dengan instansi-instansi pemerintahan di Aceh8 tersebut menimbulkan suasana yang sangat tegang dan tidak mencapai suatu hasil. Hampir semua unsur Pemerintahan Aceh yang hadir bersikeras untuk tetap mempertahankan status Provinsi Aceh. Gubernur Tgk. M. Daud Beureu`eh dengan tajam mengemukakan antara lain bahwa keinginan rakyat Aceh untuk me-ngatur rumah tangganya sendiri, sudah
6

netral, dapat ditarik ke pihak pemberontak karena dakwah yang mereka lakukan. Menurut laporan, dua peristiwa yang paling hebat adalah di Cot Jeumpa dan Pulot Leupung, dua desa dekat Banda Aceh di Aceh Besar, suatu daerah yang dianggap aman oleh Angkatan Darat, pada Februari 1955. Kedua peristiwa ini disingkapkan harian Peristiwa, yang terbit di Banda Aceh. Menurut berita Peristiwa, pasukan Republik pada 26 Februari menangkapi semua penduduk Cot Jeumpa dan menembak mati mereka semua. Peristiwa yang serupa terjadi dekat Pulot Leupung dua hari kemudian. Peristiwa mengatakan, dalam kedua kejadian ini kira-kira dua ratus orang seluruhnya terbunuh, termasuk anak-anak. Tetapi versi yang dikemukakan Tentara berbeda. Dengan tidak menyangkal besarnya jumlah kematian, mereka berusaha memberi alasan dengan mengatakan, korban-korban ini semua tewas dalam pertempuran. Beberapa hari sebelum kejadian-kejadian ini, juru bicara Angkatan Darat menjelaskan, tembakan-tembakan dilepaskan terhadap sebuah truk tentara pada sebuah jembatan dekat Cot Jeumpa. Salah sebuah peluru mengenai tank bensin, truk terbakar, akibatnya lima belas prajurit mati terbakar. Jebakan itu dipasang Pawang Leman, bekas mayor pada zaman revolusi dan bekas camat setempat. Keterangan yang dikumpulkan Tentara Republik menyatakan, rakyat setempat pada hari yang nahas itu menyuruh pulang kembali semua lalu lintaskecuali truk tentara itudengan dalih bahwa jembatan putus. Menurut sumber yang sama, Pawang Leman telah menghasut rakyat untuk memulai perang sabil. Kemudian komandan pasukan Angkatan Darat setempat memutuskan menyelidiki berdasarkan keterangan ini, dan mengirimkan sebuah patroli ke Cot Jeumpa. Di sini patroli ini ditembaki dan diserang pasukan Darul Islam (dengan ini dimaksudkan rakyat setempat) dengan parang dan pisau dan harus menjawab serangan ini. Hal seperti itu terjadi di Pulot Leupung. Di sini sebuah patroli tentara diserang penduduk desa. Sebuah keterangan lain yang dikeSuarkan menekankan, tidaklah mungkin membedakan gerilyawan dari penduduk desa biasa, karena para gerilyawan telah bercampur dengan

Hasan Saleh, Mengapa Aceh Bergolak, ( Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1992), hlm. S. M. Amin, op. cit., hlm. 86.

127.
7 8

Semua unsur vital Pemeritahan Provinsi Aceh saat itu dipegang oleh aktivis Persatuan Ulama Seluruh Aceh. Lihat M. Isa Sulaiman, Sejarah Aceh, Sebuah Gugatan Terhadap Tradisi, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1997), hlm. 222.

242

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

125

masih menghadapi kegiatan-kegiatan Darul Islam, yang sesudah 1954 menjadi sering lagi. Di Aceh Barat, Tengah, dan Timur pundaerahdaerah yang dianggap Pemerintah Repubtik relatif amanDarul Islam menjadi lebih aktif, sebagian akibat kemarahan terhadap tingkah laku pasukan Republik dan sebagian karena gerakan pasukan Tentara Islam. Pada awal 1955 Hasan Saleh pindah dari Pidie ke Aceh Barat. Sesudah meninggalkan saudaranya Ibrahim Saleh memimpin di sini, dia lalu terus ke Aceh Timur, dengan tujuan terakhir Tapanuli. Pasukannya di Aceh Timur diperkuat satuan-satuan yang dipimpin Banda Chairullah, yang juga berasal dari Pidie. Pasukan lain dari Pidie, yang dipimpin A.G. Mutiara, masuk di Aceh Barat.17 Lebih daripada sebelumnya, Darul Islam di Aceh kini juga berusaha merugikan Pemerintah Republik secara ekonomis. Bukan saja mereka terus melakukan upaya mengganggu perhubungan, tetapi juga menujukan serangan pada bermacam perkebunan dan perusahaan industri. Sejumlah perkebunan damar di Aceh Tengah diserang dan dibakar. Di Aceh Timur ladang-ladang minyak menjadi sasaran serangan kaum pemberontak. Gerilyawan mencatat salah satu hasilnya yang terbesar pada Maret 1955, ketika meleka menyerang Pelabuhan Kuala Langsa, dengan membakari semua gudang (hanya gudang KPM yang luput secara misterius), dan mengakibatkan banyak sekali kerugian.18 Sulit sekali Tentara Republik menumpas kegiatan-kegiatan gerilyawan. Pada 1956 Komando Militer Sumatera Utara terpaksa mengakui, semangat tentara pemberontakyang kekuatannya ditaksir 1.400 orangtinggi, musuh mempunyai pendukung dan simpatisan di hampir setiap desa. Di Aceh, demikian dinyatakan, satu syarat utama untuk melakukan perang gerilya dengan berhasil terpenuhi, yaitu dukungan rakyat setempat. Bahkan orang-orang yang pada mulanya menentang Negara Islam Indonesia, atau bersikap
17

disampaikan kepada Pemerin-tah Pusat melalui Wakil Presiden Mohd. Hatta yang kebetulan sedang berada di Kutaraja pada Bulan Nopember. Wakil Presiden menyatakan persetujuannya memberikan otonomi kepada daerah Aceh. Gubernur melanjutkan bahwa apalagi Provinsi Aceh telah berdiri dan kami ingin supaya Provinsi ini tetap berdiri.9 Ketua DPR Provinsi Tgk. Abdul Wahab dengan penuh emosi mengatakan bahwa Aceh berjiwa Islam, Telah banyak jiwa dan harta kami korbankan dalam mengadakan revolusi mengejar kemerdekaan. Pendapat dengan penuh emosi dan mengandung ancaman dikemukakan oleh Ketua DPR Kabupaten Aceh Besar Zaini Bakri, yaitu Jikalau Aceh tidak menjadi daerah Provinsi, mungkin Pemerintah Pusat tidak akan dapat mengatasi kesulitan-kesulitan yang mungkin terjadi.10 Sekitar lima bulan berlalu setelah pertemuan rombongan Menteri Dalam Negeri dengan Pemerintahan Daerah Aceh yang menegankan tersebut, belum juga ada keputusan Pemerintah Pusat mengenai persoalan Provinsi Aceh. Sebaliknya, Provinsi ini sendiri berjalan dengan memuaskan. Gubernur, Dewan Perakilan Daerah, dan Dewan Pemerintahan Daerah menjalankan tugas masing-masing seperti biasa, seakan-akan tidak ada sesuatu hal yang yang menjadi persoalan bagi kelanjutan hidup Provinsi ini. Meskipun demikian, pimpinan-pimpinan Pemerintah Daerah tetap gelisah selama belum ada pengesahan Provinsi oleh Pemerintah Pusat. Untuk mendapatkan kepastian tersebut, pada tanggal 12 Agustus 1950 Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi mengadakan sidang dang mengeluarkan Mosi dengan tuntutan Aceh minta tetap jadi provinsi sendiri, dengan berbagai pertimbangan, yaitu pengetahuan, ekonomi, geografi, sosiologi, agama, kebudayaan, politik, dan keuangan. Aceh berlainan
9

Ibid., hlm. 130, 132.

S. M. Amin, loc. cit. Ibid., hlm. 86-87.

18 A.H. Gelanggang, Rahasia Pemberontakan Atjeh dan Kegagalan Politik Mr. S.M. Amin, (Banda Aceh: Pustaka Murni Hati, 1956) hlm. 115-119.

10

126

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Operasi Militer: Pembantaian Rakyat Aceh di C ot Jeumpa, Pulot, Gunu ng Ku lu, dan 241

kepentingan dengan Sumatera Timur dan Tapanuli, berlainan adat istiadat, berlainan agama dengan Tapanuli Utara. Hal-hal ini dapat menimbulkan masallah-masallah yang bersifat perentanganpertentangan dalam rumah tangga di mana ter-masuk Aceh, Tapanuli dan Sumatera Timur. Kami menuntut rumah tangga Aceh sendiri, di mana kami dapat mengurus hal-hal dan kepen-tingan-kepentingan kami tanpa dihalang-halangi oleh anggota-ang-gota rumah tangga yan berlainan pandangan hidup, adat istiadat, agama, dan kepercayaan.11 Melihat kegelisahan masyarakat Aceh Pemerintah Pusat mengirim rombongan kedua dengan tugas meneliti perkembangan keadaan di Aceh, sehubungan dengan persoalan Provinsi Aceh ini, tiba di Kutaraja pada tanggal 26 September 1950. Rombongan yang dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri Mr. Assaat ini terdiri atas Menteri Keuangan Mr. Syafruddin Prawiranegara, Acting Gubernur Sumatera Utara Sarimin Reksodihardjo, Anggota Persiapan Pembentukan Provinsi Sumatera Utara Residen T. M. Daud Syah, Komisaris Besar Polisi Darwin Karim, Kepala Polisi Sumatera S. Suparto, dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera Amelz dan Tgk. M. Nur El Ibrahimy. Delegasi ini mengadakan petemuan dengan pejabat-pejabat Pemerintah Aceh yang terdiri atas Gubernur Tgk. M. Daud Beureu`eh, Bupati-bupati, wakil-wakil Kepala Negeri, wakil-wakil Jawatan Agama Kenegerian, petugas-petugas Jawatan Agama, Ulama, dan pemimpin-pemimpin terkemuka.12 Pertemuan kedua ini juga tidak mencapai titik temu antara kedua belah pihak. Para pemimpin Aceh tetap berupaya mempertahankan status provinsi bagi Aceh, yang malahan beberapa pembicara dengan rasa marah dan disertai dengan ancaman seperti Tgk. Amir Husin Al Mujahid dengan ucapan di dalam soal Provinsi Aceh, saudara-saudara yang bukan warga Aceh jangan campur tangan, dan Zaini Bakri dengan ucapan jika otonomi tidak akan diberikan, barangkali saya sen-

Aceh Besar (di sini kaum pemberontak bergerak hanya beberapa mil dari Banda Aceh), Kabupaten Pidie (tempat Teungku Daud Beureu`eh memusatkan pemerintahan sipil dan militernya), Kabupaten Aceh Utara dan daerah Takengon di Aceh Tengahdaerah-daerah tempat kaum pemberontak yang paling kuatdilanjutkan bantuan militer. Di daerah-daerah yang belakangan ini Darul Islam tetap sangat aktif. Di desa-desa di bawah pengawasannya ini mereka menetapkan pajak dalam beberapa hal juga dikenakan pada guru-guru sekolah dan para pejabat Pemerintah Republik yang terus bekerja , melakukan pencatatan perkawinan dan perceraian, dan pada umumnya menjalankan hukum, mengadili kasus-kasus kejahatan rutin dan kasus-kasus yang merupakan pelanggaran syariat Islam, seperti membatalkan puasa, dan kadang-kadang juga menjatuhkan hukuman pada mereka yang ragu-ragu mengambil keputusan apakah memihak Negara Islam atau memihak Republik Indonesia.15 Dari posisi mereka di gunung-gunung dan hutan-hutan kaum pemberontak terus juga mengganggu lalu lintas dan menyerang patroli dan pos-pos tentara, dengan beroperasi dalam kelompokkelompok yang kadang-kadang terdiri dari beberapa ratus orang. Sekali-sekali mereka lakukan pula serangan pada kota-kota kecil dan besar. Pada kunjungan komisi parlemen ke Aceh pada Januari 1954 para anggotanya sempat mencatat beberapa kali tembak-menembak di sekitar Banda Aceh dan Sigli. Selama komisi tinggal di Banda Aceh kaum pemberontak melemparkan bom-bom pembakar dan berusaha mengadakan pembakaran di dalam kota.16 Pada 17 Agustus 1954, pasukan Darul Islam memasuki dan menduduki Lamno, yang dikuasai selama dua hari. Sekitar waktu yang sama mereka menyerang Seulimeum, juga di Aceh Besar. Tahun berikutnya kaum pemberontak berusaha memasuki Idi dan menembaki Sigli. Serangan terhadap Idi merupakan satu petunjuk bahwa juga daerah-daerah lain Aceh ini
Bagian Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureu`eh, (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan, t.t., Jilid III), hlm.103.
16 15

11 12

Ibid., hlm. 87-88. Ibid., hlm. 88-89.

Ibid., hlm. 105.

240

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

127

mereka bahwa tidak terdapat perbedaan, dan prajurit Republik pun disunat dan karena itu agar tidak dicap sebagai kafir.12 Peristiwa-peristiwa lain menyangkut perampokan oleh pasukan Republik, pembakaran rumah-rumah yang ditinggalkan pemiliknya karena mereka dicurigai telah menyeberang ke pihak pejuang mujahidin,13 dan pembunuhan serta penyiksaan para tawanan dan penduduk-penduduk desa yang tidak berdosa.14 Di Lhokseumawe juga banyak syuhada DI yang syahid ditembak oleh TRI dan Mobrig. Di Geudong, Aceh Utara, di ujung jembatan Geudong, juga banyak syuhada bergelimpangan menemui ajalnya karena ditembak oleh pasukan dengan senjata lengkap. Sementara rakyat hanya bersenjatakan pedang, parang cikok, klewang dan pisau dapur tetap melakukan perlawanan. Hasilnya tentu tidak sebanding. Sebanyak kurang lebih 100 atau 90 orang menemui kesyahidannya. Sementara dari pihak TRI hanya luka-luka ringan seorang. Pemerintah dikecam tentang ketidakamanan Aceh maupun kelakuan pasukan yang tidak senonoh di sini. Walau pun aksi-aksi militer ada hasilnya, keadaan jauh dari memuaskan. Hasil operasioperasi Angkatan Darat dan Brigade Mobil demikian rupa hingga pada pertengahan 1954 hampir setengah dari Aceh cukup aman untuk bisa menarik bantuan militer dan menyerahkan pemeliharaan hukum dan ketertiban kepada Angkatan Kepolisian daerah. Hanya di Kabupaten
A.H. Gelanggang, Rahasia Pemberontakan Atjeh dan Kegagalan Politik Mr. S.M. Amin, (Banda Aceh: Pustaka Murni Hati, 1956), hlm 94 dan 103. Sebutan mujahidin juga diberikan oleh oleh para tentara TRI terhadap para pejuang DI di Aceh. Artinya, jihad orang-orang DI secara sadar atau tidak telah diakui sebagai perang di jalan Allah meskipun mereka berperang di jalan diseberangnya. Sebutan gerombolan, pengacau liar, pemberontak, perusuh, pengganggu keamanan, perusak ketertiban, dll masih juga sering dialamatkan kepada para pejuang Darul Islam di barisan Teungku Daud Beureu`eh, bersisian dengan imam SM Kartosoewirjo. Namun, para pejuang DIAceh tak pernah merisaukan sebutan-sebutan dari tentara Pancasila. Wawancara dengan Tgk. Ibrahim, banda Aceh, 28 Juni 2006.
14 13 12

diri tidak akan bisa bertangung jawab dalam Kabupaten Aceh Besar ini. Sebaliknya, Pemerintah Pusat mencoba meyakinkan para pemimpin Aceh bahwa mereka berada pada posisi yang sulit sebagaimana ucapan Mr. Syafruddin Prawiranegara, Pemerintah Pusat mempunyai beban yang berat sekali untuk menetapkan apakah Aceh tetap sebuah provinsi. Beban Pemerintah Pusat akan bertambah ringan jika Aceh masuk Provinsi Sumatera Utara ... bahwa yang sekarang menjadi Per-dana Menteri adalah seorang Islam, seorang Ulama pula. Dalam ke-adaan sebagai ini tentu kedudukan Agama Islam akan cukup menda-pat perhatian beliau.13 Akhirnya Menteri Dalam Negeri Mr. Assaat memberi tanggapan dan kesimpulan bahwa alasan-alasan Agama, Adat istiadat, Kebudayaan, Perjuangan dan Pengorbanan tidak dapat menjadi alasan-alasan untuk menuntut otonomi bagi daerah Aceh; oleh karena daerah-daerah lain dapat juga memajukan alasan-alasan yang demikian dan bila otonomi diberikan atas alasan-alasan tersebut, pasti banyak daerahdaerah lain yang juga akan menuntut otonomi dengan alasan-alasan yang sama.14 Tanggapan ini semakin membuat para pemimpin Aceh tidak puas. Dengan demikian kedatangan rombongan Mr. Assat sebagai utusan Perdana Menteri Natsir tersebut bukan saja tidak membawa hasil, malah menambah panas suasana.15 Dalam suasana yang semakin panas tersebut kelompok bangsawan (uleebalang) yang banyak melarikan diri ke luar Aceh, terutama Medan dan Jakarta, setelah Revolusi Sosial tahun 1946 sebaliknya men-dukung kebijakan Pemerintah Pusat untuk menghapus satatus Provinsi Aceh. Di bawah komando T.A. Rahman Muli dan T. Teungoh Hanafiah, dua orang bangsawan yang sangat menderita akibat Revolusi Sosial bangkit untuk menyerang pendukung otonomi yang sesungguhnya adalah lawan politik mereka. Said Ali dan
13 14 15

Ibid., hlm. 89-90. Ibid. Hasan Saleh, op. cit., hlm. 131.

Gelanggang, Ibid., hlm. 81-112.

128

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Operasi Militer: Pembantaian Rakyat Aceh di C ot Jeumpa, Pulot, Gunu ng Ku lu, dan 239

T. Syamaun Latif yang berada dalam pengasingan di Medan membongkar kecurangan politik di Aceh yang dimuat dalam suratkabar Rakyat tanggal 9 Februari 1950. Thusnisah yang juga di Medan menerbitkan sebuah brosur berjudul Suasana Atjeh I pada bulan Mei 1950. Brosur berbahasa Aceh dengan langgam hikayat itu membeberkan kejelekan-kejelekan tokoh-tokoh pendukung otonomi, seperti T. M. Daud Beureu`eh, T.M. Amin, Tgk. A. Husin Almujahid dan Abdullah Arief selama berkuasa di Aceh. Masyarakat Aceh yan telah Rusak, dirusak oleh orang-orang yang hendak tetap memperoleh kekuasaan setelah merampas dengan jalan menipu rak-yat jelata ... tulis T. Teungoh Hanafiah dalam upaya menjatuhkan reputasi pendukung otonomi di mata rakyat.16 Ketidak setujuan golongan bangsawan terhadap status otonomi tiba-tiba mendapat dukungan dari dua orang ulama berpengaruh di negeri Meuraksa, Aceh Besar, Tgk. A. Salam Meuraksa dan Tgk. Makam Gampong Blang. Pada bulan September secara gamblang mereka mengeluarkan pernyataan bahwa mereka mendukung pembubaran Provinsi Aceh kepada Pemerintah Pusat. Pernyataan tersebut cukup mengejutkan pendukung otonomi, sehingga mereka terpaksa menggunakan saluran partai politik atau organisasi massa untuk membuat mosi tandingan pada tanggal 10 Oktober 1950.17 Selain itu para buruh dan karyawan perkebunan di Aceh Timur dan Aceh Tengah juga ikut mendukung penghapusan otonomi bagi Aceh. Di Aceh Timur, terutama di Tamiang, buruh perkebunan asal pendatang merasa tidak puas terhadap milisi yang menderes getah per-kebunan, pembayaran gaji yang tidak teratur oleh administratur kebun dan retribusi getah yang diberlakukan oleh Wedana setempat Ishak Amin, mantan pemimpin Pesindo, yang mencapai 12,5-20%. Para buruh baik melalui organisasinya Serikat Buruh Perkebunan Republik
16 17

perantaan kami (Kementerian Dalam Negeri Djakarta).9 Selanjutnya, para aparat juga menggunakan Peraturan Pemerintah R.I.S No. 10 tahun 1950 tentang oorlogs-risico.10 Tetapi konflik-konflik yang terjadi bukanlah semata-mata karena ketidaktahuan. Juga terdapat peri laku menyakitkan hati yang disengaja, maupun kasus-kasus yang di dalamnya kemungkinan ada tuduhan penyiksaan dan pembunuhan. Banyak tuduhan sesungguhnya ditujukan pada Angkatan Darat yang dinyatakan melakukan kejahatan perang dan tindak-tanduk yang tidak senonoh, dan sudah pada Februari 1954 anggota Parlemen Masjumi Muhammad Nur el Ibrahimy mengusulkan agar dibentuk komisi parlemen untuk menyelidiki apa yang disebutnya tingkah laku yang kejam dan sewenang-wenang prajurit-prajurit Republik.11 Beberapa kasus menyangkut pelanggaran susila (yang ketat) dari daerah ini. Pada awal 1955 umpamanya, beberapa prajurit dari Batalyon 142 (Sumatera Barat) memasuki sebuah desa dekat Banda Aceh dan memerintahkan semua wanita berkumpul, kemudian celana mereka-mereka turunkan dengan memperlihatkan kemaluan mereka, dan mereka tanyakan pada para wanita ini apakah kemaluan mereka ini tidak sama indahnya dengan milik pria Aceh. Pada kesempatan lain beberapa tawanan perang Aceh dipaksa membandingkan kemaluan mereka dengan kemaluan prajurit Angkatan Darat untuk memperlihatkan kepada
9

Salinan Surat Kementerian Dalam Negeri Djakarta, tanggal 9 Mei 1953, No. Pem.

75/3/5. Peraturan ini mengatur tentang negara dalam keadaan darurat perang, di mana menurut artikel 13 ayat 8 kerugian hanya diberikan terhadap pengambilan barang-barang untuk dimiliki dan pengambilan untuk dipakai, sementara menurut Lembaran negara RIS No. 10, tahun 1950 pasal 1 menyebutkan perbuatan guna siasat pertahanan negara oleh karena barang dihancurkan seanteronya atau buat sebagian atau tidak dapat dipakai lagi, tidak termasuk dalam pengertian pengambilan untuk dimiliki atau tidak dapat dipakai lagi, sehingga tidak termasuk dalam pengertian tersebut, maka terhadap pembumihangusan rumah tersebut tidak dapat dimintakan penggantikerugian.
11 Bagian Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureu`eh, (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan, t.t., Jilid III), hlm. 124. 10

M. Isa Sulaiman, op.cit. hlm. 226-227. Ibid. hlm. 228.

238

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

129

AURI 34 35 Kesatuan dari Polisi Kesatuan dari BRIMOB (Mobrig) 36 Resimen-I (t.a.d) Kesatuan organik KDMA/ (t.a.d) (t.a.d)

Indonesia (Sebupri) dan Barisan Tani Indonesia (BTI) maupun melelui pemimpn mereka Arsyad Lubis dan A. W. Sutan Palembang juga melakukan reaksi dengan menjual paksa getah untuk menutupi gaji buruh, petisi dan membuat surat terbuka yang isinya juga mengecam otonomi yang sedang diperjuangkan yang dimuat dalam surat kabar Waspada terbitan Medan tanggal 30 Agusus 1950.18 Suara kelompok pendukung penghapusan otonomi ini ternyata telah menjadi salah satu alasan yang semakin memperkuat kebijakan Pemerintah Pusat untuk menghapus Provinsi Aceh. Hal ini sebagaimana termaktub dalam ucapan Mr. Moh. Rum di Aceh juga terdapat suara golongan raja-raja yang menyetujui dibuarkannya Provinsi Aceh, malahan meminta agar Keputusan Pemerintah Pusat itu segera direali-sasikan, sambil memperlihatkan setumpuk surat kepada Hasan Sab19 dan rombongan.20 Pada tanggal 14 Agustus 1950, sekitar delapan bulan setelah Provinsi Aceh dibentuk dengan Peraturan Wakil Perdana Menteri, provinsi inipun dibubarkan Pemerintahan Acting Presiden Mr. Assaat yang masih berkedudukan di Yogya melalui PP Pengganti UU No. 5 Tahun 1950. Padahal dua hari sebelumnya DPRD Aceh secara aklamasi telah mengeluarkan pernyataan untuk tetap mempertahankan Provinsi Aceh, dan apabila hal ini tidak dikabulkan, seluruh putra-putri Aceh yang duduk dalam pemerintahan akan meletakkan jabatan pada hari dileburnya provinsi ini.21 Pada tanggal 27 Nopember 1950 Wakil Presiden RI Mohd. Hatta berkunjung ke Kutaraja untuk mengadakan pertemuan dengan para pemimpin Aceh. Dalam pertemuan di gedung Dewan Perwakilan Rak18 19

KODAM-I/ Iskandar Muda Sumber: Sebagian disarikan dari JarahDam-I, Dua Widhu Kodam I/Iskandar Muda, (Banda Aceh: Sejarah Kodam-I Iskandar Muda, 1972), hlm. 243-244.

Seperti dikemukakan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo: "Bila rumah terbakar, padamkanlah api tanpa berhenti menanyakan macammacam".7 Namun tanggung jawab terakhir untuk operasi-operasi keamanan terus juga terletak pada para penguasa sipil. Sementara rumah-rumah banyak yang dibakar karena siasat militer untuk memenangkan pertempuran melawan para pemberontak Darul Islam di berbagai daerah di Aceh. Banyak sekali rumah-rumah yang dibakar tentara Republik yang menyebabkan kerugian di pihak sipil karena konflik ini, tidak mendapatkan ganti-rugi disebabkan oleh karena pembumihangusan adalah perbuatan guna siasat pertahanan negara.8 Soal penggantian kerugian akibat perang ini telah demikian menyulitkan aparat sipil. Sementara di Sumatera, banyak aparat sipil berlepas tangan tidak mau bertanggung-jawab terhadap persoalan ini dan supaya selandjutnya soal2 serupa tidak perlu dimintakan

Nazaruddin Sjamsuddin, The Achehnese Rebellion of 1953: some outlines, dalam Solidarity 10-6, hlm. 63. Surat Gubernur/Kepala Daerah Provinsi Sumatera Utara Medan, tanggal 27 Juni 1953, No. 25743/2. Juga Surat Kementerian Pertahanan, Djawatan Perbendaharaan Pusat, tanggal 14 Januari 1953, No. 43/A/53/k, tentang Pembumihangusan rumah di daerah Blitar. Siasat pembumihangusan rumah ini telah demikian sukses menyebarkan isu bahwa DI adalah singkatan dari Duruk Imah (Bahasa Sunda) yang berarti bakar rumah.
8

Ibid. 228-229.

Hasan Sab merupakan salah seorang anggota delegasi yang dikirim Pemerintah Aceh ke Jakarta untuk meyakinkan Pemerintah Pusat terhadap perlunya dipertahankan Provinsi Aceh.
20 21

Ibid. hlm. 130. Hasan Saleh, op. cit. hlm. 130.

130

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Operasi Militer: Pembantaian Rakyat Aceh di C ot Jeumpa, Pulot, Gunu ng Ku lu, dan 237

yat Mohd. Hatta memberi penjelasan mengenai ketetapan Pemerintah Pusat menghpuskan Provinsi Aceh. Wakil Presiden tidak dapat meyakinkan para pemimpin Aceh yang hadir dan ketegangan meliputi suasana rapat seperti halnya pertemuan dengan Rombongan Pemerintah Pusat sebelumnya.22 Baru setelah Perdana Menteri M. Natsir mengunjungi Kutaraja pada tanggal 22 Januari 1951 dengan maksud dan tujuan yang sama dengan kunjungan Menteri Dalam Negeri dan Wakil Presiden, golongan yang pro provinsi dapat menerima untuk sementara pembentukan Provinsi Sumatera Utara. Dalam kunjungan ini dicapai suatu kesepakatan bahwa tuntutan otonomi Aceh tidak ditolak Pemerintah Pusat, tetapi akan diusahakan dan diperjuangkan secara integral.23 Keputusan pembubaran Provinsi Aceh dibacakan sendiri oleh Perdana Menteri M. Natsir di depan corong RRI Kutaraja pada tanggal 23 Januari 1951, yang isinya, yaitu Bismillahirrahmanirrahim, Atas nama Allah seru sekalian alam dan atas nama Pemerintah, dengan ini saya umumkan bahwa sejak saat ini status Provinsi Aceh dicabut kembali dan seluruh kabupatennya digabungkan ke dalam Provinsi Sumatra Utara. Sekian. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.24 Penghapusan status otonomi Aceh tersebut telah membawa dampak yang cukup besar, bukan hanya menimbulkan keresahan, tetapi juga ketegangan. Kebijakan tersebut diinterpretasikan oleh para pemimpin Aceh sebagai wujud pengkhianatan Pemerintah Pusat terhadap pengorbanan rakyat Aceh selama masa revolusi. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh salah seorang tokoh DI/TII Aceh Hasan Saleh, yaitu Inikah balas jasa terhadap Aceh yang telah membiayai wakil-wakil pemerintah pusat dan bahkan membeli dua buah pesawat terbang pertama untuk Indonesia. Inikah balas jasa pusat terhadap

16

Yonif 435/Diponegoro

Mayor Soebandono

17

Yonif 436/Diponegoro

Mayor Jimin

18

Yonif 443/Diponegoro

Kapten Hamzah

19

Yonif 445/Diponegoro

Letkol Sabadhono

20

Yonif 446/Diponegoro

Mayor Sabadhono

21

Yonif 447/Diponegoro

Mayor Sugiarto

22

Yonif 448/Diponegoro

Mayor Sudarto Slamet

23

Yonif 452/Diponegoro

Mayor Otteng Hasmeng

24 25 26

Yonif B. TT-I/SWD Yonif C. TT-II/SWD Yonif Barisan D. TT-I/Bukit

Lettu Gunawan Mayor Juhartono Kapten B. Siregar

27 28

Yonif E. TT-II/SWD Yonif ROI-B-RES-3 TTI/BB

Kapten W. Tummawiwi (?)

29

Kesatuan Resimen 2 TT-I/BB

Letkol Ibrahim Ajie

30

Kie Rajasa POM Kie R.P.K.A.D. Kesatuan KKO-AL Kesatuan Bantuan

Lettu Sudarman (t.a.d) (t.a.d) (t.a.d)

SM Amin, Sekitar Peristiwa Berdarah di Atjeh, (Jakarta: N.V. Soeroengan, 1957), hlm. 37. Lihat juga T. Ibrahim Alfian, op. cit. hlm. 219.
23 24

22

31 32 33

Ibid. Hasan Saleh, op. cit. hlm. 134.

236

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

131

berubah nama menjadi TNI) setlah terjadinya peristiwa DI di Aceh di dalam lingkup tugas Kodam I Iskandar Muda: Tabel 1 Kesatuan-Kesatuan Militer yang melakukan Operasi Militer di Aceh dalam menumpas Darul Islam di Aceh (Mulai September 1953 hingga 1962)
No. 1 2 Nama Batalyon Yonif 118 Yonif 131 Pimpinan Mayor A. Manap Lubis Mayor B. Nainggolan/ Mayor Hendri Siregar 3 Yonif 132 Mayor O. Sarumpaet/Kapten S.M. Pohan 4 Yonif 133 Kapten R. Syahnan/Kapten Zein Hamid 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Yonif 134 Yonif 135 Yonif 136 Yonif 137 Yonif 138 Yonif 139 Yonif 140 Yonif 141 Yonif 142 Kapten N.H. Sitorus Kapten Nyak Adam Kamil Mayor Teuku Manyak Mayor J. Rambe Mayor R. Permata Mayor A. Manap Lubis Kapten Dharmansyah Mayor Anwar Umar Mayor Johan/Mayor Iskandar Martawijaya 14 Yonif 431/Diponegoro 15 Yonif goro 434/DiponeMayor Rustamadji Wibowo Mayor Suraksono Peristiwa Cot Jeumpa, Pulot dan Krung Kala Terlibat PRRI tahun 1958. Keterangan Peristiwa Geudong

perjuangan rakyat Aceh dalam masa revolusi fisik dulu, sehingga Presiden RI sempat menjuluki daerah Aceh ini sebagai daerah modal perjuangan Republik Indonesia.25

B. Dampak terhadap Kesatuan Militer


Penghapusan otonomi Aceh yang sejalan dengan kebijakan reorganisasi dan rasionalisasi yang dijalakan Pemerintah Pusat mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi daerah Aceh yang telah mengecap otonomi yang sangat besar pada masa revolusi kemerekaan. Salah satu dampak yang sangat dirasakan adalah reorganisasi militer. Pada masa revolusi kemerdekaan, Daerah Aceh mempunyai 1 devisi tentara reguler, 3 devisi milisi (Rencong, Tgk. Chik Ditiro, dan Tgk. Chik Paya Bakong) dan kesatuan tentara pelajar. Reorganisasi militer sebenarnya telah dimulai sejak pertengahan tahun 1948 dengan pembentukan Devisi X AP TNI Sumatera, yang sejak Nopember 1949 berubah menjadi Komando Teritorium Aceh. Akan tetapi kesatuan militer Aceh waktu itu masih utuh di bawah Letkol Husin Yusuf. Sementara itu kesauan-kesatuan tentara dan milisi yang tidak terjaring ke dalam tentara reguler diberikan kemudahankemudahan usaha baik diperbengkelan maupun di perkebunan.26 Berbeda dengan sebelumnya, reorganisasi tahun 1950 oleh Komando Staf Angkatan Darat, Komando Teritorium Aceh yang baru dibentuk pada bulan Nopember 1949 digabungkan ke dalam Komando Teritorim I yang berpusat di Medan terhitung 1 Februari 1951, sehingga kesatuan militer Aceh berstatus Brigade AA dan kemudian berubah menjadi Resimen I. Reorganisasi tersebut sangat mengecewakan para pimpinan militer Aceh sebagaimana diungkapkan oleh Hasan Saleh berikut ini .... ketika para pejuang Aceh sedang diliputi rasa kebanggaan dan patriotisme perjuangan pada pertengahan 1950, datanglah kabar bahwa Devisi X akan dibubarkan; di Aceh hanya akan
25 26

Ibid. M. Isa Sulaiman, op. cit., hlm. 235.

132

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Operasi Militer: Pembantaian Rakyat Aceh di C ot Jeumpa, Pulot, Gunu ng Ku lu, dan 235

ada satu brigade yang tunduk di bawah Devisi Bukit Barisan di Medan. Timbul keresahan dikalangan pemerintah dan rakyat Aceh, terutama dikalangan perwira dan prajurit serta kaum pejuang lainnya. Semua unsur pemerintahan Aceh memohon dengan segala kerendahan hati pemerintah pusat, dalam hal ini Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) yang dipimpin Kolonel A.H. Nasution, membatalkan keputusan tersebut. Silih berganti utusan dikirim kepada Nasution agar pa dapat bertindak lebih bijaksana. Panglima Devisi sendiri, Kol. Husin Yusuf, kemudian menghadap KSAD di Jakarta. Di sana ia mendapatkan jawaban bahwa, kalian orang militer yang wajib mematuhi segala titah dan menaati segala perintah; patuhilah perintah ini tanpa embelembel! Maka Devisi X tetap harus dibubarkan.27 Ketika delegasi lain masih berada di Jakarta untuk memperjuangkan pembatalan pembubaran Devisi Aceh, Panglima Devisi Bukit Barisan Kolonel Kawilarang datang ke Aceh dengan pesan agar Panglima Devisi X yang kini menjadi Komanda Brigade, Husin Yusuf, yang pangkatnya telah diturunkan pula menjadi Letnan Kolonel, datang menemuinya. Husin Yusuf, yang meresa dirinya masih tetap Panglima Devisi, karena hal pembubaran Devisi Aceh itu masih belum tuntas, tidak mau menghadap Kawilarang. Ia malah pulang ke kampungnya di Bireun, menenangkan gejolak hatinya. Tindakan Husin Yusuf ini di-anggap indisipliner, sehingga di Lapangan Udara Blang Bintang, Kawilarang langsung memecat Husin Yusuf. Ketetapan pemecatan ini ditulisnya pada secarik kertas kecil. Akhirnya datang Kolonel Abimanyu ke Aceh sebagai utusan dari MBAD, yang menuntaskan masalah pembubaran Devisi Aceh, menarik Kolonel Husin Yusuf ke Jakarta, dan mengangkat Mayor Hasballah Haji sebagai Komandan Brigade. Maka semua persenjataan, yang dianggap berlebihan untuk suatu brigade ditarik ke Medan, termasuk kesatuan arteleri dan meriam di Lhok Nga.28

Beureu`eh sendiri, dan Abdullah Arief untuk menemui Tgk. M. Daud Beureu`eh dan pimpinan pemberontak lainnya. Berdasarkan laporan yang diterima olah Hatta tanggal 14 Agustus 1955, pertemuan tersebut tidak menghasilkan sesuatu yang konkrit. Namun demikian, pihak pemberontak mengatakan bahwa maksud untuk mengembalikan keamanan di Aceh sangat mereka hargai.5 Negosiasi yang mandek masa PM Ali dihidupkan kembali oleh Perdana Menteri yang baru Burhanuddin Harahap. Setelah mendapat mandat dari Pemerinah Pusat, S. M. Amin meneruskan korespondensinya dengan pimpinan pemberontak. Namun demikian, sampai jabatannya sebagai Gubernur Sumatera Utara digantikan oleh Komala Pontas pada 28 Februari 1956 pemulihan keamanan di Aceh belum terpecahkan. Pada pertengahan September 1956 dilangsungkan Mu-syawarah Mahasiswa/Pemuda/Pelajar/Masyarakat Aceh se-Indonesia di Medan untuk membahas masalah pemulihan keamanan di Aceh. Sebulan kemudian, tepatnya pertengahan Oktober 1956 diadakan pula Reuni Mantan Perwira Devisi Gajah I di Yogyakarta dalam upaya meme-cahkan persoalan keamanan di Aceh. Namun demikian, semua usaha tersebut belum memberikan hasil yang memuaskan.6 Hadirnya sebuah perlawanan atau pemberontakan, akan selalu direspon dengan operasi militer. Gubernur Sumatera Utara meminta bantuan militer kepada Pemerintah Pusat untuk segera memberangus gerombolan Teungku Daud Beureu`eh. Permintaan ini dengan cepat dikabulkan, dan pasukan dari Sumatera Tengah (Padang) dan daerah lain Sumatera pun digerakkan untuk bertindak. Kemudian satuansatuan militer TRI Jawa Tengah, Divisi Diponegoro, juga diperintahkan ke Aceh. Pemerintah bertekad akan menghadapi situasi dengan keteguhan hati dan menyapu pemberontakan dengan cepat. Di dalam tabel di bawah ini terdapat nama-nama Batalyon TRI (dan kemudian

27 28

Hasan Saleh, op. cit. hlm. 125. Ibid. hlm. 126.

5 6

M. Nur El Ibrahimy, op. cit., hlm. 197. Ibid.

234

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

133

terhadap truk militer yang penuh dengan tentara di dalamnya oleh TII dari Resimen VII Kuta Karang di bawah pimpinan Hasan Saleh.2 Penghadangan yang dilakukan tanggal 22 Februari 1955 ini tepatnya terjadi di tikungan sempit pendakian Gunung Paroe di Km 34 Jalan Raya Banda Aceh-Meulaboh yang menewaskan 15 orang seketika dan 1 orang lagi luka parah, sedangkan truk hangus tebakar. Mendengar berita tersebut temannya peleton lain dari batalyon tersebut dengan sangat emosi melakukan pengejaran, namun kelompok pemberontak (TII) telah melarikan diri. Oleh karena yang dicari tidak ketemu, pihak tentara mengalihkan amarah mereka kepada pen-duduk desa yang ada di sekitar itu. Secara berturut-turut tanggal 26 dan 28 Februari dan 4 Maret 1955 mereka memporak-porandakan desa Pulot, Cot Jeumpa, Lhok Seudu dan Krueng Kala, dan melakukan ekse-kusi massal terhadap penduduk laki-laki remaja dan dewasa yang mereka temui. Peristiwa tersebut mengakibatkan sekitar 100 orang penduduk tewas dan beberapa orang lainnya mengalami luka-luka, dan sejumlah kios dibakar.3 Peristiwa Pulot Cot Jeumpa tersebut telah menjadi turning point terhadap proses penyelesaian masalah Aceh. Tekanan-tekanan politik terhadap Pemerintah Pusat akibat Peristiwa Pulot Cot Jeumpa telah mempengauhi Pemerintah dalam penggunaan personil militer. Untuk menghindari terulangnya Peristiwa Pulot Cot Jeumpa dan bertambahnya pertumpahan darah di bumi Aceh berbagai usaha dilakukan untuk mencari solusi penyelesaian masalah Aceh, baik dilakukan secara pribadi maupun kelompok. Usaha melakukan negosiasi dengan pihak pemberontak juga dilakukan oleh Wakil Presiden Mohd. Hatta. Pada bulan Juni 1955 Hatta mengirim dua orang kurir yaitu Hasballah Daud4, anak Tgk. M. Daud
2 3

Oleh karena khawatir rakyat Aceh akan melakukan sesuatu setelah pembubaran provinsi, pemerintah Pusat mengambil tindakan preventif dengan memutasikan semua kesatuan militer Aceh ke luar daerah; sebagai gantinya dimasukkan kesatuan lain. Mayor Hasballah Haji, Komanda Brigade, dimutasikan ke Tarutung, Tapanuli, dan diganti oleh Letkol Nazir; Batalion T. Manyak dimutasikan ke Jawa Barat; Batalion Alamsyah ke Indonesia Timur; Batalion hasan Saleh ke Sulawesi Selatan lalu ke Maluku Selatan; dan Batalion Nyak Adam Kamil entah ke mana. Perwira lain yang berada di luar kesatuan batalion juga disebarkan ke mana-mana. Sebagai gantinya dimasukkan batalion dari Tapanuli, yang secara etnologis dan adat istiadat sangat berbeda dengan orang Aceh; bahkan sebagian besar dari mereka bukan muslim. Datanglah Batalion Manaf Lubis, Batalion Ulung Sitepu, dan Batalion Boyke Nainggolan. Menurut Hasan Saleh, banyak tindakan mereka yang sangat menyakitkan hati rakyat Aceh, seperti memasuki rumah ibadah dengan sepatu yang berlumpur, memperlihatkan kemaluannya kepada kaum wanita, menenggak minuman keras dihadapan umum, dan sikap-sikap propokatif lainnya.29 Perpindahan ke dalam lingkungan kerja baru yang berada di luar etnis budaya telah memunculkan persoalan penyesuaian diri di kalangan sebagian perwira-perwira tersebut. Akibatnya mereka yang tidak betah dengan suasana baru tersebut terpaksa meninggalkan tugas sebagaimana dilakukan oleh Mayor Hasballah Daud dan Letnan Banta Khairullah yang dipindahkan ke MABAD, ataupun yang dilakukan oleh Letnan Ahmad Adam yan dipindahkan ke Tapanuli.30

C. Dampak terhadap Birokrasi Pemerintahan Sipil


Perubahan administrasi ini juga berdampak cukup luas dalam birokrasi sipil di Aceh. Dalam pemerintah sipil di Aceh saat itu terjadi
29 30

Wawancara dengan Teungku Shaleh, Leupung, Cot Jeumpa, 14 Juni 2006.

M. Isa Sulaiman, Sejarah Aceh, Sebuah Gugatan terhadap Tradisi, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2001), hlm. 314-315. Hasballah Daud adalah anak kandung Tgk. M. Daud Beureu`eh sendiri yang waktu itu sudah berwiraswasta.
4

Ibid. hlm. 135-136. Ibid. hlm. 187. Lihat juga M. Isa Sulaiman, op.cit. hlm. 236-237.

134

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

mutasi secara besar-besaran. Tgk. Syekh Marhaban dan Ali Hasjmy pada pertengahan 1952 dipindahkan ke Medan, sedangkan Hasan Ali sejak permulaan tahun 1953 dipindahkan ke Kejaksaan Agung di Jakarta. Mereka yang tidak bersedia pindah menempuh berbagai cara seperti Tgk. M. Daud Beureu`eh dan Hasan Ali yang memilih untuk cuti, sementara T.M. Amin beralih profesi menjadi pedagang. Jabatanjabatan yang kosong tersebut segere diisi oleh pejabat yang didatangkan dari Sumatera Timur dan Tapanuli.31 Dampak reorganisasi dan rasionalisasi juga menyentuh pada level negeri, mukim sampai ke desa (gampong). Pejabat pamong praja pada ketiga level paling bawah itu selama revolusi kemerdekaan telah diakui sebagai pejabat pemerintah melalui Perda Nomor 3 tanggal 10 Desember 1946, yang memperoleh gaji atau honorarium dari Pemerintah Keresidenan Aceh. Dengan diintegrasikan ke dalam Pemerintah Pusat melalui implementasi UU Nomor 22 tentang Daerah Otonom dan PGSP 1948 tentang peraturan penggajian pegawai negeri, timbulah persoalan siapa di antara pejabat tersebut yang diaggap aparatur paling bawah pamong praja, imeum mukim atau geuchik, sehingga mengganggu proses pembayaran gaji. Keadaan ini telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat sebagaimana dapat dilihat dengan keluarnya Resolusi kepala negeri, kepala mukim se-Kabupaten Aceh Besar tang 28 Maret 1951 yang berisikan ancaman untuk tidak melaksanakan tugas jika status mereka tidak diakui oleh PGPS 1948. Berkenaan dengan keluhan kepala negeri dan imem mukm tersebut, Kementerian Dalam Negeri hanya mengakui kepala negeri yang berjumlah 105 buah di Aceh sebagai pegawai negeri dalam kedudukan sebagai asisten wedana. Sementara itu imeum mukim yang berjumlah 552 orang dianggap sebagai perantara antara asisten wedana dengan keuchik, dan kedua mereka tidak diakui sebagai pegawai negeri. Keputusan tersebut telah membangkitkan

Bab VII

OPERASI MILITER: PEMBANTAIAN RAKYAT ACEH DI COT JEUMPA, PULOT, GUNUNG KULU, DAN KRUENG KALA

iba-tiba, negara yang tadinya dipersepsikan sebagai Ibu datang ke hadapan rakyat Aceh dengan muka yang bengis. Negara Republik Indonesia sudah berubah dari sebuah negara baru yang lemahlembut, diharapkan kasih dan sayangnya oleh semua rakyat dengan perlindungan dan perjuangan suci mempertahankan kemerdekaan; secara mendadak hadir di di hadapan rakyat Aceh dengan sebuah kemarahan besar: operasi militer. Kebijakan militaire bijstand secara ketat masih tetap dipertahankan untuk pemulihan keamanan di Aceh sebelum pemberontakan reda. Tetap dipertahankannya operasi militer oleh Pemerintah setelah terjadinya Peristiwa Pulot Cot Jeumpa juga yang sangat menggemparkan Indonesia tahun 1955.1 Peristiwa Pulot Cot Jeumpa adalah peristiwa penghadangan terhadap truk yang membawa 15 orang tentara dari Batalyon 142 yang bermarkas di Lhok Nga, Aceh Besar. Penghadangan ini bermula dari serangan kilat
1 M. Noer el-Ibrahimy, Peranan Teung Muhammad Daud Beureu`eh dalam Pergolakan Aceh, (Jakarta: Gunung Agung, 1978), hlm. 198.

31

M. Isa Sulaiman, op. cit., hlm 237.

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

135

kegelisahan dikalangan imeum mukim. Merekapun memobilisasi diri untuk memprotes keputusan itu. Sepanjang tahun 1952 para imeum mukim dari Seulimeum, Kutaraja, Pidie, dan Lhokseumawe melakukan rapat-rapat untuk me-nyusun petisi yang akan disampaikan kepada Pemerintah Pusat.Petisi tersebut berisikan himbauan agar nasib mereka ditinjau kembali. Menanggapi petisi tersebut, baik Gubernur Hakim maupun Menteri Dalam Negeri tetap pada pendiriannya, sehingga para imeum mukim tersebut merupakan satu unsur kelompok yang tidak puas kepada Pemerintah Pusat hingga saat menjelang meletusnya pemberontakan. Jabatan pamong praja lain yang dianggap kurang efisien oleh Gubernur Hakim adalah Residen. Pada tahun 1952 jabatan residen Sumatera Timur dan Tapanuli dihapus, sehingga hanya tinggal Residen Aceh. Begitu Residen R. Maryono Danubroto dipindahkan ke Palembang akhir juni 1953 Gubernur Hakim bermaksud juga menghapuskan jabatan Residen Aceh dan digantikan semacam koordinator saja. Oleh karena itu, Sulaiman Daud, bupati t/b yang bertindak selaku pemangku jabatan sepeninggalan R. Maryono Danubroto tidak diperlakukannya sebagai residen penuh. Situasi demikian rupanya juga telah membangkitkan keresahan politik di Aceh saat itu. Badan Peradilan yang telah ada pada tingkat negeri sejak masa pendudukan Jepang (kuhoin), yang kemudian menjadi pengadilan rendah, juga tidak luput dari penataan. Pada tanggal 2 Desember 1952 Pemerintah Pusat mengeluarkan Penetapan Menteri Kehakiman No. 3/451/18 tentang Susunan Organisasi Pengadilan. Implementasi dari ketetapan tersebut mengakibatkan hakim rendah yang telah ada di tingkat negeri (kecamatan) harus dihapuskan. Tindakan tersebut mendapat reaksi dari para hakim rendah yang secara kebetulan mantan pemimpin milisi. Ketua pengadilan rendah daerah Pidie misalnya, di bawah pimpinan H. Cut Sulaiman telah mengumpulkan rekan-rekannya tanggal 20 Juni 1953 untuk membicarakan nasib mereka. Pertemuan tersebut menghasilkan suatu kesepakatan untuk mengirimkan

136

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Ditabuhnya Genderang Perang Sabil dan Bijstand

233

dua utusan ke Jakarta untuk membicarakan nasib mereka kepada Pemerintah Pusat.32 Instansi lain yang juga terkena reorganisasi dan rasionalisasi adalah kantor Jawatan Agama. Kantor Jawatan Agama Aceh pada masa revolusi telah memiliki birokrasi yang cukup besar melalui pembentukan sekolah-sekolah agama (SRI, SMI, dan SMIA) dan Mahkamah Syariah, sedangkan Kementerian Agama waktu itu hanya memiliki Mahkamah Syariah di Pulau Jawa dan sekolah agama berupa Pendidikan Guru Agama (PGA) atau Sekolah Guru dan Hakim Agama (SGHA) dalam jumlah yang sangat terbatas. Birokrasi Jawatan Agama Aceh yang cukup gemuk telah menimbulkan persoalan tersendiri saat ber-gabung ke dalam Kementerian Agama terutama menyangkut status sekolah dan Mahkamah Syariah serta pembiayaannya. Walaupun Pemerintah telah berupaya menyelesaikan masalah tersebut, namun suatu hal yang jelas bahwa kedudukan sekolah agama dan Mahkamah Syariah belum juga selesai menjelang meletusnya pemberontakan. Dengan demikian, sekolah agama dan Mahkamah Syariah telah muncul sebagai basis kelompok yang tidak puas terhadap penghapusan otonomi.33

yang membungkuk terhadap kaum komunisdisiksa dan dibunuh Tentara dan Polisi Pemerintah Ali Sastroamidjojo yang didominasi komunis.66***

D. Dampak terhadap Ekonomi Daerah


Pencabutan status otonomi Aceh berpengaruh cukup besar juga dlam aspek ekonomi. Kewenangan moneter bersifat lokal yang dinikmati Daerah Aceh selama masa revolusi kemerdekaan dengan keluarnya Keputusan Menteri Keuangan RIS Sjafruddin Prawiranegara Nomor 53810/UU tanggal 26 Maret 1950 tentang tata aturan nilai tukar uang RIS dengan mata uang lokal yang ada di Jawa dan Sumatera, yang efektif berlaku sejak 30 Maret 1950. Bagi Daerah Aceh yang mata uang lokal (Urips, Uripsu dan Uriba) yang beredar mencapai sekitar 8 milyar rupiah harus mengkonversi uangnya dengan uang republik
32 33

M. Isa Sulaiman, op. cit., hlm 237-240. Ibid. hlm. 241.


66

Ibid., hlm. 443-48.

232

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

137

Tiro mengadukan Pemerintah Republik Indonesia di depan PBB atas tuduhan melakukan pembunuhan massal untuk memberitahu Dunia Islam akan kekejaman yang dila-kukan terhadap para alim ulama di Aceh, Jawa Barat dan Tengah, Kalimantan dan Sulawesi dan memperjuangkan peng-akuan internasional akan dukungan moril dan materiil untuk Republik Islam Indonesia. Di samping itu ia mengumumkan, bila Pemerintah Republik tidak memenuhi tuntutantuntut-annya, ia akan mengusahakan pemboikotan diplomatik dan ekonomi secara internasional terhadap Republik Indonesia juga penghentian bantuan yang diberikan lewat Rencana Kolombo atau oleh Perserikatan BangsaBangsa dan Amerika Serikat.65 Pemerintah Indonesia menolak tuntutan-tuntutan Hasan Muhammad Tiro dan memberinya waktu sampai 22 September untuk kembali ke Indonesia. Bila perintah ini diabaikannya, maka paspornya ditarik. Hasan Muhammad Tiro lalu dimasukkan dalam tahanan oleh Imigrasi Amerika dan disekap di Ellis Island. Dia dibebaskan lagi sesudah membayar denda US$ 500,Ia membalas dengan mengumumkan sepucuk surat dalam New York Times yang meminta perhatian akan kemajuan komunisme di Indonesia sejak Pemerintah Ali Sastroamidjojo berkuasa dan menyampaikan sebuah laporan tentang Pelanggaranpelanggaran Hak Asasi Manusia oleh rezim Ali Sastroamidjojo di Indonesia. Pemerintah Indonesia tidak mampu membungkam Mu-hammad Hasan Tiro, atau memintanya diekstradisikan dari Amerika Serikat. Hasan Muhammad Tiro dengan demikian dapat melanjutkan kampanye propaganda anti-Indonesianya di New York. Pada awal 1955 ia mengirim surat kepada dua belas negara Islam dengan meminta kepada mereka memboikot Konferensi Asia-Afrika, kebanggaan Pemerintah Republik, yang akan diadakan di Bandung pada bulan April. Sebagai alasan mendasari permintaannya, ia mengemukakan, pemimpin-pemimpin Islam dan para pengikutnyakecuali mereka
65 Bagian Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureu`eh, (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan, t.t., Jilid III), hlm. 445-447.

sejak 1 Juni 1950. Dalam kesatuan moneter baru biaya operasional pemerintah baikdana rutin dan dana pembangunan disuplai oleh Pemerintah Pusat. Kebijakan itu sangat berpengaruh terhadap birokrasi yang dibiayai oleh pemerintah lokal.34 Berbarengan dengan itu perkebunan dan pertambangan yang pada masa revolusi kemerdekan merupakan sumber utama pendapatan daerah dialihkan tanggung jawab pengelolaannya kepada Pemerintah Pusat. Dengan demikian, secara ekonomi Daerah Aceh semakin tergantung kepada Pemerintah Pusat, baik untuk biaya rutin maupun biaya pembangunan. Akibatnya, pembangunan sarana dan prasarana fisik yang mengalami kerurakan selama masa revolusi berjalan agak lambat. Upaya-upaya yang dilakukan Pemerintah Pusat dalam tahun1952-1953 belum dapat memulihkan seperti situasi sebelum Perang Asia Timur Raya meletus.35 Beralihnya tanggung jawab keuangan dari daerah ke pusat berdampak pula terhadap perusahaan-perusahaan di daerah, seperti yang dialami oleh NV. Indolco, NV. Permai dan NV. Sakti, yang pada masa revolusi kemerdekaan merupakan rekanan dan sekaligus suplier Pemerintah Aceh. Masalahnya pengusaha-pengusaha tersebut masih mempunyai tagihan kepada Pemerintah Daerah baik berupa harga barang pasokan ataupun jatah hasil kebun yang dijanjikan. Dengan reorganisasi administrasi pemerintahan tersebut mereka harus mengurus piutangnya melalui jalur yang baru dengan birokrasi yang semakin panjang.36 Konsekuensi dari kebijakan tersebut banyak klaim pengusaha Aceh yang pada masa revolusi telah menantang maut dari blokade Angkatan Laut Belanda banyak yang ditolak Pemerintah sebagimana diungkapkan oleh S.M. Amin Sangat disayangkan, mereka yang sangat berjasa ini, kecuali Muhammad Saman dari PT. Puspa, setelah revolusi kemerdekaan berakhir tidak memperoleh
34 35 36

Ibid. hlm. 242. Ibid. hlm. 243. Ibid.

138

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Ditabuhnya Genderang Perang Sabil dan Bijstand

231

perlakuan yang wajar. Malahan, hutang getah yang masih harus diperoleh dari Pemerintah atas perjanjian jual-beli, ditolak pembayarannya.37 Kesukaran yang dialami pengusha Aceh waktu itu adalah penataan tata niaga. Pada tahun 1952 Pemerintah menggantikan perniagaan barter dengan deviezen rezim atau letter of credit, larangan ekspor kopra dan peraturan yang mengharuskan ekspor sapi/kerbau melaui pelabuhan Belawan. Bagi masyarakat Aceh yang sudah terbiasa dengan perdagangan tersebut dirasakan suatu pukulan yang sangat keras. Demikian pula dengan keharusan mengekspor melelui pelabuhan Belawan telah berdampak pada biaya yang mereka keluarkan semakin membengkak. Kebijakan ini, ditambah lagi dengan dihapuskan Provinsi Aceh yang digabung ke dalam Provinsi Sumatera Utara telah membuat masyarakat Aceh meresa dikhianati oleh Pemerintah Pusat. Oleh karena itu, pedagang-pedagang Aceh melalui Gasida melakukan protes kepada Pemerintah Provinsi.38 Kekecewaan rakyat Aceh terhadap Pemerintah Pusat bertambah pada tahun 1952 dengan pengumuman Menteri Keuangan tentang pembayaran kembali obligasi tahun 1946 yang hanya dibayar 5 % menurut kurs uang pada saat pengumuman dikeluarkan. Padahal keresidenan Aceh merupakan salah satu keresidenan yang paling sukses dalam pengumpulan dana melalui obligasi. Pemimpin milisi yang berkuasa saat itu telah melakukan berbagai cara agar rakyat mau membeli obligasi. Kebijakan Menteri keuangan tersebut mendapat reaksi luas dari masyarakat. Amelz, mantan ketua Panitia Obligasi Keresidenan Aceh yang waktu itu telah menjadi anggota DPR, terpaksa turun tangan untuk mempersoalkan beleid Menteri Keuangan tersebut. Tanggal 3 Mei 1952 ia mengirim nota menegenai persoalan obligasi tersebut kepada Menteri Keuangan. Akan tetapi, apa pun yang dilakukan, persoalan obligasi telah membangkitkan kekecewaan rakyat
37 38

Dalam paruh kedua tahun 1954 dia menimbulkan hal-hal yang mengabaikan Pemerintah Republik. Dengan menamakan dirinya Menteri Berkuasa Penuh dan Dutabesar pada Perserikatan BangsaBangsa dan Amerika Serikat Republik Islam Indonesia, demikian disebutnya Negara Islam ini, ia mengirim ultimatum kepada Perdana Menteri Ali Sastro-amidjojo pada awal September tahun itu. Dalam ultimatum ini ia menuduh pemerintah fasis-komunis membawa bangsa Indonesia hampir ke dalam kehancuran ekonomi dan politik, kemiskinan, percekcokan, dan perang saudara, serta melaku-kan agresi terhadap rakyat Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan dan Tengah dan Kalimantan, dan selanjut-nya menjalankan politik divide et impera dan kolonialisme, dan mengadu domba berbagai suku bangsa dan agama satu sama lain. Ia bertanya kepada Ali Sastroamidjojo apakah barangkali telah tiba abad baru kolonialisme yang di dalamnya hanyalah kaum komunis yang memungut hasil buah kemerdekaan, sedangkan yang lain dibunuh habis begitu saja. Lalu ia menuntut agar Ali Sastroamidjojo menghentikan politik agresifnya, membebaskan tahanan-tahanan politik, dan mulai berunding dengan pemberontak Darul Islam. Bila tidak, maka ia pribadi akan mengambil sejumlah langkah. Umpamanya, ia akan membuka kedutaan-kedutaan di selu-ruh dunia di Amerika Serikat, Eropa, Asia, dan semua nega-ra Islam, demikian pula di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan menelanjangi kebuasan Pemerintah Republik dan kekejaman serta pelanggarannya terhadap Hak Asasi Manusia di Aceh di depan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan me-minta Perserikatan Bangsa-Bangsa mengirimkan Komisi Pe-nyelidikan ke Aceh. Biarlah forum internasional mengeta-huinya, katanya, tentang tindakan-tindakan kekejaman yang paling keji yang dilakukan di dunia sejak zaman Jenghis Khan dan Hulagu.64 Langkah-langkah lain yang dipertimbangkan Hasan Mu-hammad

S. M. Amin, op. cit. hlm. 103.


64 Hulagu adalah cucu Jenghis Khan yang terkenal bengis dan kejam dalam sejarah perang penaklukan Iran dari tahun 1251 hingga tahun 1265.

M. Isa Sulaiman, op. cit. hlm. 244. Lihat juga Nazaruddin Syamsuddin, Pemberontakan Kaum Republik: Kasus Darul Islam Aceh. (Jakarta: Pustaka utama Grafiti, 1990), hlm. 77.

230

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

139

hubungan yang akrab dengan para wakil dan simpatisan di pantai yang berseberangan. Sesewaktu beredar desas-desus, Daud Beureu`eh telah menyeberangi Selat untuk memperoleh dukungan di Malaysia. Di samping itu, Said Abubakar sering disebut berada di Penang atau Singapura untuk mengum-pulkan bantuan keuangan atau bahkan mengadakan hubung-an dengan pemberontak-pemberontak komunis di Malaysia.60 Paling aktif dalam mendapatkan dukungan luar negeri untuk Negara Islam Indonesia, dan kemudian untuk Republik Indonesia Serikat kiranya adalah Hasan Muhammad Tiro, abang kandung Menteri Kehakiman DI, Zainal Abidin Tiro.61 Hasan Muhammad Tiro, yang dilukiskan seorang war-tawan Amerika sebagai "inteligen, berpendidikan baik, dan diberkahi dengan kombinasi yang jarang terdapat: pesona dan keteguhan hati", lahir di Desa Tiro, dekat Lammeulo di Pidie.62 Dalam zaman Belanda dia adalah salah seorang murid Daud Beureu`eh di Madrasah Blang Paseh di Sigli, sedangkan dalam masa pendudukan Jepang dia belajar di Perguruan Normal Islam Institute; tempat ia menjadi anak emas Said Abubakar. Sesudah proklamasi kemerdekaan ia berangkat ke Yogyakarta untuk belajar di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Dia kembali ke Aceh sebentar untuk bekerja pada Pemerintah Darurat Sjafruddin Prawiranegara. Kembali ke Yogyakarta, dia menjadi salah seorang dari dua mahasiswa Universitas Islam Indonesia yang pada tahun 1950 menerima beasiswa untuk melanjutkan pelajarannya di Universitas Columbia. Di Ame-rika Serikat Hasan Mohammad Tiro bekerja pada Dinas Penerangan Delegasi Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bang-sa sebentar.63

yang semakin luas dan mendalam terhadap Pemerintah Pusat.39

E. Dampak terhadap Penerapan Hukum Syariat Islam


Sejak revolusi kemerdekaan sampai dengan dicabutnya otonomi, Pemerintah Daerah Aceh yang didominasi elit agama telah berusaha sejauh untuk mengubah wajah masyarakat Aceh agar lebih Islami melalui berbagai produk aturan yang dikeluarkan. Pada tahun1950 Gubernur Tgk. Daud Beureu`eh, DPRD dan DPD Aceh disibukkan oleh tugas bagaimana merumuskan peraturan yang lebih ampuh untuk melarang permainan seudati dan hukuman yang lebih berat bagi pemain judi.40 Dengan dihapusnya otonomi, peraturan-peraturan daerah tersebut sangat sulit untuk diimplementasikan. Dengan berpedoman pada ketentuan formal, polisi yang bertanggung jawab terhadap perizinan sering memberi izin untuk penyelenggaraan keramaian rakyat baik berupa pertunjukan seudati maupun pasar malam. Keramaian tersebut sering diisi oleh pertunjukan ronggeng atau joged dan permainan ketangkasan atau judi. Oleh karenanya kegiatan-kegiatan keramaian tersebut sering mendapat reaksi dari elit ulama, malahan ada yang menyuruh santrinya untuk melempar arena keramaian seperti yang terjadi di Geudong tahun 1952. Pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrimnya yang terutama terjadi di kota-kota di Aceh menjadi kecemasan tersendiri bagi ulama sebagaimana disuarakan surat kabar tegas pimpinan A. Gani Mutiara. Konon lagi pergaulan melampaui batas yang dilakukan oleh pejabat. Sewaktu affair wanita yang dilakukan oleh Residen R.M. Danubroto terbongkar pada tahun 1953, peristiwa ini segera menjadi topik pembicaraan penduduk. Akibatnya Pemerintah Pusat terpaksa memindahkannya 3 bulan kemudian ke luar
39 40

Di samping Singapura, Penang, dan New York, Tokyo disebut sebagai salah satu tempat para simpatisan Negara Islam Aceh berusaha mengumpulkan sokongan keuangan dan moril. Di samping itu di Singapura gerakan ini diwakili "pejabat hubungan masyarakat Irlandia yang giat" (Mossman 1961:44). 61 Gelanggang, op.cit., hlm. 127-128.
62 63

60

M. Isa Sulaiman, ibid., hlm. 245.

Gelanggang, Ibid., hlm. 124. Ibid., hlm. 54.

Komunitas Cina yang mendiami kota-kota di Aceh sangat menyenangi permainan judi (wewe, dadu kocok dan loterij), sementara orang Aceh amat menggemari permainan seudati. Lihat Insider, op. cit. hlm. 100-101. Lihat juga M. Isa Sulaiman, op. cit. hlm. 246.

140

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Ditabuhnya Genderang Perang Sabil dan Bijstand

229

daerah, dan digantikan oleh Sulaiman Daud. Persoalan disharmoni hukum juga terjadi pula pada produkproduk keputusan Mahkamah Syariah. Proses hukm yng dihasilkan Mahkamah Syariah belum memperoleh kekuatan hkum bila belum mendapatkan pengesahan dari pengadilan negeri. Hal ini menimbulkan konsekuensi tertentu dalam pelaksanaan eksekusi manakala pihak yang kalah, terutama dalam perkara harta, berkeberatan. Untuk itu cukup logis bila ketua Mahkamah Syariah Kutaraja Twk. Aziz pada tahun 1953 menghimbau pemerintah untuk memberikan hak yang sama antara pengadilan negeri dengan Mahkamah Syariah dalam memutuskan perkara.41

F. Razia Agustus 1951


Peristiwa yang sudah tegang di Aceh semakin menggelisahkan dengan dilakukannya Razia Agustus. Razia Agustus merupakan kebijakan Kabinet Sukiman dengan tujuan mencari bahan peledak dan penyimpanan barang-barang terlarang yang menghambat kelancaran ekonomi.42 Tentara yang tergabung dalam Brigade AA mengadakan razia di seluruh Aceh untuk mencari senjata gelap yang diduga masih disimpan oleh sebagian rakyat. Sebenarnya bebarapa bulan sebelum razia ini dilaksanakan telah diperintahkan kepada koordinator kepolisian untuk menarik seluruh senjata api yang ada di tangan perorangan baik yang mendapat surat izin maupun yang tidak. Razia ang dilakukan tiba-tiba pada tanggal 29 Agustus 1951 tersebut didasari pada anggapan bahwa ada orang-orang atau organisasi yang mencoba menimbulkan kerusuhan. Menurut M. Nur El Ibrahimy alasan itu terlalu mengada-ada karena sama sekali tidak ada gejala ke arah itu.43
41 42 43

Kabinet baru ini menyusun program sembilan pasal yang di dalamnya mengadakan reorganisasi dan memperbaiki Pemerintahan Sipil, Tentara dan Angkatan Kepolisian, dan untuk memperbaiki keadaan sosial pegawai sipil dan militernya, maupun rakyat pada umumnya. Langkahlangkah ke arah ini telah diambil dengan pembentukan Akademi Militer di Aceh Timur dan pembangunan rumah-rumah sa-kit.58 Kabinet baru selanjutnya berjaniji dalam programnya untuk meluaskan peradilan, yang secara tegas dinyatakan dalam Piagam Batee Kureng merupakan kekuatan terpisah. Tetapi, sebagaimana halnya dengan Pemerintahan Sipil, ia mengemukakan syarat nyata dalam program itu bahwa harus disadari kenyataan, negara masih dalam perang (gerilya) harus diperhitungkan dalam pelaksanaannya.59 Kabinet tidak mempunyai menteri luar negeri, karena Piagam menyerahkan urusan luar negeri kepada Pemerintah Pusat. Sungguhpun begitu, persis seperti ia pun mempunyai politik pertahanannya, demikian pula Aceh mempunyai hubungan luar negerinya sendiri. Dalam hal ini ia jauh lebih beruntung ketimbang daerah-daerah Darul Islam yang lain. Sebagian ini adalah akibat dekatnya dengan Semenanjung Malaysia, yang memudahkan penyelundupan senjata dan barang-barang lain serta uang, maupun
direkturnya. A.G. Mutiara (juga dikenal sebagai Abdul Gani) adalah pemimpin redaksi harian Tegas, yang terbit di Banda Aceh. Zainal Abidin Muhammad Tiro (juga dikenal sebagai Zainal Abidin) adalah bekas hakim pengadilan Sigli. Amin, Peristiwa, hlm.6. 58 Demikianlah ada laporan-laporan dari penduduk desa dekat Kualabee, di Aceh Barat, yang mendapat perawatan kesehatan cuma-cuma di rumah sakit Darul Islam setempat; di sini bertugas seorang asing yang juga adalah instruktur militer. Mungkin orang asing ini ialah Dr. Schiphorst, yang hilang dari rumah sakit di Kabanjahe, Tanah Karo, bersama seorang juru rawat bernama Adne Israel, sejak Februari 1954, dan dilaporkan bekerja untuk pemberontak. C. van Dijk, op.cit., hlm. 143-144, 151. Menurut Abdul Murat Mat Jan, Darul Islam mendidik personil kesehatannya di Pulau Kampai, di Sumatera Timur, dan obat-obatan diperoleh dari kerabat mereka ini di luar Aceh dan dari para pekerja kesehatan di Aceh yang bersimpati dengan mereka. Lihat Abdul Murat Mat Jan, Gerakan Darul Islam di Aceh1953-1959, dalam Akademika 8, 1976 hlm. 24. 59 Gelanggang, op.cit., hlm. 202-27; Amin, Sekitar peristiwa Berdarah, hlm.72; Meuraxa, op.cit., hlm. 49-57.

M. Isa Sulaiman, op. cit. hlm. 247- 249. Ibid., hlm. 260.

M. Nur El Ibrahimy, Peranan Tgk. M. Daud Beureu`eh dalam Pergolakan Aceh, (Jakarta: Media Dawah, 2001), hlm. 73.

228

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

141

lagi-lagi mengemukakan pemisahan kekuasaan eksekutif dan legislatif. Kepala negara, wali negara, yang akan dipilih rakyat Aceh, akan menjadi kepala eksekutif. Tetapi untuk sementara Daud Beureu`eh-lah yang ditunjuk para hadirin. (pasal. 3). Dia dibantu dalam fungsinya oleh suatu kabinet yang diketuai seorang perdana menteri. Kabinet dan para menteri bertanggung jawab kepada kepala negara (pasal 4). Dalam Piagam ini Majelis Syura muncul lagi. Walaupun para anggota parlemen ini dipilih rakyat, untuk sementara waktu mereka ditunjuk Kepala Negara (pasal 5) Majelis Syura yang disetujui di Batee Kureng terdiri dari seorang ketua (Amir Husin al Mudjahid), dua wakil ketua dan enam puluh satu anggota.56 Tidak dibuat ketentuan-ketentuan khusus menge-nai masa jabatan para anggota atau kekuasaannya. Di samping Majelis Syura, dibentuk Majelis Ifta, dewan untuk memberikan fatwa yang diketuai Tengku Hasbullah Indrapuri. Tentang masalah hubungan daerah terhadap Pemerintah Pusat Negara Islam Indonesia, Piagam Batee Kureng menyatakan, Negara Aceh melaksanakan urusannya sendiri kecuali dalam soal-soal kebijaksanaan luar negeri, politik pertahanan, dan ekonomi (pasal 6). Bersamaan dengan itu ditekankan, selama Negara Islam Indonesia berada dalam perang dan terus bertempur mempertahankan Islam, satuan-satuan Tentara Islam Indonesia yang beroperasi di Aceh harus tetap merupakan alat Negara Aceh seperti juga Angkatan Kepolisian dan lasykar (pasal 8). Dalam kabinet yang baru terbentuk, yang diketuai Hasan Aly sebagai Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan, Husin Jusuf menduduki jabatan Menteri Keamanan, dan T.A. Hasan memegang portfolio Keuangan dan Kesehatan, sedangkan T.M. Amin diangkat menjadi Menteri Urusan Ekonomi dan Kesejahteraan, Zainul Abidin Muhammad Tiro Menteri Kehakiman. M. Ali Kasim Menteri Pendidikan, dan Abdul Gani Mutyara Menteri Pene-rangan.57
Untuk susunannya lihat Dada Meuraxa, Peristiwa Berdarah di Atjeh, (Medan: Pustaka Hasmar, 1956), hlm. 54-56. 57 T.M. Amin adalah bekas bupati yang diperbantukan pada Kementerian Dalam Negeri. Dia Direktur Manager Trade and Development (bekas Indolco) Ltd. dan anggota pengurus Aceh Mining Co., dengan Hasballah Daud, putra Daud Beureu`eh, sebagai
56

Razia Agustus tersebut telah dimanfaatkan oleh keluarga uleebalang untuk menekan lawan politik mereka. Hal ini bisa terjadi karena Mayor Hasballah Haji, Komandan Resimen I, sejak awal 1951 telah dipindahkan ke Medan dan digantikan oleh Mayor M. Nazir, dan kesatuan militer yang ditempatkan di Aceh kebanyakan berasal dari pendatang. Para keluarga uleebalang, terutama di Pidie, sebagaimana diungkapkan Hasan Saleh menghasut tentara untuk menggeledah rumah-rumah bekas pejuang termasuk rumah Tgk. M. Daud Beureu`eh, Tgk. Hasballah Indrapuri dan A. Gani Mutiara dengan dalih mencari senjata. Malahan sejumlah eks pemimpin milisi seperti Tgk Tahir (Kepala Negeri Mutiara), H. Ibrahim (Jaksa Lhok Sukon), Peutua Husen, Tgk. Hitam Peureulak, Tgk. M. Aji Di Garot (Trienggadeng), Tgk. Hasan Hanafiah (Kepala Jawatan Agama Aceh Barat), dan Syekh Marhaban (Wedana Kutaraja), ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.44 Penggeledahan secara kekerasan dan penangkapan tokoh-tokoh pejuang itu segera menimbulkan reaksi dari rekan-rekan mereka. Di Aceh T.M. Amin yang waktu itu telah menjadi Presiden Direktur NV. Indolco dan Tgk. A. Wahab Seulimeum, Kapala Jawatan Agama Aceh melakukan kritik terhadap tindakan itu. Di Jakarta M. Nur El Ibrahimy dan Amelz yang waktu itu Anggota DPR pada bulan September dan Oktober mengajukan interpelasi kepada Pemerintah Pusat. Demikian juga Tgk. M. Daud Beureu`eh secara pribadi tanggal 8 Oktober 1951 mengirimkan sepucuk surat kepada Presiden Soekarno menumpahkan kejengkelannya terhadap perlakuan yang ia terima.45 Dalam suratnya ia mengatakan bahwa dia tidak keberatan ditangkap tetapi jangan dengan alasan yang dibuat-buat dan jangan mengelabui mata rakyat. Dalam menghadapi tindakan sewenang-wenang pihak tentara, lanjutnya, rakyat akan melaui tiga tahap; tahap bersabar, tahap benci, dan tahap melawan. Sekarang sudah sampai ke tahap kedua, oleh karenanya dia mengharapkan kebijaksanaan Presiden, kiranya hal-hal

44 45

M. Isa Sulaiman, loc. cit. Lihat juga Hasan Saleh, op. cit. hlm. 140-146. M. Isa Sulaiman, ibid. hlm. 261.

142

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Ditabuhnya Genderang Perang Sabil dan Bijstand

227

yang tidak diinginkan dapat dihindari.46

Barat serta Tapanuli Barat. Perubahan-perubahan selanjutnya dilakukan pada Sep-tember tahun berikutnya, ketika para pemberontak melaku-kan konferensi di Batee Kureng, di Aceh Besar. Konferensi ini dihadiri sembilan puluh orang, dua orang dari mereka mewakili Sumatera Timur. Konferensi ini diselenggarakan beberapa bulan sesudah Daud Beureu`eh diangkat Karto-su-wirjo sebagai wakil presiden Negara Islam Indonesia, Januari 1955. Selain dari Daud Beureu`eh dimasukkan orang-orang Aceh lainnya dalam kabinet baru seluruh Indonesia Negara Islam Indonesia. Demikianlah Al Murthada (Amin Husin al Mudjahid) diangkat menjadi Wakil Kedua Menteri Pertahanan, Hasan Ali Menteri Urusan Luar Negeri dan Tengku Nya' Tjut (Nya' Cut) Menteri Pendidikan. Di konferensi Batee Kureng dibicarakan kedudukan Aceh dalam Negara Islam Indonesia dan struktur pemerintahan daerah. Mula-mula Daud Beureueh hanya bermaksud mengadakan perundingan dengan pena-sihatpenasihatnya yang terdekat, para anggota badan konsultatif Komandemen Aceh, tentang hubungan daerah de-ngan Negara Islam Indonesia dan Republik Insdonesia. Ia menganjurkan pembentukan suatu negara Aceh yang tersendiri, masih dalam kerangka Negara Islam (federal). Hadirnya benar-benar sejumlah pemimpin Darul Islam lebih banyak di Batee Kureng sehubungan dengan rencana untuk merayakan ulang tahun kedua proklamasi 1953 memaksa Daud Beureu`eh mengadakan pertemuan yang lebih besar. Pada pertemuan kedua ini para pemimpin sepakat tentang pembentukan suatu negara tersendiri, walaupun beberapa orang, seperti T.A. Hasan, enggan berbuat yang demikian. Sebagai gantinya mereka mengajukan keinginan mereka menghendaki struktur negara ini yang lebih demokratis, yang di dalamnya pemerintah sipil akan bebas lagi dari peng-awasan militer dan akan dibentuk parlemen. Konferensi mencapai puncaknya dalam Piagam Batee Kureng, dengan mengubah status Aceh dari status provinsi menjadi negara dalam Negara Islam Indonesia. Piagam, yang menjadi semacam undang-undang dasar sementara,

G. Majelis Penimbang dan Harta Uleebalang


Majelis Penimbang dan harta uleebalang juga mempunyai andil yang besar terhadap Peristiwa DI/TII Aceh, sebagaimana keyakinan Pemerintah seperti yang diungkapkan oleh Perdana Menteri Ali Sostroamidjojo dalam Keterangan Pemerintah dalam rapat pleno DPR tanggal 2 Nopember 1953 mengenai Peristiwa Daud Beureu`eh, yaitu Pemerintah tetap berkeyakinan bahwa soal harta benda peninggalan uleebalang merupakan faktor terpenting dalam sebab musabab pemberontakan di Aceh sekarang ini. Majelis Penimbang dibentuk dengan Peraturan Daerah No. 1 tahun 1946 yang ditandatangani oleh Residen Aceh T.M. Daudsyah dan disetujui oleh Wakil Ketua Badan Pekerja Dewan Perwakilan Aceh, Mr. S.M. Amin, atas anjuran Komite Nasional Indonesia Daerah Aceh. Badan ini mempunyai hak dan kewajiban mengurus harta dan peninggalan uleebalang yang terlibat dalam Peristiwa Cumbok yang telah tewas.47 Ada dua hak luar biasa yang diberikan kepada Majelis Penimbang untuk dapat menyelenggarakan kewajibannya, pertama Majelis Penimbang mempunyai hak kehakiman dan keputusannya merupakan vonis yang tidak dapat diganggu gugat; dan kedua, dalam melaksanakan kewajibannya majelis tidak semestinya menurut peraturan (susunan acara-proses) kehakiman, melainkan tergantung atas kebijaksanaan Majelis Penimbang semata-mata.48 Dari kedua kewenangan tersebut dapat dilihat bahwa kewenangan yang dimiliki oleh Majelis Penimbang terhadap harta peninggalan uleebalang sangat besar dan tanpa batas. Kekuasaan yang cukup besar tersebut telah menimbulkan
46 47

M. Nur El Ibrahimy, op. cit. hlm. 75.

Menurut M. Nur El Ibrahimy, dalam naskah aslinya dicantumkan kata pengkhianat, bukan uleebalang. Lihat M. Nur El Ibrahimy, ibid., hlm. 173.
48

Ibid. hlm. 174.

226

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

143

bersangkutan yang semuanya termasuk dalam staf komandemen dan tunduk kepada komandan pertamanyadan paling-paling tiga orang luar, biasanya pemimpin-pemimpin agama.53 Untuk menghasilkan perubahan-perubahan, struktur Tentara Islam Aceh juga harus diubah. Mula-mula Divisi Tengku Chik Ditiro terdiri dari lima resimen, masing-masing terbagi dalam sejumlah batalyon. Sejak akhir 1953 resimen-resimen ini disebut "pangkalan", dan dianggap dalam teori setidak-tidaknya terdiri dari pasukan mobil dan teritorial,54 yang belakangan ini terdiri sebagian besar dari rakyat setem-pat yang bersenjatakan parang, pisau, dan sebagainya. Kini, Juni 1954, divisi ini dibagi lagi dalam enam resimen, satu resimen untuk tiap kabupaten. Kemudian resimen yag ke-tujuh, Resimen Tharmihim terbentuk, untuk melakukan operasi-operasi gerilya di Sumatera bagian timur.55 Para bupati ketika itu ialah: Pidie: T.A. Hasan. Aceh Utara: Tengku Sjeh Abdul Hamid (Ajah Hamid) (Ayah Hamid). Aceh Timur: Saleh Adri. Aceh Selatan: Tengku Zakaria Junus (Zakaria Yunus). Aceh Besar: Ishak Amin (bupati pertama di sini, Sulaiman Daud, bekas residenkoordinator Aceh, ditangkap pada Mei 1954). Komandan Resimen ketika itu: Resimen I (Pidie): Ibrahim Saleh, abang Hasan Saleh. Resimen II (Aceh Utara): H. Ibrahim. Resimen III (Aceh Timur): A.R. Hanafiah. Resimen IV (Aceh Selatan): Saleh Kafa. Resimen V (Aceh Tengah): Iljas Lebai (Ilyas Lebai). Resimen VI (Aceh Besar): Abdullah Wahab. Resimen VII (Sumatera Timur): Haji Hasanuddin (pasukan Aceh Barat, yang dipimpin T.R. Idris, merupakan bagian Resimen Aceh Selatan). Angkatan Polisi Darul Islam dipimpin A.R. Hasjim (A.R. Hasyim). Selanjutnya terdapat tiga wakil gubernur, yaitu: Hasan Aly untuk Aceh Besar, Pidie, dan Aceh Tengah. Hasan Saleh untuk Aceh Utara, dan Timur dan Langkat-Tanah Karo. A.G. Mutiara untuk Aceh Selatan dan
53 54 55

persoalan yang cukup ruwet dalam penyelesaian harta uleebalang. Sampai tahun 1950 Majelis Penimbang masih tetap melakukan fungsinya. Pada tanggal 17 Mei 1950 Majelis Penimbang Pidie secara terbuka mengumumkan pelelangan kilang padi milik almarhum Toke Wahab Meureudu dan T. Laksamana Umar. Sukar sekali diketahui secara persis jumlah harta uleebalang yang masih menjadi sengketa. Mr. S.M. Amin pada pertengahan tahun 1956 memperkirakan diperlukan dana sebanyak Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) untuk keperluan ganti rugi, sedangkan Tgk. Hitam Peureulak memperkirakan bahwa Majelis Penimbang Pidie telah menjual 145 gunca dan 9 naleh bibit sawah, 60 petak kebun, 13 buah rumah, 26 kedai, 4 los pasar, 1 pabrik padi Toke Wahab Meureudu di Langsa dan 2/5 bagian pabrik padi T. Laksamana Umar di Sigli. Dari kedua data tersebut tidak mencantumkan perhiasan, kenderaan, dan ternak. Memang benar Majelis Penimbang telah memproses perkara harta uleebalang yang berada di tangan mereka, namun bila dilihat jumlah yang diproses, seperti yang diaporkan oleh Tgk. A. Wahab Seulimeum tanggal 6 Nopember 1951 ternyata perkara yang banyak dilayani majelis tersebut lebih banyak menyangkut dengan perkara ganti rugi rumah penduduk yang terbakar akibat perang (terutama di Ilot dan Meutareum), perkara tuduhan bahwa uleebalang mengambil paksa harta penduduk sewaktu mereka masih hidup, dan perkara harta baital mal. Setelah dihapusnya otonomi telah membangkitkan keberanian ahli waris uleebalang untuk menggugat vonis Majelis Penimbang yang dianggap mereka bertentangan dengan konstitusi. Untuk tujuan tersebut beberapa uleebalang yang berdomisili di Kabupaten Pidie pada pertengahan tahun 1951 membentuk forum koordinasi yang diberi nama Panitia Penuntut Harta Uleebalang di bawah pimpinan T. Harun. Gerakan itu mendapat simpati dari rekan-rekan mereka yang berdomisili di Kutaraja antara lain T. Ali Lam Lagang dan T. A. Rahman Muli, dan juga dukungan dari beberapa ulama berpengaruh yaitu Tgk.

Gelanggang, op.cit., hlm. 63-71; Amin, Peristiwa., hlm. 72. Gelanggang, Ibid., hlm. 56.

BJ. Boland, The Struggle of Islam in Modern Indonesia, (The Hague: Martinus Nijhoff Verhandelingen KITLV, 1971), hlm. 88.

144

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Ditabuhnya Genderang Perang Sabil dan Bijstand

225

A. Salam Meuraksa, Tgk. Makam Gampong Blang, dan Tgk. Hasan Krueng Kale. Dalam sebuah rapat tanggal 8 April 1951 di Lamteumen, Kutaraja, berhasil dibentuk sebuah badan yang diberi nama Badan Keinsyafan Rakyat (BKR) yang diketuai oleh T. Ali Lam Lagang dengan tujuan membantu Pemerintah. Tujuh hari kemudian BKR telah berhasil menyusun suatu resolusi yang dikirim kepada Pemerintah yang isinya mendesak Pemerintah supaya segera menertibkan 8 butir usulan untuk menegakkan wibawa Pemerintah di mata rakyat, antara lain, retooling pegawai, memberlakukan pemerintahan militer, dan memaksa Majelis Penimbang untuk mengembalikan harta anak yatim (keluarga uleebalang) yang masih mereka kuasai. 49 Menaggapi persoalan harta uleebalang tersebut Gubernur Sumatera Utara, A. Hakim, membentuk sebuah wadah yang bersifat integral dan dibentuk pada setiap kabupaten tanggal 2 September 1952 dengan nama Panitia Pemeriksa Harta eks Zelbestuurder. Pada bulan Januari 1953 Gubernur Hakim mengeluarkan pula sepucuk kawat kepada Residen Danubroto yang isinya antara lain, pengembalian harta uleebalang yang ada di tangan Majelis Penimbang ke tangan ahli warisnya, perkara-perkara yan ada di luar kompetensi Majelis Penimbang diserahkan kepada Jaksa di Kutaraja, dan pengiriman vonis perkara yang dijatuhkan oleh Majejis Penimbang ke tangan Gubernur. Perubahan formal tersebut belum dapat menyelesaikan persoalan harta uleebalang secara tuntas terutama di Pidie. Persoalannya adalah personil yang duduk dalam lembaga baru tesebut umumnya bekas pemimpin milisi. Hal ini ditambah lagi dengan status harta uleebalang yang memang telah habis terpakai atau dijual oleh Majelis Penimbang kepada pihak ketiga. Uangnya sendiri telah diunakan untuk biaya operasional Majelis Penimbang, berbagai keperluan daerah selama Revolusi Kemerdekaan, dan ganti rugi terhadap Korban Perang di pihak rakyat berupa santunan dan ganti rugi rumah yang dibakar. Situasi tersebut menimbulkan ketidakpuasan dikalangan ahli waris

menduduki kota-kota besar dan kecil dan pasukan Darul Islam terusir ke hutan. Mereka terdo-rong kesadaran, strategi harus diubah dari strategi serangan frontal terhadap pasukan Republik Indonesia menjadi strategi perang gerilya dan kesadaran, jumlah rakyat yang dengan suatu dan cara lain membantu musuh hari demi hari bertam-bah.51 Demi perang gerilya yang lebih efektif, pemerintah militer dan sipil dijadikan dalam satu tangan dengan pembentukan komandemenkomandemen. Maka terdapat suatu koman-demen demikian untuk Aceh secara menyeluruh maupun untuk masing-masing kabupaten (yang terbagi dalam sejum-lah sub-komandemen) dan kecamatan. Komandan satuan militer yang bersangkutan menjadi komandan pertama komandemen dan kepala stafnya menjadi kepala staf komandemen. Para kepala pemerintahan sipil, bupati atau camat (dan dalam hal sub-komandan kabupaten wedana), dijadikan komandan kedua. Ketiga fungsionaris inikomandan pertama dari mereka ini adalah pimpinan tertinggidengan demikian merupakan komite pelaksana dari setiap komandemen.52 Perubahan-perubahan ini selanjutnya memperkukuh ke-dudukan Daud Beureu`eh, karena kini dia mengepalai baik pemerintahan sipil maupun militer. Bagi Komando Aceh se-cara menyeluruh ini berarti, dia adalah hampir seluruh komi-te pelaksana. Di samping itu, Dewan Syura, Majelis Syura dan Dewan Militer dinyatakan "pasif", sedangkan komandemen di-beri kekuasaan legislatif. Sebagai imbalan, diumumkan bersa-maan waktunya bahwa semua keputusan yang bersifat legis-latif harus dibicarakan dengan suatu badan konsultatif yang baru dibentuk. Tetapi badan ini terdiri dari pelaksana koman-demen dilengkapi dengan kepala-kepala perwakilan pemerintah dari daerah yang
Penjelasan Komando Tentara Islam Indonesia Terr.V Divisi Tengku Chik Ditiro 5-41954, lihat dalam JarahDam-I, Dua Windhu KodamI/Iskandar Muda, (Banda Aceh: Sejarah Daerah Militer KODAM Iskandar Muda, 1972).
52 51

Untuk para komandan resimen dan batalyon-batalyonnya lihat Amin, Peristiwa,

49

M. Isa Sulaiman, op. cit. hlm. 251.

83-85..

224

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

145

Belanda Desember 1948.49 Ketika mengajukan alasan yang terakhir, para pemimpin pemberontak mengalami sedikit kesulitan dalam menjelaskan mengapa mereka baru sekarang masuk Negara Islam Indonesia dan tidak sejak lahirnya pada 1949. Karena itu tekanan pada penangguhan pemilihan umum dan pada peru-bahan dalam pemerintah. Walaupun rakyat Aceh terus mene-rus telah mengharapkan dan dengan sabar menantikan per-mohonan mereka dikabulkan Jakarta, dua peristiwa ini merupakan bahan yang terakhir. Pada mulanya Aceh dibayangkan sebagai suatu provinsi Negara Islam Indonesia dengan otonomi yang luas. Kepala provinsi ini adalah Daud Beureu`eh, yang seperti semasa perjuangan kemerdekaan menduduki jabatan gubernur sipil dan militer dan dalam kedudukan ini juga menjadi panglima Divisi Territorium V Tentara Islam Indonesia, Divisi Tengku Chik Ditiro, dan wakil Pemerintah Pusat Negara Islam Indo-nesia. Dalam urusan sipil ia dibantu suatu dewan peme-rintahan, yang disebut Dewan Syura. Juga diumumkan terbentuknya suatu parlemen, Majelis Syura.50 Dalam urusan militer ia dibantu Dewan Militer, yang terdiri dari tiga orang: Daud Beureu`eh sendiri, Amir Husin al Mudjahid, sebagai wakil ketua Dewan Syura, dan Husin Jusuf, sebagai Kepala Staf Divisi Tengku Chik Ditiro. Pada tingkat-tingkat yang lebih rendah, tingkat kabupaten dan kecamatan, urusan militer dan sipil untuk sementara tetap terpisah, setidak-tidaknya dalam prinsip. Para komandan satuan tentara setempat tidak perlu menjadi kepala pemerintahan sipil, dan sebaliknya. Dalam dua tahun berikutnya struktur pemerintahan dua kali berubah. Penyesuaian-penyesuaian yang pertama dilaku-kan setelah kaum pemberontak pulih dari kejutan yang dide-rita akibat gagalnya rencana
Amin, Sekitar., hlm. 87-94; Gelanggang, op.cit., hlm.33-34. Dewan Syura terdiri dari seorang ketua (Daud Beureu`eh), seorang wakil ketua (Amir Husin al Mudjahid), dan lima anggota. Majelis Syura juga terdiri dari seorang ketua (Daud Beureu`eh) dan seorang wakil ketua, sedangkan susunan yang sebenarnya maupun jumlah anggotanya masih akan ditentukan. Nazaruddin Sjamsuddin, Pemberontakan Kaum Republik, Kasus Darul islam Aceh, (terj.), (Jakarta: Grafiti Pers, 1985), hlm. 134.
50 49

uleebalang. Akibatnya persoalan harta uleebalang tidak kunjung selesai menjelang meletusnya DI/TII.50

H. Provinsi Aceh sebagai Kebanggaan


Orang-orang Aceh, setelah tahun-tahun awal revolusi telah menyerahkan semuanya bagi pemerintah pusat di Jawa, nyaris tak memiliki apa-apa lagi kecuali kebanggaan akan provinsinya, secuil tanah batas yang tetap mereka kenang. Provinsi Aceh timbul dari pendudukan Jepang, benar-benar sebagai daerah otonom. Pada 1945 ia menjadi salah satu residensi provinsi Sumatera. Walaupun Dewan Perwakilan Provinsi Sumateradi dalamnya hanya termasuk sepuluh orang Aceh di antara seratus anggotanyamemutuskan dalam sidang yang pertama bahwa Sumatera akan terbagi dalam tiga subprovinsi, antaranya Sumatera Utara, yang terdiri dan Aceh, Tapanuli, dan Sumatera Timur. Aceh terus berfungsi hampir sebagai daerah yang berdiri sendiri. Pada tahun-tahun kekacauan sesudah masa pendudukan Jepang, Aceh melaksanakan urusan pemerintahan dan militernya sendiri tanpa banyak campur tangan dari luar. Untuk suatu masa singkat antara Agustus 1947 dan Juni 1948, sesudah aksi militer Belanda yang pertama, situasi ini malahan dengan resmi ditegaskan dengan menyatakan Acehbersama Langkat dan Tanah Karo sebagai suatu daerah militer yang dikepalai seorang gubernur militer. Tetapi keadaan berubah, karena struktur pemerintahan Republik Indonesia mengambil garis yang lebih jelas dan pengaruh Pemerintah Pusat dan Provinsi makin bertambah terasa. Pada April 1948 subprovinsi diberi status provinsi, dan provinsi Sumatera Utara, yang terdiri dari Aceh, Tapanuli, dan Sumatera Timur; gubernur pertamanya ialah S.M. Amin, yang hingga kini menjadi wakil gubernur subprovinsi Sumatera Utara. Karena itu, pada pandangan pertama kelihatannya tak ada yang berubah. Tetapi tindakan ini menunjukkan normalisasi kehidupan pemerintahan dan pengaruh Pemerintah Pusat yang kian
50

Ibid., hlm. 263-265.

146

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Ditabuhnya Genderang Perang Sabil dan Bijstand

223

bertambah. Gubernur S.M. Amin dalam pidato pembukaannya pada sidang pertama Dewan Perwakilan Daerah Sumatra Utara menunjukkan pengertian yang mendalam terhadap masalah-masalah yang terkandung sehubungan dengan pembentukan provinsi khusus ini dengan menyatakan: "Perubahan pemerintahan yang akan dilaksanakan ini membawa perubahan prinsipiil dan perubahan yang bersifat radikal. Sampai saat ini dasar Pemerintahan Daerah adalah kesatuan keresidenan; kesatuan keresidenan ini didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan yang terutama bersifat etnologis. Keresidenan Aceh didasarkaan atas kesatuan Aceh; Keresidenan Tapanuli atas kesatuan Batak; Keresidenan Sumatera Timur atas kesatuan Melayu. Nyatalah kepada kita bahwa bentukan kesatuan ini didasarkan atas kesatuan kebangsaan yang sempit. Suatu dasar yang sefiarusnya tidak layak lagi dipergunakan di dalam Republik kita. Maka, pembentukan provinsi yang akan kita laksanakan ini tidaklah lagi didasarkan atas dasar-dasar yang lama, tetapi atas dasar baru, yaitu atas dasar-dasar yang mengenai persatuan ekonomi, politik, dan lain lain".51 Selanjutnya dikemukakan: "Negara kita berdasar antara lain atas perasaan kebangsaan yang satu, bangsa Indonesia; tidak ada tempat untuk bangsa Aceh, bangsa Batak, ataupun bangsa Melayu. Bagi negara hanyalah satu bangsa, bangsa yang terdiri dari beberapa golongan, yaitu yang berasal dari daerah Tapanuli, daerah Aceh, daerah Sumatera Timur, dan seterusnya. Perbedaan agama bagi kita bukanlah menjadi soal. Kita bebas menganut agama yang kita percayai menurut keyakinan kita; perbedaan agama tidaklah sekali-kali memecah persatuan kebangsaan kita".52 Kedua faktor yang menarik perhatian S.M. Amin dalam pidatonya ini, yaitu perbedaan kesukuan dan keagamaan antara Aceh dan kedua daerah Sumatera Utara lainnya, sesungguhnya memainkan peranan penting dalam tuntutan
Sumatera Utara, Republik Indonesia: Provinsi Sumatera Utara, (Jakarta: Kementerian Penerangan, 1953), hlm. 188-189.
52 51

peraturan, dan sebagai-nya yang dikeluarkan Republik Indonesia, yang semuanya bernapaskan semangat Hinduisme. PNI dan sejumlah partai kecil dituduh menjadi alat dalam usaha-usaha ini. Karena partai-partai ini semuanya menekankan sila Pancasila na-sionalisme Indonesia sebagai kedok politik bagi usaha-usaha mereka melanjutkan Hinduisme. Banyak orang muslim menurut laporan masuk dalam perangkap dan mendukung orang-orang yang sesungguhnya berusaha menghancurkan Islam. Di samping mengidentifikasikan kalangan Muslim Jawa dengan Hinduisme, pernyataan-pernyataan ini mengungkap-kan kecemasan dan melakukan serangan terhadap kemajuan komunisme. Perubahan pemerintah pada Juli 1953 ditafsir-kan sebagai tanda nyata pengaruh komunisme yang makin bertambah dalam bidang politik. Perubahan ini meliputi penggantian Kabinet Wilopo, yang didukung Masyumi dan PNI, oleh kabinet pertama Ali Sastroamidjojo, yang di dalamnya tidak terdapat menteri-menteri Masyumi dan memperoleh dukungan PKI di DPR. Perubahan ini dinyatakan sebagai salah satu sebab langsung dari pemberontakan. Dengan Ma-syumi yang dipaksa menjadi oposisi, pemerintah telah jatuh ke dalam tangan musuh-musuh Islam. Pemberontakan selanjutnya digambarkan kepada rakyat Aceh sebagai kelanjutan perlawanan sebelum Perang terhadap kolonialisme Belanda dan perjuangan mereka untuk kemer-dekaan. Republik Indonesia secara tegas dinyatakan telah kehilangan hak untuk bertindak atas nama proklamasi kemerdekaan. Bukan saja ia tidak memberikan kepada Islam tempat yang layak dalam masyarakat, tetapi lebih celaka lagi, sesungguhnya ia merupakan produk Belanda. Menurut ke-biasaan gerakan-gerakan pemberontak lain, ia dijuluki nama "Republik Konferensi Meja Bundar". Ahli waris yang sah dari proklamasi Agustus 1945 adalah Negara Islam Indonesia, yang telah mengambil alih perjuangan untuk kemerdekaan setelah eksistensi Republik Indonesia berakhir sebagai akibat Pemerintahnya ditangkap

Ibid., hlm.1901.

222

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

147

yang berlakulah yang telah menimbulkan pemberontakan. Ia menasihati para pemimpin Republik agar tidak menggunakan kekerasan, tetapi menanggulangi inti pokok persoalan dan memperlabaiki. dasar-dasar negara mereka, juga kebijaksanaan mereka.46 Dalam pernyataan-pernyataan yang lain pemberontakan ini ditandai sebagai suatu gerakan untuk membebaskan Aceh dari kolonialisme Jawa. Di sini pemimpin-pemimpin di Jakar-ta dilukiskan sebagai orang kafir sesudah Islam dihancurkan, umpamanya melalui pengubahan sistem pendidikan. Selan-jutnya mereka dicap sebagai pejabat-pejabat yang korup, mengangkat teman-teman sendiri pada jabatan-jabatan yang penting, dan dinyatakan memecat atau memberhentikan de-ngan sewenang-wenang setiap orang yang tidak termasuk kalangannya "karena kesehatan mereka tidak seratus persen, karena mereka tidak berpendidikan, ada yang tidak beres dengan penampilan mereka, pendeknya senbu satu alasan".47 Sambil lalu, kutipan yang akhir ini menunjukkan, kebijak-sanaan Pemerintah Pusat menggunakan ukuran-ukuran tertentu untuk diterima menjadi pegawai negeri dan tentara juga menimbulkan kemarahan yang sangat besar di Aceh. Pemimpin-pemimpin Republik di Jakarta dituduh ber-usaha mengutamakan kepentingan Jawa dan orang Jawa. Banyak dikemukakan latar belakang Hindu mereka. Pada April 1954 umpamanya, Daud Beureu`eh melukiskan Peme-rintah Republik sebagai pemerintah Hindu yang mengenakan baju nasionalis yang sangat mirip dengan komunisme.48 Has-rat pokoknya, dalam mata kaum pemberontak Aceh, adalah untuk mengembalikan zaman kerajaan Majapahit dalam masa jayanya. Dikatakan, penyebaran ideidenya dilakukan melalui saluran undang-undang, peraturan46 47 48

Aceh untuk otonomi daerah. Soal pemerintah daerah untuk sementara bergeser ke tempat kedua pentingnya ketika Desember 1948 Belanda melancarkan aksi militernya yang kedua dan menangkap seluruh Pemerintah Republik di Yogyakarta. Dalam pengaturan pertahanan daerah terhadap serangan Belanda, pembagian pemerintahan Indonesia pada akhir 1948 dibatalkan dan sistem yang berlaku sebelumnya dipergunakan lagi. Menurut sistem akhir ini Sumatera dibagi dalam lima daerah militer, salah satu di antaranya terdiri dari Kabupaten Aceh, Langkat, dan Tanah Karo. Pada 1947, dan demikian pula pada akhir 1948, Tengku Daud Beureu`eh menjadi gubernur militer dengan pangkat tituler mayor jen-deral. Perubahan besar yang menyangkut ini adalah, Daud Beureu`eh kini menjadi kepala Pemerintahan Sipil maupun Tentara, sedangkan pada 1947 kekuasaan gubernur militer hanya dalam urusan militer dan urusan-urusan sipil yang berhubungan dengan pertahanan. Pengaturan baru ini secara resmi dikukuhkan Mei 1949 oleh Pemerintah Darurat yang dikepalai Sjafruddin Prawiranegara yang dibentuk setelah ditangkapnya Soekarno dan kabinetnya yang mula-mula berkedudukan di Buktiktinggi dan kemudian di Banda Aceh. Pada 16 Mei Pemerintah ini mengumumkan, dbalam daerah-daerah militer khusus semua kekuasaan sipil dan militer akan berada pada gubernur militer.53 Keesokan harinya jabatan gubernur provinsi dihapuskan di Sumatera, dan berubah menjadi jabatan wakil pemerintah.54 Sesudah Kabinet yang lama mulai lagi melaksanakan tugasnya, Juli 1949, setelah para anggotanya dibebaskan Belanda dan Pemerintah Darurat dibubarkan jabatan wakil perdana menteri khusus untuk Sumatera diadakan. Jabatan ini diberikan kepada Sjafruddin Prawiranegara. Mengingat perhubungan antara Jawa dan Sumatera masih sangat sulit, dia diberi kekuasaan luas. Demikianlah dia berhak membuat peraturan yang mempunyai kekuatan hukum sesudah
53 54

Gelanggang, Ibid., hlm. 45-51. Amin, Sekitar, hlm. 88. Gelanggang, Ibid., hlm. 54. Lihat, Keputusan Pemerintah Darurat Republik Irldonesia no. 21. Lihat, Keputusan Pemerintah Darurat Republik Indonesia no. 22.

148

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Ditabuhnya Genderang Perang Sabil dan Bijstand

221

seperlunya minta pendapat Dewan Pertimbangan, yang para anggotanya akan diangkat Presiden. Dia dapat pula mengeluarkan peraturan pemerintah "biasa" tanpa minta pendapat Dewan.55 Agustus 1949 Sjafruddin mengunjungi Aceh, dan segera menghadapi sejumlah masalah di sini, seperti lanjutan kegagalan kup Sajid Ali Alsaqaf dan tuntutan-tuntutan yang keras dari pemimpinpemimpin PUSA untuk memberikan Aceh status provinsi. Tekanan demikian besarnya hingga dia terpaksa melakukan pembentukan provinsi Aceh. Seperti dinyatakan dalam keterangan Pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rakyat pada I953, "provinsi otonom Aceh dibentuk karena keadaan memaksa."56 Dengan menggunakan kekuasaan istimewanya, Sjafruddin Prawiranegara pada 17 Desember 1949 mengeluarkan peraturan yang mempunyai kekuatan peraturan pemerintah, yang menyatakan Sumatera Utara terbagi dalam dua provinsi baru: provinsi Aceh (termasuk sebagian Langkat), dan provinsi Tapanuli/Sumatera Timur.57 Mukadi-mah bagi peraturan ini menyatakan, pembentukan provinsi Aceh merupakan masalah yang mendesak, yang tidak mengikuti prosedur hukum biasa. Demikianlah dikemukakan sementara pembentukan provinsi baru seharusnya secara biasa terjadi oleh undang-undang DPR, dalam hal sekarang hal ini telah digantikan oleh suatu peraturan Wakil Per-dana Menteri tanpa berkonsultasi dengan Dewan Pertimbangan, per-tama-tama karena tak ada dewan demikian yang sudah terbentuk, dan kedua, mengingat mendesaknya guna memperbaiki struktur pemerin-tahan. Pengangkatan sebagai gubernur provinsi Aceh yang baru pertama-tama ditolak Tengku Daud Beureu`eh, yang menyarankan Teuku Mohammad Daudsjah, yang selama masa jabatan Daud Beureu`eh se55 56

peng-asingan. Ketika itu pun tak terdapat cukup ruangan lalu para tawanan harus diangkut ke tempat-tempat di luar Aceh.44 Dengan cara yang belakangan ini Pemerintah Republik juga mengharapkan mempercepat pemeriksaan para tawanan, karena di Aceh tidak cukup jumlah personil yang memenuhi syarat untuk ini. Tetapi langkah ini tidak mencapai hasil yang diharapkan. Penjara dan kamp-kamp di Aceh terus juga dipenuhi hingga melimpah, dan proses pemeriksaan para tawanan sangat lambat. Ketika pemeriksaan benar-benar berlangsung, sebagian besar tawanan ternyata tidak bersalah dan ditangkap hanyalah berdasarkan kecurigaan yang sangat kecil. Pada 1956 kecuali 400 orang semua tawanan dibe-baskan lagi.45

B. Nasionalisme Bukan Alasan untuk Bersatu


Rakyat Aceh tidak ingin memisahkan diri dari saudara-saudaranya, Daud Beureu`eh menegaskan, tetapi tidak pula mereka ingin diperlakukan sebagai anak tiri. Dalam hubung-an ini ia mengemukakan kurangnya fasilitas pendidikan yang baik dan kesempatan kerja bagi anak-anak Aceh, sedangkan tidak adanya sistem perhubungan yang memadai menghalangi rakyat dalam kegiatan ekonominya. Ia menambahkan, proklamasi Negara Islam Aceh tidaklah berarti bahwa telah terbentuk suatu negara dalam negara. Pada masa lalu Republik Indonesia dianggap sebagai jembatan emas menuju pelaksanaan cita-cita negara yang diidamkan sejak semula. Tetapi kini jembatan ini tidak lagi dianggap sebagai sarana komunikasi, melainkan lebih merupakan rintangan. Kesetiaan kepada Republik, yang didasarkan pada nasionalisme, telah lenyap sedangkan selanjutnya rakyat pun tidak merasa di-persatukan oleh suatu sistem hukum yang sama. Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan bahwa proklamasi Negara Islam akan menimbulkan kekacauan dan bertentangan dengan hukum, Daud Beureu`eh menegaskan, sebaliknya kekacauan hukum
44 45

Lihat Undang-undang No.2/1949.

A.H. Gelanggang, Rahasia Pemberontakan Aceh dan Kegagalan Politik Mr. SM Amin, (Banda Aceh: Pustaka Murni Hati, 1956), hlm. 87.
57

Gelanggang, Ibid., hlm. 145. Amin, Sekitar, hlm. 130-132.

Lihat, Peraturan Wakil Menteri Pengganti Peraturan Pemerintah no. 8 1949.

220

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

149

Tentara di Aceh, kebalikannya.42

dan

sebagainya

merupakan

cukup

bukti

Amin menjawab pada Agustus 1954. Dengan menolak menemui pemimpim-pemimpin gerilya ini sendiri, ia mengirim suatu rancangan surat untuk ditandatangani Daud Beureu`eh dan Hasan Aly yang menyatakan, keduanya berjanji akan mengakhiri perlawanan mereka, meletakkan senjata mereka, dan akan menemui wakil-wakil Pemerintah Republik bila yang belakangan ini bersedia mengakui hak mereka untuk mem-perjuangkan Negara Islam bukan dengan jalan kekerasan, memberikan lebih banyak perhatian demi kepentingan Aceh di masa depan dan memberikan amnesti kepada para pemberontak. Bila Daud Beureu`eh dan Hasan Aly menandatangani rancangan ini, ia, Amin, pribadi akan ke Jakarta untuk memperjuangkan agar persetujuan ini diterima Pemerintah. Tetapi Daud Beureu`eh dan Hasan Aly tidak menanda-tanganinya. Sebaliknya mereka merancangkan suatu peratur-an pemerintah untuk ditandatangani Ali Sastroamidjojo yang mereka minta dibawa Amin ke Jakarta. Di dalamnya dinyata-kan, Pemerintah Republik berusaha membuka perundingan dengan pendiri-pendiri Negara Islam Indonesia di Jawa, Aceh, Kalimantan, dan Sulawesi, dan melindungi serta membantu para anggota delegasi Negara Islam selama perundingan-pe-rundingan ini berlangsung. Dalam surat pengiringnya, ter-tanggal 5 Oktober 1954, mereka menjelaskan, apa yang mereka inginkan bukanlah amnesti tetapi perundingan.43 Masalah yang paling banyak membuat sakit kepala pemerintah waktu itu, di samping aksi-aksi militer sendiri, adalah masalah pengurusan dan akomodasi tawanan. Sampai pada akhir Maret 1954, 4.666 orang ditangkap. Kapasitas penjara-penjara yang ada jauh dari cukup untuk menghadapi jumlah yang besar ini, dan sekolah-sekolah dan gedung-gedung pemerintah harus diubah menjadi kamp-kamp
42 43

bagai gubernur militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo menduduki jabatan residen Aceh, untuk menjabat kedudukan itu. Alasan yang dikemukakannya bagi penolakan itu adalah, ia merasa tidak mungkin menilai kecakapannya sendiri, walaupun alasan yang sebenarnya mungkin adalah, ia meramalkan terjadi banyak penentangan terhadap dia sendiri. Namun, keesokan harinya berubah pikirannya. Mengingat perkembangan di Aceh dari tahun 1945 sampai 1950, tidaklah mengejutkan bahwa terdapat banyak penentangan terhadap pelantikan Daud Beureu`eh sebagai gubernur, dan kecurigaan yang keras bahwa pembentukan provinsi Aceh merupakan upaya lain para anggota PUSA untuk mempertahankan dan meluaskan pengaruh mereka di Aceh. Sebaliknya, sangat dapat dipahami bahwa Pemerintah dan para pendukungnya, sesudah proklamasi Daud Beureu`eh tentang Aceh sebagai daerah Darul Islam, seyogyanya menaruh perhatian akan penentangan rakyat terhadap pengangkatan Daud Beureu`eh sebagai gubernur Aceh. Keterangan Pemerintah tahun 195358 sebenarnya mengemukakan, reaksi masyarakat Aceh terhadap pengangkatan ini sungguh dingin. Selanjutnya dikemukakan dalam hubungan ini kegagalan upaya Zainuddin, salah seorang usahawaan Aceh yang paling terkemuka, untuk membentuk panitia yang menyelenggarakan pesta merayakan pelantikan Daud Beureu`eh. Rapat yang diadakan untuk membentuk panitia ini sangat sedikit pengunjungnya karena tidak mendapat perhatian dan dukungan.59 Di samping penentangan di Aceh sendiri terhadap apa yang
Gelanggang, op.cit., hlm. 87. Bahkan orang seperti Amelz, yang biasanya membela kaum pemberontak Darul Islam menyatakan dalam DPR Oktober 1953: "Walau pun saya banyak berbeda pendapat dengan dia di masa lalu, sayaseperti juga banyak sahabat dan musuhnya yang lain terpaksa mengakui pengaruhnya yang hebat di kalangan rakyat, terutama dalam masa kemerdekaan kita, sejak ia menjadi kepala Jawatan Agama, gubernur militer dan kemudian gubernur Aceh. Tidak disangkal, namanya jatuh sesudah pengangkatannya sebagai gubernur militer dan gubernur Aceh dan dia menjadi sangat tidak disenangi sebagian para pengikutnya. Tetapi menjadi sangat kuat kembali setelah ia berhenti, terutama pada 1952 dan 1953".Lihat Bagian Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureueh, Jilid I (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan (t.t.), hlm 269.
59 58

Gelanggang, Ibid., hlm. 132-157; Amin, Sekitar, hlm. 198-200. Gelanggang, Ibid., hlm. 157-167.

150

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Ditabuhnya Genderang Perang Sabil dan Bijstand

219

dilukiskan S.M. Amin sebagai "pengalihan semua kekuasaan di daerah ke-pada pihak PUSA, tanpa suatu penilikan atau pengawasan dari pengu-asa daerah yang lebih tinggi", Pemerintah Pusat juga bertindak ber-hati-hati.60 Ketimbang menyokong peraturan Sjafruddin Prawiranegara dan seharusnya memberlakukan undang-undang yang menyatakan Aceh sebagai provinsi terpisah, dibentuk suatu Komisi Penyelidikan yang diketuai oleh Menteri Dalam Negeri, Susanto Tirtoprodjo,S.H. Dalam kunjungannya ke Banda Aceh, Komisi ini lalu memberitahukan kepada para pemimpin Aceh bahwa Pemerintah Pusat belum mengambil keputusan apakah Aceh benar-benar menjadi provinsi ter-sendiri. Tentu saja pengumuman ini tidak diterima dengan baik. PUSA berusaha memperkuat permohonan mereka untuk provinsi terpisah dengan mengancam, jika Aceh menjadi bagian lagi dari provinsi Suma-tera Utara mereka tidak akan bertanggung jawab lagi dalam memeli-hara ketertiban dan keamanan. Di samping itu, seperti juga Amir Husin al Mudjahid mereka berusaha menghimpun dukungan rakyat untuk terus berdirinya provinsi Aceh.61 Menurut laporan, Daud Beureu`eh sendiri berulang kali membayangkan kemungkinan pemberontakan dengan menyatakan secara terangterangan, dia dan para pendukungnya akan pergi ke pegunungan untuk membangun Aceh dengan cara mereka.62 Walaupun terdapat penentangan pihak Aceh, suatu panitia persiapan yang baru untuk pembentukan provinsi Sumatera Utara, didirikan pada 1 Agustus 1950. Panitia ini diketuai S. Parman Reksodihardjo dan termasuk dalam anggotanya Teuku Mohammad Daudsjah. Lagi-lagi perkembangan politik di luar kekuasaan pihak Aceh yang telah mempengaruhi sikap Pemerintah Pusat terhadap pembagian administratif Sumatera. Satu setengah tahun sebelumnya "aksi militer" Belanda yang kedua telah
60 61 62

1946,-Ketua Dewan Perwakigan Rakyat Daerah Aceh. Kemudian menyusul pula pengangkatannya sebagai gubernur Sumatera Utara. Sejak mula pemberontakan Amin memperlihatkan dirinya sebagai seorang yang membela perundingan dengan pembe-rontak sebagai cara memperoleh penyelesaian damai.40 Berpe-gang pada prinsip ini, ia melakukan kontak dengan Said Abu-bakar. Selanjutnya ia mengadakan surat-menyurat dengan pemimpin-pemimpin Darul Islam secara diam-diam, tanpa lebih dahulu memberitahukan kepada Pemerintah Pusat, Desember 1953. Dalam surat-surat iniyang dinyatakannya sendiri dengan tegas, ia menulis sebagai seorang warga negara pribadi ia menyatakan, menyetujui tujuan pemberontak yang merupakan cita-cita semua un.at muslim dan ia merasa peristiwaperistiwa yang telah mencetuskan pemberontakan adalah akibat salah paham. Tetapi cara-cara yang dipilih kaum pemberontak tidak disetujui semua umat muslim. Kare-na itu ia meminta kaum pemberontak mengemukakan gagas-an bagaimana mengakhlri pertumpahan darah.41 Amin menerima jawaban dari Husin Jusuf dan Daud Beureu`eh. Keduanya menggarisbawahi kewajiban setiap mus-lim Indonesia untuk turut serta dalam jihad mempertahankan Negara Islam Indonesia, yang demikian mereka kemukakan, telah menjadi suatu kenyataan yang tidak bisa diabaikan. Lalu mereka menyatakan, konflik dapat berakhir segera sesudah Pemerintah Republik memperhatikan hasrat masyarakat Islam. Mereka menyangkal, revolusi sosial atau keingin-an memperoleh otonomi mengilhami pemberontakan mereka, dengan menegaskan, penyebab pangkalnya terletak dalam agama. Mereka tidak sependapat dengan pandangan Amin bahwa kekacauan yang terjadi adalah disebabkan kesalah-pahaman. Politik kebijaksanaan yang dijalankan Pemerintah Republik, reaksi Pemerintah terhadap Peristiwa Cumbok dan terhadap tuntutan otonomi, reorganisasi

SMAmin, Sekitar Peristiwa Berdarah di Atjeh, (Jakarta: Soeroengan, 1956), hlm. 28. SM Amin, Kenang-kenangan dari Masa Lampau, (1975), hlm. 30.
40 41

A.H. Gelanggang, Rahasia Pemberontakan Aceh dan Kegagalan Politik Mr. SM Amin, (Banda Aceh: Pustaka Murni Hati, 1956), hlm. 13.

Gelanggang, op.cit., hlm. 67. Gelanggang, Ibid., hlm. 126, 129-130)

218

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

151

naik dengan 15 persen, demikian keyakinan SM Amin selaku pemerintah.37 Pasukan Darul Islam sendiri juga dituduh melakukan keja-hatan dan pembantaian besar-besaran. Demikianlah dinyata-kan, mereka telah membunuh lebih dari 200 tawanan di dekat Lammeulo, daerah tempat mulainya revolusi sosial, ketika dipaksa mundur ke sini Oktober 1953. Bicara tentang peris-tiwa yang sama ini, komisi parlemen melaporkan terbunuhnya secara keji 123 anggota PNI, 120 anggota PKI dan 28 anggota Perti sesudah kunjungannya ke Aceh.38 Peristiwa yang menyangkut pasukan Republik digunakan mereka yang menyetujui penyelesaian damai untuk mendesak sekali lagi diadakan perundingan dan diberikan konsesi kepada beberapa tuntutan kaum pemberontak. Sejauh ini upaya untuk meyakinkan pemberontak-pemberontak Darul Islam di Aceh untuk menghentikan perjuangan mereka dan berunding dengan Republik telah gagal. Gubernur baru Sumatera Utara, S.M. Amin, melakukan surat-menyurat de-ngan pemimpin-pemimpin pemberontak yang terkemuka sejak akhir 1953. Walaupun dia sendiri bukan orang Aceh (dia sendiri seorang Batak Mandailing), hubungan Amin dengan Daud Beureu`eh dan rekan-rekannya yang akrab baik. Sebe-narnya, pengangkatannya sebagai pengganti Abdul Hakim, yang menjauhi pemimpin-pemimpin Aceh dengan sikapnya, sebagian adalah karena didorong perkenalannya yang akrab dengan pemimpin-pemimpin ini.39 Karena, selama masa Jepang dia menjadi kepala sekolah menengah di Banda Aceh, sedangkan kemudian dia menjadi anggota mahkamah pengadilan di Sigli bersama Usman Raliby dan Hasan Aly. Sesudah proklamasi kemerdekaan ia menjadi anggota dan kemudian, Januari
37 38

mendorong Republik untuk menangguhkan pembentukan provinsi Sumatera Utara. Sekarang perundingan antara Republik Indonesia dan Republik Indonesia Serikat merupakan alasan untuk membentuk kembali provinsi ini. Pada 15 Agustus 1950, dengan resmi Republik Indonesia Serikat dihapuskan, dan diproklamasikan Republik Indonesia kesatuan. Hal ini didahului dengan dikeluarkannya sejumlah peraturan yang menetapkan pembagian administratif Indonesia oleh Pemerintah Indonesia pada hari sebelumnya.63 Peraturan ini menyatakan dalam pasal 1-nya, wilayah Indonesia terbagi dalam sepuluh provinsi, satu di antaranya ialah Sumatera Utara. Bersamaan dengan itu dikeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang no.5, dengan menarik kembali peraturan Sjafruddin Prawiranegara yang telah membentuk provinsi Aceh. Dasar hukum bagi pembentukan provinsi Sumatera Utara sangat sulit. Lagi-lagi dibentuk suatu provinsi tidak berdasarkan hukum tetapi dengan peraturan pemerintah. Di samping itu kedua peraturan barangkali untuk menghilangkan pengaruh penentanganmenunjuk kepada persetujuan-persetujuan antara Republik Indonesia Serikat dan Republik Indonesia, termasuk suatu persetujuan tanggal 20 Juli mengenai pembagian Sumatera menjadi tiga provinsi. Tetapi seperti dikemukakan,64 persetujuan ini tidak pernah diumumkan. Reaksi Aceh cepat. Sebuah mosi yang menolak penggabungan ke dalam provinsi Sumatera Utara diterima dengan suara bulat di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Mosi ini dilengkapi pada September dengan suatu keterangan penjelasan yang disusun Pemerintah Daerah Aceh.65 Mosi ini dan lebih teristimewa keterangan penjelasannya, sangat pan-

Amin, Peristiwa., hlm. 10.


63 64

Gelanggang, op.cit., hlm. 149. 39 Ketika Amin diangkat, dua puluh partai dan organisasi, di antaranya Masyumi, GPII dan Muhammadiyah mendesak agar Abdul Hakim terus menduduki jabatannya. Partaipartai yang menentang termasuk PKi, yang ingin Abdul Hakim segera dipecat. Persoalannya adalah politik agraria Abdul Hakim; PKI menyatakan dia bertanggung jawab tentang penangkapan para petani. SM Amin, Sekitar., hlm. 369-370.

Lihat, Peraturan Pemerintah no.21, 1950.

C. van Dijk, Darul Islam, Sebuah Pemberontakan, (terj.), (Jakarta: Grafiti Pers, 1993), hlm. 263.
65 Republik Indonesia: Provinsi Sumatera Utara, (Jakarta: Kementerian Penerangan, 1953), hlm.400-409.

152

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Ditabuhnya Genderang Perang Sabil dan Bijstand

217

jang lebar? dengan mencantumkan semua alasan untuk memberikan status tersendiri untuk Aceh. Panjang lebar diuraikan kedudukan istimewa dan masalah-masalah khusus daerah ini, dan alasan-alasan dikemukakan tentang perlunya memperlakukan Aceh berbeda dalam banyak hal. Keadaan istimewa Aceh dan masalah-masalah khususnya di bidang pendidikan, ekonomi, hukum, dan agama membedakannya dari bagian lain Sumatera Utara, demikian dikemukakan. Daerahnya lain bukan saja karena sifat khusus masalah-masalah ini, tetapi juga karena ukuran besarnya. Aceh harus menghadapi keterbelakangan pendidikan yang amat besar, sedangkan sistem irigasi dan jalan-jalan raya buruk sekali, dan industri perikanan sangat membutuhkan perbaikan. Seterusnya dinyatakan, masalah-masalahnya begitu hebat untuk bisa dihadapi secara efektif oleh pemerintahan kabupaten, maka memerlukan perhatian pemerintah tingkat provinsi. Bersamaan dengan itu ditekankan perlunya bagi orang yang menanggulangi masalah-masa-lah ini untuk menyadari dan mengenal keadaan khusus Aceh, dengan mengemukakan kekhawatiran bahwa bila Aceh menjadi bagian dari Sumatera Utara syarat-syarat ini tidak terpenuhi, hingga akibatnya persoalan-persoalannya tidak akan dihadapi secara tepat. Pernyataan itu mengakhiri dengan ancaman, "bila Aceh tidak menjadi provinsi tersendiri di bawah kedaulatan Pemerintah Pusat, kami, Putra-putra Aceh yang dewasa ini menduduki jabatan dalam pemerintahan? Dan semua yang menganut cita-cita yang sama, pada hari Pemerintah Pusat nenolak tuntutan -tuntutan tersebut tadi akan meninggalkan lembaga-lembaga pemerintah dan akan minta mengembalikan mandat kami oleh kepala Pemerintah Daerah kepada Pemerintah Pusat". Namun, Daud Beureu`eh mengisyaratkan, orang Aceh bukanlah orang Maluku, para pegawai negeri hanyalah mengundurkan diri dan Aceh tidak akan memproklamasikan diri menjadi negara tersendiri.66

dilalui. Kadang-kadang melakukan perjalanan di darat hanyalah mungkin dengan konvoi. Dalam hal-hal lain diperlukan izin pasukan Darul Islam, yang biasanya diperoleh setelah membayar. Ini tidak hanya berlaku bagi perjalanan pribadi tetapi juga bagi lalu lintas bus dan truk. Sebenarnya beberapa pengusaha membayar kepada kaum pemberontak sejumlah uang tertentu hanya untuk bisa terus berusaha.34 Juga perjalanan kereta api mengalami kesulitan. Di samping risiko dihentikannya kereta api, sering terjadi bencana pada jalan kereta api dan stasiun. Selama bertahun-tahun tidak mungkin menjadwalkan perjalan kereta api, khususnya di Pidie.35 Jalan yang paling aman adalah berlayar dengan kapal, tetapi fasilitas-fasilitas perkapalan jauh dari cukup untuk mengimbangi kekurangan fasilitas perhubungan darat.36 Pada mulanya pemberontakan tampaknya tidak meng-akibatkan terjadinya kekurangan pangan secara mendadak atau penurunan dalam produktivitas perkebunan pertanian. Ada laporan-laporan menggelisahkan yang beredar tentang pengaruh pemberontakan yang negatif di ekonomi perkebun-an, seperti larinya buruh dalam jumlah besar dan bahwa pekerjaan pertanian dan pengurusan perkebunan sangat menderita. Personil asing dianjurkan mengungsi dari perke-bunan, sedangkan dalam beberapa hal di samping itu manajemen Indonesia lari mengikuti pemberontak. Ada lapor-an tentang Said Abubakar, yang mengontrak sebuah perke-bunan di Langsa, lenyap dengan membawa serta Rp 300.000, uang gaji. Selanjutnya di ladang-ladang minyak Aceh Timur, seluruh manajemen, termasuk Direktur Umum Amir Husin al Mudjahid menghilang. Tetapi sumber-sumber resmi pemerintah menyatakan semua ini tidak mempengaruhi produktivitas. Ladang-ladang minyak masih berfungsi normal (artinya sedikit sekali) sedangkan hasil perkebunan malahan
34 Bachtiar Yunus menyatakan (1953:3) mengenai Aceh, sementara perusahaan seperti - Atra dan Nasional dapat terus berjalan tanpa diganggu, yang lain-lain praktis harus menghentikan dinasnya karena kendaraan mereka sering dihentikan dan diserang 35 Gelanggang, op.cit., hlm. 113-115. 36 Amin, op.cit., hlm.8.

66

C. van Dijk, op.cit., hlm. 259.

216

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

153

pengabdian kesetiaannya.31 Seperti juga di daerah-daerah lain yang terkena pemberontakan Darul Islam, pejabat-pejabat paling rendahlah yang merasakan dampak pemberontakan paling langsung. Melaksanakan pekerjaan di daerah-daerah yang pengaruh Darul Islamnya kuat berbahaya sekali. Jadi tidaklah meng-herankan, Pemerintah Republikdalam usahanya untuk membangun pemerintahan lokalnya lagimenghadapi kesulit-an mendapatkan orang yang bersedia mewakilinya di tingkat desa. Walaupun berhasil mengisi lowonganlowongan dan mengganti para pejabat yang kesetiaannya diragukan dalam eselon-eselon pemerintahan yang lebih tinggi, Pemerintah tidak bisa mendapatkan cukup calon yang setia untuk jabat-an-jabatan yang lebih rendah ini. Pada April 1954 Pemerintah Republik berhasil membangun pemerintahan lagi dari tingkat camat ke atas, yaitu di daerah-daerah perkotaan yang relatif aman. Namun suatu komisi parlemen yang mengunjungi Aceh pada awal 1954 terpaksa melaporkan bahwa para bupati, we-dana, dan camat yang baru diangkat di Aceh Besar dan Pidie masih tidak bisa melakukan perjalanan tugas di daerah-daerahnya dan hanyalahSaman di kotakota dan tempat-tempat tugas pasukan Angkatan Darat.f Beberapa camat harus diiringi pengawalan bersenjata ke posnya pada pagi hari dan kembali ke kota dengan cara yang sama pada malam hari.32 Bersamaan dengan itu dua puluh persen jabatan imam mukim dan keuchik masih lowong.33 Tambahan lagi, di sejumlah desa, imam mukim pemerintah Republik Indonesia dan keuchik juga diam-diam bekerja untuk kaum pemberontak. Secara ekonomis daerah ini sangat menderita karena terganggunya lalu lintas. Pada banyak bagian di Aceh pada waktu itu seperti lazimnya daerah yang dikuasai pemberon-takterlihat jembatan-jembatan yang hancur atau jalan-jalan yang tak dapat
31 32 33

Ancaman ini diulangi pada saat kunjungan sebuah delegasi Pemerintah Pusat dari Jakarta yang diketuai Menteri Dalam Negeri, Assaat, pada akhir September. Pada kesempatan ini para pamong praja Aceh mengeluarkan pernyataan pada penutupan suatu pertemuan antara delegasi dan mereka sendiri yang membicarakan status Aceh bahwa bila Pemerintah Pusat terus menolak mengakui tuntutan rakyat Aceh untuk otonomi dalam arti yang seluas-luasnya, mereka akan meletakkan jabatan, demikian pula sejumlah besar bawahan mereka. Delegasi Assaat gagal bicara tentang soal itu dengan pemimpinpemimpin daerah. Demikian juga Wakil Presiden Indonesia Mohammad Hatta tidak berhasil dalam hal ini.pada kunjungannya ke Banda Aceh, November 1950. Akhirnya tercapai penyelesaian pada Januari 1951 oleh Perdana Menteri ketika itu, Natsir. Pada 23 Januari dia mengucapkan pidato radio di Banda Aceh dengan mengumumkan tercapainya persetujuan mengenai persoalan ini. Nalsir menyatakan di sini, pembentukan provinsi Aceh tidak lagi dianggap "saudara-saudara kita di Aceh ini sebagai suatu palang pintu yang menutup segala kemungkinan lain".67 Tengku Daud Beureu`eh mengeluarkan pernyataan tentang persetujuan yang dicapai pada waktu yang sama. Pernyataan ini mengemukakan sejumlah sebab mengapa Aceh menghentikan perlawanannya terhadap penggabungan ke dalam provinsi Sumatera Utara, termasuk kenyataan bahwa Pemerintah Pusat tidak menolak tuntutan Aceh untuk otonomi, dan persetujuan bahwa masalah ini akan diselesaikan dalam kerangka seluruh bangsa, dan Aceh tidak akan merintangi pelaksanaan pemerintahan Sumatera Utara. Bersamaan dengan itu dinyatakan, perjuangan untuk otonomi akan dilanjutkan dan bahwa "niat perletakan jabatan secara non kooperatif sebagai suatu syarat bila tuntutan mendapat otonomi buat daerah Aceh kalau tidak dipenuhi,

Gelanggang, op.cit.., hlm.106. Ibid., hlm. 107. C. van Dijk, Darul Islam, Sebuah Pemberontakan, (ter.), (Jakarta: Grafiti Pers, 1993), Republik Indonesia: Provinsi Sumatera Utara, (Jakarta: Kementerian Penerangan, 1953), hlm. 422-430.
67

hlm. 54.

154

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Ditabuhnya Genderang Perang Sabil dan Bijstand

215

masih tetap dipegang penuh".68 Pada 25 Januari 1951 Abdul Hakim dilantik sebagai gubernur Sumatera Utara, dengan Medan sebagai ibukota Pemerintah Provinsi; ke kota inilah pegawai bekas provinsi Aceh kemudian harus pindah. Un-tuk daerah Aceh diangkat seorang residen-koordinator untuk menga-wasi terlaksananya pemerintahan setempat. Pembentukan jabatan yang belakangan pada mulanya menimbulkan sedikit kesalahpahaman. Daud Beureu`eh menyatakan tidak diberitahu mengenai ini. Bahkan mungkin kedudukan ini dimaksudkan Pemerintah baginya, dengan atau tanpa diketahuinya. Bagaimanapun, semua surat yang dialamatkan kepada residen koordinator dikembalikan ke Medan tanpa dibuka atas perintah Daud Beureu`eh.69 Penetapan resmi R.M.D. Danubroto dalam jabatan residen koordinator mengakhiri secara definitif keadaan ini. Lalu Daud Beureu`eh dipanggil ke Jakarta oleh Pemerintah Pusat untuk diangkat sebagai gubernur yang diperbantukan pada Kementerian Dalam Negeri, walaupun tak pernah ia pergi ke Jakarta untuk menerima jabatan ini. Bersamaan dengan itu sejumlah perubahan lain dilakukan dalam Pemerintahan Sipil di Acehumpamanya sejumlah bupati diganti tanpa menimbulkan penentangan untuk sementara waktu.

pemberontak ini adalah merosotnya ekonomi daerah. Mulanya departemen yang paling banyak pengikut PUSA-nyalah yang paling banyak terkena karena pegawai-pegawainya membelot. Dalam pandangan S.M. Kartosoewirjo,
Karena rajat Atjeh jang terkenal Islam-minded di bawah pengaruh PUSA, maka tidak mengherankan djika residen koordinator, bupati2 (Pantjasila) dan lain2), pemimpin, dan komandan di Atjeh, serentak membelok haluan, membela RIK, meninggalkan kedudukannja, dan memihak kepada N.I.I.26

I. Persiapan-Persiapan Intelektual untuk Pemberontakan


Darul Islam, sebagaimana akan dibahas dalam bab-bab buku ini, adalah gerakan intelektual. Intelektualitas adalah bekas terbanyak yang mereka bawa, ketimbang senjata. Menurut M. Nur El Ibrahimy dengan berlandaskan pada pernyataan Tgk. M. Daud Beureu`eh yang dia peroleh dari Ayah Gani sebelum peristiwa meletus, menyatakan bahwa Peristiwa DI/TII Aceh yang meletus tanggal 21 September 1953 dilakukan dengan persiapan yang tidak matang. Ketidakmatangan ini dilihat dari aspek persenjataan, pembiayaan dan pendukung yang
68 69

Diperkirakan dalam suatu penilaian sementara akan keadaan sekitar tujuh puluh persen pegawai Pemerintah Daerah di Jawatan Agama, Urusan Sosial, dan Penerangan telah meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti kaum pemberontak.27 Jawatan Pendidikan menghadapi masalah yang berbeda walaupun sama gawatnya, yaitu sebagian besar para guru melarikan diri ke Medan atau mengungsi. Pada bulan-bulan pertama pemberontakan mereka menolak kembali ke Aceh dengan mengatakan, mereka lebih suka dipecat.28 Terdapat soal-soal yang sama dalam pemerintahan setempat. Seperti telah kita lihat, sejumlah bupati memihak kaum pemberontak. Keadaan pada tingkatan yang lebih rendah lebih buruk lagi. Banyak dari pejabat tingkat yang terendah, para keuchik dan imeum mukim,29 menyeberang ke pihak pem-berontak.30 Yang paling parah terkena adalah Pidie, yang bupatinya, semua wedana, dan semua camat kecuali seorang, dan 99 dari 188 imam mukim berubah

26 S.M. Kartosoewirjo, Statemen Pemerintah NII Tanggal 5 Oktober 1953, dalam Al Chaidar, Pemikiran Politik, bagian lampiran. 27 28 29

S.M. Amin, Peristiwa, hlm. 7. Ibid. hlm. 8.

Imeum Mukim (Bahasa Aceh), berati imam mukim, sebuah jabatan religius terpenting di sebuah desa. Jabatan ini sangat kompatibel dengan struktur politik Darul Islam yang memang ingin menerapkan konsep-konsep politik, sosial dan pemerintahan Islam dalam kehidupan sehari-hari.
30 Keuchik adalah kepala gampong (kampung). Sejumlah kampung merupakan sebuah mukin.

Ibid., hlm. 430-431. C. van Dijk, op.cit., hlm. 78.

214

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

155

mereka cukup kuat menghalau Tentara Republik paling tidak dari sebagian besar wilayah Aceh dan memukul setiap serangan balasan. Akan tetapi ternyata ini merupakan taksiran yang terlalu tinggi tentang pasukan Darul Islam. Mereka tidak mampu menguasai terlalu lama kota-kota kecil dan kota-kota besar. Ternyata mudah saja pasukan Pemerintah Republik dalam serangan balasan menghalau pasukan Darul Islam ke luar kota-kota ini. Beberapa kota dikuasai kembali dalam beberapa hari. Kota-kota dan daerah-daerah lain bertahan lebih lama di bawah naungan pasukan DI. Tetapi dengan jatuhnya Takengon, Tangse dan Geumpang pada akhir November 1953, para pejuang DI telah terusir dari daerah-daerah perkotaan. Mereka mengundurkan diri ke daerah pedalaman. Di sini, terutama di kabupaten-kabupaten sepanjang pantai utara, mereka melakukan perlawanan gigih dengan cara gerilya dari satu hutan ke hutan lainnya, dari gunung ke gunung. Para pejabat pemerintah sendiri menyatakan sangat gembira akan hasil yang cepat dari aksi-aksi militer pertama. Demikianlah S.M. Amin, yang segera sesudah itu diangkat menjadi gubernur Sumatera Utara, mengemukakan, dari segi pandangan militer pemberontakan telah berakhir dan apa yang masih perlu harus dilancarkan Pemerintah adalah gerakan pengamanan.24 Namun, tentulah jelas waktu itu juga mengingat keadaan di Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan pengamanan bukanlah masalah yang rnudah. Pasti ini disadari panglima Divisi Sumatera Utara Bukit Barisan Kolonel Maludin Simbolon, yang sejak semula mengemukakan pendapat, keadaan sangat gawat dan terus demikian, sehingga para pemberontak tidak mungkin ditaklukkan dengan cara militer saja.25 Pemberontakan DI telah membuat pemerintahan daerah ini jadi sangat sulit. Bagi Pemerintah Republik dan sangat mengganggu fungsi administrasi pemerintahan; kop surat dan stempel Republik menjadi tak berlaku. Yang lebih memprihatinkan dari setiap aksi kaum

menjadi sumber bantuan biaya dan senjata selanjutnya, serta gerakan yang dilakukan secara tidak serempak.70 Untuk melihat kebenaran pendapat terebut selanjutnya akan dipaparkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan kelompok DI/TII menjelang terjadinya peristiwa. Sebenarnya, kegiatan-kegiatan untuk menggalang solidaritas dan kekutan antar anggota mantan pejuang (milisi) telah dilakukan sejak tahun 1953. Hal ini didasari pada kejadian-kejadian terakhir yang menimpa kelompok mereka. Tidak lama setelah kena razia, tanggal 1 Maret 1952 Tgk. M. Daud Beureu`eh yang tidak melaksanakan tugas kepegawaian setelah masa cuti 6 bulan diberhentikan oleh Menteri Dalam Negeri melalui siaran RRI. Walaupun 14 bulan kemudian status tersebut dipulihkan, tindakan tersebut sangat melukai perasaan pendukung otonomi. Hal itu ditambah lagi tindakan Gubernur Hakim yang memerintahkan bawahannya Bupati Pidie T.A. Hasan untuk mengambil mobil dinas buick merah dari Tgk. Daud Beureu`eh agar diwaba ke Medan. Sebaliknya, pemerintah memberi kemudahan kepada lawan politik mereka uleebalang, misalnya T. Chik M. Johan Alamsyah dan T. Amat Aree71 memperoleh tunjangan pensiun dari Kementerian Dalam Negeri. Demikian juga ketujuh orang pemuka Gerakan Said Ali yang diusir ke luar Aceh, sejak 1952 dicabut hukuman bersyarat dan boleh kembali ke Aceh.72 Kejadian-kejadian tersebut bagi pendukung otonomi dianggap sebagai tindakan yang diskriminatif dan tidak dihargai jasa perjuangan yang telah mereka lakukan untuk Republik.73 Kegiatan penggalangan solidaritas, kekuatan dan menyusun strategi perjuangan dilakukan melalui organisasi Pusa dan Pemuda Pusa yang merupakan wadah tradisional perjuangan mereka. Sebulan setelah seluruh pemimpin mereka diepas dari tahanan, Pusa dan Pemuda Pusa Pidie menyelenggarakan
70 71

M. Nur El Ibrahimy, op.cit., hlm. 27. Keduanya mantan Zelbestuurder. M. Isa Sulaiman, op. cit. hlm. 269-270. Hasan Saleh, op. cit., hlm. 147-148.

24 25

S.M. Amin, Peristiwa Teungku Daud Beureu`eh, (Medan: 1953), Laporan, hlm. 4. Gelanggang, Op. cit., hlm. 66.

72 73

156

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Ditabuhnya Genderang Perang Sabil dan Bijstand

213

sebuah Konferensi di gedung SMI Sigli tanggal 2 April 1952, yang dihadiri juga oleh Tgk. M. Daud Beureu`eh, T.A. Hasan, dan A. Gani Usman. Selanjutnya, para pemimpin Pusa memutuskan akan perlunya kepanduan dengan nama Pandu Islam yang berfungsi sebagai sayap perjuangan bersenjata tanggal 2 Maret 1952. Oleh karena Kepanduan ini mendapat sambutan antusias dari masyarakat, maka dibuka cabang-cabangnya di kabupaten-kabupaten. Menjelang pemberontakan diperkirakan Pandu Islam telah memiliki sekitar 4.000 anggota. Mereka menurut T. A. Hasan mendapat latihan tentara mengenai cara menyerbu dan cara bertahan siang dan malam, oleh mantan tentara. Komi-sariat keresidenan berada di bawah M. Ali Piyeung (mantan Letnan CPM), A. Gani Mutiara (mantan Kapten TRI), dan A. Gani Usman (Kepala SMI).74 Sambil menempa Pandu Islam para pemimpin PUSA mencurahkan perhatian mereka kepada Pemberontakan DI/TII Kartosoewirjo yang meletus di Jawa Barat 7 Agustus 1947. Kontak dengan Kartosoewirjo terbukti dengan kedatangan seorang kurir Darul Islam Mustafa alias A. Fatah ke Aceh bertepatan saat Konferensi PUSA dan Pemuda PUSA di Langsa tanggal 25-29 April 1953. Konferensi yang dihadiri tokoh-tokoh PUSA yang sangat berpengaruh, antara lain oleh Tgk. M. Daud Beureu`eh, Tgk. Amir Hoesin Al-Mudjahid, T.M. Amin, dan A. Gani Usman, juga dihadiri oleh 300 utusan dan sekitar 3.000 hadirin. Di samping kritikan, agitasi dan provokasi terhadap Pemerintah, konferensi tersebut juga membicarakan pembentukan Biro Perjuangan Aceh (BPA) dan korespondensi dengan Imam Kartosoewirjo. BPA yang dipimpin oleh Husin Yusuf dan dibantu oleh Tgk. M. Daud Beureu`eh, Tgk. Amir Hoesin Al-Mudjahid, dan Ali Hasjmy, merupakan organisasi yang memayungi rekan seperjuangan mereka yang telah berjuang pada masa Revolusi Kemerdekaan. Berkenaan korespondensi dengan Imam Kartosoewirjo mereka menunjuk Ilyas Leube mendampingi Mustafa membawa surat Tgk. M. Daud Beureu`eh.75
74 75

walaupun pada satu saat keadaan menjadi begitu gawat hingga dipertimbangkan untuk mengungsikan penduduk. Sebuah kota lain di Aceh Utara, Bireuen, mereka duduki sebentar. Demikian pula Seulimeum di Aceh Besar, yang direbut pada 21 September. Ketika tentara DI menyerangnya, garnisun Polisi Republik tidak memberikan perlawanan. Dalam pantauan SM Kartosoewirjo, beberapa markas polisi RIK dan markas TRIK diserang, disapu bersih dan dirampas sendjatanja, sepandjang pantai Timur hingga bagian Barat dan Utara. Beratus2 putjuk sendjata musuh djatuh ditangan A.P.N.I.I. Alhamdu lillah! Muddah2an selandjutnja, demikian harapannya.22 Di Pidie, tentara Darul Islam gagal merebut Sigli. Mereka lebih berhasil di Tangse, Geumpang, dan Meureudu, tetapi kota yang terakhir ini sempat banyak menyulitkan mereka. Di samping itu, baru direbut sesudah serangan dilakukan oleh "pasukan kawakan Darul Islam Aceh" dan sesudah pembela-pembelanya kehabisan peluru. Pasukan yang menduduki Meureudu terdiri dari satuan prajurit Angkatan Darat yang berasal dari Aceh, dipimpin Hasan Saleh, yang ketika pemberontakan meletus melakukan desersi dan bergerak dari Sidikalang di Tapanuli, tempat mereka bertugas kembali ke Aceh Utara. Hasan Saleh sendiri sudah diberi cuti panjang sebelum meletus pemberontakan. Di Aceh Tengah pasukan Darul Islam menduduki Takengon. Seperti juga di Meureudu, mereka baru dapat memasuki kota sesudah pasukan Republik kehabisan amunisi. Kota lain yang jatuh adalah Tapak Tuan di Aceh Selatan.23 Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di Medan berkabung dengan berpindahnya sebagain besar kota-kota penting Keresidenan Aceh ke tangan para pemberontak. Tidak banyak yang dicapai pasukan DI dengan menduduki kotakota ini. Mungkin pemimpin-pemimpin mereka mengharapkan,

M. Isa Sulaiman, op. cit. hlm. 271. Ibid. hlm. 273.

S.M. Kartosoewirjo, Statement Pemerintah NII Tanggal 5 Oktober 1953, dalam Al Chaidar, op.cit.
23

22

SM. Amin, op.cit., hlm. 48-61.

212

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

157

seolah-olah mungkin pula Langsa mereka rebut tanpa melepaskan sekali tembakan pun. Karena penduduk kota ini, dengan tidak adanya bupati Aceh Timur (yang bagaimana pun memihak kaum pemberontak) dan kepala Polisi, yang kedua-duanya masih berada di Medan, sangat ingin menyerah. Karena itu dikirimkanlah utusan ke Peureulak dan Bayeuen untuk menyampaikan kepada kaum pemberontak maksud keinginan mereka dan membicarakan syaratsyarat penyerahan dengan mereka. Mereka ini kembali dengan pesan, pasukan Darul Islam bagaimana pun akan menuju Langsa untuk mengumpulkan senjata Tentara dan Polisi yang ditempatkan di sana. Rencana menyerah ini dihalangi kepala Polisi ketika kembali dari Medan yang sebaliknya menyodorkan ultimatum kepada kaum pemberontak untuk menyerahkan senjata mereka. Pasukan Darul Islam mendekati Langsa dari barat dan utara serta melancarkan serangan bersama terhadap asrama Polisi Militer dan Mobile Brigade21 pada 21 September. Tentara Republik yang telah mendapat bala bantuan baru dari Medan dapat memukul serangan ini. Kekalahan kaum pemberontak di Langsa merupakan titik balik dalam pertempuran di Aceh Timur. Pada 23 September 1953 pasukan Republik merebut kembali Bayeuen, dan dalam dua hari berikutnya Idi dan Peureulak. Di Aceh Utara ibukota daerah Lhokseumawe sering diserang dengan hebat, tetapi selalu gagal, pertama kali pada pagi hari 21 September 1953, ketika para pejuang Darul Islam mengundurkan diri sesudah bertempur kira-kira empat jam. Serangan Tentara Islam Indonesia di Aceh ini penuh dengan improvisasi, penuh dengan trial and error; kaum TII memperbaharui taktik dan strategi beberapa kali seminggu. Dalam hari-hari berikutnya tetapi lagi-lagi tanpa hasil,

Keberangkatan Ilyas Leube dengan Mustafa tidak berhasil karena setibanya di Jakarta tanggal 7 Mei 1953 Mustafa ditangkap aparat keamanan sedangkan Ilyas Leube berhasil meloloskan diri. Penangkapan Mustafa tersebut menurut M. Nur El. Ibrahimy mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap meletusnya Peristiwa DI/TII Aceh. Tertangkapnya Mustafa menyebabkan kegelisahan yang sangat besar pemimpin dan rakyat Aceh karena dia telah membuka perhubungan Tgk. Daud Beureu`eh dengan Kartosoewirjo dan telah menyerahkan kepada Kejaksaan di Jakarta surat pengangkatan Tgk. M. Daud Beureu`eh oleh Kartosoewirjo sebagai Gubernur Militer Darul Islam di Aceh.76 Meskipun demikian, setelah kegagalan itu kontak dilanjutkan oleh M. Yahya Sulaiman dan Tgk. Sulaiman Mahmud, dan juga dengan memakai jasa perantau Aceh sebagai kurir seperti Amin Basyah Kembang Tanjong dan Ismail. Amin Basyah Kembang Tanjong menurut Hasan Aly malah berhasil melakukan kontak dengan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan.77 Untuk mematangkan persiapan pemberontakan, Tgk. M. Daud Beureu`eh, Hasan Aly, Zaini Bakri, Sulaiman Daud dan Tgk. Abdul Wahab Seulimum sejak Maret 1953 berkali-kali melakukan pertemuan di Kutaraja, Lameulo, dan Langsa. Dalam kaitannya dengan itu, Zainal Abidin Tiro dan Tgk. Sulaiman Mahmud pada pertengahan 1953 telah melakukan dialog serius dengan tiga perwira Aceh terkemuka, yaitu: (1) Mayor Hasballah Haji, Komandan Komando Militer Kota Besar (KMKB) Medan, (2) Kapten Hasan Saleh dan, (3) Komisaris Polisi M. Insya di rumah Mayor Hasballah Haji tentang rencana gerakan mereka. Rumah Syekh Marhaban juga didatangi oleh pemimpin PUSA untuk mengajak bergabung. Tgk. Amir Husin Al Mudjahid berkunjung ke Medan guna mengadakan kontak dengan pemuda Aceh di sana. Kontak-kontak tersebut membuahkan hasil, Hasan Aly misalnya malah telah bertindak lebih jauh untuk mengumpulkan rekan-rekan-

Mobile Brigade, adalah unit pasukan pengamanan khusus kepolisian, disingkat Mobrig. Mobrig ini adalah pasukan yang sangat menyeramkan dalam ingatan historis orang-orang Aceh. Mobrig memiliki pos-pos penjagaan di sepanjang jalan di seluruh Aceh yang disebut BOP (Brigade Operation Post). BOP inilah menjadi semacam pangkalan kematian dalam persepsi orang-orang kampung dikarenakan operasi mereka yang melampaui batas. Wawancara dengan Saudah Hasan, Geudong, 15 Juni 2006.

21

76 77

M. Nur El Ibrahimy, op. cit. hlm. 22. Ibid.

158

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Ditabuhnya Genderang Perang Sabil dan Bijstand

211

nya di Sumatera Timur guna memperoleh persetujuan akhir. Dengan ditemani A.R. Hanafi, pegawai Kantor Agama Aceh Timur menghimpun rekan-rekannya di rumah A. R. Hajad, Bupati Langkat yang berasal dari Blang Keujeuren, di Binjai. Tidak kurang dari 20 orang pemuka Aceh baik sipil maupun militer yang hadir dalam pertemuan tersebut, seperti Syekh Marhaban, Letnan Usman Nyak Gade, Mayor Hasballah Haji, dan Kapten Hasan Saleh. Pertemuan tersebut bertujuan mendapakan ketegasan dari yang hadir karena hari H pemberontakan yang direncanakan tanggal 1 Muharam atau 8 September sudah cukup dekat. Dalam kesempatan itu pula Hasan Aly mengajak dua perwira senior Mayor Hasballah Haji dan Kapten Hasan Saleh berbicara secara rahasia di kamar tidur A. R. Hajad. Persoalan yang dibicarakan adalah tata cara melakukan desersi dan sekaligus menetapkan hari dimulainya pemberontakan. Agar desersi mereka berjalan mulus, mereka sepakat pem-berontakan dimulai tanggal 21 September 1953 bertepatan dengan pembukaan PON III di kota Medan.78 Dalam usaha mendapatkan dukungan dari rakyat luas dan memompa semangat pengikut para pemimpin pendukung otonomi melakukan kritikan-kritikan kepada Pemerintah melalui pidato-pidato dalam rapat-rapat umum yang sengaja diadakan. Menurut A. H. Geulanggang79 pidato-pidato tersebut berisikan agitasi terhadap dekadensi moral yang dibiarkan oleh Pemerintah Pancasila yang mengakibatkan agama Islam terabaikan. Akibatnya tiap selesai mengikuti rapat umum tersebut terbayang dalam pikiran hadirin bahwa Negara Islam yang dicita-citakan telah berdiri. Selanjutnya mereka melakukan baiat (sumpah) terhadap hadirin agar seiya-sekata dalam mewujudkan Negara Islam.80 Di
78 79

Seruan perang telah berkumandang, panggilan jihad telah memanggil para pemuda dan orang-tua untuk berangkat ke front, menjalankan wajib suci menegakkan li Ilai Kalimatillah. Maka, sebuah pos kecil miliki Mobrig (Polisi) di Peureulak, yang anggotanya kira-kira sepuluh petugas, termasuk yang pertama diserang. Baik pos polisi maupun Kota Peureulak diduduki pasukan pemberontak yang dipimpin Ghazali Idris tanpa suatu perlawanan pun dalam waktu dua jam. Pada tempat-tempat yang strategis diadakan penjagaan dan bendera Darul Islam pun dikibarkan dari gedung-gedung penting di kota itu.19 Sesudah itu dan beberapa hari berikutnya kota-kota yang berdekalan, Idi dan Bayeuen, ptn direbut lagi-lagi tanpa perlawanan sedikit pun. Pendudukan semua kota ini banyak dipermudah dukungan yang diperolehnya para pejuang DI dari sejumlah pegawai negeri setempat. Di Peureulak asisten wedana A.R. Hasan, dan di Idi inspektur polisi Aminuddin Ali yang membantu barisan perjuangan DI.20 Para pejabat lokal, sipil dan militer ini, kemudian oleh Pemerintah Pusat dicabut jabatannya dan diberi sanksi yang berat. Tapi, apa pun risikonya, bagi orang-orang Aceh tidak menjadi masalah. Yang penting adalah berjuang. Komunalitas dalam pemberontakan adalah tradisi politik Aceh yang tak pernah hilang. Sesudah merebut Idi, Bayeuen, dan Peureulak dan menghentikan semua lalu lintas kereta api, pasukan pemberontak bergabung menuju Langsa, ibukota Aceh Timur. Untuk tujuan ini semua bus dan mobil pribadi disita untuk mengangkut pasukan. Sampai pada saat itu kaum pemberontak hanya sedikit mendapat perlawanan, dan Polisi mereka lucuti tanpa mengalami kesulitan sama sekali. Sejenak tampaknya
19 Gerakan Darul Islam Aceh mempunyai empat bendera: sebuah bendera merah dengan bintang dan bulan sabit putih, sebuah bendera hijau dengan bintang dan bulan sabit putih, sebuah bendera merah dengan bulan sabit putih dan empat bintang, dan sebuah bendera putih dan merah dengan bulan sabit pada jalur merah dan bintang di jalur putih. Pikiran Rakyat, tanggal 4-11-1953. 20 Laporan SM Amin, Sekitar Peristiwa Berdarah di Atjeh, (Jakarta: Soeroengan, 1956), hlm. 60-61, mengukuhkan, Asisten Wedana Peureulak, A.R. Hasan memihak pemberontak. Yang belakangan ini mengetahui sebuah rapat pada 21 dan 22 September. Di sini nasib pemberontakan ini dibicarakan dan didirikan cabang Tentara Islam Indonesia.

tengah

propaganda-propaganda

kepada

rakyat

untuk

M. Isa Sulaiman, op. cit. hlm. 177-178.

A.H. Geulanggang adalah nama samaran T.A. Hasan, mantan Bupati Pidie yang pada tahun 1956 diangkat menjadi Menteri Keuangan dan Kesehatan NII, Negara Bahagian Aceh.
80 A.H. Geulanggang, Rahasia Pemberontakan di Atjeh dan Kegagalan Politik Mr. S.M. Amin, (Tanpa tempat penerbit: Pustaka Murnihati, 1956), hlm. 9.

210

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

159

A. Gerilya: Dari Desa Menyerang Kota


Pasukan TII (Tentara Islam Indonesia) Darul Islam Aceh, selama dua minggu pertama pemberontakan menyerang berbagai kota kecil dan kota besar, termasuk Banda Aceh. Aceh hampir sepenuhnya dikuasai oleh Darul Islam. Rencana menyerang kota yang belakangan ini baru diketahui Polisi sehari sebelum malam pemberontakan dimulai, yaitu 19 September 1953.14 Di pantai timur serangan dipusatkan pada kotakota yang sepanjang jalur kereta api mulai dari Banda Aceh, lewat Seulimeum di Aceh Besar, Sigli dan Meureudu di Pidie, Bireuen dan Lhokseumawe di Aceh Utara, dan Idi, Peureulak dan Langsa di Aceh Timur, hingga ke Medan. Tanpa kata-kata, tanpa riuh-riuh, genderang perang sabil sudah ditabuh oleh para pejuang Darul Islam Aceh. Hampir semua rakyat Aceh menjadi mujahidin DI. Semua pejuang sejati hanya butuh satu tempat: front pertempuran. Di sinilah nyawa dan semangat dipertaruhkan, hidup atau mati, membunuh atau terbunuh, menjadi syuhada atau cuak,15 menjadi pahlawan atau pengecut, yang kesemuanya bermuara hanya pada dua pilihan: mati syahid atau menang.16 Jihad waktu itu benar-benar karena Allah.17 Bukan karena ingin memperkaya diri dengan mengutip infaq, shaqaqah atau zakat atau pajak nanggroe (pajak negara), melainkan karena memang para pejuang DI Aceh adalah Islam minded.18

mendukung rencana mereka yang dilakukan oleh penuntut otonomi dengan melakukan agitasi kepada Pemerintah yang menurut mereka tidak sesuai dengan Islam dan cenderung kepada komunis, terjadi dua peris-tiwa yang menurut M. Nur El Ibrahimy, di samping kasus tetangkapnya Mustafa, merupakan faktor yang semakin mempercepat meletusnya Peristiwa DI/TII Aceh, yaitu latihan besar-besaran Mobrig di Aceh dan bocornya rahasia les hitam di Medan. Latihan Mobrig besar-besaran yang dilakukan di Aceh saat keadaan semakin tegang dianggap oleh para pemimpin Aceh sebagai suatu pameran kekuatan dan juga seba-gai suatu tantangan terhadap tuntutan-tuntutan rakyat Aceh. Latihan Mobrig yang demonstratif itu sangat berlawanan dengan laporan para pejabat Aceh yang mengatakan bahwa situasi daerah mereka aman. Suasana semakin tegang dengan adanya latihan yang dilakukan oleh Pandu Islam yang berjumlah sekitar 4.000 personil di seluruh Aceh yang menurut M. Nur El Ibrahimy mungkin sebagai jawaban terhadap tantangan manuver Mobrig tersebut.81 Adapun les hitam menurut M. Nur El Ibrahimy merupakan daftar yang dibawa oleh Jaksa Tinggi Sunarjo dari Jakarta. Di dalamnya disebutkan nama-nama lebih dari 300 orang pemimpin Aceh yang akan ditangkap. Menurutnya nama-nama tersebut didasarkan pada keterangan yang diberikan oleh Mustafa, yang ditangkap sebelumnya. Dia menambahkan bahwa les hitam tersebut sengaja dibocorkan oleh pihak tertentu dan sengaja pula disampaikan kepada Tgk. M. Daud Beureu`eh yang namanya beserta teman-teman seperjuangan tercatat sebagai orang-orang yang terkemuka di dalam les litam itu.82 Les hitam tersebut sebenarnya tidak ada atau tidak pernah dibuat oleh Jaksa Agung sebagaimana diungkapkan oleh M. Nur El Ibrahimy yang didasari pada pernyataan Pemerintah. Dalam jawaban Pemerintah yang diberikan oleh Perdana Menteri Ali Sostroamidjojo tanggal 2 Nopember 1953 dalam rapat paripurna DPR-RI atas

14 A.H. Gelanggang, Rahasia Pemberontakan Atjeh dan Kegagalan Politik Mr. SM Amin, (Banda Aceh: Pustaka Murni Hati, 1956), hlm. 71.

Cuak, (Bahasa Aceh) berarti pengkhianat, mata-mata. Di beberapa daerah lainnya, para pengkhianat ini disebut dengan istilah lhoh yang juga bermakna sama. Moto hidup hampir semua pejuang DI di Aceh adalah Ist kariman aumut syahidan (hidup mulia atau mati syahid). Moto ini sangat sesuai dengan prinsip moral dan mentalitas rakyat Aceh yang sarat dengan ekstrimitas.
17 18 16

15

Wawancara dengan Teungku Ibrahim A. Rahman, Banda Aceh, 28 Juni 2006.


81 82

S.M. Kartosewirjo, Statement Pemerintah NII, Tanggal 5 Oktober 1953, dalam Al Chaidar, Pemikiran Proklamator Negara Islam Indonesia, SM Kartosoewirjo, (Jakarta: darul Falah, 1999), bagian lampiran.

M. Nur El Ibrahimy, loc. cit. Ibid. hlm. 23.

160

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Ditabuhnya Genderang Perang Sabil dan Bijstand

209

pertanyaan anggota DPR mengenai Peristiwa Daud Beureu`eh disebutkan bahwa mengenai pertanyaan tentang penyusunan daftar penangkapan kurang lebih 300 orang, di sini Pemerintah hendak menerangkan bahwa Jaksa Agung tidak pernah menyusun daftar tersebut. Berdasarkan keterangan tersebut M. Nur El Ibrahimy berkesimpulan bahwa pembuatan dan sekaligus pembocoran les hitam tersebut sengaja dilakukan oleh lawan-lawan politik, termasuk Jaksa Tinggi Sunarjo, yang dengan sengaja ingin menjebak Tgk. M. Daud Beureu`eh dan kawan-kawannya. Meskipun les hitam tersebut tidak benar83 namun pengaruhnya sangat besar terhadap menciptakan keresahan dan mematangkan rencana pemberontakan.84

2. Menteri Dalam Negeri: Teungku Sulaiman Daud 3. Menteri Peperangan: Teungku H. Affan 4. Menteri Pendidikan dan Penerangan: Saleh Adri 5. Menteri Kehakiman: Teungku Zainal Abidin.10 Untuk mendukung jalannya perjuangan, kelompok pembe-rontak mendapatkan dana untuk membeli persenjataan, pakaian, obatobatan, dan keperluan lainnya yang dipungut dari penduduk. Pungutan dana tersebut resmi atas instuksi Teungku M. Daud Beureu`eh tanggal 5 April 1954 yang isinya Perang menegakkan Negara Islam adalah fardhu ain, wajib dikerjakan oleh tiap rakyat yang memeluk agama Islam. Oleh karenanya dana perjuangan wajib dipungut bagi yang tidak memungut senjata.11 Jenis nafkah perang yang mereka kumpulkan terdiri dari Senif, Ibnu Sabil, dan Mualaf dari zakat fitrah, infaq kendaraan bermotor dan sepeda, cukai galian pasir, cukai ternak dan cukai dari komoditi pertanian.12 Selain itu kelompok pemberontak juga mengambil cukai dari perkebunan-pekebunan besar yang ada di Aceh. Pihak perkebunan tidak punya pilihan lain kecuali harus mematuhinya untuk menjamin kelancaran usahanya, karena saat itu mereka tidak dapat mengandalkan perlindungan dari pasukan Pemerintah. Pembayaran pajak terhadap kelompok pemberontak tersebut tidak dilaporkan kepada Pemerintah. Untuk menjamin keselamatan dan kedudukan pimpinan per-kebunan, kelompok pemberontak merekayasa seakanakan pajak ter-sebut dipungut di bawah todongan senjata. Situasi ini terus berlang-sung sampai penyelesaian masalah ini tuntas dilakukan pada awal tahun 1960-an.13

J. Menggumpalnya Kekecewaan
Masa tenang di Aceh hasil penyelesaian yang diusahakan Natsir dan Daud Beureu`eh tidak berlangsung lama. Sejak awal April tampak tanda-tanda pertama keresahan baru, ketika suatu gerakan anti-PUSA baru memperoleh momentum. Pada 8 April 1951 di Aceh dibentuk Badan Keinsjafan Rakyat (BKR). Badan ini dalam banyak hal mirip dengan gerakan Sajid Ali Alsaqaf. Kelihatannya semua tujuannya adalah untuk menegakkan pemerintah yang tidak korup dan berkesanggupan, namun sasaran pokok adalah pemimpin-pemimpin PUSA. Seperti juga dalam gerakan Sajid Ali Alsaqaf, uleebalang dan alim ulama turut serta di dalamnya. Tujuan-tujuan BKR yang dinyatakan adalah untuk membantu Pemerintah, "di mana perlu", dalam memberikan penerangan tentang kebijaksanaannya dan memperkukuh hubungannya dengan rakyat. Program yang lebih konkrit diuraikan dalam suatu resolusi yang diterima BKR pada l5 April 1951. Resolusi ini mulai dengan pernyataan

10

Tidak benarnya les hitam baru diketahui setelah pemberontakan sudah terjadi. Hal ini membuktikan bahwa Pemerintah kurang tanggap terhadap kondisi yang terjadi di Aceh saat itu.
84

83

Ibid. Insider, op. cit. hlm. 96-97. M. Isa Sulaiman, op. cit., hlm. 306. Ibid.

11 12 13

Ibid.

208

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

161

pemerintahan biasa; dan di dalam Negara Bagian Aceh terdapat Majelis Syuro dan sebuah kabinet. Sebagai Kepala Negara pertama terpilih Teungku M. Daud Beureu`eh, dan ketua Majelis Syura sementara terpilih Teungku Amir Husin Al Mujahid. Mulai saat itu terbentuk pula kabinet pertama dengan susunan sebagai berikut: 1. Perdana Menteri merangkap Menteri Dalam Negeri: Hasan Ali 2. Menteri Keuangan dan Kesehatan: T. A. Hasan 3. Menteri Pertahanan dan Keamanan: Husin Yusuf 4. Menteri Ekonomi dan Kemakmuran: T. M. Amin 5. Menteri Kehakiman: Teungku Zainal Abidin 6. Menteri Pendidikan: Teungku M. Ali Kasim 7. Menteri Penerangan: A. Gani Mutiara8 Dalam perkembangan selanjutnya diadakan dua buah kementerian baru yaitu Kementerian Perhubungan dan Kementerian Sosial yang masing-masing dipimpin oleh Teungku Jusuf Hasjim dan Teungku Harun B.E. Selanjutnya, Husin Yusuf yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan digantikan oleh Hasan Saleh yang memakai jabatan baru yaitu sebagai Menteri Peperangan.9 Setelah terbentuknya Dewan Revolusi pimpinan Hasan Saleh pada bulan Mei 1959 DI/TII Aceh terpecah menjadi dua, sebagian berada di bawah Hasan Saleh yang tidak lama kemudian membubarkan diri setelah tercapai persetujuan dengan Misi Hardi dan sebagian lagi berada di bawah Teungku M. Daud Beureu`eh yang melanjutkan pemberontakan. Kelompok Daud Beureu`eh yang melanjutkan pemberontakan membentuk kabinet baru yang terdiri dari orang-orang yang tetap setia kepadanya, yaitu: 1. Perdana Menteri merangkap Menteri Keuangan dan Kemakmuran: Hasan Aly

bahwa rakyat Aceh telah jadi terasing dari Pemerintah, "atau, lebih tepat, dari mayoritas mereka yang menamakan dirinya wakil atau pemimpin rakyat, yang pada saat ini menduduki kursi dalam Pemerintahan Aceh, dan bahwa kesadaran rakyat dalam hal ini telah menjadi lebih cerah karena pengalaman mereka selama ini pemimpinpemim-pin ini berjuang untuk cita-cita mereka sendiri dan bersaing dalam menumpuk kekayaan pribadi". Sebagai suatu jalan untuk memulihkan kepercayaan rakyat, BKR mendesak Pemerintah memecat pejabat-pejabat yang merintangi pelaksanaan keputusan Pemerintah atau mereka yang korup atau tidak mampu. Selanjutnya mereka mengimbau Pemerintah untuk memberikan bukti, Pemerintah benar-benar berusaha melindungi para warga negara dan harta miliknya. Langkah-langkah yang diusulkan BKR ter-masuk pemulihan harta kekayaan yang diurus Dewan-dewan Penim-bang kepada anak-anak yatim piatu uleebalang almarhum, dan penjelasan tentang sikap Pemerintah mengenai kejahatan-kejahatan yang dilakukan selama "revolusi sosial" dan a'kibatnya. Tambahan lagi BKR memohon kepada Pemerintah agar memecat panitiayang dinyatakan dikuasai PUSAyang dibentuk guna persiapan pemilihan umum di Aceh dan mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki keadaan ekonomi. Akhirnya, bila perlu, Pemerintah Sipil hendaknya diganti oleh pemerintahan militer.85 Walaupun resolusi BKR tidak menyebut nama-nama, jelas ia tertuju pada PUSA dan pemimpinpemimpinnya. Baik BKR maupun PUSA mempunyai cukup kesempatan untuk menarik perhatian umum terhadap keinginannya selama kunjungan Presiden Soekarno ke Aceh. Ketika tiba di Banda Aceh 30 Juli 1951, ia disambut para demonstran PUSA maupun BKR. Tulisan-tulisan BKR berbunyi: "Jangan rakyat saja yang diadili, tetapi juga penyeleweng-penyeleweng milik rakyat", "Pencuri ayam
85 Republik Indonesia: Provinsi Sumatera Utara, (Jakarta: Kementerian Penerangan, 1953), hlm. 439-440; SM Amin, Sekitar Peristiwa Berdarah di Atjeh, (Jakarta: Soeroengan, 1956), hlm. 267-269.

8 9

M. Nur El Ibrahimy, op. cit. hlm. 5. Ibid.

162

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Ditabuhnya Genderang Perang Sabil dan Bijstand

207

masuk penjara, pencuri-pencuri besar tetap dalam jabatannya", dan "Tengku Daud Beureu`eh, penghisap darah rakyat". Semua slogan ini jelas menyinggung praktek-praktek jelek yang dinyatakan dilakukan kalangan pemimpin-pemimpin Aceh, yang memanfaatkan jabatannya sendiri untuk memperoleh kekayaan pribadi dan menutupi kejahatankejahatannya. Para demonstran PUSA membawa papan bertuliskan seperti "Aceh jangan diperlakukan sebagai anak tiri", dan "Kami cinta Presiden, tetapi kami lebih mencintai agama". Ada juga slogan Menudju negara Islam, sebuah pernyataan sangat berani dari kalangan ulama dan pemuda PUSA.86 Dengan slogan akhir ini, para demonstran PUSA menyatakan ketidakpercayaannya kepada Soekarno, yang mereka anggap telah mengkhianati Islam dengan mempropagandakan Pancasila, ketimbang Islam, sebagai dasar Negara Indonesia. Bagi kalangan PUSA, yang sebagian mereka sudah menerima dakwah dari DI Kartosoewirjo, me-nyebut Soekarno sebagai Abu-Lahab Indonesia. Bahkan, SM Kartosoewirjo sendiri memberikan tanggapan yang sangat keras terhadap apa-apa yang diaucapkan Bung Karno dalam pidatonya di Masjid Raya Kotaradja bahwa rukun Islam harus ditambah dengan 2 rukun lagi, yaitu keadilan sosial dan kemanusiaan. Upaya untuk mencocok-cocok-kan Pancasila dengan Islam ini mengundang marah banyak orang Aceh. Dan, SM Kartosoewirjo dengan sangat cekatan memanfaatkan situasi ini untuk program dakwah Darul Islam. Soekarno yang disebut sebagai Abu-Lahab Indonesia ini dengan sifat dan djiwa penipu, pengchjianat, dengan perantaraan lidahnja jang berbisa (beratjun) itu, maka ia tjoba2 menina-bobokkan kawan2 kita di Atjeh, dengan kata2 dan tjeritera, jang memikat hati dan memberi harapan.87 Kedatangan Soekarno ini kemudian harus dikoreksi dengan perjalanan Hatta, de-ngan maksud yang lebih baik: melunakkan kawan2 kita seperdjuang-an sutji di Atjeh.88 Sebutan kawan2 kita
86 87 88

tentara desersi dan persenjataan yang lengkap hanya terdapat di lingkungan Resimen I Gajah Putih, di bawah pimpinan A.R. Hasyim, dan kemudian diganti oleh Ibrahim Saleh. Adapun markas resimen itu berada di Pintu I sebuah lokasi strategis yang diapit oleh pegunungan di pedalaman Tiro. Resimen II Syiah Kuala atau Batee Kureng di Aceh Utara di bawah komandan Teungku Syekh A. Hamid dan Yusuf Hasjmy. Resimen III di Aceh Timur di bawah komandan A.R. Hanafi, yang mangkat tahun1955 dan diganti oleh Ghazali Idris. Resimen IV Teungku Chik Batee Tunggai di Aceh Barat-Selatan di bawah komandan Tg. Hasan Hanafiah, yang setelah ditangkap tahun 1954 diganti oleh T.R. Idris. Resimen V Laut Tawar di pedalaman Aceh Tengah dan Aceh Utara di bawah komandan Ilyas Leubee. Resimenresimen itu tunduk di bawah Divisi TII V Teungku Chik Ditiro di bawah panglima Teungku M. Daud Beureu`eh yang sekaligus Gubernur Sipil Militer NII. Dia dibantu oleh Kastaf Umum Hasan Aly dan 2 orang Dewan Militer, yaitu Teungku Amir Husin Al Mujahid dan Husin Yusuf. Untuk menunjang operasi perjuangan, di samping peng-organisasian militer kaum pemberontak juga membangun birokrasi sipil. Gubernur Militer Teungku Daud Beureu`eh, yang merupakan pimpinan tertinggi dibantu oleh Majelis Syura yang terdiri antara lain Teungku H.A. Hasballah Indrapuri, Teungku Syekh A. Hamid dan Teungku H. Abdullah Ujong Rimba. Tiap hirarki pemerintahan yang ada di bawah pemerintahan pemberontak diangkat pejabat sipil yang terdiri dari bupati, wedana, camat dan imeum mukim. Namum demikian, dalam mobilisasi perjuangan birokrasi sipil dan militer dipayungi dalam komandemen-komandemen.7 Setelah berakhirnya Kongres Batee Kureng akhir September 1955 status daerah dan susunan pemerintahan terjadi perubahan besar. Daerah Aceh yang tadinya merupakan bagian dari Negara Islam Indonesia menjadi Negara Bagian Aceh, Negara Islam Indonesia; Sistem Pemerintahan Komandemen yang dualistis berubah menjadi sistem

Tentang hal ini, lihat juga Statement Pemerintah NII, 3 September 1953, hlm. 7. Ibid. Loc.cit.
7

Ibid. hlm. -305- 305.

206

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

163

oleh Ilyas Leube dan M. Saleh Adri. Aparat Pemerintah yang tetap setia me-ngungsi ke Bireun, sementara Bupati M. Husin yang berpihak kepada pemberontak berhasil ditangkap. Sebaliknya Tapaktuan walaupun dapat dikuasai para pemberontak di bawah pimpinan Teungku Zamzami Yahya dan M. Saleh Kapa, namun mereka tidak berhasil mengambil alih kekuasaan karena Sekretaris Kabupaten J.A.M. Hutabarat dan Perwira Distrik Militer Letnan Hasan Samosir telah mengungsikan pemerintahan ke Kandang, Bakongan. Kegagalan menguasai pusat-pusat pemerintahan baik ibukota keresidenan maupun kabu-paten (kecuali Takengon) tentulah membuyarkan skenario perang yang telah disusun pemberontak sebelumnya. Tempat-tempat tersebut telah berubah fungsinya menjadi basis pertahanan Republik dalam merebut kembali daerah-daerah yang telah dikuasai oleh kelompok pemberontak. 6 Pertempuran-pertempuran frontal yang dilakukan oleh pemberontak sejak awal pemberontakan hasilnya tidak sesuai dengan skenario awal tersebut telah mengakibatkan pasukan mereka tercerai-berai. Sejak saat itu Hasan Saleh menata kembali pasukan pemberontak yang masih tersisa dan menempuh strategi perjuangan baru yaitu perang gerilya, dengan taktik intimidasi dan pengacauan terhadap posisi aparat keamanan negara. Taktik tersebut direalisasikan melalui tindakantindakan pencegatan atau penghadangan terhadap konvoi atau patroli militer, pengrusakan prasarana dan sarana perhubungan seperti jembatan dan halte kereta api, jaringan telepon, menculik dan membunuh lawan politik, dan penyebaran pamflet terutama Suara Gerilya Rimba Raya yang berisi ancaman terhadap mereka yang merugikan kepentingan gerombolan. Untuk mendukung strategi gerilya tersebut, pasukan pemberontak dipencar-pencar berdasarkan daerah asal mereka di bawah komandan-komandan setempat. Namun demikian, kekuatan utama pem-berontak berada di Pidie karena tenaga terlatih, terutama

seperdjuangan sutji di Atjeh menunjukkan bahwa S.M. Kartosoewirjo sudah memiliki jaringan (net-works) yang kuat di Aceh sebelum terjadinya pemberontakan. Persoalan berikutnya yang meluapkan perasaan di Aceh adalah penangkapan besar-besaran yang dilakukan di seluruh Indonesia. Kabinet yang berkuasa ketika itu, Kabinet koalisi Masyumi-PNI yang dipimpin Sukiman, bercirikan sikap anti-komunis yang keras. Ini mencapai puncaknya dalam apa yang disebut razia Agustus. Dengan dalih terungkapnya suatu komplotan untuk menggulingkan Pemerintah, kira-kira 15.000 orang ditangkap. Di dalamnya termasuk sejumlah politisi Masjumi, rupanya karena melakukan hubungan dengan kelompok-kelompok Darul Islam. Tetapi seperti dikemukakan89: "Rupanya jumlah terbesar mereka yang ditangkap adalah orang Cina atau pendukung PKI". Pilihan orang-orang yang akan ditangkap dilakukan tergesa-gesa, banyak diserahkan kepada kebijaksanaan para pejabat setempat, terutama para bupati, untuk menangkap siapa yang mereka anggap berbahaya bagi keamanan di daerah mereka.90 Penilaiannya pada umumnya tepat. Benar-benar banyak tergantung pada kebijaksanaan para penguasa setempat. Tetapi justru faktor inilah yang membedakan penangkapan-penangkapan di Aceh dengan penangkapan di bagian lain Indonesia. Seperti juga di tempat lain, para penguasa militer keras anti-komunis. Tetapi berbeda dengan penguasa di bagian-bagian lain di Indonesia, mereka merasa masih menghadapi musuh yang lebih berbahaya: PUSA. Hal lain yang membedakan Aceh ialah tajamnya pertentangan kalangan militer provinsi Sumatera Utara dengan pemerintahan sipil di Aceh. Yang belakangan ini, walaupun terdapat perubahan-perubahan sebelumnya dalam personil, masih berorientasi PUSA. Akibatnya, justru pada pokoknya anggota-anggota PUSA ketimbang anggota-anggota atau para pendukung partai Komunis, PKI, yang ditangkap atau
Herbert Feith, The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, (Ithaca, New York: Cornell University Press, 1968), hlm. 189.
89

Ibid.

90

Feith, Ibid., hlm. 190.

164

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Ditabuhnya Genderang Perang Sabil dan Bijstand

205

diinterogasi di Aceh. Di dalamnya termasuk beberapa tokoh puncak PUSA, seperti Daud Beureu`eh, Tengku Sulaiman Daud, bupati Pidie ketika itu, dan Tengku Hasan Hanafiah, kepala Kantor Agama di Aceh Barat. Selanjutnya, dinyatakan oleh Dewan Penimbang Pidie, anggotaanggotanya merupakan sasaran khusus razia Agustus.91 Sesungguhnya, penangkapan-penangkapan ini ditafsirkan para korbannya sebagai upaya uleebalang melakukan pembalasan. Karena masih berlaku keadaan Darurat Perang (SOB) di Sumatera Utara, penangkapan dilaksanakan Komando Militer Daerah. Mereka yang ditangkap dilukiskan dalam suatu monografi Sumatera Utara92 sebagai "anasir-anasir yang mengganggu keamanan dan ketenteraman, dan anasir-anasir yang melakukan perbuatan yang bersifat a-nasional atau merugikan kekuasaan Pemerintah". Tentara di Sumatera Utara di pihaknya menyangkal dengan keras bertindak atas kekuasaan sendiri, tanpa perintah dari atau tidak sepengetahuan sebelumnya dari para atasannya. Dalam keadaan kemudian lagi-lagi kesulitan di Aceh dipandang dari segi konflik yang telah lama berlangsung antara ulama dan uleebalang. Terdapat perbedaan antara kalangan militer dan pemerintah sipil di Keresidenan Aceh, yang mengikuti garis yang sama antara uleebalang dan ulama atau PUSA. Dalam penafsiran ini, yang menambah ketegangan pula, pemerintah sipil masih didominasi PUSA, sedangkan Tentara kian merupakan alat uleebalang. Kekhawatiran semakin terjadi di Aceh, terutama sesudah Soekarno menyatakan dalam majalah Time, terbitan Amerika Serikat, bahwa DI Kartosoewirjo sekarang tidak hanya di Jawa Barat dan Jawa Tengah sebelah Barat saja, melainkan sudah mencoba melancarkan infiltrasi ke wilayah-wilayah Jawa Timur, Sumatera Utara (mungkin maksudnya adalah Aceh), Sumatera Selatan, kalimantan dan Sulawesi.93 Bagi Kartosoewirjo, berita ini menunjukkan
91 92

Peristiwa Idi dan Peureulak berimplikasi terhadap proses perebutan kekuasaan di daerah-daerah lainnya karena pihak keamanan mulai bersiaga. Hal ini terbukti saat gerombolan dari Idi dan Peureulak mau merebut Langsa gerakan mereka dapat dipatahkan oleh pihak keamanan. Demikian juga saat Hasan Aly berangkat dari Kutaradja menuju Sigli untuk menggembleng pemberontak di kota itu terpaksa ia harus mengalihkan niatnya dan mengalihkan kendaraannya ke kampungnya di Sanggeu karena aparat keamanan kota Sigli sudah dalam keadaan siaga. Meskipun demikian, gerakan pemberontakan juga menjalar ke seluruh wilayah Aceh. Di Aceh Utara pasukan pemberontak yang berada di bawah Husen Yusuf, H. Abu Bakar Bireun, H. Afan, Teungku Syekh A. Hamid dan H. Ibrahim hanya mampu menguasai Lhok Sukon dan ibukota-ibukota kecamatan, sedangkan kota Lhokseumawe dan Bireun tetap berada dalam kekuasaan tentara dan polisi, walaupun mereka telah berkali-kali mencoba melakukan serangan. Keadaan yang sama juga terjadi di daerah Pidie, tempat Teungku Daud Beureu`eh dan Hasan Ali berada. Walaupun berkali-kali telah dicoba untuk direbut namun Kota Sigli tetap berada di bawah kekuasaan aparat keamanan, sedangkan Meureudu baru dapat direbut setelah mendapat bantuan dari pasukan Sidikalang yang dibawa Ibrahim Saleh. Di Aceh Besar pasukan pemberontak yang berada di bawah pimpinan Ishak Amin, Abdul Gani Usman, dan Teungku H.A. Hasballah Indrapuri juga hanya berhasil merebut kota-kota kecamatan seperti Seulimeum, Indrapuri dan Lhok Nga. Demikian juga di Aceh Barat, pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Teungku Hasan Hanafiah, T.R. Idris, dan Teungku Zakaria Yunus hanya berhasil menduduki bebe-rapa kecamatan, sedangkan kota Meulaboh berhasil diamankan pihak keamanan.5 Takengon merupakan satu-satunya ibukota kabupaten yang berhasil diduduki pemberontak melalui pertempuran yang dipimpin
5

Ibid., hlm. 138.

Republik Indonesia: Provinsi Sumatera Utara, (Jakarta: Kementerian Penerangan, 1953), hlm.448.
93

Time, 5 Februari 1953.

M. Isa Sulaiman, Ibid., hlm. 289- 291.

204

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

165

Untuk mendukung pelaksanaan Militaire Bijstand di Aceh yang didasari pada Keputusan Presiden No. 175 Tahun 1952, Pemerintah telah menerjunkan sebanyak 4 batalyon tentara dan 13 batalyon Mobrig ke seluruh Aceh. Dalam kaitannya dengan itu Pemerintah menyatakan bahwa tugas tentara dalam penyelesaian Peristiwa Daud Beureu`eh ialah untuk memungkinkan Pemerintah menjalankan kebijakan bagi kepentingan rakyat Aceh khususnya dan rakyat Indonesia umumnya. Seluruh Daerah Aceh harus tetap dikuasai Pemerintah dan terhindar dari pengacau. Ulama-ulama, di antaranya Teungku Abdussalam Meuraksa, Teungku Makam, Teungku Hasan Krueng Kale, Teungku Saleh Meusigit Raya dan Teungku Muda Wali yang tidak menyebelah kepada pemberontak diajak turut serta menggerakkan rakyat yang telah menyebelah kepada pemberontak untuk menginsyafi kesalahan mereka dan membantu kekuasaan alatalat negara. Sementara itu pa-troli harus dilakukan untuk mengejar pemimpin-pemimpin pembe-rontak, dan Angkatan Udara ditugaskan untuk membantu gerakan Angkatan Darat.2 Dengan tekanan kekuatan militer yang besar tersebut Pemerintah di bawah Kabinet Ali Sostroamidjojo berkeyakinan bahwa kaum pemberontakan dapat ditumpas pada akhir tahun 1953 atau paling lambat pada Maret 1954. Dengan keyakinan tersebut Perdana Menteri Ali Sostroamidjojo berkeras dalam menyelesaikan persoalan Aceh, Pemerintah tidak akan mau berkompromi dengan pihak pemberontak. 3 Sikap keras Ali Sostroamidjojo dalam penyelesaian Pemberontakan DI/TII Aceh terlihat saat mengemukakan pendapat Pemerintah tanggal 14 April 1954, yaitu ... Setiap peberontakan atau pengacau dengan senjata harus diberantas dengan senjata pula ...4 Keyakinan Ali Sostroamidjojo tersebut tenyata meleset jauh karena sampai dengan kabinetnya jatuh tahun1955 keadaman Aceh masih belum bisa dipulihkan.
M. Nur El Ibrahimy, Peranan Tgk. M. Daud Beureu`eh dalam Pergolakan Aceh, (Jakarta: Media Dawah, 2001), hlm. 187-188. 3 Ibid. hlm. 196. M. Isa Sulaiman, Sejarah Aceh, Sebuah Gugatan Terhadap Tradisi, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1997), hlm. 326.
4 2

suatu pengakuan bahwa Negara Islam Indonesia semakin hari makin bertambah kuat dan meluas dan juga bahwa proses keruntuhan RIK dipertontonkan dimedan internasional.94 Pada 1953, selama perdebatan parlemen tentang pemberontakan Darul Islam di Aceh, penangkapan-penangkapan oleh Tentara dipertahankan anggota PNI Abdullah Jusuf (Abdullat Yusuf), yang juga secara tak langsung menunjuk kepada perpecahan antara Tentara dan pemerintahan sipil Sumatera Utara. Dengan mengecam pemerintahan sipil karena mengabaikan keluhan-keluhan yang disampaikan dan informasi yang diteruskan kepadanya mengenai kegiatan-kegiatan Daud Beureu`eh dan pemimpin-pemimpin PUSA lainnya pada awal tahun 1950-an, ia memuji Tentara yang merupakan lembaga satu-satunya yang bertindak berdasarkan informasi ini dan terus-menerus merintangi rencana PUSA.95 Seorang juru bicara lain untuk partai-partai se-kuler, anggota PKI Sarwono S. Sutardjo, juga menyalahkan bahwa pemberontakan ini sebagiannya karena kelalaian pemerintahan sipil. Menurut dia, gubernur Sumatera Utara Abdul Hakim, lebih menaruh kepercayaan pada para bawahannya di Aceh yang dikenal sebagai pembela PUSA/Masyumi ketimbang fakta-fakta yang sesungguhnya ....96 Para anggota Parlemen yang mewakili partai-partai Islam, ketimbang menekankan hubungan antara PUSA dan pemerintahan sipil, seperti Abdullah Jusuf dan Sarwono S. Sutardjo, meletakkan tekanan pada hubungan uleebalang atau Badan Keinsyafan Rakyat dengan pihak militer. Seorang bekas sekretaris PUSA, Nur el Ibrahimy, umpamanya, mengajukan tuduhan, BKR secara aktif telah bekerja sama dengan Tentara selama penangkapan-penangkapan Agustus,97

94 95

Statemen Pemerintah Negara Islam Indonesia, 3 September 1953.

Bagian Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureueh, Jilid I (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan (t.t.), hlm.278.
96 97

Ibid., hlm. 279. C. van Dijk, op.cit., hlm. 142.

166

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Amelz juga menyinggung hubungan antara Tentara dan uleebalang. Ia me-nyatakan, ketidakpercayaan rakyat kepada Tentara telah bertambah karena melihat, Tentara dan Polisi mengadakan hubungan dengan orang-orang yang mereka namakan penghalang kemerdekaan.98 Namun, dengan mengindentifikasikan pemerintahan sipil dengan PUSA dan pihak militer dengan uleebalang orang mengabaikan kerumitan dari masalah-masalah yang diliputinya. Konflik di Aceh bukanlah semata-mata hasil suatu perjuangan kekuasaan antara dua kelas sosial ulama dan uleebalang. Tuntutan Aceh untuk otonomi daerah dan usaha-usaha Pemerintah Pusat untuk meluaskan pengaruhnya juga memainkan peranan di sini. Pemerintah Pusat, dalam upayanya meluaskan pengaruhnya, memandang musuh-musuh PUSA sebagai kemungkinan sekutu, dan berusaha mengurangi cengkaman PUSA atas pemerintahan sipil dan Tentara di daerah ini. Dalam usahanya yang akhir mereka jauh lebih berhasil dengan Tentara ketimbang dengan pemerintahan sipil. Walaupun terdapat sejumlah pegawai negeri sipil senior yang digantikan sesudah provinsi Sumatera Utara dibentuk, pada tingkat lebih rendah Pemerintah gagal dalam menegakkan pengawasannya atas pemerintahan sipil dengan mengangkat pejabatpejabat pro-pemerintah yang loyal. Dalam Tentara sebaliknya, masalahnya lebih mudah ditanggulangi. Pemerintah berhasil dalam mem-bersihkan Tentara dari pengaruh PUSA melalui kebijaksanaan penggantian, pembubaran satuan-satuan tentara khusus, dan penempatan pasukan dari daerah-daerah lain di Aceh sudah sejak 1950. Karena itu kesetiaan Tentara di Aceh pada saat ini jauh berbeda dari kesetiaan dalam masa segera sesudah revolusi sosial berlangsung. Karena tak lama sesudah digantikannya Sjammaun Gaharu oleh Husin Jusuf sebagai komandan Divisi V, Divisi Tentara.Republik di Aceh, menyusuli kup Amir Husin al Mudjahid kekuasaan PUSA keras sekali.

Bab VI

DITABUHNYA GENDERANG PERANG SABIL DAN MILITAIRE BIJSTAND

eaksi Pemerintah terhadap penyelesaian Gerakan DI/TII Aceh adalah dengan peberlakuan Militaire Bijstand (Daerah Berbantuan Militer) bukan Staat van Oorlog en Beleg (Keadaan Darurat Perang). Penentuan status tersebut, di satu sisi dipersepsikan sebagai keberhasilan Gubernur S.M. Amin, yang menggantikan A. Hakim, meyakinkan Pemerintah Pusat untuk tidak memberlakukan status Darurat Perang (Staat van Oorlog en Beleg). Menurut Militaire Bijstand koordinasi keamanan berada di bawah tanggung jawab sipil, yaitu Gubernur S.M. Amin, sedangkan pihak tentara (Kolonel Simbolon) hanya menyuplai personel militer sesuai dengan permintaan Gubernur. Pelaksanaan Militaire Bijstand tidak mencakup seluruh Aceh, tetapi hanya meliputi Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, dan kadang-kadang meluas ke Aceh Timur dan Aceh Tengah.1

98

Ibid., hlm. 262.

1 S.M. Amin, Sekitar Peristiwa Berdarah di Aceh, (Jakarta: Soerongan, 1956), hlm. 300301. Lihat juga Insider, op. cit. hlm. 186-193.

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

167

Kemudian Husin Jusuf menjadi komandan Divisi Gajah I, demikian Divisi V dinamakan pada Februari 1947, dan sebulan kemudian komandan Divisi X, yang di dalamnya Divisi Gajah I bergabung dengan Divisi Gajah II di Sumatera Timur, dan Kolonel Sitompul, seorang bekas komandan Divisi Gajah II, diangkat menjadi kepala stafnya.99 Pada Juni 1947 diumumkan perintah tentang satuan gerilya "liar" yang begitu banyak yang seharusnya digabungkan ke dalam Tentara Republik. Keputusan ini disambut dengan sikap hati-hati kalaupun tidak penolakan terang-teranganoleh organisasi gerilya Aceh, yang pada mulanya sangat menentang integrasi demikian. Sebenarnya penentangan mereka demikian keras, sehingga, seperti dikemukakan Nur al Ibrahimy kemudian di DPR,100 ada kekhawatiran terjadi pertumpahan darah. Baru sesudah upaya dengan perantaraan Daud Beureu`eh, ketika itu masih gubernur militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo, organisasi-organisasi gerilya mengalah. Perundingan mengenai integrasi mulai pada Desember 1947. Pembicaraan terjadi tidak hanya antara Daud Beureu`eh dan komandan-komandan organisasi gerilya, tetapi juga dengan satuan-satuan gerilya sendiri. Maka, pada 14 Desember suatu pertemuan intern khusus diadakan Mujahidin maupun Divisi Rencong Kesatria Pesindo (kelanjutan BPI). Di sini penggabungan ke dalam Tentara Republik merupakan salah satu masalah pembahasan.101 Sebelumnya, pada 8 Desember, dibentuk suatu panitia untuk persiapan penggabungan di Aceh. Sebagai kepalanya diangkat Kolonel R.M.S. Surjosurarso (R.M.S. Suryosurarso), salah seorang penasihat militer Daud Beureu`eh, sedangkan para anggotanya, termasuk Amir Husin el Mudjahid dan Letnan Kolonel tituler Tengku A. Wahab. Pada akhir
99 Penggabungan ini berlaku pada 26 April 1947. Pada Februari 1947 Komando Sumatera terbagi dalam tiga subkomando, satu di antaranya subkomando Sumatera Utara, dipimpin Mohammad Daudsjah. JarahDam-I, Dua Windhu Kodam I/Iskandar Muda, (Banda Aceh: Sejarah Militer Kodam I/Iskandar Muda, 1972), hlm. 116-117. 100 C. van Dijk, op.cit., hlm. 132. 101 Empat hari sesudah ini Pesindo Sumatera mengeluarkan instruksi yang berisi agar semua pasukan Pesindo di seluruh Sumatera bekerja sama dalam usaha membentuk Tentara Nasional Indonesia. Tetapi seperti kita lihat, hubungan antara pimpinan pusat dan cabang Aceh tidak baik.

168

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Meletusnya Pe mberontakan Daru l Islam di Aceh 203

Desember, Dewan Pimpinan Sementara TNI dibentuk di Aceh atas saran Komisi ini, dengan A. Wahab sebagai ketua, dan R.M.S. Surjosurarso sebagai wakil ketua. Yang belakangan ini juga menjadi Kepala Staf Umum,selanjutnyatermasuk dalamnya Komandan Divisi tentara resmi di Aceh, dan para komandan organisasi gerilya "liar" setempat: Divisi Rencong Kesatria Pesindo, I; Divisi X Tengku Chik di Tiro (yang dibentuk pada 1947, sesudah reorganisasi Mujahidin), dan Divisi Tengku Chik Baya Bakong (didirikan oleh Amir Husin al Mudjahid). Enam bulan lamanya barulah penggabungan menjadi kenyataan, dan pembentukan Divisi X baru secara resmi diumumkan pada 13 Juni 1948. Panglimanya yang pertama adalah Daud Beureu`eh, dalam kedudukannya sebagai gubernur militer, kemudian pada Oktober panglima yang lama, Husin Jusuf. Pada November 1949 Divisi Aceh mengubah namanya menjadi Komando Tentara dan Territorium Aceh, Husin Jusuf tetap sebagai panglimanya.102 Lalu diadakan beberapa perubahan besar. Pertama-tama, pada Desember 1949, terbentuk Komando Tentara dan Territorium I/ Sumatera Utara di bawah pimpinan KawiOarang, yang kemudian digantikan lima bulan kemudian oleh Sitompul, seorang Batak Kristen. Kemudian Komando Tentara dan Territorium Aceh menjadi Brigade CC Komando Tentara dan Territorium l/Bukit Barisan, di bawah pimpinan Hasbullah Hadji (Hasbullah Haji), karena Husin Jusuf, sesudah konflik dengan Kawilarang, meninggalkan Tentara. Barangkali karena perubahan-perubahan ini, para pemimpin gerilya di Aceh pada akhir 1950 menghidupkan kembali berbagai organisasi gerilya liar, yang menimbulkan desas-desus terus-terusan akan timbul pemberontakan. Di Aceh sendiri tindakan ini dibenarkan dengan mengatakan, organisasi-organisasi ini dihidupkan kembali seba-

nampakkan belang yang sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang anti akan Islam, akan tetapi bagi para mujahidin Aceh, cita-cita Darul Islam merupakan tujuan hidup yang abadi. ***

102 Republik Indonesia: Provinsi Sumatera Utara, (Jakarta: Kementerian Penerangan, 1953), hlm. 439-440; SM Amin, Sekitar Peristiwa Berdarah di Atjeh, (Jakarta: Soeroengan, 1956), hlm. 165-169.

202

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

169

Dalam sturuktur kelembagaannya Republik Islam Aceh pada dasarnya telah putus komunikasi dengan kekuatan-kekuatan pergerakan lainnya di Indonesia, termasuk gerakan Darul Islam di Jawa Barat. Kesulitan perhubungan dan lalu-lintas penghubung atau kurir menyebabkan sebagian besar surat-menyurat antara Teungku Daud Beureu`eh dan SM Kartosoewirjo stagnan. Hal mana bagi Teungku Muhammad Daud Beureu`eh sendiri sikap seperti itu dilakukan karena berita tentang pergerakan pusat Darul Islam di Jawa Barat mengalami tekanan yang cukup berat dari pihak militer dengan diberlakukannya Pagar Betis.53 Oleh karena itu, Teungku Muhammad Daud Beureueh berinisiatif tetap melanjutkan jihad suci menegakkan syariat Islam dan negara Islam di bumi Aceh. Pada tahun 1962, ketika mendapat tawaran dari Nasution melalui Panglima/Penguasa Perang Kodam I Iskandar Muda, Kolonel Muhammad Jasin, mengadakan perundingan dengan Teungku Muhammad Daud Beureu`eh untuk menyelesaikan konflik berdarah di Aceh. Dalam perundingan itu pemerintah akan memberikan hak penuh untuk melaksanakan hukum syariat Islam bagi rakyat Aceh. Setelah mengadakan rapat khusus dengan para tokoh ulama serta mengambil mudharat dan manfaatnya dari sebuah perundingan itu, pada akhirnya diputuskan untuk menerima tawaran pemerintah RI. Selanjutnya, UndangUndang syariat Islam pun telah dirumuskan dengan baik. Akan tetapi, tawaran itu hanya sebagai alat untuk melumpuhkan kekuatan perjuangan mujahidin RIA. Hal itu terlihat ketika Teungku Muhammad Daud Beureu`eh dan para mujahidin RIA turun gunung, bahwa perundingan itu hanya merupakan siasat untuk menangkap beliau. Sama persisnya dengan Soekarno yang membuat perangkap pada tahun 1948. Pemerintah RI, dalam pandangan masyarakat Aceh, kembali me53 Pagar Betis, adalah strategi militer yang diajarkan di West-Point dan Breda untuk mengatasi pemberontakan bergerilya yang diekanl dengan human-shield strategy. Namun, bagi kalangan Darul Islam, khususnya di Jawa Barat, Pagar Betis adalah sebuah singkatan dari Pasukan Gabungan ABRI Rakyat Berantas Tentara Islam. Strategi ini juga dipergunakan di Aceh ketika Nyak Adam Kamil menyisir beberapa bagian Geumpang, Idi dan Perlak.

gai persiapan menghadapi Perang Dunia ketiga.103 Perubahan Divisi Aceh menjadi brigade membuat sejumlah perubahan personil yang penting jadinya dan sangat menaikkan wibawa Pimpinan Tentara Pusat. Tentara Aceh telah menjadi korban kebijaksanaan politik demobilisasi Pemerintah Pusat. Yang terkena demobilisasi di Aceh termasuk pimpinan penting seperti Husin Jusuf, Amir Husin al-Mujahid, Nyak Neh (panglima Divisi Rencong Kesatria Pesindo) dan Said Abubakar. Marah sekali mereka karena pemimpinpemimpin sipil dan militer Aceh yang dibebaskan terang-terangan dinyatakan sebagai "hanya buta huruf" (yang dalam banyak hal tidaklah benar) dan "orang kalangan madrasah".(Husin Jusuf dalam sebuah surat tahun 1954 kepada S.M. Amin.104 Di samping itu, Pimpinan Tentara Pusat menempatkan pasukan dari Aceh di bagian-bagian lain Indonesia dan memindahkan pasukan bukan Aceh ke dalam Aceh. Di dalam yang terakhir ini termasuk orang Batak dan bekas serdadu-serdadu KNIL. Brigade CC sendiri diperintahkan ke Sumatera Timur dan ke Tarutung di Tapanuli Utara, sementara pasukan orang Aceh dikirim ke Maluku. Kemudian, ketika tanda-tanda timbulnya segera Darul Islam makin kuat, satuan-satuan Brigade Mobil dikirim ke Aceh. Tindakan ini di satu pihak memberikan jaminan kepada Pimpinan Tentara akan kehadiran pasukan yang setia di Aceh. Ketika pecah pemberontakan Darul Islam sungguh hanya sedikit prajurit tetap yang ditempatkan di Aceh turut serta. Sebaliknya, jamina'n ini mengakibatkan lebih menjauhnya bekas gerilyawan di Aceh. Curiga mereka, kalau-kalau orang Batak akan menguasai tentara Sumatera Utara, dan karena itulah prajurit Batak dipandang hampir sebagai musuh di Aceh. Selajutnya ada anggapan, panglima Sumatera Utara yang baru, Mauluddin Simbolon, ingin berkuasa di Aceh, dan
103 104

C. van Dijk, op.cit., hlm.150.

Lihat A.H. Gelanggang, Rahasia Pemberontakan Aceh dan Kegagalan Politik Mr. SM Amin, (Banda Aceh: Pustaka Murni Hati, 1956), hlm. 135.

170

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Meletusnya Pe mberontakan Daru l Islam di Aceh 201

memperoleh bantuan dalam rencananya dari sesama orang Batak di Jakarta, yaitu Jenderal Nasution dan Jenderal Simatupang.105 Demikianlah, Pemerintah Pusat tidak berhasil membangun tentara yang setia pada Republik di Aceh, juga gagal dalam upaya memperoleh pengaruh dalam pamong praja. Taksiran mengenai jumlah pegawai negeri yang masuk dalam gerakan Darul Islam di sini berbeda-beda, tetapi semuanya cukup tinggi. Letnal Kolonel tituler Sutikno P. Sumartoyang ketika itu menjadi anggota staf keamanan di Acehmenyatakan, sejak 24 Oktober 1953 kira-kira tujuh puluh persen pegawai negeri di Aceh menjadi peserta aktif dalam pemberontakan.106 Pada kira-kira waktu yang sama Amin menyatakan, sembilan puluh persen dari mereka itu diperkirakan memihak kaum pemberontak, karena "semua mereka itu berasal dari kelompok yang sama.107 Dalam analisa SM Kartosoewirjo, Aceh bergerak angkat senjata terhadap Pancasila karena empat sebab: (1) tidak sanggup hidup dan mati dalam kekufuran Pancasila; (2) tak sanggup hidup dan mati hanyalah bagi umpan mereka di dunia dan akhirat; (3) tak sanggup hidup lebih lama lagi dalam lingkungan dan di bawah kekuasaan negara Pancasila, negara nasional jahiliyah dan (4) hendak menuntut, mempertahankan dan mensentausakan hak-hak asasi umat Islam Bangsa Indonesia, istimewa yang ada di Aceh dan sekitarnya (velkomen dan volleding) dan kedaulatan Negara Islam Indonesia yang sempurna, sehingga dapat melakukan hukum-hukum Allah (Islam) dengan seluas-luasnya, satu-satunya tugas Ilahi yang maha suci, walau mahaberat sekalipun.108 Secara ideologis, alasan terkuat orang-orang
Maludin Simbolon adalah panglima Sumatera Utara dari 1950 sampai 1956. Abdul Haris Nasution Kepala Staf Angkatan Darat dari 1950 sampai 1952 dan dan 1955 sampai 1962. Tahi Bonar Simatupang adalah Penjabat Kepala Staf dan Kepala Staf Angkatan Darat dari 1949 sampai 1954. 106 Bagian Dokumentasi, Sekitar Peristiwa Daud Beureueh, Jilid I (Jakarta: Kronik Kementerian Penerangan (t.t.), hlm.78-79.
107 108 105

para pejuang untuk menghentikan perlawanan mereka dan menyerahkan diri pada Juni dan Juli. Pemimpin-pemimpin sipil 51 menyusul setelah menerima janji diberi ampun oleh Soekarno. Sebetulnya, meskipun telah terjadi penyerahan-penyerahan kepada Pemerintah Republik Indonesia, pemimpin-pemimpin RPI sampai bulan April bahkan sampai bulan Juni 1961 masih optimis bahwa pada suatu waktu kemenangan akan dicapai oleh RPI. Presiden dan Panglima Tertinggi Angkatan Perang RPI dalam amanatnya kepada alat-alat kekuasaan Negara RPI baik sipil maupun militer dan pemimpin rakyat pada tanggal 29 April 1961 menyatakan bahwa Betapa beratnya pun tekanan milter dari pihak regime Soekarno dan meskipun memang telah terjadi beberapa penyerahan berkat propaganda palsu musuh, akan tetapi umumnya kekuatan militer dan kekuatan rakyat RPI masih tetap utuh dan sanggup pada saat-saat yang berat mengadakan pukulan-pukulan yang hebat terhadap kubu-kubu pertahanan regime Soekarno. Bahwa apa yang dicanangkan itu bukanlah suatu pernyataan yang hampa, akan tetapi pernyataan itu didasarkan kepada faktafakta yang diketahui oleh pemimpin-pemimpin RPI. Pada tanggal 25 Agustus 1961, secara resmi Mr. Sjafruddin Prawiranegara, perdana menteri kaum pejuang, menyerah di Padang Sidempuan. Lalu dia pun menasihati para pengikutnya untuk menyerah, termasuk tiga kali pengiriman surat kepada Teungku Muhammad Daud Beureu`eh mengajak untuk melapor kepada Pemerintah Republik In52 donesia. Setelah Mohammad Natsir dan Syafruddin Prawiranegara menyerah ke pangkuan RI, pada akhirnya Teungku Muhammad Daud Beureueh mencoba tetap bertahan dengan keyakinannya semula yakni terus melanjutkan revolusi Islam di Aceh. Dengan segala kekuatan senjata dan pasukan yang sangat terbatas menterinya pun hanya tinggal sepuluh orang karena banyak yang turun gunung dicetuskan berdirinya Republik Islam Aceh (RIA) pada tanggal 15 Agustus 1961.
Ibid. Ibid.

Ibid., hlm. 180.


51 52

S.M. Kartosoewirjo, Statemen Pemerintah NII Tentang Aceh tanggal 5 Oktober 1953, dalam Pedoman Dharma Bhakti, jilid 2.

200

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Penghapusan Provinsi Aceh: Kegagalan P olitik Soekarno dan Keberhasilan

171

pun sudah hampir tidak ada artinya lagi akibat aksi-aksi Angkatan Darat, Kelompok lain, dengan Zulkifli Lubis dan Maludin Simbolon sebagai wakil-wakil utamanya, menyetujui proklamasi Republik Indonesia Federal, sekalipun menentang kerja sama dengan Darul Islam. Faksi yang ketiga menyetujui bergabung dengan Darul Islam. Jurubicara utamanya adalah dua orang bekas perdana menteri, yaitu: Mohammad Natsir dan Burhanuddin Harahap, dan politikus Indonesia yang berpengaruh, Sjafruddin Prawiranegara. Ketiga mereka ini lari dari Jakarta untuk bergabung dengan panglima-panglima daerah yang 49 merasa tidak puas di Sumatera pada Desember 1957. RPI tidak banyak harganya baik dalam arti militer atau pun arti politik. Persekutuan yang mengkhawatirkan antara orang-orang muslim seperti Daud Beureu`eh dan Kahar Muzakkar yang selama bertahuntahun telah bertempur untuk menegakkan dan mempertahankan Negara Islam Indonesia, orang-orang muslim yang terus-menerus dalam waktu yang lama menduduki jabatan-jabatan penting di Republik Indonesia, dan panglima-panglima militer seperti Maludin, Simbolon, Kawilarang, dan Warouw yang selama masa berikutnya telah memimpin aksi-aksi militer Republik Indonesia terhadap Darul Islam, dan beberapa orang dari mereka itu Kristen pula, sangatlah berbahaya. RPI mungkin mewakili, seperti yang dilukiskan Hasan Muhammad Tiro, suatu tindakan untuk menjamin hak suci mereka untuk membentuk pemerintahan sendiri yang diingkari kediktatoran Soekarno di Jakarta yang memaksakan kolonialisme Jawa terhadap lebih dari selusin bangsa, atau penolakan terhadap kolonialisme baru, Jawa sawo matang, tetapi hanya dendam terhadap Soekarno dan orang Jawa sajalah yang merupakan persamaan mereka. Akibatnya, RPI sangat singkat usianya. Pada April 1961 Maludin Simbolon dan seorang panglima militer lain, Achmad Husein (Achmad Husein), memisahkan diri dari RPI untuk membentuk Pemerintah 50 Darurat Militer. Kemudian mereka mengeluarkan imbauan kepada
49 50

Aceh melawan dan meng-hadang Republik, karena tidak berlakunya hukum syariat Islam bagi negara yang baru dimerdekakan oleh perjuangan revolusi rakyat, bukan karena keinginan-keinginan separatis. ***

Ibid. Ibid.

Meletusnya Pe mberontakan Daru l Islam di Aceh 199

Indonesia, Divisi Tengku Chik Di Tiro, dan wakil Pemerintah Pusat Negara Islam Indonesia. Dalam urusan sipil ia dibantu suatu dewan pemerintahan, yang disebut Dewan Syura. Juga diumumkan terben47 tuknya suatu parlemen, Majelis Syura. Dalam urusan militer ia dibantu Dewan Militer, yang terdiri dari tiga orang: Daud Beureu`eh sendiri, Amir Husin al-Moedjahid, sebagai wakil ketua Dewan Syura, dan Husin Jusuf, sebagai Kepala Staf Divisi Tengku Chik Di Tiro. Pada tingkattingkat yang lebih rendah, tingkat kabupaten dan kecamatan, urusan militer dan sipil untuk sementara tetap terpisah, setidak-tidaknya dalam prinsip. Para komandan satuan tentara setempat tidak perlu 48 menjadi kepala pemerintahan sipil, dan sebaliknya. Dengan adanya bentuk negara federasi RPI dalam usahanya menangkal dan melenyapkan kesempatan pemerintah Soekarno memecah-belah sesama kelompok oposisi negara baik dalam rakyat NBA/NII maupun dalam rakyat PRRI/Permesta. Amat disayangkan, kedua pihak antara PRRI/Permesta dan NBA/NII dalam memasuki federasi baru ini dengan rasa enggan. Perundingan-perundingan sebelumnya antara pemimpin-pemimpin Darul Islam dan PRRI/Permesta hampir tak ada hasilnya. Sekalipun telah dijanjikan kerjasama dan dukungan militer, hal ini tidak pernah terlaksana. Dalam kedua pihak juga terdapat orang yang terang-terangan menolak setiap bentuk kerja sama resmi. Di Sulawesi Selatan cumbu rayu Kahar Muzakkar dengan Permesta sebagian menjadi sebab menyerahnya Bahar Mattaliu, sementara di Aceh hubungan yang demikian merupakan salah satu faktor yang mendorong terbentuknya Dewan Revolusi. Pembelotan-pembelotan sekaligus memaksa kaum pejuang mujahidin Darul Islam yang tersisa untuk bekerja sama lebih erat dengan PRRI/Permesta. Para pejuang PRRI di Sumatera pada akhir 1959 terbagi dalam tiga kelompok yang berbeda, yang menganjurkan jalan yang berbedabeda. Satu kelompok ingin semata-mata melanjutkan PRRI, bagaimana
47 48

Ibid. Ibid.

198

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

c. Menyusun dan merencanakan koordinasi dalam lapangan Barisan-barisan Rakyat sukarela. 12. Wilayah Aceh dan sekitarnya, merupakan suatu Daerah Territorium tentara dengan kekuatan satu Divisi Besar, seterusnya yang tersebut: Tentara Islam Indonesia Territorium V Divisi Teungku Tjik Di Tiro. 13. Tentara Islam Indonesia Territorium V Teungku Tjik Di Tiro, dalam pelaksanaannya diselenggarakan oleh sebuah Staf-Komando yang dipimpin oleh seorang Kepala Staf-Umum. Apa yang sudah diatur dalam struktur pemerintahan NII di Aceh, dalam pelaksanaannya tidaklah sesulit yang dibayangkan karena banyak dari yang ikut bergabung, berbaiat dan berperang bersama-sama dengan Teungku Daud Beureu`eh adalah para pemimpin lokal hingga residen yang masih aktif, yang masih cakap dalam mengetik suratsurat dan membuat keputusan-keputusan eksekultif di tingkat lokal dengan pekerjaan-pekerjaan administratif seperti biasanya. Posisi apa pun yang dipegang oleh para pejuang DI di Aceh ketika itu, dikerjakan dengan kemapuan teknis yang maksimal dan pekerjaan lapangan apa pun, dilaksanakan dengan profesionalitas penuh tanpa pamrih, tanpa mengharap-harap gaji atau reward dari pimpinan. Semuanya karena Allah semata. Suasana berjuang seperti inilah yang dirasakan banyak pejuang DI Aceh pada waktu itu.45 DI Jawa Barat pun pada waktu mengirimkan bantuan untuk mengentengkan beban jang lagi ditanggung oleh kawan2 pedjuang sutji di Aceh.46 Pada mulanya Aceh dibayangkan sebagai suatu provinsi Negara Islam Indonesia dengan otonomi yang luas. Kepala provinsi ini adalah Tengku Daud Beureu`eh, yang seperti semasa perjuangan kemerdekaan menduduki jabatan gubernur sipil dan militer dan dalam kedudukan ini juga menjadi panglima Divisi Territorium V Tentara Islam
Wawancara dengan Teungku Ibrahim, seorang petugas PHB (Penghubung) DI di Pidie, Banda Aceh, 19 Juni 2006.
46 45

Bab V

MELETUSNYA PEMBERONTAKAN DARUL ISLAM DI ACEH


Seloeroeh Atjeh bergolak! Revolusi Islam berkobar dengan hebat dan dahsjatnja! Perebutan kekuasaan antara Negara Islam Indonesia dan Negara Pantjasila! (S.M. Kartosoewirjo)1

Akhirnya, setelah lama menahan diri dan bertoleransi atas semua penyimpangan politik yang dilakukan Pemerintah Pusat di Jakarta, perebutan kekuasaan meminjam istilah SM Kartosoewirjo pun meletus di Aceh. Seluruh Aceh tumpah ruah dalam djihad berperang berkuah-darah pada Djalan Allah, bagi melakukan Hukum-hukumNja.2 Daerah terakhir di Indonesia yang di dalamnya terjadi suatu pembelaan terhadap Islam dari jajahan Republik Indonesia, dan di
Idarul Huda (Nama Pena: SM Kartosoewirjo), Statement Pemerintah Negara Islam Indonesia Tanggal 5 Oktober 1953, dalam Al Chaidar, Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia, SM Kartosoewirjo, (Jakarta: Darul Falah, 2000), bagian lampiran, hlm 815. SM Kartosoewirjo sangat gembira atas munculnya pemberontakan ini.
2 1

Statemen Pemerintah NII, 5 Oktober 1953.

Ibid.

172

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Meletusnya Pe mberontakan Daru l Islam di Aceh 197

sana para pejuang masuk dalam Negara Islam Indonesia Kartosoewirjo adalah Aceh. Perjuangan Negara Islam ini meletus 21 September 1953, ketika salah seorang pemimpin Islam yang paling berpengaruh di daerah itu, Teungku Daud Beureu`eh menyatakan Aceh dan daerahdaerahnya yang berbatasan dengannya menjadi bagian Negara Islam Indonesia. Para pengikutnya pada waktu yang sama menyerang sejumlah kotabeberapa di antaranya mereka duduki sebentardan mereka merebut kekuasaan di daerah-daerah pedesaan sekitarnya. Dalam minggu-minggu pertama kaum pejuang mujahidin menguasai hampir seluruh Aceh. Hanya kota-kota besar yang utama, seperti Kutaradja, (sekarang Banda Aceh), Sigli dan Langsa di timur, dan Meulaboh di pantai barat tetap dalam tangan Republik. Tetapi dalam beberapa minggu saja pasukan Darul Islam dihalau keluar pusat-pusat perkotaan lagi, dan terpaksa melanjutkan perjuangan mereka di daerah-daerah pedesaan. Selama bertahun-tahun terutama di bagian utara mereka kuat, di Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Pidie, dan Kabupaten Aceh Utara. Seluruh rakyat Aceh berbangga hati dengan perjuangan suci ini, berjuang benar-benar karena Allah semata dalam suatu djihad berperang menjabung nyawa.3 Tepat tanggal 21 September 1953, bersamaan dengan pembukaan Pekan Olah Raga Nasional (PON) III di Medan dibuka Peristiwa DI/TII Aceh meletus yang diproklamirkan4 oleh Teungku M. Daud Beureu`eh. Saat itulah Pemerintah Pusat baru percaya bahwa desas-desus yang selama ini santer beredar telah menjadi kenyataan. Padahal menurut T.M. Ali Panglima Polem sejak awal tahun 1953 keadaan di Aceh mulai tegang dan sudah ada desas-desus Aceh akan memberontak. Hal ini menurutnya semakin hari semakin santer namun Pemerintah Pusat tidak percaya sama sekali akan hal itu. Berdasarkan keadaan itu pula dia sangat yakin bahwa hal itu pasti akan terjadi, sehingga mengambil keputusan untuk kembali ke Kutaradja untuk tinggal bersama
3 4

daerah aceh dan daerah sekitarnya, oleh sebab itu ia pula merupakan Komandan Tentara Islam Indonesia Teritorium V. Divisi Teungku Tjik Di Tiro. 4. Untuk Wilayah, berada sebuah Dewan Syura (Dewan Pemerintah Daerah) dan sebuah Majlis Syura (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah). 5. Dewan Syura terdiri dari seorang Ketua, Wakil Ketua, dan 5 (lima) orang anggotanya. 6. Gubernur Sipil/Militer karena jabatannya, menjadi Ketua Majlis Syura. 7. Majlis Syura, dikepalai oleh seorang Ketua dan seorang Wakil Ketua serta jumlah anggota akan ditetapkan dengan peraturan yang akan ditetapkan. 8. Dewan Syura (D.P.D) merupakan badan Eksekutif dan Majlis Syura (D.P.R.D) merupakan badan Legislatif. 9. Gubernur Sipil dan Militer, karena jabatannya selain dari Ketua Eksekutif Wilayah, merupakan Wakil Pemerintah Pusat dari J. Muhammad Imam Negara. 10. Di samping Gubernur Sipil dan Militer, diperbantukan sebagai Staf Penasehat Militer, Dewan Militer, dengan Gubernur S. Muhammad sebagai Ketuanya dan Anggota-anggotanya terdiri dari Sdr. Wakil Ketua D.P.D. Kepala Staf Umum Divisi yang berada dalam Wilayah tersebut Sdr. Teungku Amir Husin Al Mujahid dan sdr. Kolonel Husin Yusuf. 11. Dewan Militer mempunyai kekuasaan, di antaranya: a. Memberi nasehat dan pertimbangan-pertimbangan kepada Gubernur Sipil dan Militer, baik ada dimintanya maupun tidak, khusus dalam soal-soal Kemiliteran. b. Menetapkan beleid dan garis-garis politik dari sudut strategis dan pertahanan. Pertahanan dan Pimpinan, untuk seluruh Angkatan Perang, baik Militer maupun Mobilisasi Umum dan

Ibid.

Teks proklamasi dan susunan Kabinet DI/TII dapat dilihat pada lampiran. Lihat juga ibid. hlm.1-6.

196

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Meletusnya Pe mberontakan Daru l Islam di Aceh 173

berdasarkan Pancasila terus menerus menjadi budak Belanda. Maka, sebagaimana dikatakan oleh SM Kartosoewirjo sendiri, di Atjeh, pengikoet2 Pantjasila ini diberi nama Belanda Hitam ataw Kafirin Indonesia.43 Jelaslah bahwa sebutan ini terpancar dari alam pikir kultural orang-orang Aceh bahwa Pemerintah Republik di Pusat adalah lamiet-lamiet Belanda semata.

keluarganya.5 Dalam bukunya Rahasia Pemberontakan Atjeh dan Kegagalan Politik Mr. S.M. Amin (1956), A.H. Gelanggang, seorang tokoh NII Daerah Aceh, mengajukan suatu pertanyaan yang cukup menarik, yaitu Apa sebab Aceh berontak...?. Terhadap pertanyaannya itu dia memberi jawaban bahwa sebab-sebab ulama menggerakkan rakyat untuk memisahkan diri dari Negara Pancasila antara lain adalah karena mereka telah muak melihat Agama Islam dicemooh dan dihina terusmenerus, kerusakan-kerusakan moral pemuda-pemudi, adanya perzinaan di setiap liku negara, sedangkan perhatian Pemerintah dan alat-alatnya kurang sekali terhadap hal itu, adanya kecurangankecurangan alat negara yang memeras rakyat, baik dari sudut lalu lintas, dari sudut perdagangan, di berbagai jawatan, dst., berjangkitnya penyakit korupsi yang parah yang dilakukan oleh pegawai tinggi, menengah, dan bawahan yang menyebabkan Negara bangkrut karenanya.6 Saat pemberontakan terjadi hampir semua bupati tidak berada di daerahnya karena menghadiri pembukaan PON III di Medan. Menurut kabar yang didengar Teuku Panglima Polem Muhammad Ali, begitu mendapatkan kepastian tentang terjadinya pemberontakan itu langsung mereka meninggalkan hotel tempat mereka menginap, kecuali Teungku Usman Aziz (Bupati Aceh Utara) dan Raja Wahab (Bupati Aceh Besar). Keadaan sangat panik dan perhubungan antar daerah terputus. Kota Sigli dan Lhokseumawe mendapat serangan yang sangat hebat dan seluruh Aceh boleh dikatakan vacuum. Menurut T.M. Ali Panglima Polem lebih 90 % tokoh Aceh yang penting dan berjasa ikut memberontak, termasuk Bupati Kutaraja, Teungku Sulaiman Daud. Hal ini membuat Pemerintah Pusat sangat kerepotan.
T.M. Ali Panglima Polem, Sumbangsih Aceh Bagi Republik, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), hlm. 72-73.
6 A. H. Gelanggang, Rahasia Pemberontakan Atjeh dan Kegagalan Politik Mr. S.M. Amin (Banda Aceh: Pustaka Murni Hati, 1956), hlm. 10-13. Lihat juga T. Ibrahim Alfian, op. cit. hlm. 219-220. 5

D. Sistem dan Struktur Pemerintahan Negara Islam Aceh


Sebagaimana DI di Jawa Barat pada awalnya struktur pemerintahan Negara Islam langsung dibuat, diisi dan langsung menjadi alat efektif untuk menjalankan perintah-perintah komandan dan keputusan-keputusan bersama, maka di Aceh pun alat-alat kelengkapan dari negara ini langsung dibuat dan disempurnakan dengan orangorang yang memang sudah menyatakan sumpah setia atau baiat44 terhadap Allah dalam menaati perintah Ulil Amri. Untuk kelengkapan berdirinya sebuah Negara, maka disusunlah pemerintahan NII Aceh. Adapun susunan pemerintahan ketika itu adalah sebagai berikut: 1. Aceh dan daerah sekitarnya, merupakan satu daerah otonom luas, yang berbentuk wilayah (bagian NII). 2. Wilayah atau Provinsi dengan otonomi yang luas tersebut dipimpin oleh seorang Gubernur Sipil dan Militer yang berkedudukan di ibu kota Wilayah. 3. Gubernur Sipil dan Militer, merupakan Kepala Pemerintah Tertinggi dan Pemimpin tertinggi dari Angkatan Perang N.I.I. yang berada di

Statemen Pemerintah NII tanggal 5 Oktober 1953, dalam Al Chaidar, Ibid., bagian lampiran. Mungkin SM Kartosoewirjo ketika menuliskan statemen ini, ia sudah mendengar berita-berita dan khabar dari kurir-kurirnya atau dari kurir-kurir Teungku Daud Beureu`eh yang dikirim dari Aceh. Pemahaman Kartosoewirjo terhadap heart and mind orang-orang Aceh cukup mengesankan.
44 Tentang jabatan-jabatan dan posisi militer dalam DI atau TII dan tentang Baiat (sumpah setia kepada Allah, dan kepada Ulil Amri) di Aceh diuraikan dengan sangat baik oleh Ishak Ibrahim. Wawancara dengan Ishak Ibrahim, Banda Aceh, 24 Juli 2006.

43

174

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Meletusnya Pe mberontakan Daru l Islam di Aceh 195

Oleh karenanya Pemerintah mengirimkan para pejabat untuk melakukan peninjauan bersama tokoh Aceh yang tidak ikut terlibat.7 Berdasarkan sumber-sumber yang didapatkan, M. Isa Sulaiman memperkirakan kekuatan kelompok pemberontak ada sekitar 10.000 orang, dengan jumlah senjata api sekitar 800 1.000 pucuk. Pasukan intinya berasal dari Pandu Islam, yang sebelum pemberontakan meletus berjumlah sekitar 4.000 orang, yang diperkuat oleh 98 militer desersi dari Sidikalang dan sekitar 400 orang lain berasal dari polisi, termasuk pegawai penjara dan mantan tentara yang tergabung dalam Biro Pejuang Aceh. Unsur lain berasal dari kelompok yang tidak puas terutama pamong praja, Jawatan Agama termasuk Mahkamah Syariah, Sekolah Agama, dan pelajar Sekolah Agama.8 Walaupun secara umum pemberontakan meletus sesuai dengan skenario tanggal 21 September 1953, namun milisi yang berada di Idi dan Peureulak telah mendahului gerakan mereka sehari sebelumnya. Oleh karena yakin kontingen militer Aceh yang berada di Sumatera Timur dan Tapanuli di bawah Mayor Hasballah Haji dan Kapten Hasan Saleh akan memasuki Aceh Timur, A. R. Hanafi, Gazali Idris dan Teungku Amir Husin Al Mujahid pada malam Minggu tanggal 19 September 1953 mengerahkan pengikut-pengikut mereka untuk merebut kantor polisi dan pamong praja yang terdapat di wilayah Idi dan Peureulak. Perebutan kekuasaan itu berjalan lancar karena polisi dan pamong praja di tempat tersebut berhasil mereka pengaruhi. Sebaliknya, harapan akan tibanya kontingen militer Aceh dari Sumatera Timur dan Tapanuli meleset. Hanya Kapten Hasan Saleh beserta supirnya saja yang tiba dari Medan, sementara Mayor Hasballah Haji menurut Hasan Saleh telah membatalkan niatnya secara sepihak. Selain Hasan Saleh, abangnya Letnan Ibrahim Saleh, (Komandan Kompi Sidikalang) yang masih memenuhi janjinya. Bersama 98 anggota kompinya Letnan Ibrahim Saleh memasuki Aceh

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan bahwa proklamasi Negara Islam akan menimbulkan kekacauan dan bertentangan dengan hukum, Daud Beureu`eh menegaskan, sebaliknya kekacauan hukum yang berlakulah yang telah menimbulkan jihad suci menegakkan Negara Islam. Ia menasihati para pemimpin Republik agar tidak menggunakan kekerasan, tetapi menanggulangi inti pokok persoalan dan memperbaiki dasar-dasar negara mereka, juga kebijaksanaan 41 mereka. Jihad suci menegakkan negara Islam selanjutnya digambarkan kepada rakyat Aceh sebagai kelanjutan perlawanan sebelum Perang terhadap kolonialisme Belanda dan perjuangan mereka untuk kemerdekaan. Republik Indonesia secara tegas dinyatakan telah kehilangan hak untuk bertindak atas nama proklamasi kemerdekaan. Bukan saja ia tidak memberikan kepada Islam tempat yang layak dalam masyarakat, tetapi lebih celaka lagi, sesungguhnya ia merupakan produk Belanda. Menurut kebiasaan gerakan-gerakan pejuang mujahidin lain, ia dijuluki nama Republik Konferensi Meja Bundar. Ahli waris yang sah dari proklamasi Agustus 1945 adalah Negara Islam Indonesia, yang telah mengambil alih perjuangan untuk kemerdekaan setelah eksistensi Republik Indonesia berakhir sebagai akibat Pemerintahnya ditangkap 42 Belanda Desember 1948. Ketika mengajukan alasan yang terakhir, para pemimpin pejuang mujahidin mengalami sedikit kesulitan dalam menjelaskan mengapa mereka baru sekarang masuk Negara Islam Indonesia dan tidak sejak lahirnya pada 1949. Karena itu tekanan pada penangguhan pemilihan umum dan pada perubahan dalam pemerintah. Walaupun rakyat Aceh terus menerus telah mengharapkan dan dengan sabar menantikan permohonan mereka dikabulkan Jakarta, dua peristiwa ini merupakan bahan yang terakhir. Maka, habislah kesabaran orang-orang Aceh untuk memaklumi dan mencoba mengerti Pemerintah Republik yang
41 42

7 8

Ibid. M. Isa Sulaiman, op. cit. hlm. 292.

Ibid. Ibid.

194

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Meletusnya Pe mberontakan Daru l Islam di Aceh 175

diba-yangkan dalam kerangka Republik Indonesia. Daud Beureueh mempertanyakan mengapa perdebatan tentang ini harus menunggu ter-bentuknya Konstituante, dan apakah ini barangkali karena Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Pusat hanya ingin menyisihkan persoal-an ini. Padahal, bahwa lembaga yang akhir ini mampu bertindak cepat telah diperlihatkan pada waktu pengubahan RIS (Republik Indonesia Serikat) menjadi RIK (Republik Indonesia Kesatuan). Daud Beureu`eh menggarisbawahi kenyataan, rakyat Aceh dengan sabar telah menanti terbentuknya Konstituante selama bertahun-tahun, tetapi Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyadari ini dan bahkan memutuskan menunda pemilihan umum. Ia menduga, barangkali pemerintah lebih mengutamakan kepentingannya sendiri daripada kepentingan rakyat. Selanjutnya dipertanyakannya, apakah pemerintah mungkin lebih memberikan bantuan dan dorongan kepada kelompok kecil mereka yang mempercayai Ketuhanan yang Maha Esa suatu keyakinan lain, atau kepada orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan sama sekali, dengan secara menyolok bertentangan dengan cita-cita dan hasrat mayoritas. Rakyat Aceh tidak ingin memisahkan diri dari saudara-saudaranya, Daud Beureueh menegaskan, tetapi tidak pula mereka ingin diperlakukan sebagai anak tiri. Dalam hubungan ini ia mengemukakan ku-rangnya fasilitas pendidikan yang baik dan kesempatan kerja bagi anak-anak Aceh, sedangkan tidak adanya sistem perhubungan yang memadai menghalangi rakyat dalam kegiatan ekonominya. Ia menambahkan, proklamasi Negara Islam Aceh tidaklah berarti bahwa telah terbentuk suatu negara dalam negara. Pada masa lalu Republik Indonesia dianggap sebagai jembatan emas menuju pelaksanaan cita-cita negara yang diidamkan sejak semula. Tetapi kini jembatan ini tidak lagi dianggap sebagai sarana komunikasi, melainkan lebih merupakan rintangan. Kesetiaan kepada Republik, yang didasarkan pada nasionalisme, telah lenyap sedangkan selanjutnya rakyat pun tidak merasa di-persatukan oleh suatu sistem hukum yang sama.

melalui jalur pedalaman Kutacane Blang Keujeuren dan Takengon.9 Lambat laun situasi di bidang militer mulai berubah dan terlihat tanda-tanda yang lebih menguntungkan pihak perjuangan TII. Pada tahun 1953, rata-rata setiap hari ada saja yang gugur dari tentara Republik dalam pertempuran dengan pasukan TII. Sebaliknya pada tahun 1954 kerugian akibat serangan perjuangan TII setiap tahun sudah meningkat dua kali lipat.10 Dari berita kemenangan dan laporan-laporan yang disampaikan dalam setiap briefing pasukan juga menjadi jelas, bahwa sebagian besar senjata yang dimiliki perjuangan DI/TII adalah hasil rampasan dalam pertempuran. Dengan demikian pada tahun 1956, rata-rata dalam satu bulan jatuh 15 senjata ke tangan sebuah kesatuan TII. Sadar akan kekuatannya sendiri yang pada tahun 1957, T.I.I. mencapai 13.129 tentara,11 serta mengingat keadaan politik dan ekonomi pemerintah pusat di Jakarta sedang terjadi kekacauan yang diakibatkan oleh intrik politik Komunis yang semakin mempengaruhi kebijakan pemerintah, keyakinan nampak pada setiap anggota TII bahwa sesungguhnya dalam waktu dekat tujuan perjuangan akan tercapai. Kartosoewirjo segeral mengeluarkan pernyataan resminya:
Dalam keadaan RIK jang soenggoeh katjau balau seperti sekarang ini, kita haroes pandai dalam menoendjoekkan segenap tindakan revoloesioner kita jang memoengkinkan lebih besar oentoek dapat menarik hati raiat, sekali lagi: Hati raiat! Sebaliknja, djanganlah kita melakoekan tindakantindakan jang membawa akibat bertambah sakitnja djiwa raiat jang memang telah loeka hatinja oleh karena tindakan kekedjaman dari serdadoe-serdadoe pantjasila. Tindakan-tindakan kita jang langsoeng berhoeboengan dengan kepentingan dan keselamatan raiat banjak, hendaklah dilakoekan sebidjaksana-bidjaksananja.12
9

Hasan Saleh, op. cit. hlm. 11-12. Lihat juga M. Isa Sulaiman, op. cit., hlm. 287-289.

A.H. Nasution, Tjatatan-tjatatan Sekitar Politik Militer Indonesia, (Jakarta: Pembimbing, 1955), hlm. 92. Penumpasan Pemberontakan DI-TII/SMK di Jawa Barat, (Bandung: Dinas Sejarah TNIAngkatan Darat, 1974), hlm. 94.
12
11

10

Ibid.

176

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Meletusnya Pe mberontakan Daru l Islam di Aceh 193

Dengan adanya kekalahan demi kekalahan yang diterima oleh tentara Republik dalam menghadapi perjuangan DI/TII, maka membuat hati Soekarno menjadi resah dan gelisah. Karena dia khawatir manakala perjuangan yang dipimpin oleh Kartosoewirjo menang dalam gelanggang pertempuran baik ideologi maupun fisik akan mengancam eksistensi dia sebagai presiden, terlebih dia masih punya hutang PR kepada Belanda bahwa masalah perjuangan DI/TII harus diselesaikan dengan secepatnya. Untuk tetap mempertahankan kedudukan bahwa dialah sebagai presiden yang sah di Indonesia dan dia pulalah yang berhak mengatur jalannya roda pemerintahan Indonesia, maka Soekarno mengadakan perjalanan keliling kebeberapa provinsi dan menegaskan dalam setiap pidatonya, bahwa Negara Indonesia ini adalah negara nasional yang berdasarkan Pancasila, dan bukan negara berdasarkan Islam maka banyak daerah-daerah yang penduduknya yang tidak beragama Islam akan melepaskan diri dari Republik. Pidato Soekarno menimbulkan reaksi yang sangat keras di kalangan kaum Muslimin dan para politisi partaipartai Islam.13 Salah satu di antara politisi tersebut, yaitu Isa Anshori dari Masjumi yang sejak dulu memperjuangkan ide sebuah negara Islam. Sebagai jawaban atas kericuhan politik yang diakibatkan pidatonya, Soekarno pada bulan Mei 1953 memberi sebuah ceramah kuliah di hadapan mahasiswa-mahasiswa Universitas Indonesia di Jakarta, mengenai Negara Nasional dan Cita-cita Islam.14 Dalam ceramahnya itu Soekarno menyatakan, bahwa dia belum pernah menjumpai per-kataan negara dalam kitab-kitab Islam, yang dia jumpai adalah perka-taan-perkataan seperti Darul-Islam, Darul-Salam, atau Ad-Daulah, tetapi istilah yang terakhir tersebut berarti Kedaulatan. Begitu juga dalam pidato pada malam resepsi penutupan Muktamar ke-7 Partai Masjumi Soekarno pernah
Lihat M.I. Sajoeti, Ummat Islam Menghadapi Pemilihan Umum, (Bandung: Jajasan Djaja, 1953), hlm. 48.
14 Lihat Soekarno, Negara Nasional dan Cita-cita Islam, naskah ceramah di hadapan civitas acamedemika Universitas Indonesia, 1953. 13

bawah naungan Darul Islam. Demikianlah, Teungku Daud Beureu`eh mengemukakan beberapa unsur pokok pidato Soekarno yang malang di Amuntai. Dengan mengemukakan keterangan Soekarno bahwa dia memilih negara nasional karena takut kalau-kalau jika terbentuk negara Islam beberapa daerah akan memisahkan diri, Daud Beureu`eh menyatakan memelopori dalam memisahkan diri dari suatu negara yang hanya di-dasarkan atas nasionalisme. Kata-kata Daud Beureu`eh membuktikan, tentang perbedaan antara negara agama atau Islam dan negara nasi-onal tidak lagi merupakan sekedar wacana, tetapi telah berkembang menjadi suatu penentangan yang sesungguhnya. Daud Beureu`eh menyatakan, rakyat Aceh memahami arti sebenarnya kata-kata agama dan nasionalisme dan setiap orang yang percaya bahwa orang yang beragama tidak mencintai negerinya barangkali tidak memahami Islam. Selanjutnya ia menegaskan, sebenarnya Republik Indonesia tidak menjamin kebebasan beragama dalam arti kata sesungguhnya. Dia tidak menerima kenyataan bahwa Islam tidak membedakan bidang keagamaan dengan bidang sekuler atau pandangan Muslim bahwa prinsip-prinsip Islam harus diterapkan dalam semua lapangan kehidupan. Jika memang terdapat kebebasan beragama yang sesungguhnya, maka syariat Islam haruslah berlaku di Aceh, mengingat bahwa seratus persen rakyat di Aceh adalah Muslim. Dalam keadaan seperti itu sama sekali tidak mungkin Jaksa Agung melarang khotbah yang mengandung politik, katanya, karena politik dan agama tak dapat dibedakan. Hal lain yang diserang oleh Daud Beureu`eh terhadap Pemerintah Pusat adalah bahwa Pemerintah ini tidak pernah mengabulkan suatu permintaan Aceh apa pun dan bahwa ia sekarang menganggap Aceh yang selama revolusi merupakan daerah modal Republik 40 sebagai daerah yang tidak patuh. Tidak pula diberikan suatu konsesi apa pun terhadap permohonan otonomi Aceh yang ketika itu masih

40

Ibid.

192

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Meletusnya Pe mberontakan Daru l Islam di Aceh 177

Agar supaya Negara Islam di Aceh itu dapat mewujudkan cita-cita dari proklamatornya, maka disusunlah suatu pemerintahan yang susunannya adalah seperti dijelaskan di bawah ini:
Kepala Negara: Teungku Muhammad Daud Beureu`eh Ketua Majelis Syura: Teungku Amir Hoesin Al-Moedjahid

mengatakan, bahwa menurut anggapannya segala sesuatu akhir-akhir ini berkembang ke arah yang kurang sehat. Bagi setiap orang terbukalah kesempatan untuk mendukung pemerintahan atau beroposisi, namun janganlah melupakan toleransi karena demokrasi yang sejati tidak dapat hidup dengan tiada toleransi.15 Masih sebelum dimulainya sidang-sidang Konstituante pada 2-7 Maret 1954, untuk tetap melanggengkan kekuasaannya, Soekarno mengumpulkan 3000 orang ulama NU dan lainnya dalam suatu konferensi di Cipanas Jawa Barat.16 Menurut mantan menteri agama K.H. Masjkur yang turut serta dalam konferensi itu bahwa Dalam prinsip keislaman negara dianggap sah dan dituruti bila pemimpinnya memenuhi syarat Waliyul Amri. Yaitu ia seorang yang jujur, mempunyai kekuatan dan kewibawaan, yang terpenting dia muslim yang taat. Apabila ada pihak lain yang menentang dan memberontak, maka hukumnya bughat,17 wajib dibasmi. Persoalannya, apakah Soekarno memenuhi syarat dan siap diuji sebagai Waliyul Amri? Adalah jawaban Soekarno saat itu sanggup diperiksa. Maka selama tiga hari pada tahun 1954 para ulama seluruh Indonesia berkumpul di Cipanas dengan membawa kitab-kitab untuk membicarakan soal ini. Dari pertemuan ulama itu dan dialog dengan Bung Karno, akhirnya disimpulkan bahwa Bung Karno memang seorang yang jujur, berwibawa dan seorang muslim. Tapi Bung Karno sholat Jumat di mana? Mendapat pertanyaan tersebut Bung Karno lalu mendirikan masjid di istana negara. Sebelumnya masjid tersebut memang belum ada. Dari penilaian tersebut Bung Karno diangSoekarno, Djangan Tinggalkan Toleransi, Pidato P.M.J. Presiden Republik Indonesia dalam malam resepsi penutupan Muktamar ke 7, Partai Masjumi tgl. 27 Desember 1954 di Surabaja: Djawatan Penerangan RI, Provinsi Djawa Timur, t.t., hlm. 6. Daamurasysyi Mujahidain, Menelusuri Jejak Langkah Jihad S.M. Kartosuwiryo, (Yogyakarta: Wihdah Press), 1998. hlm. 55-57.
17 Bughat (Bhs. Arab), artinya memberontak. Dalam fiqh siyasah Islam, makna bughat adalah memberontak terhadap pemerintahan Islam yang sah sehingga hukumnya haram. Namun, jika memberontak terhadap pemerintahan yang bukan Islam (ghairul Islam), maka tidak dapat disebut bughat, melainkan jihad fi sabilillah yang justru hukumnya malah wajib (fardlu ain). 16 15

C. Susunan Kabinet
Perdana Menteri/Menteri Dalam Negeri: Hasan Aly Menteri Keuangan/Kesehatan: Teuku Ahmad Hasan Menteri Pertahana/Keamanan: Kolonel Husin Yusuf Menteri Kehakiman: Teungku Zainal Abidin Menteri Pendidikan: Teungku Muhammad Ali Kasim Menteri Penerangan: A.G. Mutyara Menteri Perhubungan: Teungku Yusuf Hasyim Menteri Sosial: Teungku Harun B.E Menteri Peperangan: Hasan Saleh

Dengan tersusunnya struktur pemerintahan NBA-NII tersebut, maka Aceh benar-benar memiliki sebuah negara sendiri secara definitif, meski masih harus diperjuangkan lebih dulu. Aceh memiliki kabinet sendiri, kepala negara sendiri, seorang wali negara yang sudah lama diidam-idamkan. Teungku Daud Beureu`eh pun mengumumkan kepada seluruh rakyat, siapa saja, tua-muda, kaya miskin, laki-perempuan, pedagang, saudagar, pegawai dan juga orang asing yang non Islam tak perlu takut: keselamatan mereka dijamin. Sebuah pernyataan dari seorang yang benar-benar memiliki sebuah kuasa yang independen, memerintah dan memimpin negeri yang selama ini berada di tangan penguasa-penguasa yang salah urus. Yang menarik, orang asing yang non-Muslim pun dijamin keselamatannya. Sebuah perintah, kata-kata yang bermuatan hukum yang pasti. Siapakah di Aceh yang bisa membuktikan lagi, selain Teungku Daud Beureu`eh, bahwa asumsi Soekarno tentang negara Islam salah? Hukum berjalan dengan baik, selama Aceh berada di

178

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Meletusnya Pe mberontakan Daru l Islam di Aceh 191

gap memenuhi syarat sebagai Waliyul Amri Addharuri Bisy Syaukah. Menyinggung soal shalat Jumat, dari beberapa sumber yang dapat dipercaya menerangkan, bahwa Soekarno dikenal tidak pernah melakukan shalat Jumat, kecuali pada saat pembukaan atau peresmian Masjid Baiturrahim yang terletak di kompleks Istana Jakarta. Dengan adanya pemberian gelar ini banyak kecaman yang datang dari tokoh-tokoh Islam dan organisasi Islam yang menyatakan, bahwa istilah Waliyul Amri Ad-dharuri hanya dapat dipergunakan pada negara yang berdasarkan Islam, dan selanjutnya dikatakan, bahwa tiap-tiap negara dalam Islam, termasuk Waliyul Amri harus bertanggung jawab kepada rakyat atau lembaga perwakilan rakyat Islam yang tidak dianut dalam UUD Sementara 1950. Oleh karena itu presiden Indonesia tidak bisa menjadi Waliyul Amri Ad-dharuri. Di sisi lain presiden dan kabinetnya bersumpah untuk setia kepada Pancasila dan bukan kepada Islam. Pertemuan para ulama di Cipanas itu jelas merupakan rekayasa politik, semata-mata dimaksudkan memberikan legalitas pada Soekarno untuk menumpas perjuangan Darul Islam. Dan untuk itu dia memerlukan bantuan para ulama pendukungnya guna menentukan. siapa bughat yang harus diperangi dan siapa Waliyul Amri yang mesti ditaati. Topeng yang menutupi wajah para pengkhianat agama sedikit demi sedikit mulai tersingkap. Dari pengakuan yang dituturkan ini saja, orang dapat mengerti bahwa ini semua adalah permainan politik. Sekalipun mereka memikul sekeranjang kitab laksana keledai, pertemuan para ulama di Cipanas itu pasti tidak akan menemukan hujjah yang benar bagi penumpasan suatu perjuangan Darul Islam yang berjuang ke arah terlaksananya hukum Allah. Begitu pula mereka tidak akan bisa meyakinkan dirinya sendiri, bahwa manusia macam Soekarno yang mempelajari Islam sekedar kebutuhan, layak dinobatkan sebagai Waliyul Amri. Jika pada akhirnya mereka memutuskan yang ini bughat dan yang itu Ulil Amri, maka itu tidak lain hanya sekedar rekayasa guna memenuhi tuntutan politik penguasa dengan memperalat Islam serta memanfaatkan kebodohan

maka dengan ini kami nyatakan, DAERAH ATJEH DAN SEKITARNYA menjadi Bahagian dari pada NEGARA ISLAM INDONESIA. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Atjeh Darussalam, 13 Muharram 1372 / 21 September 1953. Atas nama Ummat Islam Daerah Aceh dan sekitarnya t. t. d. (Teungkoe Muhammad Daud Beureu`eh)

Kumandang proklamasi ini, sebagaimana SM Kartosoewirjo menggambarkan, menggemparkan dan mengdjutkan seloeroeh Indonesia, bahkan berkumandang djauh melintasi lautan menembus tabir seluruh dunia ini merupakan perumuman (ulangan) Proklamasi Negara Islam Indonesia 7 Agustus 1949, jang karenanjaAtjeh dan sekitarnja mendjadi bagian (Komandemen Wilayah 5) Negara Islam Indonesia.39 Atas nama masyarakat Islam Aceh, Teungku Muhammad Daud Beureu`eh menyatakan Aceh dan daerah-daerah sekitarnya menjadi bagian dari Negara Islam Indonesia. Untuk membenarkan proklamasi ini ia mengemukakan alasan, bahwa pemimpin-pemimpin Republik di Jakarta telah menyimpang dari jalan yang benar. Republik Indonesia tidak berkembang menjadi suatu negara yang berdasarkan Islam, yang menurut pandangannya adalah satu-satunya kemungkinan yang terkandung dalam prinsip Ketuhanan yang Maha Esa, sila pertama Pancasila. Sebaliknya, makin menjadi jelas bagi Teungku Muhammad Daud Beureu`eh bahwa para politisi Republik kian lama kian jauh juga beralih dari cita-cita ini. Maka disinggungnya usaha-usaha yang menempatkan tekanan yang lebih besar pada sila Pancasila yang lain: nasionalisme Indonesia, yang dengan tajam dibedakannya.
39

Ibid.

190

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Meletusnya Pe mberontakan Daru l Islam di Aceh 179

Beureu`eh bulat hatinya dan benar-benar memisahkan diri dari pada Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

ulamanya. Allah menegaskan dalam firman-Nya dalam Al-Quran Surat: Muhammad, ayat 14.
Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabb-Nya sama dengan orang yang (syetan) menjadikan ia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?.

B. Proklamasi Negara Islam Aceh


Gerakan berbisik dari kaki tangan Teungku Muhammad Daud Beureu`eh berjalan terus menerus dengan tidak diketahui sedikit pun oleh alat petugas. Pemimpin-pemimpin yang dipercayai telah dibaiahnya. Sehingga mereka memegang peranan penting di tiap pelosok kota kampung mensosialisasikan. Mereka menjalankan rol filmnya dengan diam-diam tetapi berhasil. Hampir semua pamong praja di kecamatan dan desa telah dipengaruhinya. Pandu rakyat sendiri se-orang pun tidak ada yang mengetahui ke mana mereka akan dibawa kecuali beberapa pemimpinnya, itu pun yang benar-benar telah ada kepercayaan dan yang dapat menyimpan rahasia 100%. Rakyat umum sama seklai tidak tahu akan gerakan yang akan diletuskan itu.37 Ketika jihad suci menegakkan Negara Islam meletus, pada hari Ahad malam Senin, kira-kira pada waktu 01.00 tengah malam,38 Daud Beureueh mengumumkan proklamasi Islam yang bunyi teksnya sebagai berikut:
Bismillahirrahmanirrahim PROKLAMASI Berdasarkan pernyataan berdirinya Negara Republik Islam Indonesia pada tanggal 12 Syawal 1308 / 7 Agustus 1949, oleh Imam S. M. Kartosoewirjo atas nama Ummat Islam Bangsa Indonesia,
M. Noer el-Ibrahimy, Teungku Muhammad Daud Beureu`eh dan Peranannya dalam Pergolakan di Aceh, (Jakarta: Bulan-Bintang, 1981), hlm 198.
38 37

Dalam sebuah keterangan pemerintah Negara Islam Indonesia pada bulan Mei 1955, yang dianggap Kartosoewirjo sebagai jawaban atas permakluman perang resmi oleh RIK terhadap Negara Islam Indonesia, dan yang juga merupakan sebuah jawaban atas sikap kabinet Ali Sastromidjojo, Kartosoewirjo kembali lagi mengingatkan bentrokan senjata yang pertama antara TNI dan TII di Antarlina. Pada saat itu umat Islam merasa haknya diperkosa, karena TNI melanggar batas-batas daerah de facto Negara Islam Indonesia, demikian keterangan Kartosoewirjo.18 Dia juga membenarkan aksi-aksi teror terhadap pengkhianat-pengkhianat Negara Islam Indonesia, pengkhianat Agama (Islam) dan pengkhianat Allah beserta kaki tangannya, sedang pembakaran dilakukan atas serangan serdadu TRIK dan hak milik anak cucu Iblis la-natullah, yang haram mutlak itu. Merampas hak milik pengkhianat bukanlah barang baru. Semua itu berlaku atas sendi-sendi tegasnya hukum perang".19 Seluruh anggota Angkatan Perang Negara Islam Indonesia (APNII) kini dilarang memiliki radio, kamera dan dilarang main kartu, catur, bulutangkis, dan sepak bola. Waktu senggang mereka harus diisi hanya dengan pendidikan militer dan politik.20 Selanjutnya penduduk di daerah Negara Islam Indonesia berada dalam keadaan perang. Setiap orang diwajibkan untuk menyediakan harta kekayaannya untuk Negara Islam Indonesia. Seandainya masih tetap ada yang melakukan perjalanan Haji meskipun ada larangan tersebut, maka sebagai hukumLihat Buku Sejarah Dokumenter, Buku Induk I, Jilid II, Bab V (A), Statement Pemerintah Negara Islam Indonesia No. VI/7, 25.5.1955.
19 20 18

Ibid.

S.M. Kartosoewirjo, Statement Pemerintah NII 5 Oktober 1953, hlm. 2.

Lihat DI/TII Djabar, Kumpulan Dokumen No. 30, APNII Komandemen Wilayah 7 No. 770075/G/KW 56, Hal: Pengumuman, 10.4.1956.

180

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Meletusnya Pe mberontakan Daru l Islam di Aceh 189

annya dia harus membayar pada Negara Islam Indonesia jumlah uang yang digunakannya untuk perjalanan tersebut. Sebagai alasan atas larangan tersebut dijelaskan, bahwa perjalanan naik haji hanya dapat dilakukan atas nama Republik Indonesia, dan ini akan merusak citra Negara Islam Indonesia.21 Tetapi dalam kenyataan memang banyak surat-surat Negara Islam Indonesia dibawa ke Mekkah oleh Haji-haji dari daerah Priangan, seperti terbukti oleh sebuat surat rahasia dari seorang Sunda yang berdiam di Mekkah.22 Sistem komandemen kini tetap bertahan pada bentuknya yang lama selama 7 tahun mendatang, dan juga semua peraturan dan perundang-undangan Negara Islam Indonesia terus berlaku. Maklumat yang berikutnya dari komandemen Tertinggi APNII baru dikeluarkan pada bulan Agustus 1959, ketika diadakan reorganisasi militer dan aparatur Negara Islam Indonesia secara menyeluruh namun pada saat itu titik klimaks Negara Islam Indonesia telah berlalu. Menurut keterangan Kartosoewirjo sendiri, bahwa dia dan keluarganya antara tahun 1954-1959 pindah ke daerah pegunungan selatan Jawa Barat di sekitar Karangnunggal.23 Sementara itu dia mengangkat Sanusi Partawidjaja sebagai wakilnya.24 Namun selama tahun-tahun itu semua Maklumat NII masih tetap ditandatangani oleh beliau sendiri. Ketika Kartosoewirjo mendengar, bahwa Sanusi Partawidjaja bersama-sama dengan van Kleef, seorang Belanda yang bergabung de-ngan Darul Islam, merencanakan kup untuk menggulingkan KartoAPNII, "Komandemen Ketjamatan Balubur Limbangan No. 03T/KB/358", 3.3.1958, Permakluman dan Harapan. Sjeh Abduldjalil Al-Mukaddasi, Fatwa ti Mekka Tina Darul Islam, tt., Dewan Penerangan Islam 1950. Surat ini sengaja dipesan oleh Hamka untuk menyatakan bahwa Darul Islam Kartosoewirjo adalah sesat dan hanya diikuti oleh orang-orang bodoh. Siapa yang mengatakan orang itu bodoh, biasanya dirinya sendirilah yang bodoh. Lihat C. van Dijk, Darul Islam, Sebuah Pemberontakan, (terj.), (Jakarta: Grafiri Pers, 1993).
23 22 21

untuk melakukan perang gerilya dengan berhasil terpenuhi, yaitu dukungan rakyat setempat. Bahkan orang-orang yang pada mulanya menentang Negara Islam Indonesia, atau bersikap netral, dapat ditarik ke pihak pejuang mujahidin karena propaganda yang mereka lakukan. Pimpinan tentara mengakui, tingkah laku yang tidak senonoh para prajuritnya sendiri menambah keberhasilan propaganda Darul Islam.34 Prajurit-prajurit dari luar daerahBatak Minangkabau, dan Jawa kadang-kadang sangat menyakitkan hati orang Aceh dengan kelakuan mereka. Untuk memperbaiki hal ini Angkatan Darat mengeluarkan perintah kepada anggotanya agar berlaku baik terhadap rakyat setempat, dengan memberikan keterangan tentang masyarakat Aceh maupun nasihat bagaimana harus bersikap dalam masyarakat ini. Demi-kianlah mereka dilarang memasuki masjid memakai sepatu dan main judi serta minum minuman keras, dan diperingatkan agar menghormati adat istiadat setempat. Dalam hubungan ini mereka diberi tahu bagaimana bersikap sopan dalam menghadapi wanita Aceh, dengan menasihatkan mereka, bila ingin kawin dengan seorang gadis setempat, agar menghubungi orang tuanya dan kerabatnya, dan mengetahui aturan-aturan yang bersangkutan lebih dahulu.35 Namun, sikap pendirian Daud Beureu`eh makin ditentang. Khususnya di dalam Tentara Islam Indonesia Aceh terdapat banyak yang memikirkan untuk menyerah. Kelompok ini dipimpin Hasan Saleh, Panglima Divisi Teungku Chik Di Tiro dan Kepala Staf Tentara Islam. Ia menuduh Daud Beureu`eh berusaha menjerumuskan Aceh ke dalam suatu perang baru tanpa memikirkan nasib prajurit biasa dan rakyat pada umumnya yang harus menanggung akibat-akibatnya.36 Akibatnya pertempuran sangat banyak berkurang sesudah Ikrar Lam Teh. Namun, belum juga tampak akhir jihad menegakkan Negara Islam ini. Dua tahun lamanya lagi barulah kawan-kawan Daud
34 35 36

Karangnunggal, terletak di sekitar daerah hutan Denuh.

Gelanggang, Ibid., 12-13, 46. Ibid., 54-63 Ibid., 41-42.

24 Komando Daerah Militer VI Siliwangi, Team Pemeriksa Berita Atjara Interogasi IV, Bandung, 24 Djuni 1962, hlm. 7.

188

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Meletusnya Pe mberontakan Daru l Islam di Aceh 181

juga di Aceh Besar. Tahun berikutnya kaum pejuang mujahidin berusaha memasuki Idi dan menembaki Sigli. Serangan terhadap Idi merupakan satu petunjuk bahwa juga daerah-daerah lain Aceh ini masih menghadapi kegiatan-kegiatan Darul Islam, yang sesudah 1954 menjadi sering lagi. Di Aceh Barat, Tengah, dan Timur pun daerahdaerah yang dianggap Pemerintah Repubtik relatif aman Darul Islam menjadi lebih aktif, sebagian akibat kemarahan terhadap tingkah laku pa-sukan Republik dan sebagian karena gerakan pasukan Tentara Islam. Pada awal 1955 Hasan Saleh pindah dari Pidie ke Aceh Barat. Sesudah meninggalkan saudaranya Ibrahim Saleh me-mimpin di sini, dia lalu terus ke Aceh Timur, dengan tujuan terakhir Tapanuli. Pasukannya di Aceh Timur diperkuat satuan-satuan yang dipimpin Banda Chairullah, yang juga berasal dari Pidie. Pasukan lain dari Pidie, yang dipimpin A.G. Mutiara, masuk di Aceh Barat.32 Lebih daripada sebelumnya, Darul Islam di Aceh juga berusaha merugikan Pemerintah Republik secara ekonomis. Bukan saja mereka terus melakukan upaya mengganggu perhubungan, tetapi juga menunjukan serangan pada bermacam perkebunan dan perusahaan industri. Sejumlah perkebunan damar di Aceh Tengah diserang dan dibakar. Di Aceh Timur ladang-ladang minyak menjadi sasaran serangan kaum pejuang mujahidin. Gerilyawan mencatat salah satu hasilnya yang terbesar pada Maret 1955, ketika meleka menyerang Pelabuhan Kuala Langsa, dengan membakari semua gudang (hanya gudang KPM yang luput secara misterius), dan mengakibatkan banyak sekali kerugian.33 Sulit sekali Tentara Republik menumpas kegiatan-kegiatan pejuang. Pada 1956 Komando Militer Sumatera Utara terpaksa mengakui, semangat tentara pejuang mujahidinyang kekuatannya ditaksir 1.400 orang, musuh mempunyai pendukung dan simpatisan di hampir setiap desa. Di Aceh, demikian dinyatakan, satu syarat utama

soewirjo, maka Kartosoewirjo mengambil alih kembali pimpinan NII dan pada bulan Juli 1959, dia berangkat kembali ke daerah Jawa Barat, pusat Perjuangan Darul Islam. Pada waktu itu Kartosoewirjo rupanya benar-benar prihatin melihat keadaan perjuangannya, sehingga dia pada bulan Juli 1959 mengatakan, bahwa kalau kemenangan tidak dapat dicapai dalam waktu dekat ini, kesempatan berikutnya baru akan tiba dalam waktu 32 tahun. Dalam pidatonya pada waktu penyerahan ijazah pada lulusan akademi Wana Yudha, semacam akademi militer NII, Kartosoewirjo juga menyindir rencana Sanusi Partawidjaja untuk menggulingkannya dan dia berkata: Soenggoeh pahit bagi Bapak, dengan keadaan Negara kita sekarang karena banjak hal-hal jang menjeleweng. Bahaja akan datang, apabila ada doealisme dan bertengkaran dalam tiap-tiap komandemen. Ada pertengkaran antara komandan-komandan, maka kebawahannja apalagi.25 Untuk dapat kembali mengendalikan secara menyeluruh perjuangan Darul Islam yang telah didirikan, Kartosoewirjo kini mengadakan reorganisasi dan pengetatan seluruh pimpinan militer, begitu juga Kartosoewirjo sebagai Imam dan Panglima Tertinggi. Tampaknya selama Kartosoewirjo diwakili oleh Sanusi Partawidjaja telah terjadi beberapa perkembangan dalam perjuangan DI yang tidak lagi dapat ditolerir oleh Kartosoewirjo. Seruan akan tanggung jawab setiap orang terhadap pimpinan dan terhadap tujuan-tujuan perjuangan, terhadap solidaritas Islam dan kewajiban untuk menegakkan hukum Islam adalah petunjuk, bahwa Kartosoewirjo sangat khawatir tentang keadaan perjuangan Darul Islam pada waktu itu. Dijelaskan Kartosoewirjo dalam Maklumat Komandemen Tertinggi APNII No. 11.26
Mengingat, bahwa perloe dibentoek Pimpinan Perang atau Komando Perang jang lebih koeat, dan penjempoernaan systeem atau Stelsel KomanKomando Daerah Militer VII Diponegoro, Staf Umum I, Bahan Perang Urat Sjaraf Terhadap Gerombolan D.I. Kartosuwirjo, (18.4.1962).
25

32 33

Gelanggang, Ibid., hlm. 130, 132. Gelanggang, Ibid., hlm. 115-119.

26 S.M. Kartosoewirjo (Karma Yoga), Salinan Pedoman Dharma Bakti, Jilid I, Maklumat Komandemen Tertinggi No. 11, 7.8.1959, hlm. 128.

182

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Meletusnya Pe mberontakan Daru l Islam di Aceh 187

demen jang lebih effektif demikian roepa, sehingga lebih terdjamin makin hebat dan bergeloranja peperangan, dan sehingga tertjapailah dengan tolong dan koernia Allah djoea kemenangan perang terachir, tegasnja kemenangan Islam dan Negara Islam Indonesia, ialah satoe-satoenja pintoe gerbang menoedjoe dan memasoeki Negara Madinah Indonesia, atau/dan Negara Islam Indonesia boelat sempoerna, merdeka dan berdaoelat sepenoehnja, ke dalam dan keloear, de facto dan de jure, sepanjang boektiboekti kenjataan dan hoekoem. Dan berpendapat, bahwa perloe dalam waktoe jang sesingkat-singkatnja diselenggarkan Soesoenan Pimpinan Perang dalam bentoek baroe, ialah perpadoean antara Stelsel Komandemen lama jang tetap berlakoe hingga saat ini, dan peratoeranperatoeran perang baroe atau jang diperbaroekan, demikian roepa: Sehingga terdjaminlah dengan pasti berlakoenja dan pelaksanaan Komando Perang jang berdaja goena sebesar-besarnja, teroetama pada saat-saat dikeloerkannja Komando Perang Semesta atau Komando Perang Totaliter dalam kata jang seloeas-loeasnja, dan terlebih-lebih lagi mendjelang saat moestari, atau saat di keloearkannja Komado Perang Moethlak, Komando Oemoem, ialah Komando Allah langsoeng melaloei Imam Panglima Tertinggi Angkatan Perang NII, selakoe Chalifatoellah dan Chalifatoen-Nabi di noesantara Indonesia; ialah Perang Semesta dan Perang Moethlak, jang akan menentoekan nasibnja Negara Islam Indonesia dan hari depan Oemat Islam Bangsa Indonesia di masa mendatang; dan Sehingga seloeroeh Negara Islam Indonesia, beserta segenap Angkatan perang dan raiat warga negaranja, tanpa ketjoeali soenggoeh-soenggoeh ikoet serta mewoedjoedkan tenaga perang raksasa maha/dahsjat, satoe gelombang Jamaah Moedjahidin maha-Besar, jang lagi madjoe-bergerak memenoehi panggilan dan seroean Allah, langsoeng menoedjoe arah Mardlatillah sejati, di doenia dan di akhirat; ialah potensi perang mahaberat, persatoe-padoean segenap tenaga dan kekoeatan seloeroeh Oemmat Moedjahidin; Oemmat-pilihan dan kekasih Allah, jang sanggoep dan mampoe menghadapi serta mengatasi, dan akhirnja menghantjoerlidaskan segala jenis dan bentoek moesoeh-moesoeh Allah, moesoeh Islam, moesoeh Negara Islam Indonesia dan moesoeh-moesoeh seloeroeh Barisan Moedjahidin, hingga tekoek-loetoet atau hancoer-binasa; dengan karena berkat kehendak dan kekoeasaan, tolong dan koernia Allah, Dzat Jang Maha Agoeng djoea adanja.

bisa me-narik bantuan militer dan menyerahkan pemeliharaan hukum dan ketertiban kepada Angkatan Kepolisian daerah. Hanya di Kabupaten Aceh Besar (di sini kaum pejuang mujahidin bergerak hanya beberapa mil dari Banda Aceh), Kabupaten Pidie (tempat Daud Beureu`eh me-musatkan pemerintahan sipil dan militernya), Kabupaten Aceh Utara dan daerah Takengon di Aceh Tengahdaerahdaerah tempat kaum pejuang mujahidin yang paling kuat dilanjutkan bantuan militer. Di daerah-daerah yang belakangan ini Darul Islam tetap sangat aktif. Di desa-desa di bawah pengawasannya ini mereka menetapkan pajak dalam beberapa hal juga dikenakan pada guru-guru sekolah dan para pejabat Pemerintah Republik yang terus bekerja , melakukan pencatatan perkawinan dan perceraian, dan pada umumnya men-jalankan hukum, mengadili kasus-kasus kejahatan rutin dan kasus-kasus yang merupakan pelanggaran syariat Islam, seperti membatalkan puasa, dan kadang-kadang juga menjatuhkan hukuman pada me-reka yang ragu-ragu mengambil keputusan apakah memihak Negara Islam atau memihak Republik Indonesia.30 Dari posisi mereka di gunung-gunung dan hutan-hutan kaum pejuang mujahidin terus juga mengganggu lalu lintas dan menyerang patroli dan pos-pos tentara, dengan beroperasi dalam kelompok-kelompok yang kadang-kadang terdiri dari beberapa ratus orang. Sekalisekali mereka lakukan pula serangan pada kota-kota kecil dan besar. Pada kunjungan komisi parlemen ke Aceh pada Januari 1954 para anggotanya sempat mencatat beberapa kali tembak-menembak di sekitar Banda Aceh dan Sigli. Selama komisi tinggal di Banda Aceh kaum pejuang mujahidin melemparkan bom-bom pembakar dan berusaha mengadakan pembakaran di dalam kota.31 Pada 17 Agustus 1954, pasukan Darul Islam memasuki dan menduduki Lamno, yang dikuasai selama dua hari. Sekitar waktu yang sama mereka menyerang Seulimeum,
A.H. Gelanggang, Rahasia Pemberontakan Aceh dan Kegagalan Politik Mr. SM Amin, (Banda Aceh: Pustaka Murni Hati, 1956), hlm. 103.
31 30

Dalam Maklumat No.11 itu Kartosoewirjo memutuskan Membagi Indonesia dalam 7 (tujuh) Daerah Perang, atau Sapta Palagan. Yang

Gelanggang, Ibid., hlm. 105.

186

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Meletusnya Pe mberontakan Daru l Islam di Aceh 183

Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo: "Bila rumah terbakar, padamkanlah api tanpa berhenti menanyakan macam-macam"28. Namun tanggung jawab terakhir untuk operasi-operasi keamanan terus juga terletak pada para penguasa sipil. Ini disebabkan sifat khusus daerah, dan lebih khusus ialah sifat-sifat khusus Aceh dan kekuatan Islam di daerah ini, seperti dijelaskan Ali Sastroamidjojo dalam DPR pada 1955. Tidak ada pengumuman keadaan perang, yang membuat militer mengambil alih pimpinan. Di samping itu, sejak mula jihad menegakkan Negara Islam, Pemerintah berjanji menyelidiki masalah otonomi untuk Aceh dan memberikan lebih banyak perhatian terhadap perkembangan ekonomi daerah. Mereka yang menyetujui diadakannya perundingan juga memiliki organisasi. Di Aceh mereka membentuk Badan Kontak Pribadi Peristiwa Aceh dengan tujuan mengadakan hubungan dengan kaum pejuang mujahidin dan menyampaikan keluhan-keluhan mereka ini kepada Pemerintah Pusat, atas prakarsa seorang pedagang terkemuka, D.M. Djuned, pada November 1953.29 Pemerintah dikecam tentang ketidakamanan Aceh maupun kelakuan pasukan yang tidak senonoh di sini. Walau pun aksi-aksi militer ada hasilnya, keadaan jauh dari memuaskan. Hasil operasioperasi Ang-katan Darat dan Brigade Mobil demikian rupa hingga pada pertengahan 1954 hampir setengah dari Aceh cukup aman untuk
Nazaruddin Syamsuddin, Pemberontakan Kaum Republik, (Jakarta: Pustaka Grafiti Pers, 1985), hlm. 63. 29 D.M. Djuned, anggota Perti Aceh, ditangkap pada Mei 1954, tak lama sesudah Sulaiman ditangkap Pasukan Republik. Sesudah dibebaskan, Djuned melanjutkan usahausahanya. Pada Februari 1955 dia pergi ke Jakarta untuk membicarakan keadaan di Aceh dan kemungkinan-kemungkinan penyelesaiannya dengan para pejabat Pemerintah Pusat. Lihat A.H. Gelanggang, Rahasia Pemberontakan Aceh dan Kegagalan Politik Mr. SM Amin, (Banda Aceh: Pustaka Murni Hati, 1956), hlm. 204. Untuk susunan Badan Kontak Pribadi Peristiwa Aceh lihat S.M. Amin, Sekitar Peristiwa Berdarah di Aceh, (Jakarta: Soeroengan, 1956), hlm. 198. Pada Maret 1955 dibentuk Panitia Badan Penyelesaian Peristiwa Aceh yang diketuai T.M. Jahja. Seperti juga Badan Kontak Pribadi, dia sendiri menetapkan tugasnya mencari penyelesaian dengan mengadakan hubungan dengan Daud Beureu`eh maupun Pemerintah Republik Pusat. Prakarsa membentuk panitia baru ini dilakukan Persatuan Masyarakat Aceh (Perma) pada November tahun 1954. Lihat A.H. Gelanggang, Ibid., hlm.20.
28

klasifikasi dan penggolongannya secara administratif adalah sebagai berikut: 1. Daerah Perang Pertama melipoeti seloeroeh Indonesia dan diseboet Komando Perang Seloeroeh Indonesia (KPSI) jang dipimpin langsoeng oleh Imam dan Panglima Besar APNII, jang djoega berwenang oentoek mengeloearkan Komando Oemoem. KPSI terseboet adalah identik dengan Dewan Imamah jang doeloe dan Komandemen Tertinggi. 2. Daerah Perang Kedoea melipoeti beberapa wilayah NII dan diseboet sebagai Komado Perang Wilajah Besar (KPWB), dengan tjatatan, bahwa oentoek seloeroeh Indonesia ditetapkan 3 KPWB jang masing-masing dipimpin oleh seorang Panglima Perang KPWB, jani: 3. KPWB I, terdiri atas poelau Jawa dan Madoera dan dipimpin oleh Agoes Abdoellah. 4. KPWB II, terdiri atas seloeroeh Indonesia Timoer termasoek Soelawesi, Noesatenggara, Maloekoe, Irian Barat dan Kalimantan dan di pimpin oleh Kahar Muzakkar. 5. KPWB III, terdiri atas seloeroeh Soematra dan kepoelauan sekitarnja di bawah pimpinan Daud Beureu`eh. 6. Daerah Perang Ketiga hanya melipoeti satoe wilayah NII dan diseboet sebagai Komando Perang Wilayah (KPW). Dengan demikian beberapa KPW meroepakan satoe KPWB. Djoega setiap KPW dipimpin oleh seorang Panglima Perang KPW.

Seluruhnya terdapat 7 KPW di Indonesia.


a. KPW I Terdiri dari daerah keresidenan Jakarta, Purwakarta, Cirebon dan Priangan Timur. b. KPW II Hanya terdiri dari Jawa Tengah, namun wilayah ini dihapus, karena Perjuangan suci DI yang dipimpin oleh Amir Fattah telah lama gagal. c. KPW III Direncanakan Jawa Timur di bawah pimpinan Masduki. d. KPW IVSulawesi Selatan dan daerah sekitarnya yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar.

184

Darul Islam di Aceh: Analisis Sosial-Politik Pemberontakan Regional di Indonesia

Meletusnya Pe mberontakan Daru l Islam di Aceh 185

e. KPW VSumatra dipimpin oleh Daud Beureu`eh. f. KPW VIDirencanakan daerah Kalimantan, tapi gagal. g. KPW VII Keresidenan Bogor, Kabupaten/Kota Bandung, Kabupaten Garut, Kabupaten Sumedang dan Keresidenan Banten dipimpin oleh Ateng Djaelani Selatan. 7. Daerah Perang Keempat melipoeti satoe Keresidenan/Resimen dan diseboet Komando Militer Pangkalan Setempat (Komando Operasi Resimen Pertempoeran Setempat) djoega dioebah mendjadi Kompas jang hanja mempoenjai foengsi taktis dan tidak boleh lagi mentjampoeri administrasi negara. Setiap Kompas dipimpin oleh seorang Komandan Pertempoeran Kompas. 8. Daerah Perang Kelima hanjalah melipoeti satoe Kaboepaten/ Batalyon dan diseboet Sub-Kompas dan dipimpin oleh seorang Komandan Pertempoeran Sub-Kompas. 9. Daerah Perang Keenam hanjalah melipoeti satoe Ketjamatan/Kompi atau lebih dan diseboet Sektor. Setiap Sektor dipimpin oleh seorang Komandan Pertempoeran Sektor. 10. Daerah Perang Ketoedjoeh melipoeti satoe desa atau lebih dan diseboet sebagai Sub-Sektor jang dipimpin oleh seorang Komandan Pertempoeran Sub-Sektor. Kartosoewirjo kembali menerapkan manajemen pemerintahan yang sangat rigid dan efektif disertai dengan segala dispensasi manajerial dan administratif untuk pelaksanaannya. Ia kemudian mengeluarkan sebuah perintah yang sangat kharismatik: Memerintahkan kepada seloeroeh Komandan dan Komandemen, serta segenap Pedjabat/Foengsionaris dan Petoegas Negara dalam lingkoengan Negara Islam Indonesia: Soepaja segera, dengan tjepat dan tepat, tapi tetap tertib, teratoer dan berentjana, menjelenggarakan isi dan djiwa Makloemat Komandemen Tertinggi No. 11 ini, dengan sebaik-baik dan sesempoerna-sempoernanja, sehingga segala persiapan dan pelaksanaannja soedah boleh diselesaikan pada tanggal 1 Januari 1960 dengan tjatatan, bahwa oentoek daerah-daerah Negara Islam Indonesia

jang terpentjil letaknja, sehingga terhalang oleh djarak djaoeh dan kesoelitan perhoeboengan, diberi batas waktoe hingga tanggal 1 Februari 1960. Menurut struktur komando yang baru, hampir semua perjuangan militer dan komandonya kini dipertanggungjawabkan kepada Komandan Pertempuran Kompas, yang mengatur langsung setiap pasukan yang ada di bawah pimpinannya. Juga Komandan Kompas adalah pe-ngantara terakhir untuk menyalurkan dan melanjutkan segala instruksi atasannya kepada bawahannya. Sebagai komandan lapangan, Koman-dan Kompas juga harus menentukan siasat dan strategi militer, Karto-soewirjo berharap, bahwa dengan pelaksanaan penyusunan struktur komando yang baru, Negara Islam Indonesia terhindar daripada setiap jenis, sifat dan bentuk dualisme, dalam bidang dan lapangan apa dan mana pun sehingga di lingkungan NII hanya dikenal satu pimpinan negara yang juga bertugas memegang Pimpinan Perang dan Pimpinan Umat Berperang.27 Struktur inilah yang banyak menjadi esensi pembi-caraan antara Kartosoewirjo dan Teungku Daud Beureu`eh dalam komunkas-komunikasi lewat suratmenyurat mereka. Keduanya adalah intelektual dan ulama serta berpengalaman dalam menjalankan tugas-tugas manajerial keorganisasian.

A. Bantuan Militer atau Operasi Militer?


Segera sesudah proklamasi menegakkan Negara Islam Daud Beureu`eh, Gubernur Sumatera Utara, Abdul Hakim, meminta bantuan militer kepada Pemerintah Pusat. Permintaannya cepat dikabulkan, dan pasukan dari Sumatera Tengah dan daerah lain Sumatera pun digerakkan untuk bertindak. Kemudian satuan-satuan Divisi Jawa Tengah Diponegoro juga diperintahkan ke Aceh. Pemerintah bertekad akan menghadapi situasi dengan keteguhan hati dan menyapu jihad suci menegakkan Negara Islam dengan cepat. Seperti dikemukakan
27

Ibid., hlm. 143.